Friday, 19 June 2015

Sinetron Zahra dan Realita Pernikahan Bawah Umur di Turki



Diary Of The Turkish Child Bride—by Muhammad Farhan Ahmed

The day I put on the glossy red lip colour
And a white dress plump as an umbrella
A big sigh of relief let out my own mother
Glimmered dribbling teardrops in my eyes
Saw I around smiles and heard melodies
Dreams, desires that hour reached demise
Rewarded a broomstick my ominous fate
My pen to a world of longings migrated
Bitter words of savagery, abuse and hate
Drop by drop bleed my crestfallen heart
When cold-blooded hands pull my hair
My shrieks, wails are called excuses smart
The blood-drops on my fingers I gaze oft
Shroud I my scarlet face beneath a pillow
Recalling all the blows on my soul so soft
Father's callous words echo in my mind
''A burden you are! A weight, a curse
My life devoid of you shall blisses find!''
To the other world will I soon run away
Even a mother's love haven't I here got
The final torment shall I suffer that day
And the last pain on my exhausted skin 

Satu bulan terakhir saya disibukkan dengan masa akhir perkuliahan, baik itu seminar yang sudah saya laksanakan 2 hari lalu maupun sidang (ujian) yang insallah akan saya lakukan hari Rabu besok. Di tengah-tengah kesibukan tersebut, saya masih menyempatkan diri untuk menonton salah satu sinetron Turki yang baru-baru ini tayang di SCTV dengan judul Zahra atau Kucuk Gelin (Little Bride) dalam bahasa aslinya.

Kucuk Gelin tayang setiap Minggu malam pukul 20.30 di Turki dan sekarang memasuki episode terakhir season 2. Di Indonesia, Zahra tayang pukul 14.30 setiap hari. Saya cukup menikmati alur dan jalan ceritanya. Terlebih saat mengetahui rating dan sharing sinetron ini selalu masuk tiga besar di Turki sana. Beberapa teman facebook yang memang berdomisili di Turki mengakui bahwa sinetron ini cukup bagus dan memberikan pesan moral yang kuat bagi masayarakat Turki khususnya. Karena sinetron ini pula teman saya bertambah. Seorang gadis cantik bernama Marina asal Serbia menambahkan saya di facebook hingga kemudian kita diskusi panjang terkait sinetron Kucuk Gelin ini. 

Awal menonton, saya dibuat tidak habis pikir pada tema yang dipilih oleh sang sutradara. Pernikahan di bawah umur? Benarkah kejadian seperti itu masih terjadi di Turki sana? Hingga kemudian rasa tidak habis pikir saya tersebut berubah menjadi penasaran. Saya tidak mau mati karena rasa penasaran, karena itu saya berusaha mencari informasi terkait hal tersebut di internet.

Voilla...! Ternyata masalah tentang pernikahan di bawah umur di Turki bisa saya dapatkan dengan mudah. Tidak hanya web berbahasa Turki yang membahasnya, namun juga web-web berbahasa Inggris, baik itu dalam berita nasional maupun dunia. 

Menurut informasi dari Dr Erhan Tunç, asisten profesor di Gaziantep University, 1 dari 3 pernikahan di Turki melibatkan setidaknya satu pihak di bawah 18 tahun. Penelitiannya juga mengemukakan bahwa 82% dari pengantin anak di Turki adalah para buta huruf. Rekannya, asisten profesor Sevilay Şahin, menambahkan informasi bahwa dalam tiga tahun terakhir ada 134.629 perempuan di bawah 18 tahun  menikah.  Statistik lain menyebutkan dalam satu dekade terakhir ada lebih dari 500.000 anak di Turki melakukan pernikahan. 
Penderitaan Zahra
Indonesia sendiri pernah mengalami masa-masa saat anak perempuan harus menikah di bawah umur. Novel seperti Siti Nurbaya adalah salah satu contoh yang menuliskan kejadian pada masa-masa tersebut. Realita ini bahkan terjadi dalam keluarga saya sendiri. Ia adalah Bibi saya. Saat bercerita satu tahun lalu, ia mengungkapkan bahwa pernikahan pertamanya terjadi akibat perjodohan saat umurnya masih 16 tahun. Akibatnya saat bercerai ia tidak merasa telah melakukan sebuah kesalahan. 

Syukurnya pernikahan di bawah umur di Indonesia sudah tidak semarak dulu lagi. Namun tidak di luar sana, seperti Turki, Nigeria, dan Bangladesh. Bahkan di Bangladesh, 20% anak perempuan menikah sebelum  usia 15 tahun dan 66% menikah sebelum usia 18 tahun.
“Penyebab pernikahan anak di Bangladesh sangatlah kompleks dan bervariasi. Namun praktek ini didorong oleh adanya anggapan bahwa anak laki-laki lebih bernilai dari anak perempuan. Selain itu kemiskinan juga memengaruhi hal ini. Keluarga miskin menikahkan anak perempuan mereka sejak muda karena tekanan ekonomi dalam keluarga, dan semakin muda gadis ini dinikahkan maka mas kawinnya akan lebih murah," kata Kanwal Ahluwalia, Gender Adviser di Children Charity Plan Inggris.
Di Turki, pernikahan anak di bawah umur masih menjadi budaya, terutama di daerah bagian Timur yang berbatasan langsung dengan Suriah dan sebagainya.  Proporsi pernikahan dengan peserta di bawah 16 tahun meningkat 60% di pusat Sanliurfa yang menjadi setting dalam sintron Kucuk Gelin (Zahra). Jadi bisa dikatakan bahwa karakter Zahra dan Ali dalam sinetron ini adalah perwakilan dari ratusan ribu anak dan remaja di Turki yang dipaksa menikah. 

