Thursday, 10 October 2013

Komunis dan Titip Rindu Buat Ayah

Dua tokoh komunis dunia, Lenin dan Stalin
kali ini aku ingin bercerita sedikit tentang sejarah dan keluargaku. Bukan, ini bukan sejarah keluargaku yang akan menceritakan siapa buyut-buyutku. Ini benar-benar tentang sejarah  seperti yang kau baca di buku-buku. Inspirasi tulisan ini bersumber dari dua hal, yang pertama adalah karena tulisan Kang Abik dalam novel Bumi Cinta pada bagian ke-11, yang kedua adalah dari cerita keluargaku, Ayahku.

Tuesday, 8 October 2013

Cahaya II: Cerita Tentang Hidayah

Sumber klik di sini
Hidayah...

Ia terkadang memang datang mengejutkan. Meretas sangka dan dugaan. Seperti engkau, teman.
Aku mengenalmu sejak kita sama-sama memulai mengeja huruf dan angka. Sekolah Dasar. Sejak waktu itu pula, aku mengenalmu sebagai sosok tak ber-Tuhan. Aku tak bisa menemukan nama yang tepat sesuai kamus bahasa Indonesia, untuk kepercayaan dan suku yang kau anut sejak lahir itu. Yang kutahu, bahasamu hanya bisa kujumpai di pinggiran Riau saja. Budaya sukumu pun tak ada kudapati di pulau Jawa, bahkan di Pekanbaru juga tidak. Begitu asing. Barangkali aku boleh menyamakan sukumu itu dengan suku-suku di pedalaman Papua.

Wednesday, 2 October 2013

Aku, Aisye, dan Kosmetik Halal Wardah



Ini adalah secuil kisah tentang muslimah... Muslimah yang jelita di mata penduduk dunia dan juga di mata penduduk langit. Insya Allah...

Sebelum kuceritakan makna kecantikan versiku. Aku ingin terlebih dahulu menceritakan padamu tentang makna kecantikan yang kudapatkan dari seorang wanita Turki yang kutemui beberapa bulan lalu.

Bandara Soekarno-Hatta, 25 Juli 2013

       Tanganku menggengam erat sebuah tas tangan berwarna hitam yang kutemukan di sebuah kamar kecil ruang tunggu bandara. Aku terpaksa membukanya untuk mencari informasi siapa pemilik tas tersebut. Entahlah, tak ada terlintas ketakutan di kepalaku, seperti tas tersebut berisi bom yang otomatis meledak saat dibuka, atau mungkin tas tersebut adalah tas hasil curian yang sengaja ditinggal, agar orang yang menemukannya dijadikan kambing hitam. Tidak, tidak ada pikiran-pikiran semacam itu sedikit pun. Justru Yang ada dalam kepalaku adalah rasa prihatin kepada pemilik tas tersebut, pasti saat ini ia sedang kalang-kabut mencari.

Aku menemukan sebuah dompet cokelat, buku catatan, Alquran kecil, dan seperangkat kosmetik wardah, di dalamnya. Kubuka dompet itu dengan hati-hati. Seketika mataku menangkap sosok wanita berwajah Arab tersenyum manis dalam foto berukuran 4 x 6. Wajah oval dengan mata jelinya dibalut pasmina hitam panjang. Hidungnya mancung dan dagu lancip menggantung. Cantik sekali... Seperti wanita dalam lukisan.
Ruang Check-in Bandara Soekarno Hatta
Aku mengambil KTP-nya, dan dari sana aku tahu bahwa pemilik tas itu bernama Aisye, berkebangsaan Turki. Sambil tergesa-gesa kubawa tas itu pada petugas informasi yang ada di ruang tunggu. Beberapa menit setelah diumumkan, wanita pemilik tas itupun datang. Tapi, wajah jelita yang kulihat dalam foto tadi sama sekali tak kutemukan, karena ternyata wanita itu bercadar. Tubuhnya yang tinggi semampai tertutup rapat oleh gamis longgar berwarna cokelat muda. Ia mengucapkan terima kasih pada petugas tersebut. 

"She found your bag, Madam." ucap petugas itu menunjuk ke arahku. Kuberikan senyumku pada wanita itu.

"Assalamualaik... I am so thankful to you. My name is Aisye. You?" tanyanya dengan mata yang menyipit, memberi tahu kalau ia tengah tersenyum. Ia mengulurkan tangan.

