Sunday, 1 October 2017

Surat Musim Gugur



 

Terimakasih untuk persinggahanmu yang sebentar. Bagaimanapun, engkau pernah menjadi bunga musim semi yang selama beberapa saat menghiasi hari. Namun layaknya musim semi, bunga-bunga itupun hanya memanjakan sekejap mata. Ketika sampai masanya, musim akan berganti. 

Cinta tak pernah bisa gugur. Tapi harapan, ia bisa kapan saja meninggalkan ranting-ranting hati yang sudah tak sanggup memintanya bertahan. Daun-daun harapan itu satu per satu menuju tanah, hingga kemudian menyisakan rerantingan yang kosong. 

Kasihku padamu, mungkin ia akan selalu ada. Di sini. Di dalam hati. Sama seperti kasihku kepada Mustafa, atau beberapa nama lelaki lain yang pernah sekadar singgah sejenak. Namun selamanya nama-nama itu menempati ruang-ruang di hati. Mereka yang namanya tak mungkin pernah terhapus dari ingatan.

Lalu, apakah yang tak lagi kumiliki untuk mereka? Juga untukmu?

Itu adalah sesuatu bernama harapan.

Ketahuilah, ketika seseorang memutuskan untuk berhenti mencintai, sebenarnya bukan cinta itu yang terhenti, melainkan harapan-harapan yang terputus.

Selamat memasuki musim gugur...

Musim yang tepat untuk mengucap kalimat selamat tinggal. Musim yang tepat bagi kita untuk menanggalkan satu demi satu daun-daun harapan. Di musim ini, aku berdoa semoga Allah ar Rahman memberimu kemuliaan kehidupan di dunia dan akhirat. 

Aku berdoa semoga engkau tidak lagi memperoleh cinta yang rumit. Seperti kita. Yang mungkin apabila bersama tidak akan ada silaturrahim yang baik antara dua keluarga. Yang mungkin apabila bersama, maka akan ada banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Olehmu juga olehku. 

Aku berdoa semoga kelak pada waktunya, engkau akan menemukan seorang wanita yang mampu membuat hatimu tenteram, yang pada wajahnya engkau mendapatkan naungan keteduhan dan kasih sayang.

Suatu saat kelak, sama seperti mimpiku untuk Mustafa, semoga kita bisa bertemu sebagai sahabat atau kerabat. Mungkin aku akan bersama dengan seseorang yang kucintai dan kumuliakan, demikian pula dirimu. Insya Allah...

Semoga Allah menghimpun kita kelak di akhirat ke dalam golongan orang-orang yang diberi rahmat dan cinta-Nya yang luas.





Tuesday, 26 September 2017

Selarik Doa Tentang Derita Yang Bertubi-Tubi




Anni massaniyad durru wa anta arhamu rahimin

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”QS Al Anbiya: 83

Seorang sahabat datang dengan setangkup derita. Padahal, saya ingat, saat itu dua pekan pasca lebaran. Semestinya, sisa-sisa kemenangan masih menyelimuti dirinya. Namun, air mukanya yang keruh, serta matanya yang merah dan sayu mengabarkan setumpuk nelangsa tengah bergemuruh di benaknya. Dugaan saya tidak meleset. Dodi, demikian sahabat saya itu acapkali dipanggil, berkisah:

“Lebaran tahun ini, aku merasa sendirian. Aku benar-benar menderita. Pertama, seminggu menjelang Idul Fitri, aku tergolek sakit hingga dua minggu lamanya. Jelas, aku tidak bisa lebaran dan berbagi bahagia seperti yang kau bayangkan. Kedua, ibuku ketahuan sakit tumor dan harus berobat ke sebuah Rumah Sakit di negeri Jiran, Malaysia, tepat sehari setelah Idul Fitri. Padahal, kau tahu, adik perempuanku yang semata wayang mengidap kanker payudara. Ketiga, awal tahun baru ini, ayahku remi pensiun. Katanya, akulah nanti yang harus ikut bertanggung jawab membiayai sekolah adik-adikku. Dan kau kan tahu, sebagai anak sulung, aku sendiri belum mapan dalam karir dan pekerjaan. Oh iya, satu lagi, bagaimana dengan rencana pernikahanku nantinya? Cobalah kau pikir, Az! Begitu banyak penderitaan yang harus kutanggung. Aku stressssss, Az! Stressss!”

