Wednesday, 25 December 2013

Ceritaku di Angkot Kampus Dalam: Dari Balai Pustaka Sampai ke India



Sumber: klik di sini


Pukul 05.30 pagi tadi aku sudah rapi dan segera meninggalkan kontrakan dengan tas ransel yang beratnya lumayan. Laptop, minuman, buku, jas almamater komunitasku, dan celana ganti. Tujuanku tentu saja Dramaga, karena ada dua rapat yang harus kuikuti. Yang pertama dengan kru majalah dan kedua dengan panitia Semarak Ulang Tahun CSS MoRA IPB. Rapat dengan kru majalah dimulai pukul 06.00, jadi aku sudah yakin bakal terlambat. Jarak Baranang Siang-Dramaga minimal bisa ditembus dalam waktu hampir satu jam, belum lagi urusan macet dan angkutan yang ngetem seenak jidat. Awalnya aku berniat untuk izin tidak mengikuti rapat dengan kru majalah karena waktunya yang terlalu pagi, tapi mengingat jalanan di depan sana yang akan semakin ramai seiring matahari yang semakin tinggi, dan aku paling fobia soal menyebrang jalan, jadi kuputuskan untuk berangkat pagi sebelum jalanan ramai.


Perjalanan dari Baranang Siang hingga Laladon bisa dibilang sangat lancar. Udara masih sejuk, angkotnya juga tidak ngetem di stasiun, dan supirnya menyetir tidak ugal-ugalan. Hanya butuh dua puluh menit aku sudah tiba di Laladon, selanjutnya aku harus berganti trayek angkot, yaitu angkot biru jurusan Kampus Dalam. Hampir lima menit aku menunggu angkot Kampus Dalam itu keluar dari kandangnya. Tentu saja aku jadi orang pertama yang duduk di sana. Wah, pasti lama sekali ngetemnya. Tak beberapa lama pak supir yang tadinya keluar datang dan duduk di belakang stirnya.

“Kalau liburan mah sepi, Neng. Malam tadi yang ramai, sampai pukul 02.00 Bapak ngantarin anak-anak. Katanya pada pulang nonton. Memang ada film apa, ya?” Tanya Bapak Supir yang kutebak berumur di atas enam puluh tahun.

“Ada 99 Cahaya di Langit Eropa, ada juga Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Pak.” Jawabku sambil sibuk dengan ponsel.

“Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk itukan cerita lama, Neng. Pernah diterbitkan di BP. Pernah difilmin juga dulu. Neng tahu BP?”

Aku menggelengkan kepala. Tertawa sambil mengatakan tidak. Selanjutnya Bapak itu seperti kecewa. Ia menanyakan jurusanku dan tahun lulus SMA. Ia juga sempat menceritakan kembali kronologi tenggelamnya kapal Van Der Wijk. Ada juga beberapa konferensi dan pertemuan-pertemuan jaman dulu yang ia sebutkan dan aku lupa namanya.

“Kok bisa nggak tahu BP? Coba ingat-ingat lagi. Tahu novel Salah Asuhan karya Abdul Muis?”

“Tahu dong, judulnya aja, Pak.”

“Novel Siti Nurbaya? Azab dan Sengsara? Layar Terkembang? Di Bawah Lindungan Kakbah? Belenggu?”

Aku kembali mengatakan bahwa itu judul novel-novel yang sering muncul di buku bahasa Indonesia dulu dan aku hanya sekadar tahu, belum pernah membacanya. Bapak itu tersenyum sambil geleng-geeng kepala. Ia kemudian menyebutkan nama-nama pengarang novel-novel tersebut, dan sedikit tentang Si Penulis.

“Kalau buku Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Armijn Pane?”

“Tahu, Pak. Itu kumpulan surat-suratnya RA. Kartini, bukan?”

“Nah, gitu pintar. Jadi Habis Gelap Terbitlah Terang itu bukan novel, melainkan cuma berisi surat-suratnya Kartini untuk teman-temannya yang pindah ke Belanda. Kalau sekarang isi buku ini lebih dikenal dengan pelopor emansipasi wanita. Jadi sudah tahu apa kepanjangan BP?”

Sejauh percakapan kami, jujur aku merasa heran dengan Bapak Supir ini, ia tampaknya hapal di luar kepala tentang novel-novel lama itu. Jarang sekali ada supir yang memiliki minat seperti Bapak ini.

