Monday, 20 October 2014

Kisah Penjual Kerak Telor di Area Monas dan Selamat Bertugas Pak Jokowi!

Matahari sudah mulai bergerak ke ufuk Barat ketika aku dan seorang teman sampai di pelataran Monas hari itu. Kami baru saja menaiki delman yang mengantarkan dari area parkir. Delman dengan kuda paling gagah seantero Monas, begitu Sang Kusir—yang kuterka masih berumur 18-20 tahun—itu berucap bangga. Aku tidak peduli itu kuda paling gagah atau tidak karena menurutku rupa kuda itu masih sangat jauh tertinggal, jika dibandingkan kuda para kestaria dalam film yang pernah kutonton. Mungkin benar kuda yang gagah, tapi ia terlihat sangat kelelahan. Kuda yang malang.

Tulisan ini sebenarnya bukan untuk mengklarifikasikan kuda, baik itu famili, ordo, ataupun spesies. Apalagi mengarang dongeng bahwa di dunia ini  ada beberapa ekor kuda poni yang bisa terbang dengan sayap putih nan indah. Sama sekali tidak ada hubungannya.

Penjual kerak telor, dialah yang ingin kuceritakan. Seorang laki-laki paruh baya yang terlihat jauh lebih tua dari umurnya, berbaju motif petak-petak kusam dan tampak lebih besar dari ukuran tubuhnya, sore itu sedang duduk menghadap kompor kecil sambil meracik pesananku. Itu adalah kali pertama aku akan mencicipi makanan khas orang Jakarta. Jadi wajar kalau aku memperhatikan cara laki-laki itu bekerja seperti seorang anak kecil melihat sesuatu yang baru saja ditemuinya.

(photo was taken by me)
Di sampingku sudah duduk dua orang pemuda berpakaian santai dengan tanda pengenal tergantung di leher. Rupanya mereka jurnalis yang sedang mewawancarai Sang Bapak.
“Kenapa Bapak memilih jualan kerak telor?” tanya seorang wartawan, panggil saja Mas Pram.
“Bisanya ini Mas. Mau kerja berat sudah tidak mampu. Kalau muda dulu iya, masih bisa jadi buruh bangunan.” Bapak itu menjawab. Wajahnya seperti mengenang sesuatu, sementara tangannya lincah menekan-nekan kerak telor yang ada dalam panci kecil.
Si Bapak kemudian bercerita kisah petualangannya semasa muda, ketika tubuhnya masih kuat dan bugar untuk diajak memanjat bangunan berpuluh tingkat, bekerja di ketinggian. Namun kini, tubuh itu tidak lagi seperti dulu. Kakinya pun sudah bergetar jika diajak untuk mendaki gedung lagi. Pekerjaan sebagai buruh bangunan harus dihapus dari daftar mata pencariannya.

Jakarta memang kota tempat seribu impian digantungkan. Kota dengan gemerlap paling terang se-Nusantara. Kota dengan segala keindahan malam dan jutaan kemudahan bisa didapatkan. Tapi semua orang tidak akan lupa, Jakarta adalah kota yang kejam, yang siap melibas siapa pun tanpa ampun. Dan Sang Bapak adalah salah satu korban kekejaman Ibu Kota. Tidak ada lowongan pekerjaan yang sudi menerimanya selain buruh kasar—sementara raganya tidak lagi mampu, tidak ada buah hati yang bisa mensubsidinya setiap bulan, dan tidak ada keahlian apa pun yang bisa dibanggakan. Takdir akhirnya selesai dituliskan, Sang Bapak harus berjualan kerak telor di pelataran Monumen Nasional yang berdiri dengan jemawa. Satu-satunya keahlian yang berdasarkan pengakuannya bisa diandalkan.
“Lalu berapa penghasilan Bapak perharinya?” Mas Pram kembali bertanya. Tidak ada wajah belas kasihan sedikit pun tergambar di wajahnya. Aku tidak tahu, apakah semua pencari berita itu harus pandai memenjarakan ekspresi atau memang sudah wataknya seperti itu.
Sebelum menjawab, Sang Bapak menyerahkan sepiring kerak telor seukuran piring besar padaku. Oh seperti ini wujudnya, pikirku kala itu. Taburan abon berwarna keemasan menghiasi bagian atas jajanan itu sangat menarik. Aku mencicipinya perlahan. Enak dan gurih, hanya saja makanan itu sulit melewati tenggorokan karena sifatnya sangat kering.
“Satu porsi saya jual 15 ribu rupiah, dan paling banyak per hari hanya terjual empat porsi. Jadi sekitar 60 ribu perhari Mas.” Ucapnya menjawab pertanyaan Mas Pram.
Aku mendesis dalam hati. Sudahkah Sang Bapak menghitung berapa modal yang ia keluarkan? Apakah tenaganya yang seharian duduk menunggu, memanggil pembeli, kemudian meracik menu ia hargai dalam rupiah juga? Lalu dengan uang senilai itu, bagaimana ia bisa menghidupi keluarganya dengan layak? Belum lagi biaya untuk membeli bahan baku racikan kerak telor yang akan dijual esok hari. Cukupkah uang 60 ribu rupiah sebagai penghasilan kepala keluarga di pusat Ibu Kota? Spontan aku menjawab sendiri, itu tidak akan cukup.
“Sebenarnya tidak cukup Mas. Tapi mau bagaimana lagi. Ya dicukup-cukupkan saja.” Sambung Sang Bapak.
“Nah, kemaren kan sudah diumumkan kalau Pak Jokowi yang akan naik jadi presiden. Menurut Bapak bagaimana?” pertanyaan dari teman Mas Pram yang sejak tadi hanya menjadi pendengar.
“Saya sangat senang Mas. Bersyukur Pak Jokowi yang terpilih. Saya bisa jualan di sini saja berkat Pak Jokowi. Dia membebaskan kami pedagang kecil berjualan di area Monas, biar ada pendapatan untuk menghidupi anak-istri. Selain Pak Jokowi tidak ada yang seadil ini pada rakyat kecil, bahkan dulu saya tidak diizinkan berjualan di sini. Saya bingung bagaimana caranya mendapatkan uang walaupun seribu rupiah saja.” Sang Bapak bercerita dengan wajah sedih sekaligus bangga.
Ini adalah kali kedua aku mendengar rakyat kecil yang memuji presiden kita—kala itu Pak Jokowi belum dilantik. Satu orang lagi adalah tetanggaku di kampung. Aku yang selama ini mengakui bukan menjadi bagian ‘salam dua jari’ itu pun tersentuh. Selama ini kita dicekoki berbagai berita yang simpang-siur dan tidak tersaring. Satu pihak dielukan, satu pihak dihempas hingga lumat. Begitu satu sama lain. Sehingga rasanya masyarakat sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang dongeng belaka.

