Saturday, 31 December 2016

Sarajevo to Mostar, Bosnia & Herzegovina [Fiction]




Pesawat Turkish Airlines yang kita tumpangi mendarat tidak begitu halus di Sarajevo International Airport, bandara terbesar sekaligus tersibuk di Bosnia Herzegovina. Tiket yang kita beli dari salah satu website booking adalah tiket penerbangan langsung menuju Sarajevo, tidak harus transit terlebih dahulu di Wina, Austria. 

Dua jam dua menit selama penerbangan kuhabiskan dengan memandang keluar jendela, pada awan-awan tipis yang melayang. Seolah mereka tercipta hanya untuk terbang bebas tanpa beban. Dan jika sudah sampai waktunya, mereka akan berubah dalam wujud lain berupa tetes hujan atau salju yang meluncur menuju bumi, kembali menemukan sebuah kehidupan baru. 

Perangkat hiburan yang disediakan di depan kursi tidak kusentuh sama sekali. Kamu pun begitu. Sejak tadi—kuperhatikan—kau justru lebih sibuk membaca buku yang kau bawa dari Tanah Air. Kita hanya sesekali berbicara, selebihnya lebih banyak terisi oleh deru mesin pesawat.

Zdravo. Dobro jutro. Welcome in Sarajevo International Airport. Thank you for chose a flight with us.” Seorang pramugari yang berdiri melepas kepergian penumpang di pintu kabin menyapa, ucapan yang sama untuk penumpang lainnya. Senyum dan bentuk wajahnya khas Turki, sangat cocok dipadukan dengan seragam biru donkernya.

Angin musim dingin menyambut kita begitu keluar dari pesawat. Tidak ada perbedaan yang kontras antara Turki dan Bosnia Herzegovina, suhu yang tidak jauh berbeda dan waktu yang hanya memiliki selisih satu jam.Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di bandara ini. 

Dulu selama perang 1992-1995, penerbangan umum ditutup sementara waktu dan hanya dipakai untuk kegiatan kemanusiaan, seperti mengantarkan bantuan-bantuan dari seluruh dunia untuk korban perang. Bandara ini baru kembali beroperasi normal satu tahun setelah perang usai.

Kita berjalan mengikuti lorong yang mengantar menuju conveyor dan petugas pemeriksaan. 

Hvala (thanks)” ucapmu dengan bahasa Bosnia setelah petugas imigrasi laki-laki yang memeriksa paspormu.

“Da li govorite bosansky? Odakle ste? (Apakah bicara bahasa Bosnia? Dari mana asalmu?)” Wajah petugas itu terlihat semangat
 
“Razumijem bosansky, just little. (Aku bisa sedikit)Jawabmu dengan memberikan sedikit senyuman, kemudian berlalu meninggalkan mejanya. Aku sendiri kaget saat mendapati kamu mengerti sedikit bahasa Bosnia.

 “Kau tahu, bandara ini telah menerima beberapa international award.” Aku berseru sambil melihat kembali ke arah pintu bandara.

“Baguslah.” Kau merespon pendek.

Seperti kebanyakan bandara internasional, pastinya di terminal keberangkatan dan kedatangan penerbangan internasional selalu dipenuhi dengan wajah-wajah antarbangsa. Sekumpulan turis berwajah Cina terlihat baru keluar dari pintu exit bangunan bandara, wajah senang jelas sekali tergambar dari wajah mereka. Aku sudah hapal dengan kebiasaan orang Cina, mereka tidak pernah kehabisan suara. Selalu saja berisik ketika berbicara dengan sesama mereka. Seketika mereka mengerubungi seorang laki-laki separuh baya yang membawa kertas bertuliskan sesuatu di depan dadanya. Kemungkinan besar ia adalah tour guide yang akan memandu perjalanan para turis Cina itu.

Seorang laki-laki menghampiri. Dengan bahasa Bosnia ia menawari kita untuk naik ke taksinya. Aku tidak mau berpikir lama, ditambah udara yang semakin menusuk tulang, langsung saja kuterima tawarannya. Koper kecil di tanganku seketika berpindah tangan, supir yang kuterka berumur lima puluh itu mengangkut ke bagasi taksinya. Senyum ramah tetap tersungging di bibir laki-laki tua itu ketika ia mempersilakan kita masuk ke dalam taksi.

