Friday, 5 September 2014

Oh English! [Cerita saat di Singapore-Malaysia]

Mungkin selama ini para sahabat blogku hanya tau kalau aku suka dengan bahasa Turki. Berusaha belajar sendiri meskipun sulitnya setengah pingsan. Dan walhasil karena nggak konsisten, sampai sekarang bahasa Turkiku masih bisa dibilang nol besar.

Namun siapa yang tau kalau ternyata aku juga suka bahasa Inggris. Setiap kali pulang kampung, selalu kuobrak-abrik kembali buku-buku bahasa Inggris semasa SMA, kemudian mempelajari kembali. Nggak lupa juga kupinjam my brother's grammar book plus dibantu kamus digital di ponsel.

Soal reading, aku nggak ada masalah serius, baik itu cara pengucapan maupun skimming for the main idea. Kesulitan terbesarku dalam berbahasa Inggris yaitu saat speaking, listening dan writing. Rasanya semua vocabs yang pernah kuhapal hilang begitu aja ketika ingin digunakan. Pun saat mendengar, aku harus membesarkan lubang telinga dan kening berlipat.

Semuanya error. Dan itu membuatku sangat kesal pada diri sendiri, seolah-olah semua usaha nggak membuahkan hasil sesuai yang kuharapin.

Contoh yang nggak pernah kulupakan, mengenai betapa jeleknya speaking ability-ku yaitu ketika mengunjungi Singapura dan Malaysia beberapa bulan lalu.


Muka jelek tanpa editing. Yang penting orang India-nya aja yaa, biar emak-emak gak masalah ;D

--------000--------

Cerita pertama terjadi pada pagi hari di sebuah Hotel X Singapura (lupa namanya). Kebiasaan di rumah kalau keluar nggak perlu bawa-bawa kunci, di Hotel pun kuperlakukan sama. Saat keluar kamar, aku lupa membawa key card, dan akibatnya kamar nggak bisa dibuka dan so pasti aku nggak bisa masuk. Mau nggak mau aku harus meminta key card yang baru pada petugas resepsionis.

Gemeteran. Dag dig dug. Itulah yang kurasain sejak di dalam lift hingga ke depan meja resepsionis. Belum lagi saat mendapati tampang petugas yang jaga sangat nggak bersahabat. Laki-laki setengah baya berkemeja rapi, rambut klimis, terlihat sibuk di mejanya.
“Hmm...morning Sir. I lost my key card, so may i ask another key card?” 
Di tulisan ini susunan kalimatnya jauh lebih baik dari apa yang berhasil kuucapkan saat itu. Bukan hanya soal grammar, ternyata pengucapanku juga mirip dengungan lebah. Sampai-sampai sang petugas meminta mengulang kalimat yang kuucapkan. Oh...rasanya malu banget dan makin gemeteran. Perasan kemampuan bahasa Inggris-ku nggak parah-parah amat deh.

Akupun mengulangi kalimat tersebut. 
“Tell me the number of your room Madam.” Pintanya tanpa menatapku sedikit pun. Sebal! Apalagi mata si petugas hanya memandangi komputer di depannya dengan jari menunggu nomor yang akan kusebutkan.
“Hmm...” hampir lima detik aku berpikir. Nomor kamarku adalah 810, dan sekadar untuk men-translate angka 8 ke dalam English aja aku kesulitan. “Eight ten, Sir...”
“Sorry?” ia memandangku aneh. “I don’t understand.” Kepalanya menggeleng. Memintaku mengulangi. Dan yang bikin aku makin down, wajah si petugas itu terlihat sangat jengkel padaku.
Duh, saat itu rasanya langit-langit Hotel seperti runtuh menimpaku. Untuk kembali membuka mulut kayaknya berat banget. Mungkin sangking merahnya wajahku saat itu sampai kelihatan pucat.
“Eight...” aku melukis angka 8 di udara, ia mengangguk paham. Selanjutnya telunjukku melukis angka 1 dan 0 sambil menyebut ‘Ten’.
“O...eight one zero.” Ia berkata seraya mengangguk. Tangannya mengetikkan sesuatu di keyboard.
Oh my God! Kenapa tadi nggak sedikit pun ZERO muncul dalam kepalaku? Padahal sering aku baca tulisan ataupun judul kelas motivasi “From Zero to Hero”.
“Hey Sofi, bahasa Inggris-nya 0 itu zero! Masak lupa sih! Bikin malu aja!” Hujatku dalam hati.
Si petugas memberikan key card baru, aku langsung tancap gas  meninggalkan meja resepsionis itu dengan keringat bercucuran. Orang-orang yang berhasil keluar dari ruang eksekusi mati pun masih kalah menyedihkan dibanding keadaanku saat itu.

--------000--------

Sedangkan di Malaysia, tepatnya di sebuah kedai minuman dingin yang ada di pojok pelataran Batu Cave, aku baru menyadari sepenuhnya kalau listening ability-ku sungguh nggak pantas dipuji (siapa juga yang mau kasih pujian).

Saat itu ketiga rekan perjalananku sedang berjuang menaiki ratusan tangga menuju gua di atas bukit. Aku memilih nunggu di pelataran aja, karena sepatu yang kukenakan hari itu bikin kakiku sakit banget. Setelah keliling-keliling pelataran, keluar masuk toko India tanpa membeli apapun, akhirnya aku kehausan juga. Dengan PD-nya aku melenggang masuk ke kedai penjual minuman dingin. Kulkas besar itu kubuka dengan sangat mudah, lalu sedetik kemudian sudah kugenggam sebotol minuman (rasa air kelapa, kalau nggak salah).

Pelataran Batu Cave
“This Sir.” Kutunjukkan botol minuman tersebut pada penjual berwajah India. Ya, selama di Malaysia, kemana pun mata memandang aku selalu mendapati wajah orang India. Bahkan tour guide kami pun orang India. Tapi, jangan membayangkan sosok Arjuna dalam Mahabarata atau Jalal Akbar dalam Jodha Akbar dulu ya, karena yang mirip cuma hidungnya doang. Hiks... jangankan mirip Arjuna, mirip Bima pun susah-susah gampang nemuinnya. Biar begitu, kelihatannya mereka ramah-ramah kok.