Bahkan kalau boleh jujur, hingga detik itu pun hatiku masih belum mantap. Tapi lagi-lagi buat apa menuntut takdir yang sudah digariskan Tuhan? Jika kita lebih membuka hati dan menghapus semua anggapan buruk, sebaliknya memandang sesuatu dengan prasangka baik, nyatanya semuanya tidak seburuk apa yang diduga selama ini. Ada sisi baik, ada juga buruk, itu sudah sifat alamiah manusia, bahkan seorang Nabi yang sudah dijamin tempatnya di Jannah pun sempat berbuat khilaf. Kita tentu tidak lupa pada kisah Adam dan Hawa ketika mereka mengunyah buah terlarang dan kisah Yunus yang meninggalkan kaumnya. Salah dan khilaf adalah wajar, yang kurang ajar adalah ketika seseorang sengaja mengulanginya kembali.

Hari ini semua rakyat sibuk dengan kebahagiaan yang gegap gempita. Atmosfer kebahagiaan atas pelantikan Bapak Negara yang baru terasa dimana-mana. Bahkan pagi tadi semua stasiun televisi menayangkan momen serah terima jabatan secara bersamaan. Malam ini pun dilangsungkan pesta rakyat yang dihadiri ribuan masyarakat Indonesia di area Monumen Nasional. Semuanya datang untuk merayakan, untuk berbahagia, dan untuk menggantungkan sejuta harapan di pundak pemimpin negara kita. Saya ikut berbahagia, sangat berbahagia. Tidak lupa doa untuk Bapak penjual kerak telor, semoga pesta ini membawa berkah yang berlimpah untuknya. Semoga baik hari ini, malam ini, dan hari-hari selanjutnya, Allah membuka lebar pintu rezekinya dengan keberkahan yang luas.

Selamat bertugas Pak Jokowi...!

Bogor, 20 Oktober 2014

Sunday, 19 October 2014

Mulai Mencintai Lagu Turki

Aku sudah mencintai segala sesuatu tentang Turki, sejarahnya, bahasanya, orang-orangnya, tanahnya, kota-kotanya, desanya, dan apapun itu. Hanya satu yang selama ini berusaha juga kucintai, yaitu lagu. 

Soal musik Turki aku udah familiar dengan Mehter yang kukenal sebagai musik penyemangat saat pasukan Ottoman berperang. Musiknya khas dan... memang benar membuat siapa aja yang denger jadi semangat. Nggak bisa kubayangkan gimana musik itu menggema di saat peperangan dulu, ketika getarannya bersatu padu sama bunyi  pedang yang saling beradu dan jerit semangat atau kematian. Duh, wajar aja kalau musik Mehter ini seperti memiliki ruh yang mampu merubah suasana hati. Bayangkan, orang lagi berperang loh, bunuh-bunuhan, musuh dan teman satu persatu mati di depan mata, terus di sisi lain sekelompok orang  lagi main musik. Gimana tuh perasaannya?


Musik lain yang kusuka dari Turki adalah instrumental sufisme yang biasa digunakan untuk Whirling Dance atau meditasi. Itu asli damai sejahtera dengarnya. Aku suka dengar kalau pas kepalaku berasa berat layaknya ditindih satu ton batu bara. Haaah, langsung adem dan tenang gitu. Pantas aja kalau musik ini bisa dipakai untuk meditasi, nggak perlu pakai jampi-jampi atau mantra bin pemanasan dulu juga udah nyentuh banget.


Nah, dua di atas itu musik, bagaimana kalau lagu? Sejauh ini aku suka dua lagu Turki yang bernuansa Islam, bahasa gaulnya nasyid. Lagu ini kalau nggak salah kudapatkan dari dinding facebook seorang teman Turki, udah lama banget kudownload, sekitar lima bulan lalu. Musiknya khas banget, pokoknya kalau kamu sering dengar lagu Turki, pasti familiar dengan keidentikan musik Turki. Kalau nasyid biasanya ada suara kayak desahan gitu (ngeri ya?). Tapi emang bener, aku juga nggak ngerti kenapa bisa ditambah suara nggak menyenangkan begitu. But, we should to empty our mind from negative visual aja. Haha (maksud?)


Awalnya aku punya lagu (selain nasyid) dari Om Ozdemir Erdogan (penyanyi Turki generasi Bapak kita), judulnya Bana Ellerini Ver, artinya Give Me Your Hand (dapat dari google translator). Dapat lagu ini sih dari seorang Teh Sri Zehra yang sekarang tinggal di Turki ikut suami. Katanya lagu ini so sweet. Pokoknya kalimat-kalimat serius dari seorang laki-laki untuk menikahi seorang wanita gitu deh. And i love the song, walau nggak ngerti artinya, taunya senin, bana, sana, dan guzel doang.


