Showing posts with label Inspiration. Show all posts
Showing posts with label Inspiration. Show all posts

Friday, 14 July 2017

Bersabarlah...


Teruntuk adik-adikku, Taufik Ilham dan Taufik Hidayat

Aku tahu kalian tak mungkin membaca tulisan ini sekarang, tapi insyaAllah suatu saat nanti kalian akan membacanya.

Hari ini aku mendengar kabar yang kemudian merubah segalanya menjadi muram. Sejak Bapak menelepon tadi pagi, aku merasa dunia ini begitu sempit. Aku menjalani hari-hari seperti biasa, tapi rasa khawatir dan sedih seperti tak mau pergi. 

Adik-adikku, bersabarlah... Jika sekarang kalian merasakan suasana yang berbanding terbalik dari sebelumnya, maka sungguh aku juga pernah merasakan hal yang sama. Aku akan sedikit bercerita pada kalian, bahwa dulu sekali saat umurku masih 13 tahun, aku sudah harus pergi meninggalkan pulau kita. Sendirian. Tidak ada diantar Bapak, Ibu, juga sanak keluarga yang lain seperti kalian sekarang. Bapak Ibu hanya melepasku di dermaga. Selanjutnya aku bertahan seorang diri. Aku dititipkan ke sana ke mari di kota yang sama sekali asing. Aku diantar ke pesantren oleh seseorang yang baru kukenal beberapa hari sebelumnya. Tak ada nasehat, tak ada kalimat penenang, tak ada yang mendatangi kamarku, juga tak ada yang menangis saat berpisah dariku. Selama hampir sebulan aku terpuruk, menangis, jatuh dalam banyak masalah. Saat itu aku beranggapan bahwa diriku baru saja masuk ke dalam hutan gelap yang entah dimana ujungnya.  

Setidaknya kalian lebih beruntung dariku. Kalian diantar sampai pesantren oleh rombongan keluarga, diberi wejangan sebelum berpisah, kemudian Bapak juga kerap menanyakan kabar kalian pada guru di sana lewat telepon. Kalian seharusnya lebih kuat karena menjalani hal ini di umur 15 tahun. Kalian anak laki-laki. Jika aku sanggup bertahan hingga akhir, lalu kenapa kalian berdua menangis kemudian minta pulang?

Aku sedih. Sedih karena beberapa hari lalu kalian meneleponku begitu semangat, mengatakan bahwa tulisanku sebelumnya membuat kalian menangis. Kalian juga mengaku telah teguh pendirian untuk bersekolah di sana. Tapi hari ini, aku sedih mendapati kalian tak lagi mengingat semua nasehat tersebut, seolah-olah tak pernah ada sedikit pun nasehat yang kalian terima sebelumnya.

Adik-adikku tersayang. Jika kalian berjalan di jalan Allah, iblis dan anak keturunannya akan mencari seribu satu cara untuk membuat kalian menyimpang dari jalan itu. Mereka tak akan suka melihat kalian berjuang dalam menghafalkan kitab Allah taa’ala tanpa rintangan apapun. Mereka ingin mendapatkan banyak teman untuk bersama mereka di neraka. Itulah dendam mereka sejak zaman nabi Adam alahissalam. Memang, mereka tak seketika membujuk kalian untuk melakukan maksiat atau dosa-dosa besar, tapi mereka memulainya dari langkah-langkah kecil, hal ini telah diperingatkan dalam Al Quran, (Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui—QS. Al-Baqarah: 168-169)

Apa saja langkah-langkah syaitan itu? Banyak. 

Bahkan dari hal-hal paling kecil yang kita anggap bukanlah sebuah dosa, terlebih hal besar seperti membuat kalian tak menyelesaikan pendidikan di pesantren Al Quran. Allah telah menjanjikan satu perkara, bahwa siapapun yang menghafalkan dan mengamalkan Al Quran, maka derajat mereka naik menjadi keluarganya Allah. Coba pikirkan, iblis mana yang tak berang mendapati calon-calon penerima anugerah derajat ini? Mereka (para iblis itu) akan menggoda kalian berpuluh kali lipat. Mereka akan meniupkan ketakutan, cemas, dan kegelisahan di dalam rongga dada kalian. Mereka menghiasi hati dan pikiran kalian dengan angan-angan kosong. Mereka tak akan menyerah sebelum kalian kalah. Jadi, putuskanlah sendiri, kalian memilih kalah dari para iblis itu atau tetap melanjutkan perjuangan?
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat—QS. Al Baqarah : 214

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar—QS. Al Baqarah : 155
Adik-adikku. Bersabarlah... sesungguhnya kesabaran itu jauh lebih baik bagi kalian. Bersabarlah karena dunia memang bukan tempatnya untuk bersenang-senang. Dunia adalah tempat kita menjalani berbagai ujian agar kemudian pantas dinyatakan lulus masuk ke Jannah-Nya. Bersabarlah karena ujian yang datang pada kalian hari ini belum seberapa dibandingkan ummat terdahulu. Bersabarlah karena di belahan bumi lain ada banyak anak-anak yang nasibnya tak beruntung namun mereka tetap ingin menghafalkan kitab Allah. Tentu kalian masih belum lupa kisah Paman Zubair dan beberapa anak yatim korban perang yang meminta dibawakan mushaf ke pengungsian? Nah, coba bandingkan dengan keadaan kalian. Bandingkan dengan kalian yang saat ini berada di lingkungan yang aman, yang terpelihara, yang tak kekurangan makanan, serta masih memiliki keluarga utuh yang mendoakan setiap harinya. Alasan seperti apa lagi yang bisa kalian gunakan untuk membantah ketika nanti ditanya di hadapan Allah?

Sekali lagi, bersabarlah...
“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( QS. An Nahl : 96 )
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran : 142)
Teriring doa, semoga Allah yang Maha Pengasih meneguhkan hati kalian. 


Mbakmu
Sofia

Friday, 7 July 2017

Untukmu yang akan Menghafalkan Al Quran



Teruntuk adik-adikku, Taufik Ilham dan Taufik Hidayat...

Adik-adikku tersayang... Tahu kah bahwa kehadiran kalian adalah berkah bagi kami sejak hari kalian dilahirkan?

Aku tahu betapa cemas kau saat ini. Aku tahu kau selalu tersenyum tiap kali orang-orang menganggap pilihanmu adalah sesuatu yang salah.

