Saturday, 10 October 2015

Westlife: The Everlasting Love



Generasi akhir 80 hingga pertengahan 90, ingat masa lalu lagi yukkk...! Jadi ceritanya malam ini aku kangen berat pada masa kecil, terus pas buka musik di playlist, malah buka Flying Without Wings-nya Westlife. Tiba-tiba aku malah merindukan boyband satu ini. Rindu banget. Langsung buka youtube dan putar semua video-video single mereka. Percaya atau nggak, aku sampai meneteskan air mata. Nggak nyangka aja masa-masa sibuk dengan Westlife sudah jauh tertinggal di belakang. Lagu-lagu mereka seperti membawa kembali suasana masa kecil dulu.

To be honest, aku bukan tipe orang yang suka ngikutin perkembangan musik. Silakan kalau mau lihat file musik di ponsel dan laptopku, isinya sangat berbeda dengan kebanyakan teman. Aku hanya menyimpan lagu yang kusuka, yang penuh kenangan, yang liriknya dalam, yang instrumennya menentramkan, dan memang jarang banget ada lagu-lagu yang lagi popular saat ini. Bagiku sebuah lagu tidak hanya sebatas cool atau easy listening, tapi juga seberapa dalam lirik dan seberapa serius si penyanyi membawakannya. And I found those all in Westlife! 

Seingatku jaman-jaman umur di bawah 10 tahun, selain Westlife, generasi kami juga mengenal boyband lain seperti Backstreet Boys, Hanson, Boyzone, dan N'Sync. But bagiku Westlife more special, karena lagu-lagunya telah berjasa menemani masa-masa pertumbuhanku, termasuk nih ya menemani belajar bahasa Inggris. Tapi kenapa semuanya sudah jadi kenangan? Hiks.



Kapan Aku Pertama Kali Dengar Lagu Westlife?

“I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail”

Yuhu, siapa yang tidak ingat lirik satu ini? Yang jelas pertama kali aku nemu di buku bahasa Inggris semasa SD. Tapi sayang, karena aku tinggal di pulau terpencil dengan akses sulit, aku tidak ingat persis kapan mendengar lagunya untuk pertama kali. Masih sebatas lirik. Lalu masuk umur 13 tahun, tepatnya saat aku hijrah ke Pekanbaru untuk melanjutkan SMA, di sinilah untuk pertama kali aku mendengar sekaligus melihat video klip Westlife dari sebuah CD.

Jadi ceritanya, waktu itu guru bahasa Inggris kami menugaskan agar masing-masing kami bernyanyi di depan kelas. Waktu buat preparing hanya satu minggu. Bebas lagu apa saja, asal pakai bahasa Inggris. Akhirnya, saat mampir ke toko kaset, aku melihat CD Westlife duduk manis paling depan dalam sebuah jajaran CD lain. Aku langsung membelinya, dan untuk pertama kali I see them. Saat itu juga, aku mendeklarasikan diri sebagai penggemar sejati. Tugas menyanyi? Aku pun memilih You Raise Me Up, karena menurutku itu adalah lagu yang sangat istimewa dari segi apa pun. Terutama liriknya yang super menyentuh itu. Aneh, saat aku dengar versi asli yang dibawakan Josh Groban, kok aku malah nggak dapat feel lagu tersebut.
 
unnatural-freak.deviantart.com
Nah selanjutnya, tiap dua minggu sekali, guru bahasa Inggris kami akan membawa ke lab bahasa yang dilengkapi earphone, speaker, dan LCD besar. Kami biasanya akan fokus belajar selama satu jam saja, setelah itu akan berteriak minta diputarkan CD Westlife. Guru kami manut saja, namun ia berpesan agar kami juga menjadikan lirik lagu-lagu tersebut sebagai media belajar. Semua pasti setuju kalau lirik lagu-lagunya Westlife itu mudah-mudah banget, cocok untuk anak-anak yang lagi belajar bahasa Inggris. Beda banget sama lagu-lagu Inggris jaman kini, yang kebanyakan pake idiom dan bahasa gaulnya orang sono.