"No thanks for a duty. I am Sofi." jawabku seraya menyambut uluran tangannya.

Selanjutnya ia mengajakku duduk di bangku panjang dan memberiku sebotol minuman. Meskipun bahasa Inggris-ku tak selancar dia, aku tetap bisa menikmati pembicaraan kami. Darinya aku tahu, bahwa ia akan terbang ke Batam bersama suaminya, untuk menjenguk mantan pembantu rumah tangganya yang sekarang harus dioperasi karena tumor. Lastri, nama mantan pembantunya itu. Keluarganya menggunakan jasa Mbak Lastri selama satu tahun, ketika mereka tinggal di Arab Saudi dua tahun lalu. Aisye yang ternyata masih berumur 25 tahun itupun sempat memberi tahuku sosok suaminya. Laki-laki berwajah Turki yang duduk di depan monitor informasi, berkemeja rapi dengan iphone tergenggam di tangan.

"Hey, kenapa kamu bercadar. Padahal wajahmu cantik sekali. Aku tadi sempat melihat fotomu di dompetmu. Sorry..."

"It's okay. Kenapa aku bercadar? Karena banyak yang mengatakan aku cantik, makanya aku bercadar. karena aku takut para laki-laki berdosa karena wajahku. Kecantikan ini hanya untuk dia." ucapnya sambil menunjuk ke arah suaminya. Matanya berbinar.

Aku tersenyum. Kalimat yang romantis.

"Aku juga tadi melihat sepaket kosmetik wardah, kau juga berdandan? Dan eh, kau juga tahu produk wardah?" tanyaku polos.

"Tentu saja aku berdandan. Lagi-lagi untuk dia. Aku mengenal produk kosmetik wardah dari Lastri. Dia bilang, ini kosmetik halal yang berbahan baku halal. Tidak seperti kebanyakan kosmetik sekarang yang berbahan baku aneh-aneh, seperti janin aborsi, plasenta babi, lemak babi dan lain-lain. Kamu tahu betapa berbahayanya jika kita memakai kosmetik berbahan haram?"

Aku menggelengkan kepala. Ya memang aku tak tahu banyak tentang kosmetik, terlebih sampai mampu membedakan bahaya kosmetik halal dan tidak halal.

"Bahan-bahan haram tersebut akan diserap oleh tubuh kita, terlebih kalau itu lipgloss, pasti ada kemungkinan tertelan. Nah, bahan-bahan haram itulah yang harus kita hindari. Agar tidak masuk atau menempel pada tubuh kita yang nantinya menjadi penghalang ibadah kita. Bahkan Rasulullah pernah bersabda:"Ketahuilah bahwa suapan haram jika masuk ke dalam tubuh salah satu dari kalian, maka amalannya tidak akan diterima selama 40 hari". Meskipun Islam memberikan toleransi bagi kesalahan yang kita lakukan tanpa sengaja, tetap saja sebisa mungkin kita harus mencari tahu, lalu selanjutnya memilih produk yang sudah jelas kehalalannya. Tidak tahu bukan berarti terus-terusan diam tanpa mencari tahu. Nah, ketika itu Lastri menjelaskan panjang lebar tentang wardah, termasuk label halal dari Majelis Ulama Indonesia. Karena itu aku tertarik mencoba, dan ternyata cocok. Apalagi wardah juga menyediakan produk spesial untuk ibadah haji. Saya pun semakin semangat mengampanyekan wardah pada teman-teman dan saudara-saudara. Aku sendiri tidak hanya memakai kosmetik di rumah saja, sekarang pun aku pakai. Seperti sunscreen, pelembab dan eye liner. Untuk kosmetik pelindung kulit seperti itu, kamu juga harus pakai setiap saat." Cerocosnya bersemangat. 

Aku hanya manggut-manggut. Di satu sisi aku menganggap Aisye lebih mirip seorang sales saja. Di sisi lain, aku jadi malu sendiri, karena ia ternyata jauh lebih tahu tentang produk Indonesia ketimbang aku sendiri. Bahkan dalam pikiranku dulu beranggapan bahwa wardah adalah produk kosmetik yang sama dengan produk kosmetik lain. Cuma wardah lebih Islami gitu. Ternyata, wanita dari ujung Asia sana yang justru menjelaskan tentang wardah lebih detail. Barangkali aku adalah salah satu dari orang-orang yang tidak mau mencari tahu itu.

