Thursday, 25 June 2015

Inspirasi Style Lebaran Ala Wanita Turki



Ramadhan perlahan merangkak menuju pertengahan bulan.  Itu artinya lebaran akan datang sebentar lagi. Sudah jadi kebiasaan Muslim di seluruh penjuru dunia (khususnya Indonesia), tiap kali lebaran menjelang selalu saja belanja pakaian baru. Untuk para wanita, budget lebaran jadi bertambah karena harus beli kerudung juga.

Aku sendiri, tiap mau lebaran nggak beli baju banyak-banyak. Paling banyak tiga pasang (paling banyak lho, ya). Tapi seringnya sih baju dua, celana satu, terus ditambah kerudung. Bapak selalu marah tiap kali aku belanja pakaian terlalu banyak. Katanya mubazir. Mending uangnya disedekahin. Di luar sana banyak orang yang nggak bisa menikmati ketupat dan opor ayam di hari lebaran, lha kita malah bermegah-megahan. Biasanya aku nurut saja. Lagipula masih banyak pakaian yang bisa dipakai.

Nah, tadi aku barusan baca-baca postingan di sebuah web yang membahas style hijab seorang wanita Turki dengan akun instagram @karalardansena. Semua pakaian yang dia pakai terlihat manis, yaaa memang alasan terbesar karena si Kara ini sudah cantik dari sananya. Punya lesung pipi lagi. Jadi mau pakai baju dan kerudung bagus atau dari keset pun dia tetap saja terlihat cantik. 
 
@karalardansena

Udahlah cantik, pake ada lesung pipinya pula. (@karalardansena)
Akhir-akhir ini aku memang sering posting tentang hijab fashion. Biar begitu aku nggak pernah mendeklarasikan diri sebagai seorang fashionista juga. Aku hanya sekadar menyukai fashion. Suka aja lihat cara mereka berpakaian. Seperti yang kubilang, aku download semua foto-foto mereka yang berpakaian bagus (menurut penilaianku) dengan tujuan agar bisa dijadikan ide desain nantinya. 

Saat lihat foto-foto Kara, aku seketika menyukainya. Di Turki, pakaian seperti yang ia pakai adalah pakaian yang juga dipakai oleh wanita-wanita lainnya. Aku punya beberapa teman di facebook yang juga wanita Turki. Mereka bukan fashionista, tapi semua penampilan mereka nggak ada beda dengan pakaian yang dipakai oleh para hijab fashion asal Turki. Jadi kusimpulkan, kebanyakan wanita Turki memang berpakaian seperti Kara. 

Sama halnya dengan makanan. Di Indonesia, sarapan pakai keju, yoghurt, almond, roti, buah, dan jenis berry-berry-an kesannya mewah. High class. Pake difoto lalu di-upload buat pamer. Tapi di luar sana (khususnya Barat, termasuk Turki), semua bahan makanan tersebut sudah biasa. Yah, mungkin sama dengan bubur ayam, nasi uduk, dan tempe orek kalau di negeri kita. Sekali-kali kita juga harus begitu, tiap kali makan tempe orek langsung difoto terus di-share. Lama kelamaan pasti tempe juga jadi keren. Sayangnya, penampilan tempe kurang eye catching gitu, yah. 

Aku pernah baca postingan seorang bloggger (wanita Indonesia yang berdomisili di Turki). Ia bercerita seperti apa menu sahur dan buka di Turki. Meski suaminya bekerja sebagai pegawai biasa, menu sahurnya tetep saja keju, roti,  berry, plus minyak zaitun. Sekadar info nih, semua bahan-bahan tersebut memang dijual dengan harga wajar di Barat sana. ‘Cause rumahnya memang di sono, nggak pakai impor. Kalaupun impor, nggak bakal jauh-jauh amat. Paling dari negara tetangga. So, orang Indonesia nggak perlu gengsi juga sarapan pakai nasi uduk. Mungkin seandainya nasi uduk diekspor ke Turki, harganya akan sama dengan harga sekilo almond di Indonesia.
 