“Hmm...BP? Balai Pustaka!!!” ucapku sumringah, bahagia seperti seseorang yang mampu menjawab soal terakhir pada kuis Who Wants To Be Millionare saja. 

“Kok bisa kepikiran ke Balai Pustaka?”



“Ya..hmm...nyambung aja ke sana. Lagipula kayaknya nama Balai Pustaka itu nggak asing. Benar kan, Pak?”

Bapak itu tersenyum lagi dan mengangguk. Aku berucap ‘yess’. 

“Percaya nggak kalau Bapak ini pensiunan Balai Pustaka?”

Aku diam sejenak. Masak iya ada pensiunan penerbit segitu besarnya yang menjadi supir angkot? 

“Bisa jadi, Pak. Soalnya Bapak tahu banyak tentang buku-buku dan penulisnya.”

“Percaya, nggak?” tanyanya lagi seolah dia hanya meminta kepastianku.

“Percaya.” Jawabku akhirnya

“Nah, kalau Neng percaya, ini Bapak tunjukkan kartu identitas Bapak ketika bekerja di BP.”

Bapak itu mengulurkan kartu kecil berwarna biru. Aku membolak-balikkannya sejenak lalu memberikannya kembali padanya. 

“Dua puluh tahun Bapak bekerja di BP, Neng. Dari tahun 1990 hingga 2010. Sudah tahu tentang BP sampai akar-akarnya. Dulu kita karyawan BP hidup makmur, Neng. Gajian 15 kali dalam setahun, bahkan pernah sampai 16 dan 17 kali. Bagaimana coba bisa sampai gajian 15 kali?”

“Gajian setiap bulan selama setahun, 12 kali. Tiga kali lagi...hmm...nggak tahu saya, Pak.”

Kemudian dengan penuh semangat Bapak itu menguraikan bahwa tiga sisanya adalah: uang THR, uang ketika ada hal-hal yang berhubungan dengan sekolah seperti ujian, dan yang ketiga ketika??? (Aduh, maaf aku lupa).

“Nggak ada yang bisa memberi kenyamanan pada karyawan seperti di BP. Yang bisa nyamain ketika itu cuma Pertamina, Neng. Tapi sayang, Balai Pustaka harus ditutup, bangkrut. Kita para karyawan diberi pesangon setelah setahun kemudian. Pesangonnya lumayan banyak, ratusan juta. Tapi keterlambatan itu membuat karyawan kesal dan kecewa. Bapak sendiri sedih mengenang penerbit tertua itu harus tutup atas nama bisnis tanpa air mata. BP itu saksi perjalanan literasi Indonesia, Neng. Ia yang memonopoli penerbitan buku pada masa kolonialisme. Saksi perjuangan tokoh-tokoh bermisi literasi yang menggerakkan Indonesia melalui sastra.” kenang Bapak itu dengan mata menerawang.

Bapak itu selanjutnya menceritakan tentang dirinya. Ia yang disuruh skolah PGRI oleh orang tuanya namun tidak mau. Dan perjalanan hidup akhirnya membawanya sebagai supir angkot. Ia juga mengatakan bahwa ia berteman baik dengan Taufik Ismail, bahkan pernah berkali-kali menginap di rumah sastrawan dan budayawan itu. Ia menyebutkan nama istri Bapak Taufik yang kemudian aku tahu bahwa wanita itu telah meninggal. Bapak Supir itu juga bilang bahwa ia sudah sering mengantarkan Bapak (aku lupa namanya) kemana-mana. Yang jelas orang yang disebutkannya ini pernah memimpin BP dan beberapa jabatan bergengsi lainnya hingga jadi Dubes. Bapak itu juga menceritakan sebab-sebab gulung tikarnya BP oleh ‘seseorang alumni IPB’. Yang jelas Bapak Supir itu menceritakan dengan detail hanya saja aku tidak kepikiran untuk merekam, jadinya lupa deh hal-hal detail seperti nama, tahun, dan beberapa hal lain. Bahkan aku tidak sempat menanyakan nama Bapak Supir berkaca mata itu.

Percakapan tentang BP selesai. Waktu menunjukkan pukul 06.30 dan masih aku sendiri yang duduk di kursi belakang angkot itu. aku mulai resah. Tapi sebisa mungkin tidak kuperlihatkan.

Selanjutnya Bapak itu menunjukkan foto ketiga anaknya. Bapak ini sudah tua, tapi anak paling tuanya aja masih duduk di bangku SMP. Aku tiba-tiba dihinggapi rasa kasihan.