Saya tercekat dengan ceritanya, dengan alur derita hidupnya. Inilah kisah ke sekian kali ihwal kepiluan yang langsung menghujam lubuk saya. Sebelum Dodi, beberapa sahabat saya kerap menuturkan hal yang sama. Dan, kita tahu, sahabat saya ini tidak sendiri. Ia bukan orang pertama yang menyimpan setumpuk nestapa dan derita. 

Nun, jauh sebelumnya, hidup seorang nabi yang juga hidup di tubir kegelapan derita; nabi yang besar di negeri Syria, cicit Nabi Ibrahim alaihissalam, yang sebelumnya tersohor karena hartanya yang berlimpah ruah sehingga membuatnya senantiasa hidup dalam kebajikan berderma. Dialah Nabi Ayyub, putra Ish bin Ishaq, yang membuat masyarakat Hauran dan Tih sangat menghormati dirinya lantaran sikap dermawannya. Mungkin, sebagian Anda pernah membaca kisahnya dan menyerap iktibarnya. Tapi, di tulisan ini, saya ingin menukil secuil hikayahnya.

Konon, iblis menyusun senarai rencana agar Ayyub berpaling dari Ilahi. Karena itulah, siasat pertama, iblis menggoda Ayyub dengan membuat rumah Ayyub terbakar. Seluruh harta bendanya ludes dilahap si jago merah. Begitu pula dengan hewan-hewan ternaknya yang terserang penyakit. Semuanya mati. Ayyub pun jatuh miskin dan melarat. Dua orang istrinya sendiri tak sanggup menemaninya lagi. Yang tersisa hanya Rahmah, istrinya yang paling setia.

Sayang, iblis salah dugaan, Ayyub bukanlah sosok yang imannya payah. Ia masih tetap beriman, meski derita baru saja menimpanya. Maka iblis pun menjalankan siasat kedua. Bersama para pembantunya, iblis membuat rumah anak-anak Ayyub juga terbakar. Yang lebih menyakitkan, semua buah hati Ayyub meninggal tertimbun reruntuhan rumah itu. Otomatis, Ayyub berduka. Air mata berlinang-linang di pelupuknya. Belum pupus sejumput musibah, datang kabar kematian anaknya yang meninggal secara mengenaskan.

Tapi, Ayyub memang seorang nabi, ia tetap tidak berpaling dari iman kepada Allah, ia malah lebih giat beribadah. Iblis pun sangat kecewa, dan siasat ketiga telah disusunnya. Kali ini, ia sengaja membuat Ayyub benar-benar menderita fisik dan psikis. Iblis menebar bermacam kuman pada tubuhnya. Walhasil, Ayyub mendapati sekujur tubuhnya rusak. Kulitnya mengelupas. Segenap belatung menyembul di sela-sela dagingnya. Seluruh penduduk, akhirnya, mengucilkannya. Ia terusir. Ia tersisih bersama istrinya; keluar dari desanya. Dan penyakit menjijikkan itu tidak sebentar merajah di tubuhnya. Konon, bertahun-tahun menggerogoti dirinya.

Sayang, derita bertahun-tahun belum juga menegakkan panji kemenangan di pihak iblis. Ayyub belum goyah. Imannya tetap kokoh dan ibadahnya semakin tak terkira giatnya. Maka, iblis pun menggunakan jurus terakhir; ia menggoda istri Ayyub untuk meninggalkannya. Di sinilah, benteng terakhir Ayyub hampir luluh lantak. Istrinya tak kuat menahan bisikan sang iblis. Ia, akhirnya, meninggalkan Ayyub seorang diri dalam segenap derita.

Ayyub terpuruk, Ayyub terluka, dan Ayyub, alkisah, hanya ditemani Allah ta’ala. Pada titik nadir inilah, selarik doa meluncur dari bibirnya: “Anni massaniyad durru wa anta arhamu rahimin” [Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang—QS Al Anbiya: 83]

Sebaris doa itulah yang menemani jiwanya; sebuah kalimat yang menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir al Misbahn-nya tidak sebanding dengan penderitaanya. Ibnu ‘Asyur, seperti ditulis Quraish, menjelaskan bahwa kata ‘durru’ yang dipanjatkan Ayyub itu bermakna segala kesulitan yang menimpa diri seseorang. Hal ini mempertegas bahwa besarnya derita yang Ayyub pikul itu beraneka ragam dan begitu panjang masanya.

