Wednesday, 21 August 2013

Surat Untuk Asma Al-Beltaji

Putriku tercinta dan guruku yang mulia.. Asma al-Beltaji, aku tidak mengucapkan selamat tinggal padamu, tapi kukatakan bahwa besok kita akan bertemu lagi.

 
Kau telah hidup dengan kepala terangkat tinggi, berjuang melawan tirani dan belenggu serta mencintai kemerdekaan. Kau telah hidup sebagai seseorang yang diam-diam mencari cakrawala baru untuk membangun kembali bangsa ini, memastikan tempatnya di tengah-tengah peradaban.

 

Kau tidak pernah dijajah oleh perkara sia-sia yang menyibukkan para remaja se usiamu. Meskipun pendidikan tidak mampu memenuhi aspirasi dan ketertarikanmu, kau selalu yang terbaik di kelas 

 

Aku tidak punya cukup waktu untuk membersamaimu dalam hidup singkat ini, terutama karena waktuku tidak memungkinkan untuk menikmati kebersamaan denganmu. Terakhir kali kita duduk bersama di Rabaa Al Adawiya kau berkata padaku, "Bahkan ketika Ayah bersama kami, Ayah tetap sibuk" dan kukatakan "Tampaknya bahwa kehidupan ini tidak akan cukup untuk menikmati setiap kebersamaan kita, jadi aku berdoa kepada Tuhan agar kita menikmatinya kelak di surga."

 

Dua malam sebelum kau dibunuh, aku melihatmu dalam mimpiku dengan gaun pengantin putih dan kau terlihat begitu cantik.  Ketika kau berbaring di sampingku aku bertanya, "Apakah ini malam pernikahanmu?" kau menjawab, "Waktunya adalah di sore hari Ayah, bukan malam". Ketika mereka bilang kau dibunuh pada Rabu sore aku mengerti apa yang kau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai martir. Kau memperkuat keyakinanku bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada pada kebathilan.

 

Aku merasa sangat terluka karena tidak berada di perpisahan terakhirmu dan tidak melihatmu untuk terakhir kalinya, tidak mencium keningmu, dan memilki kehormatan untuk memimpin shalat jenazahmu. Aku bersumpah demi Allah, sayang, aku tidak takut kehilangan nyawaku atau penjara yang tidak adil, tapi aku ingin membawa pesan yang kau telah berkorban nyawa ntuknya, untuk menyelesaikan revolusi, untuk menang dan mencapai tujuannya.

 

Jiwamu telah dimuliakan dengan kepala terangkat tinggi melawan tiran. Peluru tajam telah membelah dadamu. Yang menurutku luar biasa dan penuh dengan kebersihan jiwa. Aku yakin bahwa kau jujur kepada Allah dan Dia telah memilihmu di antara kami, memberimu kehormatan dengan pengorbanan.

 

Akhirnya, putriku tercinta dan guruku yang mulia... aku tidak mengucapkan selamat tinggal, tapi aku mengucapkan sampai jumpa kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan sahabat-sahabatnya di surga, dimana keinginan kita untuk menikmati kebersamaan kita akan  menjadi kenyataan.

 

 

__

NB: Asmaa Mohamed El Beltaji berusia 17 tahun dan adalah antara yang dibunuh pada tragedi berdarah di Medan Rab'ah (14/8/2013). Beliau adalah putri satu-satunya Mohammed El Beltaji, seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin.

 

 

*diterjemahkan oleh @nastarabdullah dari pkspiyungan.org

Rebloged: Siapakah Kau, Perempuan Sempurna?

Ketika akhirnya saya dilamar oleh seorang lelaki, saya luruh dalam kelegaan.Apalagi lelaki itu, kelihatannya ‘relatif’ sempurna. Hapalannya banyak, shalih, pintar. Ia juga seorang aktivis dakwah yang sudah cukup matang.Kurang apa coba?

 Saya merasa sombong! Ketika melihat para lajang kemudian diwisuda sebagai pengantin, saya secara tak sadar membandingkan, lebih keren mana suaminyadengan suami saya.

 Sampai akhirnya air mata saya harus mengucur begitu deras, ketika suatu hari menekuri 3 ayat terakhir surat At-Tahrim. Sebenarnya, sebagian besar ayatdalam surat ini sudah mulai saya hapal sekitar 10 tahun silam, saat saya masih semester awal kuliah. Akan tetapi, banyak hapalan saya menguap, dan harus kembali mengucur bak air hujan ketika saya menjadi satu grup dengan seorang calon hafidzah di kelompok pengajian yang rutin saya ikuti.

 Ini terjemah ayat tersebut:
66:10. Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orangkafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.