“Ini anak Bapak yang perempuan. Mirip orang India, kan?”

Aku mengangguk. Menjawab iya.

“Bapak kan dari Aceh. Di Aceh itu ada tiga jenis orang selain Aceh asli, mata sipit keturunan China, Kulit putih mata biru keturunan Eropa dan kulit agak gelap hidung mancung keturunan India. Masih ingatkan tentang kerajaan Islam pertama di Indonesia?”

“Samudra Pasai.” Jawabku cepat dan dibetulkan oleh Bapak itu.

“Ngomong-ngomong soal India, siapa aktor favoritnya Neng?”

“Hmm...Aamir Khan.”

“Kalau Bapak itu bukan levelnya, Neng. Mungkin soal umur. Bapak kenalnya Dharmendra yang sekarang anaknya juga jadi artis, Bobby Deol dan Sunny Deol. Terus Amitabh Bhachan, Dev Anand, Rekha, Hema Malini, Rishi Kapoor, Annil Kaporr...” sebutnya dengan nama-nama lainnya yang aku tidak ingat. Hebat! Bahkan Bapak ini tahu tentang kehidupan para artis jaman dulu itu, semua judul filmnya hingga lagu-lagunya, bahkan juga nama-nama grup dancer yang mengiringi lagu-lagunya. Aku hanya mangguk-mangguk karena memang tidak tahu. Berbeda kalau Bapak itu bercerita tentang Aamir Khan, Shahrukh Khan, Salman Khan, Abhisek Bachan, Uday Copra, Imran Khan, Aditya Roy Kapoor, Ajay Devgan, Jirmy Sergil, Arjun Rampal, Kajol, Preity Zinta, Kareena Kapoor, Rani Mukherjee, Katrina Kaif, Shraddha Kapoor, dan artis-artis yang sekarang masih eksis. Aku pasti paling nyambung.
 
Sumber: klik di sini

“Tahunya kuch kuch ho ta hai ya, Neng?”

“Abis yang Bapak sebutkan itu artis-artis dan film-film yang eksis sebelum saya lahir, sih.” Ucapku yang membuat Bapak itu terkekeh.

“Bahasa India itu akar bahasanya dari bahasa Urdu, Neng. Terus dicampur-campur sama bahasa Inggris. Tahu kenapa?”

“Biar keren aja lah, Pak.” Jawabku sekenanya.

“Karena India bekas jajahan Inggris.” Ucap Bapak itu membuatku malu setengah pingsan. Aduh, ketahuan banget sih o’on-nya.

“Hayo, ada tahu bahasa India nggak?”

Aku kembali menggeleng.

“Dibilangin bahasa India itu mirip sama bahasa Inggris. Coba ya, ‘saya’ bahasa Inggris-nya apa?”

“I [ai].”

“Yang lain?”

“Me [baca: mi]”

“Nah, kalau bahasa India-nya ‘saya’ itu ‘me [baca: me]’. Kalau ‘kamu’ apa?”

“Tum.” Jawabku sambil tertawa.

“Kok pinter?”

“Iya, dong.”

“Bapak itu suka sama film India karena jalan ceritanya itu tidak jauh berbeda dengan kenyataan. Anak Polisi jadi penjahat. Anak penjahat jadi Polisi. Kasus sengketa tanah.”

Bapak itu terus bercerita sementara hatiku mulai gelisah. Sekarang sudah tepat pukul 07.00 dan itu artinya aku sudah pasti terlambat satu jam. Baru setelah sepuluh menit kemudian angkot terisi oleh empat mahasiswa lain dan Bapak Supir itupun segera tancap gas menuju Kampus Dalam. 

Biarpun ngetemnya lama, tapi aku merasa dapat pengetahuan dari Bapak itu. Karena pembicaraan tadi aku jadi tertarik untuk mengetahui tentang Balai Pustaka. Tadi sehabis maghrib aku sudah membacanya di internet. 
 
Sumber: klik di sini
Kita tak memerlukan juru selamat untuk membuat Balai Pustaka terus hidup. Negara sudah abai literasi. Uang terus jadi godaan di dunia perbukuan. Nasib Balai Pustaka seolah takdir: selesai setelah melalui jalan waktu. Kita masih bisa menaruh buku-buku terbitan Balai Pustaka edisi lawas di rak. Buku-buku itu bakal bercerita, mengingatkan akan sejarah bahasa dan napas sastra di Indonesia. Kita juga bisa mengenang Balai Pustaka dari petikan-petikan biografi para tokoh sastra. Balai Pustaka bukan sekadar institusi penerbitan, buku, perpustakaan. Balai Pustaka adalah Indonesia dalam selebrasi bahasa dan pesan.”

