Sunday, 26 May 2013

Semoga Engkau Segera Berjilbab, Sahabatku....

"Wahai Nabi! Katakan kepada istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka' yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab: 59).

Aku ingin menceritakan sedikit tentangnya, tentang seorang gadis yang saat ini berada di pulau yang berbeda denganku. Kisahnya telah kuurai sedikit pada tulisan yang lalu, dan sekarang aku ingin menyambungnya.

Seperti yang kuceritakan sebelumnya, aku dan dia berpisah di persimpangan jalan. Aku melanjutkan ke sekolah agama dan dia ke sekolah umum. Perbedaan ini membuat banyak perbedaan lainnya. Aku harus berjilbab karena tuntutan peraturan dan dia masih bebas dengan model-model rambutnya. Ketika itu, aku masih belum mengetahui esensi jilbab yang menempel di kepalaku, malahan aku merasa jilbab hanya menjadi penghalang untuk tampil trendi. Rambutku yang panjang pun harus tersimpan dan tak bisa dipamerkan.

Aku memang terpaksa masuk sekolah agama, biarpun begitu, aku tetap menaati peraturan. Aku menjadi anak rumahan yang tidak banyak ulah dan tentunya berjilbab.

Bagaimana dengan dia? Dia begitu bahagia dengan sekolahnya, teman yang banyak dan seragam yang bagus. Ketika sekolah, dia juga mengenakan jilbab namun ketika jalan-jalan ia bebas ingin bergaya seperti apa. Aku iri, tapi mau bagaimana lagi.

Ia tak lagi punya banyak waktu bersamaku. Ia lebih senang dengan temannya yang sejalan. Aku tak lagi bisa menjadi sahabat yang asik baginya, tak bisa diajak curhat tentang pacar atau laki-laki yang dikagumi. Hubungan kami terus menjauh. Aku iri ketika ia memilih jalan-jalan bersama temannya yang lain daripada aku. Aku ingin marah padanya karena aku tidak lagi mendapatkan kebersamaan seperti dulu. Tak ada menyerok ikan, tak ada memanjat pohon rambutan, tak ada mencari damar, dan tak ada semuanya. Aku merindukannya meski aku bisa melihatnya setiap hari.

Semua berlanjut hingga kami beranjak ke pendidikan yang lebih tinggi. Aku melanjutkan ke pesantren dan ia melanjutkan ke SMA. Di pesantren, lambat laun aku mulai mencintai jilbabku. Aku tak lagi melepasnya ketika keluar rumah. Ia masih sama seperti dulu, masih dengan rambutnya yang tergerai lembut dan pakaian trendi.

Kita hanya bertemu setahun sekali, karena letak pesantrenku yang sangat jauh dari pulau kecil kami. Aku selalu berharap ia mau mengikuti langkahku, menutup aurat. Aku tak pernah sekalipun mengingatkannya, aku hanya tetap istiqomah mengenakan jilbabku. Aku juga tetap menyayanginya, mencoba membantu apabila ia sesekali menceritakan masalahnya. Aku memahami dirinya, aku tahu sepak terjang dan perjuangan hidupnya yang tak ringan, aku tahu ini hanya soal waktu. Aku tak perlu berceramah padanya, cukuplah aku perlihatkan keteguhanku berjilbab.

Sekarang, aku menjalani semester dua di Kota Bogor, dan ia harus banting tulang di pulau sana, Tanjung Pinang. Keadaan mengubur mimpinya untuk mengecap bangku perkuliahan. Terakhir kita bertemu Juni 2012 lalu, ia mengantarkanku ke dermaga. Melambai tangan saat boat yang kutumpangi menuju tengah laut. Ia memakai jilbab ketika itu, aku bahagia sekali, karena itu artinya ada cahaya dan keinginannya untuk berjilbab.

Kemaren malam, 26 Mei 2013, ia mengirim pesan singkat (sms), memintaku untuk membelikannya buku-buku. Nanti ia akan mengganti uangnya dengan cara dititipkan lewat kakaknya yang pulang ke pulau kecil kami, lebaran nanti. Ia sendiri tidak bisa pulang, tidak mendapat cuti kerja. Aku tahu itu pasti berat baginya, tapi seperti ceritaku dulu, ia adalah wanita tertegar yang pernah kukenal.

