Kampung Halamanku
Gunung tinggi bukit menjulang
Sawah hijau menghampar
Langit biru mempesona
Itulah rumah asalku
Kampung halamanku
Semburan mentari di ufuk timur
Surya pagi memancarkan sinarnya
Sebersit sepoi angin berhembus
Mengiringi jalan Bapak ke sawah
Ditemani nyanyian riang bocah
Hari itu, puisi
yang dulu kuakrabi ketika SD tentang keindahan Indonesia kembali memenuhi
kepala. Tidak hanya itu, aku juga seperti diingatkan kembali pada cerita ‘Liburan
ke Rumah Nenek’ yang kutulis belasan tahun lalu, ketika aku membayangkan
liburan dipenuhi kegiatan di pematang sawah, mencari bekicot dan ikan, serta
deretan bukit hijau dengan kabut menggantung tipis di pagi hari. Lalu saat
usiaku sedikit beranjak, duduk di Sekolah Menengah, lagi-lagi setiap hari
mataku tak pernah lepas dari sebuah lukisan seorang teman kelas—lukisan terbaik
saat ujian Keterampilan dan Kesenian, karena lukisan itu bercerita tentang
kesejukan alam pegunungan di pagi hari, tentang sebuah jalan yang diapit
bukit-bukit hijau dan burung-burung kecil terbang rendah di atasnya. Ah,
setelah belasan tahun, akhirnya aku bisa menyaksikannya. Kini tinggal dua
impian masa kecil lagi yang belum kutunaikan, yaitu liburan ke Borobudur dan
melihat langsung gadis remaja berpakaian tradisional Inggris dengan keranjang
bunga di halaman rumahnya yang serupa kastil. Semoga Allah segera
mewujudkannya.
Alam
pedesaan yang kumaksud di sini adalah kawasan Agropolitan Cianjur. Bukan
petak-petak sawah di kaki gunung seperti lukisanku dulu memang, melainkan deretan
sayur-mayur yang menurutku lebih indah di mata. Di kawasan ini, petani bertanam
sawi, wortel, lobak, pak coy, hingga sayuran bergengsi seperti red redish dan
horinso. Dari Bogor, butuh waktu berjam-jam untuk menembus kawasan ini, belum
lagi jika terjebak macet di kawasan Puncak. Untungnya perjalanan kami beberapa
waktu lalu terbilang lancar.
Setelah
angkot berbelok dan melewati gerbang kusam bertuliskan ‘Kawasan Agropolitan’,
jalan yang semula mulus berganti penuh tantangan. Bahkan semakin ke dalam,
angkot semakin oleng ke kanan dan kiri. Terpaksa kami semua harus berjalan
kaki, sementara para laki-laki membantu Mang Angkot mengeluarkan roda-roda
angkot yang terjebak di lubang.
Sampai di
sana matahari sudah hilang di balik bukit, semuanya kelihatan gelap karena
kabut yang mulai meninggi. Keindahan alam nan hijau belum tampak saat itu,
sebaliknya mataku disuguhi kerlap-kerlip lampu kota yang mulai dihidupkan di
bawah sana. Suasana maghrib itu menyusupkan haru yang tidak mampu kutolak.
Setelah
sampai di tempat tujuan dan mendengarkan acara penyambutan singkat, aku
beristirahat dan shalat di sebuah rumah yang sudah disediakan. Di sana ada tiga
rumah panggung yang memang dibangun untuk para tamu, jadi tidak perlu khawatir.
Maghrib sempurna berganti gelap, udara berembus semakin menusuk tulang. Kami
harus mengikuti kegiatan selanjutnya, yaitu menjadi fasilitator para anggota
kelompok tani di sana. Lagi-lagi, suasana malam di sana adalah keindahan yang
dulu semasa kecil hanyalah sebuah impian.