Mobil kuning yang masih cukup bagus itu bergerak meninggalkan bandara. Salju tipis turun tapi masih jarang-jarang. Setelah mengucapkan selamat datang dan menanyakan tujuan kita, supir tua itu mengarahkan mobilnya melewati jalan Brace Mulic, kemudian Belok kiri menuju Senada Poturka Sencija. Berdasarkan penuturannya, ada tiga rute yang bisa ditempuh dari bandara menuju stasiun bus di tengah kota Sarajevo. Tidak ada perbedaan jarak tempuh yang signifikan di antara ketiga rute itu. Semuanya tidak memakan waktu lebih dari 20 menit.

Mobil terus melaju di jalanan yang tidak begitu padat. Ada getaran halus menyusup dalam dadaku, mencipatakan keharuan yang indah. 

Sarajevo, tidak pernah terbersit dalam pikiranku untuk mendatangimu, bahkan dahulu semua ini hanyalah mimpi. 

Kini kota ini sudah banyak berubah. Tidak ada lagi bangunan-bangunan hancur dengan asap membumbung tinggi. Tak ada tank-tank chetnik yang berjalan serupa monster yang mengejar mangsanya. Tak ada barisan setan yang menembaki penduduk. Tak ada jeritan luka wanita dan anak-anak. Tak ada air mata yang meleleh dari sudut mata laki-laki ketika dipisahkan dari anak istrinya. Tak juga terdengar dentuman-dentuman yang menakutkan dari segenap penjuru kota.

Sekarang kota ini adalah tempat yang aman, yang indah, dan menyihir. Air mata dan darah penduduk yang terbunuh bertitah pada bumi untuk menumbuhkan keindahannya.

Aku melihat bangunan di sepanjang jalan. Beberapa bangunan seperti Masjid tetap terlihat seperti dulu, bergaya Ottoman dengan menara-menara runcingnya. Gedung-gedung yang dulu hancur akibat perang telah direkonstruksi kembali sedemikian rupa. Beberapa bangunan masih mempertahankan keadaan aslinya sebagai peninggalan sejarah. Tidak bisa dipungkiri, sejak perang 1992-1995, Bosnia identik dengan negara yang menyeramkan karena dipenuhi sisa-sisa perang. Tidak banyak yang mengetahui keindahannya. Bahkan sebagian orang menganggap kunjungan ke Bosnia tidak ubahnya kunjungan ke kota kelam yang berhantu. Tetapi kini bisa kupastikan, ketika seseorang menginjakkan kaki di atasnya, ia akan terpukau dengan pesona Bosnia. Pesona semenanjung Balkan seperti yang ada dalam tulisan dan lukisan ada di sini, di Bosnia. 

“Jika kita terus mengikuti jalan ini, kemudian berbelok tiga kali, sampailah nantinya di jalan Zelenih Beretki. Biasanya itu adalah titik pertama Sarajevo yang dikunjungi oleh turis mancanegara.” Supir tua itu menjelaskan ketika kita melaju di jalan Zvornicka. Telunjuknya menunjuk kecil ke depan.



“Di sana memang indah. Kita bisa berjalan-jalan di pinggir sungai Miljacka, lalu menyeberanginya melewati jembatan Latin dan melihat-lihat Museum Sarajevo 1878-1918.” Sambungmu dengan suara datar. 

Aku jadi teringat salah satu sahabat asal Bosnia yang bernama Elma Izetbekovic. Kami berkenalan di Jakarta. Waktu itu dia datang ke Indonesia untuk sebuah persentasi paper di Universitas Indonesia. Elma pernah bercerita mengenai masa kecilnya di Sarajevo, terutama tentang masa kecilnya di area Zelenih Beretki.

“Dulu masa kecil kami di Sarajevo, aku juga sering menyusuri sungai Miljacka dengan sepeda. Area Zelenih Beretki adalah salah satu tempat kegemaranku untuk menghabiskan waktu libur. Jembatan Latin yang tiangnya berbentuk lengkungan-lengkungan itu tidak pernah membosankan untuk dipandang. Dan jika sudah lelah, aku akan masuk ke museum Sarajevo 1878-1918atau yang dikenal dengan museum Austria-Hongaria. Disebut begitu karena memang museum itu bercerita tentang masa kedudukan Austria-Hongaria di Sarajevo, selama periode 1878-1918. Tempat terbunuhnya Franz Ferdinand yang memicu perang dunia pertama pun diduga terjadi di area itu.” Suara Elma seperti menggema di telingaku, membuatku tersenyum.