 66:11. Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim”,

66: 12. dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.

SEBUAH KONTRADIKSI

 Ada 4 orang yang disebut dalam 3 ayat tersebut. Mereka adalah Istri Nuh, Istri Luth, Istri Firaun dan Maryam. Istri Nuh (IN), dan Istri Luth (IL) adalah symbol perempuan kafir, sedangkan Istri Firaun (IF) dan Maryam (M), adalah symbol perempuan beriman. Saya terkejut, takjub dan ternganga ketika menyadari bahwa ada sebuah kontradiksi yang sangat kuat. Allah memberikan sebuah permisalan nan ironis. Mengapa begitu?

 IN dan IL adalah contoh perempuan yang berada dalam pengawasan lelaki shalih. Suami-suami mereka setaraf Nabi (bandingkan dengan suami saya! Tak ada apa-apanya, bukan?). Akan tetapi mereka berkhianat, sehingga dikatakanlah kepada mereka, waqilad khulannaaro ma’ad daakhiliin…

 Sedangkan antitesa dari mereka, Allah bentangkan kehidupan IF (Asiyah binti Muzahim) dan M. Hebatnya, IF adalah istri seorang thaghut, pembangkang sejati yang berkoar-koar menyebut “ana rabbakumul a’la.” Dan Maryam, ia bahkan tak memiliki suami. Ia rajin beribadah, dan Allah tiba-tiba berkehendak meniupkan ruh dalam rahimnya. Akan tetapi, cahaya iman membuat mereka mampu tetap bertahan di jalan kebenaran. Sehingga Allah memujinya, wa kaanat minal qaanithiin…

 PEREMPUAN SEMPURNA
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:”Sebaik-baik wanita penghuni surga itu adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri Firaun, dan Maryam binti Imran.” (HR. Ahmad 2720, berderajat shahih).

 Empat perempuan itu dipuji sebagai sebaik-baik wanita penghuni surga. Akan tetapi, Rasulullah saw. masih membuat strata lagi dari 4 orang tersebut.

 Terpilihlah dua perempuan yang disebut sebagai perempuan sempurna. Rasul bersabda, “Banyak lelaki yang sempurna, tetapi tiada wanita yang sempurnakecuali Asiyah istri Firaun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya keutamaan Asiyah dibandingkan sekalian wanita adalah sebagaimana keutamaan bubur roti gandum dibandingkan dengan makanan lainnya.” (Shahih al-Bukhari no. 3411).

 Inilah yang membuat saya terkejut! Bahkan perempuan sekelas Fathimah dan Khadijah pun masih ‘kalah’ dibanding Asiyah Istri Fir’aun dan Maryam binti Imran.Apakah gerangan yang membuat Rasul menilai semacam itu?

 Ah, saya bukan seorang mufassir ataupun ahli hadits. Namun, dalam keterbatasan yang saya mengerti, tiba-tiba saya sedikit meraba-raba, bahwa penyebabnya adalah karena keberadaan suami. Khadijah, ia perempuan hebat, namun ia tak sempurna, karena ia diback-up total oleh Rasul terkasih Muhammad saw., seorang lelaki hebat. Fathimah, ia dahsyat, namun ia tak sempurna, karena ada Ali bin Abi Thalib ra, seorang pemuda mukmin yang tangguh.

 Sedangkan Asiyah? Saat ia menanggung deraan hidup yang begitu dahsyat, kepada siapa ia menyandarkan tubuhnya, karena justru yang menyiksanya adalah suaminya sendiri. Siksaan yang membuat ia berdoa, dengan gemetar, “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku darikaum yang lalim.” Siksaan yang membuat nyawanya terbang, ah… tidak mati, namun menuju surga. Mendapatkan rizki dan bersukaria dengan para pendudukakhirat.

 Bagaimana pula dengan Maryam? Ia seorang lajang yang dipilih Allah untuk menjadi ibunda bagi Nabi Isa. Kepada siapa ia mengadu atas tindasan kaumnya yang menuduh ia sebagai pezina?Pantas jika Rasul menyebut mereka: Perempuan sempurna…

 JADI, YANG MENGANTAR ke Surga, Adalah Amalan Kita

 Jadi, bukan karena (sekadar) lelaki shalih yang menjadi pendamping kita.Suami yang baik, memang akan menuntun kita menuju jalan ke surga,mempermudah kita dalam menjalankan perintah agama. Namun, jemari akan teracung pada para perempuan yang dengan kelajangannya (namun bukan sengaja melajang), atau dengan kondisi suaminya yang memprihatinkan (yang juga bukan karena kehendak kita), ternyata tetap bisa beramal dan cemerlang dalam cahaya iman. Kalian adalah Maryam-Maryam dan Asiyah-Asiyah, yang lebih hebat dari Khadijah-Khadijah dan Fathimah-Fathimah.