Sungguh aku menangis ketika membaca sms darinya. Aku tahu ia tidak memiliki hobi membaca, apalagi yang dipesannya adalah dua buku motivasi dan satu buku islam tentang muslimah. Kenapa aku menangis? Cermatilah, dua buku motivasi? Aku menyimpulkan ia sedang dalam keadaan rapuh saat ini, terlebih beberapa waktu lalu ia menceritakan perihal kebingungannya pada masa depan dan jalan hidup yang abu. Aku bisa merasakan hal itu, sebagaimana dulu ketika kecil, aku ikutan sakit saat ia sakit dan sebaliknya. Andai kita bisa bersama.

Hal kedua yang membuatku menangis adalah buku tentang muslimah yang dipesannya. Untuk buku yang satu ini, aku akan menghadiahkan buku milikku yang berjudul 'Hijab I'm in Love' karya Oki Setiana Dewi. Semoga ia juga akan segera memahami perintah Allah pada surah Al-Ahzab ayat 59 lalu berjilbab dengan sempurna.

Malam ini aku kembali mengenang masa lalu kami, masa kecil kami. Semoga Allah memberkahimu dan memberkahiku, memberkahi keluarga kita. Amin...

Selesai ditulis pukul 12:32 dini hari.
Bogor, 28 Mei 2013

Thursday, 23 May 2013

Kisah Inspiratif: Bocah Pembeli Ice Cream

Kisah inspiratif ini terjadi sudah lama sekali, sekitar tahun 1930-an. Ketika itu harga es krim sundae masih terbilang murah. Suatu hari, seorang bocah laki-laki berumur 10 tahun mendatangi kedai kopi sebuah hotel dan duduk di satu meja. Seorang pelayan menaruh segelas air di depannya.
"Berapa harga es krim sundae?" tanya bocah itu.
"50 sen," jawab si pelayan.
Bocah itu mengeluarkan kepingan uang dari kantong celananya dan menghitungnya.
"Hmmm... Kalau es krim yang biasa berapa?" tanyanya lagi.
Saat itu, sudah banyak pelanggan yang menunggu untuk dilayani. Dan si pelayan menjadi tidak sabar.
"35 sen," jawabnya dengan kasar.

Bocah itu menghitung uangnya sekali lagi dengan hati-hati.
"Aku pesan yang biasa saja," lanjutnya.
Tak lama kemudian, si pelayan membawa pesanan bocah itu dan menaruh bonnya di meja, lalu dia pergi. Setelah menghabiskan es krimnya, ia membayar ke kasir dan pergi.

Ketika si pelayan hendak membersihkan meja yang tadi dipakai bocah itu, ia kaget dan mulai menangis. Di samping piring tempat es krim terselip dua koin bernilai 5 sen dan lima koin bernilai 1 sen. Inilah alasannya bocah tadi tidak jadi memesan es krim sundae karena ia ingin memberikan uang tips yang layak kepada si pelayan.

Bukankah kita sering kali bersikap seperti pelayan tadi? Selalu cepat menghakimi orang lain. Selalu melihat suatu keadaan atau kejadian dari satu sisi saja. Sesuatu yang tampak tidak baik di satu sisi belum tentu tidak baik juga di sisi yang lain. Seperti pada cerita di atas, tindakan si bocah yang membuat si pelayan jengkel ternyata berujung pada maksud dan niat yang baik. Dan, sayangnya, si pelayan terlambat menyadarinya. Nah, sebelum kita mengalami hal yang sama seperti pelayan tadi, mari belajar untuk memahami suatu kejadian atau seseorang dari berbagai sisi, sehingga kita bisa mengambil tindakan atau mengeluarkan perkataan yang tidak akan kita sesali di kemudian hari.

Sumber : http://www.kisahinspirasi.com/2012/09/kisah-bocah-pembeli-ice-cream-sundae.html?m=1

Cerita inspiratif: Andai Aku Punya Email

Seorang lelaki melamar pekerjaan sebagai office- boy di istana. Staf istana mewawancarai dia dan memberi tugas membersihkan lantai sebagai tesnya.
"Kamu diterima," katanya. "Berikan alamat e- mailmu dan saya akan mengirim formulir untuk diisi dan pemberitahuan kapan kamu mulai kerja."  
Lelaki itu menjawab, "Tapi saya tidak punya komputer, apalagi e-mail."
"Maaf," kata staf itu.
"Kalau kamu tidak punya e-mail, berarti kamu tidak hidup dan tidak bisa diterima bekerja."