Mobil meninggalkan jalan Zvornicka, berbelok ke kiri memasuki jalan Hamdije Cemerlica. Di trotoar jalan yang mulai dilapisi salju, tampak para wanita Bosnia yang berjalan dengan plastik-plastik belanja di tangan. Kini para wanita Bosnia banyak yang mengenakan kerudung. Dulu, ketika Bosnia masih berada dalam federasi Yugoslavia, semua hal yang berbau agama tidak boleh diperlihatkan. Masjid-Masjid sepi seperti kuburan. Keadaan itu berbanding terbalik pasca perang Bosnia, pengalaman pahit selama periode perang sepertinya membawa para Bosnian pada kesadaran, ditambah lagi dengan syiar Islam yang digemakan oleh para mujahidin antar bangsa yang membantu Bosnia. 

“Lihat para gadis kami, mereka cantik-cantik, bukan?” tanya Pak Supir.

Aku membenarkan. 

Taksi terus melaju selama beberapa menit, kemudian berhenti tepat di depan Autobuska stanica Sarajevo—terminal bus kota Sarajevo. 

Setelah kamu yang membayar tarif taksi, bapak supir itu langsung memutar mobil. Ia memberikan senyuman sebelum melajukan mobil meninggalkan kita.

Kita berjalan menuju tempat pembelian tiket, kemudian bergegas masuk ke dalam bus. Sepuluh menit kemudian bus bergerak keluar dari terminal. Setelah berada di badan jalan, bus melaju dengan halus meninggalkan Sarajevo. Lanskap kota Sarajevo berganti dengan hamparan rerumputan meranggas yang dilapisi salju tipis. Dua jam tiga puluh menit lagi kami akan tiba di Mostar.


“Kenapa kau diam saja? Kau tidak menyukai perjalanan kita?” tanyaku akhirnya. Jujur, sejak tadi aku sedikit tidak nyaman dengan ekspresimu yang datar.

Kau menutup buku, memandangku sejenak. “Aku menyukainya. Tapi bukan berarti aku harus terus-terusan tertawa, kan?”

Aku menggeleng, “Itu bukan jawaban yang kuinginkan. Baiklah. Aku akan tidur. Barangkali kau sedang lelah.” Aku menyandarkan kepala, coba memejamkan mata. Detik ini, sungguh, aku bosan dengan dirimu yang diam. 

“Tidurlah. Aku akan menceritakan sebuah cerita sebagai pengantar tidurmu.” Katamu.

Aku tersenyum. Dalam hati. Inilah yang aku sukai dari dirimu. Kau selalu menghadiahiku hal-hal kecil yang tak semua pasangan melakukannya.

Lalu, kau pun mulai bercerita, tentang kisah peperangan di tanah ini yang begitu memilukan. Ketika melakukan genosida terhadap etinis Bosnia yang beragama Islam 20 tahun lalu, tentara Serbia benar-benar seperti iblis. Mereka memisahkan  semua laki-laki dewasa etnis Bosnia, dengan anggota keluarga perempuan dan anak laki-laki di bawah 12 tahun. Setelah itu mereka akan meminta para laki-laki itu berbaris sebelum akhirnya diberondong senjata mesin.  Mereka tidak mempedulikan jeritan para wanita dan tangisan anak-anak. Bagi mereka etnis Bosnia tidak berbeda dengan hewan buruan yang layak mati di ujung senapan. Ketika para tentara itu mengejar orang-orang Bosnia yang berusaha melarikan diri, mereka menganggapnya seperti sedang berburu. Saat peluru senapan mereka menjatuhkan orang-orang Bosnia, mereka tertawa terbahak-bahak dan berteriak senang pada sesama mereka.

“Aku pemburu ulung. Lihatlah aku berhasil menumbangkan lima. Kau sudah berhasil membidik berapa buronan, Jack?”

“Sial! Lari mereka ternyata cukup kencang juga. Tapi tidak apa, aku suka. Justru ini sangat menantangku.”

Kembali mereka terbahak-bahak, melajukan tank-tank baja ke pemukiman penduduk. Rumah-rumah kebanyakan tidak utuh lagi. Asap membumbung tinggi dengan bau sangit dan daging terbakar. Mayat menumpuk dimana-mana. Wujud mereka tidak lagi mudah dikenali, tercabik-cabik, perut terburai, dan tidak sedikit juga yang telah terpisah jauh dengan kepalanya. 