Di daerah
asalku, Riau, tidak ada perbukitan seperti itu, yang ada hanyalah hamparan
hijau kelapa sawit. Jadi, saat aku menyaksikan sendiri jutaan lampu memancar
seperti kumpulan kunang-kunang dari celah-celah bukit, aku dilanda euforia
berlebihan. Sayang, tidak ada satu pun kamera yang mampu menangkap suasana
malam itu, termasuk kamera DSLR milik temanku.
Makmurkah Kehidupan Petani di
Sini?
“Itu atuh
Neng, kalau Pemerintah menggembor-gemborkan suruh menanam sayuran organik,
harusnya mereka lebih dulu membuat masyarakat siap. Jangan maunya organik, tapi
nggak mau kalau sayurannya bolong-bolong. Akhirnya masyarakat pilih produk
impor lagi, beranggapan produk impor punya mutu lebih bagus. Padahal nih ya,
transportasi dari negara mereka ke Indonesia itu tidak cukup sehari dua hari,
dan yang dibawa itu hasil pertanian yang jelas-jelas gampang rusak, lau sampe
di mall kok bentuknya masih segar-segar, yakin itu kalau bebas pengawet?” Ujar
Pak Lili mengeluarkan unek-uneknya.
Aku
mengangguk. Benar juga. Selama di perkuliahan aku selalu saja berpikiran bahwa
petani Indonesia akan lebih sejahtera jika mereka berpindah ke pertanian
organik, selain bisa mewujudkan pertanian berkelanjutan, pasar produk organik
juga lebih menjanjikan. Namun pada kenyatannya, bukan pada petani masalahnya,
namun konsumen sendiri yang belum siap. Bukti nyata adalah diriku sendiri, saat
belanja di supermarket atau pasar, selalu saja sayuran atau buah-buah yang
tampak mulus, tanpa bopeng atau bintik-bintik hitam, warnanya cerah, dan bebas
gigitan ulat, yang menjadi pilihan. Beranggapan kalau yang seperti itu lebih
berkualitas.
Kali ini Pak Ujang yang menjawab, “Pemasaran mah mudah, Neng. Tapi pembayarannya itu yang seret. Petani dibayar sebulan kemudian, belum lagi harga ditentukan oleh pihak pasar dan supermarket. Untung rugi petani itu mah tidak dipikirkan. Rantai pasarnya terlalu panjang, harus ke pengumpul dulu, supplier, baru ke pasar. Sampai ke pasar, beratnya sudah berkurang, terus kalau tidak habis dipulangkan pula. Sedangkan petani kesulitan modal untuk nanam lagi, karena kekurangan uang. Mau pinjam kredit bank, eh persyaratannya harus punya surat tanah, kita kebanyakan baru punya akta dan nggak bisa dipakai. Paling nggak pemerintah harus buka kredit bunga rendah lah.”
Melihat
cuaca di wajah Pak Ujang saat bercerita, aku jadi tersentuh sendiri. Di profil
tentang agropolitan ini yang kubaca sebelum berangkat, disebutkan bahwa petani
di sini sudah sangat modern. Bahkan mereka sudah mengikuti study banding
berbulan-bulan ke Australia dan Jepang. Tentu saja dalam pikiranku adalah
potret masyarakat petani yang memiliki kehidupan makmur tanpa masalah umum
seperti yang dihadapi oleh petani tertinggal. Nyatanya nasib petani dimana-mana
itu hampir sama saja.
Nama
agropolitan sendiri mengarah pada sebuah gambaran kota pedesaan, kondisi yang
menempatkan segala fasilitas kota, keramahan penduduk desa, serta keindahan
alam, menjadi sesuatu yang padu. Sama maknanya dengan memindahkan kemudahan
perkotaan ke desa. Dalam video profil yang kutonton pun, aktifitas pertanian di
sini terkesan seperti di negara-negara yang memiliki pertanian maju, ya sekelas
Jepang. Tapi saat dilihat langsung, jalanan mulus yang dilewati mobil-mobil
pick-up dengan lancar itu sama sekali tak sesuai ekspektasi. Justru jalan utama
di sana cocok sekali untuk wisata adrenalin motor cross—menurutku. Dalam video,
ada puluhan sapi-sapi yang kotorannya diolah petani menjadi pupuk, tapi pada
kenyataannya, hanya ada lima ekor sapi. Packing House yang di video luar biasa
teratur dan kerennya, di lapangan justru dianggurkan.