“Smack that all on the floor
Smack that give me some more
Smack that 'til you get sore
Smack that oh-oh!”

Haha bahkan Sharukh Khan aje ngaku kagak paham maksud lagu ini.

Apa Sih yang Paling Memorable dari Westlife?

Uh, semuanya about them. Mereka itu sudah seperti teman yang tumbuh bareng generasi kita. Nge-fan artis atau penyanyi di jaman segitu butuh perjuangan banget. Contohnya saat aku ngefan film The Lord of the Rings, aku sampe bikin kliping foto dan berita tentang tuh film yang dikumpulkan dari koran dan majalah. 

Lalu Westlife? Aku memang tidak sempat bikin kliping atau mengoleksi, tapi ketika baca kenangan bersama Wetslife oleh teman-teman satu generasi yang hidup di kota, aku jadi tahu betapa semaraknya masa-masa itu. Katanya mereka sampai ngumpulin uang jajan buat beli CD asli, beli kaset, terus nangis bombai waktu kasetnya ruwet karena keseringan dipakai. Ye, aku masih ingat banget waktu ngumpet-ngumpet pake walkman sepupu hanya buat dengerin lagu Westlife.
 
Jaman sekarang ada nggak yang bisa begini? (edmund.typepad.com)
Ini nih poster Westlife yang paling banyak tertempel di dinding kamar anak-anak masa itu.
Dan ini contoh koleksinya (pinterest)
Teman-teman di kota juga pada mantengin MTV tiap habis pulang sekolah hanya untuk menanti lagu Westlife diputar. Tidak hanya itu, mereka juga mengoleksi berbagai atribut tentang Westlife. Ah, pokoknya jaman itu cara kita ngefan seru banget, bebas dari julukan alay. Sekarang udah jamannya digital, tinggal mention beres dah! Tapi dulu kagak ade... Buat terkoneksi langsung dengan artis favorit nggak bisa. Satu-satunya cara ya kita beli CD dan ngoleksi atribut tentang mereka. Itulah ungkapan cinta di jaman semono.

Kalau ditanya yang most most most memorable dari Westlife itu ya lagu MY LOVE. Semua anak di jamanku pada suka lagu ini. Kami menulisnya, lalu menghapalnya. Saat di SMA, rata-rata teman nyanyi di depan kelas membawakan lagu ini. Bahkan kemaren saat aku duduk di semester akhir perkuliahan, temanku juga menyanyikan lagu ini sebagai hukuman karena lupa mengerjakan tugas. Sekarang kamu tahu lah ya betapa dalam Westlife bersemayam dalam hati dan ingatan generasi kami. Di antara sekian banyak lagu Inggris, tapi lirik yang paling nempel ya My Love. Kebayang wajahnya Brian yang senyumnya di close up. Aku sempet sedih banget saat tahu doi hengkang dari Westlife di tahun 2004.
 
Jaman-jaman itu tuh ngetren banget video clip yang lagi jalan-jalan gini. BSB juga ada video yang jalan pake gaya beginian. Tapi di situlah menariknya.

Apa sih Kelebihan Westlife Dibandingkan Boyband Jaman Kini?

Banyak, Jeng. Aku suka kasihan sama generasi sekarang yang tiap hari dicekoki boyband yang menang tampan ama jago nari doang. Namun soal kualitas suara dan lagu, mereka zero! Dan sedihnya lagi, generasi sekarang identik dengan julukan generasi alay. Kalau ngefan nggak pandang kualitas, tapi cukup tampang dan romantisme ala cinta monyet. Generasi 90 memang punya idola juga, tapi jaman-jaman segitu sekolah dan belajar tetap jadi prioritas. Mereka semacam punya insting lah mana yang patut diidolakan dan mana yang nggak. Mengidolakan dengan cara klasik itu seru, dan... tentu saja bikin kangen!