Adik-adikku, aku melihat ada mutiara yang begitu indah di dalam hatimu. Kau berbeda dari yang lain. Hatimu begitu lembut. Kau memperlakukanku sebagai kakak dengan begitu baik. Kau tak pernah berkata dengan suara tinggi kepadaku. Kau selalu menurut pada segala ucapan dan permintaanku.

Adik-adikku, berteguh hati lah. Kau berada pada pilihan yang benar, insyaAllah... Belajar lah di sana dengan tekun, niatkan segalanya hanya untuk Allah subhanahu wata’ala semata. Jika kau telah menggenggam ilmu untuk akhiratmu, jika kau telah memenuhi bekal dan jaminan untuk hidup sesudah matimu, insyaAllah dunia akan takluk di bawah kakimu. Ingat lah, dunia akan datang kepada kita dengan hina apabila kita memperlakukannya seumpama budak yang hina. Sebaliknya, dunia akan duduk di singgasana dengan angkuh dan apabila kita menyanjung dan memujinya.

Jangan kau takut akan susah berjalan di muka bumi ini hanya karena kau lebih mengutamakan ilmu Allah. Jangan lah hatimu condong pada perkataan dan bujukan orang-orang di sekelilingmu yang selalu mengatakan bahwa ilmu dunia itu jauh lebih penting. Jangan menjadi lemah karena itu. 

Aku tidak bisa menjadi penjamin bagi dirimu. Namun aku akan menunjukkan beberapa jaminan yang telah diberikan Allah dan Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam sejak ribuan tahun lalu.

“Barangsiapa yang membaca (menghafal) Al Quran, maka sungguh dirinya telah menyamai derajat kenabian hanya saja tidak ada wahyu baginya (penghafal)...” (HR. Hakim).

“Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri daripada manusia." Kemudian Anas berkata lagi, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Baginda manjawab, “yaitu ahli Qu'ran (orang yang membaca atau menghafal Qur'an dan mengamalkannya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.” (HR. Ahmad).

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu ia berkata, “Baginda bersabda, orang yang hafal Al Quran kelak akan datang dan Al Quran akan berkata: “Wahai Tuhan, pakaikan lah dia dengan pakaian yang baik lagi baru.” Maka orang tersebut diberi mahkota kehormatan. Al Quran berkata lagi: “Wahai Tuhan tambahkan lah pakaiannya.” Kemudian orang itu diberi pakaian kehormatannya. Al Quran berkata lagi: “Wahai Tuhan, ridhailah dia.” Maka kepadanya dikatakan, “Baca dan naik lah.” Dan untuk setiap ayat, ia diberi tambahan satu kebajikan.” (HR. At Tirmidzi).

“Dan perumpamaan orang yang membaca Quran sedangkan ia hafal ayat-ayatNya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun ‘alaih).
Sekarang coba pikirkan, itu adalah jaminan dari Allah bahwa ahlul Quran akan diangkat sebagai keluarganya-Nya.  Adakah keistimewaan yang lebih mulia melebihi itu? Jika Allah telah menganggap kita sebagai keluarga, maka Dia subhanahu wa Ta’ala akan melindungi kita, mencukupi kita, meridhoi kita. Sama halnya seperti Bapak dan Ibu yang sejak kecil selalu melindungi dan membelamu.

 Apa yang bisa kita lakukan sekarang adalah yakin. Jangan cemas dan takut kelak kau tak bisa menjadi apa-apa hanya karena tak mempelajari matematika, fisika, kimia, dan biologi. Jika Al Quran ada dalam jiwamu, insya Allah kemuliaan pun tak pernah meninggalkanmu. Berusaha dengan sabar dan hati yang teguh, selebihnya Allah yang akan menentukan akhirnya.

Aku tak mampu sepertimu. Hafalanku tak kunjung bertambah. Dulu aku tak kuat untuk tinggal selama dua tahun di rumah Quran. Jika dulu tak ada seorang pun yang meneguhkan hatiku ketika goyah, maka aku berjanji akan menjadi peneguh bagimu nanti. Jika dulu aku tak pernah memperoleh ketegasan, maka aku berjanji akan berlaku tegas padamu. 

Tahu kah kau bahwa hati manusia ini begitu rapuh dan goyah? Dulu, aku begitu semangat di masa-masa awal. Tapi kemudian aku rapuh, jatuh, dan terpuruk. Tapi aku tak memperoleh suatu kekuatan yang bisa membuatku bangkit. Saat aku hampir menyerah, berada di antara persimpangan, aku terus membuka lembaran Al Quran secara acak. Sebelumnya aku berdoa semoga Allah menunjukkan jalan yang terbaik melalui cara itu. Berkali-kali aku membuka mushaf secara acak, ayat yang kutemui selalu saja tentang kisah Yusuf alahissalam dan perintah agar bersabar. Tapi penolakan dalam hatiku jauh lebih besar. Aku tak mampu bersabar. Dan akhirnya menyerah.

Adik-adikku, percaya lah kau tak akan mengalami hal serupa denganku. Saat hatimu goyah, aku tak akan memberikan pilihan sesuai keinginanmu. Maka perlu kau tulis baik-baik ucapanku ini, bahwa nanti aku akan sangat keras padamu. Apapun keluh kesahmu nanti, aku tidak akan pernah memintamu untuk berhenti. Aku tak mau kau mengalami penyesalan di kemudian hari hanya karena kau tak bisa bersabar sedikit saja. 

Adik-adikku, kau akan menyelesaikan hafalanmu. Kau juga bisa belajar bahasa Arab dan Inggris dimana orang-orang pun berduyun-duyun untuk belajar di sana. Jika kau berhasil menyelesaikan hafalan, mampu berbahasa Arab dan Inggris, maka demi Allah tiga hal itu sudah cukup bagi duniamu. Selebihnya bisa kau kejar di kemudian hari. 