Tulisan di atas cukup membuatku terharu. Semoga Bapak Supir itu dan semua pekerja di Balai Pustaka dahulu selalu berada dalam perlindungan-Nya. Melalui tangan dan pemikiran merekalah sastra Indonesia bisa seperti sekarang. Balai Pustaka adalah sejarah literasi yang agung, tempat penulis legendaris negeri ini membesarkan karyanya, tempat buku-buku yang merekam kisah-kisah masa lalu Indonesia, dan tempat para sastrawan kita berjuang dengan senjata kata. Semoga kita bukan termasuk dari mereka yang mengabaikan sejarah.


 Bogor, 25 Desember 2013




Tuesday, 24 December 2013

Journey: Taman Bunga Nusantara

sumber: klik di sini
“Ayooo...buruan pada mandi!!!! Terus siap-siap!!!” pekikku pada kedua teman kontrakanku. Ya, tinggal kami bertiga yang menghuni kontrakan selama seminggu ke depan, yang lainnya tentu lebih memilih pulang ke kampung halaman. 

Akhirnya pukul 08.00 yang sudah direncanakan harus molor sampai pukul 09.00 pagi. Baru deh kita nongol dari pintu kontrakan. Aku memilih baju pink garis-garis hitam plus shawl pink juga. Baju ini adalah baju kesukaan untuk saat ini, karena ringan aja dibuat hang-out. Sebenarnya aku masih punya baju dengan model serupa, tapi lagi males aja sama warnanya. Eh, kok jadi cerita soal baju, sih?

Kita kemudian memilih angkot nomor 03 trayek Br. Siang-Bubulak yang membawa kami menuju terminal Br. Siang. Bermodalkan pemandu perjalanan dari Mbah Google, kita jadi tahu bahwa angkutan yang akan kita gunakan selanjutnya adalah mobil L300 putih tanpa AC. Hampir lima menit juga kami mencari-cari sosok mobil itu. Dan akhirnya dipertemukan juga setelah ditunjukkan oleh pedagang asongan.

“Ayo Neng, buruan masuk, ini mah nggak pakek nunggu penuh, langsung jalan.” seru si pedagang  asongan yang bohong 100%. 

Emang kita anak SD, Pak? Mana ada mobil beginian yang mau mengantarkan 3 penumpang dari Bogor ke Cipanas. 

Biar begitu, kita tetap masuk juga, memilih menunggu di dalam biar nggak kebagian tempat duduk paling belakang.

Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Empat puluh menit. Dan setelah jam menunjukkan pukul 10.15 mobil tua itu baru meninggalkan terminal. Bayangkan, kami harus nunggu tuh mobil ngetem selama 1 jam lebih beberapa menit. Wajah sudah kusut. Kesal juga. Sebenarnya bukan cuma karena ulah si sopir yang menyebalkan, tapi juga karena para pedagang asongan yang kebanyakan nggak tahu sopan santun. Memaksa membeli dan jika kita bilang tidak, respon mereka justru tidak bersahabat, membanting pintu, bergumam seperti lebah yang kerasukan, buang air kecil sembarangan, dan berbagai hal menyebalkan lainnya. Belum lagi asap dari sebuah bakaran ilegal yang menyulap suasana pagi tadi makin sumpek.

“Neng, belilah ini,  cuma 2500 rupiah.” Tawar si pedagang asongan yang tadi menunjukkan mobil yang kami tumpangi. Aku melirik apa yang ia jajakan. Makanan dalam bungkusan daun apa gitu. Jujur aku tidak tahu nama makanan itu.  Sebagai apresiasi, aku mengeluarkan uang Rp.10.000. 

“Saya beli 2500 rupiah saja, Pak.” Ucapku sambil mengulurkan uang.

“Ini empat, Neng! Beli 10.000 aja, ya...” katanya lalu bergegas pergi. 

Aku mangap heran. Hey, uangku...!!! Niatku awalnya sih baik, tapi karena diperlakukan seperti ini, aku jadi tidak ikhlas. Aku hanya bisa bersungut dalam hati. Ada lah ya penjual seperti itu.

