Sunday, 30 June 2013

Museum Part II: My Manga Cartoon

Eh, guys! Barusan gue baca a old manga comic, it title is 'NANA' edition: 4. Hmm... I have not read it, becuse i still remember on the whole. It was my favorite comic on few years ago when ones of my hobbies was drawing.
Eh, kok jadi english semua sih? Soalnya gue lagi ngintip-ngintip buku 'English Lesson', buku peninggalan dari pesantren.

Nah, ketika gue bongkar gunungan buku, gue menemukan beberapa kartun manga yang berhasil gue gambar. I think, it is not too bad, but isn't perfect.

Gue masih ingat banget tempoe doeloe itu, ketika gue cinta setengah die sama yang namanya MENGGAMBAR. Buku gambar gue seabrek, tapi sayangnya udah gak ada bangkainya. Sad :'( , oke, biarlah....
Gue itu belajar ngegambar otodidak aja, njiplak gitu, cuy. Terus ngegambar juga kalau mood lagi bagus, kalau gak, ya ogah. Dulu nih, teman-teman gue paling demen sama hasil gambaran gue yang asal coret, seneng juga. Sanking tangan gue terlalu aktiv dalam dunia pergambaran, semua buku sekolah gue ludes. Gue gak punya peninggalan buku catatan, sebab udah gue bakar. Why? Ya itu, karena penuh dengan gambar kartun manga, dan...lo tahu sendiri, Nabi saw kan melarang kita membuat gambar, patung atau apapun yang menyerupai manusia. Nah, jadilah Bapak gue berceramah siang-malam meminta gue berhenti menggambar kartun manusia. Kalau tetap mau menggambar, ya menggambar pemandangan, bunga atau buah-buahan. Kan, play group banget? Hihi. Tidak hanya itu, Bapak juga memberi mandat untuk membakar gambar-gambar yang udah gue buat, biar gak minta nyawa ketika di padang mashar nanti. Ya, takutlah gue. Secara gito lho, bawa-bawa akhirat. Gak oke kan, kalau nanti ketika matahari berada sejengkal di atas jidat, datanglah segerombolan makhluk unyu menarik-narik tubuh gue, meminta nyawa. Emang gue pengusaha nyawa? Gak ah, gue cari aman aja.

Tapi nih fren, yang namanya hobi, ya pasti taubatnya cuma taubat cabe rawit. Gue gak bisa bahagia tanpa menggambar, inilah beberapa gambar yang gue temukan di modul soal-soal ujian nasional Madrasah Aliyah. Ini modul panduan 'terobosan'. Mungkin dulu, ketika guru meminta kami mengerjakan contoh soal-soal, gue malah khusyuk masyuk menggambar kartun manga. Hehe...

Tapi sekarang, gue gak pernah ngegambar lagi. Gue gak punya waktu (cieh...). Gak tahulah, yang pasti gue gak berminat lagi ngegambar. Mungkin kalau gue tekuni plus mau belajar secara profesional, hasil gambar gue bisa oke.

Sekian dulu ceritaku, yours?

#Note: all of photos couldn't upload, because has no good 3G signal here. I'll upload it next time.

Museum I: A Review (Serambi Mujahid Mesopotamia, pergulatan jiwa dan cinta seorang pejuang)

 
Buku 249 halaman ini kubeli sekitar 3 tahun lalu, ketika aku masih duduk di kelas XII di pesantren. Biar begitu, aku punya agenda rutin untuk membaca ulang sekali dalam setahun, ya pada saat liburan seperti ini. Oke, let's surfing in it.

Kisah dalam novel ini diawali oleh tragedi tsunami yang meluluhlantakkan tanah Aceh, sekaligus kehidupan Reihan, seorang master lulusan Al-Azhar dan Universitas Khartoum asal Aceh yang tengah berada di Sudan. Tsunami Aceh menelan seluruh keluarganya di Ulee Lheue. Karena tidak ada lagi yang bisa dijumpainya di Aceh, dan tekadnya ingin membuat bangga keluarga, Reihan memutuskan menjadi mujahid di Irak. Tawaran menjadi relawan eksternal Irak didapatnya dari Yusuf, temannya ketika dulu menimba ilmu di Al-Azhar, Mesir. Yusuf sendiri baru saja pulang dari Irak dengan uang berlimpah, para mujahid relawan memang diberikan pesangon yang tak sedikit setelah keluar dari Irak.

