Wednesday, 28 December 2016

Ia yang Serupa Bayangan

Aku dan Alena sedang berjalan menyusuri sebuah gang sempit yang diapit pepohonan kering, ketika pembicaraan ini terjalin. Kami berdua mengenakan jaket musim dingin untuk berlindung dari terpaan angin yang kian mengamuk. Dedaunan cokelat yang tadi masih bertahan di dahannya, kini sudah berhamburan jatuh, mengguyur kami berdua.

"Tadi adalah kali pertama aku mendengar suaranya." Kataku memulai cerita pada Alena.

Gadis di sampingku menoleh, mengernyit heran. Mungkin ia tengah menerka, siapakah dia yang kumaksud.

"Ya, Alena. Setelah bertahun lamanya ia hanya berani menjadi bayangan di belakangku. Yang selalu hilang tiap kali aku menoleh ke belakang. Tapi tadi, entahlah sebuah kebetulan apa yang mempertemukan kita lewat telepon." Aku langsung bercerita tanpa memikirkan apakah Alena mengerti atau tidak.

Tapi kemudian ia berseru, "Aha! Dia! Aku tahu. Oh, benarkah? Bukannya dia sama sekali tak pernah menghubungimu?"

Aku mengangguk. "Sekali pun tidak. Tapi seperti yang kau tahu Alena, dia dekat sekali dengan ayahku. Dia sanggup menelepon ayahku dengan nomor luar negerinya. Percakapan kami yang singkat tadi pun karena dia menelepon ke ponsel ayahku, kemudian tanpa curiga apa-apa aku mengangkatnya. Jantungku seperti berhenti saat dia menyebutkan nama."

"Apa yang ingin dia bicarakan dengan ayahmu, Mariam?" Tanya Alena tak paham.

"Dia menanyakan salah satu lahan yang ia beli dua tahun lalu, tak jauh dari rumahku. Juga bertanya kabar. Sejenis itu. Dia masih sering menghubungi ayahku untuk berbincang ringan. Dia juga bilang, akan segera mengakhiri pekerjaannya di negara orang, ingin kembali ke Indonesia, kemudian mau belajar agama beberapa waktu di pesantren. Ia mengaku lemah pengetahuan agama, jadi ingin belajar lagi."

"Sebuah kegiatan memantaskan diri?" Alena bertanya, tertawa kecil.

Aku memukul pundaknya. "Sekarang aku jadi ingin tahu rupanya, Alena. Aku masih tidak habis pikir dengan semua keputusannya. Sejak ia mengungkapkan maksudnya pada ayahku tiga tahun lalu, kami belum pernah sekali pun bertemu. Tapi mengapa ia bisa begitu yakin denganku? Dia juga tak sekali pun menghubungiku. Aku hanya tahu namanya saja. Selebihnya aku tak pernah berani menanyakan pada ayah atau ibu. Aku membiarkan cerita tentangnya terkubur sebagai misteri. Biarpun begitu, aku sangat menghormati kemuliaan sikapnya yang dewasa. Kurasa laki-laki seperti ini begitu tulus ketika mencintai. Bayangkan, ia hanya melihatku sekali, kemudian mendengar cerita tentangku dari ayahnya, kemudian dengan mantap dia langsung datang bersama walinya pada ayahku. Seperti yang kamu tahu Alena, waktu itu aku sedang berkuliah di kota lain, jadi saat ayah menyampaikan berita kedatangannya sekaligus meminta jawaban, aku menjawab mantap: tidak. Nyatanya, setelah menerima jawaban pahit, ia tetap tak memutuskan silaturrahim. Ia tetap berlaku baik dan sering menelepon ayahku. Betapa anggun sikapnya ini."

"Kenapa kau tak mau memberi satu kesempatan padanya untuk memperkenalkan diri padamu?" Tanya Alena.

"Aku takut." Jawabku jujur. "Aku tak tahu apa alasanku untuk takut. Tapi sejak dulu aku memang tak pernah berani untuk menggali informasi tentang dia. Biarlah seperti ini, Alena. Akan lebih baik jika aku tak tahu banyak tentangnya. Cukup aku tahu namanya, suaranya, dan dimana ia bekerja saja."

