Wednesday, 1 July 2015

Mostar, Benarkah Ada Penantian di Sana?


Aku pertama kali tahu tentang negara bernama Bosnia sekitar satu tahun lalu. Tepatnya saat aku giat membaca segala sesuatu tentang Turki Ustmani. Dari novel Ghazi aku tahu bahwa sekitar tahun 1300-an, khalifah Turki Ustmani memulai ekspansi ke negara-negara Semenanjung Balkan (seperti Kroasia, Serbia, dan Bosnia).

Entah bagaimana ceritanya, beberapa tulisan yang kubaca di internet ternyata membuatku jatuh cinta pada Bosnia Herzegovina, terutama kota Mostar. Salah satu puisi yang bercerita tentang penderitaan seorang gadis kecil saat perang Bosnia pecah membuatku terenyuh. 

Aku semakin gencar mencari informasi tentang Bosnia. 

Bosnia yang multi agama tempat Islam, Ortodoks, Katolik, dan Yahudi hidup dalam harmoni sehingga dijuluki sebagai Yerussalemnya Eropa.

Bosnia yang menyimpan catatan-catatan masa lalu tentang perang, tentang para muslimah yang diperkosa secara massal, tentang kepala para Muslim yang terpenggal tanpa dosa, tentang tangis pilu anak-anak memanggil nama ayah dan ibu yang lebih dulu menghadap Tuhan. Ah, Bosnia. Bahkan dalam mimpi pun aku akan sangat bersyukur jika bisa mengunjunginya.

Tidak banyak memang yang tahu keberadaannya, tapi percayalah, meski aku belum pernah berkunjung, Bosnia adalah negara kecil yang cantik. Bukan hanya cantik secara geografis, namun juga budaya dan sejarahnya.

Tulisan berikut merupakan cuplikan dari salah satu novel yang kutulis setahun lalu. Aku tidak percaya diri untuk mengirimkan ke penerbit. Jadi cukup disimpan untuk dibaca-baca sendiri. Semoga cukup sebagai pengantar bagi sahabat semua untuk mengenal Bosnia lebih jauh.

 -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lanskap of Sarajevo (pinterest)
Pesawat Turkish Airlines yang kutumpangi mendarat tidak begitu halus di Sarajevo International Airport, bandara terbesar sekaligus tersibuk di Bosnia Herzegovina. Tiket yang dibelikan Ishak adalah tiket penerbangan langsung menuju Sarajevo, tidak harus transit terlebih dahulu di Wina, Austria. Dua jam dua menit selama penerbangan kuhabiskan dengan memandang keluar jendela, pada awan-awan tipis yang melayang. Seolah mereka tercipta hanya untuk terbang bebas tanpa beban. Dan jika sudah sampai waktunya, mereka akan berubah dalam wujud lain berupa tetes hujan atau salju yang meluncur menuju bumi, kembali menemukan sebuah kehidupan baru. 

Perangkat hiburan yang disediakan di depan kursi tidak kusentuh sama sekali. Berbeda denganku, Elma justru asik menonton film Turki yang tak kuketahui judulnya. Berkali-kali juga ia meminta minuman dan makanan ringan pada pramugari. Kurasa ia menganggap kepulangan ini sama seperti yang dilakukan  kebanyakan orang. Yang biasa dikenal dengan istilah pulang kampung. Dimana setiap hati mereka yang akan pulang kampung selalu dipenuhi bunga-bunga kebahagiaan. Bahkan harum masakan sang ibu tercium di sepanjang perjalanan mereka. Sementara aku? Ini adalah kepulangan yang tidak bisa kujelaskan. Aku senang, aku takut, dan aku yang masih berkabung.
“Zdravo. Dobro jutro[1]. Welcome in Sarajevo International Airport. Thank you for chose a flight with us.”
Seorang pramugari yang berdiri di pintu kabin melepas kepergian para penumpan, termasuk aku dan Elma. Senyum dan bentuk wajahnya khas Turki, sangat cocok dengan seragam biru donker yang membalut tubuhnya. 