Kondisi jalan |
Apakah
semuanya kesalahan pemerintah?
Ya, awalnya
aku berpikir juga begitu. Tapi, setelah Pak Laksana—petugas Dinas Pertanian—menerangkan
keesokan harinya, aku jadi cukup adil menilai kondisi ini.
“Pemerintah Indonesia buruk-buruk la. Korupsi banyak-banyak. Jadi menurut saya, petani Indonesia halus usaha sendiri.” Saran Nauko, seorang mahasiswi Kyoto University yang ikut dengan rombongan kami saat itu.
Jadi, Petani atau Pemerintah yang
Salah?
Tidak
bermaksud mengungkit-ngungkit kesalahan, namun untuk menemukan solusi,
terkadang kita harus menemukan letak kesalahan. Seperti itu juga yang kami
lakukan saat itu, hingga akhirnya diputuskan bahwa kedua pihak tak ada yang
sempurna benar.
Transfer pengalaman bersama Pak Laksana |
Pemerintah
mengoarkan solusi bahwa mereka tidak harus mengubah sistem, melainkan
memfasilitasi sistem. Contohnya seperti barisan kompi semut, meski jalan mereka
ditutup oleh bongkahan batu, mereka hanya berbelok di tempat yang ada
rintangan, setelah itu belok lagi ke garis lurus semula. Kata Pak Laksana,
begitu juga sikap petani. Meski dibuat pasar megah di tempat yang baru, tetap
saja orang-orang lebih tertarik memenuhi pasar lama, tak peduli keadaannya
lebih kumuh. Ada semacam insting yang mengarahkan mereka ke sana. Sama seperti
nasib Packing House yang sudah dibangun, tidak digunakan petani karena mereka
lebih memilih packing di pinggir jalan, agar bisa langsung masuk ke mobil
pick-up.
Ya, ide yang cerdas menurutku. Bahkan tidak terpikirkan olehku sebelumnya. Namun pada kenyatannya, jika melihat tugas pemerintah sebagai fasilitator, kenapa jalan di kawasan ini yang rusaknya minta ampun masih dibiarkan saja?Kenapa tidak ada inisiatif mereka untuk membuka kredit berbunga rendah untuk petani dengan administrasi yang mudah?Kenapa tidak dibuat rantai pasar sederhana yang bisa meningkatkan keuntungan petani?
Kenapa tidak ada subsidi pupuk, benih, dan sarana prasarana lain?Dan jika pemerintah Thailand bisa mensubsidi hasil pertanian rakyatnya sehingga murah di pasaran, kenapa Indonesia yang mengaku negara agraris tidak mampu?
Nah, itu
kalau ingin menyalahkah pemerintah sebagai fasilitator. Selanjutnya, mari kita
lihat kesalahan yang terletak di petaninya sendiri. Seperti yang sudah
dituturkan kepada kami, mereka tahu masalah-masalah umum yang dihadapi, hanya
saja menurutku petani Indonesia sangat bergantung pada pemerintah. Sesuai
pengamatanku, dulu jalan utama yang dibangun pemerintah di kawasan tersebut
sudah cukup bagus, hanya karena dimakan usia dan roda-roda mobil dengan beban
berton-ton yang melewatinya setiap hari, jalan tersebut jadi rusak parah. Yang
perlu dipertanyakan, tidakkah ada inisiatif masyarakat desa itu untuk membangun
jalan sendiri dari dana swadaya?