"Baiklah jika itu keputusanmu. Tapi jika aku ada di posisimu, aku tidak akan mengabaikan laki-laki seperti ini." Ujar Alena.

Kami terus berjalan menyusuri jalanan berangin ini. Jaket panjang kami beterbangan ke belakang.

Sunday, 25 December 2016

Di Perjalanan Pulang

Hari ini aku pulang,
Ada banyak kelelahan yang ingin kulepaskan di kampung halaman.
Aku juga sudah rindu pada semua masakan ibuku, beberapa di antaranya adalah menu tidak pernah kutemui dimana pun.
Aku rindu pada adikku satu-satunya.
Sekarang dia sedang butuh semangat setelah kemaren-untuk pertama kalinya-ia tidak duduk di peringkat pertama.
Dan tentu saja, aku rindu pada Bapak. Aku ingin shalat di belakang Bapak, mendengarkan suaranya.

Aku juga ingin memberi tahu, nanti aku akan singgah di rumah nenekku.  Untuk satu malam saja. Rasanya sudah tiga atau empat tahun aku belum berkunjung. Aku selalu ketakutan untuk mengunjungi nenek sendirian, aku takut tidak punya bahan pembicaraan. Kadang aku berpikir mereka tidak menyukaiku, karena itu mereka tak pernah memberiku kesempatan untuk bicara. Selalu begitu. Ah, tak perlu dipikirkan. Aku sudah biasa bermain bersama ketakutan seperti ini. Sayangnya, para dokter psikologis dan kejiwaan yang pernah kudatangi selalu mengatakan: itu bukan masalah. Baiklah, mungkin aku yang berlebihan. Semua orang pasti punya rasa takut. Bahkan seorang yang dikatakan pemberani sekali pun. Pemberani itu bukan berarti tidak takut, melainkan bagaimana kita mampu mengendalikan ketakutan. Iya, kan?

Kau tahu, sekarang hujan. Aku baru saja menatap keluar dari jendela mobil yang basah. Tiba-tiba aku teringat dirimu, teringat kita.

Aku lupa kapan pertama kali kita bertemu, dan kapan terakhirnya. Bagiku, semua pertemuan denganmu adalah mimpi yang hanya datang sebentar. Membekas, tapi perlahan memudar seiring lamanya waktu kita berjauhan. Beberapa minggu lalu aku sempat merasakan perasaan yang begitu kuat untukmu, tapi hari ini perasaan itu mulai lemah. Bukan berarti aku menggantimu dengan yang lain. Tidak. Sejak dulu kamu selalu hidup di hatiku. Dan seperti yang kutulis di atas, kadang kau hidup begitu segar dan terkadang layu. Di saat rasa ini jadi lemah seperti ini, kurasa kamu di sana pun mengalami hal yang sama. Terkadang aku jadi khawatir, tapi setelah kembali kupikir-pikir, aku tak punya alasan untuk khawatir.

Satu lagi, untuk pertemuan selanjutnya mungkin aku tak akan datang. Sejak kemaren aku bingung bagaimana harus memasang wajah di hadapanmu. Apa aku harus tersenyum? Atau aku datar saja dan pura-pura tidak tahu? Hingga detik ini aku masih bingung. Aku takut bertindak bodoh, takut semuanya canggung, atau aku justru tak bisa mengeluarkan suara. Kesimpulannya, aku sungguh tak siap berhadapan denganmu.

Hanya itu yang ingin kusampaikan. Jika ada waktu, kau boleh menulis pesanmu untukku juga.

Thursday, 15 December 2016

Al FURQON AL KARIM




Ya Allah, anugerahilah kami dengan hati yang selalu berbahagia, yang selalu bersyukur. 