"Tapi kamu juga harus ingat, muslimah itu akan semakin jelita karena akhlaknya yang mulia. Jangan hanya terus mempercantik diri dengan kosmetik, namun lalai mempercantik diri dengan amal. Oh ya, this is for you..."

Ia menyodorkan selembar pasmina panjang dan sebuah moisturizer gel wardah. Aku tersipu-sipu. Kubilang tidak usah, namun ia mengatakan bahwa itu hadiah sebagai tanda terima kasih dan tanda persahabatan. Aku pun menerimanya. Lima menit kemudian ia meminta izin untuk meninggalkanku, pesawatnya akan take off sebentar lagi.

"Teşekkür ederim. Memnun oldum." ucapku dengan bahasa Turki. Ia sempat terbelalak kaget, kukatakan bahwa aku mengambil kursus bahasa Turki di kampus. 

"Bir şey değil. Ben de memnun oldum. Semoga kamu bisa mengunjungi negaraku suatu hari nanti." katanya sambil memelukku. Aku mengaminkan lirih.

Begitulah pertemuan singkatku dengan Aisye. Wanita jelita yang begitu menjaga kejelitaannya. Aku senang bisa membagi cerita tentang pertemuan kami padamu, melewati tulisan di blog ini.

Halal is My Life

Sejak pertemuan dengan Aisye, hatiku tergerak untuk mencari tahu informasi lebih tentang kosmetik halal. 

Waah...ternyata belum banyak wanita yang mengetahui pentingnya menggunakan kosmetik yang halal. Aku dan hampir semua teman-temanku adalah bukti kecil dan real-nya. Kami memakai kosmetik merek tertentu akibat terprovokasi iklan, tanpa tahu detail informasi beserta manfaat dan mudharatnya dari sisi kesehatan dan Islam. 

"Kalau sudah diiklanin di televisi, berarti bagus. Apalagi model iklannya Kak "Dandra Sewi", artis idolaku, cantik, sudah pasti bisa dipercaya." Begitu kebanyakan celetuk teman-teman, yang juga menjadi persepsiku dulu.

Ah, betapa aku selama ini mati-matian menjaga kesucian perut dari segala sesuatu yang haram dan menjaga kulit dari segala sesuatu yang najis seperti liur anjing, namun di sisi lain aku terus mengoleskan sesuatu yang belum jelas halal-haramnya ke kulitku, atau mungkin sesuatu yang belum jelas itu juga ada sedikit banyak yang tak sengaja tertelan olehku.

Berikut adalah beberapa fakta tentang kosmetik haram:


Syukur-syukur kalau produk yang selama ini kupakai memang tak haram, tapi bagaimana jika produk itu terbuat dari lemak babi atau plasenta seperti pada foto-foto di atas? Zat-zat haram itulah yang menempel pada diriku, meresap melalui pori-poriku, dan menemani sebagian besar aktivitasku, bahkan ketika aku mengikuti majlis ta'lim dan wirid yasin. 

Bayangkan! Aku membaca ayat-ayat Tuhan dengan zat haram yang menempel pada tubuhku.

Barangkali hal-hal yang luput dari perhatian seperti inilah yang kadangkala menjadi hijab (penghalang) doa kita pada-Nya. Hal-hal kecil yang sejatinya besar. Hal-hal yang tidak kita ketahui karena memang tidak berusaha untuk mencari tahu. Dalam sebuah hadis disebutkan: " Menuntut yang halal itu wajib bagi setiap muslim." (HR. Ibnu Mas'ud)

Alhamdulillah Allah menegurku dengan cara yang begitu halus, yaitu melalui Aisye. Setelah aku mengetahui lebih detail, akupun ingin segera menyempurnakan kehalalan hidupku. Semua wajib halal, bahkan tak boleh ada ruang untuk hal-hal yang belum jelas. Makanan harus halal, minuman harus halal, penghasilan harus halal, kosmetik harus halal, dan kekasihpun harus halal (ups!). Halal is my life. Ya, halal tidak boleh setengah-setengah, karena Islam bukan agama yang setengah-setengah.

Muslimah and Cosmetics?