Dalam sinetron, Bu Guru Melek sudah melaporkan pernikahan Zahra yang saat itu masih berumur 14 tahun. Namun keluarga Kirman memanipulasi umur Zahra dengan surat keterangan palsu dokter yang menyebutkan umur Zahra sudah 16 tahun (artinya sudah cukup umur untuk menikah). Ternyata, cara inilah yang memang dijadikan senjata para orangtua di Turki agar bisa menikahkan anak-anak mereka yang belum cukup umur. Harian Milliyet telah menerbitkan sebuah artikel yang mengutip selusin kesaksian tentang situasi di desa Dundarli di wilayah pusat Anatolia. Di sana para gadis sudah bertunangan saat masih duduk di bangku SD lalu menikah di umur 11 hingga 14 tahun. 

Pernikahan di bawah umur tentu saja tidak bisa terus dibiarkan. Karena kebanyakan dari mereka tidak paham apa manfaat dari pernikahan. Para gadis kecil yang masih senang bermain dengan boneka tiba-tiba harus hidup mengabdi pada seorang laki-laki asing. Seorang wanita berumur 16 tahun yang sudah punya satu anak (korban pemaksaan pernikahan) bertutur bahwa ia tidak tahu apa artinya memiliki seorang suami. 

Pernikahan di bawah umur juga erat hubungannya dengan kemiskinan dan buta huruf. Pernikahan tersebut ibarat sebuah bencana bagi para pengantin. Mereka harus mengubur impian dan terpaksa berperan sebagai seorang istri yang belum mereka pahami maknanya. Seperti Zahra yang bercita-cita tinggi menjadi seorang guru tiba-tiba harus mengubur impian tersebut. Usai ijab-kabul dia dituntut hidup dalam rumah keluarga besar Kirman dan melayani keluarga tersebut layaknya seorang menantu dewasa. Padahal ia masih senang bermain-main dengan sang adik, masih senang bicara dengan boneka, dan punya semangat tinggi untuk sekolah.

Mirisnya, penderitaan para pengantin kecil wanita tidaklah cukup sampai di situ saja. Fakta berbicara bahwa kebanyakan para pengantin laki-laki di bawah umur tidak bisa memainkan perannya sebagai suami yang baik. Tentu saja hal itu bisa dimaklumi karena mereka sendiri masih belum mengerti apa alasannya melindungi sang istri. Mereka tidak paham mengapa harus hidup bersama seorang wanita yang sebelumnya tidak ada hubungan apa pun. Wanita itu bukan ibunya, bukan saudara perempuannya, bukan sepupunya, lalu kenapa ia harus bertanggung jawab untuk melindungi? 
Adegan jangan ditiru, ya :)
Dalam hal ini, saya melihat langsung dalam karakter Ali. Meskipun umurnya sudah mencapai 18 atau 19, tetap saja pernikahan di umur tersebut masih dianggap terlalu dini bagi seorang laki-laki. Dalam sinetron diperlihatkan bagaimana Ali sama sekali tidak menaruh kasihan pada Zahra. Ia memperlakukan Zahra layaknya seorang pembantu yang bisa disuruh-suruh. Kebiasaan Ali yang suka mengkonsumsi obat-obatan terlarang membuatnya jadi laki-laki kasar dan sering memukuli Zahra tanpa perikemanusiaan. Saat ketahuan akan mengambil uang milik Zahra yang akan dipakai untuk biaya pengobatan, Ali tak segan-segan memukuli hingga menendang Zahra berkali-kali, padahal saat itu Zahra sedang hamil. Ali selalu menganggap semua kejahatan yang ia lakukan bukan sebuah kesalahan. Semua itu ia anggap sepadan dengan perbuatan keluarganya yang telah memasukkannya dalam jurang gelap pernikahan.
Protes masyarakat. http://www.hurriyetdailynews.com/
Film produksi Turki tentang pernikahan di bawah umur
Pernikahan di bawah umur sepertinya sudah menjadi sorotan perhatian publik di Turki sana. Saya melihat ada beberapa demonstrasi yang menentang keras hal tersebut. Selain melalui sinetron Kucuk Gelin (Zahra), Turki juga menampilkan betapa mengerikan sebuah pernikahan di bawah umur dari sebuah film berjudul Halam Geldi (Bibiku Datang) yang tayang Januari 2014 lalu. Film ini berkisah tentang kedatangan menstruasi pertama seorang gadis kecil yang selama ini kita anggap sebagai fase baru. Namun di sana, kedatangan menstruasi adalah pertanda kiamat. Karena itu adalah pertanda ia sudah bisa menghasilkan sel telur dan diperbolehkan untuk menikah. Para orangtua di sana akan mencarikan seorang suami saat anak perempuan mereka sudah mendapatkan menstruasi pertama. 

