Tuesday, 1 January 2013

‘The Jilbab Traveler’


Aku memang seseorang yang memiliki banyak impian, terkadang aku pesimis entah bagaimana bisa merealisasikanya. But, dengan bermodalkan kepercayaan aku memutuskan untuk terus memupuk mimpi-mimpiku. Diantara sekian banyak mimpiku, aku sangat ingin keluar negeri suatu saat nanti dan kalau bisa secepatnya (waks...maksa banget). Ya, aku ingin ke Mekkah, Madinah, Amerika, Italy, Prancis, Rusia, New Zealand, and... Turkey. Banyak banget ya? Sebenarnya semua negara pengen aku datangi. Sejauh ini aku selalu senang membaca pengalaman-pengalaman orang lain baik di Blog atau buku tentang perjalanan mereka ke Luar Negeri. Entah mengapa aku seperti ikut merasakan apa yang mereka ceritakan. Untuk blog, aku tertarik dengan blog nya Nanak Persie, anak Bandung yang berhasil mendapatkan beasiswa Upgrad ke Arcata, Amerika. Di blognya ia menceritakan saat-saat perjuanganya apply beasiswa hingga hari-harinya di kampus baru, plus menjelaskan tentang culture shock and kebiasaan-kebiasaan teman-teman bule nya. Kalau mendengar kata-kata bule, yang terbayang pasti cowok ganteng, tinggi, putih, seperti Orlando bloom atau Leonardo d’caprio ya?  Hiks....
                Nah, bagaimana dengan koleksi buku? Tentu saja aku punya dua (kirain sepuluh). Yups, yang pertama adalah buku berjudul Studying Abroad. Buku sederhana yang komplit dan pas banget bagi para hunter beasiswa ke Luar Negeri. Aku baru tau ternyata kalau di Eropa nih, gandengan tangan sesama cewek bisa-bisa kita dibilang lesbian lhoo... juga kalau lagi dikendaraan umum jangan sampai kamu menawarkan tempat duduk untuk orang-orang yang gak kebagian tempat duduk, bisa-bisa kamu kena maki habis-habisan karena mereka merasa kamu menganggap mereka gak mampu. Lucu kannn???  dan buku kedua, ini nih yang akan kita bahas buku The Jilbab Traveler karya Asma Nadia.
                Buku 330 halaman ini mengoleksi berbagai pengalaman para cewek berkerudung keliling dunia. Tuh kan siapa bilang wanita berjilbab gak bisa traveling. Salah besar.  Selain pengalaman-pengalaman seru para muslimah tersebut, buku ini juga dilengkapi tips-tips penting traveling, kesalahan-kesalahan yang bikin traveling gak asyik, secuil kamus survive berbagai Negara, tips mencari makanan halal dan tempat shalat di Luar Negeri yang minoritas muslim dan info komplit wisata di berbagai Negara.
                Buku ini sangat memotivasi, menyampaikan pesan dont be afraid to be jilbaber karena alasan gak bebas kemana-mana atau takut keluar Negeri (takut disangka teroris) dll. Jilbab bukan pembatas mimpi, bukankah Bumi yang sangat luas dengan berbagai Benua dan Negara adalah milik Allah? Memakai jilbab perintah Allah bukan? Nah, jangan takut ini dan itu karena Allah pasti akan melindungi hambaNya yang mematuhi perintahNya. Tapi?  Nah loh, kok pake tapi? Memang sih, banyak muslimah yang dipandang aneh saat di Negeri minoritas muslim tapi itu bisa kita siasati kok. Salah satu contoh nih, jangan memakai jilbab berwarna gelap apalagi hitam saat traveling di Eropa karena bisa-bisa mereka akan lari menghindarimu (mengira kamu teroris), pakailah jilbab berwarna cerah dan usahakan simpel saja, jangan terlalu angkuh menampakkan kefanatikan. Dan... tentu saja tampilkan bahwa muslimah itu friendly, trendi and menjunjung tinggi kedamaian. Easy?