Aku masih ingat benar kalimat-kalimat Aisye. Bahwa kecantikan muslimah itu tidak cukup jika hanya dilihat dari sisi lahiriah, melainkan kemuliaan spiritualitasnya juga. 

Namun, bukan berarti muslimah tidak boleh menggunakan kosmetik. Seperti Aisye, koleksi kosmetik wardah miliknya sangat lengkap, tapi ia memakainya untuk menyenangkan hati suaminya, untuk kegiatan sehari-hari ia tetap berkosmetik, namun hanya sekadar untuk menjaga dan merawat kulitnya, intinya ia tidak menggunakan berlebihan hingga wajah menjadi mirip badut sulap.

         Awalnya aku memang termasuk seorang wanita yang malas berkosmetik. Aku hanya memakai krim pelembab, body lotion dan bedak tabur bayi, dengan merek-merek yang tidak tetap, tergantung mood pada iklan produk yang ada di televisi.
Alhamdulillah, melalui Aisye, dunia perkosmetikan yang sesuai syariat itu menyusup dalam hatiku dengan begitu lembut. Aisye mengingatkanku bahwa kosmetik juga penting bagi muslimah, karena dari kosmetik kecantikan seorang wanita akan semakin memesona, tentu bukan untuk dipamerkan, melainkan dipersembahkan untuk dia, sang suami. Bukankah menyenangkan hati suami merupakan ibadah?

Nah, bagaimana untuk aku yang belum bersuami? Tentu saja kosmetik seperti sunscreen, krim pelembab, body lotion, sabun mandi, akan membantu merawat kulitku, mencegah komedo atau jerawat, dan tentunya melindungi dari radiasi matahari yang bisa berbahaya bagi kulit. Apalagi di zaman polusi seperti sekarang, air wudhu saja tidak cukup untuk menjaga kelembaban dan kesehatan kulit kita, itulah mengapa kita membutuhkan produk kosmetik halal. Air wudhu akan meluruhkan kotoran-kotoran yang menempel sekaligus meluruhkan amarah, penyakit hati dan tentunya hadas kecil kita, selanjutnya kosmetik halal akan membantu mengoptimalkan dengan kandungan nutrisi dan zat-zat baiknya yang akan diserap kulit. Jadi lebih sempurna, kan?

Color Up My Days with Halal Cosmetic

Taaraaa...sekarang aku sudah berpindah menggunakan kosmetik halal. Hari-hariku menjadi lebih berwarna bersama wardah. Eh, berwarna bukan berarti aku mengoleskan lipstik hingga bibirku merah membara, bermaskara pink, atau ber-make up merah-kuning-hijau, lho. Tidak!. Berwarna di sini karena hari-hariku jadi terasa lebih indah dan tenang dengan wardah. 'Cause aku sudah tidak was-was lagi pada status kehalalan pada body lotion, krim pelembab, sampo, sabun mandi, bedak, dan sunscreen-ku.

Bersama wardah: ketika panen jagung
Memasuki semester tiga di bangku perkuliahan, hari-hariku benar-benar dipenuhi kegiatan kuliah dan praktikum. Hanya hari Minggu waktuku untuk istirahat dan menyiapkan laporan praktik. Karena aku mengambil jurusan Pengembangan Pertanian Terpadu, jadilah nyaris setiap hari waktuku dihabiskan untuk praktik di lahan, bak-bak ikan, dan kandang ternak. Waktuku untuk menerima sinar matahari langsung menjadi lebih banyak.

Senin, adalah saatnya aku mengolah lahan, memegang kored, membuat lubang tanam, menanam, menabur benih, memelihara hingga panen. Selasa, adalah waktuku ke kolam dan bak ikan. Mengukur infrastruktur perikanan hingga praktik penggunaan perangkat teodolit di tengah  terik. Rabu, adalah waktuku memasang sirkulasi akuarium dan memelihara udang dari fase naupli hingga udang dewasa.Kamis adalah waktuku bersahabat dengan para sapi, domba, puyuh,  bebek dan ayam. Mengukur suhu tubuh hingga mengukur kontruksi kandang mereka. Jumat, adalah waktuku berteman dengan belalang dan segala jenis hama tanaman. Sabtu, adalah waktuku membudidayakan sagu, mengisi tanah, memeriksa rakit di kolam, mengangkat polybag, dan lain-lain.
Bersama wardah: ketika field trip ke Kuntum Nursery Bogor
   Bayangkan! Benar-benar hanya hari Minggu waktuku yang bebas terik, debu dan polusi.