Di Indonesia, meski tidak marak, saya yakin pernikahan di bawah umur masih terjadi. Mungkin hanya karena tidak terjangkau media. Buktinya beberapa teman masa kecil saya di kampung sana sudah menggendong anak sejak umur mereka masih di 16 atau 17. Miris memang.  Jika setelah menonton drama ini tidak tersentuh juga, saya tidak tahu harus bicara apa lagi.

References:
http://www.al-monitor.com/pulse/originals/2014/01/turkey-marriage-child-brides-poverty-education-religion.html
http://nsnbc.me/2013/10/14/one-three-child-marriage-turkey/&prev=search
http://female.kompas.com/read/2014/03/07/1037546/Jutaan.Perempuan.Menikah.di.Bawah.Umur




Wednesday, 17 June 2015

Tentang Mereka...

Masjid pesantren
Siang itu adalah hari yang membahagiakan, sekaligus menakutkanku. Setelah hampir 3 tahun meninggalkan pesantren, baru hari itu aku kembali dipertemukan dengan guru-guru yang dulu mendidik saat umurku masih di bawah 16. Tidak kusangka, field trip yang mereka lakukan akan membawa sampai ke kota tempatku berkuliah.

Aku sangat bahagia atas kedatangan mereka, namun juga malu karena tidak bisa ikut serta melakukan penyambutan akibat jadwal kuliah seminar yang padat setiap harinya. Temanku Erma sudah berkali-kali menghubungi, memintaku datang ke kampus IPB Dramaga tempat para guru dan adik kelas menginap. Namun tetap saja aku tak kunjung punya waktu.

Kesempatanku untuk bertemu baru datang saat mereka berkunjung ke Kebun Raya Bogor, tepat di Minggu siang. Sebenarnya aku cukup lelah karena pada Sabtu malam harus mengikuti Malam Keakraban dengan profesor dan teman-teman satu jurusan. Acara tersebut menuntutku tidak bisa tidur cukup. Tapi demi keluarga dari pesantren, semua lelah itu tidak ada artinya. Sejak malam aku sudah tidak sabar untuk bertemu mereka. Mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan itu.

Mereka menyambutku dengan hangat. Tidak pernah kusangka selama ini mereka mengikuti perkembanganku meski sudah lulus dari pesantren. Mereka tahu tentang hobi menulisku. Terutama Ustadzah yang dulu mengajar Bahasa Indonesia, dengan bangga beliau berkomentar, “Sejak dulu Sofi ini memang hobi menulis. Tapi tulisannya dibagi-bagikan pada teman-temannya. Jadi teman-temannya dapat nilai bagus.”

Kebahagiaan lainnya saat aku bisa berjalan beriringan dengan ustadzah Ida yang dulu dengan sabar mengajari tentang pertanian. Tidak peduli teriknya matahari pada jam-jam tidur siang, beliau tetap mendampingi kami. Aku senang saat beliau mengatakan teknologi pertanian di pesantren sudah lebih maju saat ini. Buktinya dari tabungan hasil panen bawang merah, mereka bisa melakukan field trip sampai ke Bogor. Aku juga kaget saat beliau memberi tahu bawang merah bisa diproduksi di Riau, bahkan di tanah gambut aroma bawang merah bisa lebih kuat. Bertahun-tahun aku belajar pertanian, tapi informasi ini baru aku dapatkan dari beliau.

Acara kami di Kebun Raya Bogor adalah sharing alumni. Siang itu sudah hadir temanku Erma Fitriani, lalu Kak Ikrom Mustofa, dan Kak Fendri Ahmad yang sekarang menjadi dosen di Diploma IPB. Kami berempat berasal dari pesantren yang sama, Pesantren Teknologi Riau, dan sama-sama berkuliah di almamater yang sama, Institut Pertanian Bogor.

Kak Fendri yang siang itu mengenakan kemeja menyampaikan cerita pertama kali. Aku tahu, para adik kelas yang memperhatikan kami pasti sedang diliputi kekaguman. Namun aku juga tahu, bagaimana pun hebatnya kami di mata mereka, di mata sendiri kami bukanlah siapa-siapa. Semua yang indah dalam pandangan orang lain, semata-mata karena Allah menutupi aib-aib kita.


Fendri Ahmad


Kak Fendri tidak hanya kakak kelasku, tapi juga dosen yang beberapa kali pernah mengajarku. Selama hampir tiga tahun, tidak banyak percakapan yang terjadi antara aku dan dia. Terkadang aku terlalu malu untuk sekadar menyapa dan beramah-tamah dengan orang-orang yang kukenal. Bahkan saat berpapasan, aku lebih sering pura-pura tidak melihat. Meski tidak sedikit pun aku berniat untuk sombong, aku tahu kelakuanku itu cukup wajar jika dikategorikan sebagai kesombongan. 

