Wednesday, 22 July 2015

Fiksi: Tuhan, Mengapa Aku Tak Bisa Melihat-Mu?




Siang ini suhu Istanbul mencapai angka 32 derajat, cukup panas bagi aku yang terbiasa dengan udara sejuk tanah kelahiranku, Rusia. Setelah lelah berdesak-desakan dengan para turis yang memadati jalan Istiklal, aku memilih menyendiri di sebuah cafe yang berada di wilayah Cingelkoy. Boon Restaurant & Cafe. Seorang temanku yang berkuliah di MGU pernah merekomendasikan tempat ini. Ternyata dia tidak salah. Letaknya yang tepat berada di pinggir Golden Horn dengan view jembatan Galata membuat cafe ini sangat istimewa. Semua pengunjung yang memilih meja di luar bisa menikmati makanan sambil menyaksikan lanskap kota klasik ini dengan jelas. 

Langkah cepatku segera menyusup ke dalam pintu cafe. Udara di luar membuat keringatku meleleh tak ubahnya es yang dijemur di bawah terik. Mataku segera berkeliaran mencari kursi yang tepat untuk diduduki. Ternyata sulit mencari tempat kosong di dalam sini. Semuanya sudah terisi penuh.

Seorang pelayan menangkap basah aku yang sedang kebingungan, dengan ramah ia rekomendasikan sebuah meja dengan dua kursi di luar sana. Oh, shit. Di luar memang menyenangkan, tapi rasanya tidak untuk waktu sesiang ini. Aku butuh pendingin ruangan.
“Di sana tidak panas. Percayalah.” Pelayan tadi memberi tahu. Sepertinya dia pandai menangkap kekhawatiranku.
Kusunggingkan sebuah senyum, lebih kepada senyuman tidak percaya, namun aku tetap melenggang ke luar, menuju meja yang ia tunjuk. Setelah duduk di sana, aku dibuat kaget karena benar di sini sama sekali tidak panas. Dengan sebuah payung besar ditambah embusan angin dari tiga penjuru laut yang mengelilingi Istanbul, duduk di sini benar-benar menyenangkan. Sejuk dan segar. Kuucapkan terima kasih pada pelayan baik hati yang mengekorku hingga ke meja ini. Ia mengangguk, berkata ‘Rica ederim’ lalu menyodorkan buku menu dengan takzim. 

View from Boon Reastaurant & Cafe (Photo by Elif Kubra Genc)

“Aku ingin cay, smothies kiwi dan pisang, puding nasi, serta buah yang disiram minyak zaitun.” Ucapku sambil menunjuk satu per satu menu yang kupesan dengan cepat.
Pelayan tadi pergi setelah memintaku untuk menunggu beberapa saat. Mataku segera beralih mengamati siapa saja pengunjung yang duduk di luar sini. Sebagian besar adalah turis manca negara. Aku bisa tahu dari percakapan sesama mereka yang menggunakan bahasa Inggris, Jerman, Prancis, dan sebagainya. Hanya dua meja di sudut kiri yang diisi oleh tiga pemuda dan dua gadis Turki. 

Aku menarik napas, lalu mengembusnya perlahan. Kubiarkan mataku terpejam selama beberapa saat. Suara gagak laut terdengar nyaring saling bersahutan, juga deburan ombak dari kapal-kapal yang sedang menuju atau meninggalkan pelabuhan. Istanbul sayang. Sebuah kota yang mampu kusebut sebagai ‘home’ hanya dengan mengunjunginya beberapa kali saja. Suasana yang tidak pernah kudapatkan di tempat lain, bahkan di kota kelahiranku St. Petersburg. Aku selalu rindu pada suara-suara yang dihasilkan kota ini, juga pada lantunan azan setiap lima kali dalam sehari. Seolah suara azan tersebut adalah ‘pause’ bagi segala aktifitas manusia, meminta kita untuk sejenak berhenti dan menarik napas dengan lapang. 

