Thursday, 15 December 2016

Setelah Banyak yang Terlewatkan

Lima tahun berlalu,
Dan kemaren,
Kamu datang.
Mungkin tulisanku yang terakhir itu sampai padamu.

Tidak banyak yang berubah,
Selain kamu yang jadi lebih dewasa.

Senyummu masih sama,
Kebaikan di matamu
Juga tutur bahasamu.

Aku masih saja teringat kamu yang dulu,
Saat sepuluh hari itu.
Saat itu kamu jadi pendiam sekali,
Apalagi aku.
Tapi, tanpa disadari kamu menjelma puisi-puisi.
Hingga kini,
Di saat terkadang aku tak lagi berharap apa-apa tentang kita.
Maafkan diriku yang terkadang menunggu telepon, darimu.
Sementara diri sendiri tak pernah berani menghubungimu.
Betapa egois.
Semoga yang satu ini kamu bisa memaklumi,
Bukankah sejak dulu kamu memang paling ahli memaklumiku?
Aku yang dulu masih kanak-kanak sekali, sementara kamu harus begitu sabar.

Baiklah,
Selesaikan urusanmu,
Terimakasih untuk cokelat dan kartu ucapan permintaan maafmu,
Dan semoga nanti,
Kita bertemu lagi.

Satu hal yang perlu kamu tahu,
Aku pun membaca semua tulisanmu.

Sunday, 11 December 2016

Jangan menangis, Fatihku sayang




Amerika menawarkan keindahan yang memanjakan, terutama gedung-gedung pencakar langit yang selalu membuat mata anak-anak berbinar. 

Jalanan yang rapi, taman-taman kota yang terpelihara, transportasi umum yang bersih, dan manusia-manusia yang berjalan dengan langkah cepat. Semua itu menarik perhatian Fatih. Sejak pertama kali kedatangan di kota Houston, ia tidak melepaskan pandangan sekali pun keluar jendela. Wajah lucunya tidak bisa menyembunyikan kekaguman dan kebahagiaan.

Sam dan Jimmy berpisah di bandara. Jimmy pulang ke apartemen yang terletak di Dallas, sedangkan Sam kembali ke rumahnya di kawasan Spring, sebuah rumah bergaya classic dengan warna putih yang menawan.

Ada sepuluh kamar tidur yang mengisi rumah besar milik Sam, sebuah ruang tamu megah, halaman yang luas dilengkapi taman-taman dan labirin, juga sebuah kolam renang berair biru seukuran lapangan futsal. 

Fatih ditempatkan di salah satu kamar di lantai dua, berhadapan dengan kamar tidur Sam. 

Seorang lelaki berumur 63 tahun asli Amerika dan bisa berbahasa Indonesia dengan fasih diminta Sam sebagai penerjemah, sekaligus sebagai pengasuh Fatih. Nama aslinya John Abraham. Tapi ia lebih senang dipanggil Jono, sebuah nama dari mendiang istri. 

Jono hidup sebatang kara setelah istrinya yang asli Indonesia wafat dua tahun lalu. Dari cerita Jono, ia bersama istri pernah tinggal di Indonesia dari tahun 1990 hingga 1998. Reformasi yang diwarnai dengan bentrokan di segala penjuru Indonesia membuat Jono khawatir. Dan kemudian sang istri diajak untuk kembali ke Amerika. Tiga puluh lima tahun berkeluarga, hidup saling mencintai, namun mereka tidak dianugerahi seorang anak pun.

Jono tinggal di rumah milik keluarga Sam sudah sejak bujangan dulu—sejak ayah Sam masih hidup. Sekembalinya dari Indonesia beserta istri, ia juga kembali ke rumah ini. Entahlah, rasanya Jono sudah sangat nyaman bersama Sam. Laki-laki pemilik biro hukum kenamaan itu sudah dianggap putranya sendiri. 

Sam meminta Jono untuk mengantarkan Fatih ke kamar. Tanpa berniat untuk menemani masa-masa adaptasi putranya, Sam langsung berjalan menuju kamarnya sendiri. Sebuah kamar tidur yang sangat luas. Tempat bersejarah tentang cintanya bersama mantan istri. Ia bahkan melarang asisten rumah tangga mencuci seprei terakhir yang ditiduri Katty. Saat sedang merindukan Katty, sprei itu akan ia peluk sambil berusaha menemukan aroma Katty yang masih tertinggal di sana.

