Thursday, 25 December 2014

Have Fun Bareng Keluarga? Night at The Museum 3 Aja


Hmm....Natal dan tahun baru masehi, libur berturut-turut nih. Setiap keluarga pasti pengennya bikin acara kumpul-kumpul atau minimal nonton bareng, kan? Baik itu nenek, kakek, mama, papa, adik, kakak, abang, tante, om, semuanya deh kalau udah liburan itu pengennya ketawa rame-rame, terus seru-seruan. 

Selain bakar-bakar ayam, jagung, sosis, dan sebagainya, pasti pernah dong terlintas have fun bareng di bioskop. Cuma nih ya, ada aja masalah yang bikin bioskop gak cocok buat liburan keluarga. Banyak adegan gak tersaring lah, filmnya takut gak seru sementara udah bayar mahal, de es be. Ditambah imej bioskop yang cuma enak buat jalan bareng pasangan (iya gak sih?).

“Ah, film Indonesia gitu-gitu aja. Nggak ada yang wow gitu.”

“Pengennya sih film Barat, tapi pasti ada adegan something, minimal kissing, yang gak boleh ditonton adik. Masak iya di tengah-tengah film, kita harus tutup mata mereka? Yang ada mereka makin penasaran lagi."
“Gimana kalau animasi aja? Kartun gitu?”
“Ih, nenek sama kakek gak suka kartun. Katanya imajinasi mereka udah gak nyampe.”
“Jadi, gimana?”

Jangan kecewa dulu ya, karena aku punya rekomendasi film yang cocok buat keluarga kamu (Promosi banget kesannya). Ini kutulisin gak lain karena aku memang pengen banget kalian juga menikmati keseruannya. Baik, kan?

Judulnya, Night at The Museum 3: Secret of The Tomb. Udah gak asing ya? 


Bener banget, bagian 1 dan 2 udah sering nongol di televisi soalnya. Dan mereka termasuk film favoritku selain The Lord of The Ring dan The Hobbit tentunya. Nonton yang ke-3 juga sebenarnya gak sengaja, gara-gara The Hobbit udah abis waktu kita datang jam 20.00. Kecewa gitu awalnya.

Baik, mari langsung kita bahas keseruan film yang satu ini!


Pemainnya masih tetap atau ganti?

Nah, ini yang aku takutkan juga. Gak seru kan kalau selama ini kita udah akrab sama Larry di bagian 1 dan 2, eh tiba-tiba harus diganti pria brewokan dan rambut gimbal di bagian 3? But, don’t be worry. Jangankan Larry yang jelas-jelas pemain utama, pemain kurcaci sampai makhluk-makhluk purba, plus monyet, juga gak ada yang diganti sama sekali. Berasa nostalgia banget. Sampe speechless gitu saking kangennya. Rasanya seneng setelah sekian lama gak lihat mereka, terutama dua laki-laki kecil yang pake topi koboi dan tentara Roma. Mereka itu tetap so sweet dan lucu parah.

What a nostalgia
Bapak Theodore Roosevelt juga masih sama orangnya, termasuk si kekasihnya itu lho. Si cewek berwajah Asia dan kulitnya sawo matang. Kalau gak salah namanya Sacagawea. Manis banget dia.

Nah, si pangeran Mesir yang pertama muncul di bagian 2 juga masih sama orangnya. Manis gitu ya. Sedikit penambahan peran mungkin si pria bermata biru itu. Namanya Octavius. Dia pemain baru, tapi jujur ganteng parah itu wajahnya. Rambut gondrong, ada jenggot dan kumis tipis, tinggi ideal, mata biru, apa lagi coba yang kurang? Pakaiannya ala panglima perang gitu, keren banget. Sampai-sampai dua manusia kecil iri banget sama kegantengannya.
 
Gantengnya berlebihan

Ceritanya tentang apa sih?

Ya, great question. Jadi, pertama film diputar, mata kita akan dimanjakan dengan suasana tahun 1938 di Mesir. Banyak pasir pastinya dan warna tampilan dominan cokelat. Namanya juga jadoel. Ceritanya dimulai saat seorang bocah kejeblos jatuh ke ruang bawah tanah gitu, and then something happened. Bakal ada kalimat ‘the end will come’ yang disebut-sebut seorang laki-laki tua, dan itu bikin takut semua orang.

