Tuesday, 7 May 2013

Dutch: No Impossible and Trivial, Yes Capable and Humble

"What would life be if we had no courage to attempt anything?"
Aforisme Vincent Van Gogh di atas saya rasa telah mengurat nadi pada diri orang Belanda. Mereka terkenal dengan keberaniannya untuk mencoba hal-hal yang dianggap mustahil ataupun terlalu sepele oleh orang lain. Keberanian itu mengantarkan orang-orang Belanda pada penemuan-penemuan yang menakjubkan. Tidak hanya itu kerendahan hati dan keberanian mereka berterus terangpun membuat kita angkat topi.

Anda tidak percaya? Percaya sajalah, saya punya cukup bukti. Baik, Anda pernah mendengar sebuah kendaraan dengan nama PAL-V (personal air and land vehicle)? Ini bukan kendaraan seperti bajaj, melainkan sebuah mobil terbang yang dulunya hanya ada dalam film-film animasi. Dulu, orang-orang hanya bisa mengagumi gambarnya saja, tak bisa benar-benar menyentuhnya, apalagi mengendarainya. Impossible. Namun, no impossible for Dutch. Dengan dipimpin Robert Barnhoom dan Marteen Wilning, mereka berhasil mewujudkannya. Kini, manusia bisa menyentuh dan mengendarai PAL-V, mobil terbang tak lagi sebatas hayalan dalam film animasi. So, tidak mustahil jika Anda bertekad ingin mewujudkan sapu terbang seperti yang ada dalam film Harry Potter. "Jika kamu mampu membayangkan, kamu akan mampu mewujudkan".
Gambar 1. PAL-V

Selain itu, orang Belanda juga telah membuktikan bahwa hal sepele dan murah meriah justru mengantarkankan pada keberhasilan gemilang. Yang benar? Saya tidak bercanda kawan. Andre Geim dan rekannya membuktikan. Ia mendapat penghargaan nobel pada tahun 2010 atas temuan yang bermodalkan selotip. Awalnya tidak ada yang mengetahui cara mengisolasi karbon pada grafit, namun Geim justru menemukannya dengan teknik yang begitu sederhana. Sang Pionir Geim tidak hanya mengajarkan agar kita tidak mengabaikan hal-hal kecil, ia juga mengatakan bahwa kita tidak harus kuliah di universitas lapis satu untuk menghasilkan sesuatu yang mengagumkan. Belajar di mana saja dan lakukan yang terbaik karena setiap orang akan mendapat bayaran sesuai dengan kerja kerasnya.
"Saya tak peduli apakah rekan kerja saya seorang mahasiswa ataukah profesor, asalkan dia mau bekerja keras dan efisien, semua orang adalah kolega saya" Ucap Geim yang mencerminkan kerendahan hatinya.
Gambar 2. Andre Geim

Kerendahan hati orang Belanda juga bisa kita temui di kelas-kelas belajar. Para mahasiswa diberikan lampu hijau untuk bertanya atau menyanggah saat dosen menjelaskan materi. Tenang saja, para dosen tidak akan marah.Enjoy it, guys! Tak hanya itu,dosen-dosen di Belanda juga terkenal capable dan humble. Mereka sangat berterus terang.
"I don't know about the answer, maybe i'll search about it as well and i can give it back to you by email" Begitu ucapan mereka untuk mengakui ketidaktahuannya.
Gambar 3. Welcoming all of your opinion, Guys!

Selain itu, para pionir Belanda juga terkenal ulet dan sabar. Kita semua mengenal Leeuwenhoek sebagai orang pertama yang mengobservasi bakteri. Ia menemukan makhluk super kecil itu dari mikroskop buatan sendiri. Kendati mikroskop sudah ditemukan sebelum ia lahir, ia tidak menggunakannya. Ia justru dengan sabar dan cermat menggosok lensa sendiri. Akhirnya ia mampu menghasilkan mikroskop yang jauh lebih baik. Ia juga bukanlah ilmuwan berpendidikan tinggi, ia hanya tamat Sekolah Dasar dan bekerja sebagai pegawai kotapraja, meskipun begitu ia terpilih menjadi anggota ilmiah pada tahun 1680 dan sebagai anggota Akademi Ilmu Pengetahuan di Paris.
Gambar 4. Van Leeuwenhoe's microscope
kisah-kisah inspiratif para pionir Belanda tersebut hendaknya menjadi bahan adopsi bagi kita. Dengan begitu, maka keberhasilan gemilang bukanlah hanya omong kosong belaka.