Dulu,
masa-masa SD, jalan desaku adalah jalan tanah gambut yang debunya seperti asap
kebakaran hutan di kala kemarau, dan menjelma danau lumpur lapindo saat musim
penghujan. Ketika kemarau, kami rebutan mendapatkan posisi paling depan saat
bersepeda, karena tidak mau disembur debu sepeda teman. Lalu saat datang musim
hujan, kami meninggalkan sepeda di samping rumah, jalan kaki ke sekolah adalah pilihan
terbaik. Kalau menanti pemerintah, mungkin sampai sekarang adikku masih mengalami
hal yang sama seperti aku dan teman-teman dulu. Untungnya masyarakat desa
sepakat untuk membangun jalan semen dari dana iuran. Dibentuklah ketua,
bendahara, sekretaris saat itu juga. Dan setiap satu pemilik kebun selesai
panen, si bendahara cepat-cepat mendatangi, menagih uang iuran. Uang itu
kemudian dibelikan karung-karung semen dan pasir. Sedikit demi sedikit, bulan
berganti tahun, akhirnya sepeda kami bisa melaju di atas jalan selebar 80 cm
yang dibangun. Awalnya hanya desa kami, tapi sekarang sudah belasan desa yang
mengikuti. Kurasa, komunitas petani agropolitan di Cianjur ini bisa bergerak
seperti masyarakat desaku.
Benar yang
diucapkan Nauko, petani Indonesia harus mampu bergerak maju dengan inisiatif
sendiri. Seperti masalah pengumpul yang menurut petani mengambil untung banyak,
sebaiknya mereka membentuk panitia pengumpul yang ditunjuk dari anggota kelompok
tani sendiri. Dengan begitu, mereka tidak akan berbuat semena-mena menentukan
harga, karena mereka juga merasakan perjuangan petani saat di kebun, mereka
tahu susah-senang untuk menghasilkan seikat sawi. Hanya saja, kelompok petani
di kawasan ini tampaknya masih malas ke arah sana.
Masalah
hasil panen yang dibayar satu bulan kemudian, sebenarnya Pak Laksana sudah
mengusulkan sebuah ide yang diberi nama ‘Dana Talangan Giro’ (DTG) ke
kementrian. Ya, kurasa mirip dana talangan dari rektorat ketika dana beasiswa kami
lambat cair. Sistemnya begini, petani
menjual produk mereka ke pasar—dalam arti luas, lalu mereka langsung mengambil
uang hasil penjualan ke rekening DTG ini. Sedangkan yang menerima uang dari
pasar adalah pihak DTG, sebulan kemudian. Sayang, pemerintah belum berniat
untuk mewujudkan ide bagus ini. Mungkin petani harus mengorbankan satu kali
hasil panen penuh mereka terlebih dahulu untuk menjalankan DTG ini.
Malangnya kamu, nak! |
Selanjutnya,
adalah tentang lima ekor sapi yang menyedihkan. Kenapa bisa tinggal lima ekor? Ternyata
memang kawasan pegunungan tidak cocok untuk usaha peternakan sapi, terlebih
saat bibit harus diimpor dari kawasan lain—umumnya dari Jawa Timur. Satu
peternakan potensial yang bisa dikembangkan di kawasan ini adalah kelinci. Selain
mudah berkembang biak, anaknya banyak, dagingnya lezat, wujudnya lucu, sisa
sayur-sayuran di sana bisa dijadikan makan para kelinci tersebut. Jadi lebih
mudah. Usaha ini dinilai lebih menguntungkan dibandingkan ternak sapi. Hanya
saja, petani sepertinya belum tertarik untuk mengembangkannya.
“Saat petani
gagal panen akibat kemarau, sebaiknya tidak menyalahkan siapa-siapa. Mungkin itulah
saatnya petani belajar ikhlas dengan keadilan Tuhan. Bukankah di dunia ini
Tuhan tidak hanya mengurusi hidup para petani saja, di lain tempat juga ada
petani garam yang setiap hari berdoa agar matahari bersinar terik sepanjang
hari.” Ucap Pak Laksana di penghujung pertemuan kami.