“Kamu tidak berniat menemani anak ini untuk melihat kamarnya, Sam?” Jono bertanya saat Sam hampir menyusup masuk ke kamar.

Sesaat Sam seperti berpikir, kemudian mengangkat tangan. “Aku lelah. Aku yakin Paman bisa jadi teman yang baik untuknya.” Ia ingin melangkah, namun urung. “Dan, oh, tolong Paman perintahkan Frans membawakan wine ke kamarku.” Frans adalah salah satu asisten di rumah ini.

Jono masih terheran-heran, namun malas untuk mendebat. “Baik, Nak. Selamat beristirahat.”

Sam tersenyum datar, mengangguk, lalu hilang di balik pintu. Jono mengusap kepala bocah yang sejak tadi berdiri di sampingnya dan memperhatikan mereka berbicara. 

“Ayo, Nak. Biarkan ayahmu beristirahat. Setelah lelahnya hilang, ia pasti akan mengajakmu berkeliling rumah besar ini. Dia senang sekali membaca buku di halaman yang ada di depan rumah, kupikir dia pasti akan membacakan satu cerita di sana saat musim semi tiba.” Ucapnya sambil membimbing Fatih menuju kamar. Ucapan yang sebenarnya ia sendiri tidak yakin.

Sebuah kamar anak laki-laki yang ideal. Didesain oleh tangan profesional sehingga menghasilkan perpaduan yang sempurna. Sehari sebelum kembali ke Amerika, Sam menelepon. Ia perintahkan desainer ruang langganan untuk mengatur ulang kamar tersebut. Selain dilengkapi satu set komputer merek canggih, televisi dengan lebar layar di atas rata-rata, ditambahkan juga ring basket di salah satu sudutnya. Di sisi yang lain, berjejer aneka perlengkapan olah raga seperti papan skateboard, sepatu roda, bola bisbol, bola kaki, dan banyak lagi. Mungkin Sam mengira, anak laki-lakinya tumbuh dengan minat seperti anak-anak Amerika kebanyakan.

“Inilah kamarmu. Kurasa kamu ingin mandi sekarang. Silakan, itu kamar mandimu.” Jono menunjuk sebuah pintu di bagian kiri kamar.

“Aku ingin shalat, paman Jon. Kak Naela dan Umi pasti marah kalau tahu aku sudah meninggalkan  banyak shalat selama di pesawat.” Kata Fatih sambil melepaskan tas punggung. 

Lelaki tua itu membuka mulut, tidak menyangka anak sekecil Fatih ingat pada ritual-ritual seperti yang baru saja disebutkan. Shalat? Ah, ia juga pernah melakukannya. Dulu sekali. Tapi semenjak ia dan sang istri kembali ke Amerika, kegiatan itu ia tinggalkan. Istrinya selalu mengingatkan agar ia menunaikan ibadah tersebut, tapi rasa malas mengalahkan segalanya. 

“Oh, anak yang baik. Silakan shalat, Mr. De Bruyne kecil. Aku akan menunggumu di sini.”

“Paman Jon tidak mau kita shalat bersama?” Fatih kembali bertanya. Wajah lucunya terlihat polos.

Lagi-lagi Jono merasa tersentak. Ia merenung, namun segera menggeleng seraya tersenyum bijak. “Tidak, Nak. Aku sedang sakit pinggang.” Ia beralasan.

Fatih memahami alasan yang diberikan pengasuhnya itu. Setelah memberi tahu bahwa Jono harus segera minum jamu pengurang rasa sakit, bocah itu beranjak ke kamar mandi. Bunyi air yang jatuh ke lantai terdengar gemericik. Entah mengapa, Jono menyukainya. Bunyi itu sama seperti bunyi yang diciptakan oleh sang istri saat membasuh anggota tubuh sebelum shalat. 

Dua menit kemudian, Fatih sudah keluar dan segera mencari sarung dalam kopernya. Ia kenakan sarung tersebut. Lipatan di pinggang ia gulung dengan cekatan. Sebuah peci karet berwarna putih dengan garis biru ia taruh di atas kepala, menutupi rambut pirangnya yang bergelombang. 