Nah, aku baca di komentar-komentar youtube, banyak banget yang membandingkan Westlife dengan One Direction. Ya kan? Sama-sama berisi pemuda cakep, sama-sama punya personil 5 orang, dan hengkang 1. Bagiku personil Westlife lebih cool karena mereka lebih dewasa. Mungkin karena itu juga lirik yang mereka bawa selalu dewasa dan dalam maknanya. Sebenarnya nggak boleh juga membandingkan dua hal yang berbeda jaman, tapi karena banyak yang membandingkan, aku juga mau sedikit ikutan. Hihih

Untuk One Direction sendiri, aku hanya tahu satu biji lagunya berjudul Story of My Life. Sedangkan dua lagu lain, Don’t Forget where You Belong dan Live while We’re Young, aku baru coba dengar beberapa menit lalu. Yang lain kagak tahu lagi. Karena memang nggak tertarik buat cari tahu. 

Menurutku Story of My Life dan Don’t Forget where You Belong (Jangan dibandingkan dengan Home dari Westlife, ya) cukup bagus juga. Kalau Live while We’re Young, liriknya nggak berkesan. Sama kayak lagu dari kebanyakan penyanyi masa kini pada tema yang sama, young itu identik dengan hura-hura and party. No sense, lah. Beda banget sama lirik Seasons In the Sun-nya Westlife yang bener-bener kenangan isinya. Silakan hayati sendiri ya what I attached on the photo bellow:



Kalau dibandingkan boyband Korea dan Indonesia? 

Jujur, kalau ditanya boyband Korea, aku cuma ingat satu potong lagu, ‘Mister kentir kentir nyentir...’. Apa nama band-nya pun ane kagak ingat. Dengar lagu ini pun just because accident. Akibat teman kamar penggila lagu Korea buat dance, jadi terpaksalah telinga ini ikut mendengar. Tapi tiap dia latihan dance, aku lebih sering pasang earphone. Hihi

Boyband Indonesia? Kamu tahu sendirilah seperti apa. Kagak perlu jadi penyanyi hebat dulu untuk sekadar memutuskan hal seperti ini. Parameternya kan sederhana, berkualitas tidaknya suatu karya itu bisa dilihat dari seberapa dalam karya tersebut bertahan dalam hati penikmatnya. Lagu-lagu boyband Indonesia mungkin menurutmu ada yang bagus, but bagiku, hanya sebatas angin lalu. Nggak berbekas. Saat mereka bubar pun, woles aja tuh! Bandingkan dengan konser terakhir Westlife, seperti apa keharuannya? Huh, semua pada mewek. Bahkan konser yang disiarkan dari Croke Park itu juga sukses bikin nangis penggemar yang tidak nonton langsung. Nih jantung bagaikan jatuh, nyesek euy...!!!

Tentang Farewell Concert—Konser Perpisahan Westlife

Ah, Westlife. Akhirnya boyband legenda yang dibentuk tahun 1998 itu memutuskan untuk bubar pada 2012 silam. Apa karena kurang peminat? Oh, tidak. Justru saat itu mereka baru saja menuai sukses besar dari penjualan album dan konser di Timur Tengah, Cina, Vietnam, dan Afrika Selatan. Yeah, mereka cuma ingin fokus pada kehidupan masing-masing aje. Meski begitu mereka tetap mengaku menjadi bagian dari Westlife, hanya saja sudah nggak menyanyi bersama lagi. Tapi itu nggak jadi alasan bagi kita untuk melupakan Westlife. Sampai sekarang, boyband ini tetap dicintai, baik personilnya, maupun album-albumnya. 

Soal prestasi, Westlife adalah salah satu yang terdepan. Tercatat seluruh album mereka tembus 45 juta kopi di seluruh dunia dan 14 hits single mereka duduk di posisi no 1 di Inggris Raya. Bahkan di Indonesia, album perdana mereka berhasil mendapat penghargaan 20 kali platinum untuk penjualan lebih dari satu juta kopi dan merupakan penyanyi asing pertama yang mendapatkannya.