Tidak banyak cerita yang bisa kurekam tentang Kak Fendri, karena memang saat aku masuk ke Pesantren, ia sudah lulus. Usia kami tertaut cukup jauh. Aku tahu cerita tentangnya dari pertemuan siang itu. Di sana ia menceritakan perjalanannya dimulai dari alasan masuk pesantren hingga peristiwa yang membuatnya berhasil masuk ke IPB melalui jalur Beasiswa Santri Berprestasi dari Kemenag, ditambah cerita tentang bagaimana ia bisa diterima sebagai salah satu dosen di Diploma IPB. Sekarang ia sudah memiliki seorang istri dan sedang menanti kelahiran anak pertama. Semua skenario hidupnya itu ia katakan sebagai kehendak Allah, karena memang menurutnya, segala yang ia dapatkan adalah hal-hal yang sebelumnya dirasa mustahil. 


Ikrom Mustofa


Jasa Kak Ikrom padaku tidak terhitung banyaknya, dan sampai sekarang aku belum bisa membalas sedikit pun. Dia yang menelepon saat aku dinyatakan diterima di kampus IPB, dia juga yang dengan sabar mengetik sms untuk memberi tahu rute dari Riau menuju Bogor, dan dia juga yang sudah menjemputku di terminal Damri tiga tahun lalu. Urusan tempat tinggalku selama dua minggu sebelum masuk ke asrama pun dia yang mengurus. Seperti yang sudah kuceritakan pada cerita-cerita sebelumnya, aku yang belum pernah sekali pun ke Jawa, belum pernah naik pesawat, memutuskan untuk berangkat seorang diri. Aku sadar diri, selama ini akulah yang paling berniat untuk melanjutkan kuliah di tengah ekonomi keluarga yang sedang sulit, jadi aku tidak mau membebani Bapak untuk mengantar sampai ke Bogor.  

Sebagai gantinya, aku jadi menyusahkan Kak Ikrom di masa-masa awal kedatangan di Bogor. Ya, tetapi setiap orang baik pasti akan mendapatkan ganjaran terbaik. Tiga tahun hampir berlalu, dan kurasa, kebaikan demi kebaikan selalu datang padanya.  Dia juga punya banyak teman. Hampir semua kakak tingat dekat dengannya. Kurasa, tidak banyak manusia di dunia ini yang bisa dicintai banyak orang. 

Pada pertemuan kali itu di Kebun Raya, dia menceritakan perjalanannya sejak masa SMP hingga sekarang. Saat SMP, cita-citanya hanya satu yaitu agar bisa diterima di SMA Plus yang merupakan SMA paling bergengsi di Pekanbaru. Demi impian itu pula ia belajar dengan sungguh-sungguh hingga bisa mengikuti perlombaan-perlombaan antar sekolah dan pulang sebagai pemenang. Namun karena beberapa persyaratan tidak bisa dipenuhi, dia gagal bersekolah di SMA yang paling diidam-idamkannya tersebut. Dan akhirnya, dengan terpaksa, dia menerima keputusan keluarga untuk melanjutkan sekolah di Pesantren Teknologi Riau.

Saat aku pertama kali masuk pesantren, Kak Ikrom duduk di kelas 11. Ia masuk dalam jajaran pengurus divisi bahasa dalam Organisasi Santri. Meski tidak begitu saling kenal, namun sedikit-sedikit aku mengenalnya. Kurasa tidak ada satu pun warga pesantren yang tidak mengenal Kak Ikrom. Keberhasilannya dalam beberapa lomba skala provinsi menjadi bahan sanjungan semua orang. Ia juga pernah mengalahkan utusan lomba dari SMA Plus (SMA yang dulu ia idam-idamkan) dalam sebuah perlombaan Matematika bergengsi. Karena kelebihan-kelebihan itu pula, guru Matematika kami selalu memuji-mujinya di depan kelas. Berkali-kali guru tersebut mengatakan bahwa Kak Ikrom adalah manusia Matematika sempurna. 

Selama di pesantren, ia punya hajat tinggi agar bisa lolos ke UGM. Bahkan teman-teman menambahkan kata UGM di belakang nama panggilannya. Di akhir masa pesantren, dia mendaftar ke UGM melalui jalur undangan, lalu mendaftar juga di IPB melalui jalur Beasiswa Santri Berprestasi. Keduanya lolos. Namun bukan UGM yang ia pilih. Buktinya sampai sekarang ia masih aktif di jurusan Meteorologi dan Geofisika fakultas FMIPA Institut Pertanian Bogor. Apa alasannya menolak UGM? Kurasa ia ingin mengalahkan utusan UGM dalam seleksi Mahasiswa Berprestasi Nasional sebagaimana ia pernah mengalahkan utusan SMA Plus saat di pesantren dulu (just a joke, aku lupa apa alasannya).

Prestasi Kak Ikrom terus berlanjut saat di perkuliahan. Ia sudah dua kali ke Malaysia untuk presentasi paper, lalu ke Jepang untuk suatu program, dan entah ke mana lagi di kota-kota Indonesia. Selain sibuk berorganisasi, mengejar prestasi akademik, ia juga suka menulis. Kalian bisa membaca tulisan-tulisannya dalam buku Sebuah Warna atau dalam blog pribadi www.ikrommustofa.com. Kudengar dia punya impian menjadi seorang penulis buku fiksi tentang perjalanan (mirip travelogue). Semoga Allah mengabulkan impian tersebut.

