Saturday, 19 August 2017

A Letter of Pains




Mendung menggantung di langit kota. Angin di luar seperti berkejaran menggoyangkan segala yang mereka lalui. Aku yang seharian ini mengurung diri di apartment, akhirnya memilih untuk berjalan keluar. 

Aku sengaja keluar di tengah cuaca seperti ini, karena sejak dulu aku menyukai langit mendung yang disertai angin. Cuaca yang cukup sebagai wakil dari segala perasaan yang menyakiti batinku selama ini. 

Angin menerpa wajah dan hijabku ketika pintu apartment terbuka. Aku merapatkan jaket, menutup pintu, menuruni tiga buah anak tangga, kemudian berjalan ke arah kiri. Daun-daun berwarna oranye hingga kecokelatan berserakan di mana-mana. Kakiku yang terbungkus sepatu boot bertumit terdengar ketukannya tiap kali menyentuh aspal, menjadi irama perjalanan.

Aku tak peduli pada orang-orang yang berjalan cepat di sekitar jalan ini. Yang kuinginkan adalah bercengkerama dengan segenap luka dan kepedihan yang terus terkurung dalam hati, seolah mereka tak punya jalan keluar. Andai hidup ini seperti dalam film, tentu semuanya akan lebih mudah. Nyatanya tidak! Nyatanya sampai saat ini tak ada satu ungkapan pun yang bisa kuucapkan pada orang lain betapa hatiku begitu sakit. Betapa hati ini wujudnya telah memar dan berdarah. 

Terkadang aku iri pada orang lain ketika mereka mendapati cinta sebagai sebuah anugerah terindah. Sementara yang kudapatkan adalah: cinta merupakan petaka terbesar yang membuat hidupku tak tentu arah. Jika ditanya apa dosaku? Maka jawabannya hanyalah karena aku berani jatuh cinta satu kali. Mungkin aku yang tak tahu diri, karena telah menjatuhkan hati ke jurang yang paling dalam sehingga tak ada jalan keluar untuk menariknya kembali. Hati itu, di dasar jurang yang paling gelap, merintih sendirian, kedinginan, kesakitan, dan segala penderitaan lainnya. Tak ada yang tahu, dan mungkin tak ada yang mau tahu! Hhh... lagipula siapa yang mau peduli dengan sepotong hati yang tak lagi utuh?

Aku tahu ini tak benar. Aku tahu semua ini terjadi akibat kecintaanku pada Allah ta’ala yang belum sempurna. Tapi bisakah Tuhan, jika Engkau membantuku menarik kembali hati itu seraya aku menyempurnakan cinta kepada-Mu?

Wajah kuhadapkan ke langit yang hitam. Mendung-mendung di atas sana berjalan seumpama asap, menuju ke suatu tempat. Setelah hampir 20 menit berjalan, sampailah aku di tepian sebuah selat. Jika biasanya air di selat ini begitu tenang, tidak dengan hari ini. Airnya memercik ke segala sisi, membasahi bebatuan di pinggirnya. 

Aku duduk di sebuah kursi panjang. Sendirian. Selama beberapa saat aku memandangi selat di depan, pada kapal-kapal yang entah ingin ke mana atau dari mana. Gagak-gagak putih terbang di segenap penjuru kota. Suara ringkikan mereka terdengar senada dengan angin yang mulai gemuruh.

Satu air mataku jatuh, dan aku tak mau menghapusnya. Aku mengeluarkan sebuah buku berwarna cokelat, juga sebuah pulpen. Meski di kepala ini belum ada ide tentang apa yang harus dituliskan, namun jari-jariku lebih dulu menyentuhkan pulpen itu ke atas kertas.

Mustafa.

Sebuah nama yang indah. Sekaligus menyakitkan. 

Sebuah nama yang ingin sekali tak kukenal, tapi justru terus kudoakan.

Sebuah nama yang menjadi musim semi di hati, namun juga menjadi musim paceklik yang mematikan.

Mustafa. 

Aku berharap—saat ini—bisa mengintip sedikit saja kehidupanmu di sana. 

Apakah sudah ada malaikat kecil di antara kalian?

Aku ingin tahu apakah doa-doa yang selama ini kulangitkan kepada Allah agar kau selalu berbahagia, telah dikabulkan? 

Apa yang bisa kulakukan? Apa yang bisa kulakukan agar berbahagia sementara mereka yang datang namun bukan engkau, pada hakikatnya adalah tidak ada? 

----

Thursday, 17 August 2017

Nasehat M Quraish Shihab

 

Keberuntungan kadang memainkan perannya dalam kehidupan manusia, sekalipun kerap tidak masuk akal. Karena itulah takdir mereka.

