Banyak yang ingin kutuliskan pada malam ini. Tapi sejak tadi, aku hanya diam memandangi layar laptop tanpa bisa menuliskan satu patah kata pun. Di luar pintu kamar, semua penghuni asrama sedang berkumpul membahas ujian lisan yang akan diadakan satu minggu lagi. Aku sengaja tidak ikut, karena merasa sudah terlalu banyak pengasuh senior yang mengurusi hal itu.
Thursday, 17 November 2016
Duhai Waktu...
Banyak yang ingin kutuliskan pada malam ini. Tapi sejak tadi, aku hanya diam memandangi layar laptop tanpa bisa menuliskan satu patah kata pun. Di luar pintu kamar, semua penghuni asrama sedang berkumpul membahas ujian lisan yang akan diadakan satu minggu lagi. Aku sengaja tidak ikut, karena merasa sudah terlalu banyak pengasuh senior yang mengurusi hal itu.
Wednesday, 16 November 2016
Ada Masanya
Ada Masanya..
Saat kita tidak saling mengenal. Mungkin saja disaat itulah kita bagaikan siang dan malam yang tidak pernah saling bertemu tidak pernah saling menyapa.
Ada Masanya..
Saat kita mulai saling mengenal meski hanya sekedar tahu siapa nama, mungkin disaat itulah kita bagaikan 2 buah buku yang diletakkan di rak yang berbeda, memiliki kehidupannya sendiri–sendiri tanpa peduli satu dan lainnya.
Ada Masanya..
Saat kita mulai saling ingin mengenal lebih jauh lagi, saat masing–masing diri bersepakat untuk memegang janji. Mungkin disaat itulah kita bagaikan matahari dan bulan. Matahari yang selalu ikhlas memberi sinarnya tanpa harus dipinta, keindahan bulan pun akibat keikhlasan matahari yang selalu menyinarinya. Meskipun matahari dan bulan tidak harus saling bertemu, tetapi sang matahari tahu hanya dengan ke ikhlasannya lah sang bulan bisa terus memancarkan keindahannya. Sang bulan pun tahu meski sangat ingin bersama, tak mungkin untuk dapat mendekati matahari.
Ada Masanya..
Saat kita mulai hidup bersama, saat masing–masing diri terikat dalam perjanjian suci yang sama. Mungkin disaat itulah kita bagaikan 2 sungai besar yang saling bertemu hingga bermuara di laut yang sama. Dengan tujuan yang sama demi meraih ridho-Nya, fiddunya wal akhirah.
Karena Ada Masanya..
Tiap Masa memiliki keindahannya sendiri–sendiri.
Aah.. sepenuh hati ini menunggu, tunggulah karena kita semua memang sedang saling menunggu...
Friday, 11 November 2016
Kebahagiaan Hati adalah Segalanya
Akhir-akhir ini aku belum mampu menulis banyak. Karena itu pula blog ini sebagian diisi dengan kalimat singkat mengenai hal-hal yang kupikirkan. Bukan puisi, melainkan hanya kalimat sederhana yang apa adanya. Yang mungkin, siapa saja tidak perlu memutar otak untuk sekadar memahami.
Ada banyak hal yang ingin kulakukan dalam hidup. Menjadi penulis, punya usaha mandiri, lalu bisa mengajak Bapak dan Ibu bersama mengunjungi Tanah Haram. Sampai sekarang pun masih sama. Hanya saja ada beberapa hal yang telah berubah. Kurasa satu hal yang tak lagi sama adalah sudut pandangku terhadap sesuatu.
Dulu, aku ingin hidup mandiri di kota yang memiliki akses mudah, dekat dengan kota besar, hidup berkecukupan, so on... Namun entah mengapa, sejak dua bulan lalu, sejak aku tinggal di kawasan perumahan elit di Bintaro Sektor 9, semua angan-angan duniawi itu perlahan menguap. Kehidupan orang-orang berumah mewah di sana tak membuatku kagum. Justru aku sangat kasihan. Jika dibandingkan, kehidupan kedua orang tuaku di perkebunan kelapa jauh lebih bahagia.
Sekarang, aku hanya ingin dianugerahi hati yang berbahagia. Di mana pun itu. Aku hanya ingin mengabdi pada masyarakat yang membutuhkan. Mungkin, nanti, aku akan kembali ke kampung halaman. Sesekali mengunjungi sepupu di Bintan.
Ya, seperti impian seseorang dari masa lalu (ketika kami berkomunikasi beberapa bulan lalu), bahwa ia akan kembali ke dekat Ayah dan Ibunya, membangun peternakan di sana, memberi motivasi untuk generasi muda desanya, berbakti pada masyarakat, dan semoga Allah membalas dengan kehidupan yang berbahagia.
Kala itu, aku tidak habis pikir pada niatnya tersebut. Ia pemuda cerdas, bisa dikatakan begitu. Sekarang saja sudah terlibat menangani proyek-proyek pemerintah terkait pertanian dan perkebunan. Beberapa bulan lalu, ia diutus ke Natuna untuk sebuah proyek juga. Kupikir, ia bisa mendapatkan kehidupan yang mapan apabila menetap di kota besar. Namun nyatanya, itu bukan impiannya.
Sekarang aku baru paham. Dia benar, dan akulah yang terlalu bernafsu pada kehidupan duniawi. Sekarang aku justru sangat mengagumi pilihannya, juga pemikirannya yang jauh melampui diriku kala itu. Semoga di mana pun beliau berada saat ini, Allah selalu melindungi dan memberikan barokah.
Ya, adakah yang lebih berarti dari kebahagiaan di dalam hati?
Untuk apa semua harta, kekayaan, suami/istri yang rupawan, pangkat dan jabatan, jika hati tidak merasakan tenteram dan nyaman? Untuk apa bernaung di bawah rumah seharga milyaran, jika setiap hari hati terasa pedih dan dirundung duka tak berkesudahan?
Allah mengumpamakan hal tersebut seperti sawah ladang yang menghijau, yang membuat bahagia para pemiliknya, kemudian keindahan tersebut lenyap, hingga mereka tercengang tidak percaya.
Itulah dunia.
Harta, anak, jabatan, popularitas, semua hanya menyenangkan hatimu sekejap saja. Alangkah merugi mereka yang mendahulukan dunia lalu meninggalkan akhirat, sementara kulihat, mereka yang mendahulukan akhirat selalu memperoleh kebahagiaan dunianya.
Wallahu'alam...
Thursday, 10 November 2016
Semua Sudah Ada Ketetapannya
Mengapa takut akan hari esok, jika semua sudah dituliskan?
Mengapa cemas ia yang akan bersama orang lain, jika siapa yang akan bersamamu sudah ditetapkan?
Kita hanyalah pemeran yang diberi kekuasaan terbatas. Kita bebas menentukan arah angin, namun Utara akan selamanya menjadi Utara.
Teori yang melemahkan! Menetaskan generasi pesimis!
Oh, benarkah?
Justru itulah ketetapan terbaik. Agar hatimu tenteram. Agar tidak angkuh dan lupa daratan. Agar bisa terus berupaya tanpa menyingkirkan Sang Pencipta. Agar ketika jatuh, hati pun tidak ikut jatuh. Dan, agar kita percaya bahwa ketetapan-Nya adalah sebaik-baik ketetapan.
Friday, 4 November 2016
Di Sepanjang Jalan Istiklal [Fiksi]
@elifkubragenc
|