Semester ini ia sudah duduk di tingkat akhir, dan lagi-lagi satu impiannya terkabul. Sekitar satu atau dua bulan lalu, setelah melewati seleksi dan karantina ,ia dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi IPB. Dan sekarang sedang menanti pengumuman Mapres Nasional. Jangan lupa doanya. Semoga doa yang baik bisa kembali kepada kita. Sebagai dukungan, sahabat-sahabatku yang baik hati bisa melihat video berikut. 




Erma Fitriani


Aku mengenalnya saat hari pertama masuk asrama pesantren, tanggal 06 Juni 2009. Kesan pertama yang dulu kutangkap darinya adalah kesombongan. Ia terlihat sombong karena ke mana pun pergi selalu bersama seorang teman yang juga berasal dari Babussalam (pesantren yang cukup bergengsi di Pekanbaru). Seragam Babussalam warna hijau selalu ia pakai dan lagi-lagi aku menganggapnya sebagai kesombongan. Apalagi saat masa-masa orientasi, dia hampir tidak pernah tersenyum apalagi bicara denganku.

Di kelas 10, aku tidak berinteraksi banyak dengannya. Yang aku tahu dia adalah golongan santriwati yang sangat giat belajar dan taat peraturan.  Sementara aku, untuk bernapas saja sepertinya aku harus belajar lagi. Lingkungan pesantren membuatku terkejut dan berontak. Setiap malam aku menangis, mengarang-ngarang alasan untuk minta pindah. Jadi ketika pengambilan rapor semester 1 Erma masuk ranking 3 besar, sementara aku berada di ranking 15, aku tidak menyesal sama sekali. Dia memang pantas mendapatkan itu.

Naik ke kelas 11, aku dan Erma menempati kamar yang sama dengan 15 santriwati lainnya. Saat itulah pertemanan antara kami mulai terjalin lebih dekat. Seringkali aku menggelar kasurku di samping kasurnya. Aku berharap bisa tertular semangat belajarnya yang tak mengenal lelah. Termasuk agar aku rajin bangun jauh-jauh sebelum azan Subuh berkumandang dari masjid pesantren. Kala itu, kami sering berdiskusi tentang pelajaran Kimia.

Di kelas 12 saat kami duduk di jabatan Organisasi Santri, ia menjabat sebagai ketua divisi Ta’lim bagian putri, sementara aku lebih suka mengurusi kebersihan dan kegiatan konsulat dalam divisi RTK (Rumah Tangga dan Konsulat). Di saat teman-teman satu angkatan mulai bermalas-malasan ke Masjid, Erma sebaliknya. Dia tidak pernah absen shalat berjamaah di Masjid. Pertama karena memang tugasnya mengabsen adik-adik kelas, kedua (kuperhatikan) karena memang dia melakukan itu dengan ikhlas. Aku selalu iri pada semangatnya. Jujur, hanya ada 5 orang temanku di pesantren yang membuatku selalu termotivasi sekaligus iri, dan Erma adalah salah satunya.

Berbeda dengan kamarku bersama tiga orang teman yang jarang sekali dikunjungi adik kelas karena dianggap angker (kami memang sepakat untuk tidak terlalu akrab dengan adik kelas), kamar Erma selalu menjadi tujuan konsultasi para adik kelas. Konsultasi apa pun. Dimulai dari urusan belajar hingga asmara.

Masa-masa akhir di Pesantren, aku, Erma, dan delapan teman dipilih untuk mengikuti seleksi Program Beasiswa Santri Berprestasi yang dilaksanakan di salah satu hotel di Pekanbaru. Entah bagaimana ceritanya, kami berdua memilih universitas yang sama, IPB. Aku sendiri tida punya bayangan seperti apa IPB itu, tujuanku satu-satunya adalah bisa kuliah di Jawa. Karena merasa IPB tidak begitu diminati, jadi aku memilihnya. Tentu agar peluang lulusku semakin besar. Benar saja, di antara 70 santri dari seantero Riau yang ikut seleksi, hanya 3 orang saja yang memilih IPB. Tapi di luar sana, di provinsi lain, pesaing kami tidak kalah banyaknya.

Seleksi selesai digelar. Usai wisuda kami pulang ke rumah masing-masing sambil menanti pengumuman lulus atau tidak. Sebagai antisipasi, Erma mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri ke salah satu universitas negeri yang ada di Riau. Aku? Aku sudah siap-siap untuk berangkat ke Kepri. Jika tidak lulus, satu-satunya jalan untukku adalah bekerja. Masa penantian itu adalah titik nadhir. Aku sampai mengurung diri di kamar dan tidak mau makan saking inginnya melanjutkan kuliah. Bapak juga ingin anaknya berkuliah, tapi keadaan saat itu tidak memungkinkan. Sering  aku melihat Bapak melamun dengan wajah resah. Ia pasti sedang mencemaskanku. 