Baru deh tadi malam saat berselancar cari lagu India baru, ketemu sama lagu Turki yang nyaman banget. Penyanyinya tetap Om Ozdemir, judul lagu aja yang beda, yaitu Ayrilik Zor yang artinya Difficult Separation (thanks google translator). Pengen sih tau semua arti liriknya, tapi udah keliling google sampai tujuh kali pun aku nggak nemu yang di-translate ke Inggris (how sad). dan aku sangat, sangat, sangat suka sama lagu ini. Banget. Bahkan sampai kudengerin berulang-ulang. Kesannya sedih gimana gitu, syahdu... lalala.


Dua lagu lain yang kudapat dari Mustafa Ceceli, penyanyi yang cukup ganteng. Judulnya Sevgilim (My Love) sama Asikardir Zat-i Hak (maaf, artinya nggak terdeteksi google translator, hiks). Buat yang ingin berkenalan dengan lagu-lagu tersebut, bisa klik video-video yang kucantumin. Nggak mesti suka juga sih, it is just my opinion. But hope you like them.

Wednesday, 15 October 2014

Jika Memang Rasa Itu Tidak Pernah Sampai

Source: click here
Aku ingin melihat wajahmu pada sebatang pohon, pada matahari pagi, dan pada langit yang tanpa warnaJalaluddin Rumi

Siang itu di kotaku sedang berada di puncak musim panas, ketika seorang gadis berlari ke arahku. Debu dan dedaunan kering yang tersapu oleh kakinya beterbangan.

“Seorang laki-laki sangat setia menantiku, bahkan ia sudah terang-terangan mengatakan untuk datang melamar. Keluargaku sudah mengenalnya karena memang dia adalah tetanggaku. Dan, dia adalah ustadzku dulu ketika di Pesantren.” Ceritanya tanpa diminta. Aku menutup halaman sebuah buku yang sejak tadi kubaca, melihat ke wajahnya yang sembab. Sepertinya ia sudah memikirkan masalah ini selama beberapa hari terakhir.

“Lalu masalahnya? Bukankah seharusnya kamu bahagia?” aku bertanya. Dalam hati aku justru menganggap hal yang dialami sahabatku itu sebuah anugerah. Perempuan mana yang tidak bahagia jika mendapat kemuliaan dan penghargaan setinggi itu dari seorang laki-laki?

“Tidak sedikit pun aku mencintainya. Sungguh sejak bertahun-tahun lamanya dia terus mencoba, tapi selama itu pula hatiku tidak pernah tersentuh olehnya. Sofi, aku wanita sederhana dan juga menginginkan cinta yang sederhana. Aku hanya ingin suatu hari laki-laki yang kucintai juga mencintaiku dan datang pada orang tuaku. Pengorbanan, pembuktian cinta, atau segala macam pernak-pernik seperti yang sudah diberikan laki-laki yang tadi kuceritakan sama sekali tidak kubutuhkan. Aku hanya ingin hidup dan mengabdikan diriku kelak pada laki-laki yang kucintai. Itu saja.” Ceritanya dengan mata yang penuh harapan.

“Itu bukan perkara sederhana. Aku sendiri tidak memiliki kepandaian yang cukup untuk bisa menyederhanakan walau sekadar lewat kata-kata. Terkadang, kita memang harus mengikhlaskan dia yang kita harapkan. Bukan karena tidak mencintainya, tapi seperti itulah cara untuk menghargai. Menghargai takdir, menghargai pilihannya, dan menghargai kehidupan kita sendiri.”

Aku bukan seorang yang ahli dalam masalah seperti ini. Lebih sering jawaban yang kuberikan hanya diam dan lebih banyak mendengarkan. Namun dalam tulisan, aku merasa memiliki sedikit waktu lapang untuk berpikir sebelum menjawab atau mengungkapkan sesuatu. Itulah sebabnya kuberanikan untuk menuliskan cerita sahabatku ini, seorang gadis manis yang menurutku memang benar sangat sederhana.

“Lalu aku harus menerima laki-laki itu?” tanyanya kembali.

“Jika aku menjawab pertanyaanmu, akan ada pertanggung jawaban yang berat saat jawaban itu kamu tunaikan. Aku tidak bisa memberikan jawaban apapun. Namun, kamu bisa memantapkan hatimu dengan cara meminta petunjuk pada-Nya. Petunjuk dari-Nya adalah jaminan untukmu agar tidak ada penyesalan.”

“Baiklah...” ucapnya sambil melayangkan pandangan ke langit biru yang sangat cerah sekligus menyilaukan.

"Lalu, apakah kamu menyimpan seseorang dalam hatimu kini?" aku bertanya lagi.

Ia mengangguk kecil, "Tapi dia tidak pernah tahu dan aku pun tidak memiliki cukup keberanian untuk memberi tahu..."

Aku menelan ludah, tidak tahu harus menimpali seperti apa. Pembicaraan  kami berakhir setelah beberapa kalimat lagi. Ia harus pergi untuk mengikuti perkuliahan selanjutnya dan meninggalkan aku sendiri dengan seribu pertanyaan.

Berapa banyak wanita yang memiliki masalah sama seperti sahabatku itu, ketika ia yang diharapkan tidak pernah menyadarinya, sebaliknya yang tidak dikagumi justru datang berkali-kali? Dan untuk laki-laki yang setiap saat namanya disebut-sebut oleh sang wanita, yang sosoknya dikenang meski tanpa berani menyapa, tidak bisakah hatinya tersentuh sedikit saja? Lalu untuk ia para wanita yang menyimpan rapat-rapat rasanya, tidak jugakah laut dan daratan mau membantu menyampaikan perasaan itu?