Tidak berapa lama pelayan tadi datang dan membawakan semua pesananku. Sekali lagi aku berseru ‘Cok sagolun’ padanya. Teh yang disajikan dalam gelas kaca berbentuk tulip ini seperti tidak sabar untuk kuseruput. Aku menyesapnya, membiarkan setiap tetesnya menyentuh saraf-saraf di mulut dan kerongkonganku. Bahkan tehnya saja membuatku rindu setengah mati. Sejak datang ke sini lima tahun lalu untuk menghadiri sebuah konferensi, baru sekarang aku mendapat kesempatan kembali menginjakkan kaki di Istanbul. Kedatanganku kali ini bukan tanpa tujuan. Stasiun televisi tempatku bekerja di Moscow memintaku untuk mencari informasi tentang perkembangan Islam di negara ini. Sudah bukan rahasia umum, beberapa tahun terakhir semua masyarakat Turki memang berduyun-duyun kembali pada ajaran agama Islam yang selama ini mereka tinggalkan. Banyak madrasah Islam kembali dibangun. Al Quran diajarkan di sekolah-sekolah, demikian pula bahasa Turki-Ustmani yang dulu sempat dihapus Mustafa Kemal Ataturk hanya dalam satu malam.
Tanpa sadar aku sudah menghabiskan setengah gelas teh. Sambil tanganku meletakkan gelas teh, bibirku tersenyum kesal. “Kenapa harus aku yang ditugaskan untuk meliput informasi mengenai agama? Meskipun aku sendiri seorang Muslim sejak lahir, tapi aku tidak mencintai agamaku. Aku tidak bisa mencintai Tuhan yang tidak tampak! Aku juga tidak bisa percaya pada Malaikat, hari akhir, hari pembalasan, surga dan neraka, serta segala hal yang tidak kasat mata. Selama ini aku hanya tahu diriku sebagai Muslim tanpa pernah paham apa Muslim itu sebenarnya. Lalu bagaimana bisa aku mengumpulkan berita tentang Muslim di negara ini? Kalaupun bisa, aku tak mungkin berhasil mengerjakannya dengan sepenuh hati.” Keluhku dalam hati.
“Good day. May i sit here?” seorang wanita berambut panjang, cokelat, dan keriting, bertanya sambil menunjuk kursi kosong di hadapanku. Wajahnya sangat jelita. Seandainya dia adalah pahatan, tentu si pemahat adalah seorang seniman ulung. Tak ada cacat sedikit pun yang tertangkap mataku dari parasnya.
Kuanggukkan kepala, sedikit tersenyum mempersilakan. Ia segera memesan secangkir kopi turki, lemonade, dan salad buah. Mataku menatap sebuah kapal yang mengarungi Golden Horn, sebisa mungkin agar tidak dianggap sedang memperhatikan wanita di depan.

Photo from Boon Restaurant & Cafe's instagram
“Halo. My name is Alena Izetbekovic, from Serbia.” Ia mengulurkan tangan dengan ramah, membuatku terkejut.
Mau tidak mau aku menyambutnya, “I am Stefani Kadyrov from Rusia.” Aku turut memperkenalkan diri.
“Nice to meet you, Stefani.” Katanya lagi.
Aku membalas, “Nice to meet you too, Alena.”
Menit-menit selanjutnya aku disibukkan mendengar cerita panjang Alena. Sambil mengunyah potongan buah ia menceritakan tujuannya datang ke Istanbul. Ternyata dia adalah seorang desainer pakaian wanita yang cukup terkenal di Serbia sana, bahkan pembelinya banyak yang berasal dari Turki dan UEA. Ia datang ke sini tidak lain untuk mengamati mode fashion para wanita Turki untuk koleksinya di musim semi mendatang.
“Kamu membuat pakaian untuk wanita Muslim?” tanyaku.
“It is just a business, Stef. Awalnya aku hanya memanfaatkan peluang.” Ia menjawab sambil tertawa kecil sebelum melanjutkan kalimatnya, “Tapi, lama kelamaan, aku benar-benar jatuh cinta pada modest fashion hijab. Kau lihat, sekarang ini musim panas, tapi aku memilih mengenakan celana panjang berbahan katun dan sebuah tunik yang juga panjang. Satu tahun terakhir, aku merasa malu tiap kali keluar rumah dengan pakaian pendek.”
“Are you a Moslem?” aku bertanya cepat. Awalnya aku menebak ia seorang kristian, tapi setelah mendengar ia bercerita, aku jadi sangsi.
Secepat kilat ia menggeleng, “Dulunya aku seorang Kristian, tapi sekarang aku belum beragama.”
Aku membulatkan bibir sambil mengangguk. “Menjadi atheis memang lebih baik. Kau tidak dituntut untuk percaya pada sesuatu yang tidak bisa kau lihat. Itu semua membuatmu benar-benar gila.” Aku memprovokasi.