Setelah sekian menit, kita akan kembali pada gemerlap kota New York dimana Larry tinggal, termasuk tempat Museum of Natural History berdiri. Awalnya semua terlihat baik-baik aja, maksudnya para makhluk museum yang hidup di malam hari,  bahkan mereka akan menampilkan show keren kepada para tamu undangan. Mereka kompak, lucu, dan tentu aja patuh banget sama komandonya Larry. 

But, show itu gak berjalan sesuai rencana. Karena tiba-tiba para makhluk museum kehilangan kendali terhadap diri mereka sendiri. Gak ada yang patuh sama Larry lagi. Mereka menyerang pengunjung, memecahkan segala benda di sana, de es be. Pokoknya kacau banget. Tapi itu gak berlangsung lama, abis itu mereka normal lagi kok. Mereka juga heran kenapa kok tiba-tiba jadi hilang kendali gitu. Kayak ada yang gak berfungsi. 

Masih ada sangkut pautnya sama benda ini kok!
Nah, that’s the problem. Selanjutnya adalah petualangan mereka untuk memecahkan masalah itu. Bahkan mereka semua sampe hijrah ke British Museum of Natural History di London. View kotanya Pangeran William ditampilkan dengan visual yang keren banget. Jadi kangen kampung halaman dibuatnya.


Apanya yang seru?

Yee, masak diceritain juga? Ntar jadinya gak seru lagi. Pokoknya petualangan Larry dan kawan-kawan di bagian ke-3 ini super seru. Selain itu juga lucu parah. Sepanjang film aku pengennya ngakak terus. Apalagi kalau inget scene waktu dua laki-laki kecil ngeja ‘POMPEII’ jadi ‘IIEPWOP’. Apaan tu?

Biar tau apa maksud kata ‘POMPEII’ mending langsung nonton aja ya. Belum lagi saat mereka nonton video kucing di youtube, itu sungguh sangat lucu sekali. Yang mana mereka udah kenal facebook dan selfie lagi. Banyak banget adegan keren yang gak bisa kuceritain satu-persatu di sini.



Beneran gak ada adegan terlarang?

Yuhu, dijamin bersih. Meski gak bersih-bersih amat juga. Tapi kalau anak-anak masih bisa nonton. Bukan kissing sensasional kayak di Dracula Untold gitu intinya. Jujur, ada kissing juga antara satpam cewek obesitas sama manusia purbakala yang mirip Larry. Tapi gak dilihatin banget, so anak-anak masih bisa nonton. Malahan adegannya gokil.

So, masih ragu buat ngabisin waktu libur bareng keluarga di bioskop? Dijamin semuanya bakal have-fun bareng-bareng, ngakak bareng, dan terharu bareng di akhir film. Ah, aku pengen nonton lagi jadinya. Have a nice holiday yah!
 
Monggo diboyong ke bioskop semua (source: http://www.inovanz.com/)

Sunday, 7 December 2014

Macau and The House of Dancing Water

My ticket, pas tau harganya cukup shock juga :D sekitar 1080 HKD
Ruangan besar yang semula gelap dengan sebuah danau indah di tengah-tengahnya itu tiba-tiba bercahaya. Penonton yang duduk di kursi-kursi mengelilingi danau langsung menghentikan percakapan sesama mereka, beralih khusyuk pada penampilan yang akan segera dimulai. 
 

Seorang pemuda Cina dengan pakaian tradisonal dan caping keluar mendayung sampannya. Background di belakangnya adalah kota Macau tempo dulu. Musik yang mengiringi membuat imajinasiku melayang pada kisah-kisah kung fu di dalam film. Tak selang beberapa lama, pemuda itu terjatuh akibat sebuah pesawat yang melintas sangat dekat di atasnya (aku masih belum mengerti kenapa tiba-tiba ada pesawat). Dan dari sinilah cerita dimulai...