Sahabatku, barangkali sekali lagi kita harus tersadar. Apa yang tersimpan dalam hati seorang anak manusia di luar kendali manusia yang lain. Jika rasa itu memang tidak pernah sampai, tidak ada salahnya kita menuruti kalimat Rumi, yaitu dengan melihat wajahnya pada sebatang pohon, pada matahari pagi, dan pada langit yang tanpa warna. Semoga suatu saat kelak, wajah yang selalu kamu hadirkan itu mau tersenyum padamu, atau kamu yang sudah bisa mengganti wajah itu dengan ia yang selama ini menghadirkanmu dalam doa-doanya.

Bogor, 16 Oktober 2014


Saturday, 11 October 2014

[13] Happy Birthday My Brother

My Village's View 
After a girl is grown, her little brothers—now her protectors—seem like big brothers. [Terri Guillemets]

Pagi itu titik-titik embun masih belum hilang dari setiap helai daun yang tumbuh di kampung halamanku. Pagi yang sangat kukenali bahkan sejak aku mampu mengingat tentang hidupku sendiri. Dan seperti waktu-waktu yang lain, kampung halaman adalah tempat yang membuatku merasa hidup seutuhnya. Ketika di perantauan, terkadang aku menganggap diriku sendiri layaknya orang asing, namun ketika kembali ke rumah, ke tanah kelahiran, mereka semua mengingatkanku bahwa di sinilah semua kehidupanku dimulai, dan di sini pula semua tujuan perjalananku di perantauan sana...

Seorang  pemuda cilik mengikuti langkahku menyusuri jalanan desa kami. Langkahnya sangat riang dan menganggap keberadaanku di sana seumpama seorang peri baginya. Bahkan sejak awal kedatangan, pemuda cilik  itu juga yang berlari menyongsongku dengan senyum merekah. Aku sangat mempercayainya, meski aku diminta memilih antara sepuluh laki-laki lain atau pemuda cilik itu, sungguh sampai kapanpun aku akan tetap memilihnya karena kepercayaan itu. Dan aku tidak pernah meragukan satu hal: di saat semua orang tidak ada lagi yang mempercayaiku, pemuda cilik itu akan tetap membelaku.

Terkadang aku terbawa emosi saat bermain dengannya dan dengan begitu ringan tanganku memukulnya, tapi tak sekalipun ia mau membalas. Pernah satu kali tanganku bergerak sangat cepat lalu mendarat dengan keras di pipinya karena aku tak tahan ia mengejekku dengan seorang teman laki-laki, aku sangat yakin pukulan itu menyakitkan,  spontan ia mengangkat tangan untuk membalas. Namun tahukah, ia tidak pernah melakukan itu. Ia tarik kembali tangannya dan pergi begitu saja dengan wajah murung. Saat itu aku merasa sangat berdosa padanya. Pilihannya untuk tidak membalas justru membuatku sangat menyesal.

Dia adalah adikku. Adik satu-satunya. Saudara kandung satu-satunya yang sejak dulu sangat kunanti kehadirannya. Adik kecil yang saat kelahirannya membuatku menjadi gadis kecil yang paling bahagia di dunia karena telah diaugerahi seorang teman bermain. Aku menungguinya tidur di ayunan dengan senang hati. Memandanginya dimandikan Ibu. Menyuapinya meski aku belum pandai mengulurkan sendok dengan tepat kala itu. Ya, sejak kelahirannya dia adalah malaikat kecilku, dan sekarang pun tetap begitu.


Kemaren tanggal 03 Oktober ia genap berusia 13 tahun. Aku merasa sangat berdosa apabila tidak menyempatkan diri untuk sekadar membuat tulisan kecil untuknya. Walaupun sekarang ia tidak membaca tulisan ini, harapanku tetap sama seperti tahun sebelumnya, berharap suatu saat ia akan membacanya dan mengetahui betapa aku mencintainya.

Selamat ulangtahun Dik...

Mbak tuliskan ini tepat di hari ulang tahunmu, dan maaf baru sempat menerbitkannya hari ini.

Kamu adalah doa Mbak setiap hari, dan harapan Mbak hari ini semoga semua doa kebaikan untukmu dikabulkan Yang Maha Kuasa... Semoga kehadiranmu adalah berkah bagi semua orang...

There’s no other love like the love for a brother. There’s no other love like the love from a brother. [Terri Guillemets]


Tuesday, 30 September 2014

[Macau] Benarkah sebuah Wisata Kota yang Membosankan?

Macau without any expectation

“Aku mau meninggalkan Jakarta sejenak buat ngelupain Abimanyu, juga buat ngilangin stres.” Ucapku pada Ulfa, teman yang menelepon malam hari begini hanya untuk bertanya keberadaanku.

Saat itu aku sudah duduk di pesawat yang akan membawaku ke Macau dari bandara Kuala Lumpur. Tak ada seorang pun yang tahu kalau pagi tadi aku bertolak dari Jakarta menuju negeri Jihan, termasuk temanku yang sedang berbicara di ujung telepon ini.

Wednesday, 17 September 2014

Wonderful Indonesia: Jika Ingin Melihat Surga, Pergilah ke Raja Ampat!

Sebuah pembuka bersama Gerson 

“Kamu senangkah bisa kuliah di pulau Jawa?” tanyaku pada Gerson, salah satu dari 35 adik tingkat yang baru datang dari Indonesia Timur.

Yang ditanya tersenyum, lebih kepada cengengesan sejenak. Logat yang kupakai mengikuti logat mereka mungkin terkesan lucu, atau mungkin membuat geli. 

“Senang Kakak. Kita seperti pergi ke lain negara.”

Ya, aku membenarkan jawaban Gerson barusan. Kuperhatikan dalam beberapa waktu terakhir, hal-hal sepele di sini ternyata bagi mereka adalah sesuatu yang begitu spesial. Sesuatu yang wah. Contohnya ketika mereka pulang kuliah cepat, selalu saja berucap girang, “Horeee pulang cepat. Bisa main ke pasar kita.”