Maaf, ini Jalal Akbar! Bukan si penjual minuman dingin dan sama sekali nggak mirip. Hihi
“Four ringgit Madam.” Ucapnya. Wah, kalau dirupiahkan jadi 14.000. Untung aja di negara orang, kalau di Indonesia harga air semahal ini, mending deh minum air keran.
Dengan santai kukeluarkan lembaran 5 ringgit Malaysia. Kemudian membalikkan badan, berniat untuk segera meninggalkan kedai tersebut.
“Sorry Madam!” panggil si penjual yang membuatku menoleh ke belakang. Ada apa? Kali aja dia mau minta pin BB.
“This your 1 ringgit.” Ia berkata sambil mengulurkan lembaran 1 ringgit. 
Ternyata aku lupa kembaliannya. Bukan lupa sih, melainkan ketika si penjual itu bilang ‘four ringgit’ tadi, justru yang kutangkap adalah 5 ringgit. Bingung antara four dan five. Duh, pelajaran anak Play Group padahal.

Jleb...speechless! Kedai itu seketika berubah gelap di mataku, hening, dan aku nggak tau bagaimana harus berekspresi.

Cari aman dan untuk menutupi rasa malu, akhirnya aku menerima uang kembalian tersebut lalu melenggang keluar gitu aja. Tanpa ekspresi atau sepatah kata pun. Sampai di pelataran, aku berakting seolah-olah menikmati tempat tersebut, seperti nggak ada kejadian apapun sebelumnya. Wajah tanpa dosa memang pilihan yang cerdas.

Nah, itulah tadi dua pengalamanku seputar bahasa Inggris. Buruk dan nggak ada yang menyenangkan. Tapi nggak apalah, lucu juga kalau diingat lagi. Selain itu juga bisa menjadi pemacu semangat biar aku lebih serius lagi belajar English. Dan semester ini ada mata kuliah bahasa Inggris. Dosennya wanita 52 tahun yang masih cantik plus segar layaknya wanita umur 40 tahun. Beliau menyelesaikan S1 dan S2 di Australia. How lucky i am. Semoga bisa membantuku untuk menguasai bahasa Inggris baik lisan maupun tulisan yaa. Aamiiin... Doa yang sama buatmu yang juga lagi berjuang buat menguasai English :)

Yang ingin kutanyakan, 
Do you have any horrible or funny experiences with English?

Wednesday, 3 September 2014

Bagaimana Nanti Setelah Menikah?

Kisah sejoli pertama

Siang itu sangat panas. Setelah mengunjungi Taman Boneka dan Anjungan Sulawesi (lupa Sulawesi mananya), aku dan seorang temanku bernama Rifa duduk di kaki lima gedung yang menghadap Tugu Pancasila. Itu adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di TMII, sebenarnya sebuah kunjungan nebeng. Rifa harus menemani Paman (paket komplit: bawa istri, anak umur 2 tahun dan adik sang istri) berkeliling Jakarta, jadi mau nggak mau akupun ikut. Tentu banyak gratisannya (red—dibayarin).

Merasa tahu diri, kami berdua pun memilih menunggu, sementara keluarga sang paman naik kereta gantung (Skyway—kalau di Genting) untuk menikmati TMII dari ketinggian. Kan mahal tuh tiketnya, daripada ngabisin budget Sang Paman yang mau liburan bersama keluarga, mending kita memisahkan diri aja. Alasan tentu super banyak, bilang sudah sering naik Skyway-lah, capek jalanlah, pengen beli es-lah, de es be yang intinya cuma satu ‘sayang keluar duit’. Hehe

Di tengah ketermenungan kami berdua itulah, datang sepasang muda-mudi yang kemudian duduk sekitar tujuh depa di depan kami. Sang wanita mengenakan rok hitam lebar, baju lebar, plus kerudung lebar juga. Sedangkan sang laki-laki mengenakan celana bahan warna hitam plus kemeja. Kalau kamu sering main ke Masjid Kampus, pasti sangat familiar dengan gerak-gerik dan cara berpakaian mereka, ala aktivis ROHIS banget.

Tapi bukan hal tersebut yang membuat mereka menarik perhatianku, karena akupun suka dengan gaya anak-anak Rohis, terkesan adem. Melainkan keduanya duduk sangat dekat sehingga aku menyimpulkan mereka adalah pasutri muda. Mustahil, sepasang Adam dan Hawa yang berpenampilan seperti mereka jalan berdua dan duduk sedekat itu jika belum ada ikatan yang sah.

Duduk bersebelahan, bergandengan tangan, bercengkerama ria, saling pandang. Ah, pasti seperti itu yang sering kita bayangkan perihal pasangan muda. Namun pasangan yang ini sangat berbeda. Sejauh pengamatanku, ditambah antena pendengaran yang sengaja kupertajam untuk tujuan ‘nguping’, mereka hanya diam. Barangkali hanya satu atau dua patah saja yang keluar. Menariknya, di space tak sampai sepuluh senti antara keduanya itu terdapat kumpulan bunga krisan kuning, terbungkus rapi dalam plastik bunga dan ditambah pita merah jambu. Sang bunga tergeletak begitu saja, menjadi saksi kebisuan mereka.


“Fa, lihat itu.” Aku memberi kode pada temanku agar ikut melihat. “Sejak tadi mereka hanya diam. Sibuk dengan ponsel masing-masing. Bahkan seringkali masing-masing dari mereka tersenyum, bukan karena saling bercengkerama, tapi karena ada sesuatu yang menarik dari layar ponselnya. Mereka sibuk sendiri-sendiri. Atau apa mungkin mereka ngobrol via chatt BBM?”

Temanku hanya tersenyum. Memandangi beberapa saat kemudian kembali pada ponselnya. Sementara aku sendiri? Sungguh, hatiku seperti berkelana ke masa depan. Membayangkan diri ini menjadi sang wanita. Menikah dengan laki-laki sedingin itu, jarang bicara, dan matanya seperti kehilangan cinta. Istri di samping seperti kalah menarik dibandingkan status teman di media sosial. Ternyata nih setelah aku baca dari sebuah sumber, istilah untuk seseorang yang lebih memilih gadget ketimbang memperhatikan pasangannya disebut phubbing, berasal dari kata snubbing (mengejek). Bahkan sebuah hasil survei menyebutkan 45% orang selingkuh karena kekasih terlalu asik main smartphone. Duh!

Kembali pada cerita tentang aku yang seketika berteriak jauh di dalam hati, mengatakan aku tidak akan sanggup menjalani kehidupan pasca nikah seperti pasangan yang kulihat. Bukan seperti itu pernikahan yang kuimpikan. Namun barangkali, Allah ingin menegurku saat itu, mengingatkanku agar jangan memiliki ekspekstasi tinggi tentang kehidupan setelah menikah. Semuanya memang sudah berusaha maksimal untuk menemukan yang terbaik, tapi siapa yang bisa memastikan?