Adik-adikku... kebanyakan manusia merasa sayang untuk mengorbankan sedikit waktu bagi kehidupan akhirat mereka. Kebanyakan manusia yang kau saksikan hari ini bagaikan terpisah antara jiwa dan agama mereka. Mereka berkata diri mereka Muslim, tapi mereka tak suka pada Al Quran dan Al Sunnah. Mereka menyebut diri mereka Muslim, tapi mereka menghujat orang-orang yang menunaikan agama dengan baik. Lihat lah hari ini, lihat lah kenyataan yang ada, bahwa benar Islam telah kembali menjadi asing bahkan bagi penganutnya sendiri. Menjalankan Islam dengan baik adalah serupa dengan mengenggam bara api yang menyala. Sulit. Kebanyakan dari kita beriman di pagi hari, kemudian menjadi kafir di sore harinya. Kebanyakan dari kita menyelesaikan ibadah dengan khusyuk, tapi kemudian kembali melakukan maksiat. Itu kenyataan yang sedang terjadi. 

Banyak ulama dunia mengatakan “Demi Allah ini adalah zaman dajjal.”

Tapi kita terlalu terbuai dengan kehidupan yang gemerlap ini. Kita terlena di dalamnya seolah-olah akan hidup selamanya. Kita lupa bahwa dahulu ada peradaban-peradaban besar yang juga pernah mencapai puncaknya, tapi kemudian hancur tanpa bekas. Lalu pikirkan tentang dunia modern yang belum mencapai hitungan satu abad ini, apakah kita merasa semua akan berjalan baik-baik saja tanpa ada ujungnya?

Demi Allah, jika kiamat tak terjadi pada zaman ini, maka pasti akan ada bencana lain yang akan menimpa kita atau beberapa saat sesudah kita. Tugas kita hari ini adalah mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk menghadapi semua itu. Biarkan saja manusia lain berlari mengejar dunia, karena apabila apa yang mereka kumpulkan itu tidak digunakan untuk perniagaan dengan Allah, maka saat maut menjemput nanti keadaan mereka akan sama dengan yang tak memiliki harta. 

Aku berkata seperti ini bukan berarti dunia itu tak penting bagimu. Ia penting karena di sinilah hidupmu. Kau harus mencari dunia untuk keberlangsungan hidupmu, untuk kenyamanan ibadahmu, untuk sedekahmu, untuk biayamu ke Baitullah, untuk anak-anak yatim, untuk kepentingan umat. Tapi jangan letakkan ia di puncak hatimu. Bukan kah Bapak pernah mengatakan bahwa siapa pun yang mengejar akhirat, maka dunia akan ikut di belakangnya. Tapi barang siapa yang hanya mengejar dunia, maka akhirat tak akan pernah ikut di belakangnya. Sekarang aku bertanya, menurutmu rumus pertama atau kedua yang lebih menguntungkan? 

Selamat belajar. Hormati guru-gurumu karena dari mereka kau akan mendapatkan keberkahan dalam ilmu. Semoga Allah meneguhkan hatimu, melimpahkan kebahagiaan di dalamnya, menguatkan ingatanmu, menghaluskan tutur bahasamu, memberikan keberkahan dalam setiap usaha dan perjuanganmu. Aku melepasmu dengan salam dan doa.

Thursday, 6 July 2017

Semoga Allah Ridho atas Kedua Orangtua Kita



Sebenarnya sejak sehabis Zuhur tadi saya sibuk menulis tentang Umar ibn Khattab radhiallahu’anhu, hanya saja cerita pengalaman ini lebih mudah untuk dituliskan hingga kemudian selesai terlebih dahulu. Cerita ini ingin sedikit saya bagi akibat keresahan yang terus-terusan mendera akhir-akhir ini. Akibat rasa berdosa saya kepada Bapak. 

Selama libur Ramadhan dan Idil Fitri, alhamdulillah saya bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Rasanya tidak ada tempat di dunia ini yang memiliki ruh begitu dahsyat sebagai tempat memulihkan segala lelah badan dan pikiran, kecuali kampung halaman. 

Bagi saya, kampung halaman juga merupakan tempat untuk men-charge iman. Di rumah, saya bisa membaca banyak kitab-kitab tebal milik Bapak, melakukan dzikir pagi dan sore dengan rutin, shalat sunnah, serta amalan lain dengan lebih nyaman dan khusyuk. Mendapati Bapak yang selalu bangun pukul tiga dini hari untuk kemudian menggelar sajadah dan shalat (terkadang beliau shalat di Musola dan terkadang di depan pintu kamar saya), saya merasakan seperti ada yang menggerakkan hati untuk beribadah lebih giat lagi. 

Berkali-kali saya bertanya, bagaimana Bapak bisa sedemikian istiqomah? Ya meskipun tak jarang kami bertiga (saya, ibuk, dan adik) merasa bosan dengan beberapa cerita Bapak yang diulang-ulang. Contohnya saat Bapak menceritakan kisah pembakaran Nabi Ibrahim alaihissalam oleh seorang raja kejam bernama Namrud. Bapak bilang, saking besarnya api yang disiapkan raja Namrud, ia sampai harus melempar Nabi Ibrahim dari atas bukit mengenakan ketapel. Kemudian saat Nabi Ibrahim akan dilemparkan ke dalam api, datanglah malaikat Jibril yang menawarkan bantuan. 

“Apakah itu perintah Allah?” tanya nabi Ibrahim alaihissalam.

“Tidak. Ini karena rasa kasihanku padamu.” Jawab Jibril.

“Kalau begitu biarkan lah aku sampai Allah datang keputusan Allah.”

Hingga akhirnya seperti yang kita baca dalam Al Quran, pertolongan Allah datang melalui firman-Nya surat al-Anbiya ayat 69 yang berbunyi “Wahai Api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim”.  Bahkan di dalam api itu pula Nabi Ibrahim memperoleh berbagai kenikmatan yang sebelumnya tak pernah didapatkan di dunia. Diriwayatkan dari Minhal bin Amr, Ibrahim tinggal atau berada dalam kobaran api itu selama 40 atau 50 hari.  Ibrahim berkata, “Sebaik-baik kehidupan yang saya rasakan adalah hari-hari ketika saya berada dalam kobaran api. Saya berharap, seluruh hidup saya seperti yang saya rasakan dalam kobaran api itu.”

Bapak juga bercerita, bahwa pertumbuhan fisik Nabi Ibrahim tidak sama dengan manusia pada umumnya. Pada masa itu semua anak laki-laki yang lahir harus dibunuh, jadi demi melindungi putranya, ibu Nabi Ibrahim meninggalkannya di dalam gua sejak ia dilahirkan. Dan kuasa Allah subhanahu wa Ta’ala, Nabi Ibrahim  tumbuh besar hanya dalam waktu 15 bulan saja, tanpa diberi makan dan minum.