Para tentara Serbia memiliki persediaan senjata yang banyak, karena mendapat pasokan dari Soviet. Sementara muslim Bosnia hanya melawan dengan senjata seadanya. Mungkin kamu sudah lupa, apa yang melatar belakangi perang Bosnia 1992-1995? Baiklah, akan kuingatkan sedikit.

Bosnia Herzegovina adalah sebuah negara di semenanjung Balkan yang termasuk ke dalam Federasi Yugoslavia. Penduduknya mayoritas beragama Islam sejak masuknya Islam pada abad ke-14 oleh Dinasti Ottoman. Runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 menyebabkan efek domino yang berimbas pada Federasi Yugoslavia, sehingga harus dipecah menjadi enam negara bagian, yaitu Bosnia, Serbia, Kroasia, Macedonia, Slovenia, dan Montenegro.

Tiga negara yang memiliki perbedaan etnis dan agama paling mencolok adalah Bosnia dengan etnis Bosnia beragama Islam, Serbia dengan etnis Serbia beragama Ortodoks, dan Kroasia yang beragama Katolik Roma. Serbia memiliki ambisi untuk menyatukan kembali Federasi Yugoslavia dan sangat menentang berdirinya negara Bosnia yang beragama Islam. Itulah sebabnya mereka melakukan merampasan wilayah dengan cara menghabisi seluruh penduduk Bosnia.

Orang-orang Serbia menganggap setiap Muslim adalah orang-orang Turki yang menjajah semenanjung Balkan, sehingga mereka semua—muslim—pantas diusir. Keyakinan seperti ini mereka tanamkan sejak kecil. Sekolah-sekolah mereka mengajarkan sebuah syair yang dikenal dengan syair iklil al jabal. Syair ini mengungkapkan penghinaan yang begitu besar pada Islam.”

Kau mengakhiri cerita. Mataku yang terpejam, sebenarnya tidak bisa jatuh tertidur. Aku mendengarkan sejak tadi, mendengarkan dengan khidmat. 

“Karena itu, aku tidak bisa tersenyum sejak tadi. Negara ini menyisakan luka yang tak mudah untuk diabaikan begitu saja, Mariam. Tapi satu hal yang perlu engkau tahu, aku bahagia berada di sampingmu. Aku bahagia bisa menemanimu mewujudkan mimpi untuk berkunjung ke negara ini. Kau tak pernah bisa menerka sebesar apa kebahagiaanku.” Katamu pada akhirnya.

Aku membuka mata. Detik ini, sungguh—aku telah mengubah statementku beberapa menit yang lalu, bahwa aku begitu bahagia dengan dirimu yang diam. Kau selalu punya alasan yang membuatku jatuh hati berkali-kali. 

“Terimakasih. Terimakasih kau telah banyak tahu tentang negara ini, melebihi aku. Tapi kau juga perlu tahu satu hal, tidak ada orang yang berhasil tidur dengan kisah pengantar seperti ini. Lain kali, aku akan membelikanmu buku dongeng pengantar tidur.” Kataku lirih. Bercanda. Tersenyum. 



Kali ini aku melihat kau tersenyum tipis. Bus yang kita tumpangi terus melaju di atas jalanan yang bersepuh salju. Deretan pegunungan khas Semenanjung Balkan membentang di kanan dan kiri jalan, membuatku tak hentinya bersyukur.

Hari ini, dua impianku telah diijabah Tuhan. Pertama, adalah mimpiku untuk menginjakkan kaki di Bosnia, dan kedua adalah mimpiku untuk duduk di sampingmu.







Mercure Ancol, Hotel Berfasilitas Lengkap dengan Lokasi Dekat Tempat Wisata


Mercure Ancol - traveloka.com.jpg
Berlibur ke Jakarta bersama keluarga rasanya belum lengkap bila tidak berwisata ke Ancol. Kawasan yang berada di sebelah utara Kota Jakarta ini memiliki berbagai tempat wisata yang populer, sebut saja Dunia Fantasi, Ocean Ecopark, dan Seaworld. Karena banyaknya tempat wisata tersebut, mustahil bila Anda dan keluarga mampumengunjungi semuanya dalam 1 hari. Oleh karena itu, ada baiknya Anda sekeluarga menginap di salah satu hotel yang dekat dengan tempat wisata tersebut, Mercure Ancol misalnya.