Wisata Agropolitan, Ruh Permai
Indonesia
Ya, saat aku
berdiri memandangi deretan sayur-sayuran di sana, melihat para petani menggarap
lahan mereka, para gadis dan ibu mencabuti rumput di antara rumpun bawang, lalu
bukit hijau dan embun menggantung di sisi lain, aku seperti merasakan ruh
negeriku.
Seperti
dalam buku bahasa Indonesia di SD dulu yang setiap hari mengatakan, Indonesiaku
nan permai, Indonesiaku nan makmur, Indonesiaku negeri yang hijau dan subur,
inilah perwujudannya. Masa SD adalah masa ketika aku menempatkan cinta pada
Indonesia di dalam hati terdalam, masa aku bermimpi melihat hamparan sawah
bersanding gunung dan candi Borobudur. Tapi semakin bertambah usia, semakin
banyak jalan yang dilewati, semakin banyak tempat di negeri orang yang
kukagumi, mimpi itu berganti kekecewaan.
Kurasa
sesekali kita memang harus mengunjungi tempat-tempat seperti ini, setidaknya
untuk mengingatkan bahwa kata ‘Indonesia permai’ itu benar adanya. Selain itu,
tempat seperti ini juga mengingatkan diri sendiri, bahwa negeriku bukanlah New
York tempat hutan bangunan pencakar langit berada; bukan juga Jakarta tempat
segala hiruk-pikuk, kesesakan, dan sifat manusia, padu menjadi satu. Inilah
wajahnya yang paling benar, Indonesia adalah rumahnya para petani yang masih berjuang
meraih kemakmuran.
Baru tau ternyata ada permasalahan petani yg seperti itu,apalagi pembayaran dan pendistribusian hasil panen yang berbelit. Semoga tahun ini ada titik terang atas permasalahan ini disana. btw gambarnya keren keren .....nice post
ReplyDeleteAamiiin mari berdoa untuk kesejahteraan petani dan seluruh masyarakat negeri ini. Terimakasih sudah berkunjung :))
Deletewah,aku kira ada barang ada uang..masalahnya nggak cuma sekilo sih sepenglihatanku kalo naik bus dari jombang ke batu malang,daerah dingin penghasil sayur mayur..berkarung2 gitu,ternyata...sedih banget ya mbak... :(
ReplyDeleteAwalnya aku juga nyangkanya gitu mbak, taunyaaaa.... hiks sedih juga.
DeleteSubhanallah hijau-hijau seger lihatnya
ReplyDeleteAyo Mak Lidya, ajak anak-anak main ke sana :))
DeleteSemoga ya ke depannya ada solusi buat para petani agar lebih sejahtera dengan hasil yang melimpah juga jadi prioritas di pasar Indonesia ... Fotonya seger2... dulu aku kecil juga sering disuruh mengarang cerita dengan judul 'berlibur ke rumah nenek' atau menggambar pemandangan dengan gunung, pohon dan jalan setapak hehehehe
ReplyDeleteAamiin... semoga ada perbaikan ya mbak. Iyaa,,,, itu waktu kunjungan ke sana rasanya seneng banget, nostalgia, mengenang kembali, entah apa lagi namanya.