“Ah, terminal Indonesia bikin malu.” Aku sempat berucap seperti ini pagi tadi. 

Setelah mobil buntut yang mesinnya terbatuk-batuk itu keluar dari terminal, hatiku terasa sedikit lebih lapang. Selanjutnya kami memasuki tol arah Ciawi, melewati Puncak, dan terus meluncur hingga tiba di simpang Cipanas. Sesampai di sana, aku sedikit lupa dengan warna angkot yang kubaca di google kemaren. Warna apa, ya?

Daripada pusing, kamipun memilih angkot dengan warna kuning hitam. Walhasil kami diturunkan di simpang yang lain (4 km dari TBN) dan harus berpindah ke angkot berwarna kuning ungu. Padahal seharusnya bisa sekali jalan aja, lho. Jadi cukup manunggu angkot berwarna kuning ungu ketika tiba di simpang Cipanas, maka angkot itu akan membawa sampai tujuan. 

Melihat tempat tujuan sudah di depan mata, hati kamipun berubah cerah meriah, berbanding terbalik dengan langit yang tertutupi mendung kelabu. Kami berjalan cepat menuju loket tiket dan tak sampai lima menit, tiga tiket plus satu peta sudah lekat di genggamanku. Harga tiket masuk Rp.25.000/orang, ya. Setelah masuk, kami terlebih dahulu mencari mushola karena sudah masuk waktu zuhur. Shalat selesai, dan kita meluncur mencari pengganjal perut. Kamipun memilih Cafe Marigold yang menjual aneka makanan Nusantara. Wow, harganya dua kali hingga tiga kali lipat semua. Mie baso dan lemon tea menjadi pilihanku. Hampir satu jam kami duduk di cafe itu. Selain makan, kita juga ngepo’in para turis yang berjejalan di sana. Lumayan buat cuci mata.

Sebelum sesi keliling-keliling plus photo hunting, sebaiknya kita baca dulu sejarah TBN ini, yuuk... Check it out!!!

Sejarah Taman Bunga Nusantara

Sumber: klik di sini
Taman Bunga Nusantara merupakan taman display bunga pertama di Indonesia. Taman ini dilengkapi dengan berbagai koleksi tanaman berbunga yang terkenal dan unik dari seluruh dunia. Dengan beratus varietas tanaman berbunga di taman, Taman Bunga Nusantara benar - benar menjadi tempat dimana bunga - bunga dari seluruh dunia tumbuh. Kami menampilkan areal yang sangat luas bagi pertumbuhan bunga - bunga dari Amerika Selatan,  Australia,  Afrika serta Asia. Kami memiliki lahan display bedding plant seluas 50.000 m2 .

Ibu Dani Bustanil Arifin , pemakarsa sekaligus Ketua Umum Yayasan Bunga Nusantara, beserta anggota lainnya mulai merintis pembangunan taman ini pada tahun 1992, dan secara intensif pelaksanaan pembangunan tahap awal taman dimulai sejak tahun 1993. Tujuan utama pembangunan taman ini bagi Yayasan Bunga Nusantara adalah menciptakan Taman Bunga Nusantara sebagai salah satu aset wisata  berbasis wisata agro nasional dengan skala internasional. Selain itu, tujuan lain diciptakannya Taman Bunga Nusantara adalah:


  1.  Membantu Pemerintah di bidang pembangunan agrowisata.
  2. Menyediakan fasilitas dan sarana untuk penelitian, pendidikan, dan meningkatkan  kreatifitas masyarakat.
  3. Membantu meningkatkan pertumbuhan sektor ekonomi, pendapatan daerah dan masyarakat khususnya petani bunga. 
  4. Melestarikan tanaman langka dan wawasan lingkungan hidup. 
  5. Lapangan kerja masyarakat sekitar.
  6. Meningkatkan cinta masyarakat akan bunga sebagai sumber pendapatan dan kesejahteraan.
  7. Menyediakan tempat rekreasi yang sehat bagi wisatawan domestik dan mancanegara.
  8. Mencari sumber pertumbuhan baru di sektor pertanian. 

Kemashuran Yayasan Bunga Nusantara dalam melakukan pengembangan di bidang bunga telah dikenal dunia sejak keikutsertaannya dalam parade kendaraan hias Tournament of Roses di Pasadena, California.  Peran serta Yayasan Bunga Nusantara dalam tournament ini juga ditujukan untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa  Indonesia mampu menumbuhkembangkan tanaman hias khusunya bunga.

