Thursday, 6 July 2017

Semoga Allah Ridho atas Kedua Orangtua Kita



Sebenarnya sejak sehabis Zuhur tadi saya sibuk menulis tentang Umar ibn Khattab radhiallahu’anhu, hanya saja cerita pengalaman ini lebih mudah untuk dituliskan hingga kemudian selesai terlebih dahulu. Cerita ini ingin sedikit saya bagi akibat keresahan yang terus-terusan mendera akhir-akhir ini. Akibat rasa berdosa saya kepada Bapak. 

Selama libur Ramadhan dan Idil Fitri, alhamdulillah saya bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Rasanya tidak ada tempat di dunia ini yang memiliki ruh begitu dahsyat sebagai tempat memulihkan segala lelah badan dan pikiran, kecuali kampung halaman. 

Bagi saya, kampung halaman juga merupakan tempat untuk men-charge iman. Di rumah, saya bisa membaca banyak kitab-kitab tebal milik Bapak, melakukan dzikir pagi dan sore dengan rutin, shalat sunnah, serta amalan lain dengan lebih nyaman dan khusyuk. Mendapati Bapak yang selalu bangun pukul tiga dini hari untuk kemudian menggelar sajadah dan shalat (terkadang beliau shalat di Musola dan terkadang di depan pintu kamar saya), saya merasakan seperti ada yang menggerakkan hati untuk beribadah lebih giat lagi. 

Berkali-kali saya bertanya, bagaimana Bapak bisa sedemikian istiqomah? Ya meskipun tak jarang kami bertiga (saya, ibuk, dan adik) merasa bosan dengan beberapa cerita Bapak yang diulang-ulang. Contohnya saat Bapak menceritakan kisah pembakaran Nabi Ibrahim alaihissalam oleh seorang raja kejam bernama Namrud. Bapak bilang, saking besarnya api yang disiapkan raja Namrud, ia sampai harus melempar Nabi Ibrahim dari atas bukit mengenakan ketapel. Kemudian saat Nabi Ibrahim akan dilemparkan ke dalam api, datanglah malaikat Jibril yang menawarkan bantuan. 

“Apakah itu perintah Allah?” tanya nabi Ibrahim alaihissalam.

“Tidak. Ini karena rasa kasihanku padamu.” Jawab Jibril.

“Kalau begitu biarkan lah aku sampai Allah datang keputusan Allah.”

Hingga akhirnya seperti yang kita baca dalam Al Quran, pertolongan Allah datang melalui firman-Nya surat al-Anbiya ayat 69 yang berbunyi “Wahai Api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim”.  Bahkan di dalam api itu pula Nabi Ibrahim memperoleh berbagai kenikmatan yang sebelumnya tak pernah didapatkan di dunia. Diriwayatkan dari Minhal bin Amr, Ibrahim tinggal atau berada dalam kobaran api itu selama 40 atau 50 hari.  Ibrahim berkata, “Sebaik-baik kehidupan yang saya rasakan adalah hari-hari ketika saya berada dalam kobaran api. Saya berharap, seluruh hidup saya seperti yang saya rasakan dalam kobaran api itu.”

Bapak juga bercerita, bahwa pertumbuhan fisik Nabi Ibrahim tidak sama dengan manusia pada umumnya. Pada masa itu semua anak laki-laki yang lahir harus dibunuh, jadi demi melindungi putranya, ibu Nabi Ibrahim meninggalkannya di dalam gua sejak ia dilahirkan. Dan kuasa Allah subhanahu wa Ta’ala, Nabi Ibrahim  tumbuh besar hanya dalam waktu 15 bulan saja, tanpa diberi makan dan minum.

Bapak menambahkan di akhir cerita, “Di situlah sebenarnya kelihatan sekali betapa ingkarnya ayah Nabi Ibrahim. Sudah jelas-jelas dia lihat sendiri anaknya bisa besar dalam 15 bulan, tapi masih belum percaya juga dengan kekuasaan Allah. Malahan dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menentang risalah anaknya dan tetap tidak mau berhenti menjadi pembuat berhala. Waktu sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Ibrahim pernah disuruh jualan berhala oleh bapaknya. Tapi tidak ada yang mau beli karena dia teriak-teriak, ‘Saya jual berhala. Siapa yang beli maka dia orang yang bodoh.’”