Angin musim dingin menyambut begitu kami keluar dari pesawat. Tidak ada perbedaan yang kontras antara Turki dan Bosnia Herzegovina, baik suhu maupun waktu yang hanya selisih satu jam saja. 

Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di sini, bandara tanah kelahiranku. Dulu selama perang 1992-1995, penerbangan umum ditutup sementara waktu dan hanya dipakai untuk kegiatan kemanusiaan, seperti mengantarkan bantuan-bantuan dari seluruh dunia untuk korban perang. Bandara ini baru kembali beroperasi normal satu tahun setelah perang usai.
“Bu ülkemiz, Abi[2].”
Elma berseru begitu kakinya menginjak lantai bandara. Aku membenarkan dalam hati. Ya, inilah negara kita yang pernah berusaha kulupakan. 

Kami berjalan mengikuti lorong yang mengantar menuju conveyor dan petugas pemeriksaan. Aku tidak tahu pasti bagaimana bisa paspor pemberian Ishak sama seperti aslinya, sampai-sampai petugas imigrasi baik di Atatürk Airport maupun di bandara ini tidak menaruh curiga sedikit pun.
“Hvala[3]” ucapku dengan bahasa Bosnia setelah petugas imigrasi laki-laki mempersilakanku melewati pintunya.
“Da li govorite bosansky? Odakle ste?[4]” Wajah petugas itu terlihat semangat
“Razumijem bosansky, just little[5].” Jawabku dengan memberikan sedikit senyuman, kemudian berlalu meninggalkan mejanya. Sengaja tidak kujawab pertanyaannya mengenai asalku, toh dia bisa membaca dari scan pasporku yang masih tampil di layar komputernya. Di sana Ishak mencantumkan kewarganegaraan Turki untukku.
Setelah Elma melewati meja imigrasi, kami segera keluar dari bangunan bandara. Bangunan yang tidak begitu mewah sebenarnya.
“Kau tahu, bandara ini telah menerima beberapa international award.” Seru Elma. Ia melihat kembali ke arah pintu bandara.
“Baguslah.” Aku merespon pendek.
Seperti kebanyakan bandara internasional, pastinya di terminal keberangkatan dan kedatangan penerbangan internasional selalu dipenuhi wajah-wajah antarbangsa. Sekumpulan turis berwajah Cina terlihat baru keluar dari pintu exit bangunan bandara, wajah senang jelas sekali tergambar dari wajah mereka. Aku sudah hapal dengan kebiasaan orang Cina, mereka tidak pernah kehabisan suara. Selalu saja berisik ketika berbicara dengan sesama mereka. Seketika mereka mengerubungi seorang laki-laki separuh baya yang membawa kertas bertuliskan sesuatu di depan dadanya. Kemungkinan besar ia adalah tour guide yang akan memandu perjalanan para turis Cina itu.

Seorang laki-laki menghampiriku. Dengan bahasa Bosnia ia menawari kami untuk naik ke taksinya. Aku tidak mau berpikir lama, ditambah udara yang semakin menusuk tulang, langsung saja kuterima tawarannya. Koper kecil di tanganku seketika berpindah tangan. Supir yang kuterka berumur lima puluh itu mengangkut ke bagasi. Senyum ramah tetap tersungging di bibir laki-laki tua itu ketika ia mempersilakan kami masuk ke dalam taksi.

Mobil kuning yang masih cukup bagus itu bergerak meninggalkan bandara. Salju tipis turun tapi masih jarang-jarang. Setelah mengucapkan selamat datang dan menanyakan tujuanku, supir tua itu mengarahkan mobilnya melewati jalan Brace Mulic, kemudian Belok kiri menuju Senada Poturka Sencija. Berdasarkan penuturannya, ada tiga rute yang bisa ditempuh dari bandara menuju stasiun bus di tengah kota Sarajevo. Tidak ada perbedaan jarak tempuh yang signifikan di antara ketiga rute itu. Semuanya tidak memakan waktu lebih dari 20 menit.
Mobil terus melaju di jalanan yang tidak begitu padat. Ada getaran halus menyusup dalam dadaku, mencipatakan keharuan yang indah. Sarajevo, tidak pernah terbersit dalam pikiranku untuk kembali mendatangimu, bahkan berpikir untuk melihatmu di internet pun tidak. 