Bapak menambahkan di akhir cerita, “Di situlah sebenarnya kelihatan sekali betapa ingkarnya ayah Nabi Ibrahim. Sudah jelas-jelas dia lihat sendiri anaknya bisa besar dalam 15 bulan, tapi masih belum percaya juga dengan kekuasaan Allah. Malahan dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menentang risalah anaknya dan tetap tidak mau berhenti menjadi pembuat berhala. Waktu sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Ibrahim pernah disuruh jualan berhala oleh bapaknya. Tapi tidak ada yang mau beli karena dia teriak-teriak, ‘Saya jual berhala. Siapa yang beli maka dia orang yang bodoh.’”

Bagi yang baru pertama kali mendengar kisah seperti ini tentu tidak seketika percaya. Demikian pula saya. Pertama kali Bapak cerita, saya tidak seketika percaya.

“Ah, palingan Bapak cuma dengar cerita dari orang-orang. Saya yang sudah tamat kuliah aja belum pernah dengar kok sejarah Nabi Ibrahim seperti itu.” Pikir saya waktu itu. 

Hingga kemudian qodarullah... Memang Allah sepertinya ingin menyelamatkan Bapak dari prasangka buruk anaknya. Hanya berselang dua hari kemudian, tanpa sengaja adik saya menonton salah satu tayangan televisi tentang wisata sejarah ke sebuah tempat bernama Sanliurfa. Lokasinya ada di Turki, dekat Suriah. 

Saat itulah saya merasa tertampar sekaligus merasa begitu berdosa pada Bapak. Sekarang semua yang Bapak ceritakan itu bukan hanya dibenarkan oleh orang lain, melainkan juga ditunjukkan lagsung seperti apa bukti sejarahnya. Gua tempat Nabi Ibrahim alaihissalam tumbuh dan berkembang selama 15 bulan itu masih ada hingga sekarang, bahkan terpelihara dengan begitu baik. Siapapun yang berkunjung ke sana bisa shalat di dalamnya. Tempat shalat pria dan wanita pun dipisah. 

Lalu tak jauh dari gua itu, kita juga bisa datang langsung ke bukit tempat Nabi Ibrahim pernah dilempar menggunakan ketapel. Di sana juga masih ada dua buah tiang tinggi yang diyakini sebagai peninggalan Namrud, terletak di pinggir lembah di atas benteng Kota Urfa.




Beberapa ahli sejarah seperti Yakut, sebagaimana dikutip dalam Mu’jam al-Buldan tentang Babylonia, ia menggambarkan bahwa negeri Babylon (Urfa) sebagai berikut, “Ia berada di antara Tigris dan Eufrat yang disebut dengan As-Sawad.”

Menurut beberapa sumber, pada abad ke-12 SM saat diperintah oleh Seleukus I, seorang jendral pada masa Alexander The Great, didirikan sejumlah pondasi di sekitar lereng bukit di Urfa, tempat kedua tiang besar itu berada. Ada pula yang mengatakan, keberadaan dua tiang besar yang kini masih berdiri kokoh itu adalah bagian dari sebuah gereja Kristen, yaitu Edessa. Konon, kedua tiang besar itu sebagai simbol atas penyangga dari Romawi dan kekaisaran Persia. Wallahu’alam bissawab... 

Yang lebih menarik adalah legenda yang berkembang di masyarakat tentang makanan khas asal kota Sanlıurfa dan Adiyaman yang bernama Çiğköfte. Konon makanan satu ini ada hubungannya dengan cerita pembakaran nabi Ibrahim alaihissalam. Diceritakan ketika para tentara Namrud menyuruh untuk mengumpulkan kayu bakar, masyarakat pun berkumpul di dekat tempat pembakaran. Namun karena lamanya menunggu, akhirnya bapak-bapak pun kelaparan dan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah tidak ada makanan karena semua kayu bakar telah habis. Kemudian secara cepat saji ibu-ibu pun mengambil bulgur, cabe, dan beberapa rempah-rempah yang kemudian diaduk dan siap dimakan.

Pemerintah Turki saat ini juga mengembangkan kota ini sebagai pusat tujuan wisata karena keberadaannya dengan situs purbakala yang berkaitan dengan masa lalu seperti kisah Raja Namrud dan Nabi Ibrahim alaihissalam.

Di sini saya tidak ingin mengklarifikasi apakah benar Sanliurfa adalah tempat yang memiliki hubungan erat dengan Ibrahim alaihissalam, melainkan adalah apa yang pernah Bapak ceritakan. Seperti yang saya katakan, sebelumnya saya tidak percaya pada cerita Bapak bahwa Ibrahim alaihissalam besar di gua, lalu dilempar menggunakan ketapel, hingga kemudian saya menonton siaran tersebut dengan mata kepala sendiri. 

“Ternyata selama ini Bapak bercerita karena dia pernah membaca sejarah itu, bukan hanya cerita dari mulut ke mulut.” Gumam saya malam itu.

Ya, kejadian seperti ini sebenarnya seringkali berulang. Terkadang saya merasa angkuh di hadapan Bapak. Merasa bahwa saya lebih tahu soal sejarah dan pemahaman agama. Banyak kisah-kisah yang Bapak ceritakan baru saya benarkan berbulan-bulan kemudian, tentu setelah saya mendapati kisah itu dari referensi yang jelas.  Saya lupa bahwa Bapak juga punya banyak buku. Beliau memang hanya tamatan sekolah dasar, namun beliau rajin membaca sejak dulu. Bahkan beberapa tahun terakhir, Bapak menyempatkan ta’lim (membaca kitab-kitab yang ditulis para alim ulama) setiap habis Magrib dan Subuh. 

Terkadang saya jengkel pada Bapak. Tidak ada hal lain yang ia ceritakan selain masalah agama. Dan seperti yang saya sebutkan di atas, cerita beliau selalu diulang-ulang. 

“Bapak sudah menceritakan ini kemaren. Ini yang keempat kali.” Seringkali saya memotong dengan kalimat begini.

Tapi beliau menjawab, “Yang terpenting itu bukan soal sudah berapa kali diulang, tapi sudah diamalkan atau belum? Ilmu itu tidak akan ada manfaatnya sebelum diamalkan."