Lokasi Mercure Ancol dikelilingi oleh Ocean Ecopark, Pantai Festival Ancol, dan Dunia Fantasi. Selain itu, letaknya juga sangat dekat dengan Ancol Golf Club dan pusat perbelanjaan Mangga Dua. Karena lokasi yang sangat strategis tersebut, Anda tidak perlu membuang banyak waktu dan tenaga di perjalanan saat bepergian.

Selain letaknya yang strategis, Mercure Ancol juga memiliki fasilitas yang lengkap. Berikut ini berbagai fasilitas hotel berbintang empat tersebut.

1.     Kamar Hotel untuk Penginapan Keluarga
Mercure Ancol menyediakan 434 kamar hotel yang terdiri dari berbagai tipe, mulai dari tipeStandar hingga Grand Royal Suite. Dari beragam tipe tersebut, tipe yang paling cocok untuk menjadi tempat menginap sekeluarga adalah tipe Deluxe, Family Suite, dan Grand Royal Suite.

Tipe Deluxe terdiri dari 1 tempat tidur king atau 2 tempat tidur single, dengan ditambah sofa bed. Luasnya cukup untuk diinapi oleh keluarga kecil dengan 1 hingga 2 orang anak.

Sementara itu, kamar Family Suite terdiri dari dua ruang tidur yang terpisah, satu ruang tidur berisi 1 kasur ukuranking dan ruang tidur lainnya memiliki 2 kasursingle. Selain itu, juga terdapat ruang duduk yang dihiasi oleh pemandangan laut dari balik jendela.

Jika jumlah anggota keluarga yang akan ikut berlibur lebih dari 4 orang, pilih saja kamar tipe Grand Royal Suite yang memiliki 4 ruang tidur terpisah. Masing-masing kamar memiliki tempat tidur berukuran king. Kamar tersebut memiliki ruang duduk yang luas, sehingga Anda sekeluarga bisa bersantai dengan lebih leluasa. Furnitur yang digunakan juga lebih mewah dan elegan.

2.    Children Club dan Taman Bermain
Selain menghabiskan waktu dengan mengunjungi berbagai tempat wisata di sekitar hotel, Anda juga bisa mengajak anak-anak untuk melakukan aktivitas yang positif di Children Club atau bermain di playground yang tersedia di hotel ini.

Di Children Club, anak-anak Anda bisa belajar sambil bermain. Anak-anak akan dikelompokkan sesuai umurnya, yaitu kelompok umur 0-2 tahun, 3-6 tahun, dan 7-12 tahun. Kemudian, mereka akan melakukan kegiatan yang edukatif, seperti mewarnai gambar, dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak Anda bisa mendapat pengetahuan baru saat berlibur dengan cara yang menyenangkan.

Jika anak-anak Anda ingin bermain, antar saja mereka ke playgroundhotel. Taman bermain yang tersedia ada dua, satu di dalam ruangan dan lainnya di luar ruangan.

3.     Fasilitas Olahraga
Anda pencinta olahraga apa? Berenang, tenis meja, lari, atau voli? Hotel Mercure Ancol menyediakan fasilitas untuk semua jenis olahraga tersebut. Anda pun tetap bisa menyalurkan hobi olahraga saat liburan. Hati gembira, fisik juga harus tetap sehat.

Fasilitas olahraga yang tersedia adalah sebagai berikut.
·        Dua kolam renang
·        Lapangan tenis
·        Penyewaan sepeda
·        Jogging track
·        Biliar
·        Tenis meja
·        Voli

4.    Restoran dan Bar
Mercure Ancol menyediakan 2 restoran yang siap memanjakan lidah dan mengenyangkan perut Anda, serta 1 bar untuk tempat bersantai.

·        Sunda Kelapa Coffee Shop
Meskipun nama restoran ini mengandung frasa “coffee shop”,Anda tidak hanya menjumpai minuman kopi di sana. Restoran yang buka dari pukul 06.00 hingga 22.00 ini menyediakan menu makanan internasional. Area restoran tidak hanya di dalam ruangan, tetapi juga di luar ruangan dan menghadap langsung ke arah laut.