Suatu siang, aku mendapat telepon dari Kak Ikrom. Tidak terucap lagi rasa syukurku saat diberi tahu lulus di IPB. Hari itu juga, Bapak dan Ibu membuat persiapan. Mereka pergi ke kecamatan untuk membelikan koper dan pakaian-pakaian baru untukku. Saat itu aku hanya tahu tentang satu hal, yaitu kebahagiaan yang meluap-luap. Aku sama sekali tidak tahu bahwa salah satu temanku sedang berada di titik tergelap dalam hidupnya. Ya, Erma tidak masuk dalam daftar mereka yang lulus.

Baru kemaren, saat pertemuan di Kebun Raya, aku tahu betapa terpuruknya Erma kala itu. Saat bercerita , air matanya tumpah. Ia sangat ingin berkuliah di IPB, tapi jalan itu seolah sudah tertutup. Akibat kekecewaan sekaligus kesedihan yang amat sangat, ia sampai jatuh sakit. Hingga akhirnya Allah menunjukkan kuasa-Nya. Rejeki seorang manusia di dunia ini tidak mungkin tertukar. 

Suatu malam, ia menerima banyak telepon dari pihak sekolah dan Departemen Agama Riau yang menyatakan ia lulus di IPB. Ada dua orang peserta yang mengundurkan diri, dan dia dipilih sebagai salah satu pengganti. Dalam waktu 3 hari ia harus sudah sampai di Bogor. Dan akhirnya, di sinilah dia. Allah menuliskan cerita kami untuk berkuliah di kota yang sama. 

Meski sama-sama di Bogor, aku hanya bisa bertemu dengannya sesekali. Mininal satu kali dalam sebulan. Ini disebabkan kampus S1 dan Diploma terpisah jarak yang cukup jauh.  Biarpun begitu, aku selalu menanyakan dia pada teman-temanku yang berkunjung ke kampus Dramaga dan kebetulan bertemu dengannya. Aku juga sering mengunjungi dinding facebooknya untuk melihat hal-hal yang ia bagikan di sana. 

Erma sekarang tidak berbeda dengan Erma yang kukenal bertahun-tahun yang lalu. Dia tetap pekerja keras. Pernah aku masuk ke kamar kosnya dan mendapati tulisan-tulisan semangat memenuhi segala sisi dinding. Dia berjuang keras untuk melewati tahu pertama IPB yang dikenal sangat keras. Bahkan kemaren di tengah-tengah kesibukan melakukan penyambutan untuk keluarga dari pesantren, Erma menyempat-nyempatan belajar untuk ujiannya esok hari. Sambil menunggu para ustadzah dan adik kelas belanja batik di Pusat Grosir Bogor, ia mengajakku ke salah satu restoran fast food untuk belajar. Selain hal belajar, Erma juga aktif berbisnis telur puyuh.
“Erma nggak mikirin soal untung dan rugi, Sof. Ini hanya untuk melatih mental wirausaha.” Tuturnya.
Aku mengangguk. Tentu saja aku memahami hal itu jauh-jauh hari sebelum ia memberi tahu. Dia berasal dari keluarga mapan, uang bukanlah masalah baginya. Lagi-lagi ia membuatku iri. Aku yang selama ini berkoar-koar tentang usaha puyuh ternyata tak punya keberanian seteguh dia. 


Epilog...

Terimakasih untuk inspirasi yang selalu kalian tebarkan. Semoga kemudahan dan berkah selalu menyertai kita. Aku mengucapkan permohonan maaf apabila selama ini banyak menyakiti, mengecewakan, dan banyak memilih tidak peduli. Bagaimana pun, kalian adalah keluargaku yang tidak ternilai.

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam segala urusannya." (QS. Ath-Thalaq : 4).

"Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.(At-Taubah [9]: 105)




Sunday, 14 June 2015

Inside...


View from my window

Sore itu saya sendirian di kamar yang ada di lantai dua. Biasanya saat sendiri seperti itu, saya lebih suka menulis di laptop atau menonton televisi. Tapi kali itu tidak, saya memilih untuk melongokkan kepala dengan susah payah agar mampu menjangkau lanskap luar dari jendela kecil yang ada di atas lemari. 

Di luar hujan perlahan turun. Selama dua tahun mendiami rumah kosan ini, baru kali ini saya melihat keluar dengan penuh penghayatan. Mungkin karena saya sedang sendirian sehingga tidak perlu takut dikatai ‘merenungi nasib’ oleh teman-teman kamar. 

Atap-atap rumah yang basah dan gedung sebuah plaza kosong di ujung sana menjadi pusat perhatian saya. Hujan selalu membawa haru. Entah dari mana asalnya, tiap kali sendirian menyaksikan hujan saya selalu memikirkan banyak hal. Saya senang dengan kedatangan hujan sejak bisa meresapi ayat-ayat Allah yang berkata bahwa karena hujan itulah bumi yang kering kembali dihidupkan. Namun di lain sisi, hujan juga membawa pikiran saya jauh melintasi waktu.