Boleh jadi keterlambatanmu dari suatu perjalanan adalah keselamatanmu. Boleh jadi tertundanya pernikahanmu adalah suatu keberkahan. Boleh jadi dipecatnya engkau dari pekerjaan adalah suatu maslahat.

Boleh jadi sampai sekarang engkau belum dikarunia anak itu adalah kebaikan dalam hidupmu. Boleh jadi engkau membenci sesuatu tapi ternyata itu baik untukmu, karena Allah Maha Mengetahui Sedangkan engkau tidak mengetahui.

Sebab itu, jangan engkau merasa gundah terhadap segala sesuatu yang terjadi padamu, karena semuanya sudah atas izin Allah. Jangan banyak mengeluh karena hanya akan menambah kegelisahan.

Perbanyaklah bersyukur, Alhamdulillah, itu yang akan mendatangkan kebahagiaan. Terus ucap alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Selama kita masih bisa tidur tanpa obat tidur, kita masih bisa bangun tidur hanya dengan satu bunyi suara, kita terbangun tanpa melihat adanya alat-alat medis yang menempel di tubuh kita, itu pertanda bahwa kita hidup sejahtera. 

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, ucapkan sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Jangan selalu melihat ke belakang karena disana ada masa lalu yang menghantuimu. Jangan selalu melihat ke depan karena terkadang ada masa depan yang membuatmu gelisah. Namun lihatlah ke atas karena di sana ada Allah yang membuatmu bahagia.

Tidak harus banyak teman agar engkau menjadi populer, singa sang raja hutan lebih sering berjalan sendirian. Tapi kawanan domba selalu bergerombol. Jari-jari juga demikian; kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, semuanya berjajar bersampingan kecuali jari jempol dia yang paling jauh diantara keempat itu.

Namun perhatikan engkau akan terkejut kalau semua jari-jari itu tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya jempol yang sendiri yang jauh dari mereka.
Karena itu, sebenarnya yang diperhitungkan bukanlah jumlah teman yang ada di sekelilingmu akan tetapi banyaknya cinta dan manfaat yang ada di sekitarmu, sekalipun engkau jauh dari mereka.

Menyibukkan diri dalam pekerjaan akan menyelamatkan dirimu dari tiga masalah; yaitu kebosanan, kehinaan, dan kemiskinan.

Aku tidak pernah mengetahui adanya rumus kesuksesan, tapi aku menyadari bahwa “rumus kegagalan adalah sikap asal semua orang”.

Teman itu seperti anak tangga, boleh jadi ia membawamu ke atas atau ternyata sebaliknya membawamu ke bawah, maka hati-hatilah anak tangga mana yang sedang engkau lalui.

Hidup ini akan terus berlanjut baik itu engkau tertawa ataupun menangis, karena itu jangan jadikan hidupmu penuh kesedihan yang tidak bermanfaat sama sekali.

Berlapang dadalah, maafkanlah, dan serahkan urusan manusia kepada Tuhan, karena engkau, mereka, dan kita semua, semuanya akan berpulang kepadaNya.

Jangan tinggalkan sholatmu sekali pun. Karena di sana, jutaan manusia yang berada di bawah tanah, sedang berharap sekiranya mereka diperbolehkan kembali hidup mereka akan bersujud kepada Allah SWT walau sekali sujud.

Jangan selalu bersandar pada cinta, karena itu jarang terjadi. Jangan bersandar kepada manusia karena ia akan pergi. Tapi bersandarlah kepada Allah SWT, Tuhan YME, karena Dialah yang menentukan segala nya. 

Monday, 24 July 2017

Salaman ya Umar Al Faruq



Hari itu kota Mekah panas menyengat seolah dari celah-celah setiap butiran pasirnya mengeluarkan uap dari tungku perapian. Meski begitu, kegiatan manusia seperti tak pernah ada habisnya. Aku menyaksikan orang berduyun-duyun kemudian berkumpul di tepian kota Mekah, di sebuah lapangan gersang yang membara. Di lapangan itu tertancap beberapa puluh tiang yang digunakan untuk membelenggu para budak yang memeluk agama baru, Al Islam. Para petinggi kaum Qurays Mekah yang juga merupakan para tuan dari budak-budak itu sebagian berdiri mengawasi, sebagian lagi mencambuki para budaknya. Sebagian kecil dari penonton yang notabene adalah para penganut agama nenek moyang itu tertawa, seolah mereka sedang menyaksikan sekawanan binatang hina yang pantas untuk dijadikan korban cambukan. Sebagian lagi menonton dengan perasaan haru, tak tega, dan tentu saja: ketakutan. Apa yang mereka saksikan siang ini adalah serupa ancaman bahwa siapapun yang mengikuti agama baru, maka harus siap menerima penyiksaan serupa.