                Sedikit bocoran tentang kisah paling seru dibuku ini (menurut aku) adalah kisah Beby Haryanti Dewi di Jerman.  Tulisanya yang kocak terasa begitu menghibur namun tidak menghilangkan pesan yang ingin ia sampaikan ke pembaca. Ia menceritakan tentang kecele cuaca. Tentang pengalaman di kelas bahasa yang mana dia satu-satunya orang Asia yang pastinya paling kecil di kelas, sampai-sampai temanya ada yang menangkap dan menggendongnya. 
                “Oh...kamu begitu kecil...begitu kecil” kata temanya
                “Aku memang kecil... tapi gak sekecil upil kan?” katanya dalam hati yang membuatku ngakak saat membacanya.
                Cerita menarik lainya, suatu hari guru kursus mereka bagi-bagi es krim kepada student sekelas Beby,  ia sendiri menolak karena takut es krim tersebut gak halal. Nah, cara paling halus untuk menolak adalah...
                “saya sedang diet”
              Mendengar kata-kata itu, seketika teman-teman sekelasnya shock !
                “apa? Kamu diet? Apanya yang mau dikurusin lagi? Kamu itu sangat kecil, lemah, dan tak berdaya! Oh, Bitte... jangan bunuh diri!” kata salah seorang temanya.
                Gimana? Gokil abis kan? Itu hanya sedikit. Masih banyak cerita seru lainya. Seperti tentang bule juga manusia, menceritakan tentang hal-hal konyol yang dilakukan teman bulenya. Pokoknya seru deh...
                Dari tadi bicara seneng mulu nih, gak enaknya apa?
            Nah itu dia, satu hal yang membuat aku sedikit kecewa. Kebanyakan cerita di buku ini bercerita ngeloyor tanpa mengingat tema awal yaitu Jilbab Traveler, seharusnya gak hanya melulu bercerita tentang tempat ini indah, tempat itu amazing, habis ini mau kesana, dan lain-lain tapi juga share donk tentang kejadian-kejadian miris atau menyenangkan tentang jilbab mereka saat berada di Luar Negeri atau bisa juga menuliskan pandangan masyarakat ditempat itu tentang jilbab, kalau tidak punya pengalaman unik tentang jilbab bisa juga mengambil kejadian orang lain yang berjilbab saat mengunjungi tempat itu. Contoh, pernah di sebut monster oleh anak kecil karena kepala yang tertutup kain (jilbab) dsb. 
                Biar begitu, secara keseluruhan buku ini tetap menjadi bacaan yang cetar membahana (baca: bagussss). Saya sendiri baru tau, ternyata film yang saya tonton beberapa tahun lalu saat di pesantren dengan judul ‘THE THIEF LORD’ adalah di Italy, tepatnya di Venice dimana transportasi terkeren disana adalah gondola (boat) dan banyak gang-gang kecil.
Buat yang belum memiliki buku Best Seller ini, jangan sampai ketinggalan yaa...
Semoga bermanfaat
Salam manis para pemimpi Luar Negeri 
Selamat membaca

'9 Summer 10 Autumns' dari Mas Iwan, Segera Tayang di Bioskop

Apa kabar sahabat? Semoga masih berada dalam dekapan Hidayah dan kasih sayang-Nya. Amien...
Aku kembali lagi dengan sebuah ulasan singkat tentang sebuah buku. Memang aku selalu bingung tema apa yang mau di share ke sobat semua. Jadi mumpung punya lumayan banyak buku, tidak ada ruginya jika kita saling berbagi.

Untuk kali ini, aku punya sebuah Novel dengan judul ‘9 Summers 10 Autumns’. Sudah punya? Untuk yang belum pernah membaca, tidak ada salahnya membaca ulasanku ini. InsyaAllah akan sedikit memberi gambaran tentang isi novel ini. Sebenarnya, ini bukan Novel baru. Awal terbitnya pada Februari 2011. Lumayan lama ya? Yups tapi gak apa-apa, bukankah sebuah tulisan tidak akan pernah basi sepanjang masa? Selalu ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari sebuah tulisan.

