Friday, 3 November 2017

[Fiksi] Pertemuan dengan Racheel Hudson



Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikit pun—HR Muslim No. 2674

Tak sampai 15 menit, empat orang lelaki tersebut berhenti di depan sebuah pintu rumah yang sederhana. Mereka membunyikan bel beberapa kali. Tak lama muncul dari balik pintu tersebut seorang lelaki yang kira-kira berumur 49 atau 50 tahun. Tubuhnya sedang, tidak tinggi dan tidak juga pendek, jenggotnya menggantung hingga sekitar satu jengkal di bawah dagu, lalu di atas kepalanya bertengger manis sebuah kopiah putih. Penampilan yang tidak jauh berbeda dengan tiga orang sahabat Mustafa.

Setelah menjawab salam, lelaki tersebut mempersilakan tamu-tamunya untuk masuk. Ia sempat memandang heran pada Aisiya. Syukurnya Mustafa segera menjelaskan sehingga senyuman ramah pun merekah di bibir si tuan rumah. Ia kemudian seperti memanggil seseorang di dalam rumah, dan tak lama muncul seorang perempuan mengenakan gamis cokelat, kerudung dan niqab hitam. Perempuan inilah yang menjemput Aisiya, bahkan menggapit tangannya untuk masuk ke dalam rumah.

Aisiya dibawa masuk ke sebuah ruangan khusus. Berbeda dari ruang tamu yang terletak paling depan. Tapi di ruangan ini juga terdapat sofa.

“Ahlan wa sahlan. Silakan duduk. Ini adalah ruang tamu khusus untuk wanita. Kau pasti heran.” Ucap wanita tersebut dengan bahasa Inggris yang sempurna. Ia tahu bahwa tamunya tersebut pasti kebingungan dan bertanya-tanya ruangan apakah ini, mengapa harus dipisah dan sebagainya.

Perempuan tersebut membuka niqab, dan sempurna lah rasa takjub Aisiya begitu mengetahui bahwa wajah di balik niqab tersebut seindah bulan purnama. Bibirnya yang selalu tersenyum, wajahnya yang selalu bercahaya seolah-olah ia adalah wanita paling bahagia di dunia ini.

“Namaku Racheel Hudson. Usiaku saat ini 38 tahun. Sudah tidak muda lagi. Tentu saja.” Katanya memperkenalkan diri dengan ramah.

Aisiya duduk. Ia masih sulit untuk menguasai diri.

“A... kau bukan orang Bosnia asli?” tanya Aisiya sedikit gugup.

“Aku lahir dan besar di Australia. Kami—aku dan suamiku—bertemu di kota Sydney pada tahun 2005, menikah di sana, lalu kemudin aku ikut suamiku ke negara ini pada tahun 2010.”

“Kau terlahir sebagai Muslim?”

“Nope.” Jawabnya masih dengan wajah ramah. “Aku masuk Islam pada tahun 2004 di Sydney. Alhamdulillah.”

“Kau mengenakan niqab mulai saat itu?” Aisiya masih dikejar rasa penasaran.

“Nope.” Wajahnya sedikit muram kali ini. “Aku berhijab tahun 2005. Niqab ini baru kukenakan sejak 3 tahun lalu, setelah aku dan suamiku sama-sama mendalami Islam. Alhamdulillah.”

“Tapi niqab bukan sebuah kewajiban bagi seorang Muslimah.” Sanggah Aisiya.

Wanita berdarah Australia itu tersenyum. Indah sekali. “Iya. Oh aku belum tahu siapa namamu?”

“Aisiya Rahmawati. Aku orang Indonesia. Umurku 22 tahun.”

“Oke, baik, Aisiya. Masya Allah namamu mengingatkanku pada salah satu wanita terbaik penghuni Surga, yaitu Aisiya binti Muzahim, istri Firaun. Semoga Allah memberimu berkah atas nama yang demikian indah.”

“Aamiiin insya Allah. Terimakasih.” Aisiya tersipu.

“Insya Allah.” Sambung Racheel. “Baik, Aisiya. Kamu pasti ingin tahu alasanku mengenakan niqab, kan? Padahal tidak ada satu ayat pun dalam Al Quran yang mewajibkan Muslimah untuk mengenakannya. Kamu benar. Niqab memang tidak wajib, namun aku senang mengenakannya. Dan aku berharap semoga ini bisa menjadi salah satu hujjahku kelak di hadapan Allah ketika ditanya, ‘Bagaimana caramu menjaga amanah wajah dan tubuh yang telah Kutitipkan padamu selama hidup di dunia?’. Alasan kedua karena aku ingin mengikuti teladan dari para wanita saliha terdahulu yang ketika turun perintah hijab, mereka seketika menarik kain-kain yang ada di sekitar mereka untuk kemudian ditutupkan ke seluruh tubuh sehingga mereka terlihat seperti gagak-gagak hitam. Alasan ketiga aku memilih niqab karena ini bertentangan dengan nafsu seorang wanita yang selalu ingin menampakkan kecantikan di depan umum demi mendapatkan pujian. Niqab juga melindungi hati-hati wanita yang bisa saja iri melihat kecantikan wanita lain. Insya Allah semoga Allah meluruskan niat di dalam hati.”

Aisiya tak bisa berkata-kata. Hatinya diliputi keharuan mendengar kesaksian luar biasa muslimah mualaf yang duduk anggun di sampingnya kini. Ia merasa malu. Sungguh. Kecantikan yang miliki sama sekali tak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan paras jelita teman barunya ini. Tapi lihatlah betapa teguh wanita ini memenjarakan nafsu. Sementara dirinya, meskipun telah berhijab, mengenakan gamis longgar, tapi tetap saja sibuk memoles wajah ketika akan keluar rumah. Dan benar apa yang diucapkan Racheel, ia ingin semua orang di luar nanti akan melihat paras ayunya kemudian memberikan pujian.

“Oh, Aisiya. Aku sampai lupa kalau suamiku juga kedatangan tamu. Kau bisa menunggu di sini sementara aku menyiapkan jamuan di dapur, atau kau juga boleh ikut bersamaku.”

“Aku ikut denganmu.” Seketika Aisiya berdiri.

Racheel menggandeng tangan Aisiya menuju dapur yang hanya terpisah dinding beton kasar dari ruang tamu untuk wanita. Rumah ini sederhana sekali. Hanya terdiri dari dua buah ruang tamu, dua kamar tidur, dan satu dapur di bagian belakang. Tak ada furniture yang mewah. Semuanya terlihat sangat sederhana, termasuk meja makan dengan enam buah kursi di ruang dapur. Meski sederhana, namun jelas sekali semuanya tampak bersih dan tertata rapi. Tak ada satu pun foto yang terpajang di dinding, hanya beberapa lukisan kaligrafi dan beberapa kerajinan tangan.