Air yang semula tenang tiba-tiba berubah bergejolak. Petir dan angin memenuhi ruangan, lalu tiang-tiang seperti tiang kapal bajak laut muncul dari dalam air. Pemuda Cina itu berpegangan pada salah satu tiang, memanjat dan berdiri di bagian paling atas. Ia terlihat ketakutan. Tiang-tiang dengan tali-tali menjuntai itu muncul semakin tinggi. Hujan, petir dan kilat kian membuat merinding. Aku merasa berada di tengah laut badai. Dan saat itulah, muncul puluhan laki-laki berwajah seperti vampir dari dalam air. Mereka mirip manusia purba yang ada dalam buku sejarah. Selain berteriak nyaring, mereka juga memanjat tiang-tiang dengan tinggi hampir 20 meter tersebut, saling berlomba, tertawa, dan terjun ke air sambil bersalto. Mereka umpama sekumpulan makhluk yang sekian abad tidak melihat hujan. 

Setelah badai reda, tiang-tiang itu kembali masuk ke dalam air. Saat itu di tengah-tengah danau tersebut ada seorang pangeran berwajah Barat yang tenggelam. Pemuda Cina tadi menyelamatkan pangeran tersebut, membawanya ke tepian. Suasana berubah menjadi begitu indah. Bunga-bunga purba yang besar dan indah mekar di belakang mereka. Aku merasa diriku berada di dalam dunia Alice in Wonderland. Tak beberapa lama, dari atas langit-langit yang tingginya mencapai 50 meter, seorang puteri jelita dalam kurungan perlahan turun. Rupanya ia sedang ditawan, dan sang pangeran datang untuk menyelamatkannya.

Ini bukanlah hanya tentang sirkus, tetapi juga drama yang sangat memikat. Tidak pernah sekali pun mataku melihat show sehebat ini. Sirkus yang menampilkan orang-orang melakukan atraksi di ketinggian, balet, permainan air mancur, puteri-puteri cantik, semuanya dikemas menjadi satu. Bahkan saat di pertengahan waktu, danau tersebut berubah menjadi arena motor cross. Semua pengunjung hanya bisa tercengang dan beberapa berteriak tidak menyangka. Alexander Thian yang duduk di sampingku saja sampai begitu takjubnya, padahal ia sudah mengunjungi banyak tempat-tempat indah di dunia.

Waktu satu jam setengah yang disediakan rasanya singkat sekali. Di akhir show, semua kru muncul dan melambaikan tangan pada penonton. Senyuman di wajah mereka begitu ramah. Sebagian besar dari mereka berwajah Barat, sebagian kecil Negro, dan sebagian kecil lain berwajah Cina. Semua penonton meninggalkan ruangan dengan teratur, dan tentu saja sangat sangat sangat puas. Inilah The House of Dancing Water yang bisa kamu saksikan apabila berkunjung ke Macau, lalu kamu bisa membenarkan tulisanku bahwa ini adalah show yang sangat memikat. Bahkan getarannya masih tersisa di hati sampai sekarang.

Selain The House of Dancing Water, sebelumnya kami juga menyaksikan Dragon Treasure di City of Dream. Ini adalah pertunjukan layar penuh, maksudnya kita akan menonton perjalanan naga dengan seluruh sisi dinding sebagai layarnya. Meskipun ini merupakan show yang menakjubkan, aku harus jujur jika The House of Dancing Water jauh lebih menakjubkan. Tapi keduanya sama-sama tidak boleh dilewatkan.

Saat di SOHO, aku dikejutkan oleh sekelompok muda-mudi yang tiba-tiba mempersembahkan dance gratis di tengah lapangan. Pakaian mereka berbeda-beda, ada yang berpakaian pelayan restoran, ada yang terlihat seperti pengunjung dan sebagainya. Apalagi di awal kedatangan kami, mereka saling berbincang seperti antara tamu dan pelayan, dan wajah mereka campur-campur. Beberapa bule dan lainnya Cina. Eh, tahunya...

Berkunjung ke City of Dream dan menikmati semua show di atas adalah agenda yang sangat kurekomendasikan saat kamu datang ke Macau. And then, let me know what you will say about them.