Tidak ada yang abadi. Begitulah segala yang ada di dunia ini, termasuk Westlife. Mereka pernah berjaya, dan hingga kini tetap dicintai, tapi tetap saja tidak bisa menghalangi akhir perjalanan mereka. Dan untuk memberikan kado perpisahan terbaik bagi jutaan penggemar di seluruh dunia, mereka mengeluarkan album Greatest Hits, yang berisi singles dan tambahan 4 lagu baru, serta mereka juga melakukan konser perpisahan yang bertajuk Westlife -Farewell Concert. 
 
Farewell concert 2012 silam (www.digitalspy.co.uk)
Konser penutupan ini dilakukan mulai 22 Februari – 23 Juni 2012, total ada 41 konser (33 di Eropa dan 8 di Asia), yang dimulai di MasterCard Center, Beijing dan diakhiri di Croke Park, Dublin. Khusus untuk konser terakhir di Croke Park (dihadiri 85 000 penonton) disiarkan secara live via satelit di bioskop 11 negara Eropa dan Meksiko, lalu ditambah juga pertunjukkan tundanya di London, Manchester, Australia, Indonesia, dan Afrika Selatan. Rata-rata penjualan tiket mencapai lebih dari 90% dari keseluruhan kapasitas di semua venue konser dan pertunjukkan di bioskop-bioskop. Indonesia sendiri menayangkan konser ini selama tiga hari di bioskop-bioskop blitzmegaplex.

Lalu Kalau Sudah Bubar, Apa Kamu Juga Melupakan Mereka?
 
I stand with you, girls!
Ye, bagaimana bisa? Wong tiap kali dengar lagu Westlife, yang teringat malah kehidupan masa kecil sendiri. Bisa dikatakan, Westlife itu bagian dari masa lalu generasi kami, meskipun BSB lebih populer saat itu (but, nggak ada lagu BSB yang lengket di kepala ini).

Aku sendiri masih nyimpen dan terus dengerin lagu-lagu Westlife sampai sekarang. Di laptop, aku punya lima buah album mereka, ditambah puluhan single yang memorable. Dulu waktu pinjam hard disk teman, aku sempat buka folder mp3-nya, dan tidak ada album lain yang kukopi kecuali Westlife. Menurutku, andai Westlife bikin lagu lagi saat ini, dijamin fans-nya masih buanyak.

Hmm... adapun lagu-lagu yang masih sering kudengarkan sampai sekarang itu: Flying Without Wings, Soledad, My Love, What Makes A Man, When You’re Looking That, I Cry, Home, I Lay May Love On You, dan You Raise Me Up. Tapi yang paling favorit itu Flying Without Wings. Kurasa nggak ada satu pun boyband masa kini yang bisa bawain lagu ini sebaik Westlife. Coba aja.

Baiklah, ternyata tanpa sadar, tulisan iseng ini sudah begitu panjang. Kata Seneca, “Every new beginning comes some other beginning’s end”. Yah, semoga masing-masing mereka bisa memulai kehidupan yang lebih indah. Bagaimana pun, aku tetap akan berterima kasih pada mereka. 

Kalian sudah mewarnai masa kecil kami menjadi lukisan yang begitu indah! Yang kalau dibandingkan dengan generasi masa kini, jaman kita dulu jauh lebih menyenangkan.
 
Okay, berikut Flying Without Wings for you all! Hayati liriknya, dan kamu akan paham betapa dalam lagu ini.



Ayo, yang merasa pernah punya pengalaman tak terlupakan bersama Westlife, acung tangan!