Fatih shalat di atas lantai dengan alas sajadah kecil yang telah disiapkan Naela di dalam koper. Dari tempat ia duduk, lelaki tua itu memandangi dengan perasaan haru. Dulu, istrinya juga bermimpi untuk memiliki anak laki-laki yang taat beribadah. Tapi sayang, impian itu harus mereka kubur dalam-dalam setelah dokter mendiagnosa dirinya sebagai laki-laki mandul. Kini Jono bisa merasakan, betapa bahagia sang istri saat melihat anak mereka melaksanakan shalat seperti bocah yang ada di depannya.

“Paman Jon, kenapa diam saja? Oh iya, aku sudah mendoakan agar sakit pinggang paman cepat sembuh.” Setelah selesai shalat, bocah itu berkata sambil melipat sarung.

Jono tergagap, sadar dari lamunannya. “Terimakasih, anak baik. Ayahmu pasti bangga punya anak secerdas dirimu.”

Sore ini setelah menemani Fatih memasukkan pakaiannya ke dalam lemari, Jono membiarkan bocah itu tidur. Karena kelelahan, Fatih bisa tidur dengan cepat dan sangat pulas. Ia sempat minta agar Jono menelepon kakak dan Uminya di Indonesia, tapi laki-laki tua tersebut beralasan tidak memiliki nomor yang bisa dihubungi. Meski kecewa, Fatih masih bisa terima. Ia mohon pada Jono untuk segera minta nomor kakaknya kepada Sam.

Malam hari setelah selesai makan malam dan shalat Isya, Fatih minta diantar menemui Sam. Ia penasaran ingin lihat ada apa saja di dalam kamar ayahnya.

“Nak, putramu ingin bertemu.” Jono menempelkan telinganya di pintu kamar Sam, setelah mengetuknya sebanyak tiga kali. Ia memang terbiasa memanggil Sam dengan panggilan ‘nak’, karena ia kenal Sam sejak Sam masih kecil. Jono adalah teman baik ayah Sam. Karena itu pula, Jono tahu semua yang terjadi di masa lalu Sam. 

Sedikit samar-samar, namun masih bisa tertangkap cukup jelas di telinga laki-laki tua itu, Sam sedang berbincang di telepon. Mereka menunggu sekian menit hingga akhirnya gagang pintu ditarik dari dalam.

“Yes, Uncle Jhon.” Logat Amerika Sam tidak bisa melafalkan nama Jono dengan tepat. Wajahnya datar saja, pun setelah pandangannya turun pada si kecil Fatih.
Jono ulangi kalimatnya. Kedua tangan ia letakkan di atas bahu Fatih. “Fatih ingin bertemu denganmu.” 

“Oh, ingin bertemu? Aku sedang sibuk sekali, Paman. Mungkin Paman bisa ajak dia main basket di ruang bawah. Kudengar, Steven menambahkan ring basket mahal di sana.” Steven adalah desainer ruang yang mengatur kamar Fatih, juga semua sisi rumah megah ini, termasuk sebuah ruangan indoor luas untuk gym dan olah raga.

“Tapi putramu tidak tertarik dengan olahraga. Dia sangat sedih saat tidak menemukan satu buku cerita pun di kamar barunya. Dan, oh, dia ingin aku menelepon kakak dan neneknya di Indonesia. Bisakah aku dapatkan nomor telepon mereka?”

Beberapa saat Sam memandangi wajah Fatih dengan tatapan aneh, “Tidak berminat pada olahraga? Oh, wanita sialan itu sudah salah mendidik anak ini. Katakan padanya, mulai sekarang ia harus meninggalkan cerita-cerita dongeng dan mulai belajar mencintai olahraga. Katakan juga padanya, mulai sekarang dia harus hidup dengan cara Amerika. Dan laki-laki Amerika akan lebih dihargai saat mereka punya tubuh bagus. Uhm, tentang nomor telepon, aku tidak ingat pernah menyimpannya di mana. Rasanya tidak ada di ponsel.” Ucap Sam sebelum menarik tubuhnya kembali ke kamar. “Selamat malam.” Dan pintu kamar itu kembali tertutup.

Sejak saat ini, Jono tahu satu hal, bahwa sang majikan tidak pernah menyayangi putranya dengan kasih sayang seorang ayah. Sambil menelan ludah kecewa, laki-laki tua itu mengajak Fatih kembali ke kamar. 