Ya Allah, jadikanlah Al Quran itu untukku sebagai imam, cahaya, petunjuk, dan rahmat. Ya Allah ingatkanlah aku ketika lupa darinya, dan berikanlah pengetahuan atas kebodohanku, dan berikanlah rezeki kepadaku dengan membacanya sepanjang malam dan siang, dan jadikanlah Al Quran itu sebagai hujjah bagiku wahai Tuhan Pemelihara Alam.

Jadikanlah hati kami merasakan kenikmatan ketika membacanya berlama-lama. Jadikanlah hati kami mampu meresapi hikmah dan keindahan Al Quran. Jadikanlah hati kami terang, seterang ayat-ayat petunjukmu. 

Ya Allah, jadikanlah rasa takut dalam hati kami ketika membaca ayat-ayatmu tentang kabar kematian yang begitu dekat, tentang hari pembalasan, dan neraka-Mu yang membara. Dan limpahilah hati kami dengan kebahagiaan tatkala membaca ayat-ayat tentang nikmat dan surga.

Ya Allah jadikanlah Al Quran sebagai hujjah dan penolongku tatkala aku berdiri di tepian jurang neraka. Jadikanlah Al Quran sebagai sahabat terbaikku, pelipur lukaku, penerang hatiku, peneguh imanku, dan petunjuk dalam hidupku.

Ya Allah, anugerahkan kepadaku imam dan anak-anak yang mencintai kitab-Mu, yang menghapal kitab-Mu, yang mengamalkan kitab-Mu. Ya Allah jadikanlah cita-cita tertinggiku adalah memiliki anak-anak yang saleh dan saleha, yang hapal kitab-Mu, yang membacanya dengan tartil dan menyejukkan, yang dengan Al Quran mereka memeperoleh kemuliaan dunia dan akhirat.

Ya Allah jadikanlah ahli keluargaku adalah ahli Al Quran yang mana mereka adalah ahli keluarga-Mu.

Ya Allah, jadikanlah cinta tertinggiku hanyalah cinta kepada-Mu, kepada rasul-Mu, dan kepada kitab-Mu. Jadikanlah kematian tidak lagi menakutkan. Jadikanlah pertemuan dengan-Mu adalah satu-satunya hal tertinggi yang kudambakan. 

Ya Allah berikanlah kemaslahatan kepadaku agamaku, yang mana agama itu menjadi peneguh dalam urusanku. Dan berikanlah kemaslahatan untuk duniaku karena dunia itu merupakan tempat hidup dan kehidupanku. Dan berikanlah kemaslahatan untuk akhiratku, karena akhirat merupakan tempat kembalinya aku. Dan jadikanlah kehidupanku untuk menambah kebaikanku. Dan jadikanlah kematianku akhir dari segala perbuatan burukku.

Ya Allah jadikanlah kebaikan di akhir umurku, dan jadikanlah sebaik-sebaiknya amal perbutan di akhir hayatku, dan sebaik-baiknya hari ketika aku bertemu dengan-Mu.

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kehidupan yang menyenangkan, kematian yang nyaman, dan tidak dikembalikan kepada tempat yang hina lagi buruk.

Ya Allah aku meminta kepada-Mu perkara yang baik, permintaan yang baik, kemenangan yang baik, pengetahuan yang baik, perbuatan yang baik, pahala yang baik, kehidupan yang baik, dan kematian yang baik. Teguhkanlah aku, beratkanlah timbanganku, kuatkanlah imanku, angkatlah derajatku, terimalah shalatku, ampunilah kesalahanku, dan aku meminta kepada-Mu tempat yang tinggi di Jannah-Mu.

Ya Allah janganlah Engkau sisakan suatu dosa untuk kami melainkan Engkau mengampuninya, dan janganlah engkau sisakan kesusahan untuk kami melainkan Engkau melapangkannya, dan janganlah Engkau sisakan hutang untuk kami melainkan Engkau membayarnya, dan janganlah Engkau sisakan untuk kami atas kebutuhan-kebutuhan dunia dan akhirat melainkan Engkau membebaskannya, Wahai Yang Maha Penyayang.