Wednesday, 7 October 2015

Biar Smartphone Murah, Namun Berkualitas



Pinterest
Siapa yang tidak tertarik untuk memiliki sebuah smartphone dengan spesifikasi berkualitas, desain yang stylish dan harga yang murah. Semua orang pasti tertarik untuk memilikinya. Beberapa kalangan dengan budget terbatas, seperti pelajar dan mahasiswa pasti akan mencari jenis smartphone ini. Persaingan antar produsen smartphone memang terus mengalami peningkatan. Selain brand smartphone lama, banyak pula brand baru yang menawarkan produk mereka dengan harga super miring. Hal ini tentu mengundang banyak reaksi dari pengguna smartphone. Sebagian banyak yang menyambut baik dan berlomba untuk mendapatkannya. Namun, sebagian lagi justru meragukan kehadiran smartphone murah dengan spesifikasi lengkap seperti smart phone mahal.

Nah, disinilah kemampuan kita dalam memilih smartphone diuji. Sebagai konsumen, kita tentu ingin mendapatkan produk terbaik yang juga tidak membuat kantong kita bolong. Oleh karena itu, ada beberapa pertimbangan yang harus anda lakukan untuk mendapatkan smartphone murah namun berkualitas baik.

Pertama, jangan terpengaruh dengan merek. Merek smartphone terkenal pasti memiliki harga yang jauh lebih mahal atau sedikit lebih mahal dari pada merek lain yang belum terkenal, padahal keduanya memiliki spesifikasi dan kualitas yang sama. Oleh karena itu, penting bagi anda untuk melakukan review atau mencari informasi tentang beragam merek smartphone murah dengan spesifikasi berkualitas yang anda incar. 

Kedua, banyak smartphone murah yang menawarkan spesifikasi yang sama namun menggunakan sistem operasi yang berbeda. Untuk mendapatkan kepuasan dalam pemakaian smartphone, maka penting bagi anda untuk mengetahui jenis sistem operasi terbaru atau sistem operasi standar yang mampu mendukung kinerja smartphone dengan sangat baik.

Ketiga, pilih smartphone dengan dukungan penyimpanan internal atau eksternal yang memadai. Saat ini sudah banyak beredar dipasaran tentang smartphone yang sudah dilengkapi memori internal lebih besar dan juga kapasitas memori eksternal lebih besar. penyimpanan dengan kapasitas besar saat ini memang dibutuhkan untuk menyimpan berbagai data, gambar, video, aplikasi, dan masih banyak lagi. 

Keempat, resolusi kamera. Saat ini kamera ponsel menjadi hal yang paling diutamakan oleh pengguna smartphone. Tentu saja tren berselfie atau mengunggah foto ke sosial media menjadi salah satu pemicunya. Oleh karena itu, pilih smartphone yang menawarkan resolusi kamera depan atau belakang yang mumpuni untuk membidik sebuah objek.

Nah, itulah beberapa pertimbangan yang wajib anda lakukan saat sedang mencari cari smartphone dengan harga murah namun memiliki kualitas yang baik. Walau bagaimanapun, sudah menjadi sebuah hal yang lumrah bagi seorang konsumen untuk mendapatkan produk terbaik yang sesuai dengan budget yang dimiliki. Anda pun tidak perlu ragu atau malu memiliki smartphone dengan harga murah, karena yang terpenting bukan soal harga, namun fasilitas yang baik dari smartphone tersebut.

Monday, 5 October 2015

Siapa Mohamed Zeyara?



O you who believe! If you help (in the cause of) Allah, He will help you, and make your foothold firm—Surah Muhammad: 7

Cerita ini adalah tentang seorang pemuda yang jatuh cinta pada seorang gadis. Sebuah cinta yang benar dengan niat tulus dan lurus. Cinta berlandaskan pada aturan-aturan Allah. Hingga tanpa ragu dan menunggu terlalu lama, si pemuda bersama seorang Imam segera datang bertamu pada si ayah perempuan. Semua maksud dan tujuan kedatangan mereka disampaikan sang imam dengan bahasa yang baik, bahwa pemuda di sampingnya ingin mengkhitbah putri pemilik rumah. Imam tersebut menjelaskan betapa pemuda ini adalah pemuda salih, rajin ke masjid, dan menegakkan shalat lima waktu.