Mas Iwan Setyawan
Oh ya sobat, sebenarnya cerita dalam Novel ini tidak lama akan muncul di Layar Lebar. Ah masak iya? Iya donk, kan ada sedikit adegan yang di ambil di depan kost-an ku sekarang. Wah, waktu itu rame banget yang ngelihatin proses syutingnya. Karena itulah, aku jadi berburu Novel ini. Soalnya, aku paling nyesel kalau nonton film yang di adopsi dari Novel, dan Novelnya belum kubaca. Jadinya gak bisa membandingkan ya? Walau memang selalu lebih unggul di Novel.

Oke, siapa sih Penulisnya? Hmm... Namanya memang sepertinya kurang familiar tapi sekarang ternyata sudah terkenal sekali. Iwan Setyawan, kenalkah? Ya, seorang Alumnus Institut Pertanian Bogor jurusan Statistik. Sebenarnya kisah dalam Novel ini adalah kisah nyata lho guist. Novel ini juga terpilih sebagai Buku Fiksi Terbaik pada Jakarta Book Award 2011 dan tentunya sekarang sudah menjadi Novel Best Seller. Hebat ya?

Tentang apa’an sih Novelnya?
Yaps, Greats question guist. Novel ini menceritakan tentang perjalanan hidup mas Iwan (secara, beliau lebih tua), bagaimana masa kecilnya di Kota Batu, Ayahnya yang ‘hanya’ seorang sopir angkot, rumah kecilnya, perjuanganya kuliah di Bogor hingga ia sukses menjadi Direktur sebuah Perusahaan Multinasional di New York. 9 Summers 10 Autumns sendiri adalah waktu yang ia habiskan saat di New York bersama Pekerjaanya.

 

Alurnya gimana?
Nah, sebenarnya kemampuan mas Iwan mengolah alur Novel inilah yang membuat Novel ini terasa istimewa. Alur yang maju-mundur membuat pembaca tidak bisa meng-cut bacaanya. Dalam Novel ini keseluruhan adalah cerita mas Iwan kepada sahabat kecilnya yang hingga akhir Novel tak ku fahami siapa bocah yang selalu menemani hari-hari mas Iwan selama di New York itu. Dalam novel ini juga banyak ditemukan puisi-puisi yang sungguh indah sekali di tambah gaya menulis mas Iwan yang ku akui unik dan istimewa. Selain itu, bagi yang kemampuan Inggrisnya sedikit lemah, aku sarankan untuk menyediakan kamus terlebih dahulu karena sepanjang cerita dalam Novel ini begitu banyak dialog-dialog berbahasa Inggris yang kelihatanya mas Iwan sama sekali tak mau membantu pembacanya.

So?
Saya sarankan bagi yang belum memiliki Novel ini, segera mencari. Baik dari membeli maupun pinjam. Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari Novel 221 halaman ini. Selain kerja keras, mas Iwan juga mengajak kita untuk selalu mencintai keluarga apapun keadaanya. Dan yang lebih greats-nya, because sebentar lagi Film nya bakal muncul nih. Jangan sampai ketinggalan yaa... Semoga bermanfaat.

Cara Memilih Fashion Muslimah Yang Tepat dan Anggun

Hi sahabat semua...!!! Tulisanku tentang Jilbab hadir lagi ni. Mengingat, menimbang, dan memutuskan banyak yang mengunjungi tulisanku sebelumnya. Alhamdulillah, aku senang sekali. Itu artinya, muslimah di Indonesia sudah memiliki kesadaran yang tinggi untuk menutup mahkotanya. Benar sahabat semua, rambut adalah mahkota seorang wanita. Jadi, kalau kita sudah mengetahui bahwa rambut adalah mahkota maka sudah seharusnya kita menutupnya. Dari pada nanti di curi orang lho???!!!