Ya Allah, kuatkan imanku, terangi hatiku. Kuatkan iman seluruh Muslim, terangi hati mereka dengan cinta-Mu, rahmat-Mu dan cahaya-Mu.

Riau, 14 Desember 2016
Sofia

Setelah Banyak yang Terlewatkan

Lima tahun berlalu,
Dan kemaren,
Kamu datang.
Mungkin tulisanku yang terakhir itu sampai padamu.

Tidak banyak yang berubah,
Selain kamu yang jadi lebih dewasa.

Senyummu masih sama,
Kebaikan di matamu
Juga tutur bahasamu.

Aku masih saja teringat kamu yang dulu,
Saat sepuluh hari itu.
Saat itu kamu jadi pendiam sekali,
Apalagi aku.
Tapi, tanpa disadari kamu menjelma puisi-puisi.
Hingga kini,
Di saat terkadang aku tak lagi berharap apa-apa tentang kita.
Maafkan diriku yang terkadang menunggu telepon, darimu.
Sementara diri sendiri tak pernah berani menghubungimu.
Betapa egois.
Semoga yang satu ini kamu bisa memaklumi,
Bukankah sejak dulu kamu memang paling ahli memaklumiku?
Aku yang dulu masih kanak-kanak sekali, sementara kamu harus begitu sabar.

Baiklah,
Selesaikan urusanmu,
Terimakasih untuk cokelat dan kartu ucapan permintaan maafmu,
Dan semoga nanti,
Kita bertemu lagi.

Satu hal yang perlu kamu tahu,
Aku pun membaca semua tulisanmu.

Sunday, 11 December 2016

Jangan menangis, Fatihku sayang




Amerika menawarkan keindahan yang memanjakan, terutama gedung-gedung pencakar langit yang selalu membuat mata anak-anak berbinar. 

Jalanan yang rapi, taman-taman kota yang terpelihara, transportasi umum yang bersih, dan manusia-manusia yang berjalan dengan langkah cepat. Semua itu menarik perhatian Fatih. Sejak pertama kali kedatangan di kota Houston, ia tidak melepaskan pandangan sekali pun keluar jendela. Wajah lucunya tidak bisa menyembunyikan kekaguman dan kebahagiaan.

Sam dan Jimmy berpisah di bandara. Jimmy pulang ke apartemen yang terletak di Dallas, sedangkan Sam kembali ke rumahnya di kawasan Spring, sebuah rumah bergaya classic dengan warna putih yang menawan.

Ada sepuluh kamar tidur yang mengisi rumah besar milik Sam, sebuah ruang tamu megah, halaman yang luas dilengkapi taman-taman dan labirin, juga sebuah kolam renang berair biru seukuran lapangan futsal. 

Fatih ditempatkan di salah satu kamar di lantai dua, berhadapan dengan kamar tidur Sam. 

Seorang lelaki berumur 63 tahun asli Amerika dan bisa berbahasa Indonesia dengan fasih diminta Sam sebagai penerjemah, sekaligus sebagai pengasuh Fatih. Nama aslinya John Abraham. Tapi ia lebih senang dipanggil Jono, sebuah nama dari mendiang istri. 

Jono hidup sebatang kara setelah istrinya yang asli Indonesia wafat dua tahun lalu. Dari cerita Jono, ia bersama istri pernah tinggal di Indonesia dari tahun 1990 hingga 1998. Reformasi yang diwarnai dengan bentrokan di segala penjuru Indonesia membuat Jono khawatir. Dan kemudian sang istri diajak untuk kembali ke Amerika. Tiga puluh lima tahun berkeluarga, hidup saling mencintai, namun mereka tidak dianugerahi seorang anak pun.

Jono tinggal di rumah milik keluarga Sam sudah sejak bujangan dulu—sejak ayah Sam masih hidup. Sekembalinya dari Indonesia beserta istri, ia juga kembali ke rumah ini. Entahlah, rasanya Jono sudah sangat nyaman bersama Sam. Laki-laki pemilik biro hukum kenamaan itu sudah dianggap putranya sendiri. 