Saya mengingat kembali masa-masa kecil dulu, lalu remaja, dan diri saya yang sekarang. Saya sangat menyadari betapa waktu telah melaju dengan kecepatan yang luar biasa. Dan saya yakin, waktu sekarang pun sudah pasti akan berlari seumpama singa lapar yang mengejar binatang buruannya. Masa muda saya ini tentu akan tertinggal di belakang hanya dalam sekedipan mata.  Lalu saya akan bertanya, apakah kehidupan hanya seperti ini saja? Kita dilahirkan, hidup, mengejar cita-cita, memiliki keluarga, melihat anak-anak tumbuh, tua, dan meninggal. Apakah semua yang sudah diusahakan dengan susah payah oleh para manusia hanya akan ditinggalkan begitu saja?   Apakah hanya untuk itu?

Di titik tersebut saya menyanjung firman Allah dalam Al quran yang berhasil menjawab semua pertanyaan tersebut, bahwa semua ini tidaklah diciptakan untuk sebuah kesia-siaan belaka. Hidup bukanlah sebatas  wahana untuk senda gurau. Allah sudah memberi tahu dengan jelas bahwa kehidupan kita di dunia ini tidak lain hanyalah untuk menyembah-Nya. Ya, hanya itu saja. 

Tapi mengapa setelah mengetahui semua kebenaran tersebut, saya tak juga kunjung menjadi manusia yang lebih baik? Kenapa ibadah saya masih buruk? Kenapa iman saya sering menukik turun seumpama burung lapar yang mengambil biji-bijian di dasar jurang? Kenapa kata-kata yang keluar dari lisan saya masih dipenuhi dusta, fitnah, dan hujatan? Kenapa saya masih menempatkan harta dan kedudukan di titik atas pada tumpukan impian? Kenapa dunia tetap saja terlihat sangat indah memesona, sementara akhirat saya anggap seperti sebuah kehidupan yang masih sangat jauh untuk dituju?

Saya paham. Ternyata di dunia ini, banyak manusia bejat yang sebenarnya memahami kebenaran. Di titik-titik tetentu mereka sadar bahwa kehidupan benar-benar tidak ada artinya jika hanya dihabiskan dengan hura-hura dan senda gurau. Karena semua tawa, teman, kenikmatan itu akan hilang dalam sekejap.   Dan yang tertinggal hanyalah hampa. Kosong. Dan mungkin, sebuah sesal.

Saya tidak begitu pandai menuliskan segala sesuatu yang berkecamuk dalam pikiran. Namun kira-kira begitulah. Saya sering merasakan kepedihan yang tidak diketahui dari mana asalnya. Tiap kali mengingat tentang ibadah saya yang tidak sebaik Bapak atau wanita saliha lain, saya merasakan sesak sendiri. Saya sering menangis tanpa ada sebab. Karena seringkali hati saya tiba-tiba dilingkupi rasa sakit, pedih, haru, yang datang tanpa alasan. Terkadang pula saya seperti merindukan sebuah tempat, tapi tidak tahu di mana tempat itu berada. Sampai-sampai saya pernah punya niat kuat untuk mendatangi psikiater karena merasa semua yang terjadi dalam diri saya bukanlah sesuatu yang normal.

Tengah malam, saat semua teman-teman kamar sudah nyenyak tidur, seringkali saya masih tidak bisa terpejam. Saya sering memandangi mereka sambil bertanya-tanya, “Bagaimana mereka bisa tidur dengan mudah? Apakah mereka tidak pernah memikirkan, menakutkan, dan mengkhawatirkan banyak hal seperti saya?”


Friday, 12 June 2015

Bogor Mulai Dingin, Ini Outwear Favoritku!



Hidup di kota hujan, tentu saja harus sudah siap dengan kedatangan hujan kapan saja. Beberapa hari terakhir, hujan selalu mengguyur kota ini setiap sore hari. Kuperhatikan selama 3 tahun ini, ada dua jenis hujan yang dimiliki kota Bogor berdasarkan suhunya. Pertama adalah hujan yang tidak dingin. Maksudnya meskipun sedang hujan, tapi suhu Bogor tetap hangat. Kedua adalah hujan dingin. Artinya suhu di Bogor jadi dingin saat hujan turun. Nah, hujan beberapa hari terakhir masuk ke dalam kategori kedua. Mungkin karena waktu datangnya selalu di sore hari saat matahari hampir atau sudah tenggelam. Karena itulah, tiap kali hujan turun, AC kamar selalu kumatikan. Tidak sanggup karena dinginnya yang berlebihan.

Thursday, 11 June 2015

Tunic for Fat Women?

Beberapa hari terakhir aku berkenalan dengan seorang fashion blogger dari Turki bernama Elif. Awalnya aku hanya meminta ijin untuk menempatkan beberapa fotonya dalam salah satu postingan, tidak tahunya dia meninggalkan komentar dan menawari untuk saling bertulis pesan via email. Wow, i am so happy. Dia pun mengatakan bahwa di Turki, perkembangan fashion masih begitu baru. Tidak ada blogger profesional di sana. Itulah yang menjadi concern-nya saat ini. Dia mengaku bekerja keras untuk blognya. Dear Elif, i wish your blog will grow faster and gives much of benefits for your readers.