Referensi:
http://internasional.kompas.com/read/2010/10/08/02395929/Meraih.Nobel.Bermodal.Selotip
http://www.history-of-the-microscope.org/anton-van-leeuwenhoek-microscope-history.php
http://singularityhub.com/2012/08/03/pal-v-one-the-car-plane-thats-easy-to-fly-and-cheap-%E2%80%93-were-kidding-about-the-cheap-part/
ionagrace.wordpress.com/2011/09/12/studi-di-belandatentu-saja01-yuk-mengintip-suasana-kelas-di-belanda/

Thursday, 2 May 2013

Pagi Ini Antara Baranang Siang dan Dramaga

Aku memilih kata 'antara' bukanlah untuk mengungkapkan cerita tentang dua jiwa yang terpisah ruang, bukan pula kata untuk menggambarkan perbedaan keduanya. Ini hanya sekadar sebuah perjalan. Perjalanku di pagi Jumat menuju kelas kuliah dan praktikum yang lumayan menelan waktu. Aku hanya ingin bercerita apa yang tertangkap indera penglihatan dan pendengaranku dari balik kaca angkutan hijau yang kutumpangi. Ini 'hanya' tentang rasa yang singgah, terkadang meninggalkan bekas dan tak jarang hanya berlalu tanpa jejak.

Jadi, biarkanlah aku bercerita tentang mereka, mereka yang singgah pagi ini dalam rasa. Mereka yang terus berwajah mendung, terlebih saat jalanan merangkak karena padatnya kendaraan, mereka yang pagi-pagi sekali sudah merelakan waktu, duduk di depan stir dan memanggil-manggil setiap manusia yang berwajah menunggu di tepi jalan. Aku tertarik dengan kisah mereka karena aku merasa sudah panjang jalan yang mereka lalui, pastilah banyak cerita juga yang telah terekam dalam perjalanan itu. Mereka yang lebih banyak lengah kala panggilan cinta-Nya berpendar dari setiap menara dan corong-corong. Mereka tak peduli, jalanan membuat hati mereka jauh lebih tenteram karena seratus meter saja orang-orang yang menumpang akan memberinya rupiah, lebih menjanjikan daripada janji-janji kitab suci yang entah kapan baru akan tertunaikan. Mereka tanpa sadar telah mengingkari perjalananya sendiri. Betapa seharusnya mereka memahami hakikat perjalanan. Mereka membawa manusia yang semuanya bertujuan. Bahkan kendaraan yang mereka kendalikan pun bertuliskan asal dan tujuan jalan. Mereka hanya melupakan satu, mereka lupa bahwa hidup juga sebuah perjalanan. Perjalanan menuju pemberhentian abadi. Mereka terus mengumpulkan rupiah untuk kebahagiaan keluarga di rumah, di pemberhentian. Tapi mereka lupa mengumpulkan pundi-pundi kebahagiaan untuk nanti, sesampai di tujuan sesungguhnya.

Tak semua. Memang tak semua. Tidak ada yang sempurna semua. Ini hanya rasa yang mengalir dari pandanganku saja. Tak perlu diperdebatkan, jika tak suka, lupakan saja.

Awalnya, aku ingin lebih menghayati mereka para penjual di tepi-tepi jalan atau para manusia belia-sangat belia- berpakaian sama kala senin-sabtu yang berderet rapi menunggu pengantar bayaran menuju tujuan, entah untuk belajar entah apa, aku tak bisa menerka.
Tapi, kurasa cerita para pengemudi angkutan itu lebih menarik.

Sekali lagi, ini hanya tentang rasa. Jangan diperdebatkan.

Just Want to Say: Thank You for Everything

Source: click here
Now, i'll tell you a story. An ordinary story. Just simple story between i and him. Don't think it same with a love story, it just a simple relation and makes smiles on my face everytime, when i read our conversation. Remember, just too simple conversation. Never there were any real talking. Just on social media site. Just it is.

I found his facebook one year ago. He didn't accept my requested quickly. He asked me many things by message before. I gave the answers honesty. I told that i love the season in Europe so much. I love autumn, winter and spring. That's 'cause we live in tropic area, which just have summer and rainy season. ya, he is staying in Europe now. Actually not all in Europe. May be i should not tell detail of him, about his own country, his study, his face, and etc. That's privacy.