Bapak si gadis mendengarkan dengan khidmat, kemudian bertanya umur, bertanya pekerjaan, lalu beralih mengungkapkan keinginannya. Pemuda itu bisa menikah dengan putrinya, asal ia mampu memenuhi ‘harga pernikahan’ senilai 50.000 dolar, karena memang begitulah adat istiadat yang berkembang di masyarakat. 

Pemuda tersebut kaget mendengar angka yang disebutkan, begitu pula sang imam. Sayang, meski sang imam sudah membujuk agar bapak wanita mau bertoleransi, permintaan tersebut tidak tergoyahkan sedikit pun. Harga 50.000 dolar adalah harga mati.
“I’ll try my best.” Ucap si pemuda. Tentu dengan wajah kecewa. Ia hanyalah pekerja serabutan, lalu bagaimana bisa uang sebesar itu bisa ia dapatkan?
Mereka berpamitan dan sejak itu si pemuda terus berusaha untuk mengumpulkan uang. Satu bulan berlalu. Selama satu bulan itu pula ia bekerja, dan tetap saja jumlah tadi belum terpenuhi. Sang Ibu pun dengan tulus memberikan perhiasannya sebagai tambahan. Setelah meminta restu sang ibu dan memeluknya,  si pemuda kembali menemui ayah wanita yang ia cintai. Kali ini ia datang sendiri tanpa seorang imam.
“Oh, you are too late.” Ucap si ayah begitu membuka pintu dan mendengarkan maksud kedatangan si pemuda.
“Late? Mean?”
Pintu di belakang mereka kembali terbuka, kemudian masuk seorang pria dewasa. Di belakang pria itu berjalan perempuan yang ia coba khitbah satu bulan lalu. Ternyata perempuan yang dikasihi telah menjadi milik pria lain. Pemuda itu kecewa dan marah. Ia jadi malas-malasan bekerja dan selalu marah-marah, hingga seorang teman memberi nasehat, “Bersabarlah. Ini adalah salah satu ujian Allah yang akan membawamu ke Jannah.” Pemuda itu pulang dan menangis dalam pelukan sang ibu.



***
Itu tadi adalah cerita dalam video inspiratif berjudul ‘The Price of Marriage’ yang kutonton satu tahun lalu di channel youtube. Si pembuat video sekaligus pemeran dalam video ini adalah seorang pemuda Muslim yang istimewa. Kenapa istimewa? 

Ayolah, akan kuajak kamu berkenalan dengannya.

Sebenarnya, aku sudah berpikir untuk menulis tentang pemuda ini sejak berbulan-bulan lalu. Tapi semakin kuat niat untuk menulis tentangnya, semakin pula aku ketakutan sendiri. Ya, beban bagi seorang penulis (baik itu amatir maupun profesional)—jika yang mereka tulis adalah kenyataan yang mengagumkan—adalah takut tulisannya tidak seindah kenyataan. Demikian pula aku. 

Tidak hanya itu, untuk menulis tentang seseorang yang berbeda gender, aku takut penilaianku justru bersifat objektif pada keindahan fisik semata. Terlebih pemuda yang akan kita bahas memang sudah tersertifikasi keindahan rupanya. Jadilah aku harus berjuang keras untuk mengesampingkan penilaian ‘naluriah’ dan lebih pada ‘apa yang sudah dan sedang ia lakukan sehingga layak disebut pemuda istimewa?’



Nama lengkapnya Mohamed Zeyara, dan untuk mempermudahku dalam menulis, marilah kita panggil dia ‘Zey’. Ia lahir di Kanada 21 tahun silam, tumbuh di Gaza Palestina, lalu pada umur 12 tahun ia kembali ke Toronto, Kanada. Dunia mengenalnya sebagai public speaker, film maker, activist, dan mahasiswa medical science. Dalam sebuah forum, ia pernah menyinggung betapa cintanya ia pada dunia kedokteran. Mungkin karena di masa kecil, ia banyak menyaksikan seperti apa kehidupan masyarakat Palestina yang kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.