           Aku tak mungkin bisa mengelak, karena praktik ini adalah kewajiban. Namun bukan berarti tidak ada jalan lain, jadilah untuk aktivitasku yang sering berpanas ria, aku menggunakan wardah sunscreen gel SPF 30 dan lightening body lotion. Untuk lightening yang akan mencerahkan kulit wajah, aku memilih lightening day step 1 dan lightening night step 1. Bagaimana dengan bedak? Aku memilih lightening two way cake light feel. Nah, cukup itu saja kosmetik yang menemani keseharianku. Aku sengaja memilih yang benar-benar  kubutuhkan dengan pertimbangan keterbatasan saku mahasiswi (hehe).  

Meskipun tidak lengkap, hasilnya sudah membuatku puas karena kulit tampak lebih cerah dan bebas kusam, dan yang paling membuatku senang, kulit menjadi lebih dingin. Untuk kamu yang banyak beraktivitas di bawah terik, bisa mencoba langkah yang sama sepertiku. Tidak ada salahnya memperlengkap koleksi dengan scrub, mask, gentle wash, face toner dan cleanser. Hasilnya insya Allah akan lebih sempurna. Alhamdulillah, kini teman-teman sekontrakan yang satu jurusan denganku pun ikut beralih menggunakan produk wardah.
"...Untuk kosmetik pelindung kulit seperti itu, kamu juga harus pakai setiap saat." Kalimat Aisye inilah yang selalu melintas dalam pikiranku ketika aku malas mengoleskan kosmetik di wajahku.

Insya Allah,dengan mempercantik diri dengan mempercantik akhlak dan menggunakan produk kosmetik halal, jelitamu akan berpendar indah dari dalam dirimu. Jelita yang tidak hanya diakui penduduk dunia, melainkan juga decak kagum para penghuni langit. Semoga...



Saturday, 28 September 2013

Sebuah Cerpen: Lorong Kematian by Helvy Tiana Rosa

Senja di bulan Juli 1995. Menteri Luar Negeri Inggris, Malcolm Rifkind, menegaskan bahwa Bosnia Herzegovina, kini dalam situasi aman dan damai. Ia menyatakan pasukan Serbia tak akan lagi melakukan penyerangan terhadap penduduk sipil.

"Gila," gerutu Jod Selovic. Diliriknya Dean Milovic, anak buahnya yang sedang asyik menimang emas yang kemarin ia jarah dari puluhan mayat wanita Bosnia korban perkosaan di barak mereka.

"Kau dengar, Dean? Tak ada perang lagi? Tak ada? Ha…ha…ha…."

Dean terkekeh juga.

Tuesday, 24 September 2013

Sebuah Mozaik: Bacalah, lalu Temukan Keajaiban!

Sumber: klik di sini
Ini adalah sepotong mozaik ceritaku tentang manfaat membaca. Salah satu mozaik telah kutulis pada postingan beberapa waktu lalu.

Mengapa mozaik? Karena cerita dan kesan yang kudapatkan dari membaca tak akan sempurna sebelum napas meninggalkan badan. Setiap aku selesai membaca suatu tulisan, di sana aku menemukan hal yang baru, begitu seterusnya.

Dari membaca, aku mengenali orang lain. Jujur saja, aku lebih memahami diri seseorang melalui tulisannya. Aku sering membuka blog-blog teman dan dinding media sosial mereka, untuk sekadar mengetahui tentang mereka. Menurutku, manusia lebih jujur dalam tulisannya.