Sam meminta Jono untuk mengantarkan Fatih ke kamar. Tanpa berniat untuk menemani masa-masa adaptasi putranya, Sam langsung berjalan menuju kamarnya sendiri. Sebuah kamar tidur yang sangat luas. Tempat bersejarah tentang cintanya bersama mantan istri. Ia bahkan melarang asisten rumah tangga mencuci seprei terakhir yang ditiduri Katty. Saat sedang merindukan Katty, sprei itu akan ia peluk sambil berusaha menemukan aroma Katty yang masih tertinggal di sana.

“Kamu tidak berniat menemani anak ini untuk melihat kamarnya, Sam?” Jono bertanya saat Sam hampir menyusup masuk ke kamar.

Sesaat Sam seperti berpikir, kemudian mengangkat tangan. “Aku lelah. Aku yakin Paman bisa jadi teman yang baik untuknya.” Ia ingin melangkah, namun urung. “Dan, oh, tolong Paman perintahkan Frans membawakan wine ke kamarku.” Frans adalah salah satu asisten di rumah ini.

Jono masih terheran-heran, namun malas untuk mendebat. “Baik, Nak. Selamat beristirahat.”

Sam tersenyum datar, mengangguk, lalu hilang di balik pintu. Jono mengusap kepala bocah yang sejak tadi berdiri di sampingnya dan memperhatikan mereka berbicara. 

“Ayo, Nak. Biarkan ayahmu beristirahat. Setelah lelahnya hilang, ia pasti akan mengajakmu berkeliling rumah besar ini. Dia senang sekali membaca buku di halaman yang ada di depan rumah, kupikir dia pasti akan membacakan satu cerita di sana saat musim semi tiba.” Ucapnya sambil membimbing Fatih menuju kamar. Ucapan yang sebenarnya ia sendiri tidak yakin.

Sebuah kamar anak laki-laki yang ideal. Didesain oleh tangan profesional sehingga menghasilkan perpaduan yang sempurna. Sehari sebelum kembali ke Amerika, Sam menelepon. Ia perintahkan desainer ruang langganan untuk mengatur ulang kamar tersebut. Selain dilengkapi satu set komputer merek canggih, televisi dengan lebar layar di atas rata-rata, ditambahkan juga ring basket di salah satu sudutnya. Di sisi yang lain, berjejer aneka perlengkapan olah raga seperti papan skateboard, sepatu roda, bola bisbol, bola kaki, dan banyak lagi. Mungkin Sam mengira, anak laki-lakinya tumbuh dengan minat seperti anak-anak Amerika kebanyakan.

“Inilah kamarmu. Kurasa kamu ingin mandi sekarang. Silakan, itu kamar mandimu.” Jono menunjuk sebuah pintu di bagian kiri kamar.

“Aku ingin shalat, paman Jon. Kak Naela dan Umi pasti marah kalau tahu aku sudah meninggalkan  banyak shalat selama di pesawat.” Kata Fatih sambil melepaskan tas punggung. 

Lelaki tua itu membuka mulut, tidak menyangka anak sekecil Fatih ingat pada ritual-ritual seperti yang baru saja disebutkan. Shalat? Ah, ia juga pernah melakukannya. Dulu sekali. Tapi semenjak ia dan sang istri kembali ke Amerika, kegiatan itu ia tinggalkan. Istrinya selalu mengingatkan agar ia menunaikan ibadah tersebut, tapi rasa malas mengalahkan segalanya. 

“Oh, anak yang baik. Silakan shalat, Mr. De Bruyne kecil. Aku akan menunggumu di sini.”

“Paman Jon tidak mau kita shalat bersama?” Fatih kembali bertanya. Wajah lucunya terlihat polos.

Lagi-lagi Jono merasa tersentak. Ia merenung, namun segera menggeleng seraya tersenyum bijak. “Tidak, Nak. Aku sedang sakit pinggang.” Ia beralasan.