Kalimat yang jadi skak mat bagi saya. Jadi ingat ucapan Kyai Ahmad Dahlan ketika ditanya muridnya kenapa terus-terusan yang dikaji adalah surah Al Maa’un. 

Saya mendapatkan banyak pelajaran berharga dari Bapak. Semua hal-hal sederhana yang ada dalam diri beliau selalu membuat saya rindu untuk pulang ke rumah. Dari pengalaman ini, saya ingin mengatakan bahwa selamanya seorang anak tak akan pernah lebih pandai dari orang tuanya. Jangan berlaku sombong karena merasa pendidikan kita lebih tinggi dari orang tua. Karena bukan kah dahulu mereka yang berjuang siang malam agar anaknya bisa sekolah? Tapi kebanyakan dari kita adalah pelupa. Kita lupa pada kebaikan-kebaikan kedua orang tua.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengungkapkan bahwa saya begitu bersyukur memiliki ayah seorang Bapak. Sungguh beliau tak pernah mengajarkan kepada anak-anaknya kecuali kebaikan-kebaikan. Sungguh ia tak pernah mengatakan perkataan yang sia-sia. Semoga Allah membalas kebaikan kedua orang tua kita, memberikan derajat yang tinggi untuk mereka, meridhoi mereka, memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya yang luas. Semoga dosa kita sebagai anak tidak pernah mengurangi pahala amal ibadah mereka, tidak menjadi penghalang kasih sayang Allah kepada mereka. Semoga kita termasuk salah satu dari tiga perkara yang akan menyelamatkan kedua orang tua kita di kehidupan selanjutnya. Dan semoga Allah mengizinkan saya, juga kalian, beserta orangtua untuk berkunjung ke Sanliurfa dan negara para anbiya lainnya, suatu hari nanti. Aamiiin... insya Allah.



Monday, 23 January 2017

Mengintip Kehidupan Wardatul Ula, Muslimah Asal Aceh yang Menempuh Studi di Turki



Sahabat Muslimah, mulai hari ini aku juga akan menulis kisah Muslimah baik Indonesia maupun dari negara-negara lain, yang bisa dijadikan inspirasi bagi kita semua. Sebagai pembuka, inilah kisah pertama yang aku pilihkan dan ditulis khusus untukmu. InsyaAllah bermanfaat.

Wardatul Ula: Mahasiwi Asal Aceh yang Tengah Menempuh Studi di Tanah Ustmani
Namanya Wardatul Ula dan lebih senang dipanggil Lala. Bagi yang pernah membaca buku ketiga Hanum Rais ‘Berjalan di Atas Cahaya’, tentu sudah tidak asing lagi dengan gadis lahiran Aceh, 1 Januari 1992 ini. Selain pengalaman Hanum Rais sendiri, buku tersebut juga dilengkapi cerita oleh dua wanita lain, yaitu Tuti Amaliah yang bertahun-tahun tinggal di Vienna, dan Lala yang saat ini berkuliah di Turki. 

Sunday, 1 January 2017

(Cerpen) Kisah Cinta dari Andalusia


Hari sudah merangkak menjelang siang. Saat seorang laki-laki duduk di atas kuda putih kesayangan sambil menyusuri jalanan berkerikil di antara kebun anggur yang subur. Namanya, Ahmad Abu Walid. Seorang pengembara yang tidak jelas asal usulnya. Ia berkelana dari desa satu ke desa lain, dari negeri satu ke negeri lain. 

Laki-laki itu mengenakan topi terbuat dari sorban yang melilit di kepala. Soal rupa, usah ditanya. Hampir tidak terlihat bentuk hidung dan bibirnya karena tertutup jambang yang sangat semak dan tak terawat. Dua-tiga orang yang berpapasan selalu menatap aneh hingga kepala mereka memutar ke belakang. Ada khawatir yang menggelayut di hati para penduduk itu, takut laki-laki itu penyamun, orang jahat, atau apalah.

Ahmad Abu Walid, dibalik topi yang sudah tidak jelas warna aslinya itu ia menatap hamparan desa baru yang membentang indah di depan. Belum pernah ia memasuki sebuah desa sesegar ini. Rambatan anggur dengan buahnya yang segar bergelayutan. Petani-petani dengan pakaian indah memetik buah-buah yang telah masak, mengumpulkan ke dalam keranjang-keranjang rotan. Ia membiarkan kudanya berjalan lambat, berirama pada setiap langkah yang menapak di atas kerikil.

Kuda putih yang ia tumpangi berhenti, tentu saja atas perintah laki-laki yang menjadi tuannya. Seorang gadis memanggil-manggil. Laki-laki itu memperhatikan dari balik topi. Gadis dengan baju lusuh penuh tambalan. Topi lebar yang ia pakai pun sobek di sana sini. Wajahnya dipenuhi penyakit kulit yang memberikan kesan buruk rupa.
“Tuan, saya menjual susu domba segar. Sudikah tuan membelinya?” Tawar gadis itu sambil menunjukkan keranjang yang hanya dipenuhi lima botol susu.
Lama laki-laki menjawab. Sengaja membuat gadis itu menunggu.
“Saya akan membeli semuanya.” Ucap laki-laki itu yang membuat gadis penjual susu terperanjat kaget sekaligus bahagia. Segera ia memasukkan lima botol susu miliknya ke dalam kantung dari kulit domba, lalu menyerahkan kepada pembeli yang duduk di atas kuda. Sebagai imbalan, gadis itu menerima sepuluh keping uang Andalusia.
Laki-laki itu melanjutkan perjalanan, meninggalkan sang gadis yang memandang hingga hilang di kejauhan. Kini ia memasuki kawasan rumah-rumah penduduk desa itu. Rumah-rumah yang begitu indah dengan bunga-bunga bugenvil aneka warna yang berbunga lebat. Masing-masing rumah juga memiliki kereta kuda.

“Keindahan yang sungguh memikat.” Ucapnya tidak mampu menyembunyikan kekaguman. Ia sudah singgah di banyak negeri, melihat puluhan kastil, namun tak ada yang terlihat sesempurna ini di matanya. Di tengah kesibukan mengagumi rumah-rumah itu, sebuah kereta kuda berlalu di sampingnya. Laki-laki itu mengalihkan perhatian, mengamati wajah samar di balik tirai tipis yang terpasang di jendela kereta kuda. Wajah seorang wanita jelita. Dengan kesal laki-laki itu menghempaskan tangan di atas kepala kudanya, hingga hewan itu meringkik, karena ia tak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas. Meskipun begitu ia tetap duduk diam di atas kudanya, memandangi kereta kuda yang membawa si jelita hingga hilang di ujung pandangan.