Monday, 23 September 2013

A Beautiful Dua

Duhai Rabbi, sesungguhnya Engkaulah Pemilik Hati
Yang menumbuhkan kerinduan dalam diriku untuk bertemu belahan jiwaku,
Menciptakan kasih sayang di antara kami agar tenteram hidupku dan merasakan kebahagiaan atas indahnya ciptaan-Mu.
Duhai Rabbi, jika tak pernah cukup amalku membawaku ke Jannah-Mu,
berikanlah aku seorang imam yang akan mendoakanku menjadi bidadari Jannahnya, hingga doanya menjadi salah satu alasan bagi-Mu mengisi salah satu Jannah-Mu dengan aku.
Duhai Rabbi, jika tak pernah mampu aku memberatkan timbangan amalku dengan ibadahku sendiri, berikanlah aku seseorang yang membuatku mengabdikan diri kepadanya sebagai bukti cintaku kepada-Mu, agar ridhanya menjadi kunci bagiku membuka Jannah-Mu, dan pengabdian padanya adalah ibadah mulia yang kulakukan atas nama cinta kepada-Mu...
Duhai Rabbi, andai itu semua tak layak untukku, pertemukanlah aku dengan jiwa baik yang kurindu itu pada waktunya, jiwa yang mengaitkan cintanya hanya kepada-Mu, yang akan kumuliakan dalam pernikahan yang tenteram, hingga semakin kuat cintaku kepada-Mu, hingga kami berkumpul dalam naungan kasih sayang-Mu, dan maafkanlah kami atas kesalahan kami yang pernah memburu cinta yang hadir tanpa-Mu, yang datang tidak atas nama-Mu, dan biarkanlah kami menjadi hamba yang mengisi menara-menara langit-Mu, yang Kau janjikan akan terisi dengan mereka yang saling mencintai karena-Mu...
Aamiiin...
(Sejuta Pelangi, hlm. 261-262)

Sumber gambar: klik di sini

Friday, 20 September 2013

Kelas Bahasa Turki-ku

Assalamualaikum...

Taraaaa...kembali lagi pengen nulis-nulis hal-hal menarik dalam waktu beberapa minggu terakhir. Hmm, kali ini seputar kelas bahasa Turki yang udah tiga kali pertemuan kuikuti..

Nah, ceritanya, pada hari Sabtu, 07 September 2013 kemaren, tiba-tiba aja Profesor Bintoro [Ketua Program Keahlianku] ngajakin seluruh anak-anak PK PPP [Program Keahlian Produksi dan Pengembangan Pertanian Terpadu] kumpul pada jam 14.00 di ruang biasa [ruang milik PK PPP], yang terletak di belakang masjid Al Ghifari. Peuh... meski capek, aku cukup antusias buat datang, coz semenjak lebaran id aku belum ada bertemu pak Bin. Ceritanya, kangen.

Ok. we were on time! (karena kalau sempat keduluan pak Bin, kita bisa disuruh push up di depan kelas). Beberapa menit kemudian, masuklah sesosok profesor sekaligus guru besar IPB, dengan gayanya yang seperti biasa (sangat sederhana). Eh, tapi kali ini beliau gak sendiri. Beliau bersama seorang laki-laki [yang gak bisa kutebak berapa umurnya, siapa istrinya, dan berapa jumlah anaknya, eh]. But, aku seketika mampu menyimpulkan, laki-laki yang bersama pak Bin bukanlah orang asli Indonesia. 

Spontan kelas menjadi sepi senyap, wajah kami bertanya-tanya. Who was he?
 
Setelah pembukaan sebentar, pak Bin segera mengenalkan tuh laki-laki kepada kami. Oow berkewarganegaraan Turkmenistan rupanya. Dan dia mampu menguasai lima bahasa, yaitu Rusia, Inggris, Turki, Turkmenistan, dan Indonesia. Lebih kerennya lagi, dia bakal mengajar kelas bahasa Turki di PK kami selama satu semester. Dua kali pertemuan per minggu. Dan ini gratis. Ah, pasti pak Bin yang sudah mengurusnya. Entah anggaran dana dari mana, yang jelas pak Bin memang kuakui sangat perhatian dengan mahasiswa-mahasiswa yang ada di bawah tanggung jawabnya.

But, mengapa harus Turkish? Pak Bin bilang, karena tidak banyak non turkish yang bisa berbahasa Turki. Kalau orang Indonesia bisa berbahasa Inggris, itu mah udah seperti keharusan, tapi kalau bahasa Turki, ini nilai plus. Siapa tahu, beberapa di antara kami kelak bisa melanjutkan pendidikan ke Turki, karena sekarang pemerintah Turki menyediakan banyak beasiswa untuk masyarakat timur. Tidak seperti beberapa waktu lalu, pemerintah Turki yang lama hanya melirik para pelajar dan mahasiswa dari barat. 

Ah, apapun alasannya, aku memang sudah jatuh cinta dengan Turki jauh-jauh waktu sebelumnya. Tentu saja, aku senang, and benar-benar niat buat belajar.