Contoh menu sahur di Turki (hosgoru.wordpres.com)
Di Turki, pakaian sejenis coat atau pardesu tidak hanya dijual di butik-butik mahal, namun juga di pasar-pasar. Harganya berkisar antara 55-65 lira atau sekitar 350 ribuan. Bagi kita sih kemahalan, ya? Berbeda dengan di sana. Bisa jadi harga segitu memang sudah dianggap pantas dan wajar. Setahuku, kualitas kain dan jahitan pakaian di Turki memang bagus-bagus. Lha di negeri kita, apa yang dijual di pasar beda jauh dengan yang di butik. Khususnya soal harga. Ibarat langit dan bumi. So, ketahuan lah ya mereka yang belanja di pasar dan mereka yang belanja di butik itu sudah beda level. Beda gaya hidup. Inilah yang rada nggak sreg di hatiku. Kesenjangan ekonomi yang njomplang banget. 
Nih, coat-coatan begini juga dijual di pasar.
Okelah, mari kita lupakan sejenak. Daripada pusing-pusing mikirin kesenjangan, mending kita lihat-lihat style hijab para wanita Turki yang kulampirkan. Semoga bisa jadi referensi style waktu lebaran. Nggak perlu mengeluh dengan harga dan sebagainya, tinggal cari saja pashmina dan pakaian yang rada panjang. Kalau mau cari yang benar-benar sama, memang kagak ada. Kalaupun ada biasanya produk-produk desainer seperti Jenahara atau Rani Hatta. Soal harga? Kamu_tahu_sendiri_berapa. 
 
@karalardansena
@karalardansena
Syukurnya nih, kuperhatikan, di pasaran sekarang lagi musim long outer. Nah, itu cocok banget kalau dipadu padankan dengan model kerudung seperti yang digunakan wanita Turki. Kalau wanita Turki, mereka biasanya suka pakai kerudung berbahan silk (sutera), makanya lebih mudah dibentuk meski hanya dengan bantuan satu buah jarum pentul. Di Indonesia, kerudung berbahan  silk 100% relatif lebih mahal. Jadi pakai saja apa adanya. 

Okay, udah panjang ya tulisannya? Cukup sekian dan terimakasih.



Eid Hijab Style A La Turkish Women


Ramadan slowly walked to the middle of the month. It means that Eid will come soon. Being  a habit of Muslims all over the world (especially Indonesia), each time near of Eid, they always look for new clothes. For women, Eid budget will be increase because they have to buy some veil too.

I myself, every Eid times don’t buy clothes a lot.
Maximum are three pairs (maximum, yaa). But more often only two shirts,  a pant,  and some of hoods. My father always gets angry when I spend money to buy much clothing. He said that is a redundant. Better if  that money we give to other persons who really need for their primer needs. Outside there are many people who can not enjoy chicken curry or ketupat on the day of Eid, but here we celebrate with over luxurious. Yeah, i think my father is true. Moreover, still there are many clothes that can be worn.

Well, forget that. For last one or two second, i’ve read a blog post that discusses about style hijab of Turkish woman with instagram account’s name @karalardansena. All the clothes that she wears look cute. Yaaa the biggest reason because Kara is already beautiful by nature. She always looks pretty in any type of clothes she is wearing.  


For this Eid, you can see some of Kara’s style i’ve atthached. I think it will be nice if you can addopt Turkish women’s hijab style ‘cause they use hijab with very simple steps. No need many of pin but the result is very perfect. I suggest you have a silk pashmina to get similiar result. Okay my dears, Happy Ramadan and happy to try. Hope it will inspire you.
 