Friend, i like his attitude. He is so friendly and has nice sentences of his writing. That why i felt happy with him. We shared about our subject study, our exams, our feeling and anything. He knew that i got a scholarship, i didn't know where he found it. He ever told about his pray, he said just praying on four time everyday. He felt difficult to woke up on the early morning to fajar namaz or subuh praying. But, he was promise to change it. I wish it will be better soon. He ever told about his accident, the accident made hard injury on his feet. He ever told about how difficult his exams and his classes, he ever told about the terror in his land, he ever told about his love to a country where he is studying now, he ever told about his activities in campus, he ever told about his favorite foods and movies. But, all of that stories were in the past. We have no conversation on last few month. His last story was about a girl who broke his heart. He didn't permit me to know anything about the girl. He didn't trust me.

I have printed our writing. I feel happy when read it. But, i know something now, that he never considered me as his close friend, actually i never know anything, all just lying. Our stories actually were not real. We have no 'say hello' lately although i was connecting on the internet and he also. 

Friend, i tell you for once again, it is not about love between two persons. It is just about our nice relation. I don't think about love, i want to share you a story only. I feel happy knew him, just for simple reason, he is so polite guy, he wasted many time just for told me stories about snow and Europe. I am so thankful for that. May be one time, we can meet and having a tea in a little shop, i just want to say 'thanks', no more, really. For him, I wish you best of luck on every activities. Don't forget to praying, at least for your own self. Thank you for everything, it is not about love, but it is about feeling from my deep heart.

I am not good in English, but i wish it can be understanding...

My Little Accident

ngeeeengg.....brum...brum...kotek...kotek
Aku mengayuh sepeda mini dengan membonceng temanku. Waktu itu sekitar pukul 16.00. Tujuan kami adalah kandang bebek. Ya, piket harian memberi pakan bebek (Oh bebek, secara tidak langsung, Anda-Andalah yang sebenarnya harus bertanggung jawab)
Itu adalah kali pertama aku mengendarai sepeda di Bogor (biasanya naek onta). Sudah lama aku tak bersepeda, semenjak lulus MTs. Aku senang sekali, Doraemon. Sepeda kami melaju. Wush....angin membuat kerudung kami berkibar-kibar seperti bendera (lebai, sungguh).
Aku dan temanku itu tertawa lepas (lebih cocok untuk kalimat anak kecil yang tertawa lepas dalam gendongan Ayahnya deh) menikmati sore tanpa menyadari akan ada kejadian naas di depan sana.
Ya sobat, sepeda itu semakin melaju tanpa aku mengayuhnya. Jalan menurun. Kami hanya tertawa hingga aku menyadari bahwa rem sepeda itu tak berfungsi sama sekali. Aku mulai panik. Kuminta temanku untuk melompat dari boncengan. Aku sudah yakin, ini pasti akan berakhir sakit. Di ujung sana ada pertigaan dengan bundaran pohon besar di tengah-tengahnya. Aku tetap tak menemukan cara untuk menghentikan laju sepeda. Sudah kucoba dengan cara menggesekkan kakiku di aspal, namun gagal. Aku semakin panik. Sepeda melaju lurus. Aku tak bisa membelokkan sepeda saat tiba di pertigaan. Sepeda itu melaju lurus, memotong jalan. Aku bisa menghindari satu sepeda motor yang melintas sebelum akhirnya sepeda itu menabrak tepian jalan. Aku terpental dan tidak mampu mengingat apa-apa lagi (tragis juga). Aku mengetahui kejadian selanjutnya dari teman yang kubonceng, ia menceritakannya padaku sepulang dari RS (masak iya, dia cerita waktu aku pinksun). Untunglah ia baik-baik saja (sok dewasa deh).

Ia bercerita, aku jatuh dalam posisi telungkup. Wajahku membentur batu. Hal ini membuat bibir kananku luka dan mengeluarkan banyak darah, pipiku juga memar lho. Orang-orang berbondong-bondong mendekati. Ada yang prihatin, marah, dan sebagainya. Namun, mereka tetap tak memberikan solusi untuk temanku yang kebingungan. Hampir setengah jam berlalu (kelamaan tuh) datanglah seorang Bapak yang mengendarai sepeda motor (kok bukan pangeran berkuda? Atau cowok cakep bawa mobil sih? Kayak di pilem gitu) dengan tegas Bapak itu menawarkan pilihan "Ini mau dibawa ke RS atau dibawa pulang? Ayo saya antar" Ucapnya (coba aja akhir kalimat si Bapak 'Ayo saya antar dan saya bayar biayanya' Hihi) Temanku memutuskan untuk membawaku ke RS PMI yang tidak terlalu jauh dari tempat itu.