"Aku menerima tawaranmu bukan karena keputusasaanku. Aku ingin pergi bukan karena aku mencari mati. Kematian adalah kehendak Allah, dan Dia juga yang akan menentukan hari depanku selanjutnya," (hal: 24) begitulah ungkapan Reihan pada Yusuf untuk meyakinkan bahwa niat dan motifnya menerima tawaran itu memang dilandasi keinginan yang suci untuk berjuang sekaligus beribadah.

Kisah selanjutnya adalah hari-hari Reihan bersama kelompok perlawanan Irak, pergulatan batin dan selipan kisah romantis yang indah. 

Perjuangan kelompok perlawanan Irak mengusir pasukan belang (red-Amerika) memang menyentuh dan mendebarkan. Mereka berjalan merangkak dalam lorong-lorong bawah tanah, gerak-gerik yang serba hati-hati, ancaman kematian, pengorbanan, penyekapan di kamp dan peperangan dengan nyawa sebagai taruhan. 

Aku bisa merasakan kegugupan Reihan, seorang pemuda yang biasanya hanya bergumul dengan buku dan makalah, harus berkenalan dan menggunakan M-16, Ak, Styer, C-4, dan TNT. Belum lagi ketakutan yang mencekam ketika ia harus melaksanakan pertempuran pertama. Asli, menegangkan.
Kisah Ibrar-teman seperjuangan Reihan, yang tetap berlihat berseri-seri di saat-saat terakhirnya pun cukup menyentuh. Ia banyak mengumbar senyum dan tawa, meski sejumlah temannya justru merasa iba. Karena hari itu adalah hari penting baginya sebagai anggota pasukan khusus, ia mendapat tugas yang sudah lama ditunggu-tunggu. Sebuah tugas yang tidak semua orang punya nyali mengerjakannya. Membawa bom di tengah markas pasukan Amerika, artinya bom tersebut juga akan meledakkan dirinya sendiri. Jadi itulah hari terakhir Ibrar, yang dengan berani melakukan serangan bunuh diri ke jantung pasukan si belang.

Oke, next?

Pergulatan perasaan? Reihan yang jatuh hati pada gadis asli Baghdad bernama Salwa. Salwa adalah gadis pemberani yang memutuskan menjadi pejuang setelah ia kehilangan ayahnya akibat bom yang dijatuhkan pasukan belang di rumahnya. Salwa berwajah jelita dan memiliki sorot mata yang bening namun tajam, menunjukkan kepribadiannya yang kuat dan tingkat kecerdasannya yang tinggi. Perpaduan yang mendekati sempurna, menurutku. Meskipun pertemuan mereka hanya singkat, namun Reihan menyandarkan cintanya kepada-Nya. Terakhir, Reihan melihat Salwa ketika ditahan di Kamp Bucca. Di Kamp itulah markas kokoh pasukan Amerika sekaligus tempat para mujahid yang tertangkap ditahan. Reihan akhirnya berhasil dibebaskan, sedangkan Salwa tidak tahu bagaimana nasibnya selanjutnya.

Setelah satu tahun menjadi mujahid eksternal Irak, Reihan memutuskan kembali ke tanah Aceh. Ia mencoba mengais-ngais kembali sisa keluarganya, meskipun hasilnya nol besar. Ia kemudian bekerja sebagai pegawai sipil yang mengurus pembangunan Aceh. Tak dapat dipungkiri, Amerika adalah salah satu negara yang paling banyak membantu pembangunan Aceh. Para tentara Amerika bekerja tanpa kenal lelah, seperti robot. Para tentara Amerika itu pula yang mengisi hari-hari sepi Reihan di kampung halaman. Hal ini membuat Reihan malu, karena dulu justru ia memerangi dan membunuh bagian dari mereka.