“Ya Allah, nikahkanlah aku dengan lelaki yang shalih yang menyejukkan hatiku (tenang dipandang) dan aku pun membahagiakan hatinya, wahai Dzat yang Mahaluhur dan mulia.”

Setelah hampir setengah jam, kami berdua beranjak meninggalkan kaki lima bangunan.

“Selamat siang.” Sebuah sapaan membuatku menoleh seketika.

Oh my God! Could you guess who?

Dia adalah pemuda Negro yang fisiknya...nggak perlu deh aku jabarin panjang lebar. Pernah nonton di televisi kan? Nah, nggak jauh beda kok.

Senyumnya ramah. Aku hanya membalas ‘selamat siang’ lirih. Benar-benar tanpa senyuman, kemudian berlalu begitu saja.

Kenapa di saat aku membayangkan perihal jodoh, malah pemuda Negro yang datang? Pertanda apa? Hehe... We never know what will happen in the future. But, Turkishman still be number one in my heart at this time (nyengir).


Kisah Sejoli Kedua

Usai mengelilingi TMII, perjalanan selanjutnya adalah Ancol. Sama seperti TMII, ini adalah kunjugan pertamaku ke Ancol. Sungguh kasihan...

Cerita dimulai saat kami masuk ke dalam gedung Sea World (kali ini bayar setengah harga, setengahnya lagi dibayarin). Banyak ikan-ikan cantik pastinya, berasa jalan-jalan di bawah laut. Adem juga di sana. Dan yang lebih spesial banyak orang asing di sana. Bule-bule ganteng bawa kamera sampai saudagar minyak dari Timur Tengah yang bawa paket combo keluarga juga ada.

Begitu selesai keliling-keliling, pose-pose nempel di aquarium, akhirnya kelelahan juga dan memilih duduk di lantai berundak yang menghadap aquarium super jumbo, banyak karang dan bener-bener mirip laut. Sampai-sampai ada beberapa penyelam di sana, asik aja mereka selfie dalam air. Terus kita jadi penontonnya. Mau ikutan nyelam, eh masak harus bayar 500 ribu. Lagi-lagi sayang duit!

Saat itulah mataku menangkap sepasang muda-mudi berwajah Arab. Laki-lakinya tinggi jangkung dengan jambang tipis dan bergaya maskulin gitulah. Sedangkan si wanita berpakaian tertutup (bukan abaya), maksudnya pakai baju kaos panjang dan celana panjang plus pashmina hitam. Cantik udah pasti. Hidungnya yang mancung itu aja udah bisa bikin mata laki-laki Indonesia sebesar globe di ruang kepala sekolah. Belum lagi maskara yang membuat matanya terkesan punya sihir. Ah, pokoknya pasangan yang ideal banget.

Source: click here
Terus aja aku mengamati mereka dari kejauhan. Para penyelam yang salto-jungkir balik, pakai gaya bebek sampai gaya ikan kekurangan oksigen pun kalah menarik dibanding keromantisan mereka. Bukan romantis pakai peluk-pelukkan di depan umum seperti pasangan yang ada di pojok lain, karena aku menyimpulkan kedekatan mereka ini seperti dua orang sahabat atau kakak-adik. Atau jangan-jangan memang iya?

Tapi rasanya mustahil mereka sahabatan atau saudara kandung, ‘cause i saw their chemistry clearly. Saling bergantian mengambil gambar, selfie berdua, jalan beriringan sambil melihat foto-foto hasil bidikan, tertawa lepas, dan kalau salah satu dari mereka dirasa kurang cocok posenya, satu yang lain akan memberi tahu sebelum membidikkan kamera.

Sepertinya jangankan di Sea World, mereka jalan-jalan di hutan dan semak belukar pun kalau bisa seasik itu, tetap bikin iri makhluk lain, minimal orang utan. Wajar aja kalau spontan hatiku berteriak kegirangan, aku ingin kehidupan rumah tanggaku nanti seperti pasangan itu. Kamu juga maunya begitu kan?

Jadi pertanyaannya, sahabat semua pilih cerita sejoli pertama atau kedua?

Sunday, 31 August 2014

Menabung Air melalui Lubang Resapan Biopori

Air adalah kehidupan itu sendiri. Tanpa adanya air, mustahil planet bumi ini berwujud biru dan dipenuhi hiruk-pikuk makhluk hidup yang menghuninya. Namun tidak semua air yang mengisi bumi tersebut bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk menunjang keberlangsungan hidupnya, seperti untuk minum, mencuci, memasak, mandi, dan sebagainya. Karena jumlah air bersih hanya 2, 53 % dari total air bumi, dua pertiga dari air bersih tersebut berupa sungai es dan salju permanen yang sulit dimanfaatkan.

Seperti yang disebutkan dalam The World Water Development Report dari UNESCO, bahwa sejauh ini 768 juta orang tidak memiliki akses ke sumber air, dan 2,5 miliar tidak memiliki sanitasi yang layak. Laporan ini juga menegaskan bahwa kebutuhan air global cenderung meningkat sebesar 55% pada tahun 2050. Pada saat itu, lebih dari 40% dari populasi dunia akan tinggal di daerah  krisis air. Begitu seriusnya masalah ini, sehingga para ahli berpendapat bahwa pada suatu saat nanti, akan terjadi “pertarungan” untuk memperebutkan air bersih. Sama halnya dengan pertarungan untuk memperebutkan sumber energi minyak dan gas bumi.

Indonesia sendiri tidak terbebas dari masalah kelangkaan air bersih, karena sekitar 119 juta rakyat Indonesia belum memiliki akses terhadap air bersih. Penduduk Indonesia yang bisa mengakses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, baru mencapai 20 persen dari total penduduk Indonesia. Itupun yang dominan adalah akses untuk perkotaaan. Artinya masih ada 82 persen rakyat Indonesia terpaksa mempergunakan air yang tak layak secara kesehatan.


Air Gambut di Kampung Halaman


Pulau Penyalai di peta
Masalah air seperti yang dipaparkan di atas juga sangat saya rasakan. Hal ini karena kampung halaman saya bertanah gambut. Luas lahan rawa gambut di Indonesia diperkirakan 20,6 juta hektar atau sekitar 10,8 persen dari luas daratan Indonesia. Dari luasan tersebut sekitar 7,2 juta hektar atau 35%-nya terdapat di Pulau Sumatera.