Status-status facebook mereka pun tidak kalah lucunya. Bagi kita, biasanya memasang status check in bila sedang berada di tempat-tempat mewah atau diimpikan banyak orang, misal bandara, restoran mahal, atau Eiffel. Namun tidak dengan mereka, kebanyakan status mereka berbunyi, “Senang—di pasar”.

Salah satu temanku pernah menelepon salah satu dari adik tingkat kami, lalu menanyakan lokasi.

“Kami sedang di pasar Kakak.” jawab sang adik tingkat.

“Kalian ngapain rajin ke pasar?” temanku bertanya heran. Sepengetahuannya, baru sehari lalu adik-adik baru kami itu pergi ke pasar.

“Kita mau fotokopi Kakak.” Jawabnya polos.

Seketika temanku menepuk jidat. Berpuluh-puluh tempat fotokopi di area kampus, tapi tetap saja mereka memilih pergi ke pasar. Dan sejak itulah aku menyadari satu hal, mungkin apa yang menurut kami tak lagi manarik, bagi mereka adalah sesuatu yang sangat istimewa.

Kembali pada percakapanku dengan Gerson. Ia tiba-tiba bertanya padaku, “Kakak punya cita-citakah?”

Pertanyaan yang lucu. “Tentu saja. Salah satunya, Kakak ingin ke Timur. Jika kamu bilang saat ini seperti berada di negara lain, maka Kakak akan bilang bahwa Kakak ingin berkunjung ke negaramu.”

“Benarkah Kakak? Tapi mereka bilang Timur hanya diisi oleh pohon sagu dan penduduknya makan papeda yang katanya mirip lem kantor pos.”

“Tapi kalian juga punya surga bukan?”

“Raja Ampat kah?”

Aku mengangguk senang. “Gerson pernah ke sana?”

“Pernah beberapa kali. Dan memang Kakak harus ke sana suatu hari nanti.” ucapnya sungguh-sungguh.

Aku bisa merasakan bahwa kalimat itu berasal dari hatinya. Jarang sekali ada orang Indonesia yang bangga dan berucap begitu yakin mengenai ikon di daerah asalnya. Dan kalimat Gerson itu membuatku semakin yakin, bahwa salah satu agenda wajib dalam hidupku adalah berkunjung ke Timur, ke Raja Ampat.


Jika ingin melihat Surga, pergilah ke Raja Ampat

Source: click here
"Seandainya Kakak ke sana, apa yang tidak bisa didapatkan dari tempat lain?" tanyaku

“Gugusan pulau-pulau, laut yang biru, karang, pasir putih, dan warna-warni makhluk laut. Jangan pernah bilang Kakak sudah melihat semua itu dengan sempurna, kecuali Kakak melihatnya di Raja Ampat.” Gerson menjawab dengan mata seperti membayangkan sesuatu.

Ya, nama Raja Ampat memang sudah familiar di telingaku satu tahun terakhir. Tepatnya setelah membaca tulisan Windy Ariestanti saat mengajar menulis penduduk Misool. Dalam tulisannya Windy bercerita tentang ia yang sampai bersujud di pasir akibat tawa yang berlebihan. Saat ia memerintahkan peserta pelatihan untuk menuliskan ‘cabai’, justru diganti dengan ‘rica’. Sesaat Windy menolak, memberi penjelasan bahwa rica harus diganti cabai ketika menuliskannya dalam bahasa Indonesia. Seorang peserta bernama Balif maju dan berkata, “Cabai dan rica itu sama pedasnya. Kenapa harus diributkan?”. Aku ikut tertawa saat membaca tulisan Windy tersebut dan sejak itu pula aku giat mencari informasi seputar gugusan pulau yang sering disebut-sebut sebagai The Last Paradise tersebut. Bahkan beberapa video di youtube pun menjadi sasaran untuk menuntaskan rasa penasaranku.


Usai menuntaskan sekian video, hanya ada satu kata yang bisa kuucapkan. Wonderful. Wajar saja beberapa traveler mengaku sempat meneteskan air mata begitu tiba di sana, tidak menyangka bahwa tempat seindah itu ada di negara kita, Indonesia.

“Segala macam mimpi indah Kakak tentang laut dan isinya akan terwujud saat tiba di sana.” Ah Gerson kembali membuat keinginanku meluap-luap.

Aku tahu hal itu, Kepulauan Raja Ampat yang terdiri atas empat pulau terbesarnya yaitu Pulau WaigeoPulau MisoolPulau Salawati, dan Pulau Batanta memang menjadi impian semua pecinta laut, dan kurasa tak ada manusia yang tidak mencintai laut. Meskipun tidak bisa menyelam, setidaknya senang kala memandangi biru alami yang tercipta dari laut.

Source: click here
Bukan hanya tentang birunya yang memikat, Raja Ampat juga tercatat memiliki lebih dari 540 jenis karang keras (75% dari total jenis di dunia), lebih dari 1.000 jenis ikan karang, dan 700 jenis moluska. Tidak salah jika penelitian Dr. Gerald Allen asal Australia menetapkan Raja Ampat sebagai greatest biodiversity ever registered. Tidak hanya itu, Raja Ampat juga kaya akan hamparan padang lamun, hutan mangrove, dan pantai tebing berbatu yang menakjubkan.

“Kakak, saya tidak berbohong ini. Berkali-kali sudah saya ke sana, tapi kalau Kakak ajak saya ke sana lagi, sekarang pun saya mau. Kakak pernah nonton film-film fantasikah? Macam Harry Potter, Avatar, dan lain-lain?”

“Pastilah. Itu semua film kesukaan Kakak. Kenapa? Gerson belum pernah menontonkah?”