Zey memiliki banyak follower di semua akun sosial media miliknya, namun semua itu bermula dari youtube. Sejauh ini sudah ada puluhan video inspiratif yang bisa kamu saksikan di channel miliknya: Mohamed Zeyara. Tahun lalu, dalam sebuah convention besar di Amerika Utara, Zey menjadi salah satu speaker bersama partner youtube videonya: Syeikh Omar Suleiman. 

Dalam pidatonya, Zey memuji Syeikh Omar yang sangat memperhatikan detail pada setiap video yang mereka garap. Bahkan hingga pernak-pernik yang tertempel di dinding pun tidak luput dari perhatian Sheikh tersebut. Zey bercerita, dulu ia membuat video dengan sangat mudah. Cukup menghadap kamera lalu bicara, maka semua selesai. Hingga kemudian Sheikh Omar memberikan kritikan, “Inilah masalah yang melanda umat Islam. Kita ini pemalas! Cobalah kamu sempurnakan videomu, maka inspirasi yang tercipta pun akan menjadi sempurna.”

Zey kemudian menyemangati setiap orang yang hadir di forum tersebut agar menyempurnakan apa yang dikerjakan. Kita tidak bisa melakukan semua hal, tapi kita bisa memilih satu tantangan, kemudian menyempurnakan pekerjaan dalam tantangan tersebut. Ia mengambil contoh dari para sahabat, yaitu Khalid bin Walid yang dikenal sebagai pemimpin perang yang sangat tangguh, tidak terkalahkan. Lalu Umar Ibn Khattab yang menjadi simbol antara yang hak dan yang batil. Dua contoh tersebut adalah bukti bahwa manusia tidak bisa sempurna dalam semua bidang, melainkan cukup fokus pada satu hal yang kita cinta, sehingga lahirlah kesanggupan untuk memperjuangkan hal tersebut.
“The youth should search for something that they are good at. If you love something and you’re successful, people will like it and they will support you.” Ucap Zey di salah satu wawancara. "If you see something that needs changing, change it! But don't do nothing, because laziness is killing us."
Saat ini, kita semua mengakui bahwa Islam memiliki citra yang sangat buruk di media-media. Jangankan yang non muslim, aku yang Muslim saja selalu ngeri tiap kali menjumpai berita tentang Islam (khususnya media Barat). Jadi sebagai solusi, Islam membutuhkan banyak pejuang media yang bisa menyampaikan kedamaian Islam, bukan aksi-aksi Muslim tidak bertanggung jawab yang identik dengan terorisme dan konflik. Itulah yang dilakukan Zey.

Melalui akun media sosialnya, terutama youtube, Zey terus menyiarkan tentang keindahan Islam, juga ketinggian akhlak suri tauladan kita nabi Muhammad saw. Dalam setiap video, selalu ditampilkan bagaimana seharusnya seorang Muslim berperilaku seperti yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw. 

Salah satu video favoritku adalah yang berjudul ‘Whipped Cream and Cheerios’. Bercerita tentang Zey dan keponakannya bernama Fatima. Dalam video diperlihatkan bagaimana Zey yang mulanya tidak tahu cara meng-handle anak kecil, tiba-tiba harus mengajak keponakannya bermain, memasak, menidurkan, memakaikan baju, dan topi cantik. Dari video ini kita belajar bagaimana caranya menyayangi anak kecil, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh our greatest teacher: Muhammad saw. Terkadang kita bertindak tidak sabar dan tidak mau memaklumi kesalahan-kesalahan anak kecil, lupa bahwa kita juga pernah seperti mereka.