 Sebaliknya, alangkah hinanya para perempuan yang memiliki suami-suami nan shalih, namun pada kenyataannya, mereka tak lebih dari istri Nabi Nuh danistri Nabi Luth. Yang alih-alih mendukung suami dalam dakwah, namun justru menggelendot manja, “Mas… kok pergi pengajian terus sih, sekali-kali libur dong!” Atau, “Mas, aku pengin beli motor yang bagus, gimana kalau Maskorupsi aja…”

 Benar, bahwa istri hebat ada di samping suami hebat. Namun, lebih hebat lagi adalah istri yang tetap bisa hebat meskipun terpaksa bersuamikan orang tak hebat, atau bahkan tetapi melajang karena berbagai sebab nan syar’i. Dan betapa rendahnya istri yang tak hebat, padahal suaminya orang hebat dan membentangkan baginya berbagai kemudahan untuk menjadi hebat. Hebat sebagai hamba Allah Ta’ala!

 diambil dari Afifah Afra

Saturday, 17 August 2013

A Feeling: Renungannya

Hampir dua bulan sudah ia di kampung halaman, dan setiap hari waktunya lebih banyak tersisa untuk 'merenung'. Kadang ia merenung tentang dirinya sendiri, tak jarang pula tentang orang lain dan alam. Merenung seolah menginduksi jiwanya untuk menata kembali segala yang rumpang selama 18 tahun ia hidup. Ya, akhirnya ia tahu, banyak cela yang ia jumpai pada seseorang atau hal lain, yang sebenarnya adalah celanya sendiri.

Kepekaan. Mungkin inilah yang tak terealisasi dalam sikapnya. Ia dominan tidak mau memikirkan suka maupun luka makhluk di sekitar. Terkadang, ia terlalu khusyuk dengan apa yang membuatnya senang. Di lain sisi, ia juga merasa kerumpangannya itu sudah benar. Mengabaikan hal yang tak mendukung kebahagiaan jiwa, adalah kebenaran mutlak. Mengacuhkan mereka yang tak sejalan, adalah pilihan mutlak. Renungan yang membuat otaknya semakin meleleh panas. Barangkali dua makhluk yang terkurung putih dan hitam dalam dirinya, tengah mendebat, saling menjunjung kebenaran, atau sesuatu yang dibenarkan.

Tujuan. Ini adalah hal yang juga acap kali menemani renungan. Terkadang ketika ia duduk menjelang matahari tenggelam, ketika ia duduk menyendiri pada akar-akar pepohonan, atau juga ketika hujan. Tujuan selalu memiliki beribu penafsiran. Tujuan sekolah, tujuan perjuangan, tujuan perjalanan, hingga tujuan hidup. Tujuan selalu sejajar dengan harapan, dan berkorelasi dengan kebahagiaan. Memang benar, kebahagiaan adalah ketika seseorang menggenggam apa yang membuatnya bahagia. Dan, sialnya tak semua mengetahui hal yang membuatnya bahagia. Itulah yang ia cari dalam renungan.

Spiritual. Renungan tentang nutrisi jiwa ini kerap menyambanginya. Penyesalan, harapan, doa. Semua bergumul menjadi satu, membuat saluran nafasnya terikat, lalu kelenjar air mata pun berkontraksi. Buku-buku milik Bapaknya, televisi dan kesenduan alam terus mengusiknya. Lalu menyimpulkan, ia sudah jauh tertinggal. Menyaksikan para tunaganda, tunadaksa, tunagharita, tunalaras, tunarungu, tunanetra, berhasil merekam seluruh isi kitab Tuhan di kepalanya, ia merasa terpojok. Lalu di mana cela Jannah yang layak ia tempati? Jika raga dan akal tanpa cacat itu tak melakukan apapun. Bahkan sepertiga puluh kitab-Nya tak semua lekat di kepalanya. Dirinya tertinggal, mereka telah melesat jauh...menari bersama bintang-bintang, dekat dengan Tuhan, sedang ia masih terperosok dalam kubangan yang ia buat sendiri.

Bukan hanya para tuna itu, ia pun merenungi keberanian dan keteguhan saudara seiman di Rabiah Al Adawiyah. Tak  terkecuali kepada seorang Asma Beltagy. Wanita belia yang sudah membuktikan bakti tertinggi. Sedang ia, terlalu pengecut. Bahkan pada goresan jarum, ia takut!