Fatih memahami alasan yang diberikan pengasuhnya itu. Setelah memberi tahu bahwa Jono harus segera minum jamu pengurang rasa sakit, bocah itu beranjak ke kamar mandi. Bunyi air yang jatuh ke lantai terdengar gemericik. Entah mengapa, Jono menyukainya. Bunyi itu sama seperti bunyi yang diciptakan oleh sang istri saat membasuh anggota tubuh sebelum shalat. 

Dua menit kemudian, Fatih sudah keluar dan segera mencari sarung dalam kopernya. Ia kenakan sarung tersebut. Lipatan di pinggang ia gulung dengan cekatan. Sebuah peci karet berwarna putih dengan garis biru ia taruh di atas kepala, menutupi rambut pirangnya yang bergelombang. 

Fatih shalat di atas lantai dengan alas sajadah kecil yang telah disiapkan Naela di dalam koper. Dari tempat ia duduk, lelaki tua itu memandangi dengan perasaan haru. Dulu, istrinya juga bermimpi untuk memiliki anak laki-laki yang taat beribadah. Tapi sayang, impian itu harus mereka kubur dalam-dalam setelah dokter mendiagnosa dirinya sebagai laki-laki mandul. Kini Jono bisa merasakan, betapa bahagia sang istri saat melihat anak mereka melaksanakan shalat seperti bocah yang ada di depannya.

“Paman Jon, kenapa diam saja? Oh iya, aku sudah mendoakan agar sakit pinggang paman cepat sembuh.” Setelah selesai shalat, bocah itu berkata sambil melipat sarung.

Jono tergagap, sadar dari lamunannya. “Terimakasih, anak baik. Ayahmu pasti bangga punya anak secerdas dirimu.”

Sore ini setelah menemani Fatih memasukkan pakaiannya ke dalam lemari, Jono membiarkan bocah itu tidur. Karena kelelahan, Fatih bisa tidur dengan cepat dan sangat pulas. Ia sempat minta agar Jono menelepon kakak dan Uminya di Indonesia, tapi laki-laki tua tersebut beralasan tidak memiliki nomor yang bisa dihubungi. Meski kecewa, Fatih masih bisa terima. Ia mohon pada Jono untuk segera minta nomor kakaknya kepada Sam.

Malam hari setelah selesai makan malam dan shalat Isya, Fatih minta diantar menemui Sam. Ia penasaran ingin lihat ada apa saja di dalam kamar ayahnya.

“Nak, putramu ingin bertemu.” Jono menempelkan telinganya di pintu kamar Sam, setelah mengetuknya sebanyak tiga kali. Ia memang terbiasa memanggil Sam dengan panggilan ‘nak’, karena ia kenal Sam sejak Sam masih kecil. Jono adalah teman baik ayah Sam. Karena itu pula, Jono tahu semua yang terjadi di masa lalu Sam. 

Sedikit samar-samar, namun masih bisa tertangkap cukup jelas di telinga laki-laki tua itu, Sam sedang berbincang di telepon. Mereka menunggu sekian menit hingga akhirnya gagang pintu ditarik dari dalam.

“Yes, Uncle Jhon.” Logat Amerika Sam tidak bisa melafalkan nama Jono dengan tepat. Wajahnya datar saja, pun setelah pandangannya turun pada si kecil Fatih.
Jono ulangi kalimatnya. Kedua tangan ia letakkan di atas bahu Fatih. “Fatih ingin bertemu denganmu.” 

“Oh, ingin bertemu? Aku sedang sibuk sekali, Paman. Mungkin Paman bisa ajak dia main basket di ruang bawah. Kudengar, Steven menambahkan ring basket mahal di sana.” Steven adalah desainer ruang yang mengatur kamar Fatih, juga semua sisi rumah megah ini, termasuk sebuah ruangan indoor luas untuk gym dan olah raga.

“Tapi putramu tidak tertarik dengan olahraga. Dia sangat sedih saat tidak menemukan satu buku cerita pun di kamar barunya. Dan, oh, dia ingin aku menelepon kakak dan neneknya di Indonesia. Bisakah aku dapatkan nomor telepon mereka?”