Oke, lanjut yaa... Seperti biasa, aku tidak akan memberikan tutorial berjilbab yang muluk-muluk. karena, memang ini bukan sebuah tutorial. berjilbablah yang sederhana namun terlihat istimewa. Jangan ikut-ikutan mode yang semakin hari semakin mengaburkan. Lihatlah, betapa banyak wanita-wanita yang berjilbab tapi jilbab yang mereka gunakan sangat tipis dan pendek. Belum lagi, wanita-wanita yang berjilbab namun gandengan dan memamerkan kemesraan dengan pacarnya di tempat umum. Apa kita juga mau ikut-ikutan seperti itu? coba deh, jika kalian menemui wanita-wanita seperti itu apa yang terfikirkan? pasti yang jelek-jelek kan? Nah, berarti kalau kita mengikuti mereka kita juga bakal dianggap jelek oleh orang lain. ya gak?

wanita akan lebih cantik dengan jilbab. Hanya pada saat ini, jilbab sepertinya hanya menjadi pelengkap penampilan saja tanpa mengetahui esensinya. Sungguh, wanita yang berjilbab dengan ikhlas terlihat seperti sebuah mutiara yang terpelihara. Tampak anggun dan feminin.

Berikut adalah langkah awal untuk  berfashion keren namun muslimah banget, yuuukkk...

Lihat gambar di samping, kenal kan? Apa yang membuat mbak Oki terlihat berbeda dari wanita berjilbab lainya? Jawabanya adalah mbak Oki pintar memilih gamis hingga jilbabnya. Nah udah tau kan, kemana arah pembicaraanku sobat? yups... Tepat! yang pertama harus difikirkan adalah mengenali diri sendiri. coba bercermin sedikit lebih lama, perhatikan bentuk wajah, warna kulit, hingga postur tubuh. Bayangkan saat itu anda tengah mengenakan sebuah gamis dan jilbab dengan warna tertentu. Terus pilih warna yang tepat untukmu dalam bayanganmu. Hingga, yess... Anda menemukanya. Bukan berarti fokus pada satu warna ya, ntar malah setiap hari gak ganti-ganti warna. Maksudnya di sini, coba lebih di umumkan. Misal, aku lebih cocok mengenakan pakaian berwarna gelap. Bukan berarti melulu hitam kan? gitu maksudnya.
Warna itu sangat penting lho frend, bahkan seorang dosen laki-laki saya pernah bilang, bahwa wanita itu terlihat tidak cantik hanya karena dia tidak bisa memadukan warna-warna yang di pakainya. Tuh kan, Dosen laki-laki lho...

Tahap selanjutnya adalah... Cari baju-baju dan jilbab yang sesuai dengan kepribadian anda tersebut. Tinggalkan warna-warna yang selama ini membuat anda terlihat jelek. Oke guist????!!!! Nah, kalau sudah begitu saatnya kita mulai merubah fashion kita. Ingat, jilbab yang sederhana justru akan membuatmu terlihat istimewa. Saran saya, sebaiknya sobat memiliki salah satu tokoh muslimah yang kira-kira sedikit memiliki kesamaan dengan sobat. Contohnya nih, saya merasa sedikit mirip dengan mbak Oki (PD gak apa-apa yah?), karena itu setiap saya ingin megenakan jilbab saya selalu mendapat inspirasi dari jilbab-jilbab yang mbak Oki kenakan, baik dari warna hingga di sebelah mana bros mungi harus saya letakkan. Lebih mudah kan? 
Selamat berjuang menemukan style yang cocok dengan kepribadian sobat semua.
Semoga bermanfaat yah...


Monday, 31 December 2012

Sedikit Tentang Buku 'Cahaya di Atas Cahaya' Oki Setiana Dewi

Apa kabar sahabat? Semoga masih berada dalam naungan Hidayah dan kasih sayang-Nya. Amin...
Kali ini saya ingin berbagi tentang buku ke tiga mbak Oki, sebenarnya buku 344 halaman ini saya beli awal Ramadhan lalu. Cuma, karena ini dan itu jadi lupa untuk sedikit membahasnya dan berbagi apa yang saya dapat dari dalam buku ini kepada kalian semua. It’s okay, meski sudah agak lama, namun isinya tidak akan pernah basi kok, itulah kehebatan sebuah karya tulis. Bahkan hingga penulisnya sudah terlebih dahulu meninggalkan Dunia ini, karyanya tetap abadi. Semoga kita semua bisa terus mengasah kemampuan menulis ya, amin...

Baiklah sahabat, mengapa buku ini berjudul Cahaya di Atas Cahaya? Karena...mbak Oki maunya begitu. Nah kok?