Sejenak Alena mengeryit, heran pada ucapanku. “Contohnya?”
“Tuhan.” Jawabku cepat dan jelas. “Aku seorang Muslim dan sejak kecil orangtua memintaku menyembah Tuhan yang tidak pernah kulihat, dan sampai mati tidak bisa kulihat. Termasuk juga para malaikat, surga, neraka, semuanya yang belum pasti ada atau tidak. Aku dituntut untuk mempercayai itu semua.” Keluhku dengan wajah lelah.
Alena tersenyum bijak. Ia menarik cangkir kopinya, lalu menyeruput satu kali. Selama satu menit ke depan ia membiarkan kami berdua sama-sama diam, menyaksikan gagak-gagak laut yang terbang rendah di dekat kami.
“Apa menurutmu bayi yang masih di dalam kandungan memiliki mata?” ia bertanya.
Aku yang belum mengerti ke mana arah pembicaraan Alena secepat mungkin menjawab iya. “Aku seorang jurnalis profesional. Informasi mengenai medis hingga teroris sudah akrab dengan hari-hariku, Alena. Bayi yang berada dalam rahim ibunya jelas memiliki mata, kecuali kalau dia cacat. Hanya saja mata tersebut tidak bisa digunakan untuk melihat. Kau mau tahu, berapa usia bayi saat dia mampu melihat normal seperti kita saat ini?” aku justru kembali bertanya dengan semangat.
“Memangnya berapa?”
“11 hingga 12 bulan.” Aku menjawab mantap, mengangakat tangan, seolah-olah akulah yang menulis jurnal penelitian tentang hal itu. “Saat di dalam rahim, penglihatan bayi belum berfungsi. Begitu ia lahir, ia hanya dapat melihat pada jarak 20 sampai 25 cm saja. Mulai bulan ketiga dan keempat, kedua mata bayi dapat melihat perincian dan mulai mampu mengamati serta mengenal yang dilihatnya. Bulan ketujuh dan kedelapan, pandangan bayi telah mencapai perkembangan pesat sehingga ia bisa melihat benda-benda yang sangat kecil. Namun kesempurnaan penglihatan bayi baru tercapai saat umurnya 11 hingga 12 bulan.”
Kulihat Alena mengangguk. “Lalu saat kamu tidak mampu melihat Tuhan, kenapa mengeluh?”