Aku baru sadar saat sudah dibawa masuk ke ruang UGD. Waw, banyak sekali darah yang memerahkan kerudungku (berasa di daerah peperangan). Seorang Dokter membersihkan lukaku. Meminta persetujuan untuk menjahit luka yang ada di bibirku.

"Kalau gak dijahit, darahnya keluar terus, nanti lukanya lama sembuh" Ucapnya manis (cakep lagi). Aku bingung. Ah, yang benar saja. Dijahit? Sakitnya kayak apa. Duh, seumur-umur disuntik aja aku tidak berani. Aku sudah membayangkan bibirku ditusuk lalu diikat dengan benang dijadikan layang-layang, hehe. Aku tak berani! (ya jangan diulang-ulang juga kali).

Hampir satu jam aku belum memberikan jawaban (untung gak keburu ditundung sama Mas Dokter). Teman-teman sekontrakan sudah berkumpul di luar (perhatian juga ya? Gak nyangka deh). Aku bingung, hingga akhirnya temanku masuk dan memberikan kekuatan (kayak di pilem-pilem robot gitu 'MEMBERIKAN KEKUATAN')

"Okay Dok. Do it" Kataku (yang ada hanya mengangguk ketakutan). Dokter itu seketika mengangkat tangan dan berucap "Alhamdulillah" (cakepnya naik jadi 100,00001%). Wah, seneng banget ni dokter melihat aku bakal menderita.

Semua peralatan disiapkan, gunting, suntikan, kapas (bukan kapak), jarum, benang, obat bius dan entah apa lagi, yang jelas suasana lebih terasa mencekam.

"Ready?" Tanya pak dokter sumringah, ia seperti menemukan mainan baru saja.

"O ready dok. Asal gak sakit aja" jawabku dalam hati. Lah.... Iya, aslinya aku hanya bisa memejamkan mata. Wong mau ngomong aja sakitnya minta tolong.

Okay guys! Pertama-tama dan paling utama, ambil suntikan bius lalu suntikkanlah di beberapa titik sekitar luka. Ini tidak sakit, sungguh. Hanya seperti digigit semut api bertaring. Hehe

Serius, tidak sakit. Applouse untuk Mas Dokter yang baik hati. Selanjutnya, darah akan semakin banyak keluar. So don't worry, it's too normal. Hanya perlu waktu sebentar hingga darah berhenti, efek obat bius cuy!

Next agenda is.... Jait-menjait deh. Persis menjahit baju gitu. Okenya, ini sama sekali gak sakit. Kamu bakal merasakan benang yang berjalan mulus dijalan yang telah dirintis oleh jarum. Hmm....ada sensasi cool deh alias adem panas ketakutan. But, i'm sure, it's pretty simple and gorgeous sensation. You must try it (no, i wish not).

Udah gitu, benangnya tinggal diikat and beres deh. Paling-paling hanya perlu melewati satu penyuntikan lagi, yaitu suntik tetanus (bener kan tulisannya?). Suntikan yang satu ini cukup membuat merem melek-lah. Suntikan yang dalam dengan waktu lebih panjang. Dijamin bikin meringis! Hehe, kali ini sungguh aku berbohong, suntikan tetanus gak sakit kok. Cuma tergantung obat bius yang dipakai aja. Jadi, kalau mau masuk RS, pastikan itu adalah RS berkualitas agar proses pengobatannya juga tidak menyiksa (walau harus bayar mahal, sist).

Hmm....itulah dia sekelumit cerita pengalamanku yang menyakitkan. Pesanku untuk guys semua setelah membaca tulisan ini adalah:

- Periksa keadaan sepeda atau kendaraan lain yang akan anda kendarai sebelum bepergian.
- Jangan lupa berdoa (ini nih yang utama)
- the last, hindarilah jalan yang berbahaya.

I wish u all never feel what i felt. That's so frightening. Tapi, seru juga lho, kalau dokternya cakep and ramah pangkat lima (hehe, just a joke).

Yayaya, at least, selalu ada manfaat di setiap kejadian. You just to find it.

Thanks for reading :)

I and My Little Friend


Kali ini biarkan aku berkisah tentang seorang wanita. Hanya wanita sederhana, teman masa kecilku, sepupuku.

