Thursday, 17 November 2016

Bahagia dengan Istighfar

Seorang wanita berkisah (dalam buku Menjadi Wanita Paling Bahagia karya Syaikh Aidh Al Qarni): Suamiku meninggal dunia saat aku berumur tiga puluh tahun. Waktu itu, aku telah dikaruniai lima orang anak. Tak ayal, dunia pun terasa gelap gulita di mataku: dari hari kehari aku hanya bisa menangis seraya meratapi nasibku hingga kering airmataku. Aku semakin putus asa dan hari-hariku terus diliputi oleh kesedihan, kegundahan dan kecemasan. Apalagi, bila aku mengingat kelima anak-anakku yang masih kecil-kecil, sedang diriku sama sekali tidak memiliki pendapatan yang memadai untuk hidup mereka. Akhirnya, aku pun menjual sedikit demi sedikit harta peninggalan suamiku yang tak seberapa.

Syahdan, suatu hari aku menyendiri di kamar sambil mendengarkan siaran al Qur’an dan ceramah dari sebuah radio transistor. Lalu, terdengarlah olehku seorang syaikh menuturkan, “Barangsiapa memperbanyak istighfar, maka Allah akan mengusir segala kesedihan yang menghantuinya dan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan yang menghimpitnya.” Sejak mendengar ceramah itu, aku terus memperbanyak istighfar. Demikian juga dengan anak-anakku: aku perintahkan mereka untuk melakukan hal yang sama. Tak disangka, enam bulan kemudian sebuah proyek besar membutuhkan sebagian tanah kami dan siap memberi ganti rugi berjuta-juta.

Bersamaan dengan itu, anakku yang pertama berhasil menjadi pelajar teladan di kota kami. Bahkan, ia sudah hafal al Qur’an dengan sempurna dan mendapat undangan pengajian di masyarakatku. Singkat cerita, sejak hari itu rumah kami serasa dipenuhi dengan anugerah: hidup kami lebih nyaman dan sejahtera dan Allah menjadikan putra-putriku sebagi orang-orang yang sukses dan saleh.

Demikianlah: kesediham, kecemasan, kerisauan, dan kegelisahan pun sirna dariku. Dan akhirnya, aku pun menjadi wanita paling bahagia.

Duhai Waktu...




Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Banyak yang ingin kutuliskan pada malam ini. Tapi sejak tadi, aku hanya diam memandangi layar laptop tanpa bisa menuliskan satu patah kata pun. Di luar pintu kamar, semua penghuni asrama sedang berkumpul membahas ujian lisan yang akan diadakan satu minggu lagi. Aku sengaja tidak ikut, karena merasa sudah terlalu banyak pengasuh senior yang mengurusi hal itu.

Hingga malam ini, pikiranku masih dipenuhi oleh satu hal. Ya, sejak tadi sore, entah mengapa aku merindukan teman-teman yang dulu bernaung di bawah atap asrama ini bersamaku. Kini aku kembali ke sini, dan tidak banyak perubahan pada teras, kamar, cat dinding, maupun taman di depan. Yang berubah adalah orang-orangnya. Setelah hampir lima tahun meninggalkan asrama ini, ternyata sudah banyak generasi yang berlalu.

Tadi menjelang Maghrib, saat aku berjalan menuju Masjid, seorang santriwati menyapa. Dia menanyakan apakah aku mengenal kakaknya. Setelah ia menyebutkan nama sang kakak, aku baru sadar bahwa gadis jelita di sampingku adalah adik sahabatku dulu. Sungguh tidak menyangka. Dulu sahabatku sering menunjukkan foto adiknya yang masih kecil, masih duduk di bangku SD. Lalu kini, si adik ternyata telah menjelma gadis remaja yang tidak lagi bisa disebut polos.