Lima tahun kemudian, Reihan kembali ke Tanah Suci sebagai pembimbing haji, pekerjaan yang sering dikerjakannya sewaktu masih mahasiswa dulu. Saat ada waktu luang, Reihan menyusuri Pasar Al-Balad dengan tujuan mencari jam tangan asli Soviet. Di salah satu toko di pasar itulah, Reihan menemukan separuh jiwanya, Salwa. Gadis itu membuka toko jam tangan bersama adiknya, ia memutuskan hijrah dari Irak setelah Ibunya menyusul sang Ayah ke alam baka. Reihan tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, ia langsung saja mengungkapkan niatnya untuk menikahi gadis itu.

Yap, begitulah sedikit ulasan tentang novel karya Yoki R. Sukarjaputra, seorang jurnalis yang telah mengunjungi tak kurang dari 20 negara di lima benua. Novel ini based on true story, lho. Jadi terasa hidup sekali. So, buat kamu-kamu para novel hunter, novel ini aku rekomendasikan. Diterbitkan oleh penerbit Mizania, cetakan I pada Februari 2010. Aku belum update perkembangan novel ini di toko buku, semoga sudah masuk daftar novel best seller, ya. Amin....

Perkenalan: My Own Museum

Museum? Apa maksudnya, cuy? Nah, jadi kan ceritanya saya sudah di kampung halaman ni, salah satu agenda wajib adalah bongkar lemari antik yang menyimpan benda-benda bersejarah milikku. Isinya banyak, ada tumpukan buku yang seabrek banyaknya, lipatan baju, hingga benda-benda seperti hadiah ulang tahun dari teman. Rasanya seneng banget ya bisa melihat dan menyentuh kenangan. This is my lovely museum, my own museum.

Aku yakin, kalian juga pasti akan kegirangan sekaligus haru saat melihat kembali benda-benda yang menemani kita di masa lalu.

So, dalam beberapa post nantinya, saya akan membahas seputar hal-hal yang interesting-lah dari museumku ini, bisa copy-paste tulisan dari buku-buku kesukaan atau curhatan tentang seekor tikus yang ketahuan tidur ngorok di kotak sepatu yang ada di my own museum. Hehe

Monday, 24 June 2013

Sebuah Rasa: Dua Pengamen Antara Bogor dan Tanjung Priok

Jreng....jreng....
Aku terkesiap ketika mendengar petikan gitar bernada cempreng itu. Mengusap mata sambil berusaha menyatukan diri dengan suasana. Perempuan gempal di sampingku sudah turun, jadi bangku di sampingku kosong begitu saja. Tepat di barisan bangku tempatku duduk, berdiri dua laki-laki dengan sebuah gitar kecil. Salah satu dari mereka berpenampilan menyeramkan, seperti body guard para penjahat yang ada di pilem-pilem. Rambutnya pirang gondrong, tubuh gelap berotot, jins sobek sana-sini, tato nangkring dimana-mana, dan....muka yang asli seraaamm. Sedangkan temannya berpenampilan biasa (ala brandal jalanan), tidak begitu menakutkan. Aku bergidik, imajinasiku melayang ke kejadian-kejadian kejam dalam bis di Ibukota. Duh, apalagi aku duduk sendiri di tengah bus begini. Bagaimana kalau mereka dengan paksa menarik tasku, lalu kalau aku kukuh menolak, mereka akan menusukku? Ah, semoga mereka bukan orang-orang kejam seperti itu.

Mereka dengan kompaknya menyanyikan sebuah lagu yang menurutku cukup menghibur dan membawa pesan moral.
"Mau berangkat, ucapkan?" Jreng....jreng
"Ucapkan 'Bismillah'" Sahut laki-laki bertato. Jreng....tik jreng, tik jreng. Nekonek jreng.... Joss!
"Udah nyampe di terminal, ucapkan?"
"Ucapkan 'Alhamdulillah'" Jreng....tikjreng, jrengjreng....!