“Bukan Kakak. Tapi saya cuma ingin kasih tahu, perasaan haru Kakak ketika melihat Hoghwarts di antara kabut atau ketika melihat Avatar Hallelujah Mountain, seperti itulah harunya ketika sampai di antara gugusan pulau di Raja Ampat. Bedanya, yang ini nyata dan benar-benar ada di depan mata Kakak. Pasti menangislah itu.” ceritanya bangga. Ia mengernyit, seolah-olah mengejekku.

“Ya, nanti Kakak pasti akan ke sana.” Dalam hati aku melanjutkan dengan kata, “Insya Allah...

“Saya ikut ya Kakak...” sambung Gerson cepat.

Kali ini giliran aku yang mengernyit untuk mengejeknya.


Nuansa Keramahan, Musik, dan Tarian

Selain keindahan alam yang merupakan salah satu maha karya Tuhan, Raja Ampat juga semakin eksotis oleh aneka ragam budaya masyarakatnya. Aku sempat bertanya pada Gerson tentang ramah tidaknya penduduk di sana, yang ada jawaban adik tingkatku itu justru penuh candaan.

“Semua orang Papua memang ramah-ramah Kak, seperti aku ini. Kalau Kakak ke sana pasti akan disambut seperti artis, lengkap dengan upacara adat tujuh hari tujuh malam.”

Meskipun terkesan berlebihan, soal keramahan kurasa Gerson tidak sedang berbohong. Rata-rata orang Papua memang sangat ramah. Selain itu mereka juga lucu. Jangankan saat mereka bergurau, logat bicara saja sudah membuat kita tidak bisa menahan tawa.

Lalu di Raja Ampat, keramahan khas masyarakat Papua pun akan menjadi penyambutan yang menyegarkan bagi para wisatawan. Keramahan dan kebahagiaan mereka akan semakin menjadi-jadi apabila wisatawan datang membawa pinang atau permen. Buah tangan yang sangat sederhana bukan? Kemudian pinang itu akan dimakan sambil mengobrol santai diselingi main lempar mob, yaitu permainan saling melontarkan cerita atau istilah-istilah lucu.

Penduduk lokal Raja Ampat diwarnai oleh dua agama besar yaitu Islam dan Kristen. Bahkan dalam satu kelurga terkadang memiliki keyakinan yang berbeda. Meskipun begitu, keduanya berjalan harmonis penuh kerukunan.

Gerson kembali bercerita, memanas-manasiku lebih tepatnya. “Saya jamin, sesampai di sana Kakak akan menari-nari saat mendengar musik khas orang kami.”

Foto source: Barry Kusuma, click here.
Ya, aku pernah menonton tari-tarian orang Papua itu di youtube. Dimana penari wanita mengenakan pakaian dengan perpaduan warna-warna terang berkontras tinggi seperti merah, hijau terang, kuning tua dan biru terang. Sedangkan penari laki-laki kebanyakan bertelanjang dada dan untuk menutupi bagian pinggang ke bawah biasanya menggunakan pakaian dari bahan sabut, anyaman daun kelapa, bulu dan kulit binatang,  tergantung dari jenis tarian yang dibawakan. Ada pula kaum pria yang tampil menggunakan penutup aurat khas Papua yaitu koteka. Dan yang pasti baik penari pria maupun wanita akan tampil lengkap dengan aksesoris dan rias wajah khas dan eksotis yang hanya bisa kita jumpai dalam seni tradisional khas Papua.

Mereka dengan pakaian dan tata rias yang khas itu biasanya akan lincah menarikan tarian upacara adat maupun penyambutan seperti Tarian Wor, Main Moun, Tarian Batpo, Tarian Yako dan kesenian Suling Tambur. Lalu diiringi oleh alat musik perkusi  khas Papua yang bernama tifa, gong (mambokon) dan tambur (bakulu). Alat musik bersenar seperti gitar dan tiup seperti seruling dari kerang laut juga sering digunakan untuk mengiringi tarian. Waw, sungguh seperti sedang menonton film.


Cara mereka menangkap ikan adalah pertanda tiadanya kerakusan

Hidup di pulau-pulau yang tidak begitu besar dengan laut yang mengepung, tentu menjadi latar belakang yang tepat mengapa penduduk Raja Ampat hobi menangkap ikan. Makanan pokok mereka yang lengket dan terbuat dari pati sagu kurasa turut menjadi salah satu latar belakangnya. Pernah satu kali aku mencicipi papeda, dan itu sama sekali tidak ada rasanya. Ia akan terasa enak hanya bila disajikan bersama aneka masakan berbahan baku ikan yang dimasak berkuah. Jadi, tanpa ikan, menu makan mereka dirasa ada yang kurang.

Source: click here
Meskipun mereka hobi menangkap ikan, jangan disamakan mereka dengan para nelayan yang menangkap ikan dengan segala macam cara demi tangkapan yang sebesar-besarnya. Orang Raja Ampat mengerti cara untuk bersimbiosis mutualisme dengan kekayaan alam mereka. Mereka memiliki budaya sasi yang sering dipakai untuk menangkap jenis ikan yang mempunyai nilai jual tinggi, beberapa jenis siput atau kerang, dan lobster.

“Apa Kakak? Budaya Sasi? Itu semacam tradisi yang mana kami tidak diperbolehkan menangkap ikan-ikan tertentu, lobster, siput atau kerang-kerangan dalam jangka waktu tertentu. Biasanya satu tahun. Tujuannya agar para makhluk laut itu punya rentang waktu untuk berkembang biak. Jadi ikan kami tidak akan sampai habis, apalagi punah.” Garson menjelaskan.

Selain budaya Sasi, cara lain mereka untuk menangkap ikan disebut bacigi. Yaitu menangkap ikan tanpa menggunakan umpan. Cara ini bisa digunakan di area perairan yang memiliki ikan padat. Cukup dengan menurunkan kail, maka ikan-ikan itu sudah menempel di mata kail. Tidak bisa dibayangkan jika aku yang menjumpai perairan dengan ikan padat seperti itu, pasti sudah kujaring sekaligus, lalu menjualnya ke pasar.