Aku tertarik pada Turki, berawal dari pameran benda-benda dari Topkapi museum di gedung MTQ Pekanbaru, tiga tahun yang lalu. Selain itu, ketertarikanku juga karena  keindahan Turki beserta sejarah emas Islam di tanah bekas ibu kota imperium Romawi Timur itu.

Tentang keindahan Turki pada masa lalu, Napoleon Bonaparte mengatakan "If the earth were a single state, Constatinople would be its capital..."


Subhanallah, kebayang donk betapa indahnya Konstatinopel kala itu, hingga seorang panglima terkenal dari Prancis mengatakan ketakjubannya seperti itu. Tidak hanya Napoleon, seorang penjelajah asal Rusia abad ke-14, Stephen Novgorod, menulis "Adapun Hagia Sophia, pikiran manusia tidak akan dapat menceritakan atau mendeskripsikan keindahannya". 

Hagia Sophia? Eh, ada cuilan namaku di dua kata itu, hehe. Iya, bangunan yang awalnya sebuah gereja, selanjutnya menjadi masjid, dan sekarang menjadi museum. Dari buku dan foto, aku melihat betapa toleransi dua agama begitu kental terlihat di Hagia Sophia, lingkaran-lingkaran besar bertuliskan lafaz Allah dan Muhammad terpasang bersama patung-patung bunda Maria. 


Why? Karena setelah Konstatinopel berada dalam kekuasaan muslim, dan Hagia Sophia dijadikan Masjid, pemimpin Islam tidak seketika menyapu bersih patung-patung simbol Kristen di sana, melainkan hanya menutupinya dengan semen tipis. Pemimpin Muslim di sana tahu benar cara untuk menghargai karya peradaban sebelumnya. 

Selain Hagia Sophia, aku pun tertarik pada Selat Bosphorus. Selain karena keindahannya dengan kapal-kapal yang berlayar di atasnya, selat ini menyimpan sejarah, menjadi saksi sejarah kaum muslimin yang membuat seluruh dunia berdecak kagum. 


Masih ingat kan kejadian pada 20 April 1453, ketika Muhammad Al Fatih memerintahkan pasukannya memindahkan 72 kapal perang dari Selat Bosphorus menuju selat tanduk dalam waktu 1 malam? Bayangkan, mereka bukan memindahkan kapal-kapal itu melalui jalan air, tapi melintasi perbukitan Galata yang jauhnya 1,5 km. 

Waw! Sampai-sampai Yilmaz Oztuna dalam bukunya Osmanli Tarihi, menceritakan bahwa salah seorang ahli sejarah tentang Byzantium, mengatakan:"Kami tidak pernah melihat dan tidak pernah mendengar sebelumnya, sesuatu yang sangat luar biasa seperti ini. Muhammad Al Fatih telah mengubah bumi menjadi lautan dan dia menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak-puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang lautan. Sungguh kehebatannya jauh melebihi apa yang pernah dilakukan oleh Alexander The Great.". [jadi deg-degan membayangkannya]. Tentang sejarah ini, untuk lebih detail, ada baiknya baca buku "Muhammad Al Fatih" karya Ust. Felix Y. Siauw. 
 
Rute pemindahan 72 kapal perang

Nah, teman. Betapa bangganya kan jika kita bisa menyaksikan secara langsung tempat-tempat bersejarah. Selat Bosphorus yang kita lihat sekarang adalah Selat Bosphorus yang juga dilihat Al Fatih dan tentara muslimin dahulu, tetap sama. Begitu juga dengan Selat Tanduk dan perbukitan Galata. Itu semua memiliki keromantisan tersendiri, jika kita mampu menyaksikan saksi sejarah itu. That's the point, guys!
 
Wah, kalau bercerita tentang keindahan Turki, kayaknya bisa sejilid tebal buku. Masih banyak tempat-tempat yang menyimpan sejarah lainnya, seperti Masjid Sultan Ahmet yang memesona, apalagi kalau dilihat across the sea. Hua...bahkan aku punya video singkat tentang Istanbul. Romantis dan terasa seperti hidup di masa lalu.