Di sana, di balik kerumunan para masyarakat Mekah, aku menyaksikan seorang pemuda yang matanya begitu tajam, namun dari mata yang sama itu pula tampak dua buah naungan yang meneduhkan. Hari ini ia mengenakan baju gamis berwarna cokelat terang dan kain sorban berwarna senada yang menjuntai dari belakang kepalanya. Ia masih begitu muda, tapi sosoknya sejajar dengan para petinggi Qurays yang sebagian besar sudah mulai sepuh. Ia masih begitu muda, tapi tak ada satu pun masyarakat Mekah yang meragukan kebijaksanaannya. Ia masih begitu muda, tapi setiap orang yang berpapasan dengannya selalu menaruh hormat. Ia disegani karena ilmu dan kebijaksanaan. Ia juga ditakuti karena keberanian dan keteguhan hati.

Apa yang terjadi di kota Mekah saat ini juga merupakan buah pikirannya. Dialah yang mengusulkan agar setiap kaum mengurusi kaumnya masing-masing. Dia pula yang mengusulkan agar siapa pun yang memiliki saudara yang masuk Islam maka harus memberikan tekanan kepada saudaranya tersebut hingga mereka bersedia murtad. Terlebih urusan tuan yang memiliki budak-budak Muslim. Hukuman yang diberikan harus lah lebih keras lagi.
“Muhammad tidak pernah membedakan antara yang kaya dan yang miskin, tuan maupun budak, bangsawan maupun rakyat biasa. Ia memperlakukan dan memuliakan mereka dengan derajat yang sama. Ikuti lah hal itu, Wahai Kaum Qurays. Perlakukan lah siapa pun yang masuk Islam dengan sama kerasnya, baik mereka adalah budak atau anakmu sendiri.” Ucapnya di suatu siang nan terik, di tengah kaumnya.
Syahdan, setelah ucapan tersebut, semua orang kembali pada keluarganya, kaumnya, sahabat terdekatnya, dengan semangat berkali lipat. Penyiksaan dan tekanan terhadap mereka yang berani masuk Islam menjadi dua kali lebih berat.

Dialah Umar Ibn Khattab. Pemuda cerdas dari bani Adiy yang sejak masih belia sudah disegani oleh seluruh penjuru kota. Pemuda yang kelak akan menjadi pemimpin Islam, agama yang saat ini begitu ia musuhi.

Kebencian Umar kepada Muhammad sangat berbeda dengan kebencian para petinggi kafir Qurays lain. Jika para petinggi kafir Qurays membenci Muhammad dan agama barunya karena takut posisi mereka terancam, derajat mereka turun, dan sejenisnya, maka Umar membenci Muhammad karena ia menyaksikan umat yang semakin hari semakin berselisih. Ia menganggap Muhammad telah memecah belah ummat yang dahulu hidup saling menjaga toleransi. Kini lihat lah kota Makkah, lihat lah betapa banyak ayah yang membelenggu putranya sendiri, tuan yang mencambuki bahkan membunuh budaknya, dan orang-orang  yang memutuskan hubungan darah dengan saudaranya. Umar muak melihat semua ini!

Tapi sekali lagi, Umar tak seperti para petinggi Qurays yang lain. Di balik sosoknya yang kaku dan teguh pendirian, tersimpan sebuah mutiara bersih yang menyimpan jutaan hikmah. Jauh di dalam hatinya ia berkali-kali memuji Muhammad dan para sahabatnya. Seperti siang itu, ketika ia menyaksikan Abu Bakar berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk membebaskan pada budak yang disiksa tuannya, Umar berkata lirih, “Sungguh baik Abu bakar. Sungguh baik Abu Bakar.”

Hari berganti. Ternyata siksaan dan tekanan yang mereka berikan kepada kaum Muslimin tidak pernah mampu menghentikan perkembangan agama baru itu. Islam justru semakin menarik hati banyak orang, termasuk Hamzah bin Abdul Muthalib.