“Racheel, maaf, kalian tidak memiliki anak?”

“Alhamdulillah Allah mengamanahi kami dua orang anak. Yang pertama bernama Hassan, usianya 8 tahun. Sekarang sedang di rumah neneknya di Butmir. Sedangkan yang kedua bernama Safiye, usianya baru dua tahun. Dia sedang tidur di kamar. Nanti kau bisa melihatnya.” Racheel menunjuk kamar di bagian depan. Senyuman di wajahnya berbinar, seolah mengatakan bahwa ia sangat bahagia.

“It will be my pleasure to see your little princess.” Aisiya tak kalah bahagia.

Dua wanita itu kemudian sibuk menyiapkan jamuan selama 30 menit ke depan. Aisiya membantu apa yang mampu ia lakukan, sementara Racheel yang meracik hingga bahan-bahan makanan tersebut menjadi sebuah hidangan.

“Olahan daging ini dikenal masyarakat Bosnia dengan nama cevapcici. Bisa dari daging sapi atau domba. Yang kubuat sekarang adalah daging domba. Kau sudah pernah mencicipi cevapcici sebelumnya?”

Aisiya menggeleng dengan senyuman polos.

“Insya Allah kau akan mencicipinya siang ini.”

Gadis Indonesia itu semakin riang. Ia memperhatikan setiap gerak tangan Racheel dalam mengolah daging tersebut. Mulai dari proses pencampuran bumbu dengan bawang bombai, bawang putih, merica, garam, dan paprika bubuk, kemudian membentuk daging cincang menjadi lonjong pipih, hingga membakarnya di atas tungku. Setelah matang, cevapcici diletakkan di atas piring besar, kemudian siap dihidangkan bersama roti bundar, yoghurt, dan irisan bawang bombai. Tidak lupa Racheel menyeduh beberapa cangkir kopi Bosnia.

Setelah semuanya siap, Racheel memanggil suaminya untuk mengangkut semua hidangan tersebut ke ruang tamu depan. Masih ada dua porsi cevapcici dan dua cangkir kopi yang tersisa di atas meja makan. Tentu saja itu adalah bagiannya dan Aisiya.

“Silakan duduk, Aisiya. Semoga kau suka dengan hidangan sederhana ini.” Wanita asal Autralia itu menarik kursi untuk tamunya.

Dua wanita itu duduk berhadapan. Setelah membaca basmallah dan doa, mereka mulai menyantap hidangan tersebut.

“Hmm... ini enak sekali. Meskipun dibakar, tapi daging ini tidak kering saat digigit. Dan rasanya sangat gurih. Kau dianugerahi tangan yang sangat berbakat, Racheel.” Puji Aisiya tulus.

“Aku senang kau menyukainya. Kelak setelah menikah, kau pun akan belajar banyak seputar dapur. Dan yang terpenting bagi seorang Muslimah adalah meniatkan semua pekerjaan rumah kita sebagai ibadah kepada Allah, termasuk menyiapkan makanan. Kau tahu, dulu aku tak suka memasak. Suamiku, Ismail, justru dia yang lebih sering menyiapkan makanan. Tapi kemudian setelah aku mendalami Islam, paham betapa besar kemuliaan yang bisa didapatkan oleh seorang Muslimah melalui aktivitas di rumah-rumah mereka, semakin hari aku merasakan kebahagiaan ketika memasak.”

“Kau tidak bosan di rumah terus? Kau tidak bermimpi punya karier seperti wanita-wanita jaman sekarang?”

“Dunia adalah penjara bagi orang-orang yang beriman, dan surga bagi orang-orang kafir. Namun bagi orang-orang beriman, Allah melimpahkan sakinnah dalam penjara-penjara tersebut. Menurut Imam Nawawi rahimahullah, sakinnah ialah sesuatu yang sangat istimewa meliputi ketenangan, ketenteraman, rahmat, kesejahteraan, dll, yang diturunkan Allah bersama-sama dengan para malaikat. Allah dan Rasul-Nya lebih ridho ketika seorang wanita berada di rumahnya, mendidik anak-anaknya, dan aku lebih senang memilih sesuatu yang diridhai Allah dan Rasul-Nya dibandingkan kampanye duniawi kaum kapitalis. Tapi bukan berarti aku menyalahkan para Muslimah yang memiliki karier, Aisiya. Tidak. Ini hanya pilihanku sendiri dan aku telah mengungkapkan alasannya. Aku juga sering keluar rumah. Setiap 3 hari sekali, Ismail menemaniku berbelanja kebutuhan dapur. Dia mengantarku apabila ada kajian-kajian Muslimah yang ingin kudatangi. Dan seminggu sekali kami akan berkunjung ke rumah mertuaku di Butmir.”

“Kau pernah membaca A Thousand Splendid Suns karya penulis asal Afghanistan, Khaled Hosseini? Novel ini menggambarkan jelas betapa tertekan kehidupan wanita Muslimah dalam rumah-rumah mereka.”

Racheel mengangguk. “Aku membacanya satu tahun sebelum memeluk Islam. Dan karena hal itu pula aku selalu bertanya pada teman-teman wanitaku yang beragama Islam. Tapi semuanya tidak bisa memberikan jawaban memuaskan. Hingga kemudian Allah mempertemukanku dengan seorang Muslimah asal Polandia di tahun 2003, namanya Cecylia. Dia tidak memberikan jawaban langsung, melainkan memberiku hadiah satu buah Al Quran terjemahan dan satu buah kitab yang berisi hadist-hadist. Ia memberikan catatan khusus ayat dan hadist mana yang harus dibaca terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku tersebut. Dan satu hari setelahnya aku sudah mendapatkan jawaban jelas. Kau sungguh tidak tahu mengapa dua tokoh utama dalam novel tersebut, yaitu Mariam dan Laila, mengalami kehidupan yang demikian tersiksa?”

Aisiya menggeleng. “Suaminya, Rasheed, telah meminta mereka mengenakan niqab saat keluar rumah. Tidak berbeda dengan Ismail yang memintamu mengenakan niqab. Jika kau bisa merasakan bahagia, lalu kenapa dua wanita tersebut tidak?”