Teman. Semakin ia merenung tentangnya, semakin banyak ia jumpai pembuktian.

Nasehat Bakr bin Abdullah Abu Zaid, ketika baliau berkata,” Hati-hatilah dari teman yang jelek …!, karena sesungguhnya tabiat itu suka meniru ! .. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang.

Barangkali ia belum mampu menjalankan nasihat itu. Ia seperti ikan kecil dalam laut badai. Siripnya belum cukup kuat jika harus melawan amukan arus yang menyeretnya. Akhirnya, ia turut hanyut, terkadang terombang-ambing.

Semoga Tuhan memperluas jalannya, dan jalanmu...

Tuesday, 13 August 2013

Cinta Ditolak, Move On Bertindak!

Dikutip dari web Annida online dengan sediikiit...gubahan!
 

Assalaamu'alaykum wr. wb.

Buat sobat yang cintanya pernah ditolak sama si doi, perasaannya kayak apa, hayooo?! Nyesek, pasti. Rasanya mau bunuh diri, walaupun perlu mikir berkali-kali sih. Atau ada juga yang minta dukun buat beraksi. Amit-amit, hiii!

Kenapa ya, cinta ditolak efeknya selalu negatif? Bikin susah move on, bahasa Zimbabwe-nya. Padahal kan ada pepatah bagus yang mengatakan: di balik laki-laki/perempuan yang sukses, ada penolak yang menyesal. Hehe. Intinya sih, ditolak itu mestinya jadi momen  buat bangkit en ngebuktiin kalo kita gak pantes buat ditolak. Ciah...

Nih... Ada sepatah dua patah buat yang ditolak cintanya:

1. Ditolak berarti Allah cinta banget sama kita
Khususon buat sobat yang abis nembak cewek buat dijadiin pacar terus ditolak, catat ini baik-baik, Bahwa Allah masih melindungi kita dari mendekati zina.

Pasti udah tau deh, kalo pacaran itu pintu tol menuju zina. Nah, ketika si doi menolak, alhamdulillah Allah masih sayang sama kita.

Lagian yang pasti-pasti aja. Kalo mau nembak, ya tembak baik-baik. Dateng langsung ke rumahnya en menghadap ortunya. Izin buat nembak anaknya menuju pelaminan. *uhuy!

Kalo belom mampu, yowis berarti Allah lagi menggelar pintu pahala melalui shaum sunnah en megukir prestasi di sekolah. Enak, tah?

2. Ditolak berarti ada bidadari menanti
Kalo yang ini khususon buat yang mau mengajak menikah si dia, eh malah ditolak! *pukpuk. Padahal niatnya baik ya Sob. Menjauhi zina. Tapi ya gitu Sob, kalo Allah belum berkehendak, mau dikata apa?

Daripada merasa diri jelek en berburuk sangka yang macem-macem sama Allah, mending move on segera lah. Terus berbaik sangka sama Allah sambil doa yang banyak. Insya Allah sudah disiapkan bidadari yang lebih baik dari yang kita ingini sebelumnya, suatu hari nanti. Yeah!

3. Ditolak berarti belum pantas
Iya, belum pantas. Allah ingin menyatunya kita en dia di frekuensi yang sama. Di gelombang yang sedang dekat-dekatnya dengan Dia. Beuwh... lebih berkah dah insya Allah yang kayak begini nih.

Emang sih, bisa banget dipaksain biar gak ditolak dengan ngasih perhatian lebih ke si doi dllsb. Tapi Allah Maha Tahu segala, lho! Mending lewat jalur yang alami aja deh, gak usah dipaksain. Biar gak menyesal di kemudian hari.

Jadi... yuk terus perbaiki diri. Biarkan 'tangan-tangan' Allah yang mengatur semua muanya.

Nih ada kisah kerennn tentang seseorang solih yang ditolak cintanya. Cekidot!

Salman Al Farisi sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mu’minah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai pacar. Tetapi sebagai sebuah pilihan untuk menambatkan cinta dan membangun rumah tangga dalam ikatan suci.

Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang telah dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah wal hamdulillaah,” girang Abu Darda’ mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Berangkatlah keduanya ke rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Saw. Saya datang mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya” fasih Abu Darda’ berbicara.

”Adalah kehormatan bagi kami,” ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini,” kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang di luar kiraan kedua sahabat tersebut. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, bagaimanapun Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.