Pertanyaan Alena mengunci bibirku. Aku seperti seekor burung yang beberapa saat lalu terus mengoceh lantang, dan sekarang diam seribu bahasa. Kini aku paham kenapa Alena mengajukan pertanyaan mengenai kemampuan penglihatan bayi padaku.
“Kita sama seperti bayi tadi, Stef. Butuh tahapan untuk bisa melihat dengan sempurna. Penglihatan kita yang secara ilmu pengetahuan sudah sempurna ini, pada dasarnya masih terbatas. Masih ada tabir yang belum dibuka sehingga tidak semua bisa kita lihat. Bayi sudah memiliki mata sejak di dalam rahim, tapi fungsi mata tersebut masih terbatas. Sang Pemberi Hidup tahu kapan waktu yang tepat untuk mata tersebut bisa berfungsi seutuhnya. Seandainya semua manusia bisa melihat Tuhan Yang Satu, menurutmu siapa yang akan ingkar? Seandainya semua manusia bisa melihat malaikat dan segala yang ghaib, siapa lagi yang tidak mempercayai kitab suci? Para iblis akan kehilangan pengikut, neraka pun tidak akan memiliki penghuni. Tuhan sengaja tidak memperlihatkan wujudnya kepada manusia, Stef. Pertama, karena memang mata kita belum diberi kemampuan untuk itu. Kedua, Dia ingin melihat siapa yang bersedia patuh dan siapa yang ingkar. Dalam sebuah ayat Al Quran disebutkan, ‘Sesungguhnya engkau berada dalam keadaan lalai dari ini, maka Kami telah singkapkan darimu tabir matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.’ Dari sini kita tahu bahwa nanti di kehidupan selanjutnya, fungsi mata kita baru akan berfungsi seutuhnya. Di sanalah kita bisa melihat segala yang engkau pertanyakan tadi. Bagi yang menjalankan perintah Tuhan, mereka akan bergembira. Bagi yang ingkar, mereka akan tercengang, tidak percaya, kemudian minta diberi kesempatan untuk hidup di dunia satu kali lagi.” Alena berkata panjang.
Angin dari Bosphorus menyapu wajah kami. Mataku kabur. Aku tidak percaya penjelasan Alena barusan seperti kupasan bawang yang membuatku berkaca-kaca.
“Stef.” Panggilnya lirih. “Meskipun saat ini mata kita tidak bisa melihat Tuhan, namun mata hati kita bisa. Kita bisa melihat wajah Tuhan yang ada di mana-mana. Kamu lihat burung-burung yang terbang itu, bagaimana ia bisa tertahan di udara padahal tidak ada yang menahannya? Kamu perhatikan bagaimana hujan yang berasal dari laut bisa menjadi tidak asin sama sekali? Kamu perhatikan bagaimana semut membangun rumahnya di dalam tanah, bagaimana ia bisa begitu rapi dan terorganisir dengan baik? Kamu perhatikan milyaran hingga triliunan benda-benda angkasa, bagaimana bisa mereka berjalan sesuai perhitungan yang seimbang sehingga tidak bertabrakan satu sama lain? Semua itu adalah bukti keberadaan-Nya, Stef.”
“Lalu kenapa kamu sendiri memilih menjadi atheis?” tanyaku.
Alena diam sejenak sebelum menjawab. “Atheis adalah sebutan bagi mereka yang tidak mengakui Tuhan. Aku mengakui Tuhan, Stef. Tadi kukatakan padamu bahwa aku belum beragama, bukan atheis.”
“Kau mengakui Tuhannya orang Islam?” kejarku dengan pertanyaan.
“Memangnya ada banyak Tuhan? Aku tidak menyebut tuhannya agama ini, tuhannya agama itu, Stef. Karena aku percaya Tuhan itu hanya satu. Aku merasa Islam adalah agama yang paling cocok dengan semua pemikiranku. Tapi untuk ber-Islam, aku juga harus bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan. Itulah yang belum aku bisa. Setelah menamatkan Al Quran dalam waktu satu tahun ini, sejak kemaren aku mulai membaca buku ini.” Ia menarik sebuah buku dari dalam tasnya.
Aku membaca judulnya, Muhammad yang ditulis oleh Martin Lings. Ini salah satu buku sejarah tentang nabi Muhammad paling lengkap yang pernah ditulis, mampu mencuri perhatian Universitas Al Azhar dan penulisnya menerima bintang kehormatan dari presiden Hosni Mubarak.
“Mungkin seperti inilah caraku untuk mengenal Muhammad.” Ucap Alena sambil mengelus halaman depan buku dengan ujung jarinya.
Aku tersenyum, menarik kedua tangannya dan mendekap dengan tanganku. Dalam hati aku mengucapkan rasa syukur atas pertemuan dengannya di hari yang terik ini. Tidak ada sesuatu yang kebetulan di muka bumi ini, termasuk pertemuanku dengan Alena. Barangkali Allah sengaja mengirimkannya untuk menyadarkan manusia sepertiku.
“Alena sayang. Semoga Allah memudahkan jalanmu.” Ucapku tulus.
“Aamiiin. Semoga Allah melimpahkan cinta yang luas dan cahaya yang terang ke dalam hatimu.” Sambungnya.
Angin dari Bosphorus bertiup, menerbangkan rambutku dan rambut Alena dengan lembut. Kami sama-sama tersenyum, berjanji akan saling menjaga komunikasi meski sudah kembali ke negara masing-masing nantinya.



Ditulis pada 22 Juli 2015 dengan referensi Tafsir Al Misbah Volume 13 pada surah Qof.

Memaafkan: Teladan dari Rasulullah SAW dan Fatma Pasha



Lebaran hari pertama. Keluargaku belum ada silaturrahim ke rumah siapa pun, karena sejak pagi hingga menjelang Magrib rumah kami terus didatangi tamu. Bapak yang tadi malam ikut takbir keliling sampai pukul 03.00 dini hari, baru bisa istirahat beberapa puluh menit sebelum azan Magrib berkumandang. 