Laki-laki itu tetap berjiwa pengelana. Walau desa indah itu sempurna memikat hati, ia tetap melanjutkan perjalanan. Malam harinya ia sudah berada beratus-ratus kilo dari desa indah yang ada di Andaluasia. Ia menyewa kamar dengan harga murah, sekadar untuk istirahat lalu besok kembali menyusuri jalan-jalan yang berdebu di musim panas. Ahmad baru memejamkan mata beberapa puluh menit ketika sebuah mimpi singgah dalam lelapnya. Ia melihat seorang gadis dengan kecantikan seperti para peri. Kecantikan tiada bandingan dan terlihat sangat jelas. Mata bulat bercahaya, alis hitam yang terlukis sempurna, dagu menggantung, dan bentuk wajah berbentuk bulat telur. Wanita itu juga mengenakan selendang di atas rambut, menciptakan sihir yang tidak terceritakan. “Aku di sini untuk melengkapimu, Tuan Ahmad Abu Walid.” ucap wanita itu seraya tersenyum.  Anehnya, laki-laki itu seolah tak punya suara untuk sekedar menanyakan nama si gadis. Hingga ia perlahan hilang bersama kabut yang semakin mengecil. Sambil menggapai-gapai, ia terus memanggil-manggil si gadis hingga terbangun dari mimpi. 

Mimpi yang membuatnya gundah. Wajah gadis itu masih tersisa jelas, juga suaranya yang terus terdengar. Ahmad keluar dari kamar sempit, menaiki kuda menuju puncak bebatuan. Ia pandangi malam dengan kerlip lampu desa-desa di bawah sana sambil mencoba melupakan wajah si gadis dalam mimpi. 

Pagi-pagi sekali Ahmad sudah jauh meninggalkan desa tempatnya bermalam. Begitu terus, hingga waktu membawanya ke musim panas kembali. Ia sudah memiliki uang cukup banyak di kantung, hasil dari bekerja di toko sepatu milik orang Moor. Ia bisa menggunakan uang itu untuk lima bulan perjalanan. Tapi, entah mengapa. Sejak ia melihat gadis jelita dalam mimpinya, laki-laki itu menjadi aneh. Ia memiliki kesenangan untuk selalu menatap malam, merenungkan banyak hal. Mungkinkah ia telah jatuh cinta pada gadis yang datang dalam tidurnya? Begitukah yang dilakukan setiap laki-laki apabila mereka sedang merindukan wanita pujaannya?

Entah mengapa pula, musim panas membawa angin rindu dari desa indah yang tertinggal begitu jauh di belakang. Meski sudah berulang kali mencoba menahan kata hati yang mendesak-desak, pada akhirnya Ahmad menyerah. Firasat mengatakan bahwa gadis jelita yang ada dalam mimpinya adalah gadis yang ada di balik tirai kereta kuda yang pernah ia lihat. Mungkin ini petunjuk Tuhan.

Jadilah, walau sudah beratus-ratus kilometer desa itu tertinggal di belakang. Laki-laki itu memutuskan memutar arah. Sama seperti pertama kali datang, ia tetap bersama kuda putih kesayangan. Tapi sekarang, pakaian yang ia kenakan tak sekusam dulu. Ia membeli beberapa pakaian di tengah perjalanan. Cinta membuatnya ingin terlihat lebih baik. Walau ia tak tahu, apakah cinta itu memang ada di desa yang kini didatanginya untuk kedua kali. Tak ada perubahan pada desa itu, tidak seperti dirinya yang sedikit mau berubah. Begitu juga dengan penduduk yang berpapasan dengannya. Mereka tak sekali pun mau tersenyum. Mungkin karena wajah laki-laki itu masih menyeramkan. Tapi mereka tak lagi memandangi hingga wajah mereka memutar ke belakang. Hey, itu sebuah perubahan.
“Tuan! Tuan dengan kuda putih!”
Ahmad menghentikan kudanya, masih di tempat yang sama seperti setahun yang lalu, tempat ia membeli lima botol susu domba. Laki-laki itu menunggu sang gadis mendekati kudanya sambil mengamati dari balik topi. Mencari perubahan. 

Sayang, tak ada perubahan sama sekali. Tak ada sedikit pun, gadis itu tetap berpakaian kumal dan memiliki wajah yang buruk, hal itu membuat Ahmad kecewa. Seharusnya setiap orang akan lebih baik dari waktu ke waktu.
“Saya senang Tuan kembali ke desa ini. Sudikah Tuan membeli susu-susu domba ini?” Tawar sang gadis buruk rupa sambil memperlihatkan botol-botol susu yang kini berpuluh-puluh jumlahnya. Sang laki-laki tersenyum di balik jambang lebat. Peningkatan jumlah botol susu? Hey, ini sebuah perubahan.
“Tentu saja. Saya akan membeli semuanya” Ia berseru, membuat si gadis begitu senang. Dengan cepat ia membungkus botol-botol susu dan menyerahkan kepada Ahmad. Sebagai imbalan, laki-laki itu memberi sekantung uang Andalusia.
“Ini terlalu banyak, Tuan.”
“Ambil saja.” Kata sang laki-laki lalu segera memacu kudanya berlari kencang.
“Tuan! Boleh saya mengetahui nama Anda?!!!” Teriak sang gadis.
“Ahmad Abu Walid!!!” Jawabnya terdengar samar bersama kepulan debu.
Tujuan laki-laki itu datang kembali ke desa ini belumlah terpenuhi, karena itu ia memacu cepat kudanya menuju rumah-rumah penduduk yang semakin indah, berharap bisa melihat wajah gadis jelita yang ada di dalam kereta setahun lalu. Ia menunggu di atas kudanya yang diam, mengamati setiap kereta kuda yang lewat.