DeleteArtikel bagus heiheie./ Saya senang membacanya. Semoga solusi terbaik buat Petani bisa terealisasi dengan segera sehingga petani bisa segera sejahtera
ReplyDeleteSoal foto foto bagus dan terang semua. Namun ada sedikit saya ikin eh salah ingin memberikan komentar sedikit ada 3 foto di sini yang tampak belakang. Para pembaca blog ini disuguhin pemandangan belakang atau punggung atau bagin belakang sand Admin dan orang orang lainnya. Dalam pandangan fotografis foto tampak belakang atau membelakangi dengan memperlihatkan (maaf) bagian belakang tubuh kepada para pembaca dianggap (maaf) tidak sopan
Terimakasih Mas Asep, bahasan tentang potret masyarakat memang selalu menarik. Apalagi kalau mengenai komunitas baru yang diangkat. Soal foto, saya juga merasa gitu mas, tapi kok sayang mau di remove. Hehe terimakasih Mas Asep sarannya.
DeleteHallo sofi, sorry baru mampir, saya abis pindahan rumah jadi belum ol lahi
ReplyDeletemasalah pertanian itu kompleks dari hulu ke hilir pasti ada masalahnya, apalagi pertanian konvensional, dibantu atau tidak dibantu pemerintah tetap bermasalah, kadang saya mikir mending ga usah dibantu aja biar petaninya mandiri, ada ljo petani ku yg akhirnya nolak bantuan dari pemerintah, pertama kaena dia sudah merasa sering dibantu, dua karena belum tentu bantuan itu tepat sasaran contohnya mirip kasus packing house, tiga belum tentu petani lain mau merawatnya, kan bantuan itu harus dirawat dan digunakan, kalo engga sayang uang rakyat sia-sia
ditempatku ada bantuan yg nganggur yaitu rumah pengolahan pupuk organik, saya merasa sayang banget mengapa bantuanitu dianggurkan padahal sewaktu itu turun mereka seolah mau menerima, ternyata setelah datang dianggurkan lantaran tau sendiri pupuk organik kerjaannya kotor dan bau padahal mereka ya setiap hari berjibaku dengan ha serupa
kemudian pemerintah kita anggrannya itu sedikit apalagi untuk pertanian, padahal kalo gak ada pertanian bisa dibilang kita makan apa ya? hehe, tapi bidang lain lebih diprioritaskan seperti kesehatan dan pendidikan, beda memang kaya negara lain seperti Jepang yang sudah mensubsidi hasil pertanian para petani.
Tapi bukan berarti petani kita gak bisa mandiri dan bergantung sama peerintah aja, klo pemerintah memang terbatas anggaran kita mau bilang apa? contohnya Laos, pemerintah disana sangat kekurangan anggaran, jangankan untuk bantu petani untuk membangun yang lain juga kekurangan, tapi itu justru membangkitkan semangat petani untuk saling bahu membahu, mereka sampai membangun packing house sendiri tanpa bantuan pemerintah dan akhirnya bisa mengekspr beras organik padahal tanah disana gersang tak sesubur indonesia
ya jadi itu bantu tak dibantu serba salah, petani saya karena terlau sering dibantu jadi tergantung sama pemerintah, ketika benih tidak ada bingung, ketika serangan HPT ada mereka tidak bisa cari pestisida sendiri, jadi malah membuat mereka manja padahal dulu2 gak begitu. yah begitulah
tapi masih ada kok petani2 yang mau mandiri dan malah takut nerima bantuan, mereka bilang pengen berdaya sendiri... dan umumnya mereka itu menjadi motor penggerak petani-petani lainnya
eh banyaka mat ya
Bener mbak, pemerintah harusnya berupaya meningkatkan kualitas SDM petaninya, termasuk membentuk mental mau maju dan punya kepercayaan diri untuk meraih kesejahteraannya sendiri. Program dari IPB sih sudah bagus ya Mbak, contohnya PKPBM yang cara kerjanya doing with community. Jadi peran pemerintah itu jadi fasilitator buat petani.
DeleteBut, lagi-lagi masalahnya program begituan jarang yang berkelanjutan, apalagi mendampingi petani sampai berhasil. Kebanyakan hanya semangat di awal, udah ke sono, makin malas. Padahal petani saat itu belum bisa mandiri, masih bingung mau ngapain. Walhasil yaaaa gak ada yang berhasil programnya :)
masalahnya rumit ya... apalagi yang bayar belakangan... hadeuuhh...