Kota inilah yang merekam perjalanan masa kecilku dulu. Ketika Mustafa, Ishak, dan Jasmina menjalani hari-hari mereka dalam satu tempat, saling mengetahui satu sama lain. Beginikah rasanya kembali? Ketika tak ada satupun yang boleh terlewat dari setiap jengkal tanah dan apa yang ada di atasnya. Hatiku bergetar semakin hebat, wajah kecil kami dan wajah Ayah-Ibu membayang dalam pikiran. Betapa jauh peristiwa demi peristiwa melemparkan kita, betapa lama tragedi itu telah memisahkan kita. Dan hari ini aku kembali.
 
Makam para penduduk sipil yang menjadi korban perang 1992-1995 (pinterest)
Kini kota ini sudah banyak berubah. Tidak ada lagi bangunan-bangunan hancur dengan asap membumbung tinggi. Tak ada tank-tank chetnik yang berjalan serupa monster yang mengejar mangsanya. Tak ada barisan setan yang menembaki penduduk kami. Tak ada jeritan luka wanita dan anak-anak. Tak ada air mata yang meleleh dari sudut mata laki-laki ketika dipisahkan dari anak istrinya. Tak juga terdengar dentuman-dentuman yang menakutkan dari segenap penjuru kota.

Sekarang kotaku adalah tempat yang aman, yang indah, dan menyihir. Air mata dan darah penduduk kami yang terbunuh bertitah pada bumi untuk menumbuhkan keindahannya.
 
Masjid bergaya Ottoman di Sarajevo (pinterest)
Aku melihat bangunan di sepanjang jalan. Beberapa bangunan seperti Masjid tetap terlihat seperti dulu, bergaya Ottoman dengan menara-menara runcingnya. Gedung-gedung yang dulu hancur akibat perang telah direkonstruksi kembali sedemikian rupa. Beberapa bangunan masih mempertahankan keadaan aslinya sebagai peninggalan sejarah. Tidak bisa dipungkiri, sejak perang 1992-1995, Bosnia identik dengan negara yang menyeramkan karena dipenuhi sisa-sisa perang. Tidak banyak yang mengetahui keindahannya. Bahkan sebagian orang menganggap kunjungan ke Bosnia tidak ubahnya kunjungan ke kota kelam yang berhantu. Tetapi kini bisa kupastikan, ketika kamu menginjakkan kaki di dalamnya, kamu akan terpukau dengan pesona Bosnia. Pesona semenanjung Balkan.
“Jika kita terus mengikuti jalan ini, kemudian berbelok tiga kali, sampailah nantinya di jalan Zelenih Beretki. Biasanya itu adalah titik pertama Sarajevo yang dikunjungi oleh turis mancanegara.” Supir tua itu menjelaskan ketika kami melaju di jalan Zvornicka. Telunjuknya menunjuk kecil ke depan.
“Di sana memang indah. Aku sangat ingin berjalan-jalan di pinggir sungai Miljacka, lalu menyeberanginya melewati jembatan Latin dan melihat-lihat Museum Sarajevo 1878-1918. Itu akan menjadi pengalaman yang menyenangkan.” Sambung Elma dengan matanya yang berbinar.
Sungai Miljacka yang membelah kota (pinterest)
Dulu masa kecil kami di Sarajevo, aku juga sering menyusuri sungai Miljacka dengan sepeda. Area Zelenih Beretki adalah salah satu tempat kegemaranku untuk menghabiskan waktu libur. Jembatan Latin yang tiangnya berbentuk lengkungan-lengkungan itu tidak pernah membosankan untuk dipandang. Dan jika sudah lelah, aku akan masuk ke museum Sarajevo 1878-1918 atau yang dikenal dengan museum Austria-Hongaria. Disebut begitu karena memang museum itu bercerita tentang masa kedudukan Austria-Hongaria di Sarajevo, selama periode 1878-1918. Tempat terbunuhnya Franz Ferdinand yang memicu perang dunia pertama pun diduga terjadi di area itu.
 