Bukan lagu unik itu yang membuatku menyimpan kesan pada dua pengamen itu, melainkan pembicaraan di antara mereka. Ketika mereka selesai mengulurkan bungkus plastik sisa makanan ringan, mereka duduk di bangku seberangku, masih satu baris dengan bangkuku.
"Hanya Rasulullah lah tauladan nomor satu di dunia ini, mana ada manusia berakhlak sesempurna beliau"
Aku menangkap kalimat  yang terdengar tidak begitu jelas karena kerasnya deru mesin bus. Kalimat itu meluncur manis dari laki-laki bertato, sedangkan temannya mendengarkan dengan wajah serius. Aku semakin memasang telinga, detak jantungku menjadi tak karuan. Mereka menggunakan bahasa gaul Jakarta dan campuran bahasa daerah (tidak pasti daerah mana, Batak bukan, Sulawesi juga bukan, tapi miriplah dengan kedua bahasa itu), jadi tak semua kalimat bisa kutangkap.
"Kalau mau berakhlak mulia, jangan ikutin siapa-siapa, ikutin Nabi Muhammad aja" Lanjutnya lagi. Itu pembicaraan serius, aku bisa merasakan atmosfirnya.
"Lo tahu gak, Nabi Muhammad tu pernah meminjamkan uang pada orang, setelah tiga kali ditagih, orang itu tidak mau mengembalikan, sudah. Nabi tak pernah meminta lagi, dia ikhlaskan. Contoh nih, lo minjam uang ke gue, setelah sekian lama, gua tagih. Satu kali. Dua kali. Tapi hingga gua menagih di kali ketiga, lo tetap gak mau balikin tu duit, gue harus ikhlas. Gue lepas tu uang, anggap sedekah gue ke lo. Manusia gak ada yang sesempurna Nabi Muhammad, bro" Jelas laki-laki bertato sambil menggerak-gerakkan tangannya, temannya hanya mengangguk-angguk dengan mata yang masih menyorotkan keantusiasannya.
"Zaman sekarang, gak bisa menilai orang dari penampilan aja, Bro. Salah besar kalau lo menganggap baik seseorang dari fisik dan gaya berpakaian. Banyak yang berjas, sepatu mengkilap, rambut klimis, semua orang yang baru bertemu pasti menganggapnya laki-laki baik, tapi tahunya laki-laki hidung belang, koruptor! Ada cewek berjilbab, muka sendu, eh bunting di luar nikah!" Ungkap laki-laki bertato lagi.
"Jadi yang salah itu ajaran Islam atau apa, bang?" Temannya bertanya dengan menunjukkan rasa ingin tahunya.
"Islam gak pernah salah, tapi orang Islam yang gak mengenal, mendalami dan melaksanakan Islam dengan baik. Kalau boleh jujur, para mualaf itu lebih baik Islam-nya daripada orang-orang yang Islam sejak lahir. Islam keturunan maksudnya"
"Aih, kenapa pulak, bang? kan orang-orang Islam sejak lahir itu belajar ngaji dari kecil. Lebih faham Alquran lah dia, bang" Sambung temannya.
"Iya, tapi lo gak ingat, anak-anak kecil tu mau ngaji karena disuruh, dipaksa. Ketika besar, mereka lebih senang mengikuti hawa nafsu sendiri. Memang gak semua. Nah, sedangkan mualaf, mereka ber-Islam memang karena kemauan diri sendiri, hati. Mereka terus belajar dan mendalami Islam. Baca saja kisah para mualaf, mereka rata-rata saleh-saleha, orang-orang berpendidikan, tapi tanda kutip untuk mualaf yang masuk Islam karena mau menikahi wanita muslimah, ya. Tu motivasi awalnya pasti hanya wanita".
"Ah, setidaknya orang-orang Islam keturunan itu  bisa membedakan antara makanan halal dan haram, bang"
"Heh, ber-Islam itu gak cukup dengan hanya tidak memakan makanan haram, Bro. Binatang aja bisa kalau begitu. Burung dalam kurungan yang tiap hari hanya makan jagung, berarti dia Islam, gitu? Gak. Islam itu kita, semua perbuatan, hati, pergaulan, pemerintahan, negara, dunia, dan alam semesta, Islam itu universal bukan individual. Tidak memakan makanan haram itu hanya setitik debu dari Islam yang seluas alam semesta, langit dan bumi"
Temannya mengangguk-angguk.
"Ohya Bang, dalam Islam, dendam tu boleh gak?" Aku tersenyum mendengar pertanyaan polos itu.
"Gak, mana ada dendam dalam Islam. Islam tu nyuruh kita membalas keburukan orang dengan kebaikan"
Hanya itulah percakapan yang mampu terekam oleh ingatanku. Setelah kalimat terakhir itu, bus tiba di Terminal Tanjung Priok. Semua penumpang segera turun, termasuk aku dan dua pengamen itu. Kulihat mereka masih melanjutkan percakapan  sambil berjalan.