Kisah keislaman Hamzah yang menjadi bahan pembicaraan di seantero Makkah ini ternyata membuat Umar semakin gusar. Keesokan hari dengan kemarahan yang naik hingga ubun-ubun, Umar mengambil pedangnya. Ia sudah teguh untuk membunuh Muhammad, seseorang yang ia anggap sebagai pemecah belah kaum.
“Ya, Umar!” seseorang memanggilnya di tengah perjalanan. “Seorang lelaki berjalan tergesa-gesa dengan pedang terhunus, tentu ada urusan penting.” Ucap orang tersebut.
“Benar. Aku akan membunuh orang ini. Muhammad.”
“Kaumnya tidak akan membiarkanmu.”
Umar tahu itu, dia pun menjelaskan bahwa setelah membunuh Muhammad, ia akan menyerahkan diri ke Bani Hasyim untuk dibunuh juga. Dengan begitu semua kekacauan ini akan selesai. Mengorbankan dua orang akan lebih baik daripada kerusakan yang lebih banyak lagi, begitu Umar berpikir. Nyawa dibayar nyawa!
“Bukan kah sebaiknya engkau kembali pada keluargamu dan mulai mengurus mereka?” tanya orang tersebut sebagai isyarat bahwa ada dari keluarga Umar yang telah menjadi pengikut Muhammad.
Wajah Umar semakin berang. “Siapa dari keluargaku?”
“Adikmu Fatimah bintu Khattab dan adik iparmu Said ibn Zaid ibn Amr.”
Umar berputar haluan. Kini emosinya semakin mendidih. Ia berjalan cepat menuju rumah sang adik. Baru saja akan mengetuk pintunya, Umar berhenti. Ia diam. Dari dalam rumah, ia mendengar seseorang membaca. Itu jelas bukan syair yang biasa diucapkan bangsa Arab.

Beberapa saat kemudian ia memukul pintu Fatimah dengan keras.
“Fatimah! Ini Umar!”
“Umar? Engkau wahai saudaraku?” Pintu tersebut terbuka kemudian terlihat wajah Fatimah yang ketakutan.
“Aku mendengar ada seseorang yang membacakan sesuatu untuk kalian!”
“Demi Allah engkau tidak mendengar kecuali percakapan kami berdua.” Jawab Fatimah.
“Aku juga mendengar bahwa kalian telah berkhianat dan mengikuti agama Muhammad. Jangan bohong padaku!” Bentaknya.
“Ya Umar apa pendapatmu jika ada agama yang lebih baik darimu?” Said menjawab dengan sebuah pertanyaan.
“Jadi kau telah melakukannya!”
Umar seketika menyerang Said. Fatimah berusaha melindungi sang suami. Celakanya tangan Umar mengenai wajah Fatimah hingga wanita itu tersungkur hingga bibirnya berdarah. Masih belum tersentuh hatinya, Umar terus menyerang Said. Hingga akhirnya Fatimah mendekat, dengan mantap ia berucap dengan jelas “Kau musuh Allah. Apa kau akan memukuliku dan suamiku karena kami percaya pada ke-Esaan Allah? Lakukan lah semaumu! Tak ada yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya. Ya kami telah menerima Islam meski kau tidak menyukainya!”

Saat itulah kemarahan Umar melemah. Ia meninggalkan Said, kemudian ingin menghapus darah di bibir Fatimah, tapi adiknya itu justru memalingkan wajah dan berkata, “Jauhkan tanganmu dariku.”
“Jadi itu yang kalian baca tadi?” Umar melihat lembaran kulit unta yang semua disembunyikan Fatimah.
Tahu sang kakak akan segera mengambil lembaran yang menyembul tersebut, dengan cepat Fatimah menggenggamnya.
“Berikan padaku untuk kubaca.” Umar mengulurkan tangannya.
“Tidak akan.”
“Dengar. Aku mendengar bacaan itu dengan hatiku.”
Akhirnya setelah mendapat persetujuan dari suami, Fatimah mengulurkan lembaran itu dengan hati-hati. Umar duduk dan mulai membaca.
“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah. Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut. Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al-asmaaul husna.” (QS Thaahaa 1-8)
“Ini kah yang membuat kabur orang-orang Qurays?”
Fatimah dan Said hanya diam memandang. Hati keduanya diliputi perasaan haru. Umar melanjutkan bacannya,
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan yang hak selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan waktunya agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. Maka sekali-kali jangan lah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa.” (QS Thaahaa 14-16)
Umar terpaku. Ia melihat pada dua orang di hadapannya.
“Yang mengatakan ini harus disembah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya.”
Khabbab... Lelaki yang sejak Umar menggedor pintu tadi bersembunyi di balik pintu akhirnya keluar. Dia lah yang sebelumnya membacakan ayat-ayat Al Quran untuk Fatimah dan suaminya.
“Berbahagia lah, Umar! Aku berharap dengan tulus agar doa Nabi dikabulkan dengan memilihmu. Dia sallahu ‘alaihi wassalam pernah berdoa ‘Ya Tuhanku, beri lah dukungan kepada Islam dengan salah satu dari kedua orang ini yang lebih Engkau cintai, Abu Hakam ibn Hisham atau Umar Ibn Khattab.” Ucap Khabbab.
“Apakah beliau benar-benar mengatakan hal itu?”
“Demi Allah beliau mengatakannya.”
“Bawa aku bertemu Rasulullah dan para sahabatnya.”
Sejarah mencatat, setelah peristiwa di rumah Fatimah bintu Khattab tersebut, Umar langsung menemui Rasulullah sallahu’alahi wassalam dan bersyahadat di hadapan beliau. Ia cukup terkejut ketika mengetahui saudaranya, Zaid ibn Khattab, terrnyata juga telah lebih dulu masuk Islam.