Dermaga Pulau Penyalai (sumber foto: dokumentasi pribadi)
Kampung halaman saya dikenal dengan nama Pulau Penyalai, masuk dalam kawasan Provinsi Riau, dan berada di kuala Sungai Kampar. Lokasi pulau ini bisa dikatakan strategis, namun ketika berkunjung ke sana, jangan kaget saat mendapati nuansa pedesaan yang khas. Salah satunya adalah mandi air tanah gambut yang berwarna cokelat seperti teh dan sangat asam. Bahkan beberapa tahun lalu, ketika saudara saya dari kota Pekanbaru datang berkunjung, ia memilih menghabiskan berbotol-botol air aqua untuk mandi.

Sejak dulu hingga umur saya 13 tahun, penduduk pulau Penyalai juga memanfaatkan air gambut untuk aktifitas memasak dan air minum. Rasanya asam bagi yang belum terbiasa, namun bagi kami yang sehari-hari minum air tersebut, rasanya enak-enak saja. Wajar saja sebagian besar penduduk pulau menggunakan gigi palsu, bahkan anak-anak, karena kandungan dalam air gambut menyebabkan gigi mudah keropos. Sedangkan air hujan ditampung penduduk dalam drum kecil dan hanya dimanfaatkan untuk membilas pakaian.

Drum dari pemerintah untuk penampungan air hujan (sumber foto: dokumentasi pribadi)
Saat ini keadaan sudah sedikit lebih baik, sejak adanya bantuan berupa drum besar untuk penampungan air hujan bagi tiap-tiap rumah. Sehingga untuk aktifitas memasak dan air minum, penduduk memanfaatkan tampungan air hujan. Namun ternyata bantuan drum dari pemerintah tidak merata, sehingga masih banyak rumah yang tidak bisa menampung air hujan dalam jumlah besar. Belum lagi kebiasaan suku Apit yang terbiasa minum air tanah tanpa dimasak terlebih dahulu masih berlangsung hingga kini. Saat musim kemarau panjang, sebagian penduduk memilih untuk membeli air galon yang harganya mencapai 10 ribu rupiah, dan sebagian yang lain kembali memanfaatkan air gambut.

Sebenarnya sudah ada teknologi pengolahan air gambut menjadi air baku layak konsumsi, yaitu instalasi pengolah air gambut (IPAG) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). IPAG LIPI diproduksi dengan kapasitas 60 liter per menit, sehingga diberi nama IPAG60. Kapasitas ini mampu mencukupi kebutuhan air bersih 100 rumah tangga dan sudah diterapkan Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Bengkalis, Riau. Sayangnya, Pulau Penyalai belum mengenal alat ini sama sekali. Sedangkan untuk pembuatan teknologi filter sederhana, masyarakat pulau Penyalai tampaknya tidak memiliki inisiatif untuk membuat karena merasa terlalu rumit.


Kekeringan Saat Kemarau

Dulu masa saya kecil, sumur-sumur galian dan parit yang bersumber dari hutan tidak dalam seperti sekarang. Jarak antara permukaan tanah dan permukaan air hanya sekitar satu meter saja. Namun saat ini, jarak tersebut menjauh hingga mencapai 3 meter. Tali timba semakin panjang dan parit sudah jarang digunakan untuk mencuci. Anak-anak pun tidak lagi sering berenang.

Parit di depan rumah (sumber foto: dokumentasi pribadi)
Masalah lain adalah ketika datang musim kemarau, tidak perlu menunggu lima atau enam bulan, cukup dua bulan saja bisa dipastikan sumur-sumur kami sudah mengering. Sehingga perlu digali lebih dalam. Belum lagi pohon-pohon yang berubah kurus serta daun-daunnya yang layu kemudian mengering. Setelah saya perhatikan, parit-parit kami pun sudah mulai berlumpur (lumpur pantai). Ibu juga sempat memberi tahu, sudah ada ikan-ikan kecil yang hidup di sungai berair asin berenang hingga ke parit depan rumah kami. Saat saya ikut Bapak ke kebun yang berada di pinggiran hutan, mata saya mendapati hutan yang cokelat. Semua tumbuhan hutan telah mati terbakar saat kemarau panjang beberapa bulan lalu. Bapak mengatakan bahwa Pulau Penyalai tidak lagi memiliki hutan. Miris saya mendengarnya.

Belukar yang terbakar (sumber foto: dokumentasi pribadi)
Dalam hati saya membenarkan satu hal, inilah mengapa air di pulau kami cepat habis di musim kemarau. Karena tidak ada lagi hutan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan air. Memang kebun-kebun penduduk Penyalai dipenuhi oleh tanaman kelapa, namun seperti yang diketahui, kelapa memiliki akar serabut yang tidak cukup efektif untuk menyimpan air, berbeda dengan tumbuhan hutan dengan akar-akar tunjang yang menancap ke segala ranah tanah. Hutan jelas tidak bisa disamakan manfaatnya dengan perkebunan kelapa.

Saya kembali membuka file kuliah semester lalu. Di sana saya mengingat kembali dampak negatif kekeringan, di antaranya: berkurangnya sumber air bersih, berkurangnya kelembaban tanah, memicu keretakan tanah, keamblesan tanah, intrusi air asin, dan meningkatkan resiko kebakaran yang meluas serta sulit dipadamkan. Ya, hampir semua dampak negatif tersebut ternyata sudah dapat dirasakan di pulau kecil kami.


Biopori, Solusi Untuk Kekeringan

Itulah sebabnya selama di kampung halaman, saya mencari-cari cara untuk sedikit berkontribusi menangani masalah ini. Tidak perlu hal besar, pikir saya. Karena sesungguhnya dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara kompak dan kontinyu justru lebih besar menfaatnya. Salah satu solusi yang coba saya praktikkan adalah dengan pembuatan lubang biopori. Beruntung saya pernah mempelajari Konservasi Tanah dan Air selama satu semester dari Bapak Kamir R. Brata, Dosen IPB sekaligus seseorang yang sangat peduli terhadap lingkungan hidup. Dari beliau inilah saya mengetahui detail pembuatan dan manfaat lubang resapan biopori.

Pak Kamir saat mengisi praktikum (sumber foto: dokumentasi pribadi)
Berbeda dengan pemikiran umum yang berkembang saat ini dimana teknologi diidentikkan dengan sesuatu yang canggih, rumit, serta memerlukan biaya yang besar untuk diterapkan, Pak Kamir justru dengan brilian mengembangkan suatu teknologi yang terlihat sederhana, murah, dan mudah dilakukan oleh setiap orang, serta multi guna.