Yuuukkk... kita simak apa reaksi Salman, sahabat yang mulia ini:

”Allahu Akbar!” seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” (islamedia.web.id)

Kalo kata peribahasa: udah jatuh tertimpa tangga pula! Udahlah ditolak lamarannya, eh si perempuan maunya dengan Abu Darda' yang mengantarkan Salman. Tapi di situ lah hebatnya Salman! Gak malah jadi galau, berbalik kesal sama saudaranya, gak pake dengki pula! Beliau membebaskan dirinya. Move on dari penolakan. Sadar bahwa hakikat cinta itu bukan yang penting memiliki. Tapi merasa senang atas apa-apa yang dicintai orang yang disenang.

So... move on terus pantang galau! ^___^b

Sunday, 11 August 2013

Bagaimanakah Memilih Teman yang Baik? [Nasehat buat Muslimah]

Nasehat Bakr bin Abdullah Abu Zaid, ketika baliau berkata,” Hati-hatilah dari teman yang jelek …!, karena sesungguhnya tabiat itu suka meniru ! .. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang.

Lihatlah, Siapa Temanmu…!

“Apabila engkau berada di tengah-tengah suatu kaum maka pililhlah orang-orang yang baik sebagai sahabat, dan janganlah engkau bersahabat dengan orang-orang jahat sehingga engkau akan binasa bersamanya“

Wanita adalah bagian dari kehidupan manusia, sehingga dia tak akan pernah lepas dari pola interaksi dengan sesama. Terlebih dominasi perasaan yang melekat pada dirinya, membuat dia butuh teman tempat mengadu, tempat bertukar pikiran dan bermusyawarah. Berbagai problem hidup yang dialami menjadikan dia berfikir bahwa, meminta pendapat, saran dan nasehat teman adalah suatu hal yang perlu. Maka teman sangat vital bagi kehidupannya, siapa sih yang tidak butuh teman dalam hidup ini..?.

Namun wanita muslimah adalah wanita yang dipupuk dengan keimanan dan dididik dengan pola interaksi Islami. Maka pandangan Islam dalam memilih teman adalah barometernya, karena dirinya sadar, teman yang baik (salihah) memiliki pengaruh besar dalam menjaga keistiqomahan agamanya. Selain itu teman salihah adalah sebenar-benar teman yang akan membawa mashlahat dan manfaat. Maka dalam pergaulannya dia akan memilih teman yang baik dan salihah, yang benar-benar memberikan kecintaan yang tulus, selalu memberi nasihat, tidak curang dan menunjukan kebaikan. Karena bergaul dengan wanita-wanita salihah dan menjadikannya sebagai teman selalu mendatangkan manfaat dan pahala yang besar, juga akan membuka hati untuk menerima kebenaran. maka kebanyakan teman akan jadi teladan bagi temannya yang lain dalam akhlak dan tingkah laku. Seperti ungkapan “Janganlah kau tanyakan seseorang pada orangnya, tapi tanyakan pada temannya. karena setiap orang mengikuti temannya“.

Bertolak dari sinilah maka wanita muslimah senantiasa dituntut untuk dapat memilih teman, juga lingkungan pergaulan yang tak akan menambah dirinya melainkan ketakwaan dan keluhuran jiwa. Sesungguhnya Rasulullah juga telah menganjurkan untuk memilih teman yang baik (shalihah) dan berhati-hati dari teman yang jelek.

Hal ini telah dimisalkan oleh Rasulullah melalui ungkapannya:

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau membeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harmznya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap“. (Riwayat Bukhari, kitab Buyuu’, Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir 4/2026)

Dari petunjuk agamanya, wanita muslimah akan mengetahui bahwa teman itu ada dua macam. Pertama, teman yang salihah, dia laksana pembawa minyak wangi yang menyebarkan aroma harum dan wewangian. Kedua teman yang jelek laksana peniup api pandai besi, orang yang disisinya akan terkena asap, percikan api atau sesak nafas, karena bau yang tak enak.

Maka alangkah bagusnya nasehat Bakr bin Abdullah Abu Zaid, ketika baliau berkata,” Hati-hatilah dari teman yang jelek …!, karena sesungguhnya tabiat itu suka meniru, dan manusia seperti serombongan burung yang mereka diberi naluri untuk meniru dengan yang lainnya. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang yang seperti itu, karena dia akan celaka, hati- hatilah karena usaha preventif lebih mudah dari pada mengobati “.

Maka pandai-pandailah dalam memilih teman, carilah orang yang bisa membantumu untuk mencapai apa yang engkau cari . Dan bisa mendekatkan diri pada Rabbmu, bisa memberikan saran dan petunjuk untuk mencapai tujuan muliamu.

Maka perhatikanlah dengan detail teman-temanmu itu, karena teman ada bermacam-macam

1.ada teman yang bisa memberikan manfaat

2.ada teman yang bisa memberikan kesenangan (kelezatan)

3.dan ada yang bisa memberikan keutamaan.