“Ayahmu bilang dia sangat senang memiliki anak pintar sepertimu. Mungkin dia akan membelikan buku-buku besok. Jadi apa rencanamu sekarang Mr. De Bruyne kecil, bukankah akan lebih seru kalau kita menonton film kartun bersama?”

“Iya, paman Jon. Aku juga sudah lama tidak menonton kartun.” Sahut Fatih dengan suara riang. 

Mengalihkan kekecewaan seorang anak kecil memang selalu lebih mudah. Kalimat ini ada benarnya, meski tidak seutuhnya benar. Karena pada kenyataannya, setelah selesai menonton kartun, Fatih beranjak tidur sambil menutupkan selimut hingga kepala. Bocah itu menangis merindukan Naela dan Umi Dian. Ia juga kecewa karena ternyata Om Dad-nya tidak lagi perhatian dan mau mengajak bermain seperti dulu.

“Jangan menangis, Fatihku sayang...” suara Naela menyusup halus di telinga bocah 5 tahun itu. Membekas dalam saraf-sarafnya. Kalimat itu terus diingat Fatih hingga jatuh tertidur.

Cukup lama ngubek-ngubek google buat nemuin karakter Fatih yang pas dengan imajinasiku. Akhirnya terpilihlah bocah ini.

Friday, 9 December 2016

Untuk Bapak 2

Bapak,
Apa kabar ladang kita?
Apa kabarnya kawanan burung di kebun kita?
Apa kabar rumpun bunga ungu yang dulu selalu kepetik mahkotanya?

Bapak,
Aku rindu diriku yang kecil dahulu
Aku rindu saat langkah kaki kecilku mengikutimu ke kebun
Kemudian kau membuatkanku rumah-rumahan
Dan di sana aku akan menungguimu bekerja
Aku akan memakan bekal kita hingga tersisa setengah
Aku akan mencari bunga dan belalang
Dan, sesekali aku juga ketiduran.

Bapak,
Aku rindu duduk di belakang boncengan sepedamu
Seperti dulu
Tiap kali sore hari Ramadhan
Lalu kau mengajakku singgah di toko buku
Kau membelikanku buku kisah Nabi dan Rasul, juga buku-buku doa

Bapak,
Aku rindu menjadi putri kecilmu
Aku rindu rumah kita
Aku rindu desa kita
Pulau kita

Bapak,
Aku rindu mengaji bersamamu
Aku rindu suaramu yang mengumandangkan azan
Aku rindu dirimu yang muda dahulu

Bapak,
Aku ingin pulang
Pulang ke rumah kita
Bersamamu dan Ibu
Aku ingin duduk di pangkuanmu
Sebagai putri kecilmu.

Pertemuan Pertama

Ada yang istimewa pada pertemuan pertama,

Adalah ketika engkau berkata:

"Aku sedang berpuasa"

Dan,

"Sudah azan, bolehkah aku tinggalkan sebentar diskusi kita untuk shalat ke Masjid?"



Sabret gönül, Sabret... Bersabarlah Wahai Hati, Bersabarlah...




Sabret gönül, sabret.
Sakın küsme kaderine, şükret.
Her kışın bir baharı var, elbet.
Yeter ki sen sabret.

Bersabarlah wahai hati, bersabarlah.
Jangan pernah mengeluh dengan nasibmu, bersyukurlah.
Setiap musim dingin akan ada musim seminya, itu pasti.
Cukuplah kamu bersabar.

Aforisme di atas kudengar saat kedatangan pertama di Istanbul, sekitar sepuluh tahun lalu. Seorang lelaki Turki berusia hampir tujuh puluh mengucapkan kalimat tersebut ketika mendapatiku menangis di tepian Bosphorus.

Dulu sekali, sebelum pertemuanku dengan Stefani, aku adalah seorang wanita Muslim yang tidak menjalankan Islam dengan baik. Agama hanya sebatas formalitas bagiku. Setiap hari waktuku dihabiskan dengan kegiatan-kegiatan yang umum dilakukan oleh muda-mudi Barat yang mengagungkan jargon work hard play hard. Teman-teman Rusiaku bilang, ‘Jika ingin bahagia, genggamlah erat-erat jargon tersebut dalam hati dan terapkan dalam kehidupan. Maka kebebasan yang sebenarnya akan terlihat. Begitulah seharusnya kita menikmati hidup.’