Sekembalinya dari rumah Rasulullah sallahu’alaihi wassalam, Umar langsung mendatangi satu per satu petinggi kafir Qurays dan mengumumkan keislamannya.
Itu lah Umar. Maka dimulai hari itu, Makkah tidak pernah lagi sama seperti sebelumnya. Masuk Islamnya Umar adalah bencana terdahsyat bagi para kafir Qurays. Ia begitu teguh berpegang pada Islam dan sunnah, tak takut pada siapa pun, zuhud dalam hal duniawi. Bagi Umar, perbedaan antara yang hak dan yang bathil adalah seperti perbedaan antara siang dan malam. Tidak ada tawar menawar!

Ketika Abu Bakar rahimahullah sakit keras dan merasa telah berada di penghujung hidupnya, beliau menunjuk Umar sebagai pengganti. Tidak seketika pilihan Abu Bakar rahumahullah ini disetujui para sahabat. Mereka tidak percaya Umar bisa memimpin dengan baik karena dikenal sebagai seorang yang keras dan kaku. Sementara Umar sendiri pun tidak begitu yakin pada dirinya sendiri. Setelah mendengar nasehat dari Abu Bakar rahimahullah mengenai Umar dan betapa istimewanya beliau di mata Rasulullah sallahu’alaihi wassalam, akhirnya semua setuju untuk berbaiat pada Umar ibn Khattab.

Malam pertama kepemimpinannya, Umar terus bermunajat kepada Allah subhanawata’ala, meminta agar diberikan pundak yang kuat, keteguhan hati, dan hatinya dilunakkan. Sesungguhnya ia pun begitu takut pada sikapnya yang keras dan kaku. 

Bagiku, Umar ibn Khattab merupakan salah satu sahabat Rasulullah salallahu’alahi wassalam yang sangat istimewa. Di bawah kepemimpinannya Islam menyebar hingga ke Palestina, Syria, dan Mesir. Dua imperium raksasa yang telah dibangun selama ribuan tahun, Persia dan Romawi, pun kemudian harus mengucapkan, “Selamat tinggal selamanya, wahai tanah Arab.” 

Celaka lah mereka yang telah berdusta tentang Umar. Celaka lah orang-orang yang telah menyebarkan segala berita buruk tentangnya. Semoga pemimpin ummat saat ini bisa meneladani seorang Umar ibn Khattab: seorang pemimpin yang tidak bisa tidur sebelum menyelesaikan masalah ummat. Semoga kelak kita akan dipertemukan dengan beliau rahimahullah, melihat wajahnya, dan mengucapkan salam untuknya. Rahmat dan salam untukmu ya Umar Al Faruq...
 
Ditulis dengan penuh cinta dan haru
Sofia







Friday, 14 July 2017

Bersabarlah...


Teruntuk adik-adikku, Taufik Ilham dan Taufik Hidayat

Aku tahu kalian tak mungkin membaca tulisan ini sekarang, tapi insyaAllah suatu saat nanti kalian akan membacanya.

Hari ini aku mendengar kabar yang kemudian merubah segalanya menjadi muram. Sejak Bapak menelepon tadi pagi, aku merasa dunia ini begitu sempit. Aku menjalani hari-hari seperti biasa, tapi rasa khawatir dan sedih seperti tak mau pergi. 

Adik-adikku, bersabarlah... Jika sekarang kalian merasakan suasana yang berbanding terbalik dari sebelumnya, maka sungguh aku juga pernah merasakan hal yang sama. Aku akan sedikit bercerita pada kalian, bahwa dulu sekali saat umurku masih 13 tahun, aku sudah harus pergi meninggalkan pulau kita. Sendirian. Tidak ada diantar Bapak, Ibu, juga sanak keluarga yang lain seperti kalian sekarang. Bapak Ibu hanya melepasku di dermaga. Selanjutnya aku bertahan seorang diri. Aku dititipkan ke sana ke mari di kota yang sama sekali asing. Aku diantar ke pesantren oleh seseorang yang baru kukenal beberapa hari sebelumnya. Tak ada nasehat, tak ada kalimat penenang, tak ada yang mendatangi kamarku, juga tak ada yang menangis saat berpisah dariku. Selama hampir sebulan aku terpuruk, menangis, jatuh dalam banyak masalah. Saat itu aku beranggapan bahwa diriku baru saja masuk ke dalam hutan gelap yang entah dimana ujungnya.  