·        Shiosai Japanese Restaurant
Anda yang merupakan penggemar sushi dan kuliner khas negeri sakura lainnya bisa menyantap makanan tersebut di restoran Jepang ini. Restoran ini buka setiap hari, dari pukul 11.30 hingga 22.00.

·        Nelayan Bar
Menghabiskan waktu seharian untuk pergi ke tempat-tempat wisata memang melelahkan. Nah, untuk melepas penat, kunjungi saja Nelayan Bar. Di bar tersebut, Anda bisa bersantai dengan mendengarkan live music, sambil mencicipi camilan dan minuman yang tersedia.

Sudah lokasinya strategis, fasilitasnya lengkap pula. Oleh karena itu, hotel Mercure Ancol adalah pilihan yang tepat untuk menginap bersama keluarga saat liburan ke Jakarta. Anda tertarik untuk memesan kamar di sana? Klik saja link ini.

Wednesday, 28 December 2016

Ia yang Serupa Bayangan

Aku dan Alena sedang berjalan menyusuri sebuah gang sempit yang diapit pepohonan kering, ketika pembicaraan ini terjalin. Kami berdua mengenakan jaket musim dingin untuk berlindung dari terpaan angin yang kian mengamuk. Dedaunan cokelat yang tadi masih bertahan di dahannya, kini sudah berhamburan jatuh, mengguyur kami berdua.

"Tadi adalah kali pertama aku mendengar suaranya." Kataku memulai cerita pada Alena.

Gadis di sampingku menoleh, mengernyit heran. Mungkin ia tengah menerka, siapakah dia yang kumaksud.

"Ya, Alena. Setelah bertahun lamanya ia hanya berani menjadi bayangan di belakangku. Yang selalu hilang tiap kali aku menoleh ke belakang. Tapi tadi, entahlah sebuah kebetulan apa yang mempertemukan kita lewat telepon." Aku langsung bercerita tanpa memikirkan apakah Alena mengerti atau tidak.

Tapi kemudian ia berseru, "Aha! Dia! Aku tahu. Oh, benarkah? Bukannya dia sama sekali tak pernah menghubungimu?"

Aku mengangguk. "Sekali pun tidak. Tapi seperti yang kau tahu Alena, dia dekat sekali dengan ayahku. Dia sanggup menelepon ayahku dengan nomor luar negerinya. Percakapan kami yang singkat tadi pun karena dia menelepon ke ponsel ayahku, kemudian tanpa curiga apa-apa aku mengangkatnya. Jantungku seperti berhenti saat dia menyebutkan nama."

"Apa yang ingin dia bicarakan dengan ayahmu, Mariam?" Tanya Alena tak paham.

"Dia menanyakan salah satu lahan yang ia beli dua tahun lalu, tak jauh dari rumahku. Juga bertanya kabar. Sejenis itu. Dia masih sering menghubungi ayahku untuk berbincang ringan. Dia juga bilang, akan segera mengakhiri pekerjaannya di negara orang, ingin kembali ke Indonesia, kemudian mau belajar agama beberapa waktu di pesantren. Ia mengaku lemah pengetahuan agama, jadi ingin belajar lagi."

"Sebuah kegiatan memantaskan diri?" Alena bertanya, tertawa kecil.

Aku memukul pundaknya. "Sekarang aku jadi ingin tahu rupanya, Alena. Aku masih tidak habis pikir dengan semua keputusannya. Sejak ia mengungkapkan maksudnya pada ayahku tiga tahun lalu, kami belum pernah sekali pun bertemu. Tapi mengapa ia bisa begitu yakin denganku? Dia juga tak sekali pun menghubungiku. Aku hanya tahu namanya saja. Selebihnya aku tak pernah berani menanyakan pada ayah atau ibu. Aku membiarkan cerita tentangnya terkubur sebagai misteri. Biarpun begitu, aku sangat menghormati kemuliaan sikapnya yang dewasa. Kurasa laki-laki seperti ini begitu tulus ketika mencintai. Bayangkan, ia hanya melihatku sekali, kemudian mendengar cerita tentangku dari ayahnya, kemudian dengan mantap dia langsung datang bersama walinya pada ayahku. Seperti yang kamu tahu Alena, waktu itu aku sedang berkuliah di kota lain, jadi saat ayah menyampaikan berita kedatangannya sekaligus meminta jawaban, aku menjawab mantap: tidak. Nyatanya, setelah menerima jawaban pahit, ia tetap tak memutuskan silaturrahim. Ia tetap berlaku baik dan sering menelepon ayahku. Betapa anggun sikapnya ini."