Lihatlah perbedaan pemikiranku dengan mereka. Dan hal ini membuatku bisa memberikan kesaksian mengenai masyarakat Raja Ampat, mereka adalah masyarakat yang paling menghargai lingkungan hidup. Bagi mereka, ketika alam memberikan banyak keuntungan bagi manusia, maka sudah menjadi kewajiban manusia untuk berbuat baik kepada alam. Sementara kita yang setiap saat dikelilingi teknologi dan segala macam ilmu pengetahuan tidak kunjung peka akan hal itu. Penduduk Raja Ampat memberikan teladan bagi kita agar tidak menjadi parasit bagi alam yang mengambil keuntungan sebesar-besarnya hingga membuat sang alam perlahan penyakitan lalu binasa.


Jadi, seperti apa rute menuju Raja Ampat?

“Kakak bisa ambil penerbangan ke Sorong. Biasanya singgah dulu di Makassar ganti pesawat. Dari Bandara Domine Eduard Osok di Sorong lanjut ke pelabuhan, kemudian naik kapal rakyat menuju ibu kota Raja Ampat, Waisai, Pulau Waigeo. Untuk keperluan menyelam atau berlayar ke pulau-pulau Raja Ampat, Kakak bisa sewa perahu penduduk sana. Gampanglah itu asal ada duit aja Kak.”

Percakapanku dengan Gerson berakhir setelah beberapa kalimat lagi. Sepanjang perjalanan kembali ke kost, hatiku dipenuhi perasaan yang berbeda. Jika biasanya tempat-tempat di luar negeri terus berkelebat dalam kepalaku, kali ini untuk pertama kalinya aku memiliki impian besar untuk mengunjungi sebuah tempat di negeriku sendiri.


Seorang filsuf, St. Augustine, pernah berkata, “The world is a book and he who doesn’t travel only reads one page.” Dan aku tidak mau menjadi seorang pembaca yang hanya menamatkan satu halaman buku yang telah disediakan. Menurutku perjalanan bukanlah tentang seberapa keren tempat yang kita kunjungi, atau seberapa jauh daratan dan lautan yang kita sebrangi. Karena perjalanan adalah seberapa besar kita menemukan kebahagiaan di luar kampung halaman.

Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba Artikel Raja Ampat oleh Indonesia.travel


Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Raja_Ampat
http://rajampatsorong.blogspot.com/
http://windy-ariestanty.tumblr.com

Saturday, 13 September 2014

Kampus Fiksi: Tentang Memilih dan Memutuskan

Mulailah proses kesuksesan Anda dengan menanyakan apa yang Anda inginkan, dan menginginkan apa yang Anda tanyakan.


Rasanya aku kembali sedih saat menemukan kalimat di atas di sebuah halaman web. Menanyakan apa yang Anda inginkan. Hampir semua orang yang mengenalku, orangtua dan sanak keluarga tau kalau aku ingin menjadi seorang penulis, novelis dengan karya-karya yang dikenal semua orang. Dan untuk meraih semua itu, tentu tidak bisa jika aku hanya bermalas-malasan, mengingat menulis adalah pekerjaan yang sifatnya bebas, no contract. Selain belajar menulis dengan kegiatan menulis itu sendiri, aku juga punya keinginan untuk mengikuti pelatihan kepenulisan yang diadakan penerbit besar.

Kesempatan itu datang. Awal tahun 2014, aku coba-coba ikut mendaftar event Kampus Fiksi, yaitu pelatihan penulisan yang diselenggarakan penerbit Diva Press. Hanya ada 20 orang peserta yang diterima pada setiap angkatannya. Aku? Setelah mengirimkan salah satu karyaku, menunggu proses seleksi, akhirnya namaku keluar sebagai salah satu peserta. Keberangkatan ke Yogya ditetapkan pada bulan September. Kala itu tidak pernah menyangka jika situasi di bulan September akan sesulit ini untukku membuat keputusan, jadi wajar saja kalau aku tersenyum senang dan menanti datangnya bulan ini.

Awal perkenalan dengan Diva Press tepatnya akhir 2012, karena menjadi follower mereka serta owner-nya di tweeter. Selalu kubaca setiap ocehan-ocehan mereka, apapun itu. Mulai dari tips menulis, info lomba karya fiksi, kuis berhadiah buku, hingga hal-hal yang terkadang hanya bersifat have fun. Untuk tweeter Pak Edisang Owner—aku pun tidak mau ketinggalan. Dari sana pula kemudian aku tahu perjuangan Pak Edi membangun Diva Press hingga sebesar kini. Menerbitkan buku sendiri, kemudian menjajakannya sendiri, naik turun bus, menurutku tidak sesulit yang berhasil kubayangkan. Karena aku yakin semua itu jauh lebih sulit dan tidak bisa dibayangkan. Apalagi di tahun 90-an buku tidak setenar sekarang.

Ini adalah film yang diangkat dari salah satu novel terbitan Diva Press
Lalu kini, semua perjuangan itu terbayar sudah. Mimpi dan cita-cita Pak Edi tertunaikan sudah. Diva Press menjadi sebuah penerbit ternama, karyanya tak terhitung, karyawan banyak, dan tentu saja finansial yang didapatkan juga berlimpah. Uang tidak lagi menjadi mimpi besar Pak Edi, sebaliknya ia ingin sesuatu yang bisa ia lakukan untuk ‘melahirkan’ Edi-Edi yang lain. Ia ingin menyalurkan ilmu dan kekuasaannya sebagai pemilik sebuah penerbitan ternama, bisa memunculkan penulis-penulis sukses baru. Akhirnya, lahirlah sebuah pelatihan dengan nama KAMPUS FIKSI.