Cerita ini memang tak segemerlap bintang yang bisa kupuji-puji cahayanya, tapi bagiku, cerita bersamanya membentuk sebuah cahaya yang begitu terang, menerangi ingatan untuk sekedar menjenguk masa lalu. Kenangan bersamanya adalah cerita masa kecilku. Masa di mana aku benar-benar merasakan indahnya kehidupan.

Kami tumbuh bersama, ia lahir delapan bulan lebih tua dariku. Kebun kami bersepadan, rumahnya berjarak 100 m dari rumahku. Ia seperti anak Ayah Ibuku, dan aku seperti anak Ayah Ibunya. Kami begitu dekat. Setiap sepulang sekolah kami selalu menyerok ikan di parit, tertawa dan bahagia bersama ketika melihat ikan-ikan kecil berenang di toples kami. Ia pandai memanjat pohon, sedang aku tidak. Ia bisa memanjat pohon rambutan tinggi yang sedang berbuah masak sedang aku hanya menunggu di bawah pohon. Ya dari awal, ia memang pemberani.

Kami sering berenang di parit bersama selama berjam-jam hingga bibir membiru, jika sudah begitu Ibuku akan berteriak-teriak sambil membawa sebatang kayu, menyuruh kami naik ke daratan.

Setiap akhir pekan, kami akan bersepeda dengan kecepatan penuh menjelang maghrib menuju rumah kakaknya yang sudah berkeluarga. Kami senang tidur di sana saat hari libur karena mereka memiliki televisi warna. Kami juga senang karena rumahnya yang berada di tepi laut. Banyak angin.

Kami pernah berboncengan dengan sepeda tua menuju warung untuk membeli perlengkapan dapur yang disuruh Ibuku atau Ibunya, berboncengan dengan aku yang mengayuh dari belakang dan ia yang mengendalikan sepeda. Sepanjang perjalanan, kami bercerita penuh tawa.

"Kita ke pasar kayak gini, asyik juga" Ucapnya yang membuat kita mengakak. Yang benar saja, jarak antara pasar dan desa kami hampir 10 km dengan kondisi jalan yang tragis.

Banyak sekali kisahku bersamanya. Butuh waktu bertahun-tahun jika aku harus menulis kisah yang sempurna.


Oh iya, di wajahku ada bekas luka yang masih ada hingga kini. Itu karena ia pernah melemparkan pecahan beling ke wajahku. Ya, saat itu kami rebutan piring-piring mainan. Aku tidak mau piring dari batok kelapa dan tetap meminta piring yang terbuat dari pecahan kaca yang ada di tangannya, mungkin ia kesal, lalu dilemparlah piring-piringan itu ke wajahku. Duh, untung gak kena mata ya!

Aku sering berkhayal bersamanya. Biasanya saat kami sedang berjalan kaki pulang. Daripada krusak-krusuk suara sandal, mending kami bercerita kisah imajinasi. Kami sering berkhayal memiliki rumah sendiri. Pikirnya seru. Kan dulu.

Kami juga pernah berkebun. Menanam ubi kayu, tomat dan terong. Walaupun hasilnya mengenaskan, kami tetap senang.

Hal yang paling kusuka adalah saat kami berdiri di jendela gubuk setinggi 8 m yang ada di tengah ladang jagung. Kami senang menarik ompyong-ompyong pengusir babi dari sana. Di atas sana juga banyak angin, rambut kami berterbangan. Dari sana kami menyaksikan deretan tanaman jagung yang hijau hingga menguning. Wush.... Yang jelas di sana adem.

Saat jagung mulai berbuah muda, kami akan berkeliling mencari janten (jagung yang masih muda, belum berisi dan berbentuk ramping kecil) yang memiliki rambut terindah lalu kami mendandani janten-janten itu dengan rambut berbagai model. Ya, itulah boneka barbie kami.

Aku juga pernah berkeliling kebun bersamanya sambil membawa karung dan tergopoh-gopoh. Mencari damar. Lumayan 1 kg bisa dijual dengan harga Rp.500; Padahal panasnya minta ampun lho, belum lagi empuknya tanah gambut yang berkali-kali membuat kami terperosok. Serunya, kami sering menemukan sarang burung yang ada telurnya. Kan enak.

Kami juga sering mendengarkan radio bersama. Menanti lagu favorit sambil tidur-tiduran.