Lubang resapan biopori (sumber: klik di sini)
Biopori sendiri adalah liang-liang yang ada di dalam tanah dan terbentuk secara alami oleh aktifitas akar dan organisme tanah. Liang seperti inilah yang berusaha kita buat sehingga bisa berfungsi sebagaimana liang yang terbentuk secara alami. Lubang resapan biopori yang baru dibuat serta telah diisi sampah bisa memasukan air sebanyak 1,5 liter hingga 16 liter per menit. Dengan adanya lubang resapan biopori ini, air akan mudah meresap ke dalam tanah dan aliran permukaan bisa diperkecil. Selanjutnya air yang tersimpan dalam tanah inilah yang akan berkontribusi mengatasi kekeringan.


Cara pembuatan lubang biopori

Alat dan bahan:
  • Bor biopori. Untuk tanah lunak dan gambut, bisa menggunakan kayu berdiameter 10 cm dengan ujung lancip.
  • Cincin biopori. Berupa cincin dengan diameter 10 cm terbuat dari semen dan pecahan keramik. Berfungsi sebagai penguat bibir lubang resapan.
  • Sampah organik dan air secukupnya.

Cara membuat:


Langkah pembuatan lubang resapan biopori (sumber foto: dokumentasi pribadi)
  • Tanah dibor menggunakan bor biopori dengan kedalaman 100 cm. Kedalaman 100 cm diperhitungkan agar tersedia cukup oksigen agar sampah yang dimasukkan segera diolah oleh organisme tanah sebelum mengalami pembusukan yang menghasilkan gas metan;
  • Sampah organik dimasukkan ke dalam lubang, kemudian disiram air secukupnya;
  • Cincin biopori diletakkan di bibir lubang resapan. Permukaan cincin harus sejajar dengan permukaan tanah, agar tidak menghambat aliran air menuju lubang resapan;
  •  Dilakukan bor ulang setelah enam bulan kemudian.


Pembuatan lubang resapan biopori yang tidak benar

Berkali-kali Pak Kamir menunjukkan kepada kami halaman-halaman di internet yang memuat tentang proyek pembuatan lubang resapan biopori. Hal yang selalu dikesalkan beliau adalah cara pembuatan lubang resapan yang tidak benar. Pemerintah memberikan anggaran dana hingga milyaran hanya sekadar untuk membuat lubang sesederhana ini. Bukan untuk upah tenaga kerja, pembelian bor maupun pembuatan cincin, melainkan sebagian besar dana dihabiskan untuk membeli pipa paralon berdiameter 10 cm.
“Lubang resapan biopori cukup dimasukkan sampah saja, tidak perlu ditanam paralon sedalam 100 cm ke dalam tanah. Kalau sudah seperti ini, bukan hanya menghabiskan banyak dana, manfaatnya juga tidak bisa didapatkan. Kita membuat lubang dengan tujuan air bisa meresap ke segala sisinya, tidak hanya dari bawah. Itu fungsinya sampah organik yang dimasukkan, agar mikroorganisme membuat liang-liang ke segala sisi lubang. Kalau dipasang paralon, air hanya bisa meresap lewat permukaan bawah, bisa dibayangkan seperti apa lambatnya?” kata beliau menjelaskan. Masih teringat jelas bagaimana keresahan di wajah beliau saat menunjukkan tulisan-tulisan di internet tersebut.
Ya memang benar apa yang beliau ucapkan tersebut. Jika dipikir sekilas saja, tentunya kita berpikir lubang resapan yang dipenuhi sampah organik akan cepat tertutup tanah dan air tidak bisa meresap. Namun kita melupakan satu hal, bahwa sampah organik tersebut mengundang aktivitas organisme tanah. Sehingga akan terbentuk lubang seperti lubang alami, contohnya lubang cacing. Jadi tidak perlu khawatir air tidak bisa meresap.

Namun, lubang resapan biopori ini pun tidak mungkin bisa bekerja maksimal terus-menerus tanpa bantuan manusia. Kita tetap harus terus memeliharanya dengan cara sering memasukkan sampah organik ke dalam lubang. Selama enam bulan sekali juga dilakukan pengeboran kembali untuk mengeluarkan tanah-tanah yang masuk. Kegiatan ini tentu tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan harus ada kerjasama seluruh masyarakat. Agar lubang-lubang yang dibuat bisa dirasakan manfaatnya.


Biopori di Sekitar Rumah

Di kampung halaman, saya membuat dua puluh lubang di sekitar rumah. Berpesan kepada Ibu agar menyempatkan untuk memasukkan sampah organik setiap seminggu atau dua minggu sekali ke dalam lubang-lubang tersebut. Tidak lupa saya jelaskan manfaat lubang biopori kepada Bapak dan Adik. Saya berharap Bapak bisa menjelaskannya kemudian kepada warga kampung. Setidaknya, dua puluh lubang resapan yang sudah saya buat bisa meresapkan air yang menggenang di halaman saat turun hujan. Jadi air yang mengalir ke parit bisa berkurang jumlahnya, sebaliknya air akan meresap ke dalam tanah dan menjadi tabungan. Sedangkan untuk wilayah rawan banjir, lubang resapan ini sangat efektif dipilih sebagai solusi penanganan banjir.


Apabila pembuatan lubang resapan biopori ini mampu disosialisasikan secara luas, kemudian segenap lapisan masyarakat mau membuat serta memeliharanya, tentunya bersama dengan kegiatan-kegiatan pemeliharaan lingkungan lain seperti penanaman pohon, efektif dalam penggunaan air, dan ditambah dengan teknologi, bukan hal yang tidak mungkin kita bisa mengatasi masalah air di negara ini. Mari bersatu menjaga dan melestarikan air untuk kehidupan Indonesia yang lebih sehat.


Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba Anugerah Jurnalistik Aqua IV Kategori Blogger


Referensi:
http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=1471&coid=2&caid=40&gid=5
http://www.jaringnews.com/internasional/uni-eropa/58728/pbb-dunia-terancam-krisis-air-bersih-dan-energi
http://hubunganalumni.ipb.ac.id/kamir-r-brata-penemu-lubang-resapan-biopori/
http://indonesia.wetlands.org/Infolahanbasah/PetaSebaranGambut/tabid/2834/language/id-ID/Default.aspx

Saturday, 2 August 2014

Cerpen Islami Terbaik: Pesona Hijab di Negeri Tsarina



Moskow, 09 Mei 2013
Minus 23 derajat.       

Aku merapatkan palto, membenarkan letak topi bulu yang membungkus kepala. Uap dingin menguar dari setiap napas yang kuembuskan, membentuk kepulan pekat. Kupercepat langkah ke arah Stadion Olimpiski, lalu  berbelok ke kiri menuju jalan Durova. Permadani putih yang kuinjak gemeretak, berirama seiring injakan sepatuku.