Adapun dua jenis yang pertama itu rapuh dan mudah terputus karena terputus sebab-sebabnya. Adapun jenis ketiga, maka itulah yang dimaksud persahabatan sejati. Adanya interaksi timbal balik karena kokohnya keutamaan masing-masing keduanya. Namun jenis ini pula yang sulit dicari. (Hilyah Tholabul ‘ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaid halarnan 47-48)

Memang tidak akan pernah lepas dari benak hati wanita muslimah yang benar-benar sadar pada saat memilih teman, bahwa manusia itu seperti barang tambang, ada kualitasnya bagus dan ada yang jelek. Demikian halnya manusia, seperti dijelaskan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam :

” Manusia itu adalah barang tambang seperti emas dan perak, yang paling baik diantara mereka pada zaman jahiliyyah adalah yang paling baik pada zaman Islam jika mereka mengerti. Dan ruh-ruh itu seperti pasukan tentara yang dikerahkan, yang saling kenal akan akrab dan yang tidak dikenal akan dijauhi ” (Riwayat Muslim)

Wanita muslimah yang jujur hanya akan sejalan dengan wanita-wanita salihah, bertakwa dan berakhlak mulia, sehingga tidak dengan setiap orang dan sembarang orang dia berteman, tetapi dia memilih dan melihat siapa temannya. Walaupun memang, jika kita mencari atau memilih teman yang benar-benar bersih sama sekali dari aib, tentu kita tidak akan mendapatkannya. Namun, seandainya kebaikannya itu lebih banyak daripada sifat jeleknya, itu sudah mencukupi.

Maka Syaikh Ahmad bin ‘Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi atau terkenal dengan nama Ibnu Qudamah AlMaqdisi memberikan nasehatnya juga dalam memilih teman: “Ketahuilah, bahwasannya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari segi sifat-sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia, seperti karena harta, kedudukan atau sekedar senang melihat-lihat dan bisa ngobrol saja, tetapi itu bukan tujuan kita.

Ada pula orang yang berteman karena kepentingan Dien (agama), dalam hal inipun ada yang karena ingin mengambil faidah dari ilmu dan amalnya, karena kemuliaannya atau karena mengharap pertolongan dalam berbagai kepentingannya. Tapi, kesimpulan dari semua itu orang yang diharapkan jadi teman hendaklah memenuhi lima kriteria berikut; Dia cerdas (berakal), berakhlak baik, tidak fasiq, bukan ahli bid’ah dan tidak rakus dunia. Mengapa harus demikian ?, karena kecerdasan adalah sebagai modal utama, tak ada kabaikan jika berteman dengan orang dungu, karena terkadang ia ingin menolongmu tapi malah mencelakakanmu. Adapun orang yang berakhlak baik, itu harus. Karena terkadang orang yang cerdaspun kalau sedang marah atau dikuasai emosi, dia akan menuruti hawa nafsunya. Maka tak baik pula berteman dengan orang cerdas tetapi tidak berahlak. Sedangkan orang fasiq, dia tidak punya rasa takut kepada Allah. Dan barang siapa tidak takut pada Allah, maka kamu tidak akan aman dari tipu daya dan kedengkiannya, Dia juga tidak dapat dipercaya. Kalau ahli bid’ah jika kita bergaul dengannya dikhawatirkan kita akan terpengaruh dengan jeleknya kebid’ahannya itu. (Mukhtasor Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah hal 99).

Maka wanita muslimah yang benar-benar sadar dan mendapat pancaran sinar agama, tidak akan merasa terhina akibat bergaul dengan wanita-wanita shalihah meskipun secara lahiriyah, status sosial dan tingkat materinya tidak setingkat. Yang menjadi patokan adalah substansi kepribadiannya dan bukan penampilan dan kekayaan atau lainnya. “Pergaulan anda dengan orang mulia menjadikan anda termasuk golongan mereka, karenanya janganlah engkau mau bersahabat dengan selain mereka“.

Oleh karena itu datang petunjuk Al Qur’an yang menyerukan hal itu :

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya dipagi dan disenja hari dengan mengharap keridhoan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (Al-Kahfi:28)

Maraji :

Hilyah tolabul ‘ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaed, Mukhtasor Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah, Bid’ah dhowabituha wa atsaruhas Sayyisil Ummah, Dr. Ali Muhammad Nashir AlFaqih, Sahsiyah Mar’ah, Dr M.Ali Al Hasyimi

Dikutip dari Buletin Dakwah Al-Atsari, Cileungsi Edisi X Sha’ban 1419 Dinukil dari Darussalaf.or.id offline, Penulis: Bintu Humron, Judul: Lihatlah, Siapa Temanmu…!