"Kenapa kau tak mau memberi satu kesempatan padanya untuk memperkenalkan diri padamu?" Tanya Alena.

"Aku takut." Jawabku jujur. "Aku tak tahu apa alasanku untuk takut. Tapi sejak dulu aku memang tak pernah berani untuk menggali informasi tentang dia. Biarlah seperti ini, Alena. Akan lebih baik jika aku tak tahu banyak tentangnya. Cukup aku tahu namanya, suaranya, dan dimana ia bekerja saja."

"Baiklah jika itu keputusanmu. Tapi jika aku ada di posisimu, aku tidak akan mengabaikan laki-laki seperti ini." Ujar Alena.

Kami terus berjalan menyusuri jalanan berangin ini. Jaket panjang kami beterbangan ke belakang.

Sunday, 25 December 2016

Di Perjalanan Pulang

Hari ini aku pulang,
Ada banyak kelelahan yang ingin kulepaskan di kampung halaman.
Aku juga sudah rindu pada semua masakan ibuku, beberapa di antaranya adalah menu tidak pernah kutemui dimana pun.
Aku rindu pada adikku satu-satunya.
Sekarang dia sedang butuh semangat setelah kemaren-untuk pertama kalinya-ia tidak duduk di peringkat pertama.
Dan tentu saja, aku rindu pada Bapak. Aku ingin shalat di belakang Bapak, mendengarkan suaranya.

Aku juga ingin memberi tahu, nanti aku akan singgah di rumah nenekku.  Untuk satu malam saja. Rasanya sudah tiga atau empat tahun aku belum berkunjung. Aku selalu ketakutan untuk mengunjungi nenek sendirian, aku takut tidak punya bahan pembicaraan. Kadang aku berpikir mereka tidak menyukaiku, karena itu mereka tak pernah memberiku kesempatan untuk bicara. Selalu begitu. Ah, tak perlu dipikirkan. Aku sudah biasa bermain bersama ketakutan seperti ini. Sayangnya, para dokter psikologis dan kejiwaan yang pernah kudatangi selalu mengatakan: itu bukan masalah. Baiklah, mungkin aku yang berlebihan. Semua orang pasti punya rasa takut. Bahkan seorang yang dikatakan pemberani sekali pun. Pemberani itu bukan berarti tidak takut, melainkan bagaimana kita mampu mengendalikan ketakutan. Iya, kan?

Kau tahu, sekarang hujan. Aku baru saja menatap keluar dari jendela mobil yang basah. Tiba-tiba aku teringat dirimu, teringat kita.

Aku lupa kapan pertama kali kita bertemu, dan kapan terakhirnya. Bagiku, semua pertemuan denganmu adalah mimpi yang hanya datang sebentar. Membekas, tapi perlahan memudar seiring lamanya waktu kita berjauhan. Beberapa minggu lalu aku sempat merasakan perasaan yang begitu kuat untukmu, tapi hari ini perasaan itu mulai lemah. Bukan berarti aku menggantimu dengan yang lain. Tidak. Sejak dulu kamu selalu hidup di hatiku. Dan seperti yang kutulis di atas, kadang kau hidup begitu segar dan terkadang layu. Di saat rasa ini jadi lemah seperti ini, kurasa kamu di sana pun mengalami hal yang sama. Terkadang aku jadi khawatir, tapi setelah kembali kupikir-pikir, aku tak punya alasan untuk khawatir.

Satu lagi, untuk pertemuan selanjutnya mungkin aku tak akan datang. Sejak kemaren aku bingung bagaimana harus memasang wajah di hadapanmu. Apa aku harus tersenyum? Atau aku datar saja dan pura-pura tidak tahu? Hingga detik ini aku masih bingung. Aku takut bertindak bodoh, takut semuanya canggung, atau aku justru tak bisa mengeluarkan suara. Kesimpulannya, aku sungguh tak siap berhadapan denganmu.

Hanya itu yang ingin kusampaikan. Jika ada waktu, kau boleh menulis pesanmu untukku juga.

Thursday, 15 December 2016

Al FURQON AL KARIM




Ya Allah, anugerahilah kami dengan hati yang selalu berbahagia, yang selalu bersyukur. 