Akhirnya, sampai juga aku di bangunan berwarna biru toska dengan bulan sabit di ujung kubahnya. Masjid Agung Moskow. Masjid yang mengingatkan bahwa masih ada Islam di negeri Lenin ini.

Tujuanku kemari bukan untuk salat, karena sekarang belum masuk waktu asar. Aku hanya ingin mencari penjanggal perut di kantin yang terletak pada bagian timur areal masjid ini. Ya, karena sudah pasti kehalalannya.

Aku mengambil tempat di pojok kantin, dekat dengan jendela. Memesan sepiring plof dan secangkir teh panas.

Ruangan ini cukup hangat dengan pemanas ruangan yang dipasang di bawah jendela. Aku membuka topi. Merapikan rambut dengan jemari. Memandang keluar dari jendela. Ah, Rusia benar-benar beku di puncak musim dingin.

Mataku menerawang. Kegelisahan yang menggelayut batin akhir-akhir ini kembali meruak. Sudah setahun aku menjadi muslim, salat sudah tidak lagi kutinggal-tinggalkan, namun entah mengapa aku merasa masih ada yang kurang. Bukan, bukan Islam yang mulia ini yang kumaksud ada yang kurang. Melainkan, aku. Aku yang masih setengah-setengah.

Kulirik rambut yang tergerai lurus ke samping dadaku. Rambut yang indah, begitu pujian yang selalu kuterima. Dan karena rambut ini pula, sebuah majalah fashion ternama menerimaku sebagai model mereka. Rambut inilah yang menghidupiku.

Plof dan teh yang kupesan datang. Segera saja kuraih cangkir putih gading yang masih mengepul. Kuhirup aromanya dalam-dalam, membiarkan hangatnya menjalar ke seluruh saraf-saraf.

"Dabro dent1...!" Sebuah suara merdu mengejutkan, memerintahkan kepalaku menengadah. Kulihat seorang wanita berwajah Rusia telah berdiri di hadapanku dengan seulas senyum. Ia meminta izin untuk duduk di kursi yang ada di depanku.

"Silakan..." kataku pelan diiringi senyum.

Ia kemudian memesan semangkok sup borsh dan juga secangkir teh. Belum ada pembicaraan apapun di antara kami. Aku memandangi teh yang sejak tadi belum juga kuseruput. Sesekali mencuri pandang ke arah wanita jelita itu. Ada kagum yang menyumpal hatiku. Bukan, bukan kagum pada parasnya yang jelita, melainkan pada selembar kain bewarna krem yang membalut wajahnya. Begitu indah, begitu damai, begitu santun...

Apa karena tanpa kain yang membalut wajahku ini, aku merasa belum ber-Islam dengan sempurna? Aku masih mengingat jelas isi surah Al Azhab ayat 59 yang dibacakan Ainee Fatma—putri kecil Syaikh yang membimbingku—tentang kewajiban berhijab bagi muslimah. Tapi, kurasa terlalu seram belantara resiko yang harus kuterobos, jika aku berhijab. Waktuku masih panjang, Tuhan pasti memahaminya.

"Kak tibya zavut2?" Ia bertanya, mengulurkan tangannya yang terselubung kaos putih tebal. Barangkali ia sadar jika diam-diam aku mengamati.

"Minya zavut Aeva3. Kamu?"

"Aku Ayse, Ayse Omarov." jawabnya sebelum melepas jabatan tangan kami.

"Hey, kau tahu, aku kagum padamu, di negara ini kamu berani memutuskan untuk memakai selembar kain itu." ucapku jujur sambil menunjuk kecil pada kerudungnya. Kulihat ia tersenyum. Matanya berbinar.

"Ketika aku berani mengucap persaksian pada Allah swt dan Muhammad saw, maka saat itu pula aku harus berani melaksanakan semua yang diperintahkan agama ini, Aeva. Termasuk memakai kain ini. Aku yakin segala yang diperintahkan-Nya tidak ada yang bertentangan dengan fitrah manusia." katanya menjelaskan sebelum menyuapkan sesendok sup hangat ke mulutnya.

Aku menggeleng pelan. Kulemparkan jaring pandangku ke luar jendela, menembus kaca yang terselimut kabut. Satu-dua orang berpalto tebal tampak berjalan menembus salju yang semakin tinggi. Batinku bergejolak. Apa aku ini pengecut? Sehingga tak berani menjalankan keputusan sendiri.

"Aku menjadi muslim setahun yang lalu, Ayse. Tapi aku belum berani mengenakan kain itu. Aku takut kehilangan pekerjaanku. Kau tahu sendirilah susahnya seorang wanita berhijab mendapatkan pekerjaan di sini. Jika aku memakai hijab, apa jadinya hidupku?"

"Jika kamu tetap tidak memakai hijab, lalu apa jadinya matimu, Aeva?" ia membalas pertanyaanku dengan pertanyaan yang menghempas jantungku.

Apa jadinya matiku? Mati? Iya, semua memang akan mati. Lalu apa hubungannya mati dengan hijab?

Bodoh! Hijab itu kewajiban. Pastinya aku tahu hukum seseorang yang meninggalkan kewajiban. Dosa. Dan dosa itu neraka. Kalaupun amalanku yang lain sempurna, aku akan tetap mencicip api neraka karena satu kewajiban kutinggalkan.

Neraka?

Iya. Rambutku yang katanya indah ini akan diikat di petala neraka. Tubuh terpanggang. Gosong. Hitam. Sangit. Lalu, segerombol gagak buas datang mematuki kepalaku, menarik sejumput demi sejumput rambutku dengan serakah, hingga semua tercabut, menyisakan merah yang meruah di tempurung kepala. Merah yang licin dan amis. Lalu tak lama, rambutku tumbuh kembali, dan sekawanan gagak buas itu pun kembali menyerang. Begitu terus.

Sakit. Sakit. Sakit. Sakit yang tak kunjung habis.

Aku meringis.

"Kamu baik-baik saja?" Suara Ayse menyadarkan. Sambil berusaha tersenyum, memberi tahu bahwa aku tidak apa-apa.

"Dulu, aku bekerja di sebuah perusahaan ternama, Aeva. Gajiku sama dengan gaji seorang presiden di negara berkembang. Tapi seminggu setelah aku ber-Islam dan memutuskan berhijab, aku dipecat tanpa alasan. Awalnya aku sedih. Aku bingung dengan tuntutan hidup yang serba mahal. Namun, aku tak pernah berpikir untuk putar haluan, Aeva. Tekadku mengunci mati navigasi di jalan Islam sudah bulat. Aku hidup prihatin selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya, Allah menunjukkan janji-Nya. Aku dipertemukan dengan laki-laki muslim yang mapan, suamiku kini." ceritanya dengan mata yang bersahabat. Ia kembali tersenyum di akhir kalimatnya, seperti membayangkan lagi sesuatu yang paling indah dalam hidupnya.