Aku bersyukur menonton video ini, karena tadi sore saat tulisan ini hampir selesai, sepupuku yang masih berumur 7 tahun menekan close button dan wushh tidak ada lagi kata yang tersisa. Semua hanya karena ia ingin menonton film Doraemon di laptop. Memang sedikit kesal, tapi tiba-tiba aku teringat video ‘Whipped Cream and Cheerios’, hingga perlahan aku bisa meng-handle emosi. Sepupuku belum paham betapa berharganya tulisan yang sudah kubuat, yang ia tahu film kesukaannya ada di sini. Seperti yang pernah kuajarkan, tiap kali akan membuka folder baru, namun masih ada halaman yang terbuka, ia harus menekan close button di kanan atas. Itulah yang ia lakukan. Sepupu kecilku tidak salah. Sebagai orang dewasa, akulah yang harus memakluminya. 

Masih banyak video inspiratif lainnya yang bisa kamu saksikan, dan insya Allah ada banyak hal yang bisa dipelajari. Terkadang ada saat tertentu kita merasakan iman yang melemah, bahkan untuk bangkit mendirikan shalat saja berat sekali. Kurasa, jika tidak sempat menghadiri acara keagamaan, video-video karya Zey ini bisa membantu men-charge iman. Naik turunnya iman memang hal yang wajar, asal kita tidak berdiam diri saja. Ada banyak cara untuk mengatasi hal tersebut.

Baiklah, adapun informasi terbaru tentang Zey, saat ini ia berpartisipasi dalam kegiatan rekontruksi desa Al Najwa di Mali. Ia juga ikut turun ke lapangan bersama rombongan dari Pious Projects of America. Di sana mereka membangun sekolah, Masjid, fasilitas kesehatan, juga menyediakan air bersih. Mereka membuka space for donation di website resmi https://www.piousprojects.org/campaign?id=123. Dalam web itu juga, kamu bisa melihat video dokumenter Zey dan tim selama perjalanan mereka ke Mali, Afrika. Dari perjalanan-perjalanan yang pernah ia lakukan itu pula, Zey mengaku ada banyak hal yang lebih penting untuk dirisaukan daripada risau pada produk Apple terbaru. Yah, pasti ada yang tersindir.


Well done, Zey! Kita bangga sekaligus iri padamu. Iri karena sejauh ini tidak ada hal yang begitu berharga untuk dilakukan atau diberikan demi kemaslahatan orang banyak. But, it’s okay, a  journey of a thousand miles must begin with a single step. So, kita bisa memulai dari hal-hal terkecil dan untuk orang-orang terdekat. Semoga janji Allah swt dalam surah Muhammad ayat 7 menyertai kita semua. Aamiin insya Allah...

All photos and information credit to Mohamed Zeyara social media accounts and http://wnymuslims.org/.

Saturday, 3 October 2015

Macau Episode 2: Cotai Central dan First Night in Macau


Macau and Cotai Central

Sejak dahulu kala, Macau memang hanya memiliki dua buah pulau kecil, yaitu Taipa dan Coloane. Di antaranya terdapat sebuah daerah reklamasi bernama Cotai. Di Cotai inilah pusat segala gemerlap dan kemegahan Macau ditampilkan, dan sana pula hotel tempatku menginap selama tiga malam ke depan. Dari penjelasan Pak Alan aku tahu bahwa beberapa hotel di Macau didirikan berdekatan dan menyatu melalui jembatan atau bahkan bangunan. Begitu juga dengan Sheraton Hotel, hotel yang akan kami tuju. Ia adalah salah satu bangunan di antara tiga bangunan mewah lainnya, yaitu Conrad, Venetian, dan Holiday Inn. Semuanya bisa dijelajahi dengan jalan kaki karena terhubung satu sama lain. 

Sheraton Hotel, tempat kami menginap
Setelah makan siang di Feast (Restoran Hotel), kami menuju kamar masing-masing di lantai 29. Aku sendiri mendapat kamar nomor 50. Seperti layaknya kamar hotel bintang lima lainnya, kamar hotel yang kutempati pun terkesan mewah. Dari jendelanya yang luas, aku bisa melihat gedung Holiday Inn yang menjulang tinggi. Antara keduanya (Sheraton dan Holiday Inn) hanya dipisahkan oleh beberapa kolam renang dan bangunan penghubung. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...