Di saat yang sama aku sedang memutar kembali film 99 Cahaya di Langit Eropa di laptop. Ibuku hanya melongok sebentar, sepertinya beliau tidak begitu paham jalan ceritanya lalu memilih untuk pergi mandi. Tapi Bapak, sambil tiduran, ia ikut mendengarkan dialog demi dialog dari film yang sedang kutonton.

Lama kelamaan, Bapak jadi penasaran. Beliau bangun lalu bergeser ke sampingku. Di layar, terlihat Fatma, Hanum, dan Aisye sedang makan di sebuah kafe yang ada di bukit Kahlenberg. Saat Aisye ingin ke toilet, Fatma menemani. Ketika itulah Hanum secara tidak sengaja mendengar obrolan dua laki-laki Barat yang duduk di meja luar. Keduanya sedang khusyuk membicarakan roti croissant yang sedang disantap.

Friday, 17 July 2015

Untukmu yang Selalu Tersakiti karena Rindu



Siang ini hujan deras, sangat deras, tengah mengguyur desaku. Jejaknya yang jatuh di atap seng musola begitu bising sampai-sampai suara Bapak yang mengimami sholat tidak terdengar. Usai doa, aku segera menyelesaikan shalat sunnah ba’diyah, lalu berlari pulang. Selimut hangat dan kasur seperti sudah memanggil-manggil. Namun begitu tiba di kamar, kakiku justru tidak menyentuh kasur atau selimut sedikit pun. Tanpa sengaja mataku tertumbuk pada sebuah buku yang duduk di atas tumpukan buku yang tidak rapi, di meja belajar. Buku itu, gumamku. Aku memilikinya sudah beberapa bulan lalu, tapi sejauh ini belum sempat membacanya. Mungkin sekaranglah saat yang tepat.

Aku membawanya ke teras rumah, duduk di sana sendirian. Hujan masih belum berhenti, dan tak ada tanda-tanda ia mau berhenti dalam beberapa puluh menit ke depan. Andai sekarang tidak berpuasa, pasti sudah ada secangkir teh hangat yang kusiapkan. Buku yang sampulnya dipenuhi dedaunan gugur ini belum kubuka, mataku masih sibuk mengamati jalanan di depan sana. Meski sedang hujan deras, aku merasakan keheningan. Jalanan yang lengang membuat keheningan semakin menjadi-jadi. 

Ponsel di atas meja bergetar. Aku hanya meliriknya dan mendapati sebuah pesan singkat muncul di layar. Ternyata temanku semasa di pesantren dulu. Dia hanya sekadar ingin curhat bahwa siang ini dia sedang merindukan seseorang. Kedekatan antara kita membuat tidak ada lagi hal yang ditutup-tutupi, termasuk tentang segala perasaan. Kami sering saling bertukar pesan hanya untuk sesuatu yang remeh-temeh.
“Rindu itukan wajar, say. Toh dia sebentar lagi pulang ke Riau.” Balasku. Terkesan tidak begitu berpihak pada perasaannya. Mungkin akan lebih ramah jika kalimat balasanku berbunyi,“Kenapa nggak ditelpon aja, say? Memangnya kapan terakhir kali kalian komunikasi?”. Tapi tidak, aku sedang malas dengan urusan seperti itu. Pertanyaan justru akan menambah panjang percakapan. Aku juga sedang malas mengetik.
Sambil menanti sms balasan darinya, aku memikirkan tentang diriku sendiri.
Rindu, aku pun pernah merasakannya. Pada seorang lelaki baik-baik, yang begitu tinggi. Meskipun sudah tahu bahwa semuanya akan berujung kesengsaraan, namun tetap saja aku merindukan pertemuan dan kebersamaan dengannya suatu hari nanti. Saat itu aku seperti seseorang yang tengah menyusuri jalan setapak dipenuhi bunga, yang semerbak harum, yang teduh dengan angin menyegarkan, lalu aku terus berjalan sambil tertawa-tawa riang. Hingga tanpa sadar, di ujung jalan tersebut ada sebuah jurang dan aku masuk ke dalamnya. Remuk seorang diri, berdarah seorang diri, sementara mataku masih bisa menangkap tangkai-tangkai bunga dan pepohonan indah yang menjulur di atas sana. Kejadian inilah yang membuatku merubah definisi kerinduan, seperti yang akan kamu baca di kalimat-kalimat selanjutnya.