Ah, inilah indahnya melakukan perjalanan sendiri. Aku bisa lebih peka dengan keadaan sekitar, mataku lebih banyak melihat, telingaku lebih banyak mendengar, dan hatiku lebih banyak merasa dan menghayati perjalanan.

Monday, 17 June 2013

Bunuh Saja Aku, Sekarang!

Hi guys! Berikut saya susunin satu cerpen yang OKE banget, aku menemukannya di web Annida-Online. Pesan yang disampaikan dari cerpen ini really soft and smooth, tapi hard and sharp banget.

Jangan berpikir bahwa ini adalah cerita cinta yang melankolis ya.... Happy reading and then find out the surprising!

*________*

"Bunuh saja aku, sekarang!"  Teriakan sia-sia, karena kau pun tak akan pernah peduli.  Putus asa?  Ya, terlalu lelah dalam siksaan.  Terkadang aku muak dengan kelakuanmu yang serupa memanjakan, tapi diam-diam menikam.  Awalnya aku masih berbaik sangka.  Aku pikir kau memang tak menyadari sikapmu mampu membunuhku, perlahan, sangat menyiksa.  Tapi sering kudengar kerabat berusaha menyadarkanmu dengan ragam peringatan.  Kau acuh.  Oh, baik sangkaku keliru.  Kau bukannya tak tahu, tapi tak mau tahu.   

"Aku ingin mati sekarang!"  Kuulangi lagi.  Kau asyik masyuk, sibuk dengan kesenangan sendiri.

"Percuma.  Dia tak akan peduli."  Satu suara menyadarkan.  Kuperhatikan kondisinya tak jauh beda denganku.

"Kita senasib.  Aku pun tertawan.  Kita sama-sama menanti ajal."  Ucapnya pesismis.

"Siapa kamu?"  Aku baru menyadari dalam ketertawanan ini ada makhluk lain.  Selama ini aku sibuk memikirkan penderitaan diri, hingga tak lagi memperhatikan sekeliling.

"Tak penting.  Yang harus kau sadari, kau bukan satu-satunya tawanan lelaki itu.  Ada aku, juga beberapa teman lainnya.  Sudahlah, terima nasib saja.  Selama ini aku perhatikan kau sibuk berteriak."  Ia tampak tenang, meski kondisi jasadnya sangat memprihatinkan. Kucoba melebarkan pandangan dalam kegelapan, berusaha menangkap sosok-sosok lain yang katanya ada dalam ruangan yang sama.  Terkungkung bersama derita yang tak jauh berbeda.

"Ya, aku juga merasakan sakitnya.  Lihat tubuhku yang berdarah-darah, kerempeng, sangat menjijikkan."  Satu suara lagi dari sisi kanan.  Setelah mengerjap berkali-kali barulah kutangkap gambaran tubuhnya.  Oh Tuhan, mengerikan.  Mendadak mual aku menatap merah darah di badannya yang membusuk.

“Tak perlu teriak minta mati.  Perlahan tapi pasti habis juga nanti detak hidupmu, aku, juga kita semua.”  Kini sosok pertama tadi kembali bersuara.

“Justru itu, aku tak mau perlahan.  Lebih baik aku mati sekarang, segera.  Terlalu menyiksa hidup dalam rayuan kematian yang menggerayangi setiap saat.”  Bantahku. Hening, tak ada lagi sanggahan.  Mungkin masing-masing telah lelah, atau juga tak hendak memboroskan tenaga di antara secuil energi yang tersisa.