Dalam keikutsertaanya selama lima tahun, Yayasan Bunga Nusantara selalu memperoleh penghargaan atas karya-karyanya.

Disinilah timbul keinginan untuk membuat taman bergaya internasional yang keberadaannya akan diakui oleh masyarakat internasional.

Untuk merayakan pembukaan akbar dan memperingati 50 tahun kemerdekaan Indonesia, Presiden Soeharto memimpin upacara pembukaan Taman Bunga Nusantara pada tanggal 10 September 1995 serta menandatangani sebuah batu peringatan di Taman Bunga Nusantara, sementara Ibu Tien Soeharto (alm) meresmikan penggunaan Menara Pandang setinggi 28 meter.

Pada tanggal 10 September 1996, Taman Bunga Nusantara  memperingati hari ulang tahunnya yang pertama sekaligus membuka lahan baru berupa taman bermain, Alam Imajinasi. Ibu Try Sutrisno berkenan hadir dalam pembukaan ini dan meresmikan pengoperasian areal bermain anak Alam Imajinasi. Taman bermain seluas tujuh hektar ini terletak tepat dibelakang Areal  aman bunga. Dengan sepuluh jenis permainan diantaranya go-carts, bom bom boat  dan kereta api uap dengan model yang sangat kuno , taman ini menjanjikan keceriaan yang luar biasa bagi anak - anak maupun orang dewasa.

Taman Bunga Nusantara adalah tempat yang tepat sebagai sumber inspirasi bagi para pecinta taman amatir maupun profesional. Bagi keluarga yang mencari lingkungan yang indah, sehat, segar, dan penuh ketentraman jauh dari hingar bingar kehidupan kota, taman inilah yang menjadi tujuan utama. Taman Bunga Nusantara tentu juga akan menjadi tempat yang menarik bagi wisatawan hingga tergugah kecintaan pada bunga yang begitu banyak digelar didalam satu taman, bagi para fotografer yang menginginkan berbagai pilihan objek foto yang indah dan menawan. Begitupun bagi sinematografer, tempat ini dapat digunakan sebagai studio alam terbuka untuk berbagai shooting film, sinetron, dan lain - lain. Kiranya tidaklah berlebihan apabila Taman Bunga Nusantara menjadi tempat pertemuan bagi orang - orang dengan berbagai kepentingan.

Taman Bunga Nusantara akan senantiasa bergerak dinamis laksana sebuah museum kehidupan. Tanam - tanaman tumbuh mulai dari kondisi bertunas, berakar, lalu tumbuh, berbunga dan kemudian diganti. Sirkulasi normal dari perkembangan tanaman bunga semusim di dalam taman kami berkisar antara dua hingga lima bulan. Di dalam lahan pembibitan seluas dua hektar, kami akan menanam tumbuh - tumbuhan sejak masih berbentuk tunas yang kelak akan dipindahkan ke lahan taman, untuk menggantikan tanam - tanaman yang sudah lebih dulu dan layu. Saat berkunjung ke Taman Bunga Nusantara, setiap pengunjung akan menyaksikan pemandangan yang selalu tampak berbeda karena sistem penggantian bunga - bungaan secara periodik tersebut.

Taman Bunga Nusantara selain sebagai sarana rekreasi, dipakai pula sebagai kebun percobaan  dengan berbagai jenis bunga dan tanaman tertentu yang berasal dari daerah subtropis dan negara - negara beriklim dingin di Eropa, Amerika dan Australia. 

Percobaan-percobaan yang dilakukan telah menghasilkan hal yang positif dan memberikan gambaran bahwa kami mampu untuk menumbuhkembangkan tanaman-tanaman yang berasal dari tempat yang memiliki 4 musim.

Kami, atas nama Taman Bunga Nusantara menaruh harapan agar bangsa Indonesia memperoleh kesempatan untuk menikmati keindahan yang menakjubkan dari bunga - bunga yang tumbuh disini.
Sejak diresmikan tanggal 10 September 1995  sampai dengan akhir tahun 2010, Taman Bunga Nusantara telah dikunjungi oleh 5.976.403 pengunjung. Sampai saat ini dominasi wisatawan yang berkunjung adalah wisatawan domestik sebesar 96%, wisatawan Timur Tengah 2 %, wisatawan Eropa dan Amerika 1% dan wisatawan dari kawasan Asia sebesar 1%.