Aku bersyukur saat ini sedang tidak merindukan siapa pun. Mungkin sudah jera. Terkadang kerinduan hanya membuat kita mengarang-ngarang sesuatu berdasarkan keinginan sendiri. Tak jarang kita jadi menghayalkan sebuah pertemuan yang indah. Tapi sekali lagi, hidup ini berbeda dengan kisah fiksi. Satu hal yang harus dipercaya, khayalan tersebut tetap akan menjadi khayalan, paling jauh ya sakit hati. 

Kurasa, karena itu pula beberapa waktu terakhir aku berusaha keras supaya tidak merindukan siapa pun, di luar keluarga dan sahabat. Tak jarang aku memarahi diri sendiri saat hati tanpa diminta justru menyebut-nyebut nama seseorang, membuat siapa pun yang merasa pasti tersiksa. Kurasa, kerinduan yang seperti itu adalah musibah yang sebaiknya Tuhan tidak perlu menurunkannya di muka bumi ini.

Aku beralih pada buku di genggaman. Ia seolah berkata pelan, memohon, untuk segera dibaca. Lembarannya yang berwarna krem kubuka perlahan hingga jariku terhenti pada halaman 20. Sebuah tulisan berjudul NISCAYA. Sepertinya si penulis sedang berpikir tentang sebuah kepastian saat menuliskan tulisan pendek ini, pikirku. Baiklah, mari kita lihat apa yang ia anggap sebagai kepastian di sini.



NISCAYA 

Kerinduan adalah tentang membebaskan waktu, segenting saat kamu menyaksikan hujan yang baru saja berhenti lima detik lalu. Semenyesal saat kamu lupa mengabadikan derasnya lewat tangkapan lensa. Lalu yang tersisa hanya rintik, kanopi basah, dan hati yang sesak oleh suasana.

Kerinduan adalah tentang memisahkan dua warna yang telah bercampur, lebih sulit dari menangkap kunang-kunang senja. Lebih sulit dari membedakan horison tanah atau kompisisi warna pelangi. Yang ada hanya perpisahan dua warna yang terkadang tak sengaja tercampur sebagian. Lalu aku menjaga warna milikku, kamu juga. Lalu kamu dengan perasaan yang sulit tergambarkan, terlebih aku.

Kerinduan adalah tentang menikmati roti kismis. Selalu dengan kerinduan setelahnya.

Kerinduan adalah tentang hati yang sedang kehilangan sebagian fungsinya, rapuh sejadi-jadinya. Ini adalah tentang kita yang mungkin harus terbaring lemah, tanpa daya. Kita mencoba bereksplorasi dengan dunia kita masing-masing , namun hati tak pernah mampu bergeming. Kita mencoba mengikhlaskan perpisahan, namun luka hati tak pernah berkesudahan.

Kerinduan adalah pagi ini, tanpa kamu. Lalu kita saling mengadu lewat sujud-sujud. Lalu kita saling meratapi perpisahan melalui tulisan, diam, namun ini bukanlah bagian dari kebisuan. Jika pagi ini hujan di kotamu, maka setidaknya aku merindukan air mata yang tak pernah kamu seka, ia bebas, sebebas deras hujan, atau sebebas kerinduan kita masing-masing.

Kerinduan adalah senja nanti, tanpa kamu juga. Lalu kita tidak saling menatap. Kamu teralihkan oleh hipnotis surya yang tengah tenggelam, aku juga. Namun itu tak cukup lama, kita kembali merindukan satu sama lain.

Terlalu berlebihan? Tidak. Tidak sama sekali. Hanya saja kalian yang terlalu acuh dengan perpisahan. Jangan pernah menyalahkan aku jika ini begitu mendramatisir suasana. Kita hanya mampu berharap, lewat apapun juga. Kita hanya mampu membersamai kerinduan, tak pernah lebih.

Karena kerinduan adalah tentang keniscayaan. Tak ada satu pun makhluk-nya yang pasti tahu tentang masa nanti. Karena kerinduan adalah sebagian nikmat-Nya, maka teruslah menikmati dengan hati.



***
Aku menghembuskan napas, menutup buku. Entahlah, apakah aku sepakat dengan penulisnya atau tidak, tapi aku tidak pernah sekali pun mendapati rindu adalah sebuah nikmat. Ia seperti beban yang sangat berat, melukai ke segala sisi, dan apabila telah berhasil meninggalkannya, aku seperti mendapatkan oksigen yang berlimpah. Segala terasa lapang.