Thursday, 11 July 2013

Copy-Paste: Muslimah ke Masjid?

Assalamualaikum...
Tadi habis buka twitter dan nemuin tweets oke di TL nya Ust.Felix Siauw. Berikut saya susunkan dan diedit sedikit, semoga bermanfaat.
Check it out!!!

1.Nabi saw bersabda, “jangan kamu melarang istri-istrimu (shalat) di masjid, namun rumah sebenarnya lebih baik untuk mereka” (HR Ahmad)

2. Nabi juga bersabda, “sebaik-baik tempat shalat bagi kaum wanita adalah bagian paling dalam (tersembunyi) di rumahnya” (HR Ahmad)

3. Jadi jelas, keutamaan shalat Muslimah adalah di rumah, walau boleh saja berjamaah di masjid (karena shahabiyah juga lakukan itu).

4. Bagaimana dengan pahala jamaahnya Muslimah bila shalat sendiri? (insyaAllah shalat di rumah pahalanya lebih utama daripada di masjid).

5. Seringkali shalat berjama'ah memberikan semangat lebih, lebih-lebih bila ada kajian ilmu di masjid  (maka bagus pula bagi Muslimah hadirinya).

6. Adab wanita shalat berjamaah di masjid yaitu, tak memakai wewangian (wanita tak dibolehkan pakai wewangian kecuali hanya di depan muhrim).

7. “Perempuan mana saja yang pergi ke masjid maka jangan sekali-kali dia mendekati (memakai) minyak wangi” (HR Nasa'i).

8. “Tidaklah wanita pergi ke masjid menyebar bau wanginya diterima Allah shalatnya sampai dia kembali ke rumah dan mandi” (HR Baihaqi).

9. Adab lainnya, bahwa sebaik-baik shaf bagi perempuan adalah yang paling belakang, jadi penuhi bagian belakang lebih dahulu.

10. ...Sebaik-baik shaf bagi perempuan adl yg paling terakhir dan seburuk-buruknya adalah yang paling pertama" (HR Muslim).

11. Juga termasuk adab, apabila Muslimah selesai berjamaah, segera pulang ke rumah mereka, kecuali ada taushiyah ilmu yang disimak :)

12. “Wanita yang ikut hadir shalat berjamaah, selesai salam segera bangkit ke rumah . Rasul saw dan lelaki tetap di tempat" (HR Bukhari).

13. Singkat cerita, nanti pas ramadhan, boleh saja wanita tarawih jama'ah (malah bagus karena bisa dengarkan kajian).

Saturday, 6 July 2013

A Feeling: Dilema Persinetronan Indonesia

"Paman Senopati, perintahkan semua prajurit kerajaan mencari Pangeran Setoketibanklopo!!!" Ratu kencanapink berteriak panik, wajahnya berkeringat. Bagaimana tidak? Putra sematawayang tiba-tiba raib tanpa jejak. Seluruh penghuni istana panik. Sang raja langsung bersemedi, menerawang keberadaan sang putra dengan mata batin, sesekali beliau memanggil "Anandaku, dengarkah suara ayahanda?" Tapi, gagal, tak ada balasan. Barangkali, signal sedang jelek. Nyai Gembring (asisten ratu) berkomat-kamit, lalu tangannya menari-nari di atas sebuah bola putih serupa globe "Ah, ada kekuatan hitam yang menutupi terawanganku!" Pekiknya keki. Tidak ketinggalan, Paman Patih pun ikut memejamkan mata, lalu 'cling', raib entah ke mana.

Di lain tempat, Paman Senopati dan pasukan telah masuk ke hutan kematian. Tak perlu menunggu satu menit, segerombol manusia menyerang rombongan istana. Paman Senopati langsung memainkan jurusnya, menari-nari ala pendekar, dan... "Wuush..." ada cahaya muncul dari kedua telapak tangan, cahaya merah yang berkekuatan halilintar itu seketika menyapu gerombolan musuh. Sedetik kemudian, semua musuh menggelepar di atas tanah, kejang-kejang, sekarat, dan ada juga yang tamat. Paman Senopati mengusap kedua tangannya dengan senyum bangga lalu segera melanjutkan perjalanan.