“Aku berlindung kepada Allah dari perkara yang tidak kuketahui hakikatnya. Tapi yang bisa kukatakan sekarang, demi Allah, Ismail tidak sama dengan Rasheed. Dan Ismail tidak pernah memaksaku mengenakan niqab. Jika kau membaca novel itu dengan teliti, kau akan tahu dimana letak kesalahan-kesalahannya. Mereka memang meminta istri-istri mereka mengenakan niqab, bahkan sampai mata mereka pun ditutup. Tapi perhatikan sekali lagi, mereka tak paham apapun tentang agama ini, Aisiya.

Seorang suami yang paham tentang Islam, mereka tak akan berbuat zalim kepada istrinya. Tak akan mengoleksi majalah-majalah pembangkit syahwat. Tak akan menghina dan menyakiti hati istrinya. Tak akan melarang anak perempuan untuk menuntut ilmu. Seorang suami yang paham tentang Islam, ia akan memuliakan istrinya seumpama sebuah perhiasan yang terpelihara.

Jika kau membaca novel itu sekali lagi, kau akan tahu bahwa novel tersebut tidak menggambarkan kehidupan Islam yang sebenarnya. Khaled hanya menuliskan kehidupan orang-orang Muslim di Afghanistan sana yang ternyata—dalam novel itu—kebanyakan salah dalam mamahami dan mengamalkan Islam. Aku tidak tahu apakah benar seperti itu kondisi di Afghanistan ketika di bawah pemerintahan Taliban.”

Aisiya mengangguk-angguk.

“Kamu seorang jurnalis, Aisiya. Dan kamu juga seorang Muslim. Pesanku sebagai seorang sahabat, niatkan lah semua aktivitas kita untuk Allah semata, termasuk tulisan yang nantinya akan kamu rangkai. Bertakwa lah kepada Allah, ingat bahwa nanti setiap kita akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan di dunia ini pada yaumil hisab.

Jangan pernah berpikir bahwa satu bait tulisan yang dibaca orang lain terbebas dari pengadilan akhirat. Bahkan meskipun itu hanya beberapa patah kata, sama saja kelak di hadapan Allah. Apabila tulisan tersebut memberikan manfaat bagi orang lain, insya Allah ia akan bernilai kebaikan. Tapi jika tulisan tersebut menyesatkan orang lain, membuat orang lain berangan-angan kosong, apalagi sampai membayangkan maksiat, dan bahkan mendorong orang lain melakukan maksiat, maka tulisan tersebut akan bernilai keburukan dan dosa. Bahkan bisa jadi sang penulis akan menanggung dosa para pembaca yang ia sesatkan.”

“Insya Allah. Terimakasih atas nasehatmu, Racheel. Aku tidak akan pernah melupakannya.” Mata gadis Indonesia itu telah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akan mendapatkan nasehat seperti ini dari seorang wanita Australia. Nasehat yang bahkan tak pernah ia dapatkan selama di Indonesia.

Selesai bersantap, mereka mencuci semua peralatan kotor. Kemudian Racheel mengajak Aisiya untuk melihat putrinya di kamar.

Gadis kecil itu ternyata sudah bangun dari tidur. Tapi dia tidak menangis. Matanya yang bulat bercahaya mengerjap-ngerjap, memandangi mainan yang digantungkan di atas ranjang bayi. Begitu wajah sang ibu muncul, bayi cantik itu seketika tertawa hingga menampakkan gusi yang baru ditumbuhi empat batang gigi.

Racheel mengangkat putrinya ke dalam gendongan, “Kau ingin menggendongnya?” Ia menawari Aisiya yang sejak tadi belum bisa melepaskan pandangan dari bayi berusia 2 tahun itu.

“Aku takut, Racheel. Seumur hidup aku tak pernah menggendong bayi.” Pekik Aisiya tertahan.

“Tak perlu takut. Safiye sudah tumbuh besar. Lehernya pun sudah cukup kuat. Jangan panik. Oke?”

Akhirnya Aisiya setuju. Dengan penuh kehati-hatian ia mengambil alih Safiye dari tangan Racheel. Beruntung Safiye adalah tipe bayi yang ramah. Ketika tangan Aisiya diulurkan, Safiye langsung menyambut dengan dua belah tangan yang diacungkan. Senyuman bayi itu merekah di antara rambutnya yang keriwil-keriwil bewarna kecokelatan.

“Masya Allah tubuhnya harum sekali. Seolah aku sedang memasuki sebuah taman mawar di puncak musim semi.” Puji Aisiya begitu ia mencium pipi Safiye.

“Iya aku mengolesinya dengan minyak mawar yang dibawa Ismail dari Turki. Kalau tidak salah ia membelinya di Isparta, sebuah kota di Turki yang terkenal dengan julukan ‘Kota Mawar’. Dari cerita Ismail, bahkan hingga kerudung dan tasbih yang dijual di sana pun beraroma mawar.” Jelas Racheel bersemangat. Ia mengajak Aisiya untuk duduk di sofa tidur yang tersedia di sudut kamar itu.

“Kau melahirkan kedua anakmu dengan proses normal atau operasi caesar?”

“Alhamdulillah normal.”

“Apakah sakit?”

“Tentu saja.”

“Karena itulah aku masih tidak siap untuk berumah tangga. Aku selalu membayangkan proses kehamilan hingga melahirkan yang sepertinya sakit sekali.” Ucap Aisiya sambil terus memperhatikan Safiye yang kini memainkan salah satu ujung kerudungnya.

“Aisiya. Aku bisa saja menunjukkan padamu berbagai hadist Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam perihal keistimewaan yang diberikan Allah kepada wanita yang sedang hamil hingga bersalin, bahkan sampai 40 hari pasca kelahiran. Tapi semua itu tidak akan ada bekasnya di dalam hati apabila kamu tidak bertakwa. Kunci segala hikmah dan kebaikan bisa menyentuh kalbu adalah ketika kita bertakwa kepada Allah seutuhnya. Hadirkan lah perasaan gembira ketika kamu shalat, ketika mengingat Allah. Apabila semua itu sudah mampu diraih, maka pertahankan lah dengan memperbanyak dzikir. Jangan lengah sedikit pun karena syaitan akan memanfaatkan kelengahanmu tersebut. Kemudian ketika itu semua telah mampu kamu kerjakan dengan ikhlas, bacalah berbagai hadist yang menerangkan tentang keistimewaan para wanita yang sedang hamil hingga melahirkan. Apakah kamu belum tahu bahwa ketika seorang wanita Muslimah hamil, maka seluruh malaikat akan memintakan ampun untuknya?”