Hebatnya, Nabi Ayyub alaihissalam, dalam doa tersebut mengatakan kata ‘massani’ yang berarti ‘aku disentuh/tersentuh’, sebuah kata yang menjelaskan kondisi tindakan yang kecil alias sedikit. Kenapa Ayyub, misalnya, tidak mengatakan kata ‘ashaabany’ [aku ditimpa], padahal apa yang ia alami sungguh sangat berat? Tidak hanya itu, di lain sisi, Ayyub malah bermunajat kepada Allah azza wa jalla tanpa sedu sedan dan menggerutu. Ia, bahkan, tiada memohon sebagaimana lazimnya sebuah kidung doa. Beliau hanya menyebut sifat Allah yang paling menonjol, yakni kata ‘wa Anta arhaama rahimin’ seraya memasrahkan diri sepenuhnya pada kehadirat Allah. Sebab, bukankah Dia-lah sumber Maha Mengetahui dan segala Rahmat?

Saya mafhum kenapa kata ‘massani’ yang dipilih Ayyub untuk melukiskan deritanya. Pasalnya, dalam satu riwayat, Ayyub berkata dengan lirihnya kepada sang istri:

“Allah sedang menguji kita. Akankah kita lulus atau gagal dalam ujian ini. Sudah berapa lama kita hidup bahagia?”
“Delapan puluh tahun.” Jawab istrinya ketika tengah bersiap meninggalkan Ayyub seorang diri.
“Lalu, sudah berapa lamakah kita hidup menderita?”
“Tujuh tahun.”
“Itu berarti sabar kita tak sebanding dengan syukur kita.”

Demikianlah, Ayyub memaknai sebuah penderitaan. Ia memandang rasa sabar kita seharusnya berbanding lurus dengan rasa syukur kita. Penderitaan yang kita terima, selayaknya diredam dengan betapa besarnya anugerah yang telah kita dapatkan.
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya (menghitungnya). Sesungguhnya manusia itu sangat zamil dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)

Lalu, kenapa kita lebih banyak meratapi ujian Allah sebagai sebuah penderitaan yang tak pernah usai? Kenapa penderitaan yang kita lewati dalam beberapa waktu saja menghapus ingatan kita akan segala kebaikan-Nya? Kenapa kita sering alpa menzikir-zikir rezeki dan nikmat Allah yang pernah kita dapatkan dari-Nya? Pada posisi inilah, tak aneh bisa Allah ta’ala, kerap meneguhkan, “Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali melalui jalannya yang sesat, seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk menghilangkan bahaya yang telah menimpanya.” (QS Yunus: 12, lihat juga ayat senada pada QS Fushshilat: 51; QS Az Zumar: 8; QS Al Hajj:11)

Mengolah Derita

“Manusia yang memiliki sebuah alasan untuk hidup dapat menahan penderitaan apapun,” begitulah Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman yang lahir pada tahun 1844 itu pernah berkata. Dan Nabi Ayyub, jauh berabad-abad silam sebelum Nietzsche lahir, sudah terlebih dulu mengalami dan menghitmatinya. Bahkan, menurut hemat saya, Ayyub lebih dari sekadar mempunyai alasan untuk hidup; selain ia berharap dapat lulus atas ujian Allah, ia juga berharap, kelak, Allah masih meliriknya agar tak pernah jera menggenapi anugerah kepadanya.

Bagi saya, semangat hidup yang terus meletup-letup itu, sejatinya, bukan milik Ayyub sendiri. Suatu saat, entah saya atau Anda, apapun status dan profesi Anda, pasti bisa menjalaninya. Viktor Frankl, seorang pakar psikolog humanis, misalnya. Ia membuktikan dirinya bisa bangkit dari beban derita yang meruap di jiwanya. Viktor mengalami penderitaan yang tak kalah hebatnya; istri, orang tua, dan saudara laki-lakinya meninggal di kamp konsentrasi Nazi, Jerman. Ia sendiri, di tengah kelaparan, hawa dingin, dan kekejaman selama di Auschwits dan Dachau, terus-menerus dimasukkan ke dalam kamar gas. Ia kehilangan seluruh harta miliknya di hari pertama masuk kamp, dan dipaksa menyerahkan sebuah manuskrip ilmiah yang merupakan hasil kerja seumur hidupnya. Frankl, meski berada di dalam keadaan yang mengerikan itu, memutuskan memilih bertahan hidup. Wajar, dalam buku Man’s Search for Meaning yang dikarangnya, ia menuliskan, “Jangan biarkan penderitaan memicu munculnya gejala penyakit jiwa, tetapi biarkan ia memicu munculnya pencapaian seseorang.”