Setidaknya kalian lebih beruntung dariku. Kalian diantar sampai pesantren oleh rombongan keluarga, diberi wejangan sebelum berpisah, kemudian Bapak juga kerap menanyakan kabar kalian pada guru di sana lewat telepon. Kalian seharusnya lebih kuat karena menjalani hal ini di umur 15 tahun. Kalian anak laki-laki. Jika aku sanggup bertahan hingga akhir, lalu kenapa kalian berdua menangis kemudian minta pulang?

Aku sedih. Sedih karena beberapa hari lalu kalian meneleponku begitu semangat, mengatakan bahwa tulisanku sebelumnya membuat kalian menangis. Kalian juga mengaku telah teguh pendirian untuk bersekolah di sana. Tapi hari ini, aku sedih mendapati kalian tak lagi mengingat semua nasehat tersebut, seolah-olah tak pernah ada sedikit pun nasehat yang kalian terima sebelumnya.

Adik-adikku tersayang. Jika kalian berjalan di jalan Allah, iblis dan anak keturunannya akan mencari seribu satu cara untuk membuat kalian menyimpang dari jalan itu. Mereka tak akan suka melihat kalian berjuang dalam menghafalkan kitab Allah taa’ala tanpa rintangan apapun. Mereka ingin mendapatkan banyak teman untuk bersama mereka di neraka. Itulah dendam mereka sejak zaman nabi Adam alahissalam. Memang, mereka tak seketika membujuk kalian untuk melakukan maksiat atau dosa-dosa besar, tapi mereka memulainya dari langkah-langkah kecil, hal ini telah diperingatkan dalam Al Quran, (Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui—QS. Al-Baqarah: 168-169)

Apa saja langkah-langkah syaitan itu? Banyak. 

Bahkan dari hal-hal paling kecil yang kita anggap bukanlah sebuah dosa, terlebih hal besar seperti membuat kalian tak menyelesaikan pendidikan di pesantren Al Quran. Allah telah menjanjikan satu perkara, bahwa siapapun yang menghafalkan dan mengamalkan Al Quran, maka derajat mereka naik menjadi keluarganya Allah. Coba pikirkan, iblis mana yang tak berang mendapati calon-calon penerima anugerah derajat ini? Mereka (para iblis itu) akan menggoda kalian berpuluh kali lipat. Mereka akan meniupkan ketakutan, cemas, dan kegelisahan di dalam rongga dada kalian. Mereka menghiasi hati dan pikiran kalian dengan angan-angan kosong. Mereka tak akan menyerah sebelum kalian kalah. Jadi, putuskanlah sendiri, kalian memilih kalah dari para iblis itu atau tetap melanjutkan perjuangan?
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat—QS. Al Baqarah : 214

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar—QS. Al Baqarah : 155
Adik-adikku. Bersabarlah... sesungguhnya kesabaran itu jauh lebih baik bagi kalian. Bersabarlah karena dunia memang bukan tempatnya untuk bersenang-senang. Dunia adalah tempat kita menjalani berbagai ujian agar kemudian pantas dinyatakan lulus masuk ke Jannah-Nya. Bersabarlah karena ujian yang datang pada kalian hari ini belum seberapa dibandingkan ummat terdahulu. Bersabarlah karena di belahan bumi lain ada banyak anak-anak yang nasibnya tak beruntung namun mereka tetap ingin menghafalkan kitab Allah. Tentu kalian masih belum lupa kisah Paman Zubair dan beberapa anak yatim korban perang yang meminta dibawakan mushaf ke pengungsian? Nah, coba bandingkan dengan keadaan kalian. Bandingkan dengan kalian yang saat ini berada di lingkungan yang aman, yang terpelihara, yang tak kekurangan makanan, serta masih memiliki keluarga utuh yang mendoakan setiap harinya. Alasan seperti apa lagi yang bisa kalian gunakan untuk membantah ketika nanti ditanya di hadapan Allah?

Sekali lagi, bersabarlah...
“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” ( QS. An Nahl : 96 )
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran : 142)
Teriring doa, semoga Allah yang Maha Pengasih meneguhkan hati kalian. 


Mbakmu
Sofia

Friday, 7 July 2017

Untukmu yang akan Menghafalkan Al Quran



Teruntuk adik-adikku, Taufik Ilham dan Taufik Hidayat...

Adik-adikku tersayang... Tahu kah bahwa kehadiran kalian adalah berkah bagi kami sejak hari kalian dilahirkan?