***
"Arrgh!!"  Eranganku berhasil menahan langkahmu pagi ini.  Aku tahu, biasanya jam segini kau akan bersiap, bergabung dalam kemacetan jalan raya demi menuju sebuah bangunan pencakar langit.  Kau menamainya kantor, gedung tempat mendulang harta. Dalam panik, bergegas kau menekan deretan nomor lalu berbincang singkat dan tergesa.  Aku masih berjuang menahan perih demikian hebat, hingga lebih dari hitungan tiga puluh menit kemudian seseorang datang.  Ia memeriksa kondisiku, memprediksi denyut nadi hidupku.

“Syukurlah masih tertolong.  Bisa rawat jalan, tak perlu diopname.”  Ucapan dari suara jernih lelaki berkaca mata itu justru menjadi berita buruk bagiku.  Aku dinyatakan selamat, hidup.  Ah, kadang aku heran untuk apa kau bersusah membayar dokter demi menyelamatkanku, jika kemudian kembali kau rampas kebebasan nafasku.  Pandai sekali kau bersandiwara, berpura panik dan terluka di hadapan dokter tadi.  Sementara di dalam keseharian justru kaulah yang paling bertanggung jawab atas luka dan penderitaanku. Setelah meninggalkan berlembar resep, dokter itu pergi.  Ah ya, tak hanya resep.  Sempat kudengar dokter tadi meninggalkan banyak petuah.  Ia minta kau menjagaku, memanjakan, juga memperhatikan kondisiku.  Aku lihat kau mengangguk.  Tapi entah mengapa aku tak yakin.  Aku tak pernah lagi percaya padamu.

***
Memasuki hari keempat masa pemulihanku, ternyata kau menepati janji.  Lama tak merasakan kenyamanan bernafas seperti ini.  Aku berfikir bahwa kau memang telah mengambil jalan insaf.  Entah mungkin kondisiku beberapa hari lalu demikian memprihatinkan, hingga berhasil mengetuk nurani dan akal sehatmu.  Setidaknya, aku kembali merdeka, bahkan menjadi demikian diperhatikan layaknya pangeran.  Kau demikian apik mengingat jadwal obat untukku.  Untuk perhatian ini, juga untuk siksaan yang telah kau matikan, aku ucapkan terimakasih. Saat-saat seperti ini, aku bisa mengenang kembali masa di mana kita masih saling melindungi.  Kita sahabat lama, telah hitungan tahun bersama.  Dulu sekali, tak pernah ada konflik di antara kita.  Kebersamaan kita berjalan harmonis.  Itu dulu sekali, sebelum secara misterius kau berubah sangar dan keji.  Entah dari mana kau belajar berlaku kejam.  Aku tak tahu kapan tepatnya, tapi usiamu baru beranjak meninggalkan masa remaja saat itu.  Perlahan aku mulai merasa simbiosis antara kita tak lagi mutualisme.  Entah apa sebabnya, entah karena kesalahan apa, entah karena provokasi siapa.  Sejak itu kau tak lagi ramah, menikam dan menyiksa hampir setiap bilangan hari.  Semakin lama semakin gila, hingga sering aku menahan perih. 

Sering aku menangis, meratap, berteriak.  Tapi yang membuatku heran, kau seakan tuli.  Entah di mana kenangan tentang keakraban persahabatan kita dulu.  Yang kau pedulikan hanya kepuasan batinmu.  Itu saja.  Dan itu berlanjut hingga bertahun-tahun lamanya. Kini, saat aku melihat keseriusanmu merawat lukaku, juga wajah panik saat aku sekarat, aku kembali percaya padamu.  Ternyata kau masih peduli, tak sebengis yang aku fikirkan.  Sekali lagi, aku ucapkan terimakasih.

***
“Bagaimana keadaanmu, teman?”  Ia menjengukku.  Ia yang mengaku sesama tawananmu.  Aku tahu selama kau sibuk memperhatikan kondisiku, terlepas jualah ia serta beberapa tawanan lainnya dari derita.  Kau hanya fokus pada kesembuhanku.  Aku bersyukur karena puncak sakitku kemarin ternyata justru membuka pintu kebebasan untukku juga mereka.  Ah, ternyata kau memang bijak dan masih memiliki akal sehat.  Setelah bertahun bagai tak punya hati.