Pada bagian prolog di buku ini, kita akan langsung mengerti kenapa mbak Oki memberinya judul tersebut. “Sesungguhnya ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah takkan datang kepada seorang yang berbuat maksiat” benar bukan? Ya, Ilmu memang seperti cahaya, tanpa ilmu tidak akan pernah ada peradaban, tanpa ilmu dunia hanya akan dipenuhi oleh kebodohan dan kegelapan, tanpa ilmu Manusia tidak akan pernah mengenal dirinya dan Tuhanya. Ah, betapa agungnya ilmu hingga Allah memerintahkan Nabi-Nya berdo’a agar Rabbul Izzati berkenan memberi ilmu sebagai rezeki (Tha’Ha:114). Iya sahabat, buku ini memuat pengalaman mbak Oki saat menimba Ilmu di Kota cahaya, Makkah. Makkah adalah Satu-satunya tempat yang cahayanya bahkan terlihat ditengah pekatnya angkasa. Makkah, Pusat Bumi yang cahayanya tetap terlihat dalam jarak ribuan tahun cahaya. Subhanallah, semoga kita juga diberi kesempatan untuk mengunjungi dan meraup ilmu dari Kota itu sahabat. Amin...

Pada bagian awal buku ini, mbak Oki menceritakan betapa tidak mudah untuk merealisasikan mimpinya ini. Namun, setiap ada keinginan, Ikhtiar dan Do’a yang kuat pada sebuah keinginan InsyaAllah Allah pun akan memudahkanya untuk kita. Dan di dalam buku ini, mbak Oki telah membuktikanya. Dengan Uang yang pas-pasan, masalah Visa yang hampir tak bisa keluar, Pesawat yang penuh hingga harus masalah menentukan siapa yang akan menjadi mahram selama di Tanah Suci nanti. Semua terasa seperti tembok besar yang berdiri kokoh menghalangi mimpi mbak Oki untuk belajar di Makkah, namun... Ia terus berdo’a dan Ikhtiar dan Allah mendengarnya. Mbak Oki berangkat bersama sang Ibu tercinta dan seorang mahram, Uwak Bandi namanya. Seorang kakek tetangga Mbak Oki yang sering menjaga mbak Oki sewaktu kecil. Ah, tak bisa kubayangkan betapa bahagianya kakek itu. Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan mbak Oki...

Selain itu, Mbak Oki juga menceritakan bagaimana perjuanganya untuk belajar Bahasa Arab kepada setiap orang yang bisa dijadikanya guru di Masjidil Haram, bagaimana kekuatan keinginanya untuk menghafal Al-Qur’an. Semuanya di ceritakan dengan apik dan memotivasi. Memotivasi untuk terus menuntut ilmu dan membuat mimpi untuk mengunjungi Kota yang paling dicintai Allah dan Rasul-Nya itu semakin menggebu. 
Di Makkah, mbak Oki bisa belajar Bahasa Arab di Ummul Qura’ University tanpa persyaratan apapun. Padahal, sejauh ini banyak sekali persyaratan yang harus di lengkapi untuk bisa belajar di Universitas ternama itu. Di Kampus barunya, Mbak Oki bertemu dengan wanita-wanita dari berbagai Negara yang memiliki kecintaan luar biasa pada Islam. Banyak cerita luar biasa dari teman-temanya itu. Untuk cerita itu, sebaiknya sahabat baca sendiri yaa...

Sudah ya? Belum... masih banyak pengalaman yang dikemas mbak Oki dalam kata-kata sederhana namun memikat. Tentang perjalananya mendaki Jabal Nur juga tidak kalah menarik, belum lagi kunjunganya ke Makam Rasulullah SAW dan Madinah. Semuanya luar biasa menginspirasi.
Hmm... sepertinya ini sudah cukup sahabat, insyaAllah lain kali akan di bahas mengenai buku-buku lain yang juga bermanfaat. Jangan sampai kehabisan yaa. Sekedar info, buku Mbak Oki selanjutnya yang berjudul ‘Hijab I’m In Love’ akan segera terbit. Salam Ukhuwah sahabat semua...