Rasanya baru kemaren aku menjadi santri, kini aku sudah kembali dengan status yang berbeda. Rasanya baru kemaren aku duduk di meja belajar, kini aku harus duduk di meja depan yang terkadang membuatku kehilangan bahan pembicaraan. Rasanya waktu begitu cepat melindas segalanya. Seolah masa-masa aku berkuliah selama tiga tahun, lalu kerja dan hal-hal lain selama dua tahun, itu tidak pernah terjadi.

Itulah waktu!

Jika aku ditanya, apakah yang paling kejam di muka bumi ini? Maka jawabannya adalah waktu! Lihatlah betapa buasnya waktu melahap segalanya: masa kecil, masa muda kedua orang kita, masa remaja, teman-teman, dan orang-orang tercinta. Waktu memangsa semua itu tanpa sedikit pun memberi kesempatan untuk kembali lagi. Tinggalah kita yang duduk mengenang, meratap, tersenyum getir, tertawa kecil, menitikkan air mata, kala mengenang segalanya.

Ah, waktu. Andai ia berwujud, maka akulah orang pertama yang akan datang padanya, menuntut padanya. Aku akan minta ia mengembalikan usia kedua orang tuaku, masa muda Bapak dan Ibuku, sahabat masa kecilku, desa dan parit-parit tempat kami berenang, hutan belukar tempat kami bermain petak umpet, dan ladang-ladang jagung tempat kami berlarian bersama angin.

Ah, waktu yang begitu kejam tanpa belas kasihan. Tapi setidaknya ada satu hal yang aku sukai darimu, adalah karena engkau mengajarkan kerinduan serta kasih sayang. Karena engkau, aku jadi merindukan masa kecil, masa lalu, sehingga aku bisa menyayangi sahabat kecilku dulu dengan tulus. Karena engkau, aku jadi bersemangat mengejar cita-cita, mengingat umur kedua orang tuaku yang terus merangkak tua.

Saat ini, aku hanya ingin menikmati apa-apa yang telah disisakan oleh waktu di tempat ini. Aku kembali ke pesantren tempatku dulu belajar. Setidaknya, jika aku merindukan sahabat-sahabatku dulu, masih ada menara Masjid yang bisa dipandangi, juga rumpun bougenville di samping asrama. Dua hal yang dulu kucintai, tidak berubah, dan kini juga masih kucintai.

Ini adalah kembali yang tidak kuharapkan, tidak kuangan-angankan. Bagiku, kembali ke sini adalah mimpi.

Entahlah. Apakah ia mimpi baik atau buruk.

Selama ini aku selalu ketakutan ketika membayangkan kembali ke sini. Karena itu pula aku selalu menunda pengabdian. Kala itu aku tidak sanggup menyaksikan sisa-sisa masa laluku—masa remajaku—di tempat ini.

Tapi inilah hidup. Jika Allah menghendaki sesuatu, maka sejauh apapun kaki kita melangkah, Dia akan membawa ke titik awal.

Ini adalah tanggung jawabku, hutangku... Mau tidak mau, suka tidak suka, pahit atau manis, hutang tetaplah menuntut bayarannya. Jika tidak sanggup melunasi di dunia, maka di akhirat pun akan tetap kita lunasi dengan azab yang pedih.

Sekarang, aku akan belajar menikmati hari-hariku sebagai pengajar. Suatu kegiatan yang selama ini sama sekali tidak ada dalam benakku. Di antara sekian banyak kekuranganku, salah satunya adalah aku tidak pandai bergaul akrab dengan sembarang orang. Karena itulah aku takut murid-murid tidak menyukaiku. Aku takut mereka bosan dengan penjelasanku. Dan karena itu pula, aku tidak pernah bermimpi menjadi seorang pengajar.

Namun apapun yang terjadi, takdir apapun yang menimpa dirimu, insyaAllah semua ada hikmahnya. Percaya bahwa rencana Allah swt jauh lebih baik dari rencanamu.