Bagi yang baru pertama kali mendengar kisah seperti ini tentu tidak seketika percaya. Demikian pula saya. Pertama kali Bapak cerita, saya tidak seketika percaya.

“Ah, palingan Bapak cuma dengar cerita dari orang-orang. Saya yang sudah tamat kuliah aja belum pernah dengar kok sejarah Nabi Ibrahim seperti itu.” Pikir saya waktu itu. 

Hingga kemudian qodarullah... Memang Allah sepertinya ingin menyelamatkan Bapak dari prasangka buruk anaknya. Hanya berselang dua hari kemudian, tanpa sengaja adik saya menonton salah satu tayangan televisi tentang wisata sejarah ke sebuah tempat bernama Sanliurfa. Lokasinya ada di Turki, dekat Suriah. 

Saat itulah saya merasa tertampar sekaligus merasa begitu berdosa pada Bapak. Sekarang semua yang Bapak ceritakan itu bukan hanya dibenarkan oleh orang lain, melainkan juga ditunjukkan lagsung seperti apa bukti sejarahnya. Gua tempat Nabi Ibrahim alaihissalam tumbuh dan berkembang selama 15 bulan itu masih ada hingga sekarang, bahkan terpelihara dengan begitu baik. Siapapun yang berkunjung ke sana bisa shalat di dalamnya. Tempat shalat pria dan wanita pun dipisah. 

Lalu tak jauh dari gua itu, kita juga bisa datang langsung ke bukit tempat Nabi Ibrahim pernah dilempar menggunakan ketapel. Di sana juga masih ada dua buah tiang tinggi yang diyakini sebagai peninggalan Namrud, terletak di pinggir lembah di atas benteng Kota Urfa.




Beberapa ahli sejarah seperti Yakut, sebagaimana dikutip dalam Mu’jam al-Buldan tentang Babylonia, ia menggambarkan bahwa negeri Babylon (Urfa) sebagai berikut, “Ia berada di antara Tigris dan Eufrat yang disebut dengan As-Sawad.”

Menurut beberapa sumber, pada abad ke-12 SM saat diperintah oleh Seleukus I, seorang jendral pada masa Alexander The Great, didirikan sejumlah pondasi di sekitar lereng bukit di Urfa, tempat kedua tiang besar itu berada. Ada pula yang mengatakan, keberadaan dua tiang besar yang kini masih berdiri kokoh itu adalah bagian dari sebuah gereja Kristen, yaitu Edessa. Konon, kedua tiang besar itu sebagai simbol atas penyangga dari Romawi dan kekaisaran Persia. Wallahu’alam bissawab... 

Yang lebih menarik adalah legenda yang berkembang di masyarakat tentang makanan khas asal kota Sanlıurfa dan Adiyaman yang bernama Çiğköfte. Konon makanan satu ini ada hubungannya dengan cerita pembakaran nabi Ibrahim alaihissalam. Diceritakan ketika para tentara Namrud menyuruh untuk mengumpulkan kayu bakar, masyarakat pun berkumpul di dekat tempat pembakaran. Namun karena lamanya menunggu, akhirnya bapak-bapak pun kelaparan dan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah tidak ada makanan karena semua kayu bakar telah habis. Kemudian secara cepat saji ibu-ibu pun mengambil bulgur, cabe, dan beberapa rempah-rempah yang kemudian diaduk dan siap dimakan.

Pemerintah Turki saat ini juga mengembangkan kota ini sebagai pusat tujuan wisata karena keberadaannya dengan situs purbakala yang berkaitan dengan masa lalu seperti kisah Raja Namrud dan Nabi Ibrahim alaihissalam.

Di sini saya tidak ingin mengklarifikasi apakah benar Sanliurfa adalah tempat yang memiliki hubungan erat dengan Ibrahim alaihissalam, melainkan adalah apa yang pernah Bapak ceritakan. Seperti yang saya katakan, sebelumnya saya tidak percaya pada cerita Bapak bahwa Ibrahim alaihissalam besar di gua, lalu dilempar menggunakan ketapel, hingga kemudian saya menonton siaran tersebut dengan mata kepala sendiri. 

“Ternyata selama ini Bapak bercerita karena dia pernah membaca sejarah itu, bukan hanya cerita dari mulut ke mulut.” Gumam saya malam itu.