Beberapa saat Sam memandangi wajah Fatih dengan tatapan aneh, “Tidak berminat pada olahraga? Oh, wanita sialan itu sudah salah mendidik anak ini. Katakan padanya, mulai sekarang ia harus meninggalkan cerita-cerita dongeng dan mulai belajar mencintai olahraga. Katakan juga padanya, mulai sekarang dia harus hidup dengan cara Amerika. Dan laki-laki Amerika akan lebih dihargai saat mereka punya tubuh bagus. Uhm, tentang nomor telepon, aku tidak ingat pernah menyimpannya di mana. Rasanya tidak ada di ponsel.” Ucap Sam sebelum menarik tubuhnya kembali ke kamar. “Selamat malam.” Dan pintu kamar itu kembali tertutup.

Sejak saat ini, Jono tahu satu hal, bahwa sang majikan tidak pernah menyayangi putranya dengan kasih sayang seorang ayah. Sambil menelan ludah kecewa, laki-laki tua itu mengajak Fatih kembali ke kamar. 

“Ayahmu bilang dia sangat senang memiliki anak pintar sepertimu. Mungkin dia akan membelikan buku-buku besok. Jadi apa rencanamu sekarang Mr. De Bruyne kecil, bukankah akan lebih seru kalau kita menonton film kartun bersama?”

“Iya, paman Jon. Aku juga sudah lama tidak menonton kartun.” Sahut Fatih dengan suara riang. 

Mengalihkan kekecewaan seorang anak kecil memang selalu lebih mudah. Kalimat ini ada benarnya, meski tidak seutuhnya benar. Karena pada kenyataannya, setelah selesai menonton kartun, Fatih beranjak tidur sambil menutupkan selimut hingga kepala. Bocah itu menangis merindukan Naela dan Umi Dian. Ia juga kecewa karena ternyata Om Dad-nya tidak lagi perhatian dan mau mengajak bermain seperti dulu.

“Jangan menangis, Fatihku sayang...” suara Naela menyusup halus di telinga bocah 5 tahun itu. Membekas dalam saraf-sarafnya. Kalimat itu terus diingat Fatih hingga jatuh tertidur.

Cukup lama ngubek-ngubek google buat nemuin karakter Fatih yang pas dengan imajinasiku. Akhirnya terpilihlah bocah ini.

Friday, 9 December 2016

Untuk Bapak 2

Bapak,
Apa kabar ladang kita?
Apa kabarnya kawanan burung di kebun kita?
Apa kabar rumpun bunga ungu yang dulu selalu kepetik mahkotanya?

Bapak,
Aku rindu diriku yang kecil dahulu
Aku rindu saat langkah kaki kecilku mengikutimu ke kebun
Kemudian kau membuatkanku rumah-rumahan
Dan di sana aku akan menungguimu bekerja
Aku akan memakan bekal kita hingga tersisa setengah
Aku akan mencari bunga dan belalang
Dan, sesekali aku juga ketiduran.

Bapak,
Aku rindu duduk di belakang boncengan sepedamu
Seperti dulu
Tiap kali sore hari Ramadhan
Lalu kau mengajakku singgah di toko buku
Kau membelikanku buku kisah Nabi dan Rasul, juga buku-buku doa

Bapak,
Aku rindu menjadi putri kecilmu
Aku rindu rumah kita
Aku rindu desa kita
Pulau kita

Bapak,
Aku rindu mengaji bersamamu
Aku rindu suaramu yang mengumandangkan azan
Aku rindu dirimu yang muda dahulu

Bapak,
Aku ingin pulang
Pulang ke rumah kita
Bersamamu dan Ibu
Aku ingin duduk di pangkuanmu
Sebagai putri kecilmu.

Pertemuan Pertama

Ada yang istimewa pada pertemuan pertama,

Adalah ketika engkau berkata:

"Aku sedang berpuasa"

Dan,

"Sudah azan, bolehkah aku tinggalkan sebentar diskusi kita untuk shalat ke Masjid?"



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...