Untuk menunjang penyampaian informasi kepada wisatawan domestik dan mancanegara Taman Bunga Nusantara telah menyiapkan brosur dalam 5 (lima) bahasa yaitu, bahasa Indonesia, Inggris, Mandarin, Arab dan Jepang.

FASILITAS

Ini beneran, lhoo... (sumber: klik di sini)



1.   Taman Air
2.   Taman Mawar
3.   Taman Perancis
4.   Taman Rahasia (Labirynth)
5.   Taman Bali
6.   Taman Mediterania
7.   Taman  Palem
8.   Terakhir Taman Gaya Jepang
9.   Rumah Kaca
10. Danau Angsa
11. Rafflesia Mini Theater
12. Alam Imajinasi
13. Lokasi piknik
14. Amphitheater (Panggung Terapung)
15. Kereta Datto
16. Mobil Wara-Wiri
17. Menara Pandang
18. Poliklinik
19. Nany's Galleria    


Sesi Foto-Foto 



It's me :)))




Di depan 'merak'
Di antara jerapah
Masih di antara jerapah
Tangga turun



Taman apa, ya?
Kalau ini, jam yang gede banget!

Patungnya lebih cantik, jadi minder mau foto di depannya
Taman ini aslinya jauuuuhhh lebih kece!
Ini nih dua orang temanku
Hujan, jadi dingin banget!
Finally, aku pengen banget ke sana lagi... :))) Buat teman-teman yang pengen lihat taman-taman di Eropa tapi belum kesampaian, datang ke TBN aja, ya... Dijamin berasa keliling dunia!!!

Monday, 23 December 2013

Lagu-Lagu Bollywood yang Kurekomendasikan [part 3]: dari Film Ashiqui 2



Hai hai, masih mode on nggak bolywood-nya? Aku sendiri lagi kecewa berat gara-gara nggak bisa nonton Dhoom 3. Soalnya nggak ada tayang di Bogor, adanya di bioskop yang I-max. Biar begitu aku punya lagu Bollywood yang seru lagi, lhoo... Ya, kemaren aku barusan download film Ashiqui 2 yang rilis 26 April 2013 lalu. Masih cukup fresh, ya? Film ini dimainkan oleh Aditya Roy Kapoor (sebagai Rahul Jaykar) dan Shradha Kapoor (sebagai Aarohi). Masih asing ya nama-nama mereka? Memang sih mereka belum terlalu eksis di deretan artis Bollywood. Masih baru soalnya. Menurutku sih si Aditya tu mirip sama Hritik Roshan sedikit dan terkadang juga mirip Zayed Khan (yang jadi adiknya Shahrukh Khan dalam film Main Hoon Na), sedangkan si Shraddha mirip banget sama Rani Mukherjee, tapi juga kadang kelihatan mirip sama Vidya Balan. Untuk lebih jelas tentang film ini, klik di sini aja yah.

Nah, berikut lagu-lagu yang menurutku paling enak didengerin dari film ini. Cukup tiga aja. Check it out!

    1. Suun Raha Hai

Lagu ini ada versi male dan female-nya. Yang male dinyanyiin oleh Ankit Tiwari dan female-nya dinyanyiin oleh Shreya Ghoshal. Lagu ini muncul di awal film ketika Rahul konser di kota kecil. Juga lagu yang dinyanyiin Aarohi ketika di bar kecil. Musiknya pop and kedengaran melankolis gitu. Recommended banget buat kamu yang suka lagu Bollywood.


   2.Tum Hi Ho


Lagu ini dinyanyiin oleh Arijit Singh. Masih ber-genre pop dan melankolis. Video clip-nya sih hujan-hujanan gitu. Ini nih scene dari film Bollywood yang kurang kusuka, selalu aja ada adegan di bawah hujan, seolah-olah keromantisan cuma bisa didapatkan ketika basah-basahan doang. Kurang kreativ, yah! Untungnya lagu ini memang enak didengerin.

    3. Chahun Main Yaa Na
Lagu ini dinyanyiin oleh Arijit Singh dan Palak Muchhal. Asik. Pop. Dan tentunya recommended banget. Video clip-nya ketika Rahul ngajarin Aarohi nyanyi. 

Buat yang pengen download, yuuuk langsung klik di sini.