Ya Allah, jadikanlah Al Quran itu untukku sebagai imam, cahaya, petunjuk, dan rahmat. Ya Allah ingatkanlah aku ketika lupa darinya, dan berikanlah pengetahuan atas kebodohanku, dan berikanlah rezeki kepadaku dengan membacanya sepanjang malam dan siang, dan jadikanlah Al Quran itu sebagai hujjah bagiku wahai Tuhan Pemelihara Alam.

Jadikanlah hati kami merasakan kenikmatan ketika membacanya berlama-lama. Jadikanlah hati kami mampu meresapi hikmah dan keindahan Al Quran. Jadikanlah hati kami terang, seterang ayat-ayat petunjukmu. 

Ya Allah, jadikanlah rasa takut dalam hati kami ketika membaca ayat-ayatmu tentang kabar kematian yang begitu dekat, tentang hari pembalasan, dan neraka-Mu yang membara. Dan limpahilah hati kami dengan kebahagiaan tatkala membaca ayat-ayat tentang nikmat dan surga.

Ya Allah jadikanlah Al Quran sebagai hujjah dan penolongku tatkala aku berdiri di tepian jurang neraka. Jadikanlah Al Quran sebagai sahabat terbaikku, pelipur lukaku, penerang hatiku, peneguh imanku, dan petunjuk dalam hidupku.

Ya Allah, anugerahkan kepadaku imam dan anak-anak yang mencintai kitab-Mu, yang menghapal kitab-Mu, yang mengamalkan kitab-Mu. Ya Allah jadikanlah cita-cita tertinggiku adalah memiliki anak-anak yang saleh dan saleha, yang hapal kitab-Mu, yang membacanya dengan tartil dan menyejukkan, yang dengan Al Quran mereka memeperoleh kemuliaan dunia dan akhirat.

Ya Allah jadikanlah ahli keluargaku adalah ahli Al Quran yang mana mereka adalah ahli keluarga-Mu.

Ya Allah, jadikanlah cinta tertinggiku hanyalah cinta kepada-Mu, kepada rasul-Mu, dan kepada kitab-Mu. Jadikanlah kematian tidak lagi menakutkan. Jadikanlah pertemuan dengan-Mu adalah satu-satunya hal tertinggi yang kudambakan. 

Ya Allah berikanlah kemaslahatan kepadaku agamaku, yang mana agama itu menjadi peneguh dalam urusanku. Dan berikanlah kemaslahatan untuk duniaku karena dunia itu merupakan tempat hidup dan kehidupanku. Dan berikanlah kemaslahatan untuk akhiratku, karena akhirat merupakan tempat kembalinya aku. Dan jadikanlah kehidupanku untuk menambah kebaikanku. Dan jadikanlah kematianku akhir dari segala perbuatan burukku.

Ya Allah jadikanlah kebaikan di akhir umurku, dan jadikanlah sebaik-sebaiknya amal perbutan di akhir hayatku, dan sebaik-baiknya hari ketika aku bertemu dengan-Mu.

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu kehidupan yang menyenangkan, kematian yang nyaman, dan tidak dikembalikan kepada tempat yang hina lagi buruk.

Ya Allah aku meminta kepada-Mu perkara yang baik, permintaan yang baik, kemenangan yang baik, pengetahuan yang baik, perbuatan yang baik, pahala yang baik, kehidupan yang baik, dan kematian yang baik. Teguhkanlah aku, beratkanlah timbanganku, kuatkanlah imanku, angkatlah derajatku, terimalah shalatku, ampunilah kesalahanku, dan aku meminta kepada-Mu tempat yang tinggi di Jannah-Mu.

Ya Allah janganlah Engkau sisakan suatu dosa untuk kami melainkan Engkau mengampuninya, dan janganlah engkau sisakan kesusahan untuk kami melainkan Engkau melapangkannya, dan janganlah Engkau sisakan hutang untuk kami melainkan Engkau membayarnya, dan janganlah Engkau sisakan untuk kami atas kebutuhan-kebutuhan dunia dan akhirat melainkan Engkau membebaskannya, Wahai Yang Maha Penyayang.

Ya Allah, kuatkan imanku, terangi hatiku. Kuatkan iman seluruh Muslim, terangi hati mereka dengan cinta-Mu, rahmat-Mu dan cahaya-Mu.

Riau, 14 Desember 2016
Sofia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...