"Sudah gusti ratu, jangan menangis. Semua sudah kita kerahkan untuk mencari pangeran kecil" Pelayan istana membujuk sang ratu yang meraung-raung tangisnya. Air matanya sudah lebih segalon.
"Bagaimana aku bisa tenang? Sedang putraku entah di mana batang hidungnya, hiks, hiks" Ucap sang ratu.
"Jadi, sang ratu hanya kehilangan batang hidung pangeran?" pertanyaan dari salah satu pelayan itu membuat sang ratu keki.
"Oh, anandaku Setoketibanklopo, di mana kau, sayang?! Pulanglah..." Ratap sang ratu sekuat tenaganya.

___***___
Hfft...capek juga ngetik cerita ala sinetron kita, bisa-bisa blog-ku penuh jika aku harus menceritakan hingga tamat.

Tara...dilema persinetronan Indonesia, terdengar 'koran-is' ya diriku? Haha, tulisan ini terinspirasi dari guyonan yang sering kami (aku dan adik) tertawakan saat menonton sinetron di Indosiar atau MNC TV. Ah, betapa mudahnya mengusir para penjajah jika pendekar-pendekar nusantara sehebat yang ada di senetron. Tinggal bersilat sedikit, ratusan pasukan penjajah langsung terkapar, mati! Bambu runcing? Gak level, bro. Wong, tangan mereka bisa mengeluarkan aliran listrik.
Senapan? Alah, kalah cepat, cuy.

Terus nih, kalau mau berbicara dengan orang lain yang berada di tempat lain, hanya butuh memejamkan mata, berkomat-kamit, dan...nyambung deh. Pembicaraan via batin, katanya. Hadeh, handphone kalah oke, Tower gak butuh, apalagi kartu seluler, gak laku.

Hebatnya lagi, orang dulu itu gak butuh BBM. Kemana-mana tinggal memejamkan mata atau mengucap mantra, lalu...cling, udah pindah tempat. Hebat yak? Teknologi sekarang mah Ka-O. Gak butuh tu perahu, kuda, sepeda, apalagi sepeda motor yang ngabis-ngabisin duit buat beli bensin.

Ada lagi? Masih ada. Zaman dulu juga gak perlu capek-capek masak. Gak perlu tuh yang namanya menggoreng ikan, atau apalah. Tinggal mengucap mantra pendek, lagi-lagi 'CLING', tersajilah ayam goreng, nasi sebakul, ikan panggang, dan tumis kangkung di atas meja.
Jadi, gak usah ada petani dan nelayan. Karena gak bakal ada yang mau beli.

Wah, wah, mau tahu kehebatan lain orang Indonesia dulu? Ternyata zaman dulu, industri kosmetik sudah maju buanget. Desainer-desainer zaman dulu juga udah top banget. Make-up nya bukan main, fashionable pulak. Penampilan mereka mengalahkan penampilan para pengantin modern. Duh, aku juga mau hidup di zaman dulu kalau begitu.

Yah, begitulah majunya Indonesia di masa kekerajaan dulu, tentunya bukan di buku sejarah, melainkan di sinetron. Semuanya terlalu absurd. Bayangkan jika memang orang-orang dulu sehebat itu, betapa enaknya jadi orang dulu. kenyataannya kan gak gitu. Meskipun raja selalu identik dengan orang yang sakti mandraguna, tetap aja mereka melawan musuh menggunakan keris, panah atau pedang. Makanya ada yang namanya keris Mpu Gandring dan lain sebagainya. Sehebat apapun sang raja, kalau ditembak, ya pasti mati. Selain itu, pakaian dan tata rias yang digunakan pun terlalu berlebihan untuk ukuran orang dulu. Intinya, semua terlalu dilebih-lebihkan hingga kesannya tidak masuk akal.

Aku heran, padahal sinetron-sinetron jenis ini di beberapa tahun lalu sudah bagus sekali. Seperti 'Jaka Tingkir' yang tayang seminggu sekali, juga 'Jaka Tarub', Angling Darma, hingga 'Wiro Sableng'. Sinetron-sinetron tersebut sudah cukup bagus dan tampak lebih natural. Aku masih ingat pakaian yang dipakai Jaka Tingkir, hanya baju dan celana putih biasa serta topi putih sederhana. Tak ada embel-embel (atribut) seperti di pementasan ramayana. Kurasa, begitu lebih oke. Ohya, saat si Jaka Tingkir terluka pun disembuhkan dengan ramuan-ramuan dari tabib, bukan dengan cahaya berwarna yang disalurkan oleh seseorang. Rasanya kok semua serba easy. Ironis dengan fakta dan logika.

Okay, sekian dulu, ya. Lagi-lagi ini hanya a feeling. Setiap orang punya rasa yang berbeda dalam menerjemahkam sesuatu. So, don't mind if you are not agree. Just leave and forget it.
Thank you for reading. Ting! :-)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...