Sarajevo in winter (pinterest)
Mobil meninggalkan jalan Zvornicka, berbelok ke kiri memasuki jalan Hamdije Cemerlica. Di trotoar jalan yang mulai dilapisi salju, tampak para wanita Bosnia yang berjalan dengan plastik-plastik belanja di tangan. Kini para wanita Bosnia banyak yang mengenakan kerudung seperti Jasmina. Dulu, ketika Bosnia masih berada dalam federasi Yugoslavia, semua hal yang berbau agama tidak boleh diperlihatkan. Ibuku ber-Islam dengan baik, tetapi ia tetap tidak bisa memakai kerudung ketika bepergian. Masjid-Masjid sepi seperti kuburan. Keadaan itu berbanding terbalik pasca perang Bosnia, pengalaman pahit selama periode perang sepertinya membawa para Bosnian pada kesadaran, ditambah lagi dengan syiar Islam yang digemakan oleh para mujahidin antar bangsa yang membantu Bosnia.
“Lihat para gadis kami, mereka cantik-cantik, bukan? Kuperhatikan, kau tidak berbeda dengan gadis-gadis negara ini, nak?” Supir tua itu memandang Elma dari kaca yang berada di kanan atas kemudinya.
Elma hanya tersipu lalu mengalihkan pandangan kembali ke arah  trotoar. Taksi terus melaju selama beberapa menit, kemudian berhenti tepat di depan Autobuska stanica Sarajevo—terminal bus kota Sarajevo. 

Setelah membayar tarif taksi, bapak supir itu langsung memutar mobil. Ia memberikan senyuman sebelum melajukan mobil meninggalkan kami. 

Sambil menggenggam tangan Elma, aku membawanya menuju tempat pembelian tiket, kemudian bergegas masuk ke dalam bus. Sepuluh menit kemudian bus bergerak keluar dari terminal. Setelah berada di badan jalan, bus melaju dengan halus meninggalkan Sarajevo. Lanskap kota berganti dengan hamparan rerumputan cokelat yang dilapisi salju tipis. Dua jam tiga puluh menit lagi kami akan tiba di Mostar.

Ah, Mostar. Benarkah ada penantian di sana?


[1] Halo. Selamat pagi
[2] Inilah negara kita
[3] Thanks
[4] Apakah kamu berbicara dalam bahasa Bosnia? Darimana asalmu?
[5] Aku mengerti bahasa Bosnia sedikit

Monday, 29 June 2015

Thank You and Sorry



Akhir-akhir ini saya menerima banyak sekali permintaan pertemanan di facebook dan beberapa di antaranya adalah mereka yang mengenal saya dari blog ini. Ada banyak pula sapaan via inbox facebook hingga curhatan yang harus saya respon. Tapi karena keterbatasan saya, sampai sekarang masih ada inbox yang belum sempat dibalas. Kegiatan di akhir masa perkuliahan sangat menyita waktu. Kalaupun ada kesempatan membuka laptop, biasanya saya gunakan untuk merevisi Tugas Akhir atau untuk menulis blog post. 

Saya sangat senang mendapat pesan dan curhatan dari sahabat semua, meskipun saya tidak pernah merasa lebih baik atau lebih berpengalaman dari kalian. Blog ini pun tidak memiliki konsen pada tema tertentu. Saya menulis random, sesuka hati, dan jarang sekali memikirkan hal-hal yang disukai pembaca. Karena itu, saya cukup terkejut ketika tahu ada orang-orang yang mengaku menikmati tulisan-tulisan di sini. Meskipun mereka tidak berkomentar di setiap kolom komentar, itu bukan masalah.