Ini komentarnya Alex




Macau Government Tourist Office Representative in Indonesia
Twitter: @macauindonesia
Facebook: MGTO Indonesia
Website: http://id.macautourism.gov.mo/   

Macau Episode 1: Kedatangan di Macau


TurboJet merah yang akan membawa kami menuju Macau (Dok. pribadi)

Feri TurboJet perlahan mulai bergerak meninggalkan Hongkong International Airport. Kulirik riak putih yang mulai terbentuk di bawah sana. Ah, sebentar lagi aku akan sampai di Macau. Rasanya sudah tidak sabar ingin melihat kota kecil yang kaya sejarah itu, dan tentu saja tidak sabar untuk mewujudkan impianku yang kutuliskan sebelumnya (bisa dibaca di sini).

Friday, 14 November 2014

Istanbul: Kesaksian Sebuah Kota


Byzantium, Roma Baru, Konstantinopolis, Konstantiniyye, Carigrad, Dersaadet, Darul Hilafetil Aliyye, dan Istanbul. Sangat mudah untuk memperbanyak label-label kristal yang terpasang kepadanya...

Setiap budaya memanggilnya dengan bahasa berbeda. Selama berabad-abad, dalam tidur manusia namanya terucap dalam berbagai bahasa. Para legenda, sambil merangkai banyak cerita, melewati perbatasan benua seperti sebuah arus air. Orang-orang yang melihatnya dalam mimpi mereka, ketika membandingkan dengan kenyataan, sulit memutuskan manakah yang lebih indah...?

Assalamualaikum. Mbak Tia, apa benar hari Senin akan berangkat ke Turki? Bolehkah saya menitip sesuatu?”
Inilah pesan yang kukirimkan dari inbox facebook kepada seorang teman blogger, Mbak Tia Yusnita. Selain sebagai teman, aku juga belajar banyak hal dari sosok dan tulisannya. Tak beberapa lama, pesan tersebut ia balas.
Waalaikumussalaam. Iya Mbak Sofi, insya Allah berangkat besok. Ini baru aja mau ngabarin Mbak Sofi, eh sudah inbox duluan hehe. Boleh Mbak”
“Nanti tolong tulisin namaku Sofia Zhanzabila, di bawahnya ada tulisan 'Semoga Allah segera mengabulkan doamu untuk menginjakkan kaki di sini’. Lalu kertasnya difoto di depan Hagia Sophia dan Blue Mosque, lihatin backgroundnya ya Mbak. Semoga perjalanannya lancar dan berkah. Baarakallahu fi safar sampaikan salamku untuk Istanbul ya Mbak.” Aku mengetikkan kalimat ini dengan hati berdebar-debar, seolah-olah yang akan berangkat lusa adalah diriku sendiri.

Aamiin terimakasih doanya. Siap insya Allah.” Mbak Tia membalas dengan emotion senyum di belakangnya.
Aku berseru ‘yess’ seorang diri, sampai-sampai ketiga teman kamarku menoleh dengan tatapan heran. Kuberi tahu mereka bahwa aku baru saja menitipkan bagian dari impianku kepada seseorang.

Sungguh, sejak hari itu pula, setiap hari, selama dua minggu ke depan,  hatiku terus berharap cemas. Lalu beberapa hari saat Mbak Tia sudah tiba di Istanbul, ia membagikan sebuah foto bersama pemandu wanita berwajah Turki di sampingnya. Aku senang, haru, ada juga rasa iri, dan tentu saja air mataku menetes tanpa diminta. Ya Allah, kenapa hatiku merasa begitu dekat dengan kota itu, dengan bangsa itu?

Dua minggu selesai sudah. Mbak Tia kembali ke tanah air dan seperti ucapannya sebelum berangkat, tentu ia tidak mungkin lupa. Ia kemudian mengirimkan dua buah foto sesuai yang kuminta. Tidak ada yang bisa kuucapkan saat itu, kecuali air mata yang kembali menetes. Aku sangat bahagia, bahkan melebihi kebahagiaan ketika mengetahui aku memenangi sebuah lomba berhadiah jalan-jalan ke luar negeri dua minggu lalu.