Pencapaian itulah yang akhirnya Ayyub dapatkan. Allah mengabulkan selarik doanya. Buah kesabaran yang selama ini diembannya, Allah ganjar dengan akhir yang indah: Allah menyembuhkan penyakitnya seperti sediakala. Istri Ayyub yang pernah minggat pun, akhirnya, kembali ke pangkuannya. Tak hanya itu, Allah kembali mengkaruniainya anak yang banyak serta kekayaan yang tiada tara. Dan, sudah pasti, surga tengah menantinya.

Pada titik ini, Nabi Ayyub, sepertinya, ingin menegaskan kepada kita bahwa sebaris doa adalah selaksa harapan. Pada doalah segala yang tidak mungkin bisa terjadi. Nabi salallahu ‘alahi wassalam sendiri bersabda, “Takdir tidak ditolah kecuali oleh doa, dan tidak ada yang menambah umur manusia kecuali kebaikan yang dilakukan olehnya...”

Dan, saya yakin, bibir kita seharusnya tidak hanya memanjatkan selarik doa seperti yang dilakukan Nabi Ayyub, tapi juga menyemai benih harapan yang tak pernah aus lantaran sejumlah derita. Saya yakin, Anda juga berharap mendapatkan akhir yang indah seperti Nabi Ayyub dan kisah orang-orang yang lulus ujian dari setangkup deritanya.


-Dikutip seluruhnya dari buku Doa-Doa yang Menjawab Impian karya A Muaz

Thursday, 7 September 2017

Tak Perlu Khawatir Berlebihan

Lihatlah meski telah kukatakan aku jatuh hati pada pria lain, tetap saja aku membaca semua suratmu. Aku bukan wanita bodoh yang tak paham apapun, tapi menjadi naif, itu adalah sebuah pilihan.

Kamu benar. Setia pada satu hati akan membuatmu jauh lebih mulia, menikmati dan mensyukuri apa yang kita miliki saat ini akan jauh lebih terhormat, tapi kita tidak pernah punya kendali untuk menggerakkan hati agar tetap pada satu tujuan atau berbelok ke sembarang arah.

Cintaku padamu. Meski itu telah terhapus oleh beberapa nama, tapi ia selalu ada. Jauh sebelum orang lain mengungkapkan padaku tentang betapa mereka berharap padamu, aku telah menyimpannya terlebih dahulu. Kamu mungkin tak pernah menyangka sejak kapan perasaan itu dimulai. Dan kisah tentangmu, adalah satu-satunya yang tak diketahui oleh orang-orang terdekatku. Kamu hanya ada di dasar perasaan, terkadang naik ke permukaan dan terkadang tertindih oleh hal-hal baru di atasnya. Tapi satu hal yang harus kamu garis bawahi, ia tak pernah hilang.

Terkadang aku menanti sesuatu darimu yang mampu meyakinkanku untuk bertahan. Bertahan meletakkanmu di permukaan perasaan. Tapi semakin hari kunanti, kamu semakin khusyuk dengan bahasa yang hanya kamu sendiri mampu memahaminya. Aku tak butuh sebuah pengakuan, pesan singkat, atau rekaman suara. Yang aku harapkan hanyalah sebuah tanda yang jelas bahwa kamu akan datang padaku, dan aku boleh menunggumu. İtu saja.

Jika kamu mampu setia dengan perasaanmu padaku, maka sungguh kesetiaan itu tidak akan mengingkarimu. Bukankah kamu pernah mengatakan padaku bahwa mungkin kita tidak bisa membersamai seseorang yang selalu disebut dalam doa, melainkan membersamai seseorang yang selalu menyebut kita dalam doanya. Jika kamu percaya akan hal itu, maka jangan khawatir. Hatiku tidak akan pergi terlalu jauh. İnsyaAllah.