Ya, kejadian seperti ini sebenarnya seringkali berulang. Terkadang saya merasa angkuh di hadapan Bapak. Merasa bahwa saya lebih tahu soal sejarah dan pemahaman agama. Banyak kisah-kisah yang Bapak ceritakan baru saya benarkan berbulan-bulan kemudian, tentu setelah saya mendapati kisah itu dari referensi yang jelas.  Saya lupa bahwa Bapak juga punya banyak buku. Beliau memang hanya tamatan sekolah dasar, namun beliau rajin membaca sejak dulu. Bahkan beberapa tahun terakhir, Bapak menyempatkan ta’lim (membaca kitab-kitab yang ditulis para alim ulama) setiap habis Magrib dan Subuh. 

Terkadang saya jengkel pada Bapak. Tidak ada hal lain yang ia ceritakan selain masalah agama. Dan seperti yang saya sebutkan di atas, cerita beliau selalu diulang-ulang. 

“Bapak sudah menceritakan ini kemaren. Ini yang keempat kali.” Seringkali saya memotong dengan kalimat begini.

Tapi beliau menjawab, “Yang terpenting itu bukan soal sudah berapa kali diulang, tapi sudah diamalkan atau belum? Ilmu itu tidak akan ada manfaatnya sebelum diamalkan."

Kalimat yang jadi skak mat bagi saya. Jadi ingat ucapan Kyai Ahmad Dahlan ketika ditanya muridnya kenapa terus-terusan yang dikaji adalah surah Al Maa’un. 

Saya mendapatkan banyak pelajaran berharga dari Bapak. Semua hal-hal sederhana yang ada dalam diri beliau selalu membuat saya rindu untuk pulang ke rumah. Dari pengalaman ini, saya ingin mengatakan bahwa selamanya seorang anak tak akan pernah lebih pandai dari orang tuanya. Jangan berlaku sombong karena merasa pendidikan kita lebih tinggi dari orang tua. Karena bukan kah dahulu mereka yang berjuang siang malam agar anaknya bisa sekolah? Tapi kebanyakan dari kita adalah pelupa. Kita lupa pada kebaikan-kebaikan kedua orang tua.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengungkapkan bahwa saya begitu bersyukur memiliki ayah seorang Bapak. Sungguh beliau tak pernah mengajarkan kepada anak-anaknya kecuali kebaikan-kebaikan. Sungguh ia tak pernah mengatakan perkataan yang sia-sia. Semoga Allah membalas kebaikan kedua orang tua kita, memberikan derajat yang tinggi untuk mereka, meridhoi mereka, memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya yang luas. Semoga dosa kita sebagai anak tidak pernah mengurangi pahala amal ibadah mereka, tidak menjadi penghalang kasih sayang Allah kepada mereka. Semoga kita termasuk salah satu dari tiga perkara yang akan menyelamatkan kedua orang tua kita di kehidupan selanjutnya. Dan semoga Allah mengizinkan saya, juga kalian, beserta orangtua untuk berkunjung ke Sanliurfa dan negara para anbiya lainnya, suatu hari nanti. Aamiiin... insya Allah.



Thursday, 29 June 2017

Percakapan Sepasang Manusia


Adalah pagi saat embun-embun masih bertengger manis di atas lembar dedaunan, saat burung-burung yang baru saja berkemas dari peraduan, dan ketika nafas Subuh baru sasaat lalu berganti mega berwarna, kita untuk pertama kalinya bertemu di persimpangan. Sisa-sisa malam masih tampak di matamu, juga pakaianmu yang tak serapi biasanya. Pagi ini kau hanya mengenakan celana yang sedikit kusut, kaos putih, dan sebuah jaket tebal. 

"Kebetulan. Mumpung bertemu aku ingin bicara. Mari singgah ke rumah." Aku menawari. Tanpa menunggu jawaban apapun, aku telah berbelok masuk ke halaman, kemudian memilih duduk di sebuah bangku panjang di bagian kanan rumah. Dahan-dahan kekar ketapang bertengger di atas, memberi naungan.

Dari kejauhan, aku menangkap dirimu yang ragu. Seolah kau menimbang apakah setuju untuk singgah atau sebaiknya melanjutkan perjalanan pulang.