Kebahagiaan saya semakin bertambah saat beberapa dari mereka mengatakan ikut menanti terbitnya novel pertama saya. Jujur, saat ini saya masih belum tahu kepastian naskah yang sudah saya kirim. Beberapa minggu lalu saya sempat bertanya pada redaksi tentang naskah tersebut, mereka bilang sedang dibaca dan akan dikabari tidak lebih dari 3 bulan terhitung sejak tanggal pengiriman. Semoga apapun keputusan dari mereka adalah yang terbaik. 

Hal lain yang membuat saya speechless adalah pageview blog ini yang sudah mencapai 2000 lebih per harinya. Yeah, meskipun pagerank blog ini masih nol. Mungkin karena umur domain yang masih sangat muda. Saya sudah membaca banyak tulisan untuk meningkatkan pagerank, tapi rasanya tidak ada yang bisa saya terapkan. Soal SEO, saya memang tidak paham. Yang penting blog ini ada pembaca, itu sudah cukup. 
 



 
Baiklah sahabatku yang baik hati, untuk sekali lagi saya ucapkan terimakasih. Saya sangat mengapresiasi semua sapaan, pesan, dan curhatan kalian. Maaf karena saya tidak bisa selalu membalas.



Franka Soeria: Muslimah Indonesia yang Sukses di Turki

"Satu hal yang harus kita hentikan adalah berpikir tentang kesuksesan yang instan. Saya percaya, kesuksesan instan berarti terkenal sesaat. Lagipula, melihat proyek kita tumbuh itu sama seperti melihat anak kita tumbuh. Jika saya diminta memilih antara ikut proyek yang sudah sukses atau memulai dari nol, saya akan pilih yang kedua!”—Franka Soeria 
Musim panas yang semarak, terlebih untuk negara empat musim yang berada di dua benua bernama Turki. Para turis dengan wajah antar bangsa tampak menjejali halaman hingga bagian dalam ikon-ikon utama Istanbul seperti Hagia Sophia dan Masjid Biru. Lalu di taman-taman, deretan tulip aneka warna sudah memekarkan kuncup-kuncup yang indah, mengundang keinginan manusia yang berlalu-lalang untuk berhenti sejenak dan berfoto.

Turki adalah negara yang sudah memikatku, namun kali ini bukan keindahan Turki yang menarik perhatianku. Melainkan seorang wanita berwajah Indonesia, berjilbab, menggendong satu anak laki-laki dengan seorang suami berwajah Turki di sampingnya, yang saat itu sedang diwawancarai oleh jurnalis berjilbab dari sebuah stasiun televisi tanah air.
“Oh, kenapa yang diwawancarai adalah ibu-ibu rumah tangga?” gerutuku pada awal tayangan.
Ya, aku sama sekali tidak familiar dengan wajahnya. Apalagi sampai tahu kisah inspiratif yang ada pada dirinya. Kesan pertama kali yang muncul dalam kepalaku adalah tentang seorang ibu-ibu yang fashionable dan, mungkin, sekarang dia tinggal di Turki. Tidak tahunya, wanita ini jauh melampaui apa yang berhasil aku pikirkan. Sebagai karma atas ucapanku tadi, sejak menonton wawancara tersebut, aku langsung mencari informasi lebih detail tentangnya di internet. Seketika aku mendeklarasikan diri sebagai penggemar. Tidak salah lagi! Dia memang muslimah hebat, namun sayang, tidak banyak wanita Indonesia yang kenal dengan sosoknya.