Dua buah foto itu sangat berarti bagiku. Rasanya impian itu semakin dekat saja, dan insya Allah semoga kelak aku bisa ke sana bersama Bapak, Ibu dan adikku tercinta. Ingin kuceritakan pada mereka semua hal yang membuatku jatuh cinta pada kota itu, tentang sejarahnya yang agung dan juga tentang keruntuhannya. Kota itu adalah saksi tentang bangkit dan jatuh, bersinar dan redupnya sebuah peradaban. Setelah Tanah Arab, tanahnya bangsa Turk adalah tempat bersejarah yang berada di urutan kedua dalam impianku.

“Benua Asia sekali lagi terpancar terang, seperti petir-petir yang memercikkan cahaya di perairan. Sandal-sandal mungil para suami yang datang dari Istanbul Eropa bertemu dengan sandal lainnya yang dipakai sang istri di Asia. Anak-anak mereka yang datang ke pantai, berhenti, membalikkan badan mereka, lalu kemudian berlari menuju pantai Eropa. Terdengar suara-suara musik dan lagu dari kedai-kedai. Elang-elang beterbangan di sekitar bukit Yusa, burung camar menapaki perairan, ikan-ikan berenang di sekitar kapal yang membelah selat, dan udara dingin yang datang dari Laut Hitam menghantam wajah kita.

Di manakah kita? Ke manakah kita akan pergi? Di waktu ini, semua kenangan yang kita lihat sejak dua jam lalu di sepanjang bibir selat. Tempat para pendatang dari empat arah dunia. Sebuah gambaran kota yang mencampurkan seluruh nikmat dari Tuhan dan sebuah mukjizat yang selalu memberikan rasa hari raya. Dan penggambaran ini memenuhi diri kita dengan perasaan sedih dan kerinduan.”


Istanbul, apakah mereka juga memiliki impian seambisius diriku untuk mengunjungimu? Aku tak peduli sama sekali, karena bukankah selalu ada alasan di setiap impian? Sementara aku selalu merasa kerdil jika diminta untuk menuturkan atau menuliskan tentangmu. Merasa tak pernah ada kata ataupun tulisan yang mampu menjabarkan segala haru, bahagia, sedih, dan semua rasa yang tersimpan dalam hatiku tentangmu.

Aku tahu bahwa mereka banyak yang mengatakan, tidak ada yang begitu istimewa darimu, bahkan sampah kuaci masih banyak berserakan di taman-taman dan garis pantaimu. Bangunan-bangunanmu tampak kusam, seperti seorang wanita renta yang meratapi masa senjanya. Bukankah Paris, Milan, London, jauh lebih memesona?

Aku tak bermaksud membandingkan, namun bagiku keindahan bukanlah tentang seberapa cemerlang warna sebuah kota, seberapa megah bangunannya, atau seberapa modern pakaian orang-orangnya. Keindahan sebuah tempat adalah ketika aku berada di dalamnya, aku bisa merenungi makna hidupku, makna sebuah kehidupan, dan makna mengapa peradaban disilih bergantikan. Dengan begitu aku akan semakin menghayati sebuah firman Tuhan, apakah semua ini diciptakan hanya sekadar main-main saja dan kita tidak dikembalikan pada-Nya?

Untuk Mbak Tia, rasanya ucapan terimakasih tidak akan pernah cukup untuk membalas segala kebaikanmu. Jazakillah khairan, Allah Maha Adil, dan Ia akan memberikan balasan yang seadil-adilnya untuk semua kebaikan maupun kejahatan manusia. Semoga Ia melimpahkan segala kebahagiaan dan rahmatnya yang luas untuk Mbak Tia dan keluarga.


“Kalaulah dunia ini sebuah negara maka Konstatinopel inilah yang paling layak menjadi ibukota negaranya!”—Napoleon Bonaparte


Referensi: Muhammad Al Fatih karya Mustafa Armagan

Monday, 27 October 2014

Ngeblog dan Jalan-Jalan ke Luar Negeri?


Selamat Hari Blogger Nasional...

Aku punya blog sejak di pesantren, tapi baru aktif akhir 2013 lalu. Alhamdulillah dalam rentang waktu yang menurutku masih seumur jagung, blog ini udah sangat berjasa. Berkahnya banyak banget. Saking banyaknya berkah ngeblog, aku nggak  bisa bayangin berapa banyak rezeki dari blog komersial yang dikelola profesional. 