Aku yang mengajarinya naik motor. Pertama kali belajar, ia langsung berani membonceng aku dan adiknya dari rumahnya menuju rumahku. Walhasil, ia menabrak ranjang yang sudah tidak dipakai yang ada di bawah pohon di depan rumahku. Tapi, ia terus belajar. Berkali-kali jatuh ia tak ambil pusing. Kini, ia jago mengendarai motor sedang aku (gurunya) hanya berani membawa motor di jalan lurus dan sepi.

Kami sering ke jembatan. Memandangi lautan yang tenang dan kadang bergelombang. Di sana kami bercerita masa depan. Entahlah, kami hanya menerka-nerka waktu itu.

seandainya ia juga berhijab
Selesai Sekolah Dasar, kami jarang lagi bersama. Ia melanjutkan ke SMP bergengsi dan aku harus mengikuti perintah Bapak melanjutkan ke MTs swasta. Ia tumbuh menjadi wanita cantik. Kini, ia punya banyak penggemar laki-laki. Kami semakin jauh. Ia pun lebih memilih jalan-jalan bersama teman-temannya daripada aku. Duniaku tak lagi sama dengannya. Dari sini kami berpisah di persimpangan. Ia melanjutkan langkah di jalannya, dan aku di jalanku. Kita tak lagi sejalan.

Setamat MTs, aku melanjutkan ke Pesantren di Kota Provinsi. Ia melanjutkan ke SMA di Kecamatan. Setahun hanya dua kali aku pulang kampung. Kami semakin jauh. Kami tak lagi seperti dulu. Namun, aku tetap menyayanginya.

Ia wanita tegar. Ia tetap tegar saat masalah perceraian orangtuanya yang berlarut-larut, ia tetap tegar saat Ibunya harus menjadi TKW di Malaysia, ia tetap tegar saat sang Kakak tak menerimanya karena salah paham, ia tetap tegar dan memaafkan saat kakak ipar berusaha menodainya, ia tetap tegar saat harus dititipkan di tempat orang. Bahkan hingga kini, ia tetap tegar. Ia ingin kuliah. Tapi, nasib berkata lain. Sekarang ia bekerja di Bintan. Dulu, jika aku tidak mendapatkan beasiswa kuliah di IPB, aku pun ingin kerja bersamanya.

Sudah satu tahun lebih kami belum bertatap muka. Kita selalu berkirim pesan. Aku menceritakan kesahku padanya, begitu sebaliknya. Terakhir ia mengatakan bingung dengan masa depan. Aku menguatkannya dengan kalimat "Kenapa bingung? Masa depan itu misteri. Jalani aja yang ada sekarang dengan sungguh-sungguh!"

Dia sepupuku, sahabatku, masa kecilku. Aku menyayanginya hingga kini, aku di Pulau Jawa dan ia di tepian Sumatra.

Tuesday, 30 April 2013

Kisahku Bersama ‘Angin’




Aku menyebutnya, ‘angin’!

Sejak tiga minggu yang lalu, aku mulai merasakan tanda-tanda kedatangan ‘angin’ ini. Kepalaku yang sakit seperti tengkuk dicengkeram erat oleh cakar elang raksasa, kalau sudah begitu selanjutnya ‘angin’ itu berhembus membuat bulu romaku berdiri hingga kedinginan dan panas tubuhku merangkak naik. Ya, ‘angin’ ini membuatku demam. Aku hanya membeli bodrex dan meminumnya. Alhamdulillah, kepalaku perlahan ringan, pun panasku mulai menurun.

‘Angin’ ini mendatangiku dalam dua hari sekali, tiga hari sekali, empat hari sekali, tak pasti. Begitu terus. Terkadang sewaktu ‘angin’ ini mendatangiku di pagi hari (hari kuliah) aku harus memaksakan diri untuk bisa mencapai kampus. Dalam dua minggu itu, aku sedang Ujian Tengah Semester. Jadi, aku benar-benar tak bisa belajar di waktu malam. ‘Angin’ itu semakin rajin mengunjungiku. Aku hanya bisa melirik modul kuliah sejenak.

Hingga, pada hari rabu, 17 April kemaren, aku mendatangi klinik. Aku mulai panik, sekarang memasuki minggu ke-3, ‘angin’ ini benar-benar mendatangiku setiap saat, setiap jam, selama tiga hari sudah, dan lebih aku jauh kedinginan saat sore hari hingga sering juga ‘angin’ ini membuatku menggigil ketika terbangun sekitar pukul 24.00.