"Aku masih bimbang, Ayse. Mungkin hijab tidak akan menjadi masalah bagi muslimah di negara-negara mayoritas muslim. Mereka bebas menjadi designer, artis, model, pengusaha, presenter, dan lain-lain. Tak jadi masalah. Tapi ini Rusia, Ayse. Jangankan untuk mendapatkan pekerjaan, untuk sekadar jalan-jalan di Stary Arbat saja, kita sudah disangka manusia jahat. Belum lagi kemungkinan menjadi sasaran kambing hitam ulah para mafia anti-Islam. Itu semua terlalu berat, Ayse." aku melenguh.

Jemariku memainkan sendok, mengaduk-aduk perlahan teh yang masih penuh. Aku menyeruputnya sedikit. Kulihat Ayse memandangku dalam. Ada beling di matanya. Yang berkilat. Yang akan meleleh tertahan.

"Aku paham kegelisahanmu, Aeva. Aku pun pernah mengalaminya. Namun, jika tidak dari sekarang, kapan lagi? Coba kamu tanyakan, tanyakan baik-baik, bukan pada orang lain, tapi pada dirimu sendiri. Dengan uang yang mengalir mudah, semua keinginan duniawi kau tunaikan, apakah kau sempurna bahagia?"

Aku menunduk. Sempurna bahagia? Ya, aku bahagia. Sepatu mahal, tas kelas pertama, pakaian indah, apartemen mewah, makanan lezat, semua kudapat dengan mudah. Apa lagi?

Ya sekilas memang tak ada yang kurang. Namun...

Setelah satu barang mahal berhasil kubeli, aku senang. Tapi beberapa waktu kemudian, aku bosan. Aku ingin barang yang lain lagi. Begitu terus. Tak pernah puas. Dan akhirnya, semua itu memang tak membuatku sempurna bahagia. Ya, dunia tak akan pernah membuatku sempurna bahagia. Lalu kenapa terus kukejar?

"Jika karena hijab kamu kehilangan pekerjaanmu, itu artinya Allah telah menyiapkan pekerjaan lain yang lebih baik bagimu. Jika kamu mati karena menjadi korban para mafia, mengapa cemas? Kamu mati sebagai syahidah. Itu mulia sekali. Aeva, Allah sendiri yang meminta muslimah berhijab, Dia tidak mungkin menyia-nyiakan muslimah yang menjalankan perintah-Nya. Jangan iri pada wanita-wanita yang mampu gemilang dengan auratnya, kamu akan lebih gemilang dengan hijab yang membalut wajahmu. Insya Allah, Allah akan meluaskan jalanmu. Aku dan kamu, juga muslimah lain di negeri beku ini, akan sama-sama membuktikan bahwa dengan hijab ini kita tetap berkarya. Berkarya tidak harus besar, Aeva. Tak harus terkenal. Percayalah...kita tetap akan berkarya, karya yang direstui-Nya." Ayse menggenggam tanganku. Kini air matanya telah meleleh. Aku menemukan kehangatan dari cahaya matanya. Kehangatan persaudaraan yang indah.

Ya Allah, sedamai inikah jannah-Mu? Dimana setiap insan saling berkasih sayang atas nama-Mu. Bukan kasih sayang yang membabi buta seperti kehidupanku semasa jahilliyah dulu.

"Mama." Suara bening seseorang membuyarkan penghayatan kami. Mataku segera menanangkap seorang bocah laki-laki dengan palto berwarna cokelat muda. Ia berlari menghambur dalam pelukan Ayse. Aku memandang heran.

"Aeva, ini Ismael, putraku. Ismael, ayo jabat tangan Kakak itu..."

Aku sedikit kaget. Ayse sudah memiliki anak laki-laki sebesar ini. Bermata cokelat. Lucu dan menggemaskan. Kami bersalaman. Aku tak tahan untuk tidak menjawel pipi empuknya.

"Umurnya 8 tahun, Aeva. Alhamdulillah, ia sudah hapal seluruh isi Alquran. Inilah karyaku, Aeva. Aku mencurahkan perhatianku untuk suami dan anakku. Menjadi Ibu dan guru yang baik bagi Ismael. Itu semua sudah lebih dari cukup. Kamu bisa membayangkan, andai semua Ibu mampu mendidik anak-anaknya ber-Islam dengan benar, para Ibu akan mengubah peradaban, Aeva. Karena betapa banyak kejelekan yang akan terganti oleh generasi saleh-saleha itu. Itu sebuah karya besar, Aeva. Karya berhadiah surga."

Aku tersenyum. Tak juga mengatakan untuk segera berhijab padanya. Kuajak dia menghabiskan menu yang sejak tadi menjadi saksi percakapan kami. Ismael ikut memesan semangkuk sup borsh dan teh panas.

"Spasiba balshoi, Ayse. Da svidaniya4." ucapku sambil memeluk Ayse di akhir pertemuan. Aku harus mengejar metro menuju stasiun Oktyaberskaya, selanjutnya menggunakan bus listrik ke Universitas Negeri Moskow. Ada kuliah jam 03.00 p.m yang harus kuikuti.

***


Pukul 05.13 p.m waktu Moskow. Setelah salat asar di salah satu ruang kosong kampus, aku memutuskan menuju pelataran Leninsky Gori. Itu adalah tempat yang paling kusukai, di mana aku bisa merenung sambil melihat keindahan Moskow dari Timur hingga Barat. Aku membenarkan letak tas punggungku. Memilih duduk di sebuah bangku di ujung pelataran. Dari sini aku menyaksikan kanal Moskow membeku di bawah sana. Beberapa orang yang berselubung palto hanya tampak sebesar ibu jari. Aku menarik napas. Meluaskan pandangan. Mataku menangkap sesosok wanita yang duduk di sudut pelataran. Kurasa ia pun tengah menikmati winter dari atas sini. Tak mampu kutahan hati ini untuk tak mendekatinya.

"Dabro dent ..." Sapaku dengan senyum mengembang. Ia tampak kaget karena suaraku yang menguar tiba-tiba. Tapi sesaat kemudian ia tersenyum. Manis sekali.

"Hey, aku suka kerudungmu. Kau terlihat secantik para tsarina." ucapku tanpa basa-basi. Sekali lagi ia tersenyum.