One of Franka Soeria styling work
Salah satu hasil styling-nya Mbak Franka
Franka Soeria nama wanita itu. Siapa sangka, Mbak Franka ini punya sederet bakat, pekerjaan, yang sekaligus kuanggap sebagai prestasi. Berikut adalah sebagai apa ia dikenal:
  • Konsultan fashion internasional
  • Co-founder majalah New York Covertime
  • Manajer Hubungan Internasional di Modanisa.com (E-commerce fashion Turki dengan pengunjung 6 juta setiap bulan, sekaligus dinobatkan sebagai no. 1 E-commerce of modest fashion in the world oleh The Global State Islamic Economy 2015)
  • Co-founder A La Hijab
  • Hubungan Internasional untuk Indonesia Fashion Week
  • Penulis screenplays, copywriter, press releases, dan news to advertorial
  • Penyanyi sekaligus songwriter
Jangan terburu-buru kagum jika belum tahu seperti apa perjuangan seseorang untuk mencapai sesuatu yang kita kagumi. Seperti kebanyakan orang sukses, perjalanan Mbak Franka juga tidak bisa dibilang mudah. Ia memulai semua itu dari garis nol dan kerja keras.


Shock Culture dan Titik Terendah

Pertemuan dengan seorang lelaki Turki yang berprofesi sebagai pilot di New York delapan tahun silam ternyata sempat mengubah jalan hidup Mbak Franka. Meski tidak memiliki hubungan pacaran layaknya muda-mudi, namun keduanya tetap menjalin komunikasi hingga lima tahun lamanya. Saat itu Mbak Franka sudah di Jakarta, sementara si lelaki tetap di New York. Hingga akhirnya, sebuah skenario indah Tuhan diperlihatkan, dengan niat yang teguh si lelaki datang ke Jakarta untuk melamar sekaligus menikah. Pernikahan inilah yang kemudian, mau tidak mau, menuntut Mbak Franka untuk ikut suami kembali ke tanah kelahirannya di Turki.

Mbak Franka yang selama ini belum berhijab, akhirnya memantapkan diri untuk berhijab. Kehidupan pasca pernikahan sempat menjadi ujian baginya. Perbedaan budaya antara dua negara ternyata bukan perkara sepele. Mbak Franka yang semula adalah wanita karir tiba-tiba harus melepas semua itu karena sang mertua lebih ingin ia tinggal di rumah dan hanya fokus pada suami. Ia yang biasa hidup dengan beberapa asisten rumah tangga, kini harus belajar meng-handle semuanya sendiri. Jauh dari keluarga, budaya asing, orang asing, bahasa asing, makanan asing, tidak ada kesibukan di luar, semua ini membuatnya berada di titik gelap. Ia mengaku sampai menangis.
“Ma, aku mau pulang saja ke Indonesia. Kok sepertinya aku nggak sanggup hidup di sini. Aku pulang sama suamiku, ya?” permintaannya pada sang ibu.
Meskipun dalam keadaan terpuruk, Mbak Franka masih bisa berpikir jernih. Berkat support dari suami, akhirnya niat pulang ke Tanah Air ia urungkan. Ia mulai menata kembali batu demi batu istana kesuksesan di negeri orang. Juga belajar jadi istri yang pintar mengurus rumah dan dapur. Beberapa waktu kemudian, ia diperbolehkan menjadi pengajar di sebuah lembaga, yang menurut pengakuan Mbak Franka aktivitas ini hanya sebagai pelarian agar tidak selalu berdiam diri di rumah. Lamaran kerja di bidang passion-nya juga sudah dilayangkan berkali-kali. Sayang, tak satu pun melirik. Mereka tidak yakin seorang wanita berhijab seperti Mbak Franka bisa sukses di dunia fashion. Padahal berkali-kali ia jelaskan bahwa di Indonesia dirinya adalah seorang desainer.
“Oh, ini bukan dunianya wanita berhijab sepertimu, Franka.” Komentar salah satu pemilik fashion brand di Turki.
Setelah sekian bulan seperti berjalan dalam kubangan frustasi, akhirnya cahaya itu datang. Sebuah perusahaan E-Commerce terbesar di dunia sudi mempekerjakan Mbak Franka sebagai pegawai. Berkat talenta yang ditunjukkan, kini ia duduk di jabatan Manajer Hubungan Internasional.