‘Takutnya gejala typus dek, banyak minum ya….’ Kata Bu Dokter. Aku sendiri tidak percaya, orang dokternya hanya memeriksa lidahku. Menurutku, seorang dokter harus mampu memastikan penyakit pasiennya, bukan pakai kata ‘takutnya’.

Aku pulang dengan membawa beberapa tablet obat, aku berjalan sendirian. Memang, akhir-akhir ini aku selalu tidak tahan berdiri lama. Jadilah, perjalanan itu kucepat-cepatkan.

Sesampai di Rumah, aku langsung mencuci kaki, minum obat lalu segera menyelimuti tubuhku sendiri. Sambil menunggu tubuhku mengeluarkan keringat, aku membuka ponsel. Aku coba mencari tentang typus di internet. Aku ingin memastikan kata-kata Bu Dokter yang menggantung itu. Ah, aku sendiri tak tau apa itu penyakit typus, apa penyakit dari tikus ya?

Ini dia, aku dapat. Gejala typus itu di antaranya : bibir kering pecah-pecah, demam pada malam hari dan bisa juga panas-turun-panas berulang, urine berwarna seperti teh pekat, BAB jarang, tubuh terasa lemas, ada selaput putih di lidah dan kemerahan di tepi-tepinya dan gejala-gejala lain lagi. Aku sungguh tak habis pikir, semua gejala itu kualami.

Aku dicekam rasa takut. Mataku terus menyusuri artikel tersebut, kudapatkan alasan mengapa penderita typus harus dirawat inap, hal itu karena dokter bisa memastikan pasien tidak dehidrasi (pantas saja Bu Dokter memberikan berbungkus-bungkus oralit) yang bisa berakibat pendarahan pada usus, dengan terus diinfus, memastikan pasien makan bubur, dan memastikan pasien minum obat. Aku berfikir tak perlulah check ke RS, kan bisa gawat kalau harus dirawat, aku tak mau membebani orangtuaku dengan biaya yang mahal.

Aku menjalani masa penyembuhan sendiri. Tanpa waktu libur. Meskipun aku hanya bisa duduk sambil menyandarkan kepala di dinding atau meja kelas. Pernah, sewaktu praktikum peternakan unggas, aku dan teman sekelas harus mencuci bersih kandang bebek yang dipenuhi kotoran di mana-mana. Karena tak sanggup berdiri terlalu lama, aku terpaksa jongkok di kandang yang kotor dan bau itu.

Aku rutin makan bubur, minum obat dan antibiotik, dan banyak minum air putih. Alhamdulillah, hari ini keadaanku terasa membaik. Semoga berkelanjutan.

Nah, saat ‘angin’ ini datang, jangan dikira aku wanita tegar yang mengatakan baik-baik saja kepada orangtua. Aku cengeng. Aku selalu menelepon Ibu atau Ayah saat panas kembali datang. Bagiku, mereka kekuatanku. Dengan mendengar ucapan mereka, aku memiliki semangat untuk sembuh. Rindu ini semakin menyesak saja ketika sakit. Masakan Ibu menjadi hal yang paling dinanti lidah ini. Bahkan akhir-akhir ini, aku sering mencium aroma masakan Ibu seperti melintas di hidungku. Aku sungguh rindu.

Suatu pagi saat praktikum di laboratorium, aku sungguh tak sanggup lagi duduk dengan kursi tanpa sandaran. Kepalaku seperti mau jatuh ke lantai. Tanpa izin, aku berjalan terhuyung-huyung menuju musola. Menelepon Bapak.

Saat itulah Bapak berkata lembut ‘Ikhlas Nak, sakit panas itu menggugurkan dosa-dosa seperti daun yang berguguran. Bapak sama Ibu jauh, hanya bisa mendoakan. Terus berdzikir dan shalawat’ Aku menangis mendengar kalimat itu.

Bapak memang tak mengerti apa itu typus, baginya itu sama dengan penyakit demam biasa. Tapi, kata-kata yang ia ucapkan menyadarkanku satu hal yang tidak diucapkan dokter ‘penyakit ini adalah pertanda Allah menyayangiku’.

Bapak, banyak kisahku tentang sakit bersamanya. Sejak kecil aku memang sakit-sakitan. Batuk berbulan-bulan lamanya, deman dan asma. Bapaklah yang selalu mengantarku ke RS. Satu hari saja penyakitku belum membaik dengan obat-obat herbal dan obat-obat warung, Bapak akan langsung memaksaku ke dokter. Ia mengantarkan walau ke ujung dunia. Lalu, sesampai di rumah Ibu sudah menyiapkan makanan yang kuinginkan. Sayur bening. Ia juga memijiti tengkukku apabila aku tampak kesakitan. Ia memakaikan kaus kaki hangat, menunggu hingga aku tertidur bahkan menungguiku tidur.