Namun hingga matahari mulai merendah ke Barat, yang dinanti tak kunjung menampakkan wajah. Ia tak kecewa, terus setia menanti. Tak beberapa lama, ia melihat sosok gadis itu. Bukan lagi di dalam kereta kuda, melainkan di depan sebuah rumah. Ia terlihat begitu anggun dari kejauhan. Semakin yakinlah laki-laki itu bahwa si gadis jelita yang hadir dalam mimpinya adalah gadis yang kini dilihatnya. Gadis itu membawa keranjang di tangan lalu memetik beberapa buah apel yang merah di halaman rumah. Baru saja Ahmad berniat turun dari kuda untuk mengajak gadis itu berkenalan, si gadis sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah. Dan niat itu pun urung ia lakukan.  

Saat langit Barat mulai menyemburkan warna merah, Ahmad kembali melanjutkan perjalanan. Pertemuan tadi sudah cukup sebagai bekal hingga kunjungan tahun depan. Melihat sekilas sosok gadis itu sudah cukup baginya sebagai teman perjalanan. Kali ini tidak ada lagi cerita tentang perjalanan jauh, juga tidak ada negeri-negeri baru yang sangat ingin ia lihat, karena Ahmad sudah bertekad akan bekerja keras, mengumpulkan uang, membangun rumah indah lalu melamar gadis pujaannya. 

Sejak hari itu, ia memulai usaha sebagai penjual pakaian. Satu bulan pertama, usahanya masih biasa saja. Dua bulan kemudian, ia mulai memikirkan ide-ide baru untuk desain pakaian yang dijual. Karena pengalamannya bekerja di toko sepatu, kini pada bulan keempat usaha pakaian itu sudah begitu maju. Apalagi ia pandai berbicara dalam berbagai bahasa negeri lain, semakin banyaklah pembeli yang mendatangi tokonya. Para pembeli itu berasal dari kalangan bangsawan dan orang-orang istana. 

Memasuki bulan kesepuluh, nama laki-laki itu terkenal di seluruh pelosok negeri. Kekayaan yang dimiliki tak ternilai jumlahnya. Ia sudah membangun rumah yang memiliki keindahan mengalahkan istana yang ada di negerinya. Meskipun di tengah kesibukan mengurusi usaha pakaian, ia tetaplah merasa sepi. Setiap malam matanya tertuju pada langit gelap, berbintang, bulan sabit, hingga bulan penuh. Menghitung hari agar cepat sampai pada musim panas. Hingga akhirnya, waktu membawa Ahmad kembali pada kunjungan ketiga di desa yang sudah memikat hatinya. Ia sudah menyiapkan semua yang harus disiapkan.

Hari sedang merangkak mendekati siang saat itu. Saat seorang laki-laki duduk di atas kuda putih kesayangannya. Soal rupa, tidak usah ditanya. Wajahnya sungguh tampan tanpa jambang semak seperti dulu. Pakaiannya indah tiada tara, ia lebih memesona dari pangeran-pangeran yang dimiliki seluruh negeri. Setiap penduduk yang berpapasan dengannya pasti tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala, memberi penghormatan. Dialah Ahmad Abu Walid.

Ahmad berhenti, masih di tempat yang sama sepeti setahun dan dua tahun yang lalu. Tempat ia membeli susu domba kepada seorang gadis buruk rupa. Tapi, kali ini laki-laki itu berhenti tanpa panggilan dari sang gadis. Ia berhenti karena merasa seperti ada yang tidak sempurna pada kunjungannya kali ini. Ia diam di atas kuda, menunggu sang gadis penjual susu datang. Mungkin kali ini gadis itu terlambat. Hingga tiga jam kemudian, sang gadis belum juga menampakkan sosoknya. 

Ia memutuskan melanjutkan perjalanan menuju rumah-rumah penduduk. Hingga sampailah ia di depan rumah gadis jelita yang ia kasihi. Halaman rumah itu dipenuhi rangkaian bunga di sana-sini. Orang-orang berpasang-pasangan berdansa dengan gaun-gaun pesta yang indah. Sang laki-laki mulai memiliki firasat tidak nyaman. Ia memanggil seorang penduduk.
“Pesta apakah ini?” tanyanya.
“Pernikahan gadis tercantik desa ini. Lihatlah, mereka pasangan yang sempurna.” jawab laki-laki separuh baya yang Ahmad tanyai sambil menunjuk sepasang pengantin di tengah para tamu. Wanita jelita itu? Dia semakin jelita dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya.
Mendapati kenyataan itu, bagai terhempas ke jurang rasa sakit yang mendera hati Ahmad. Semua usaha yang sudah ia lakukan seakan hancur bertumpuk di dasar jurang yang dalam. Laki-laki itu melihat sekilas pada pasangan pengantin yang ditunjuk penduduk tadi, ya... memang pasangan yang sempurna. Kini, tinggallah penyesalan yang tersisa di hatinya. Andai saja ia lebih berani setahun yang lalu. Andai saja ia tidak perlu menunggu musim panas untuk melamar gadis itu. Andai saja. Andai saja. Andai saja. 

Ia melanjutkan perjalanan tanpa semangat, memutuskan ini adalah kunjungan terakhirnya di desa itu. Tak ada lagi yang diharapkan. Ia kembali pada kesibukan mengurusi bisnis pakaian. Kini tokonya telah membuka cabang di berbagai tempat. Banyak bangsawan yang menawarkan putri mereka, namun tak satu pun bisa menarik hatinya. Ia telah memiliki segalanya, tapi tak kunjung merasa bahagia. Setiap malam ia tetap bermain dengan wajah jelita itu, membayangkannya di tengah hembusan angin malam yang datang dari lembah-lembah. Begitu terus yang dilakukan Ahmad hingga musim panas kembali datang. Aneh, rasa rindu pada desa itu kembali hadir bersama aroma musim panas, membuatnya tak mampu menepati janji. Keesokan hari, ia memacu kudanya kembali ke desa itu. Entah ada apa di sana sehingga rindu itu selalu datang. Hatinya tertambat di sana, di antara kebun-kebun anggur yang subur. 