1431886763362467033
Modanisa

Sejak inilah hidupnya mengalami titik balik. Peluang demi peluang seolah terbentang seluas mata memandang. Dan Mbak Franka adalah seorang wanita berkarakter bisnis yang paling jeli memanfaatkan peluang tersebut.


Meyakinkan Dunia bahwa Indonesia juga Punya Fashion
“Saya mau ke Indonesia untuk Indonesia Fashion Week.” Ucap Mbak Franka pada para kolega.
Seketika wajah-wajah heran bermunculan. Kening teman-temannya berkerut. “Memangnya Indonesia punya fashion?”

Inilah salah satu tantangan untuk Mbak Franka sebagai perempuan Indonesia yang menggiati fashion di Barat. Orang Indonesia yang tinggal di Indonesia mungkin mengakui bahwa semangat fashion, terutama fashion hijab, di tanah air sedang berada di puncak. Sederet nama desainer berbakat bermunculan. Mereka tidak hanya menelurkan karya berupa pakaian, namun juga jadi public figure dan punya banyak penggemar.

Namun di luar sana, terutama di Barat, orang tidak mengenal Indonesia seperti itu. Seperti yang dituturkan Mbak Franka, masyarakat Barat lebih mengenal Indonesia dengan keburukannya seperti kemiskinan dan penyiksaan terhadap hewan-hewan yang dilindungi. Pernah satu kali Mbak Franka diliput oleh wartawan Turki, pertanyaan pertama yang muncul justru, “Apakah hubungan antara manusia dan hewan di Indonesia baik-baik saja?”

Oh, poor. Sayang sekali! Padahal kita tahu sendiri seperti apa majunya fashion di Indonesia. Hal inilah yang terus disosialisasikan Mbak Franka pada masyarakat di sana. Bahwa Indonesia itu punya banyak hal bagus, punya fashion yang tidak kalah dengan negara lain, dan punya banyak desainer berbakat.


Salah Kaprah Desainer Indonesia dan Mari Menjual di Pasar Global
"Sekarang bukan saatnya lagi gaya-gayaan, bahwa kita sudah berpameran di luar atau ikut fashion show di sana. Tetapi saatnya harus  berpikir bagaimana masyarakat muslim di luar tak lagi sekedar aware dan mengagumi tetapi juga action membeli. Saya kenal desainer Indonesia yang sangat terkenal di stage, namun tidak bisa menjual koleksinya." tutur Mbak Franka.
Menurutnya, sebuah brand akan dikenal dunia bukan dari betapa sering ia dipamerkan di sana-sini. Melainkan brand tersebut juga dicari-cari banyak orang untuk dibeli. Tapi keadaan fashion Indonesia tidak seperti itu. Kenyataannya, saat rancangan-rancangan dari Indonesia dipamerkan, itu hanya membuat orang kagum sesaat. Mereka suka melihatnya, namun tidak untuk memakainya sehari-hari. Mereka berpendapat bahwa kebanyakan model fashion Indonesia terlalu berlebihan, terlalu etnik, dan masih banyak yang kualitasnya rendah. Sangat kontras dengan fashion orang Turki yang simpel namun punya kualitas baik.
143188732870048199

Saat ini market pakaian muslim terbesar adalah Turki, kedua Uni Emirat Arab, dan ketiga baru Indonesia. Jadi, jika penggiat fashion Indonesia mau produknya laris di pasar global, penting sekali untuk memperhatikan minat fashion di negara yang dibidik. Kita tidak bisa membuat pakaian yang terlalu lebai, jika sasarannya adalah wanita Turki yang menyukai kesederhanaan namun tetap ilegan. Soal prinsip dan identitas brand, saat kita memilihnya bertema etnik, kita juga harus membuatnya bisa menjual dan layak untuk dipakai semua kalangan dalam aktivitas harian mereka.