ReplyDeleteIya mbakku.... complicated hihi
DeleteSeger banget ya disana.. jadi pengen kesana :D
ReplyDeletePostingan yang bener-bener membangun mbak. Terkadang memang kalo ingin maju itu harus mengoreksi diri sendiri dulu, hehe.
Ayo, mumpung masih muda dan kuat. Kalau bisa semua tempat di Indonesia dijelajahi *ngomong sama diri sendiri juga.
DeleteBener banget Soul, kalau udah ketemu letak kesalahannya, baru bisa menyusun solusi dan tindakan perbaikan selanjutnya.
Dari dulu saya nggak suka bekicot koq bisa mbak haya mainan itu?
ReplyDeleteHahaha fokus saya jdnya bekicot
Hehehehe maafkan baru sar salah tulis nama, maksudnya sebut nama mbak sofi
DeleteNih karena abis jalan2 dari blog ke blog sih.. :)
Hehe..gak masalah Mbak Ru, saya biasanya juga begitu... Wah memang aku ada nulis mainan bekicot ya? hehe
DeleteFoto ketiga terakhir itu bagus banget.... ga kebayang ya aslinya.
ReplyDeleteIya sof, menurutku emang sekarang kita tidak bisa terus menyalahkan pemerintah. Pemerintah kita memang sulit digerakkan karena urusannya banyak dan mungkin seringnya ga maua ngurus. Kalau kita menyalahkan pemerintah, itu jadi semacam sikap tidak ingin bertanggung jawab terhadap nasib sendiri.
Tapi memang sulit juga ya jika sebagian dibayarnya baru kemudian. Sulit mendorong sekumpulan orang untuk merubah nasib sementara mereka masih memikirkan mengisi perut :(
Iya mbakku, di sana indahnya memang sibhanallah sekali. Harus deh mbak kalau liburan datang ke sana, tapi siap-siap jalannya cukup menguji kesabaran :) Memang harusnya pemerintah mengefektifkan di program penyuluhannya Mbak, harus menempatkan orang-orang yang bener-bener serius buat membantu petani di lapangan, bukan hanya mencari keuntungan sendiri.
DeletePemasarannya sih mudah, tapi pembayarannya kok seret ya. Hmmm...
ReplyDeleteMelihat foto2 itu, Mbaaaak..., betapa indahnya.
Iya Pak, kondisi di lapangan ternyata begitu :)
DeleteAduh, kasihan sekali sapi-sapinya :( Btw, kalau aku sih maklum kalau organik ada bolong-bolongnya. Yah, daripada disemprot pestisida coba :p
ReplyDeleteIya Kak Indi, kurus-kurus banget mereka :D iya harusnya semua memahami, tapi ternyata masyarakat masih yang belum memaklumi itu :)
DeleteHijau nyaaa,, pasti addemm nih kalo pagi :)
ReplyDeleteinget di Padang, hamparan nya mirip begini :D
jelas banget gambarnya, kamera nya bagusss bangett :)
Kameranya standar banget say, editing aja. hihi...
Deletemantap bahasan nya sangat luas dan jelas juga review nya yang cukup menarik
ReplyDeleteterus berkarya lewat tulisan ini :)
bagus sekali tulisan kamu mbak,sayang saya baru menemukan blog kamu sekarang. tulisan ini menyentil nurani saya akan keadaan para petani. saya begitu larut dalam suasana galau ketika mengetahui sesaknya hidup sebagai petani. namun disisi lain saya bisa bernafas lega, mengetahui bahwa kita sependapat. bahwa tanah yang hijau dengan hamparan sawah wajah sejati dari negeri ini, dimana para petani berjuang di atasnya untuk mengais rezeki.
ReplyDeleteBagus sekali kak, izin repost ya kak
ReplyDelete