Aisiya menggeleng. “Yang aku tahu, apabila seorang Muslimah meninggal saat melahirkan atau dalam rentang 40 hari setelah melahirkan, ia akan dianggap sebagai mati syahid. Tapi entahlah. Aku tak yakin. Bagaimana jika wanita tersebut seorang pendosa?”

“Aku tidak mengetahui perkara ghaib, Aisiya.” Racheel tersenyum. “Kita tidak pernah tahu siapa yang kelak akan mendapatkan ridho dan ampunan Allah. Tapi yang banyak diterangkan dalam hadist, selama orang tersebut tidak melakukan dosa besar dan syirik, insya Allah masih ada peluang baginya mendapatkan keistimewaan tersebut. Kamu ingin dengar sebuah cerita? Ini kisah nyata yang dialami oleh salah satu teman Ismail, suamiku.”

“Tentu saja. Ceritakanlah padaku.” Sambut Aisiya dengan riang.

Racheel, wanita Australia yang wajahnya bercahaya itu memulai ceritanya. Lelaki teman suaminya itu bernama Hamzah. Dia tinggal di sebuah desa terpencil sekaligus tertua  bernama Lukomir, bagian Tenggara Bosnia. Satu tahun lalu, tanpa ada sebab yang jelas, tiba-tiba saja Hamzah tidak sadarkan diri selama beberapa jam. Istri, anak-anak, dan semua ahli keluarganya menjadi panik. Mereka mencari berbagai cara untuk membangunkan Hamzah, termasuk dengan mendatangkan seorang tabib yang masyhur di desa tersebut.

Setelah sekian lama mereka menunggu dengan resah, akhirnya Hamzah bangun dari pingsan. Begitu kesadarannya telah sempurna pulih, ia bercerita, “Dalam pingsanku tadi, aku seperti menyusuri sebuah jalan. Lalu aku berpapasan dengan satu per satu orang yang telah meninggal di desa ini. Tapi setiap kali aku memanggil, tidak ada satu pun dari mereka yang sudi menjawab. Bahkan mereka memalingkan wajah. Hal ini membuatku heran. Hingga beberapa lama kemudian, aku bertemu dengan almarhumah Salma.

Kalian pasti belum lupa siapa Salma. Tetangga kita itu. Wanita yang meninggal saat melahirkan sekitar 5 tahun lalu. Nah dalam perjalananku itu, aku melihat Salma, meskipun tak seketika aku mengenali sampai akhirnya dia menyebutkan siapa namanya, ‘Aku ini Salma. Tetanggamu dulu.’ Tapi yang membuatku tidak percaya, wanita ini memiliki wajah yang sangat jelita, sementara Salma yang kita ketahui bisa dikatakan tak memiliki paras yang istimewa. Karena dia meyakinkan bahwa dirinya benar-benar Salma, akhirnya aku menyerah dan percaya.

Dia mengajakku singgah ke rumahnya yang masya Allah sangat megah. Tapi sebelum itu, Salma mengajakku berkeliling taman di sekitar rumah tersebut. Di sana aku menyaksikan bunga-bunga yang keindahannya belum pernah kulihat di dunia ini.

Dia juga memberi tahuku sebuah rumah yang tidak kalah indahnya yang dibangun di samping rumahnya. ‘Rumah itu mau dijual. Kamu bisa membelinya’. Kukatakan padanya bahwa aku tidak mungkin sanggup membeli rumah seindah itu. Belum sempat aku melihat bagian dalam rumah Salma, alhamdulillah aku sudah sadarkan diri.”

Racheel mengakhiri ceritanya dengan senyuman. Ah, rasanya wanita ini memang selalu tersenyum. Bahkan saat ia sedang tidak tersenyum pun, orang lain akan memandangnya seolah ia sedang tersenyum. Pada point inilah Aisiya percaya hadist yang menyebutkan bahwa orang-orang yang menjaga shalatnya akan mendapatkan 10 kebaikan, salah satunya adalah memancarnya nur atau cahaya pada wajah, adalah benar.

“Kamu tahu, berdasarkan kesaksian Hamzah, perempuan bernama Salma ini, selama hidupnya tidak kelihatan terlalu tekun mengamalkan agama. Dia Muslimah yang biasa saja atau dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, ‘tidak saleha-saleha amat’. Hanya saja dia memiliki satu keberuntungan yaitu meninggal ketika melahirkan. Kamu boleh mempercayai cerita Hamzah ini atau tidak percaya. Semua kembali padamu. Tapi jangan pernah lupa Aisiya, seorang Muslimah yang berjuang susah payah melahirkan bayi yang berada dalam kandungan itu sama nilainya dengan seseorang yang berjihad di jalan Allah. Hanya ada dua kebaikan baginya, yaitu: menyaksikan seorang malaikat kecil penerus generasi yang menangis untuk memulai kehidupan, atau syahid dan hidup berbahagia selamanya di sisi Allah. Tapi sekali lagi jangan lupa, Allah tidak mengampuni dosa syirik dan beberapa dosa besar lain yang hanya bisa diampuni melalui jalan taubat. Semoga Allah menjauhkan kita dari dosa-dosa tersebut.”

“Semoga Allah merahmatimu atas ilmu yang demikian bermanfaat. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Muslimah yang mengamalkan agama dengan baik sepertimu justru saat aku berada di tanah Eropa.”

Wa laa yuhithuuna bi syai in min ‘ilmihi illaa bi maasyaaa. Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kudengar Ismail memanggil, sepertinya mereka akan segera ke Masjid. Kamu ikut mereka atau tetap di sini?”

“Aku datang bersama Mustafa dan harus kembali bersamanya pula.” Aisiya menyerahkan Safiye setelah mencium gadis kecil itu sebanyak tiga kali.

“Mustafa. Suamiku banyak bercerita tentang pria Turki yang satu ini. Kamu tahu, Aisiya? Mustafa itu telah banyak menerima tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke berbagai negara-negara maju karena kecerdasannya. Tapi dia memilih untuk mengabdikan diri di Bosnia. Kudengar dari Ismail pula, bahwa Mustafa selama 4 tahun terakhir tidak pernah meninggalkan shalat malam. Ia hanya tidur selama 3 jam saja. Tidak lebih.”

“Benarkah?” mata Aisiya membulat.