Kerinduan adalah tentang keniscayaan. Ya, mungkin yang ini benar. Nyatanya banyak manusia hebat dalam sejarah yang tak mampu melawan kerinduan. Sebut saja kisah saat pertama kali diturunkannya Adam dan Hawa. Andai mereka tidak merindukan satu sama lain, mungkin tempat bernama Jabal Rahmah itu tidak akan pernah dikenang seperti sekarang.

Bagiku, saat ini, kerinduan adalah mengenai seseorang yang sudah renta, berjalan di malam pekat, di tengah hutan liar dengan kabut yang melingkupi, sementara ia terus mencari jalan keluar. Ada yang berhasil menemukan padang bunga sesudahnya dan di sana ia bisa berbahagia, namun ada pula yang tersesat dan sekarat sendirian. 

Kurasa, jika kamu sudah mampu memastikan tidak mungkin akan ada pertemuan, mustahil rindu akan terbalas, akan lebih baik tidak perlu merindukan sejak awal. Itu lebih baik. Lebih aman. Lebih menghargai hatimu sendiri. Bayangkan jika kamu merindukan seseorang, lalu sakit hati. Mulai merindukan seseorang yang lain, tapi juga berakhir sakit hati. Lalu merindukan seseorang yang lain lagi, dan kembali sakit hati. Selanjutnya kejadian yang sama terus berulang, hingga sembilan atau sepuluh kali. Bisa dibayangkan seperti apa keadaan hatimu? Tidakkah kamu kasihan?  Kekecewaan dan rasa sakit itu tidak bisa hilang begitu saja. Percayalah mereka akan mengendap, sedikit sebanyaknya membuat cara pandangmu terhadap sesuatu menjadi berbeda. Aku hanya tidak mau penyakit merutuki diri sendiri, menghina pemberian Tuhan, lalu mulai berpikir dirimu terlalu sederhana, terlalu buruk rupa, dan sejenisnya, hinggap padamu. Itu mungkin saja terjadi.

Sebaiknya, jangan pernah mau masuk ke dalam hutan mengerikan apabila kamu sama sekali tidak tahu jalan keluarnya. Begitu saja. Memang tidak mudah. Aku pun sedang belajar. Jika ingin merindukan, rindui yang sudah pasti-pasti saja. Mungkin dia suami atau istrimu kelak. Dan jika tidak kunjung bisa, jika hatimu tak kunjung jera merindukan seorang demi seorang yang kamu puja, mungkin hatimu harus belajar terlebih dahulu. Belajar merasakan makna dari ‘sakit hati’ yang sesungguhnya, mungkin dengan begitu kamu akan paham bahwa hati bukanlah batu yang bisa terus dibanting tanpa sedikit pun bisa terluka.



Monday, 13 July 2015

Hikmah: Kak Salimah dan Pernikahan dengan Bule Pemilik Kapal Pesiar


@selvinazkrsmn
“Bagaimana kabar Kak Salimah dan anak-anaknya, Nek?” tanyaku pada nenek sore kemaren. Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat istri pemilik toko kelontong paling maju di kompleks tempat nenekku tinggal.
Ya, selama tiga hari sejak kepulanganku di rumah ini, nenek masih belum pulang. Dia sengaja menunggu aku pulang hanya untuk bertemu dengan cucu sulungnya ini. Barulah tadi pagi nenek kembali ke rumahnya di Selat Panjang.
Sore itu nenek sedang memotong daging ayam di dapur, mungkin akan diolah jadi opor, sementara aku sibuk menimba air dengan ember besar. Ibuku sedang pergi belanja bersama Bapak, jadi hanya kami berdua saja yang berbincang kali itu.
“Duh, Cu... Nenek sering kasihan lihat anak-anaknya Salimah. Kadang mau beli lontong pecal pun mereka tidak punya uang. Kadang nenek yang belikan.” Cerita nenekku.
Aku diam sambil berpikir. Betapa kejamnya waktu menggilas kehidupan seseorang, dan betapa roda kehidupan itu benar-benar terus berputar. Itu sudah hukum alam. Siapa pun yang tidak mau berjuang keras, mereka pasti akan menjadi pecundang.