Aku merindukan itu semua.

Dari adikku, aku belajar rasa persaudaraan. Suatu hari, ia harus dirawat inap akibat gejala step. Sepulang dari perawatan di RS, ia sempat mengingatkan Ibuku untuk membeli setoples sosiz untukku ‘Mbak suka sosiz, beli’in ya’. Aku sendiri ingin menangis saat memakan sosiz itu.

Malam hari saat aku menjenguknya ke RS (aku menunggu rumah ditemani sepupu,hanya Bapak dan Ibu yang menunggu adikku) aku sempat bercanda dengannya dan menyentuh selang infusnya, ia meringis sebentar tapi kemudian ia tersenyum kembali. Padahal saat pulang kondisinya lemas sekali akibat infus, belum lagi nyeri karena penyakitnya. Meskipun begitu, ia ingat kesukaanku. Ia ingat aku.

Inilah ceritaku dengan ‘angin’. Mengapa angin? Karena sakit bisa menggugurkan dosa-dosa sebagaimana angin menggugurkan dedaunan.

Tentang Rindu






They are everything

Hati ini perih. Perih menanggung rindu. Air mataku pun tak mampu tertahan saat aku mendengar lagu Ibu yang dijadikan sound track dalam film Hafalan Shalat Delisa. Bukan hanya kepada Ibu rindu ini menumpuk, namun jua kepada Ayah, Adik, sanak keluarga, tetangga dan kampung halaman. Setiap hari, Orangtuaku selalu menelepon, dan setiap hari juga rindu itu semakin bertambah, bertumpuk-tumpuk.

Rabu, 24 April lalu, aku mengalami kecelakaan kecil yang menyebabkan bibirku harus dijahit dan tubuhku memar. Aku tak memberitahu orangtuaku hingga mereka tau keadaanku dari orang lain. Merekalah dua orang yang ada di dunia ini yang mendoakanku, yang merelakan air matanya untukku, yang mengorbankan waktu tidur hanya untuk sejenak mengingatku. Luka dan sakit ini tak seberapa, tapi sakit saat aku harus mengatakan nominal untuk mengganti biaya Rumah Sakit, jauh menyayat hatiku. Aku ingin sekali tidak membebani mereka dengan biaya ini dan itu. Hal inilah yang menjadi alasanku tidak mau memeriksakan penyakit typus ku ke Rumah Sakit. Aku tak mau minta uang ke orang tua. Sudah cukup mereka membiayai hidupku, seharusnya kini giliran aku yang membahagiakan mereka.

Aku ikut menangis saat mendengar tangis Ibu di ujung telepon. Ia mencemaskanku. “Ya Allah, hanya Ibulah wanita satu-satunya yang merasakan sakitku saat ini”. Sahabat, jangan pernah sakiti Ibu. Sungguh, hanya dia wanita yang paling mencintaimu di dunia ini.

Ayahku memang tak menangis. Tapi, ia mengingatkanku akan satu hal. Ia mengingatkanku untuk jangan lupa berdoa saat akan bepergian dan itu yang kulupa akhir-akhir ini. Padahal Ayah mengajarkanku berdoa sejak aku masih kecil, sejak aku masih terbata-bata ketika mengucap kata. Oh Ayah, aku lupa. Aku lupa hal kecil itu.

Right????
Sakit ini sungguh penuh hikmah. Sakit ini membuatku menyadari betapa besarnya cinta orang tuaku. Sakit ini membuatku memperbaiki langkahku yang salah. Sakit ini mengajarkanku untuk memenuhi hatiku dengan cinta saat bertemu, karena saat berjauhan begini, cinta itu begitu dibutuhkan untuk meredam rindu.

Tak sampai dua bulan lagi waktuku untuk menyelesaikan semester dua ini, Aku selalu menghitung hari. Jika jiwa ini berwujud, pastilah saat ini ia tengah merangkak lemah. Ia butuh tenaga dan itu hanya bisa didapat di kampung halaman. Sungguh, hati ini tengah menanggung rindu. Rindu yang tak mampu kusempurnakan dalamnya dengan kata-kata berhias majas apapun jua.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...