Aku tahu betapa cemas kau saat ini. Aku tahu kau selalu tersenyum tiap kali orang-orang menganggap pilihanmu adalah sesuatu yang salah.

Adik-adikku, aku melihat ada mutiara yang begitu indah di dalam hatimu. Kau berbeda dari yang lain. Hatimu begitu lembut. Kau memperlakukanku sebagai kakak dengan begitu baik. Kau tak pernah berkata dengan suara tinggi kepadaku. Kau selalu menurut pada segala ucapan dan permintaanku.

Adik-adikku, berteguh hati lah. Kau berada pada pilihan yang benar, insyaAllah... Belajar lah di sana dengan tekun, niatkan segalanya hanya untuk Allah subhanahu wata’ala semata. Jika kau telah menggenggam ilmu untuk akhiratmu, jika kau telah memenuhi bekal dan jaminan untuk hidup sesudah matimu, insyaAllah dunia akan takluk di bawah kakimu. Ingat lah, dunia akan datang kepada kita dengan hina apabila kita memperlakukannya seumpama budak yang hina. Sebaliknya, dunia akan duduk di singgasana dengan angkuh dan apabila kita menyanjung dan memujinya.

Jangan kau takut akan susah berjalan di muka bumi ini hanya karena kau lebih mengutamakan ilmu Allah. Jangan lah hatimu condong pada perkataan dan bujukan orang-orang di sekelilingmu yang selalu mengatakan bahwa ilmu dunia itu jauh lebih penting. Jangan menjadi lemah karena itu. 

Aku tidak bisa menjadi penjamin bagi dirimu. Namun aku akan menunjukkan beberapa jaminan yang telah diberikan Allah dan Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam sejak ribuan tahun lalu.

“Barangsiapa yang membaca (menghafal) Al Quran, maka sungguh dirinya telah menyamai derajat kenabian hanya saja tidak ada wahyu baginya (penghafal)...” (HR. Hakim).

“Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri daripada manusia." Kemudian Anas berkata lagi, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Baginda manjawab, “yaitu ahli Qu'ran (orang yang membaca atau menghafal Qur'an dan mengamalkannya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.” (HR. Ahmad).

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu ia berkata, “Baginda bersabda, orang yang hafal Al Quran kelak akan datang dan Al Quran akan berkata: “Wahai Tuhan, pakaikan lah dia dengan pakaian yang baik lagi baru.” Maka orang tersebut diberi mahkota kehormatan. Al Quran berkata lagi: “Wahai Tuhan tambahkan lah pakaiannya.” Kemudian orang itu diberi pakaian kehormatannya. Al Quran berkata lagi: “Wahai Tuhan, ridhailah dia.” Maka kepadanya dikatakan, “Baca dan naik lah.” Dan untuk setiap ayat, ia diberi tambahan satu kebajikan.” (HR. At Tirmidzi).

“Dan perumpamaan orang yang membaca Quran sedangkan ia hafal ayat-ayatNya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Muttafaqun ‘alaih).
Sekarang coba pikirkan, itu adalah jaminan dari Allah bahwa ahlul Quran akan diangkat sebagai keluarganya-Nya.  Adakah keistimewaan yang lebih mulia melebihi itu? Jika Allah telah menganggap kita sebagai keluarga, maka Dia subhanahu wa Ta’ala akan melindungi kita, mencukupi kita, meridhoi kita. Sama halnya seperti Bapak dan Ibu yang sejak kecil selalu melindungi dan membelamu.

 Apa yang bisa kita lakukan sekarang adalah yakin. Jangan cemas dan takut kelak kau tak bisa menjadi apa-apa hanya karena tak mempelajari matematika, fisika, kimia, dan biologi. Jika Al Quran ada dalam jiwamu, insya Allah kemuliaan pun tak pernah meninggalkanmu. Berusaha dengan sabar dan hati yang teguh, selebihnya Allah yang akan menentukan akhirnya.

Aku tak mampu sepertimu. Hafalanku tak kunjung bertambah. Dulu aku tak kuat untuk tinggal selama dua tahun di rumah Quran. Jika dulu tak ada seorang pun yang meneguhkan hatiku ketika goyah, maka aku berjanji akan menjadi peneguh bagimu nanti. Jika dulu aku tak pernah memperoleh ketegasan, maka aku berjanji akan berlaku tegas padamu. 