Masih teringat jelas saat masa kanak-kanak hingga umurku 12 atau 13 ketika aku berlibur ke rumah nenek satu kali dalam setahun, atau saat aku pindah sekolah di sana selama masa persalinan adikku, toko kelontong milik keluarga Kak Salimah adalah toko yang paling maju di sana. Barang dagangannya banyak, segalanya dijual di sana, mulai dari beras, minyak, gula, kue-kue kering, sayur-mayur, hingga peralatan besar seperti oven, kulkas, dsb.  Setiap hari tokonya selalu ramai, pelanggannya tak terhitung, terlebih saat menjelang lebaran seperti sekarang. Walhasil kehidupan Kak Salimah dan keluarga pun terbilang di atas rata-rata. Rumahnya yang besar seluruhnya terbuat dari beton, halamannya dikelilingi pagar, sepeda motornya lebih dari tiga, perhiasannya bejibun, dan anak-anaknya terbiasa dengan makanan serta mainan mahal. 
Kue kering (pinterest)
Tapi beberapa tahun lalu, sang suami yang biasa kami panggil Bang Regar wafat di usia muda, setelah itu jalan hidup Kak Salimah dan anak-anak pun berubah 180 derajat. Aku baru tahu kalau toko kelontong mlik mereka jadi begitu majunya berkat kepiwaian Bang Regar dalam berbisnis, sepeninggal dia, sang istri tidak bisa melanjutkan usaha tersebut. Perlahan-lahan tokonya bangkrut dan tinggallah sang istri yang tanpa penghasilan harus menghidupi anak-anak.

Oh, kehidupan. Terkadang aku tidak mengerti hukum apa saja yang ditulis Tuhan untuk nasib setiap ummat-Nya, namun yang jelas kehidupan itu bisa berubah tanpa pernah kita sangka-sangka. Seperti yang pernah diceritakan seorang temanku asal Bandung mengenai bibiknya yang sekarang hidup di Batam. 

Bermula dari niatnya untuk mencari pekerjaan di Batam hingga menumpang sebuah kapal yang bisa mengantarnya ke kota tersebut, ternyata di kapal itulah pertemuan sederhana antara dia dan seorang pengusaha sukses asal Inggris. Keduanya saling cocok, cinta saling terbalas, dan akhirnya si lelaki memutuskan menjadi mualaf lalu datang melamar. Kini, mereka hidup bahagia di kota Batam. Si lelaki punya pelabuhan dan kapal pesiar, jadi sudah pasti mereka bisa hidup mewah. Bahkan kata temanku itu, saat dia berkunjung ke Batam, pamannya itu sudah menyiapkan itinerary yang diatur langsung oleh sekretaris kantor. Jadwal perjalanan, restoran, hotel, dan sebagainya sudah diagendakan.
Pinterest

Begitulah.

Nasib seseorang memang tidak ada yang tahu, tidak juga bisa diterka-terka. Jangan terlalu bermimpi nasib baik akan menyambangi setiap kita begitu mudah seperti pada cerita kedua. Jangan niatnya mau mendapat suami kaya, lalu mengandalkan pesona fisik untuk menggaet laki-laki kaya. Tidak semua kita bisa bernasib seperti itu. Mungkin di antara seribu perempuan, hanya satu saja yang seperti itu. Selebihnya, mungkin sebagian adalah mereka bernasib seperti Kak Salimah.

Tapi percayalah, setiap kita punya kesempatan masing-masing untuk meraih impian, untuk hidup berkecukupan. Tidak perlulah pakai siasat licik, cukup dengan memperkaya pengetahuan dan terus bekerja keras, insya Allah Tuhan akan melihat kerja kita. Seseorang tidak mendapatkan kecuali apa yang sudah diusahakannya. Itulah hukum alam yang sebenar-benarnya. Sisanya adalah nasib baik, pun cerita seperti bibinya temanku, kita juga tidak bisa segera menyimpulkan itu sebuah keberuntungan. Mungkin selama ini, dia sudah berjuang keras melatih bahasa Inggrisnya, sampai-sampai si bule bisa nyaman bicara dengannya pada pertemuan pertama tanpa sengaja tersebut. Bukankah itu juga berarti pernikahannya adalah balasan dari kerja kerasnya? 

Ya, bekerja keraslah, ikutkan Tuhan di dalamnya. Insya Allah pada saat yang tepat, keberuntungan itu akan datang.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...