Friday, 28 December 2012

Teknik Menulis Resensi Buku




~dan…kebahagiaan akan berlipat ganda
jika dibagi dengan orang lain~

(Paulo Coelho dalam novel “Di Tepi Sungai Piedra”)

Beruntung orang yang suka membaca buku. Mereka yang gemar membaca buku akan terbuka wawasannya, tidak kuper dan cupet pandangan. Mereka akan mendapatkan informasi selain yang dipikirkannya selama ini, begitu juga referensi dan pengetahuannya akan bertambah luas. Inilah sebenarnya investasi berharga sebagai modal untuk mengarungi kehidupannya. Orang yang menyukai aktivitas membaca, biasanya mereka tidak akan terjebak dalam pola berpikir sempit ketika menghadapi problem-problem penting yang terjadi di dunia. Dalam kehidupan nyata juga berpeluang besar punya potensi dan kecenderungan yang bijak dalam mensikapi kejadian-kejadian keseharian di sekitarnya.

 Tapi, bagi orang yang ingin berbuat lebih dan mau berbagi ilmu kepada orang lain, membaca saja tak cukup. Mereka perlu memiliki ketrampilan lagi yaitu ketrampilan meresensi buku (berbagi bacaan). Sebelum melangkah kepada teknik ringkas meresensi buku, ada beberapa hal penting mengapa resensi perlu dibuat. Tujuannya, diantaranya sebagai berikut,

1. Membantu pembaca (publik) yang belum berkesempatan membaca buku yang dimaksud (karena buku yang diresensi biasanya buku baru) atau membantu mereka yang memang tidak punya waktu membaca buku sedikitpun. Dengan adanya resensi, pembaca bisa mengetahui gambaran dan penilaian umum terhadap buku tertentu. Setidaknya, dalam level praktis keseharian, bisa dijadikan bahan obrolan yang bermanfaat dari pada menggosip yang tidak jelas juntrungnya.

2. Mengetahui kelemahan dan kelebihan buku yang diresensi. Dengan begitu, pembaca bisa belajar bagaimana semestinya membuat buku yang baik itu. Memang, peresensi bisa saja sangat subjektif dalam menilai buku. Tapi, bagaimanapun juga tetap akan punya manfaat (terutama kalau dipublikasikan di media cetak, karena telah melewati seleksi redaktur). Lewat buku yang diresensi itulah peresensi belajar melakukan kritik dan koreksi terhadap sebuah buku. Disisi lain, seorang pembaca juga akan melakukan pembelajaran yang sama. Pembaca bisa tahu dan secara tak sadar akan menggumam pelan “Oooo buku ini begini…. begitu” setelah membaca karya resensi.

3. Mengetahui latarbelakang dan alasan buku tersebut diterbitkan. Sisi Undercovernya. Kalaupun tidak bisa mendapkan informasi yang demikian, peresensi tetap bisa mengacu pada halaman pengantar atau prolog yang terdapat dalam sebuah buku. Kalau tidak, informasi dari pemberitaan media tak jadi soal.

4. Mengetahui perbandingan buku yang telah dihasilkan penulis yang sama atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Peresensi yang punya “jam terbang” tinggi, biasanya tidak melulu mengulas isi buku apa adanya. Biasanya, mereka juga menghadirkan karya-karya sebelumnya yang telah ditulis oleh pengarang buku tersebut atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Hal ini tentu akan lebih memperkaya wawasan pembaca nantinya.

5. Bagi penulis buku yang diresensi, informasi atas buku yang diulas bisa sebagai masukan berharga bagi proses kreatif kepenulisan selanjutnya. Karena tak jarang peresensi memberikan kritik yang tajam baik itu dari segi cara dan gaya kepenulisan maupun isi dan substansi bukunya. Sedangkan, bagi penerbit bisa dijadikan wahana koreksi karena biasanya peresensi juga menyoroti soal font (jenis huruf) mutu cetakan dsb.