"Sebentar saja." Ucapku. Ya ini untuk kesekian kali aku mengajakmu bicara, dan respon yang kudapatkan selalu begini. Siapa yang tidak marah padamu? Siapa yang tidak jenuh pada lelaki jenis begini? 

"Ada apa?" Inilah hal pertama yang kau tanyakan begitu sampai dan duduk di sampingku, terpisah jarak sekitar satu depa.

Dan lihat lah lagi! Aduhai pertanyaanmu itu, seolah sungguhan hanya aku yang membutuhkanmu. Kini aku tersenyum tipis. Semua ini benar-benar mengenaskan.

"Bagaimana rasanya? Apakah menurutmu semua yang terjadi pada kita akhir-akhir ini begitu menyenangkan?" Aku balik bertanya.

Kau mengernyit. Berpikir sejenak--sepertinya begitu. Kemudian menggeleng dengan ragu.

"Kau yang memilih hal ini." Jawabmu.

Aku tertawa kecil, "Dan kau tak pernah bertanya kenapa aku melakukannya? Harusnya aku menulis cerita tentang hati para wanita saja, lalu kuberikan padamu. Dengan begitu kau akan tahu apa saja yang akan dilakukan para wanita ketika marah. Malangnya kaum kalian justru tak paham itu, yang ada bukannya membujuk, kalian malah ikut marah."

Giliran kau yang tertawa lirih. 

"Jadi kau marah? Maaf, aku hanya tak paham bahwa semua yang kau lakukan adalah bentuk kemarahan. Kupikir kau pergi begitu saja. Mungkin karena sudah bosan bersamaku." 

"Tapi aku penasaran, bagaimana rasanya? Apa kau baik-baik saja berjauhan dariku?"

Kau melihat ke arahku sejenak, kemudian tersenyum tipis. "Tidak juga."

"Lalu mengapa kau tak datang kemari? Kenapa tidak meminta maaf? Aku menunggumu sepanjang hari."

"Kupikir kau sedang butuh banyak waktu untuk sendiri. Kupikir kau tak ingin lagi melihat wajahku. Jadi akan lebih baik bila aku tak datang menjemput."

Aduhai lihat lah lagi! Benar sekali bahwa ada jutaan perkara rumit di dunia ini, tapi rasanya tak ada yang lebih rumit melebihi perkara sepasang manusia.

Kau bergumam lirih sebelum akhirnya bersuara, "Tapi aku sudah menyampaikan permintaan maaf lewat berbagai cara."

"Aku membacanya." Kataku.

"Lalu kenapa tidak pulang?"

"Kupikir kau sedang meminta maaf pada orang lain. Bodoh sekali andai aku datang dan ternyata kau sama sekali tak mengakui dosamu."

Kau masih tersenyum. Tertunduk. Melihat pada ujung kakimu. Kemudian berkata lirih, "Aku minta maaf." Akhirnya.

Aku menarik napas dalam. Tersenyum ke arahmu. "Demikian pula aku. Bisa kah kita tidak begini lagi dan kembali menjalani hari-hari seperti dulu? Bisa kah hati kita kembali dekat? Selama ini aku terus memberi isyarat dengan berbagai hal untuk melukaimu, untuk bersikap seolah tak lagi peduli padamu, tapi pada hakikatnya aku hanya melukai diri sendiri." Aku baru saja mengucapkan sebuah kejujuran.

Sofia

Sunday, 25 June 2017

Apabila (A Bouquet of Prayer)


 
Apabila dirimu ada di negara yang berbeda denganku, semoga Allah segera menyampaikan kita untuk bertemu.

Apabila dirimu memiliki bahasa yang tak sama denganku, semoga Allah memberi kemudahan bagi masing-masing kita untuk bisa saling memahami.

Apabila dirimu adalah salah satu teman, tetangga, atau sahabatku, semoga Allah meringankan lidahmu.

Apabila dirimu adalah seseorang yang belum kukenal, semoga Allah segera memperkenalkan.

Apabila dirimu sedang sibuk dengan berbagai urusan, semoga Allah memberi kemudahan dan keberkahan.

Apabila dirimu sedang dililit kesusahan, semoga Allah segera menunjuk jalan keluarnya.