Selangkah Sebelum Wisuda




Alhamdulillah sidangku sudah terlewati sehari lalu, tepatnya Rabu 25 Juni 2015. Aku bersyukur mendapat dosen pembimbing dan dosen penguji yang baik hati. Selama hampir dua jam di ruang sidang, kami hanya berbincang layaknya sedang bimbingan. Tidak ada pertanyaan yang terlalu sulit diajukan padaku. Meski terkadang jawaban yang kuberikan tidak sempurna benar, aku berusaha memberikan argumentasi yang masuk akal. Kuberi tahu, ya, kalau kalian sedang presentasi atau sidang, jawab saja dengan menyakinkan. Ekspresi kita adalah kuncinya. Tidak peduli jawaban kita tidak terlalu benar, yang penting kita tunjukkan bahwa kita menguasai hal tersebut. Kalau sudah begitu, baik audiens maupun dosen penguji pasti akan percaya.

Di hari sidang, aku tidak begitu ketakutan. Mungkin karena rasa takut sudah dihabiskan di detik-detik sebelum seminar satu minggu lalu. Dari rumah aku sudah menyiapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan, termasuk slide presentasi. Soal pakaian, kita diwajibkan mengenakan bawahan hitam dan kemeja putih. Jadilah, aku memilih rok jersey hitam dan kemeja putih yang kukenakan saat registrasi masuk IPB tiga tahun lalu. Di luar kemeja, aku menambahkan blazer hitam dan jilbab segiempat warna tosca.

Pukul 09.30 aku masuk ke ruang sidang, keluar pukul 11.00 lebih. Di luar teman-teman sudah menunggu. Wah, banyak sekali bunga, cokelat, dan aneka jajanan yang dihiasi pita berdatangan. Saking bahagianya sampai tidak bisa bicara. Acara dilanjutkan dengan foto-foto dan menunggu teman yang sidang selanjutnya.




Ini sepupuku yang satu angkatan, dia juga habis sidang beberapa hari lalu
Saat perjalanan pulang, ada banyak stand dibuka di halaman gedung utama kampus. Oh, ternyata sedang musim registrasi mahasiswa baru angkatan 52. Waktu berlari sangat cepat, meninggalkan segalanya jauh di belakang. Rasanya baru kemaren sore aku dan teman-teman melakukan registrasi masuk IPB, sekarang sudah sampai di penghujung. 

Ucapan selamat juga bertubi-tubi kudapatkan dari pesan BBM. Terlebih saat aku memasang display picture moment seusai sidang. Semua ucapan tersebut mengingatkanku bahwa fase perkuliahan tahap pertama sebentar lagi usai. Fase baru dalam hidup akan segera dimulai. Untuk sekarang, aku masih belum ingin melanjutkan kuliah. Rasanya bosan dengan semua aktifitas perkuliahan. Tapi bagaimana nanti, aku masih belum bisa memastikan.

Akhirnya, aku ucapkan terimakasih untuk teman-teman, kenalan, dan siapa saja yang datang, yang memberikan hadiah-hadiah, dan yang memberikan ucapan selamat. Semoga Allah membalas kebaikan sahabat semua dengan ganjaran terbaik. Aamiiin...

Monday, 22 June 2015

Musim Sidang, Musim Bunga




Musim sidang telah tiba. Meski deg-degan nunggu jadwal sidangku sendiri, tapi menghadiri sidang teman tetap prioritas. Sudah jadi tradisi, tiap kali ada teman yang sidang, kita nunggu di luar sambil bawa bunga. Aku sendiri bingung, kenapa harus bunga? Kan mubazir. Beli mahal-mahal, eh ujung-ujungnya berakhir di tong sampah.

Aku sih sudah wanti-wanti ke teman, nanti kalau pas giliranku yang sidang, mereka datangnya bawa makanan aja. Kolak, pisang goreng meler, atau apalah. Sejujurnya aku suka sekali dengan bunga. Warna-warni bunga selalu bikin hati bahagia. Tapi kalau disuruh pilih mau dikasih hadiah bunga atau makanan, jelas aku pilih makanan. Bunga itu ya buat dilihat-lihat aja, misal kalau pas main ke taman. Buat dipajang? Paling dua hari sudah layu.