Sultan Ahmet Mosque

Oke, kita kembali pada bahasa Turki. Menurut cerita tutor kami itu dan didukung dari buku yang pernah kubaca, dulunya bahasa Turki [selama kekhalifahan Ottoman] merupakan percampuran tata bahasa dan vocabs bahasa Arab dan bahasa Persia dalam alfabet Persia. Lalu pada tahun 1928, ketika sistem pemerintahan Turki berubah menjadi Republik, Mustafa Kemal menetapkan alfabet latin untuk mencanangkan bahasa Turki sebagai bahasa resmi negara. Jadi, bahasa Turki yang sekarang sudah banyak mengalami perubahan dari bahasa Turki terdahulu. Pun, banyak unsur-unsur dari bahasa Prancis dan Jerman yang masuk. 

Tutor kami bilang sih, belajar bahasa Turki itu jauh lebih mudah dari belajar bahasa Inggris. Dan aku setuju! Walaupun ada beberapa alfabet yang masih kaku kuucapkan, tapi aku merasa susunan kalimat bahasa Turki lebih sederhana. Walaupun ada penambahan-penambahan yang beda-beda setiap vokal akhir yang digunakan. Misal, aku mau mengatakan "kamu sehat?", turkinya menjadi "iyi misin?", tapi kalau aku mau bilang "dia sehat?", jadinya "iyi mi?". Lain lagi, kalau mau tanya "Kamu senang?", jadinya "Mutlu musun?", dst...

Memang sih, sebagian teman ada yang malah sebal dengan kewajiban dari pak Bin ini [maksudnya, wajib ikut kelas bahasa Turki], bahkan terkadang aku juga males, mereka menganggap tak ada gunanya dan mengurangi waktu istirahat. Menurutku sih, wajar-wajar aja. Bagi orang-orang yang tak terlalu suka membaca buku dan dan tulisan-tulisan popular di internet, memang susah menumbuhkan ketertarikan. Barangkali sama dengan aku beberapa tahun silam, saat nama Turki pun masih asing.

Wah, maaf sekali tidak bisa membagi beberapa kosa kata bahasa Turki di sini, masalahnya pengaturan ponselku tidak ada masukan bahasa Turkinya. Iya, guys, kalau mau nulis dalam bahasa Turki, tidak bisa menggunakan masukan bahasa Indonesia, coz alfabetnya beda.

Okay, apa lagi ya? Sedikit membahas tentang tutor kami yang asli Turki aja, ya? 

Ceritanya, bapak [pantes belum ya dipanggil bapak] itu lahir di Rusia. Lalu pindah ke Turki. Sekolah di Turki [masuk SMA Internasional paling bergengsi di sana], kemudian ditawari mengajar bahasa Turki di Indonesia sambil mengambil Teknik Informatika di Bandung. 


Kalau tidak salah ingat, beliau sudah 7 tahun di Indonesia, bahasa Indonesianya sudah lancar [meski ada satu-dua kosa kata Turki yang beliau tidak tahu terjemahan Indonesianya], bahkan terkadang beliau mengucapkan kosa kata Sunda, seperti "atos?", "mangga", dll. 

Beliau sempat sedih karena banyaknya bahasa yang digunakan di Indonesia, "Wah, berarti kalaupun saya bisa berbahasa Indonesia, saya juga tidak mengerti apa yang orang Sunda atau Jawa ucapkan?". Beliau juga mengatakan kalau ia betah tinggal di Indonesia karena pemandangannya yang warna-warni on the whole time. 

"Tidak seperti di Turki, saat winter, warna-warni hanya terlihat dari baju-baju orang." Ceritanya dengan logat yang khas. Yang aku suka dari beliau yaitu ketika beliau tertawa, beliau akan menutup sebagian bawah wajahnya dengan buku. Satu orang teman kelas [panggilannya Gadis] yang paling hobi membuat beliau tak mampu menahan tawa, seperti ketika Gadis ingin mengatakan "suka-suka gue", dia mengatakan "suka-suka benim" [turkish: benim=saya]. Selain kebiasaan menutupi sebagian wajah, beliau juga menghadiahkan minuman dingin atau cokelat untuk teman-teman yang mau maju menulis di papan tulis. 

Eh, sudah panjang sekali tulisanku...

Kapan-kapan, kalau ada yang menarik lagi dari kelas bahasa Turkiku, insya Allah akan kutuliskan kembali.
Doakan aku cepet bisa berbahasa Turki, ya...
Thanks for reading ^_^ ting! :-)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...