“Jauh lebih baik.”  Aku tersenyum penuh kelegaan.

“Sekarang masih minta mati?”  Sindirnya santai.

“Haha!  Andai ia berlaku manis dan perhatian seperti ini, tak mungkin aku berharap cepat tutup usia.  Hidup terasa indah.”  Aku tergelak.  Lupa sudah derita lalu.

“Baguslah.  Berdoa saja semoga ia tak lagi kumat.”

***
Pagi masih berembun, saat aku baru hendak menikmati hirupan udara.  Satu pekan dalam perawatan aku benar-benar bisa bernafas lega.  Sendi tubuhku terasa nyaman.  Namun mendadak tatapanku membesar saat melihatmu kembali berniat menyumpalkan siksaan.  Tidak!  Kau kembali lagi pada kebiasaan lamamu.

“Apa yang akan kau lakukan!”  Aku berteriak, namun kau sambut dengan senyum santai.

“Rasanya satu minggu sudah cukup.”  Kalimat itu yang keluar dari bibirmu.

“Tidak! Hentikan.  Aku belum pulih benar.  Kau tahu aku bisa mati.”  Sia-sia aku mencegah.  Kau benar-benar sudah gila? Kulihat teman-teman kembali mengkerut pada posisinya, waspada akan siksaan yang bisa bersarang pada tubuh mereka.  Hanya satu pekan kau beri kami kebebasan?  Saat ini aku benar-benar telah kehilangan kepercayaan padamu.  Dan kau tahu, saat ini aku benar-benar ingin mati.

***
Hari berjalan seperti biasa, dalam belaian siksa yang membuat sesak.Tak kau perhatikan lagi kondisiku. Tak kau hiraukan lagi petuah dokter untuk menjagaku.  Butiran obat kemarin juga entah ke mana.Yang kau fikirkan hanyalah memuaskan hatimu, dengan memasang sikap acuh. Setiap hari aku berdoa agar kau mendapatkan kembali nuranimu, meski harapan kian tipis rasanya.  Percuma.  Kau dan siksaan itu memang menjadi takdir bagiku sebelum menghadap kematian.  Aku benar-benar yakin akan mati.  Tubuhku kian ringkih, lemah tanpa daya.  Tapi kau masih berfikir bahwa aku baik-baik saja. Hingga suatu malam aku merasakan sakit luar biasa.  Aku tak sanggup lagi.

“Aaarrrrrrgggghhhh!!”  Suaraku mengudara kembali.  Pasti lebih keras dari teriakan lalu.  Kau panik, pucat, dan gemetar, saat berusaha membuat panggilan kepada dokter yang sama.

“Gawat, harus segera dibawa ke rumah sakit.  Kita berdoa semoga masih sempat.”  Kalimat panik kini menular pada dokter itu.  Tak lama kemudian kudengar dengingan sirine ambulan, membuat suasana kian riuh. Sepanjang perjalanan aku melihat malaikat maut kian dekat.  Ah, mungkin inilah saatku.  Saat yang telah lama kunantikan.  Saat di mana aku dapat terlepas dari siksa.  Aku akan merdeka.  Semoga saja.  Aku merindukan mati?  Ha ha, lihatlah betapa siksamu membuatku berfikir bahwa kematian adalah jauh lebih indah.  Jemputlah aku sekarang, duhai Izrail.