Apabila dirimu belum menunaikan agama dengan baik, semoga Allah membukakan pintu hidayahNya yang luas.

Apabila dirimu dan diriku masih belum pantas untuk bersama, semoga Allah menjadikan kita mampu saling menutupi hal-hal yang kurang. 

Selamat Lebaran. Hayirli Bayramlar. Semoga Allah menetapkan hati kita di atas iman dan Islam.

*Doa sekaligus tulisan di Hari Raya tahun ini.


Monday, 5 June 2017

PUNYA USAHA DAN LIKA-LIKUNYA



Lihat background-nya...

Tidak mudah!

Inilah dua kata pertama yang muncul ketika ada yang bertanya, “Bagaimana kesannya setelah punya usaha sendiri?”

Banyak teman-teman di sekitar sering nyeletuk, “Enak ya kalian berdua. Sudah punya usaha sendiri. Jadi gak perlu lagi capek-capek hunting loker.”

Ya, mungkin itu kesan dari mereka.

Bagi kita yang merasakan perjuangan sejak awal, tentu kata enak di sini harus diberi tanda kutip. 

Sejak memutuskan untuk memulai usaha bersama seorang teman sejak November 2016 lalu hingga hari ini, sebenarnya kita masih dalam tahap berjuang. 

Bedanya, dulu kita produksi di kamar asrama yang sempit banget. Jadi kebayang kan ada kamar 4 x 4 yang di sana ada lemari, meja, tempat tidur tingkat, plus oven dan kue-kue yang load dan unload. Penuh, berantakan, berminyak, panas, plus sumpek. Alhamdulillah berkat keuntungan akhirnya kita bisa nyewa rumah tidak jauh dari asrama. Sayangnya usaha tidak berjalan selancar yang dibayangkan.

Pekerjaan utama kita sebagai guru pengabdian di pesantren menuntut lebih banyak waktu dan perhatian. Kita tidak diperbolehkan bermalam di luar asrama, dan jam mengajar pun cukup banyak hampir 20 jam per minggu. Belum lagi urusan kepesantrenan yang lebih banyak melibatkan guru-guru yang tinggal di asrama ketimbang guru di sekolah. Pada akhirnya kita harus memilih. Waktu itu aku menyarankan agar kami lebih fokus pada pengabdian terlebih dahulu. Dan ya, itulah yang sudah kita lakukan sejauh ini.

Alhamdulillah masa pengabdian kami selesai di bulan ini. Selanjutnya kami akan berpindah ke pusat kota dan menyewa rumah di sana. Sehabis lebaran aku akan kembali ke kota ini, insyaAllah. Tentu tidak lagi berstatus sebagai guru. Ini juga gak mudah. Kami berdua masing-masing harus menyakinkan kedua orangtua bahwa kesuksesan itu gak melulu kita harus jadi pegawai negeri (karena mayoritas mindset orang tua ya begini).

Syukurnya Bapak bukan termasuk tipe ini. Beliau selalu memberikan kebebasan selama itu masih berada dalam jalur yang baik. Pada mulanya Bapak memintaku kembali ke Bintan. Mungkin karena tiap kali menelepon aku selalu mengeluh betapa sulitnya jadi seorang guru. Beliau menyimpulkan kehidupanku di Bintan dulu lebih melegakan. Dan satu lagi, Bapak paling takut anaknya tinggal di kota besar dimana kendaraan memenuhi setiap ruas jalan. Kalau bisa mah aku disuruh tinggal di kampung aja, yang gak ada mobilnya. 

You know why? Ya, Bapak tahu aku itu paling gak berani bawa motor. Meskipun belajarnya sudah sejak dua tahun lalu, tapi tetap saja aku gak berani bawa motor ke jalan yang ramai. Belum lagi berita-berita kecelakaan lalu lintas yang sering singgah di telinga beliau, jadinya semakin khawatir. Kalau di Bintan kan kotanya masih belum semaju Pekanbaru, jadi Bapak lebih tenang.

Ya itulah Bapak. Kurasa semua ayah di dunia ini memang selalu mencemaskan anak perempuannya.