Nah, untuk bisa meresensi buku, sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan sebagian orang. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan siapa saja yang akan membuat resensi buku asalkan mereka mau. Diantaranya;

A. Tahap Persiapan

1. Memilih jenis buku. Tentu setiap orang mempunyai hobi dan minat tertentu pada sebuah buku. Pada proses pemilihan ini akan lebih baik kalau kita fokus untuk meresensi buku-buku tertentu yang menjadi minat atau sesuai dengan latarbelakang pendidikan kita. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa seseorang tidak mungkin menguasai berbagai macam bidang sekaligus. Ini terkait dengan ” otoritas ilmiah”. Tidak berarti membatasi atau melarang-larang orang untuk meresensi buku. Tapi, hanya soal siapa berbicara apa. Seorang guru tentu lebih paham bagaimana cara mengajar siswa dibandingkan seorang tukang sayur.

2. Usahakan buku baru. Ini jika karya resensi akan dipublikasikan di media cetak. Buku-buku yang sudah lama tentu kecil kemungkinan akan termuat karena dinilai sudah basi dengan asumsi sudah banyak yang membacanya. Sehingga tidak mengundang rasa penasaran. Untuk buku-buku lama (yang diniatkan hanya sekedar untuk berbagi ilmu, bukan untuk mendapatkan honor) tetap bisa diresensi dan dipublikasikan misalnya lewat blog (jurnal personal).

3. Membuat anatomi buku. Yaitu informasi awal mengenai buku yang akan diresensi. Contoh formatnya sebagai berikut;

Judul Karya Resensi

Judul Buku :
Penulis :
Penerbit :
Harga :
Tebal :

B. Tahap Pengerjaan

1. Membaca dengan detail dan mencatat hal-hal penting. Ini yang membedakan antara pembaca biasa dan peresensi buku. Bagi pembaca biasa, membaca bisa sambil lalu dan boleh menghentikan kapan saja. Bagi seorang peresensi, mesti membaca buku sampai tuntas agar bisa mendapatkan informasi buku secara menyeluruh. Begitu juga mencatat kutipan dan pemikiran yang dirasa penting yang terdapat dalam buku tersebut.

2. Setelah membaca, mulai menuliskan karya resensi buku yang dimaksud. Dalam karya resensi tersebut, setidaknya mengandung beberapa hal;

• Informasi(anatomi) awal buku (seperti format diatas).
• Tentukan judul yang menarik dan “provokatif”.
• Membuat ulasan singkat buku. Ringkasan garis besar isi buku.
• Memberikan penilaian buku. (substansi isinya maupun cover dan cetakan fisiknya) atau membandingkan dengan buku lain. Inilah sesungguhnya fungsi utama seorang peresensi yaitu sebagai kritikus sehingga bisa membantu publik menilai sebuah buku.
• Menonjolkan sisi yang beda atas buku yang diresensi dengan buku lainnya.
• Mengulas manfaat buku tersebut bagi pembaca.
• Mengkoreksi karya resensi. Editing kelengkapan karya, EYD dan sistematika jalan pikiran resensi yang telah dihasilkan. Yang terpenting tentu bukan isi buku itu apa, tapi apa sikap dan penilaian peresensi terhadap buku tersebut.

C. Tahap Publikasi

1. Karya disesuaikan dengan ruang media yang akan kita kirimi resensi. Setiap media berbeda-beda panjang dan pendeknya. Mengikuti syarat jumlah halaman dari media yang bersangkutan adalah sebuah langkah yang aman bagi peresensi.

2. Menyertakan cover halaman depan buku.

3. Mengirimkan karya sesuai dengan jenis buku-buku yang resensinya telah diterbitkan sebelumnya. Peresensi perlu menengok dan memahami buku jenis apa yang sering dimuat pada sebuah media tertentu. Hal ini untuk menghindari penolakan karya kita oleh redaktur.

Demikian ulasan sekilas mengenai teknik sederhana meresensi buku. Pada intinya, persoalan meresensi buku adalah soal berbagi (ilmu). Setelah membaca buku, biasanya kita bahagia karena memperoleh wawasan baru. Dengan begitu urusan meresensi buku juga bisa berarti kita berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

di kutip dari http://forumlingkarpena.net/tips_menulis/read/teknik_menulis_resensi_buku/

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...