Okeh, karena hari ini nggak tahu mau nulis tentang apa, jadilah aku posting foto-foto lama aja. Bisa dapat foto plus lihat view ini, semuanya berkah ngeblog. 


Ini ceritanya view di pusat kota mana gitu... (Sok lupa). Fotografernya campur-campur sampai nggak terdeteksi siapa tepatnya. Ya awalnya cuma numpuk di folder tanpa tau mau diapain. Ternyata manis juga setelah diperhatiin.


Kalau yang di atas itu salah satu view pusat kota Singapura, ada seperti tangan yang mengangkat lingkaran. Bapak tour guide sempat memberi tahu filosofinya, sayang aku nggak ingat :(



Nah, foto yang di atas lebih nggak jelas lagi di mana persisnya. Mungkin di Orchad Road. Yang jelas waktu aku bongkar-bongkar file, eh menarik juga kesannya.



Nah yang ini anggap saja di London (jangan buru-buru sewot). Yup, ini dapatnya di Kuala Lumpur. Secara mereka kan bekas jajahan Inggris, jadi tetap ada peninggalan bangunan bergaya Eropa seperti di atas.



Kalian tebak sendiri sajalah di mana jalan ini berada. Asalkan nggak disangka di Eropa aja...



Duh, view di atas itu bikin pengen balik lagi ke sana. Sayang panasnya nggak nahan.



Hujan, no food, itu rasanya pengen cakar-cakar tembok... Saat hujan ini, kita duduk melamun di kaki lima gitu. Dan sepanjang hujan itu pula, aku cuma bisa mantengin bapak-bapak di bawah ini. Mereka itu katanya gembel ala Singapura, jadi rambutnya klimis, pakaiannya juga bersih.



Lihat, necis kan bapak-bapak di atas? Berbanding 360 derajat sama yang di tanah air. Hehe



Ini temenku Alfian ambilnya dari dalam mobil, aneh juga kenapa bisa secerah ini hasilnya. Padahal mobilnya nggak berhenti.



Bandara yang satu ini memang cukup keren, bahkan bagian atas sana (naik tangga itu), semuanya dilapisi karpet kayak di bioskop.

Nah, udah dulu ya... yang jelas blogging itu berkahnya subhanallah. Dan sekarang aku lagi nunggu untuk next trip... Happy blogging always!

Wednesday, 22 October 2014

[Fiksi] Mengapa Harus Berhenti Mencintai?

Source: click here
Negara cinta memiliki agama yang berbeda dari semua agama. Untuk para pecinta, hanya Tuhan sendirilah agama merekaMevlana Jalaluddin Rumi

“Kenapa kamu selalu memilih tempat pertemuan kita di tepi selat pada waktu senja?” tanya laki-laki itu pada perempuan di sampingnya. Ini kali kedua mereka duduk bersampingan menghadap selat dengan semburat keemasan di atasnya; untuk bercerita sesuatu yang sulit diungkapkan, sulit dipahami, bahkan hingga kini dan nanti ketika percakapan mereka usai.

Gadis itu tidak seketika menjawab. Sejenak ia melemparkan pandangan pada pucuk-pucuk menara runcing yang menjelma siluet di seberang sana. Senja sudah hampir tenggelam dan warna di ufuk Barat tampak kian pekat. Burung-burung camar yang biasanya terbang rendah, menari-menari di atas air dengan sesekali menukik, kini hanya tinggal satu dua. Senja adalah panggilan bagi mereka untuk pulang, bercengkerama dalam kekhusyukan menanti esok yang lebih cerah.

“Adakah yang lebih pandai menggambarkan cinta seorang wanita yang tak tersampaikan selain senja dan selat yang hening?” perempuan itu menjawab dengan sebuah pertanyaan. Lelaki di sampingnya menarik napas lalu mengembuskannya berat.

“Sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Berhentilah mencintaiku.” Ucap sang lelaki.