Tapi, setelah bertahun-tahun aku hidup sesuai jargon itu, kebahagiaan seperti yang mereka katakan tak kunjung kurasakan. Aku menemukan diriku seperti seorang musafir yang berteduh di bawah rerantingan kering, di tengah gurun tidak berujung. Aku bosan dengan hidup yang begitu-begitu saja.

Saat berpesta aku akan tertawa sepuasnya, minum sebanyak-banyaknya, dan seperti biasa semua berujung ke tempat tidur. Hingga di pagi hari, aku menemukan diriku terlentang di bawah selimut dengan seprei yang kusut. Entah siapa partnerku tadi malam, aku pun tidak bisa mengingat dengan jelas.

Yang kutahu, saat terbangun, para lelaki itu sudah lenyap entah ke mana. Barangkali sudah memeluk tubuh wanita lain. Kesenangan tadi malam hanya menyisakan diriku sendiri yang tidak berdaya, yang sudah harus bersiap-siap untuk kembali bekerja.

Hal-hal seperti itulah yang membuatku sering menangis tanpa sebab. Seperti ada belati tajam yang setiap saat dihujamkan tepat ke ulu hati. Apa arti kebahagiaan? Mengapa saat aku berada di tempat indah yang dimpikan jutaan orang, aku tak kunjung merasakan sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya? Mengapa kebahagiaan saat berpesta bersama teman-teman bisa menguap tanpa sisa?

Apakah hidup ini hanya sebatas seperti ini saja? Dan waktu itu, beberapa jam sebelum pertemuan dengan Stefani, aku menangis di tepian Bosphorus, meratapi kepedihan yang membuatku begitu menderita. Mungkin Bapak tua itu merasa kasihan sehingga ia mendekatiku dan menyampaikan aforisme yang begitu indah.

Hari ini, aku dan Elsa sudah duduk di dalam pesawat Turkish Airlines yang akan membawa kami menuju kota Antalya. Lalu dari Antalya, kita akan mengambil jalan darat sejauh 168 km menuju sebuah kota bernama Kas. Kudengar, Kas adalah kota kecil cantik yang dibangun di tepi laut biru, dan berdasarkan pengetahuan Elsa, di sanalah berdiri masjid tempat Mustafa bertugas. Sebuah masjid berwarna krem dengan satu menara runcing yang menunjuk angkasa.
“Kau menyimpan semua fotonya?” tanyaku saat bus yang kami tumpangi mulai berjalan.

Pandangan Elsa tertuju ke luar jendela, pada awan tipis yang terbang seumpama kapas. “Sejak hari pertama aku mencintainya hingga dua tahun lalu, aku mengunjungi dinding facebooknya setiap hari. Tidak ada satu pun foto yang ia masukkan atau yang ditandai teman-temannya  dalam periode tersebut luput dari perhatianku. Semuanya tersimpan rapi dalam satu folder di tablet maupun laptop. Hingga sekarang.” katanya lirih.

Oh, Elsa. Seberapa kuatkah cinta itu mencengkeram hatimu? Sihir  apa yang bisa membuatmu jatuh cinta pada lelaki yang tidak pernah kau lihat di dunia nyata? Aku semakin penasaran. Seperti apa lelaki itu? Apakah ia sungguh-sungguh memesona?

“Wah, kau seperti mata-mata saja, ya?” aku tertawa lirih. “Kalau aku? Bahkan aku baru tahu kalau suamiku punya akun facebook sekitar seminggu lalu.”

Elsa menoleh padaku. Matanya menyipit dan cahayanya berubah tajam. Ia benar-benar terlihat seperti seorang detektif yang sedang melakukan tugas introgasi. “Kau sudah bersuami?” tanyanya penuh selidik.

Kuanggukkan kepala. “Sure. Umurku sudah 29.” Kataku tanpa rasa berdosa sedikit pun.

“Lalu mengapa kau mengikutiku? Leave me and go home! Menemani suami adalah tugas utamamu. Kecuali kalau kau bukan seorang istri yang baik.” Ucap Elsa dengan nada tinggi. Sungguh, dari suaranya semua orang akan tahu kalau ia sedang mengusirku.

“Baiklah. Kalau boleh saja mengatakan aku bukan seorang istri yang baik, tapi tolong biarkan aku tetap bersamamu.” Saat mengatakan ini, kedua tangan kutangkupkan di depan dada.