“Iya, benar! Biasanya dia tidur sebentar sebelum shalat Zuhur, karena tidur pada waktu ini adalah sunnah. Sementara shalat malam Mustafa sangat panjang. Dia bahkan bisa membaca berjuz-juz al Quran dalam satu rakaat. Akal manusia biasa tidak akan bisa memahami hal ini. Tapi yang seperti ini nyata terjadi. Ada banyak Muslim yang beribadah seperti ini. Bahkan tidak sedikit para tabi’in yang shalat Subuh tanpa memperbarui wudhu shalat Isha mereka. Dan itu mampu dipertahankan selama puluhan tahun hingga wafat.”

Aisiya bahagia mendengar hal ini. Ketakjuban dalam dadanya kini terasa sampai di puncak. Bagaimana mungkin lelaki itu sanggup menghabiskan malam hanya dengan tidur selama 3 jam? Sementara dirinya sendiri untuk bangun setengah jam sebelum azan Subuh saja sering terlewat.

Benar apa yang diucapkan Racheel, keistimewaan lelaki ini sangat sulit untuk dipahami akal. Keistimewaan ini pula yang justru membuat Aisiya merasa sedih. “Jika benar begitu, maka hanya bidadari yang pantas menjadi istrinya.” Spontan kalimat ini meluncur dari lisannya.

Racheel tersenyum lebar. Bisa dikatakan ia sedang tertawa kali ini. “Eh, kamu lupa ya kalau Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam saja beristrikan manusia?”

“Iya. Tapi bukan manusia hina sepertiku.” Sambung Aisiya polos, membuat lawan bicaranya mengernyitka dahi.

“Apakah itu artinya kamu tertarik untuk menjadi istri Mustafa?” selidik Racheel dengan wajah menggoda.

Gadis Indonesia itu baru sadar bahwa ucapan demi ucapannya tadi telah membimbing Racheel pada satu kesimpulan penting. Seketika wajahnya merona. Dia tidak menjawab apapun, tapi semua orang kini paham apa sebenarnya yang tersimpan di balik hatinya.


-Diambil dari Istanbul: Kesaksian sebuah Kota. Kisah tentang Hamzah yang bertemu dengan Salma adalah kisah salah satu penduduk di desa saya. Kisah nyata. Hanya saya mengganti nama tokoh dan tempatnya. Semoga bermanfaat ;)

Wednesday, 25 October 2017

[Diambil dari] ISTANBUL: Kesaksian Sebuah Kota


Aisiya melirik jam tangan. Pukul 8.30. Kelas tafsir hadist Mustafa tentu sudah berjalan sejak 30 menit lalu. Ia sedikit ragu untuk mengetuk pintu ketika kakinya telah sampai di depan kelas. Setelah membaca basmallah, Aisiya mengetuknya tiga kali.

Pintu tersebut ditarik seseorang dari dalam. Dan sosok lelaki muda, mengenakan kemeja berwarna biru, dasi, juga jas hitam, muncul dengan wajah datar. Tapi kemudian setelah tahu siapa yang ada di luar pintu, ia menampakkan sebuah senyuman.

“Rahma. Silakan masuk. Kau boleh duduk di kursi yang kosong. Aku akan menyelesaikan kelas ini 1,5 jam lagi.”

Aisiya mengangguk sopan. Selama beberapa detik ia melihat seluruh isi kelas, menimbang ke mana seharusnya ia duduk. Seluruh siswa di kelas itu memandang padanya dengan mata bertanya-tanya. Gadis itu jadi salah tingkah. 

Mehmet. Remaja itu. Kebetulan kursi di sampingnya kosong. Aisiya segera menuju ke sana.

“Boleh aku duduk si sini?” Tanyanya menunjuk satu kursi kosong di samping remaja Bosnia berambut jagung itu.

“Sure.” Jawabnya disertai senyuman ramah.

Di depan kelas, Mustafa memperkenalkan siapa Aisiya kepada siswanya. Sebagian besar menoleh pada wanita Indonesia itu, tersenyum, menyapa hi, atau hanya sekadar memandang dengan wajah ramah.

Aisiya mengeluarkan sebuah buku notes kecil lengkap dengan pulpennya ketika Mustafa melanjutkan penjelasan. Di papan tulis sudah tertulis dengan tinta spidol beberapa patah kalimat Arab, sementara di tangan pria itu ada sebuah kitab hadist yang cukup tebal.

“Apa yang dia jelaskan?” Aisiya bertanya pada Mehmet, menunjuk Mustafa dengan anggukan dagunya.

“Dia menjelaskan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Hakim dan Tarmidzi. Ini hadist tersebut. Kau bisa menyalinnya jika mau.” Mehmet menyodorkan buku tulisnya pada Aisiya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Apabila ummatku sudah mengagungkan dunia, maka tercabutlah dari mereka kehebatan Islam. Dan apabila ummatku meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar (dakwah), maka diharamkan bagi mereka keberkahan wahyu. Dan apabila ummatku saling mencaci maki satu sama lain, maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah subhanahu wa ta’ala.”
Aisiya mengangguk-angguk. Untuk sementara ia menyalin hadist yang telah ditulis Mehmet dengan rapi dalam bahasa Arab dan terjemahan bahasa Inggris. Pemuda ini cukup cerdas. Padahal Mustafa menerjemahkan hadist tersebut ke dalam bahasa Bosnia, namun ia berinisiatif sendiri menulisnya dalam bahasa Inggris. Pantas saja jika ia sama sekali tidak tampak sedikit pun kesulitan saat berkomunikasi dengan Aisiya, meski sedikit terbata-bata.

Mustafa terus menjelaskan. Terkadang ia meminta para siswa untuk bertanya, dan semuanya berlomba-lomba mengacungkan tangan.

“Dia guru favorit.” Mehmet memberi kode pada Aisiya.

“Apa yang istimewa darinya?” Aisiya memandang sesaat pada lelaki yang berdiri di depan papan tulis.

“Bahasa Bosnia-nya luar biasa. Padahal ia baru satu tahun di sini. Ia hafal Al Quran sejak usia 9 tahun. Lidahnya bergerak dalam lima bahasa: Turki, Arab, Bosnia, Inggris, dan Prancis. Dia mengajarkan Quran dan Hadist dengan cara yang berbeda dari kebanyakan guru. Anda tahu, setiap seminggu sekali, biasanya di sore Kamis, ia akan membagi siswa laki-laki dalam beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari tiga orang. Kami ditugaskan untuk mengetuk pintu-pintu rumah orang Muslim, kemudian mengajak para lelaki di rumah itu agar menunaikan shalat di Masjid. Itulah cara Mustafa Hoca melatih kami berdakwah, sekaligus bertazkiah.”