Sunday, 22 December 2013

Muslimah in Glasses


Hai, hai, kali ini aku mau berbagi soal 'muslimah in glasses' nih, biar tambah kece dengan kerudungnya, ya kan? Bingung ya kadang-kadang mencari kaca mata yang cocok buat wajah plus kerudung kita. Kaca matanya udah cakep, eh wajah kita malah kelihatan makin kecil pula dibuatnya, ditambah seperti kejepit kerundung. Duh, wajah makin nggak kelihatan. Nah, lihat deh foto-foto dua muslimah berikut.  Semoga menemukan ispirasi, ya....


   
      Wajah Bundar
Untuk bentuk wajah bundar, ada baiknya untuk memilih frame berbentuk persegi atau kotak dengan lensa yang sedikit lebih lebar agar wajah terlihat panjang dan berdimensi. Frame berbentuk bulat atau oval hanya akan membuat wajah kamu nampak lebih bundar.



Wajah Persegi
Jika kamu memiliki wajah dengan rahang yang kokoh, pilihlah kacamata dengan sudut melengkung (oval atau bulat) untuk menyamarkan bentuk rahang. Hindari kacamata berbingkai persegi.

Wajah Hati
Bingkai yang ramping akan sangat cocok bagi pemilik wajah dengan dahi lebar dan dagu yang meruncing ini. Bahkan kacamata tanpa bingkai (frameless glasses) juga bisa menjadi pilihan yang baik. Selain itu pilihlah frame dan lensa yang melebar kebawah agar tulang pipi dapat tersamarkan.

Wajah Segitiga
Wajah segitiga memiliki bagian dahi yang sempit namun melebar pada daerah rahang dan pipi. Kenakan kacamata dengan pinggiran yang tebal serta melebar ke atas (cat-eye). Pastikan bentuk kacamata Anda dapat menyeimbangkan sisi atas wajah dengan bawah.

Wajah Lonjong/Panjang
Pemilik wajah lonjong atau biasa disebut oblong, biasanya mempunyai garis pipi yang lurus dan lebih panjang dari lebar wajah. Pilihlah frame tebal berbentuk kotak yang melebar kesamping untuk menguatkan karakter pada wajah dan membuat kesan wajah terlihat lebih pendek.

Wajah Oval
Wajah dengan bentuk bulat telur adalah bentuk wajah yang sempurna. Berbahagialah kamu yang memiliki bentuk wajah ini karena cocok menggunakan model kacamata apapun. Pilihlah model frame yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil agar besarnya tetap proporsional di wajah kamu.





 



Wajah Bundar Untuk bentuk wajah bundar, ada baiknya untuk memilih frame berbentuk persegi atau kotak dengan lensa yang sedikit lebih lebar agar wajah terlihat panjang dan berdimensi. Frame berbentuk bulat atau oval hanya akan membuat wajah Anda nampak lebih bundar. Wajah Persegi Jika Anda memiliki wajah dengan rahang yang kokoh, pilihlah kacamata dengan sudut melengkung (oval atau bulat) untuk menyamarkan bentuk rahang. Hindari kacamata berbingkai persegi. Wajah Hati Bingkai yang ramping akan sangat cocok bagi pemilik wajah dengan dahi lebar dan dagu yang meruncing ini. Bahkan kacamata tanpa bingkai (frameless glasses) juga bisa menjadi pilihan yang baik. Selain itu pilihlah frame dan lensa yang melebar kebawah agar tulang pipi dapat tersamarkan. Wajah Segitiga Wajah segitiga memiliki bagian dahi yang sempit namun melebar pada daerah rahang dan pipi. Kenakan kacamata dengan pinggiran yang tebal serta melebar ke atas (cat-eye). Pastikan bentuk kacamata Anda dapat menyeimbangkan sisi atas wajah dengan bawah. Wajah Lonjong/Panjang Pemilik wajah lonjong atau biasa disebut oblong, biasanya mempunyai garis pipi yang lurus dan lebih panjang dari lebar wajah. Pilihlah frame tebal berbentuk kotak yang melebar kesamping untuk menguatkan karakter pada wajah dan membuat kesan wajah terlihat lebih pendek. Wajah Oval Wajah dengan bentuk bulat telur adalah bentuk wajah yang sempurna. Berbahagialah Anda yang memiliki bentuk wajah ini karena cocok menggunakan model kacamata apapun. Pilihlah model frame yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil agar besarnya tetap proporsional di wajah Anda

Source: http://www.optikmelawai.com/style_idea/cara-memilih-kacamata-sesuai-bentuk-wajah/123/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...