Wednesday, 16 November 2016

Ada Masanya

Ada Masanya..
Saat kita tidak saling mengenal. Mungkin saja disaat itulah kita bagaikan siang dan malam yang tidak pernah saling bertemu tidak pernah saling menyapa.

Ada Masanya..
Saat kita mulai saling mengenal meski hanya sekedar tahu siapa nama, mungkin disaat itulah kita bagaikan 2 buah buku yang diletakkan di rak yang berbeda, memiliki kehidupannya sendiri–sendiri tanpa peduli satu dan lainnya.

Ada Masanya..
Saat kita mulai saling ingin mengenal lebih jauh lagi, saat masing–masing diri bersepakat untuk memegang janji. Mungkin disaat itulah kita bagaikan matahari dan bulan. Matahari yang selalu ikhlas memberi sinarnya tanpa harus dipinta, keindahan bulan pun akibat keikhlasan matahari yang selalu menyinarinya. Meskipun matahari dan bulan tidak harus saling bertemu, tetapi sang matahari tahu hanya dengan ke ikhlasannya lah sang bulan bisa terus memancarkan keindahannya. Sang bulan pun tahu meski sangat ingin bersama, tak mungkin untuk dapat mendekati matahari.

Ada Masanya..
Saat kita mulai hidup bersama, saat masing–masing diri terikat dalam perjanjian suci yang sama. Mungkin disaat itulah kita bagaikan 2 sungai besar yang saling bertemu hingga bermuara di laut yang sama. Dengan tujuan yang sama demi meraih ridho-Nya, fiddunya wal akhirah.

Karena Ada Masanya..
Tiap Masa memiliki keindahannya sendiri–sendiri.

Aah.. sepenuh hati ini menunggu, tunggulah karena kita semua memang sedang saling menunggu...

Friday, 11 November 2016

Kebahagiaan Hati adalah Segalanya

Akhir-akhir ini aku belum mampu menulis banyak. Karena itu pula blog ini sebagian diisi dengan kalimat singkat mengenai hal-hal yang kupikirkan. Bukan puisi, melainkan hanya kalimat sederhana yang apa adanya. Yang mungkin, siapa saja tidak perlu memutar otak untuk sekadar memahami.

Ada banyak hal yang ingin kulakukan dalam hidup. Menjadi penulis, punya usaha mandiri, lalu bisa mengajak Bapak dan Ibu bersama mengunjungi Tanah Haram. Sampai sekarang pun masih sama. Hanya saja ada beberapa hal yang telah berubah. Kurasa satu hal yang tak lagi sama adalah sudut pandangku terhadap sesuatu.

Dulu, aku ingin hidup mandiri di kota yang memiliki akses mudah, dekat dengan kota besar, hidup berkecukupan, so on... Namun entah mengapa, sejak dua bulan lalu, sejak aku tinggal di kawasan perumahan elit di Bintaro Sektor 9, semua angan-angan duniawi itu perlahan menguap. Kehidupan orang-orang berumah mewah di sana tak membuatku kagum. Justru aku sangat kasihan. Jika dibandingkan, kehidupan kedua orang tuaku di perkebunan kelapa jauh lebih bahagia.

Sekarang, aku hanya ingin dianugerahi hati yang berbahagia. Di mana pun itu. Aku hanya ingin mengabdi pada masyarakat yang membutuhkan. Mungkin, nanti, aku akan kembali ke kampung halaman. Sesekali mengunjungi sepupu di Bintan.

Ya, seperti impian seseorang dari masa lalu (ketika kami berkomunikasi beberapa bulan lalu), bahwa ia akan kembali ke dekat Ayah dan Ibunya, membangun peternakan di sana, memberi motivasi untuk generasi muda desanya, berbakti pada masyarakat, dan semoga Allah membalas dengan kehidupan yang berbahagia.