Melihat tingkahku, Elsa hanya membalas dengan pandangan tidak suka. Tapi dia diam saja. Matanya yang tajam menatap kosong lanskap di luar jendela. Di luar sana, langit berwarna kelabu. Mendung sejak pagi menggelayut di atas langit Turki. Aku melihat tatapan sendu Elsa. Kesedihan dalam jiwa temanku ini terlalu banyak, bahkan saat di sampingnya aku bisa merasakan kesedihan itu.

“Elsa...” kusentuhkan jemariku ke pundaknya yang terselubung jaket wol.

Dia tidak bergeming sedikit pun, tapi aku percaya ia mendengar.

“Bersabarlah wahai hati, bersabarlah. Jangan pernah mengeluh dengan nasibmu, bersyukurlah. Setiap musim dingin akan ada musim seminya, itu pasti. Cukuplah kamu bersabar.” Ucapku mengutip kalimat yang pernah disampaikan seseorang untukku. “Elsa, sayang. Sungguh aku belum tahu apa yang telah membuatmu dipenuhi kesedihan seperti ini, tapi aku yakin semua ada hubungannya dengan tempat yang akan kita tuju. Bersabarlah, sebentar lagi kau akan bertemu Mustafa.” Aku berusaha menenangkan.

Tarikan napas berat Elsa terdengar. Napas yang bergetar, seolah ada jutaan kepedihan yang memenuhi hatinya. Aku berharap Elsa mau menumpahkan lewat air mata, tapi harapanku itu terlalu jauh karena sekali pun aku tidak pernah mendapati matanya berkaca-kaca.

Hingga detik ini, aku masih terus berpikir, bagaimana seseorang yang akan segera bertemu pujaan hati bisa bersedih? Apakah Elsa menjadi seperti ini karena kerinduan yang begitu banyak? Apakah kerinduan itu berubah menjadi gumpalan menyakitkan dalam dadanya? Kurasa, semua pertanyaanku itu hanya akan terjawab oleh waktu. Aku harus bersabar hingga tiba di kota Kas. Sebuah kota kecil di tepi laut biru yang menyimpan seorang lelaki bernama Mustafa...

*Dedicated for my best friend, Mustafa Balci. Thank you for every memories and the goodness. May Allah gives you a beautiful life in the dunya and akhirah.

Sunday, 4 December 2016

Karena Dirimu...

Karena dirimu adalah salah satu pertanyaan di antara sekian banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Karena dirimu adalah salah satu doa di antara sekian banyak doa yang naik ke arsy-Nya.

Karena dirimu adalah salah satu kengerian di antara sekian banyak kengerian yang mengelilingiku.

Karena dirimu adalah salah satu impian di antara sekian banyak yang manusia yang juga memimpikanmu.

Karena dirimu adalah kebingungan di antara sekian banyak kebingunganku.

Karena dirimu adalah salah satu rumus fisika di antara sekian banyak rumus dunia yang paling sulit kupahami.

Karena dirimu adalah salah satu teka-teki di antara sekian banyak teka-teki yang belum terpecahkan.

Karena dirimu adalah salah satu harapan, namun terkadang merasa berdosa untuk diharapkan.

Dan, karena dirimu adalah mimpi indah banyak orang yang tidak mungkin kuhancurkan.

Itu saja.

3 Langkah Mencintai Wanita Setangguh Ali bin Abi Thalib





Ali bin Abi Thalib, pemuda muhajirin sekaligus sepupu Rasulullah yang kisahnya begitu erat dengan kisah cinta lelaki sejati. Semua orang pasti setuju, bahwa pria Muslim sejati itu adalah dia yang bisa mencintai setangguh dan seanggun Ali. Cinta Ali pada Fatimah Az Zahra, putri Rasulullah, terus ditulis dari generasi ke generasi sebagai lambang kisah cinta yang agung. 

Cinta Ali pada Fatimah bukan hanya sebatas cinta seperti kebanyakan pemuda saat ini, cinta Ali pada Fatimah adalah cinta tulus yang dibalut kesabaran dan keikhlasan tingkat tinggi. Hingga akhirnya  Sang Maha Tinggi sendirilah yang menulis akhir kisah cinta mereka. Lalu sebagai pemuda Islam, apa sajakah langkah mencintai wanita seperti Ali?


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...