"Spasiba balshoi. Setiap wanita kan memang cantik. Rambutmu juga cantik." ucapnya menimpali. Matanya berbinar. Sangat indah berpadu dengan kerudung berwarna lembayung yang dikenakannya.

"Ah, kamu menyindir, ya? Rambut ini memang indah di mata manusia, tapi tidak di mata-Nya," Aku menunjukkan telunjukku ke atas.

"Kamu muslimah?"

Aku mengangguk. Lalu kuceritakan padanya tentang pekerjaanku dan alasanku belum memakai kerudung. Ia mendengarkan khidmat.

"Ya, aku mengerti. Tapi memang itulah resikonya. Kau lihat saja pada Alquran surah Al-baqarah ayat 214, semua orang akan melalui ujian, Tuhan sudah memberi tahu." ucapnya sambil menepuk bahuku. Aku menunduk.

"Ceritakan padaku kisahmu. Semoga bisa semakin meneguhkanku."

Ia diam sejenak. Melemparkan pandangan jauh ke depan.

"Aku memakai kerudung ini sejak setahun tiga bulan lalu. Ya, kerudung ini sebagai bukti tingginya peradaban manusia, teman. Jika nenek moyang manusia hanya berpakaian untuk menutupi bagian-bagian tertentu saja, maka peradaban tertinggi harusnya berpakaian tertutup. Aku ingin menjadi salah satu dari manusia berperadaban tinggi itu.

"Selain itu, sebelum aku berkerudung dahulu, aku pernah hampir diperkosa dan oleh teman laki-lakiku sendiri. Hampir saja laki-laki itu menusukku karena aku mencoba lari dan berteriak-teriak. Yah, kurasa, karena saat itu aku suka memakai pakaian yang terbuka. Temanku sendiri yang mengakui, jika pakaianku itu pasti akan memancing syahwat siapa pun yang melihatku. Sejak itu aku takut, rasanya aku ingin menutupi seluruh tubuh ini."

Selanjutnya ia bercerita, setelah memutuskan berhimar, jabatannya sebagai asisten salah seorang profesor di MGU, dicopot. Tentu saja dengan alasan yang tidak masuk akal.

"Kapan kamu bersyahadat?" tanyaku menyambung penjelasannya.

Wajahnya seketika memerah. Ia mengalihkan pandangannya pada lanskap yang membentang di bawah sana. Tak lama, ia tersenyum, tanpa menoleh ke arahku.

"Kau doakan saja semoga hatiku bisa teguh." ucapnya pelan. Aku terbelalak. Maksudnya?

"Aku masih Ortodoks, teman. Kerudung ini kukenakan bukan berarti aku muslimah. Aku hanya ingin kerudung ini menutupi diriku, tentunya dari mata-mata jahat. Masalah ber-Islam, awalnya aku tak berpikir ke sana. Namun kerudung ini justru menjadi gerbang bagiku untuk mengenal dan mempelajari Islam lebih dalam. Aku mempelajari Alquran. Dari sanalah aku mendapatkan informasi yang benar tentang Islam, sama sekali tidak seperti informasi media massa yang kutelan selama ini. Malam Jumat minggu ini aku akan bersyahadat di Masjid Balsoi Tatarski dekat KBRI. Datanglah, kawan. Jadilah saksi atas kemenanganku."

Aku membisu. Air mata hangat meleleh lembut di sudut kedua mataku.

Apa lagi yang kutunggu? Seorang wanita Ortodoks saja memilih berhimar, karena ia tahu manfaatnya. Sementara aku? Berkali-kali Alquran kukhatamkan, berpuluh kajian Islam kuhadiri, beberapa nasihat wanita muslimah kudengarkan, tapi aku terus menunda-nunda memenuhi kewajiban.

Aku harus segera melaksanakan kewajibanku. Tak boleh menunda lagi.

Tapi bagaimana dengan pekerjaan dan masa depanmu, Aeva?

***

Moskow, 02 September 2013

"Aeva! Dabroye utra. Kak dela5?" Seorang anak berteriak,  bertanya padaku. Aku menoleh ke arahnya. Sekawanan anak-anak laki-laki lucu dengan pakaian musim panasnya.

"Dabroye utra. Alhamdulillah, ya vso kharasyo6. Bagaimana dengan kalian?"  Aku bertanya kembali dengan melambaikan tangan.

Mereka kor menjawab 'secerah hari ini', lalu kembali berlarian di atas rumput, kaki-kaki mungil mereka beradu cepat memasukkan bola pada gawang yang dijaga seorang anak berkulit hitam.

Aku melanjutkan langkah, menyusuri jalanan yang diapit deretan bunga musim semi. Kerudung cokelat yang kukenakan berkibar. Satu-dua orang yang berpapasan menatap aneh, bahkan kepala mereka bergerak mengikuti siluetku. Aku sudah terbiasa dan aku tak peduli sama sekali.

Sudah empat bulan aku mengenakan kerudung di bumi Rusia. Anak-anak selalu menyuruk takut apabila melihatku, takut aku seorang wanita kejam seperti doktrin yang mereka telan tentang muslim. Orang-orang menatapku aneh, teman-temanku menjauh, dan beberapa yang mengenalku dari majalah, selalu berkomentar,

"Sayang sekali..."

"Ah, rambut indahmu kau sia-siakan dengan menutupinya seperti itu."

"Wah, bodohnya..."

Aku mendongak, tersenyum pada dahan-dahan bereozka yang bergoyang. Aku damai sekarang...

Ya, aku telah kehilangan pekerjaanku sebagai model. Sedih. Tapi kesedihan itu tak sebanding dengan kedamaian yang kucecap kini. Sekarang aku mengajar kelas bahasa Jerman di Sekolah Indonesia Moskow (SIM). Beberapa anak-anak yang menyapaku tadi adalah sebagian dari murid-muridku.

Di pekerjaan baru ini, gajiku memang tak seberapa. Namun, aku bertekad untuk terus mendidik anak-anak di SIM dengan penuh kasih sayang dan kelemah lembutan, agar kelak anak-anak itu akan menceritakan pada dunia, bahwa wanita berhijab itu penuh kasih sayang dan kelemah lembutan, seperti guru kelas bahasa Jerman mereka. Inilah karyaku dengan hijab ini. Hijab yang kini begitu kucintai, serupa para tsarina mencintai mahkotanya.

1Selamat siang (pukul 12.00-18.00)
2Siapa namamu?
3Namaku Aeva
4Terimakasih, Aisye. Sampai berjumpa lagi
5Selamat pagi. Apa kabar?
6Selamat pagi. Alhamdulillah saya baik-baik saja

 Diselesaikan pada 7 Syawal 1435 H di Penyalai, Riau



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...