Aku tidak pernah menyebutmu dalam doa. Jujur saja. Aku tak pernah menyebut sebuah nama dalam doaku. Tapi sekarang aku akan berdoa semoga dirimu selalu berbahagia.

Saturday, 19 August 2017

A Letter of Pains




Mendung menggantung di langit kota. Angin di luar seperti berkejaran menggoyangkan segala yang mereka lalui. Aku yang seharian ini mengurung diri di apartment, akhirnya memilih untuk berjalan keluar. 

Aku sengaja keluar di tengah cuaca seperti ini, karena sejak dulu aku menyukai langit mendung yang disertai angin. Cuaca yang cukup sebagai wakil dari segala perasaan yang menyakiti batinku selama ini. 

Angin menerpa wajah dan hijabku ketika pintu apartment terbuka. Aku merapatkan jaket, menutup pintu, menuruni tiga buah anak tangga, kemudian berjalan ke arah kiri. Daun-daun berwarna oranye hingga kecokelatan berserakan di mana-mana. Kakiku yang terbungkus sepatu boot bertumit terdengar ketukannya tiap kali menyentuh aspal, menjadi irama perjalanan.

Aku tak peduli pada orang-orang yang berjalan cepat di sekitar jalan ini. Yang kuinginkan adalah bercengkerama dengan segenap luka dan kepedihan yang terus terkurung dalam hati, seolah mereka tak punya jalan keluar. Andai hidup ini seperti dalam film, tentu semuanya akan lebih mudah. Nyatanya tidak! Nyatanya sampai saat ini tak ada satu ungkapan pun yang bisa kuucapkan pada orang lain betapa hatiku begitu sakit. Betapa hati ini wujudnya telah memar dan berdarah. 

Terkadang aku iri pada orang lain ketika mereka mendapati cinta sebagai sebuah anugerah terindah. Sementara yang kudapatkan adalah: cinta merupakan petaka terbesar yang membuat hidupku tak tentu arah. Jika ditanya apa dosaku? Maka jawabannya hanyalah karena aku berani jatuh cinta satu kali. Mungkin aku yang tak tahu diri, karena telah menjatuhkan hati ke jurang yang paling dalam sehingga tak ada jalan keluar untuk menariknya kembali. Hati itu, di dasar jurang yang paling gelap, merintih sendirian, kedinginan, kesakitan, dan segala penderitaan lainnya. Tak ada yang tahu, dan mungkin tak ada yang mau tahu! Hhh... lagipula siapa yang mau peduli dengan sepotong hati yang tak lagi utuh?

Aku tahu ini tak benar. Aku tahu semua ini terjadi akibat kecintaanku pada Allah ta’ala yang belum sempurna. Tapi bisakah Tuhan, jika Engkau membantuku menarik kembali hati itu seraya aku menyempurnakan cinta kepada-Mu?

Wajah kuhadapkan ke langit yang hitam. Mendung-mendung di atas sana berjalan seumpama asap, menuju ke suatu tempat. Setelah hampir 20 menit berjalan, sampailah aku di tepian sebuah selat. Jika biasanya air di selat ini begitu tenang, tidak dengan hari ini. Airnya memercik ke segala sisi, membasahi bebatuan di pinggirnya. 

Aku duduk di sebuah kursi panjang. Sendirian. Selama beberapa saat aku memandangi selat di depan, pada kapal-kapal yang entah ingin ke mana atau dari mana. Gagak-gagak putih terbang di segenap penjuru kota. Suara ringkikan mereka terdengar senada dengan angin yang mulai gemuruh.

Satu air mataku jatuh, dan aku tak mau menghapusnya. Aku mengeluarkan sebuah buku berwarna cokelat, juga sebuah pulpen. Meski di kepala ini belum ada ide tentang apa yang harus dituliskan, namun jari-jariku lebih dulu menyentuhkan pulpen itu ke atas kertas.

Mustafa.

Sebuah nama yang indah. Sekaligus menyakitkan. 

Sebuah nama yang ingin sekali tak kukenal, tapi justru terus kudoakan.

Sebuah nama yang menjadi musim semi di hati, namun juga menjadi musim paceklik yang mematikan.

Mustafa. 