Kala itu, aku tidak habis pikir pada niatnya tersebut. Ia pemuda cerdas, bisa dikatakan begitu. Sekarang saja sudah terlibat menangani proyek-proyek pemerintah terkait pertanian dan perkebunan. Beberapa bulan lalu, ia diutus ke Natuna untuk sebuah proyek juga. Kupikir, ia bisa mendapatkan kehidupan yang mapan apabila menetap di kota besar. Namun nyatanya, itu bukan impiannya.

Sekarang aku baru paham. Dia benar, dan akulah yang terlalu bernafsu pada kehidupan duniawi. Sekarang aku justru sangat mengagumi pilihannya, juga pemikirannya yang jauh melampui diriku kala itu. Semoga di mana pun beliau berada saat ini, Allah selalu melindungi dan memberikan barokah.

Ya, adakah yang lebih berarti dari kebahagiaan di dalam hati?

Untuk apa semua harta, kekayaan, suami/istri yang rupawan, pangkat dan jabatan, jika hati tidak merasakan tenteram dan nyaman? Untuk apa bernaung di bawah rumah seharga milyaran, jika setiap hari hati terasa pedih dan dirundung duka tak berkesudahan?

Allah mengumpamakan hal tersebut seperti sawah ladang yang menghijau, yang membuat bahagia para pemiliknya, kemudian keindahan tersebut lenyap, hingga mereka tercengang tidak percaya.

Itulah dunia.

Harta, anak, jabatan, popularitas, semua hanya menyenangkan hatimu sekejap saja. Alangkah merugi mereka yang mendahulukan dunia lalu meninggalkan akhirat, sementara kulihat, mereka yang mendahulukan akhirat selalu memperoleh kebahagiaan dunianya.

Wallahu'alam...

Thursday, 10 November 2016

Semua Sudah Ada Ketetapannya

Mengapa takut akan hari esok, jika semua sudah dituliskan?

Mengapa cemas ia yang akan bersama orang lain, jika siapa yang akan bersamamu sudah ditetapkan?

Kita hanyalah pemeran yang diberi kekuasaan terbatas. Kita bebas menentukan arah angin, namun Utara akan selamanya menjadi Utara.

Teori yang melemahkan! Menetaskan generasi pesimis!

Oh, benarkah?

Justru itulah ketetapan terbaik. Agar hatimu tenteram. Agar tidak angkuh dan lupa daratan. Agar bisa terus berupaya tanpa menyingkirkan Sang Pencipta. Agar ketika jatuh, hati pun tidak ikut jatuh. Dan, agar kita percaya bahwa ketetapan-Nya adalah sebaik-baik ketetapan.

Friday, 4 November 2016

Di Sepanjang Jalan Istiklal [Fiksi]

@elifkubragenc
Hari ini mendung menggelayut di langit Istanbul. Sejak pagi aku tidak melihat matahari menampakkan cahaya emasnya. Hanya ada semburat putih yang menyeruak dari gumpalan awan kelabu. Aku yang seharian menghabiskan waktu di apartemen sambil sesekali melihat desain yang harus kuselesaikan, akhirnya merasa bosan. 

Di tengah kebosanan itu, aku berjalan menuju jendela, dengan secangkir teh di tangan. Aku melirik ke bawah. Seorang wanita paruh paya tampak kesusahan membawa barang belanjaan, dan di sisi lain aku melihat anak-anak yang sedang bermain bola. Sementara di ujung jalan, daun-daun mulai berubah warna menjadi kekuningan hingga oranye. 

Tuesday, 1 November 2016

Istanbul, The Beauty of All Times


Beberapa waktu lalu sebuah televisi swasta di Indonesia sudah menayangkan sebuah sinetron Turki yang awalnya diberi judul ‘King Suleiman’, namun setelah menuai kontroversi, akhirnya judulnya pun diganti menjadi Abad Kejayaan, terjemahan dari judul aslinya yaitu Muhtesem Yuzyil.  
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...