“Apa itu tazkiah?”

“Tazkiah dalam Al Quran adalah menyucikan diri atau bisa juga diartikan sebagai cara untuk membuka hati. Ummat Islam saat ini begitu banyak, tapi mereka tidak mengamalkan agama. Zaman dahulu, Rasulullah salallahu ‘alahi wassalam dan para sahabat tidak mengetuk pintu rumah Muslim, melainkan para kafir Qurays. Namun zaman sekarang tidak sama. Islam sudah menjadi asing bagi penganutnya sendiri. Banyak Muslim hafal beberapa ayat Al Quran, tetapi mereka tidak shalat. Tahu khamr dan perjudian adalah dosa, tetapi tetap dilakukan. 

Di sinilah pentingnya tazkiah, yaitu pembersihan hati. Karena Islam ini sangat berat diamalkan bagi mereka yang hatinya gelap. Orang-orang Islam yang menjalankan sesuatu yang haram, bukan mereka tidak tahu hal itu haram. Mereka tahu. Namun mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengamalkan agama karena mata hatinya tertutup. Dan di sini pula pentingnya mendakwahkan Islam dengan cara serupa seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah salallahu ‘alahi wassalam. Dakwah tidak cukup hanya di Masjid-Masjid, kita perlu mendatangi mereka. Kita para Muslim harus bergerak, mengamalkan Islam dengan kaffah, barulah kemudian kemuliaan Islam ini dengan sendirinya akan dilihat oleh non Muslim.”

Beberapa saat Aisiya tidak bisa berkata-kata. Ia menggelengkan kepalanya. Takjub. 

“Wow. Mehmet. Masya Allah. Semoga Allah merahamatimu. Kau berbicara layaknya da’i yang sudah berpengalaman bertahun-tahun.” Puji Aisiya.

“Insya Allah. Setiap Muslim memiliki kewajiban untuk amar maruf nahi munkar seperti yang telah disebutkan dalam hadist ini. Itu artinya setiap Muslim mengemban kewajiban untuk mendakwahkan agama ini. Dan semoga Allah merahmati Mustafa Hoca.” Pemuda itu tersenyum. Wajahnya ketara sekali bahwa ia begitu bahagia sebagai seorang remaja Muslim.

 ***

Tepat pukul 10 kelas Mustafa selesai. Ia mengajak seluruh kelas membaca doa kafaratul majelis, kemudian mengucap salam sebelum akhirnya keluar.

Aisiya mengikuti.

“Apa bahan tulisanmu sudah cukup?” tanya pemuda itu tanpa melihat Aisiya yang berjalan tidak jauh darinya.

“Masih ada beberapa hal yang perlu kutanyakan.” Jawab Aisiya sambil berusaha menenangkan hatinya yang sejak tadi gemetar tidak jelas.

“Kau akan mendapatkan jawaban seiring dengan berjalannya waktu.”

Mereka terus berjalan tanpa bicara apapun. Aisiya menunggu aba-aba dari lelaki di depannya mengenai apa yang harus dilakukan selanjutnya. Apakah lelaki itu akan mengajaknya duduk di suatu tempat? Di sebuah cafe? Atau mungkin duduk di tepi sungai Neretva yang masih mengeluarkan uap dingin?

Tiba di depan pintu gerbang, Aisiya berhenti ketika mereka berpapasan dengan tiga orang lelaki paruh baya. Usia mereka jauh di atas Mustafa. Mungkin tertaut dua puluhan tahun. Semuanya berjenggot dan memakai jubah, celana cingkrang, persis seperti orang Arab. Namun satu hal yang membuat Aisiya takjub, Mustafa menjabat tangan bahkan memeluk satu per satu lelaki itu dengan akrab. Entah apa yang mereka bicarakan, Aisiya hanya menangkap ucapan salam atau ungkapan-ungkapan lain seperti masya Allah, subhanallah, dan sejenisnya.

“Namanya Rahma. Seorang jurnalis dari Indonesia. Dia akan mengikuti beberapa aktivitasku selama beberapa waktu ke depan untuk bahan tulisannya. Dan Rahma, mereka adalah guru sekaligus teman-temanku. Mereka datang dari Turki. Kami akan ke rumahku selama beberapa saat, kemudian bersilaturrahim ke rumah teman-teman sampai tiba waktu shalat Zuhur. Kau boleh ikut jika mau.” Mustafa memperkenalkan Aisiya pada tiga orang temannya tersebut, sekaligus menjelaskan  kegiatannya selama beberapa jam ke depan.

Selam aleykum wa rahmatullah. Semoga pekerjaan Anda menjadi jalan untuk dakwah Islam, sehingga setiap huruf yang Anda tuliskan akan dihitung sebagai amal ibadah di sisi Allah ta’ala.” Lelaki yang memiliki jenggot paling tebal melambaikan tangan. Senyumnya tulus.

Dua lelaki lain ikut mengucap salam.

Waalaikumussalam wa rahmatullah. Aamiiin insya Allah.” Jawab Aisiya. Sungguh ucapan lelaki tersebut menyentuh kalbunya. Sejauh ini, meskipun dirinya yakin telah mengamalkan Islam sebaik mungkin, tapi ia belum pernah meniatkan pekerjaannya sebagai ladang dakwah. Sejak kecil ia suka menulis, oleh sebab itu ia bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Semakin beranjak dewasa cita-citanya bertambah untuk mengunjungi negara-negara di seluruh dunia, dan ia berharap profesi jurnalis bisa menjadi jembatan. Gayung bersambut. Satu tahun bekerja di Detak.com, ia sudah mendapat tugas liputan ke Balkan. Kini, di negara yang jauh dari pangkuan Ibu Pertiwi ini, di negara yang Islam tidak terlihat sesemarak di Tanah Air, ia justru disadarkan bahwa seharusnya seorang Muslim tidak melupakan tugas dakwah dalam setiap pekerjaan maupun aktivitasnya. Karena sejatinya setiap gerak dan langkah seorang Muslim itu sendiri adalah dakwah.

“Apakah tidak masalah jika aku ikut bersama kalian?” Aisiya serba salah. Biasanya para lelaki yang berpenampilan seperti ini sangat fanatik mengamalkan Islam, Aisiya khawatir mereka akan beranggapan dirinya adalah Muslimah yang liar. Lihatlah hijabnya yang biasa saja. Belum lagi tentang dirinya yang berkeliaran hingga sejauh ini tanpa mahram.