Sehari lalu, untuk pertama kalinya aku mendatangi deretan kios bunga yang terletak tidak jauh dari Bogor Trade Mall (BTM). Tepat di seberang gerbang Kebun Raya Bogor (KRB). Di sana ada sekitar lima atau enam kios yang menjajakan bunga segar seperti mawar, krisan, dan entah apa lagi yang tak kuketahui namanya. Kios bunga di Bogor kota juga bisa ditemui di area Tugu Kujang, namun harganya relatif lebih mahal. Jadi aku sarankan kalau mau cari bunga segar di Bogor Kota dengan harga miring, silakan ke seberang pintu KRB yang dekat BTM.

Sampai di sana, aku yang semula lemas akibat panas menyengat langsung bersemangat. Wah, bunga-bunga yang mereka jajakan benar-benar indah. Sayang, kondisi di sana kotor, becek, plus dekil. Andai saja dibuat lebih manis dengan desain klasik ala-ala Eropa pasti lebih keren. Datang ke kios bunga aku jadi ingat tentang kios bunga di desa Ipsach, Swiss yang pernah diceritakan Mbak Hanum Rais dalam salah satu novelnya. 
Pengennya kios bunga yang begini
Kios bunga di desa Ipsach tidak dijaga oleh penjual. Pembeli bebas memilih bunga mana saja yang mereka inginkan, lalu meletakkan uang sesuai dengan label harga ke tempat yang sudah disediakan. Kalau uang kita pecahan besar, dalam kotak yang lain sudah disediakan uang kembalian. Kita tinggal ambil sesuai dengan uang kembalian yang seharusnya kita terima. Prinsip kejujuran sepertinya benar-benar diterapkan oleh masyarakat Swiss. Lha kalau Indonesia menerapkan prinsip seperti itu, bisa-bisa bunga yang ditinggal ludes tanpa imbalan uang sepeser pun. 

Okay, kita kembali pada pembicaraan kios bunga yang kudatangi. Harga bunga antara satu kios dengan yang lain tidak terlalu jauh berbeda. Sekitar 5000 rupiah untuk satu tangkai mawar dan 10.000 sampai 15.000 untuk rangkaian bunga berukuran sedang. Selanjutnya harga ditetapkan tergantung seberapa besar dan jenis bunga yang diinginkan pembeli.


Ceritanya mereka lagi nego kalau belinya 20k, buketnya bakal segede apa?
Sementara teman-temanku sibuk memilih bunga, ingatanku kembali ke masa-masa kecil. Dulu aku senang sekali menanam aneka bunga di halaman rumah. Tiap kali ibuku bepergian ke luar pulau, aku selalu titip agar dibelikan berbagai bibit bunga, seperti bibit bunga mawar, krisan, anthurium, dan lain-lain. Biasanya saat persemaian, aku menaruh pot-pot bunga di dekat sumur yang ada pohon rindang. Kalau sudah mulai berbunga, baru dikeluarkan ke depan rumah. Motivasiku menanam bunga waktu itu karena memang aku menyukai mereka, motivasi lainnya adalah kompetisi dengan sepupu. Kami selalu berlomba tanaman siapa yang berbunga lebih dulu dan tanaman siapa yang paling banyak. 
 
Halaman penuh bunga-bunga, it's something ;) (http://www.decosee.com/)

Buket untuk 15k, lumayan yah?
Sekarang, halaman rumahku kosong. Jangankan tanaman bunga, semak-semak pun tidak ada. Saat kutanya pada Ibu kenapa tidak mau menanam bunga, beliau bilang tidak sempat merawat. Suatu saat nanti, kalau aku tinggal di rumah dalam waktu cukup lama, atau aku sudah punya rumah sendiri, aku pasti akan menanam banyak bunga di halaman rumah. Terutama bugenvil dan mawar. Untuk sekarang cukup lihat-lihat aja dulu, mana yang bagus ya dibeli buat teman.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...