“Mengapa aku harus berhenti ketika anugerah mencintaimu tidak diberikan Tuhan pada semua wanita? Kamu lihat gadis itu.” Perempuan itu menunjuk kecil pada seorang gadis yang sedang duduk seorang diri memandang Selat seolah melihat kesedihannya sendiri. “Apakah kamu berpikir ia juga mencintaimu? Tidak, sama sekali tidak. Tuhan telah menuliskan takdirku untuk mencintaimu, lalu kenapa aku harus mengingkari? Aku tidak mampu berbuat apa-apa, bahkan ketika kamu luluh lantakkan semua harapanku, cinta ini tidak bisa pergi begitu saja.”

Laki-laki itu kembali hanya bisa diam. Aku tidak mengerti, akankah hatinya tersentuh saat mendengarkan penjelasan dari wanita di sampingnya. Atau justru semua itu tidak ubahnya senja sore itu, yang hadir sejenak, kemudian tenggelam tanpa bekas.

“Sungguh kamu hanya menyiksa dirimu sendiri. Cobalah menerima ia yang datang padamu.” Ucapnya memberi saran.

“Bagaimana aku bisa menerima, jika ia yang datang dan itu bukan dirimu, pada hakikatnya adalah tidak ada?” Perempuan itu merapatkan jaket. Angin mulai bertiup sekian kali lebih menggigit hingga menyusup ke balik kulit.

“Lalu apa yang bisa kulakukan?”

Perempuan itu menggeleng. Ia mengatakan bahwa sang lelaki tidak perlu melakukan apapun karena ia memiliki caranya sendiri untuk mencintai. Ketika para perempuan lain bisa melihat senyum di wajah lelaki yang dipujanya, perempuan itu juga bisa melihatnya pada wajahnya sendiri. Karena ketika ia menghadap cermin, ia kembali teringat bahwa perempuan yang wajahnya di dalam cermin itu sangat mencintai seorang lelaki. Lelaki yang wajahnya bahkan telah menyatu dengan wajahnya sendiri. 

Begitu pula ketika ia ingin mendengarkan suara sang lelaki, cukup baginya mendengarkan nyanyian para musisi yang sebahasa dengan lelaki itu. Lalu ketika sang perempuan menatap lanskap sebuah negeri sang lelaki, meskipun fotonya saja, itu sama artinya dengan ia menginjakkan kaki di negeri itu; menghirup aroma pepohonan di sana, merasakan gemerisik dedaunan yang berserakan di kala musimnya, dan mendengarkan percakapan orang-orang seperti di tanah sendiri.

“Mereka bilang cinta memiliki waktunya sendiri. Dua orang yang saling mencintai pun tidak dijamin akan hidup bersama bila mereka bertemu di waktu yang salah. Mevlana Rumi pernah berkata bahwa cinta adalah rumah Tuhan, dan para pecinta hidup di rumah itu. Cinta adalah milik-Nya, bagaimana bisa kita begitu egois ingin memintanya dengan paksa?” Usai berucap, wanita itu menoleh, berusaha tersenyum tipis. “Tenang saja, aku mengerti batas-batas mencintaimu, aku juga paham bagaimana harus mencintaimu. Namun ingatlah satu hal, ketika kamu meminta pada sahabat atau temanmu ‘Doakan aku’,  mereka akan membalas, ‘Aku selalu mendoakanmu’, namun kenyataanya hanya ada kemungkinan kecil namamu ada di setiap doa mereka. Tapi aku, meski tanpa diminta akan selalu menyebutmu dalam permintaanku pada Tuhan. Sungguh tidak sekali pun aku berdoa agar suatu hari kamu mengetahui cintaku kemudian juga menaruh rasa yang sama, setiap saat aku hanya mendoakan semoga Tuhan melimpahkanmu kebahagiaan dan cinta yang luas.”

“Terimakasih. Maaf aku tidak memiliki kemampuan mencintai sepertimu.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, baik kamu atau diriku sendiri.”

Hanya sebatas itulah perbincangan mereka senja itu. Karena sesudah mereka kembali pada jalan masing-masing, matahari sempurna kembali ke peraduan dan gelap menyelimuti. Kerlap-kerlip kota di seberang sana hanya diam menyaksikan, saksi bahwa mereka pernah bertemu. 

Bogor, 23 Oktober 2014
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...