Insya Allah tidak. Kita niatkan semuanya karena Allah ta’ala.” Sambung seorang lagi dengan wajah ramah. Wajah mereka selalu tersenyum, meskipun tidak pernah sekali pun menatap Aisiya ketika bicara. Seandainya pun harus melihat, itu hanya pandangan selintas saja demi menghormati seseorang yang diajak bicara.

Akhirnya mereka sepakat untuk langsung menuju rumah Mustafa. Empat orang lelaki itu berjalan beriringan di depan, sementara Aisiya mengikuti beberapa meter di belakang.

Tidak butuh waktu lama untuk berjalan kaki, karena rumah tugas Mustafa berada tepat di belakang masjid Gazi Husrev yang bersebelahan dengan madrasah. Pria Turki 25 tahun itu segera membuka gembok, kemudian mempersilakan tamu-tamunya untuk masuk.

Aisiya belum lupa kondisi ruang tamu ini. Sebuah sofa sederhana berwarna marun, lemari yang penuh berisi kitab, dan sebuah gambar kakbah yang menggantung di dinding. Tak ada kemewahan apapun yang ditampilkan.

Tiga orang teman Mustafa khusyuk berbincang dalam bahasa Turki sementara si tuan rumah menyiapkan sesuatu di dapur. Aisiya hanya diam mendengarkan. Dia tidak diacuhkan, hanya saja para lelaki paruh baya ini tidak bisa bahasa Inggris. Jadi mereka kesulitan untuk berkomunikasi.

Selang lima menit kemudian, Mustafa datang membawa sebuah nampan besar berisi lima gelas teh dan dua piring kacang almond sangrai. Jas hitam yang tadi ia kenakan saat mengajar kini sudah ia lepaskan, tersisa kemeja biru pudar yang begitu serasi dengan warna kulit dan postur tubuhnya.

“Silakan dinikmati. Maaf tidak bisa menjamu dengan yang lebih baik dari ini.” Pria Turki berwajah tampan itu meletakkan satu per satu gelas teh ke atas meja. “Rahma, enjoy your tea. It’s Turkish tea.” Katanya lagi.

“Thank you.” Aisiya menjawab sambil memperhatikan gelas berbentuk tulip yang kini tersaji di depannya. Inilah untuk pertama kali Aisiya melihat gelas—yang kemudian hari ia tahu—dimiliki oleh hampir seluruh masyarakat Turki.

Empat orang lelaki itu kemudian tenggelam dalam sebuah diskusi. Sepertinya tentang agama. Aisiya tidak paham apapun. Hanya saja menyaksikan Mustafa, lelaki yang masih begitu muda ini bisa berteman akrab dengan orang-orang yang jauh lebih tua, membuat dada Aisiya bergetar. Terkadang Mustafa mendengarkan takzim, sesekali mengeluarkan pendapatnya, dan tak jarang ia tersenyum lebar seraya menundukkan kepala. Ah, meskipun sekarang musim dingin belum beranjak meninggalkan bumi Bosnia, tapi Aisiya seperti menyaksikan bunga-bunga yang mememekarkan kuncupnya di sepanjang sungai Neretva.

“Kami saling menasehati dan mengingatkan tentang pentingnya zikir kepada Allah.” Ucap Mustafa dengan bahasa Inggis. Ia tahu Aisiya hanya pura-pura mendengarkan dan tak paham apapun. “Ibrahim Hoca, “ Ia menunjuk temannya yang paling tua, “Mengingatkan kami tentang 7 baris kalimat yang pernah diucapkan Ustman bin Affan radhiallahu ‘anhu, yaitu:

1. Aku heran terhadap sikap orang yang mengetahui adanya maut, tetapi ia masih tertawa.
2. Aku heran terhadap sikap orang yang mengetahui bahwa dunia akan kiamat, tetapi masih mencintainya.
3. Aku heran terhadap sikap orang yang mengetahui bahwa segala sesuatu berlaku menurut takdir-Nya, tetapi ia masih berduka cita apabila kehilangan sesuatu.
4. Aku heran terhadap sikap orang yang mengetahui adanya hisab terhadap dirinya, tetapi masih menimbun-nimbun harta kekayaan.
5. Aku heran terhadap orang yang mengetahui adanya api neraka Jahannam, tetapi ia masih berani melakukan maksiat.
6. Aku heran terhadap sikap orang yang mengenal Dzat Allah ta’ala, tetapi ia mengingat sesuatu selain-nya.
7. Aku heran terhadap sikap orang yang mengetahui adanya surga, tetapi masih mencari kemewahan hidup di dunia.

Ini nasehat yang luar biasa, Rahma. Dan hanya bisa diresapi oleh mereka yang mata hatinya terbuka. Ketiga temanku ini masing-masing punya usaha yang maju di beberapa kota di Turki, tapi masya Allah kehidupan mereka sangat sederhana. Semoga Allah memberimu kesempatan untuk berkunjung ke rumah-rumah mereka suatu hari nanti, bertemu dengan istri mereka yang insya Allah para wanita saliha. Kau tahu Rahma, salah satu penyebab utama kemunduran ummat Islam saat ini tidak lain disebabkan karena ummat ini telah berubah menjadi pecinta dunia. 

Pada zaman Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam lalu berlanjut ke masa kekhalifahan para sahabat radhiallahu ‘anhum, Islam bukan hebat karena harta dan kekayaan. Namun ternyata ummat yang terkenal melarat, pakaian bertambal, satu hari makan dan hari berikutnya lapar, serta bersenjata apa adanya itu mampu menaklukkan dua imperium besar nan masyhur yang sudah dibangun sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu, yaitu Persia dan Romawi. Dari peristiwa ini kita bisa mengambil satu poin penting bahwa kunci keberhasilan ummat ini adalah seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabat rahimakumullah, yaitu dengan tidak memberi ruang sedikit pun kepada hati untuk mencintai dunia. 

Karena apabila sedikit saja ummat Islam tergiur pada kemewahan dunia, mereka menjadi lalai, mementingkan diri sendiri, dan kekuatan untuk mengamalkan agama pun menjadi hilang.” Jelas Mustafa dengan bahasa Inggris-nya yang di atas rata-rata.

“Tapi, Mustafa. Jika kau pernah mendengar atau berkunjung ke negara-negara Barat, para gelandangan yang paling banyak ditemui di pinggiran jalan adalah Muslim. Lihatlah saat ini, ummat Islam kebanyakan hidup melarat sehingga kaum kafir bisa menertawakan sepuas hati. Zuhud tidak bisa diterapkan lagi di kehidupan modern seperti sekarang. Ini menurut pendapatku.” Sanggah Aisiya.