Wednesday, 10 June 2015

Wear a Jersey Long Dress in Singapore, Why not?


Sebenarnya cerita ini terjadi tahun lalu, tepatnya saat aku dan dua teman blogger (Alfian dan Darwin) memenangi sebuah perlombaan yang hadiahnya jalan-jalan ke Singapura dan Malaysia. Saat itu di itinerary sudah tertulis bahwa first landing kita adalah Bandara Internasional Kuala Lumpur, jadi pakaian pertama yang kupakai dari rumah adalah gamis jersey berwarna piech.

Sampai di bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 04.00 pagi, dan setelah menelepon teman, akhirnya kami berkumpul di salah satu spot yang ada di dalam bangunan bandara. Mas Faisal yang saat itu sebagai pendamping yang ditugaskan pihak pemberi hadiah langsung membagikan ID Card dan satu lembar itinerary baru. Aku langsung melihat itinerary  tersebut dan selanjutnya membuat mataku membesar. Wah, kenapa bisa berubah total begini?

Thursday, 4 June 2015

Fortune Diamond di Lobi Galaxy Hotel Macau


Beberapa hari terahir aku rindu berpelesir. Mungkin efek libur panjang menjelang seminar dan sidang Tugas Akhir. Entah kenapa pengen banget ke luar negeri lagi. Pengennya ke Eropa, tapi sepertinya Tuhan belum kasih kesempatan untuk saat ini. 

Tahun 2015 ini, aku juga cukup jarang ikutan lomba blog. Hanya beberapa saja dan rasanya tahun ini nggak sehoki tahun lalu. Beberapa lomba yang kuikuti sempat masuk final, namun tidak lolos sebagai pemenang. Di tahun ini juga, aku memberanikan diri kirim naskah novel ke sebuah penerbit mayor. Cukup deg-degan nunggu keputusan dari mereka. Terkadang aku pesimis, mengingat beberapa hal yang kuikuti beberapa waktu terakhir seperti tidak berpihak. Tapi apalagi yang bisa dilakukan manusia selain terus mencoba sambil berdoa?

Baiklah, kembali ke topik awal tentang keinginan untuk jalan-jalan ke LN. Karena perjalanan ke Hongkong dan Malaysia entah kapan keluar jadwalnya, jadi aku cuma bisa buka-buka kembali file foto waktu ke Macau akhir tahun 2014 lalu. Tiba-tiba perhatianku tersita oleh beberapa foto warna-warni yang kuambil di lobi hotel paling indah di Macau. Apalagi kalau bukan Galaxy Hotel.


Motret dari bis kalau gak salah

Letak hotel berwarna emas ini ada di daerah Cotai. Artinya ia terletak di area center atau jantungnya administratif Macau. Dekat sekali dengan gedung-gedung ikonik Macau lainnya, seperti Sheraton Hotel, Venetian, City of Dream, dan lain-lain. Tapi percaya deh, di antara sederet hotel megah yang ada di sana, Galaxy adalah rajanya. Yeah, seperti kubilang pada postingan beberapa bulan lalu, seandainya hotel ini ada di jaman dulu, pasti sudah dipindahkan Napoleon Bonaparte ke Prancis (nyengir).

Hotel yang resmi dibuka pada 15 Mei 2011 dan memiliki 2.200 kamar ini tidak hanya menyajikan arsitektur luar yang megah, tapi juga menampilkan show yang tidak kalah megahnya di lobi utama mereka. Wajar saja, arsiteknya saja Garry Goddard yang sudah terkenal dengan hasil karyanya seperti Jurrasic Park, Terminator, The Amazing Spiderman, dll yang ada dalam Universal Studio.
 
 
Penampakan Om Gary Goddard (https://p1cdn04.thewrap.com)
Malam itu tujuan utama kedatangan kami bukan untuk menginap, melainkan untuk makan malam di salah satu restoran yang ada di dalam hotel. Sebelum jam makan, terlebih dahulu kita berhenti dan menikmati megahnya area lobi. Sekalian juga menyaksikan show yang dikenal dengan nama Fortune Diamond.

Awalnya sempat menerka-nerka, apakah gerangan Fortune Diamond tersebut? Dan jeng, jeng, ternyata penampakannya seperti berikut ini:
 
Detik-detik kemunculan diamond




Akhirnya, the fortune diamond-nya muncul juga. Selanjutnya dia bakal ganti-ganti warna

Para penari. Maaf agak berbayang fotonya :(
Ceritanya adalah tentang kemunculan diamond raksasa dan kristal warna-warni seperti di atas serta diiringi musik yang super keras. Ada sepasang penari di empat sisi ruangan yang mengiringi kemunculan diamond ini. Mereka terus menari sepanjang pertunjukan. Asiknya, pertunjukan ini gratis. Jadi siapa saja boleh mampir buat nonton. 

Nah, buat kamu yang jalan-jalan ke Macau, jangan lupa lihat show ini juga, ya... Siapa tahu dapat hoki alias fortune seperti nama show-nya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...