Tahu kah kau bahwa hati manusia ini begitu rapuh dan goyah? Dulu, aku begitu semangat di masa-masa awal. Tapi kemudian aku rapuh, jatuh, dan terpuruk. Tapi aku tak memperoleh suatu kekuatan yang bisa membuatku bangkit. Saat aku hampir menyerah, berada di antara persimpangan, aku terus membuka lembaran Al Quran secara acak. Sebelumnya aku berdoa semoga Allah menunjukkan jalan yang terbaik melalui cara itu. Berkali-kali aku membuka mushaf secara acak, ayat yang kutemui selalu saja tentang kisah Yusuf alahissalam dan perintah agar bersabar. Tapi penolakan dalam hatiku jauh lebih besar. Aku tak mampu bersabar. Dan akhirnya menyerah.

Adik-adikku, percaya lah kau tak akan mengalami hal serupa denganku. Saat hatimu goyah, aku tak akan memberikan pilihan sesuai keinginanmu. Maka perlu kau tulis baik-baik ucapanku ini, bahwa nanti aku akan sangat keras padamu. Apapun keluh kesahmu nanti, aku tidak akan pernah memintamu untuk berhenti. Aku tak mau kau mengalami penyesalan di kemudian hari hanya karena kau tak bisa bersabar sedikit saja. 

Adik-adikku, kau akan menyelesaikan hafalanmu. Kau juga bisa belajar bahasa Arab dan Inggris dimana orang-orang pun berduyun-duyun untuk belajar di sana. Jika kau berhasil menyelesaikan hafalan, mampu berbahasa Arab dan Inggris, maka demi Allah tiga hal itu sudah cukup bagi duniamu. Selebihnya bisa kau kejar di kemudian hari. 

Adik-adikku... kebanyakan manusia merasa sayang untuk mengorbankan sedikit waktu bagi kehidupan akhirat mereka. Kebanyakan manusia yang kau saksikan hari ini bagaikan terpisah antara jiwa dan agama mereka. Mereka berkata diri mereka Muslim, tapi mereka tak suka pada Al Quran dan Al Sunnah. Mereka menyebut diri mereka Muslim, tapi mereka menghujat orang-orang yang menunaikan agama dengan baik. Lihat lah hari ini, lihat lah kenyataan yang ada, bahwa benar Islam telah kembali menjadi asing bahkan bagi penganutnya sendiri. Menjalankan Islam dengan baik adalah serupa dengan mengenggam bara api yang menyala. Sulit. Kebanyakan dari kita beriman di pagi hari, kemudian menjadi kafir di sore harinya. Kebanyakan dari kita menyelesaikan ibadah dengan khusyuk, tapi kemudian kembali melakukan maksiat. Itu kenyataan yang sedang terjadi. 

Banyak ulama dunia mengatakan “Demi Allah ini adalah zaman dajjal.”

Tapi kita terlalu terbuai dengan kehidupan yang gemerlap ini. Kita terlena di dalamnya seolah-olah akan hidup selamanya. Kita lupa bahwa dahulu ada peradaban-peradaban besar yang juga pernah mencapai puncaknya, tapi kemudian hancur tanpa bekas. Lalu pikirkan tentang dunia modern yang belum mencapai hitungan satu abad ini, apakah kita merasa semua akan berjalan baik-baik saja tanpa ada ujungnya?

Demi Allah, jika kiamat tak terjadi pada zaman ini, maka pasti akan ada bencana lain yang akan menimpa kita atau beberapa saat sesudah kita. Tugas kita hari ini adalah mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk menghadapi semua itu. Biarkan saja manusia lain berlari mengejar dunia, karena apabila apa yang mereka kumpulkan itu tidak digunakan untuk perniagaan dengan Allah, maka saat maut menjemput nanti keadaan mereka akan sama dengan yang tak memiliki harta. 

Aku berkata seperti ini bukan berarti dunia itu tak penting bagimu. Ia penting karena di sinilah hidupmu. Kau harus mencari dunia untuk keberlangsungan hidupmu, untuk kenyamanan ibadahmu, untuk sedekahmu, untuk biayamu ke Baitullah, untuk anak-anak yatim, untuk kepentingan umat. Tapi jangan letakkan ia di puncak hatimu. Bukan kah Bapak pernah mengatakan bahwa siapa pun yang mengejar akhirat, maka dunia akan ikut di belakangnya. Tapi barang siapa yang hanya mengejar dunia, maka akhirat tak akan pernah ikut di belakangnya. Sekarang aku bertanya, menurutmu rumus pertama atau kedua yang lebih menguntungkan? 

Selamat belajar. Hormati guru-gurumu karena dari mereka kau akan mendapatkan keberkahan dalam ilmu. Semoga Allah meneguhkan hatimu, melimpahkan kebahagiaan di dalamnya, menguatkan ingatanmu, menghaluskan tutur bahasamu, memberikan keberkahan dalam setiap usaha dan perjuanganmu. Aku melepasmu dengan salam dan doa.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...