Suasana Kampus Fiksi yang kunanti-nanti (source: click here)
Semua yang terpilih mengikuti event ini hanya perlu membayar biaya transportasi dari rumahnya sendiri menuju stasiun Yogya. Selebihnya terima bersih. Mereka akan dijemput, tempat tinggal disediakan, makan disajikan, ilmu dituangkan seboros-borosnya selama dua hari, ditambah bimbingan menulis tanpa batasan waktu. Maksudnya, sepulang dari pelatihan tersebut, peserta tetap dibimbing untuk melahirkan sebuah karya. Pun saat karya tersebut layak diterbitkan, Diva Press akan menjadi penerbit pertama yang siap untuk menerbitkannya. Kurang apa lagi?

Bertemu teman berbagai daerah dengan hobi yang sama? Adakah yang lebih membahagiakan dari hal ini? (source: click here)
Dan aku termasuk salah satu dari mereka yang beruntung itu. Namun sayangnya, kesempatan itu tidak kuambil.

Bodoh? Atau pengecut?

Dua pertanyaan yang tidak bisa kupilih. Karena terkadang aku merasa memiliki keduanya. Malam itu, 10 September 2014 sebelum pukul 00.00 kepalaku terus berpikir. Bahkan aku sampai duduk di tangga yang gelap seorang diri, sibuk bertanya pada diriku sendiri. Apabila lewat dari jam tersebut aku belum mengirimkan scan surat pernyataan kesediaan hadir, maka surat undangan Kampus Fiksi untukku dinyatakan hangus.

“Haruskah kukirim surat pernyataan kesediaan hadir di acara tanggal 27-28 nanti?”

Sebagai tambahan, kuberi tahu bahwa tanggal 27, 28 tersebut adalah hari Sabtu dan Minggu.

Email undangan
Setelah mengucapkan bismillah dan mati-matian berusaha menghibur diri sendiri, akhirnya kuputuskan untuk tidak mengirim apapun. Kenapa?

Ada dua alasan yang membuatku sulit untuk menggadaikan salah satunya. Yang pertama adalah karena aku malu minta ongkos Bogor-Yogya pada Bapak. Belum ada satu bulan aku kembali ke Kota Hujan, sudah sekian juta uang Bapak kuhabiskan untuk ongkos dan biaya hidup di sini. Apalagi living cost beasiswaku entah kapan akan cair. Lalu jika aku minta uang ongkos, ditambah biaya hidupku beberapa bulan ke depan, berapa juta lagi yang harus dikeluarkan Bapak? Sementara aku sendiri tahu, keuangan Bapak pasca lebaran ini tidak begitu baik.

Ngopo koe ora kirim surate? Penulis itukan cita-citamu. Ini kesempatan bagus. Siapa tahu jadi jalan untukmu. Bapak bisa kalau hanya sekadar membiayaimu ke Yogya.” Ucap Bapakku di ujung telepon ketika aku meneleponnya di pagi hari tanggal 11.

Mataku sudah berkaca-kaca saat itu. Kukatakan padanya bahwa aku tidak mau Bapak sampai berhutang hanya untuk membiayaiku ke sana ditambah untuk biaya hidupku beberapa bulan ke depan. Namun Bapak meyakinkan bahwa dia bisa, semua orang punya rezekinya masing-masing, terlebih untuk seseorang yang memiliki niat untuk menimba ilmu.

Kuceritakan pula pada Bapak, alasan keduaku tidak mengirimkan surat kesediaan hadir tersebut karena perkuliahan. Sebelum Ujian Tengah Semester, kampusku hanya memperbolehkan mahasiswa tidak hadir (baik itu sakit, izin , maupun tanpa keterangan) sebanyak 2 kali per mata kuliah (mereka bilang maksimal 2 kali, tapi kalau sudah 2 kali tidak hadir, akibatnya cekal ujian. Jadi, sebenarnya hanya 1 kali kesempatan). Dan beberapa waktu lalu pihak Wardah Cosmetic sudah mengumumkan aku sebagai salah satu pemenang lomba menulis yang mereka adakan, dengan hadiah Travel in Style ke Malaysia dan Hongkong. Mereka sudah menghubungiku, namun belum memberi tahu waktu keberangkatan.

Seandainya aku berangkat ke Yogya pada Sabtu-Minggu tanggal 27-28, lalu kemudian keberangkatanku ke Malaysia dan Hongkong juga jatuh pada hari Sabtu dan Minggu (tanggal bukan masalah), itu artinya aku akan memiliki 2 keterangan tidak hadir per mata kuliah yang masuk di hari Sabtu. Bisa dipastikan aku tidak bisa mengikuti ujian.

Ya, penulis memang impianku. Tapi aku tahu, orangtuaku tidak akan pernah bangga jika demi semua itu, aku justru mengabaikan kuliah. Bapak membiayai ongkos keberangkatanku pulang-pergi adalah agar aku kuliah di sini.

“Apa nggak lebih baik ke luar negerinya saja yang dikorbankan?” tanya Bapak lagi.

“Pelatihan Kampus Fiksi ini adalah kesempatan yang tidak mungkin datang dua kali, tapi ke Malaysia dan Hongkong juga kesempatan yang aku tidak tahu apakah akan datang lagi atau tidak. Semua sudah kuputuskan tadi malam Pak. Semoga ini keputusan terbaik. Bapak tenang saja, jangan cemas. Insya Allah ada kesempatan lain, hanya saja bukan sekarang waktu yang tepat. Aku akan tetap belajar menulis dari mana saja.”

Source: click here
Suatu saat, kamu juga akan menemukan situasi seperti ini kawan, di mana kamu begitu sulit untuk membuat keputusan. Namun percayalah bahwa segala sesuatu terjadi untuk sebuah alasan tertentu, bahkan ketika kita tidak cukup bijak untuk melihatnya.




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...