Aku berharap—saat ini—bisa mengintip sedikit saja kehidupanmu di sana. 

Apakah sudah ada malaikat kecil di antara kalian?

Aku ingin tahu apakah doa-doa yang selama ini kulangitkan kepada Allah agar kau selalu berbahagia, telah dikabulkan? 

Apa yang bisa kulakukan? Apa yang bisa kulakukan agar berbahagia sementara mereka yang datang namun bukan engkau, pada hakikatnya adalah tidak ada? 

----

Thursday, 17 August 2017

Nasehat M Quraish Shihab

 

Keberuntungan kadang memainkan perannya dalam kehidupan manusia, sekalipun kerap tidak masuk akal. Karena itulah takdir mereka.

Boleh jadi keterlambatanmu dari suatu perjalanan adalah keselamatanmu. Boleh jadi tertundanya pernikahanmu adalah suatu keberkahan. Boleh jadi dipecatnya engkau dari pekerjaan adalah suatu maslahat.

Boleh jadi sampai sekarang engkau belum dikarunia anak itu adalah kebaikan dalam hidupmu. Boleh jadi engkau membenci sesuatu tapi ternyata itu baik untukmu, karena Allah Maha Mengetahui Sedangkan engkau tidak mengetahui.

Sebab itu, jangan engkau merasa gundah terhadap segala sesuatu yang terjadi padamu, karena semuanya sudah atas izin Allah. Jangan banyak mengeluh karena hanya akan menambah kegelisahan.

Perbanyaklah bersyukur, Alhamdulillah, itu yang akan mendatangkan kebahagiaan. Terus ucap alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Selama kita masih bisa tidur tanpa obat tidur, kita masih bisa bangun tidur hanya dengan satu bunyi suara, kita terbangun tanpa melihat adanya alat-alat medis yang menempel di tubuh kita, itu pertanda bahwa kita hidup sejahtera. 

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, ucapkan sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Jangan selalu melihat ke belakang karena disana ada masa lalu yang menghantuimu. Jangan selalu melihat ke depan karena terkadang ada masa depan yang membuatmu gelisah. Namun lihatlah ke atas karena di sana ada Allah yang membuatmu bahagia.

Tidak harus banyak teman agar engkau menjadi populer, singa sang raja hutan lebih sering berjalan sendirian. Tapi kawanan domba selalu bergerombol. Jari-jari juga demikian; kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, semuanya berjajar bersampingan kecuali jari jempol dia yang paling jauh diantara keempat itu.

Namun perhatikan engkau akan terkejut kalau semua jari-jari itu tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya jempol yang sendiri yang jauh dari mereka.
Karena itu, sebenarnya yang diperhitungkan bukanlah jumlah teman yang ada di sekelilingmu akan tetapi banyaknya cinta dan manfaat yang ada di sekitarmu, sekalipun engkau jauh dari mereka.

Menyibukkan diri dalam pekerjaan akan menyelamatkan dirimu dari tiga masalah; yaitu kebosanan, kehinaan, dan kemiskinan.

Aku tidak pernah mengetahui adanya rumus kesuksesan, tapi aku menyadari bahwa “rumus kegagalan adalah sikap asal semua orang”.

Teman itu seperti anak tangga, boleh jadi ia membawamu ke atas atau ternyata sebaliknya membawamu ke bawah, maka hati-hatilah anak tangga mana yang sedang engkau lalui.

Hidup ini akan terus berlanjut baik itu engkau tertawa ataupun menangis, karena itu jangan jadikan hidupmu penuh kesedihan yang tidak bermanfaat sama sekali.

Berlapang dadalah, maafkanlah, dan serahkan urusan manusia kepada Tuhan, karena engkau, mereka, dan kita semua, semuanya akan berpulang kepadaNya.

Jangan tinggalkan sholatmu sekali pun. Karena di sana, jutaan manusia yang berada di bawah tanah, sedang berharap sekiranya mereka diperbolehkan kembali hidup mereka akan bersujud kepada Allah SWT walau sekali sujud.

Jangan selalu bersandar pada cinta, karena itu jarang terjadi. Jangan bersandar kepada manusia karena ia akan pergi. Tapi bersandarlah kepada Allah SWT, Tuhan YME, karena Dialah yang menentukan segala nya. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...