Syukurnya aku bisa meyakinkan beliau. Kukatakan padanya, jika sekarang aku kembali ke Bintan maka semua yang sudah kumulai di sini tidak selesai. Aku menyerah sebelum benar-benar berjuang. Dan aku gak mau itu terulang untuk kedua kali. Aku minta Bapak untuk memberi satu kesempatan lagi, setidaknya hingga satu tahun ke depan. Dan akhirnya beliau setuju.

“Ya, Bapak ikut selama itu yang terbaik menurutmu.”

Temanku malah harus menghadapi problem yang lebih sulit. Kedua orang tuanya adalah pegawai negeri sertifikasi. Keduanya sudah berasakan betapa mudahnya hidup dengan pekerjaan tersebut. Bisa dibilang kehidupan keluarganya berkecukupan. Dulu, yang cukup menentang ide untuk membangun usaha ini adalah ibunya. Beliau inginnya temanku ini jadi guru saja, terus ikut CPNS. Atau setidaknya temanku ini melamar ke dinas, perusahaan, dan sejenisnya. 

“Carilah pekerjaan normal.” Katanya.

Beliau berkata seperti itu bukan tanpa alasan. Pernah sekali beliau tidur di rumah kami dan saat yang bersamaan kami sedang menyiapkan orderan yang cukup banyak. Kerja sampai larut malam. Dan beliau merasa kasihan. 

“Jam segini kami biasanya tidur nyaman di rumah. Tapi anakku?” katanya tak sampai hati.

Tapi akhirnya setelah melewati diskusi yang panjang, beliau setuju juga. Malahan kita dipinjami modal agar lebih serius menjalankan usaha pasca lebaran. Tentu based-nya di pusat kota Pekanbaru. InsyaAllah. 

Lalu masalah produk, sejauh ini kita produksi bolen pisang dan swiss roll.
Kalau mau diceritakan perjuangan menemukan resep yang pas, bisa-bisa jadi novel sendiri. Bayangkan, sebelum hasilnya lembut seperti sekarang, kita harus menghabiskan 3 papan telur untuk percobaan dan semuanya gagal. Mulai dari keras, lengket, bantat, amis, retak, kering, jadi jelly, dan entah apa lagi. Bolen pun begitu. Intinya semua pasti ada gagal-gagalnya dulu. 
Kita juga produksi roti sih. Tapi kadang-kadang


“Andai dulu kita nyerah, pasti sampai sekarang gak bisa bikin swiss roll seenak ini.” Kata temanku itu.

Yap. Waktu itu memang hampir nyerah. Aku yang bertugas membuat resep baru pun sudah mengeluh berkali-kali.

“Kayaknya kita gak berbakat untuk bikin yang satu ini.”

Syukurnya punya partner yang sedikit keras kepala plus semangat juangnya luar biasa. Jadi begitu down, temanku ini lah yang kemudian memberikan motivasi. Belum lagi kalau pas belanja bahan dan peralatan, seingatku naik motor itu gak pernah kalau gak rempong. Bawaannya seabrek.

Sekarang alhamdulillah soal resep sudah bukan masalah. Tinggal bagaimana nanti bisa punya market atau customer yang jelas. Setidaknya untuk bisa hidup mandiri berdua, kita harus menargetkan penjualan minimal 50 box per hari. Sejauh ini promosi kita memang belum maksimal, baik dari segi foto maupun marketingnya. Semua serba adanya. Belum mencoba media sosial adv, endorse, dan tentu belum pernah berusaha memotret produk secara lebih profesional. 

Yah, doakan saja. Apapun yang dijalani sungguh-sungguh insyaAllah akan terlihat hasilnya. Kan ada dalilnya ya, manusia tiada memperoleh kecuali apa yang sudah ia usahakan (lupa surat apa ayat berapa).

Bagi siapapun yang dari dulu pengen banget punya usaha, mulai saja dari sekarang. Modalnya apa yang ada saja. Kita dulu juga cuma modal 700 ribu buat beli oven. Iuran berdua. Terus beberapa bulan kemudian ada teman juga yang mulai investasi kecil-kecilan. Pokoknya jangan nunggu semuanya perfect dulu. Sempurnakan sambil jalan mah intinya. Dan yang terpenting, jangan lupakan Allah. Mau usaha sehebat apa juga kalau Allah gak ridho, ya tetep hasilnya gak bakal ada. 

Oke. Sekian dulu. Lain kali cerita lagi.

Sofia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...