Mustafa tersenyum maklum. “Seandainya ummat Islam bersama-sama menunaikan perintah agamanya, insya Allah tidak akan ada lagi peminta-peminta. Kau tahu kenapa banyak peminta-peminta itu adalah Muslim? Karena kebanyakan dari kita sudah tidak peduli lagi pada saudaranya. Kita sibuk menimbun kekayaan untuk diri sendiri. Padahal jelas-jelas dalam Al Quran, Allah meminta kita untuk menginfakkan separuh harta. Bahkan dalam beberapa hadist, kita diminta untuk menginfakkan harta yang lebih dari yang kita gunakan sebagai kebutuhan. Kau sudah pernah mendengar kisah Abu Bakar ketika istrinya ingin sekali makan manisan?”

Aisiya menggeleng.

“Ketika itu Abu Bakar telah menjabat sebagai khalifah sehingga ia sudah tidak bisa lagi berniaga. Kebutuhan hidupnya sehari-sehari didapat dari Baitul Mal. Suatu hari istrinya ingin sekali makan manisan. Ia mengungkapkan hal tersebut pada Abu Bakar. Namun Abu Bakar tidak punya uang selain jatah yang setiap hari didapat dari Baitul Mal. Akhirnya sang istri meminta izin untuk menyisihkan sedikit demi sedikit uang dari pembelajaan setiap hari, dan Abu Bakar pun mengizinkannya. Dalam beberapa hari uang tersebut sudah terkumpul. Istrinya menyerahkan uang tersebut kepada Abu Bakar untuk dibelikan bahan-bahan manisan. Abu Bakar berkata, ‘Dari pengalaman ini sekarang saya tahu bahwa, kita mendapatkan gaji yang berlebihan dari Baitul Mal.’ Oleh karena itulah uang yang dikumpulkan sang istri dikembalikan ke Baitul Mal dan dia mengurangi gajinya untuk selanjutnya sebanyak yang dikumpulkan oleh istrinya setiap hari. Apa hikmah yang bisa kau dapatkan dari kisah ini, Rahma?”

Aisiya diam selama beberapa saat. Tiba-tiba pikirannya terlempar jauh ke Tanah Air dimana pejabat saling berlomba memakan uang rakyat, mengumpulkan kekayaan pribadi, sementara si kaya terus saja khusyuk hidup dalam kemewahan, dan si miskin sibuk pula menghalalkan segala cara untuk mendapatkan rupiah, tidak peduli jalan tersebut halal atau haram.

“Kau benar, Mustafa. Sebab dari kemunduran ummat Islam saat ini adalah karena kita begitu mencintai dunia, sehingga mengabaikan hak-hak Allah dan kaum Muslimin.” Kata gadis itu tanpa menjawab pertanyaan terakhir Mustafa.

“Alhamdulillah atas karunia Allah yang telah memberimu pemahaman. Perlu kita ingat kembali, Rahma, pada masa khalifah Umar ibn Khattab, tidak ada lagi satu Muslim pun yang mau menerima sedekah. Bukan karena hidup mereka berkecukupan, namun karena mereka merasa cukup atas nikmat Allah. Dalam masing-masing dada ummat tertancap keyakinan bahwa Yaumil Hisab pasti akan terjadi. Yang dalam sehari hanya bisa makan satu kali, takut untuk makan dua kali. Mereka takut akan beratnya hisab. Tapi iman ummat Islam saat ini begitu lemah. Jangankan haqqul yakin tentang surga neraka dan hisab, kisah-kisah seperti ini saja mereka anggap sebagai dongeng yang tidak mungkin pernah terjadi.” 

***

Pukul 11 siang, lima orang tersebut meninggalkan rumah Mustafa. Seperti sebelumnya, Aisiya mengambil jarak beberapa meter di belakang. Diam-diam ia terus memperhatikan keakraban empat orang lelaki yang berjalan di depannya.

Entah mengapa, ia merasakan keharuan di dalam kalbu. Melihat empat orang tersebut, ia seperti melihat sebuah keajaiban Allah yang diturunkan ke bumi. Tiba-tiba matanya kabur. Ia ingin menangis. Ia rindu kehidupan pada masa Rasulullah salallahu’alaihi wassalam dan para sahabatnya. Andai saja ia tercipta sebagai sebutir pasir yang ada di bawah kaki Muhammad salallahu’alahi wassalam, tentu hal itu akan seribu kali lebih baik daripada kehidupannya saat ini. Mengenggam iman di abad ini terasa bagaikan menggenggam bara api. Mengamalkan agama sesuai sunnah dianggap aneh dan bahkan disesatkan. 

Apa yang tersisa dari masyarakat saat ini adalah saling memuji dan bangga apabila mereka berhasil membangun rumah paling besar, perhiasan paling indah, kendaraan paling mahal, dan seterusnya. Seolah semuanya lupa bahwa hidup hanyalah sekedip mata. Hari ini muda, tak terasa esok telah senja. Hari ini sehat, esok terbaring tak berdaya. Mereka terus berkata satu sama lain bahwa ‘Life is a journey’, tapi di sisi lain mereka tak memperlakukan hidup itu layaknya perjalanan yang memiliki tujuan.

Mereka terus berjalan melewati pasar Bascarsija yang kini padat. Tak hanya masyarakat lokal, pasar ini juga menjadi magnet bagi turis Mancanegara yang berkunjung ke Sarajevo. Barang-barang yang dijual di pasar ini, mulai dari sayur-mayur, buah-buahan, pernak-pernik, pakaian, hingga karpet, semuanya menjelma warna-warni yang indah dipandang mata. 

Tak jarang Aisiya mendapati wajah-wajah jelita Muslimah Bosnia dalam balutan kerudung yang trendi. Mereka hilir mudik pasar untuk sekadar jalan-jalan atau berbelanja. Tak ada lagi wajah sedih atau berkabung, mengisyaratkan bahwa Muslim Bosnia kini telah bangkit dari luka peperangan. Meski kenangan pahit akan kehilangan orang-orang tersayang maupun tempat tinggal itu tak pernah bisa pergi dari ingatan, namun hidup harus terus berlanjut. Karena hakikatnya, hidup adalah tentang menanti giliran. Cepat atau lambat, masing-masing akan menghadap Sang Pencipta. Segala sesuatu adalah amanah yang Allah titipkan. Dan bagi mereka yang mafhum akan hal ini, tentu kehilangan tidak akan pernah memadamkan semangat yang tertancap di dalam dada.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...