A La Hijab, Social Platform untuk Islamic Fashion

Pertama kali mendengar nama A La Hijab, yang terlintas dalam pikiranku adalah sebuah page di facebook yang berisi segala sesuatu mengenai hijab. Ternyata aku salah! Begitu kubuka situs alahijab.com, yang muncul adalah sebuah halaman yang mirip seperti platform instagram, pinterest, dan lain-lain. Kerennya, A La Hijab adalah buah pikiran perempuan Indonesia yaitu Mbak Franka.

Aku langsung mendaftar dalam situs tersebut dan sekarang sudah punya akun di sana. Kita bisa punya follower dan sebaliknya kita sebagai following. Cara memainkannya sama seperti memainkan instagram. Kita browse foto, ditambah hastag, caption, lalu siap di-posting. Nanti akan muncul di halaman beranda alahijab.com dan bisa di-like oleh semua member.

alahijab.com by Franka Soeria
Tampilan A la Hijab

14318875751547096474\

Tujuan Mbak Franka membuat platform A La Hijab ini supaya seluruh penggiat fashion muslim skala global, baik itu desainer, brands, pembeli, bloggers, dan pecinta fashion bisa berkumpul dalam satu wadah. Di sana mereka bisa mempromosikan produk, memperkuat brand, sosialisasi trend fashion dari negara masing-masing, hingga memperluas networking.
“I know we have other established social media, but it is hard to find other hijabis from specific location and also specific products from specific location.” Ujar Mbak Franka saat ditanya alasannya mendirikan A La Hijab.
Saat ini pengguna A La Hijab memang belum sebanyak platform lain yang sudah eksis lebih dulu. Masih butuh sosialisasi yang giat agar A La Hijab bisa dikenal dan kemudian digunakan banyak orang. Mbak Franka tetap optimis pada pertumbuhan A La Hijab. Dia mengatakan bahwa platform lain seperti instagram pun tidak sukses hanya dalam waktu singkat. Fokus dan konsistensi sangat dibutuhkan untuk mencapai sesuatu yang diharapkan.

“Membuat kesalahan adalah sesuatu yang wajar, itu artinya kita sedang mengusahakan sesuatu. Aku pernah gagal, namun aku tetap berjuang. Mereka berkata, kucing memiliki 9 nyawa. Mengapa kita tidak? Sejauh yang saya tahu, apapun yang kamu lakukan, selagi kamu konsisten dan terus berdoa, you will reach the goals!” ucapnya optimis.


Untuk Kita, Perempuan Indonesia...

Mbak Franka dan segala pencapaiannya membuatku berpikir satu hal, bahwa sebagai perempuan Indonesia, di mana pun kaki kita berpijak, di sana kita harus berkarya. Pindah ke negara orang bukan berarti melepas segala identitas ke-Indonesiaan, bukan berarti tidak bisa melakukan apa-apa untuk Ibu Pertiwi. Bukan perkara mustahil untuk eksis bersama nama Indonesia di tanah orang, semuanya adalah tentang kemauan dan kerja keras.

Franka Soeria (Image by www.satuharapan.com)
Franka Soeria
Sebagai perempuan Indonesia, aku rasa kisah Mbak Franka ini bisa dijadikan teladan. Tidak banyak orang mengenalnya, namun di belakang itu, perjuangannya untuk nama Indonesia patut diapresiasi. Dan kita, di mana pun kaki berpijak, semoga kemauan dan kerja keras tetap tertancap dalam hati.
“Ketika Anda mencoba untuk bersikap baik, selalu ada orang-orang yang akan menyalahgunakan kebaikan Anda. Yang ingin saya lakukan adalah ketika saya mencapai posisi yang lebih tinggi dengan dampak yang lebih besar, saya akan menyebarkan lebih banyak energi ini pada orang lain.”
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...