***
Beragam peralatan canggih tak sanggup lagi memulihkanku.  Semakin dekat takdir itu.  Sudahlah, percuma saja, aku memang akan mati.  Hentikan alat pompa itu.  Kepintaran kalian tak akan mampu mengalahkan takdir. Kian pelan detakku, hingga nyaris hilang.  Mungkin hanya beberapa detik saja lagi sisa hidupku.  Dan kau?  Bahagiakah dengan kematianku?  Atau justru kau akan berteriak histeris, menangis meratap, menyesali keteledoran diri?  Kulirik matamu terpejam. Astaga, bodohnya!  Kepergianku tak mungkin mengundang reaksi darimu.  Kematianku hanya akan kau sikapi dengan diam, karena akulah detak hidupmu.  Kita akan mati bersama.  Kau, aku, serta seluruh tawananmu.  Baru kusadari mengapa kau demikian panik saat aku sekarat.  Karena saat berhenti hidupku, berarti mati juga seluruh organ tubuhmu.Tapi mengapa tak henti kau sesaki aku dengan lebih dari 4000 bahan kimia yang kian merapuhkan fungsi hidupku?  Atau memang kau tak tahu bahwa dalam zat yang kau tuang ke dalam tubuhku itu selalu membersamai bahan kimia karsinogenik yang mematikan.  Tak penting lagi rasanya untuk dibahas, karena kini terlambat.  Aku benar-benar tak sanggup lagi.  Mari akhiri derita ini.  Kita pergi bersama.  Aku berharap kematianmu akan sampai pada mereka yang memiliki kebiasaan sama sepertimu.  Mereka, para smoker itu, sudah seharusnya menjadikan kepergiaan kita sebagai pelajaran.

Selesai.

Thursday, 13 June 2013

Nasihat dari Al-Qamah

NASIHAT yang boleh diikuti dalam membina persahabatan ialah sebagaimana pesanan al-Qamah (seorang sahabat Rasulullah saw) kepada anaknya:

1. Pilihlah sahabat yang suka melindungi sahabatnya, dia adalah hiasan diri kita dan jika kita dalam kekurangan nafkah, dia suka mencukupi keperluan.

2. Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau menghulurkan tangan untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, dia suka menerima dengan rasa terharu, jikalau ia melihat kebaikan yang ada pada dirimu, dia suka menghitung-hitungka n (menyebutnya) .

3. Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau menghulurkan tangan untuk memberikan jasa baik atau bantuanmu, ia suka menerima dengan rasa terharu dan dianggap sangat berguna, dan jika ia mengetahui mengenai keburukan dirimu ia suka menutupinya.

4. Pilihlah sahabat yang jikalau engkau meminta sesuatu daripadanya, pasti ia memberi, jikalau engkau diam, dia mulai menyapamu dulu dan jika ada sesuatu kesukaran dan kesedihan yang menimpa dirimu, dia suka membantu dan meringankanmu serta menghiburkanmu.

5. Sahabat yang jikalau engkau berkata, ia suka membenarkan ucapan dan bukan selalu mempercayainya saja. Jikalau engkau mengemukakan sesuatu persoalan yang berat dia suka mengusahakannya dan jika engkau berselisih dengannya, dia suka mengalah untuk kepentinganmu. Dalam memilih sahabat kita hendaklah memilih sahabat yang baik agar segala matlamat dan hasrat untuk memperjuangkan Islam dapat dilaksanakan bersama-sama sahabat yang mulia.

Sumber: ayunaja.com

Nasihat: Memberi dari Sekarang

Bila tak seorang pun berbelas kasih pada kesulitan anda.Atau, tak ada yang mau merayakan keberhasilan anda. Atau tak seorang pun bersedia mendengarkan, memandang,memperhatikan apa pun pada diri anda. Jangan masukkan ke dalam hati. Manusia selalu disibukkan oleh urusannya sendiri.Manusia kebanyakan mendahulukan kepentingannya sendiri. Anda tak perlu memasukkan itu ke dalam hati. Karena hanya akan menyesakkan dan membebani langkah anda. Ringankan hidup anda dengan memberi pada orang lain. Semakin banyak anda memberi semakin mudah anda memikul hidup ini.

Berdirilah di depan jendela, pandanglah keluar.Tanyakan pada diri sendiri, apa yang bisa anda berikan pada dunia ini.Pasti ada alasan kuat mengapa anda hadir di sini.Bukan untuk merengek atau meminta dunia menyanjung anda. Keberadaan anda bukan untuk kesia-siaan.

Bahkan seekor cacing pun dihidupkan untuk menggemburkan tanah.Dan, sebongkah batu dipadatkan untuk menahan gunung. Alangkah hebatnya anda dengan segala kekuatan yang takdimiliki siapapun untuk mengubah dunia. Itu hanya terwujud bila anda mau memberikannya

sumber:www.gsog.org

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...