Kembali ia berhenti sejenak di tempat ia biasa membeli susu domba. Entah kemana gadis itu. Mungkin ia telah pergi meninggalkan dunia yang menyakitkan ini. Laki-laki itu menambatkan kudanya di pagar, ia duduk merenung di bawah pohon zaitun sambil memandangi kebun-kebun. Saat resahnya benar-benar berada di ujung kesanggupan, saat itulah seorang laki-laki tua menghampiri, mengulurkan setangkai anggur masak.
“Seharusnya engkau tidak boleh bersedih karena cinta, Nak. Jangan terlalu merasa memiliki sesuatu jika kamu tidak mau merasakan sakitnya kehilangan sesuatu. Anggaplah semua yang diberikan padamu hanya titipan, perlakukan ia sebagaimana titipan, kamu merawatnya, menyayanginya sebatas titipan. Hingga jika ia pergi darimu, tak berlarut-larut lukamu. Kamu hanya bersedih karena merasa belum sempurna menjaga titipan itu. Cinta sejatinya kidung kebahagiaan yang membuatmu terus memperbaiki diri untuknya. Lepaskanlah... Jika ia adalah cinta sejati, ia akan pulang ke rumahnya pada waktu yang tepat.” Nasehat si laki-laki tua hingga membuat Ahmad meneteskan air mata tanpa sadar. Ia mengangkat kepala, ingin mengucapkan terimakasih untuk nasehat tak ternilai yang baru saja didengar. Anehnya, tak ada seorang pun di sampingnya. Laki-laki tua itu hilang seperti terbawa angin.
Maka mulai saat itu, Ahmad mulai belajar menunaikan nasehat laki-laki tua. Ia bertekad akan melepaskan cinta di hati dan menanti siapakah yang akan dititipkan kepadanya. Dengan tersenyum ia melanjutkan perjalanan. Berhenti beberapa detik di depan rumah yang mengadakan pesta setahun yang lalu. Mungkin gadis itu sedang hamil tua saat ini atau mungkin sudah memiliki seorang anak berumur dua bulan. Laki-laki itu tersenyum, mengabarkan bahwa ia telah menerima takdirnya. Ia kembali memacu kuda, menikmati perjalanan dengan melewati jalan yang berbeda dari biasa diambil. Tiba-tiba saja jiwa petualangnya kembali datang, ia rindu pada tempat-tempat baru.

Di tengah perjalanan, ia tertarik melihat sebuah restoran yang ramai. Ia turun dari kuda lalu segera masuk ke restoran yang sudah menarik perhatiannya. Semua orang yang duduk di sana memberi penghormatan padanya. Sungguh, ini adalah restoran dengan  keindahan tiada tara. Menariknya, tak hanya orang-orang berpakaian indah yang menikmati hidangan di sana, melainkan para petani dan pedagang biasa pun ramai yang singgah untuk menikmati hidangan.
“Tuan, saya senang Anda berkenan singgah kemari. Anda ingin memesan makanan apa?” Sapa seorang gadis dengan pakaian pelayan yang indah. Sang laki-laki mengenali suara itu. Suara yang sama seperti yang didengar dalam mimpi. Ia segera berdiri, memandang wajah gadis yang ada di hadapannya. Benar saja. Dialah gadis itu, gadis yang pernah dilihat dengan jelas di dalam mimpinya. Gadis yang memiliki kecantikan luar biasa.
“Siapa namamu?” Tanya sang laki-laki.
“Maryam Al Arudia.” Jawab gadis itu dengan wajah heran.
“Namaku Ahmad Abu Walid. Sudah lama  aku mencarimu.”
“Ahmad Abu Walid? Tuan, benarkah itu dirimu? Anda yang beberapa tahun lalu membeli semua susu domba yang saya jual?”
Sang laki-laki sungguh tak menyangka jika gadis yang selama ini ia rindukan adalah sang gadis penjual susu. Ia melihat kembali gadis itu dari bawah hingga ujung kepala. Gadis dari bangsa Moor dengan kain yang menutupi rambutnya, hanya wajah cantiknya yang terlihat. Memang benar, itu adalah gadis penjual susu. Kini ia tak lagi menderita penyakit kulit seperti dulu.
“Tuan Abu Walid, saya selalu menunggu kedatangan Anda. Saya ingin berterimakasih kepada Anda. Berkat uang yang Anda berikan, saya bisa membeli obat yang menyembuhkan penyakit kulit yang saya derita, lalu membangun restoran ini. Semua orang tidak lagi jijik melihat saya sehingga restoran ini cepat berkembang. Terimakasih, Tuan.”  Ucap gadis itu sambil menunduk memberi penghormatan.
“Tak perlu berterima kasih. Aku memikirkanmu sepanjang hari, Maryam.” Ucapnya berterus terang, membuat gadis itu membelalakkan mata, mencari-cari arah pembicaraan laki-laki di depannya.
Tanpa berniat membuat Maryam menunggu, Ahmad melanjutkan kalimatnya. “Aku jatuh cinta padamu. Maukah kamu menikah denganku?” Ia berucap dengan bibir bergetar dan kepala tertunduk.
Maryam menutupi wajah dengan kedua tangan, menjerit kecil. “Saya mencintai Anda sejak pertama kali memanggil Anda tiga tahun yang lalu.”
“Mengapa tidak kamu katakan hal ini sejak dulu?”
“Tidak, tidak akan saya lakukan. Saya yakin, Anda tidak akan memiliki perasaan yang sama jika saya mengatakannya saat itu. Saya merelakan Anda melanjutkan perjalanan, karena cinta sejati akan pulang ke rumahnya. Dengan begitu, saya memiliki waktu untuk memperbaiki diri. Saya yakin, semakin baik diri saya, semakin baik pula laki-laki yang akan dititipkan kepada saya hingga saya pantas untuknya dan ia pun pantas untuk saya.”
Sang laki-laki semakin mengagumi bijaknya gadis itu. Ucapannya mengingatkan kepada laki-laki tua misterius yang memberinya nasehat di kebun anggur, di bawah dahan-dahan zaitun.
“Aku laki-laki ke berapa yang datang melamarmu?” Tanya Ahmad sambil tersenyum bercanda.
“Ke-39.” Bisik Maryam malu-malu. “Tapi Anda tetap yang pertama di hati saya.” Tambahnya dengan senyuman indah.
Ke esokan harinya, digelarlah sebuah pesta pernikahan yang begitu indah. Seluruh penduduk diundang termasuk pasangan yang menikah setahun yang lalu. Pernikahan yang sempurna indah dan memberikan satu pelajaran berarti, bahwa cinta yang sejati akan datang pada mereka yang saling memantaskan diri. Di waktu yang tepat.


Ditulis sekitar 2 tahun lalu
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...