Lelaki itu pergi dengan harapan kosong. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan hanya dengan sedikit uang di dalam kantongnya. Setelah berpikir panjang, ia memutuskan untuk pergi ke pasar & membeli 10 kg tomat. Ia menjual tomat itu dari rumah ke rumah (door-to-door).

Kurang dari 2 jam, dia berhasil melipatgandakan modalnya. Dia melakukan pekerjaan ini tiga kali, dan pulang dengan membawa uang yang cukup untuk hidup beberapa hari. Dia pun sadar bahwa dia bisa bertahan hidup dengan cara ini.  Ia mulai pergi bekerja lebih pagi dan pulang lebih larut. Uangnya menjadi lebih banyak 2x sampai 3x lipat tiap hari.

Dia pun membeli gerobak, lalu truk, dan akhirnya ia memiliki armada kendaraan pengiriman sendiri. Lima tahun kemudian, lelaki yang tekun dan pekerja keras itu sudah menjadi salah satu pengusaha makanan terbesar. Ia mulai merencanakan masa depannya bersama keluarga dan memutuskan untuk memiliki asuransi jiwa.

Ia menghubungi broker asuransi. Sang broker pun menanyakan alamat e-mailnya. Lelaki itu menjawab, "Saya tidak punya e-mail." Sang broker bertanya dengan penasaran.
"Ah anda pasti bercanda, mana mungkin anda bisa sesukses ini kalo e-mailpun anda tak punya?".

Lelaki itu menjawab, "Ya saya memang tidak pintar, tapi saya telah membangun ini semua dengan impian dan kerja keras". "Anda tidak punya e-mail, tapi sukses membangun sebuah usaha besar. Bisakah Anda bayangkan, sudah jadi apa Anda kalau punya e-mail?"
Lelaki itu menjawab, "Ya, saya akan menjadi office boy di istana"

Sumber: http://berbisnis-di-rumah.blogspot.com/2012/06/cerita-sukses-jangan-pernah-mengukur.html?m=1

Friday, 17 May 2013

'Cinta Versi Monyet'

romantis nyaa..... hihi
Cinta. Bahkan anak SD pun tau tentang satu kata ini. Kita yang mengaku dewasa pun memberi nama cinta versi anak ingusan:"Cinta Monyet". Mengapa bisa cinta monyet? Mungkin dulu yang memberi nama ini adalah orang yang dekat sekali dengan primata itu sehingga paham dengan cinta versi monyet. Entah juga, aku hanya menerka. Intinya cinta main-main, itu saja.

Hmm.... Itu tadi prolog. Aku sendiri bukan ahlinya, bahkan hingga kini aku belum paham akan hakikatnya. Yang ku tahu cinta yang sempurna-selain cinta dari yang Maha Mencintai-adalah cinta Ayah dan Ibuku. Aku belum pernah menjumpai orang lain yang memperlakukanku sebagaimana Ayah dan Ibu memperlakukanku. Dari mereka, aku bisa melihat cinta itu. Cinta yang tak pernah sirna hingga kini.

Aku tak marah ketika Ayah membiarkanku berangkat seorang diri ke Pulau Jawa. Justru, aku melihat cinta di sana. Ketika Ayah meminta maaf dengan kata-katanya yang membuatku meneteskan air mata, ketika ia menepuk pundakku untuk menguatkan saat boat akan beranjak meninggalkan Pulau Kecilku, ketika ia menanyakanku pada kakak kelas yang akan menjemputku. Aku tak marah ketika aku sakit dan mereka tak datang menjenguk seperti orangtua yang lain. Justru aku menemukan cinta di sana. Ketika Ibu menangis di ujung telepon, ketika Ayah mengatakan ia mendoakanku semalam penuh, ketika mereka bercerita tak bisa tidur karena mencemaskanku, ketika mereka memiliki perasaan tidak enak dan mimpi buruk tentangku pada beberapa hari terakhir. Lihatlah, cahaya-cahaya cinta itu. Itulah yang tak kutemukan pada orang lain. Itulah cinta versi sepanjang masa edisi manusia.

Cinta. Aku juga pernah memiliki kisah cinta versi monyet seperti yang kusindir di awal. Bukan saat aku duduk di Sekolah Dasar, melainkan ketika aku menjalani masa-masa akhir di Pesantren. Lalu mengapa aku juga menamainya dengan Cinta Monyet? Karena cinta itu hanya main-main, semu dan menyesatkan. Aku menganggap cinta edisi pacaran adalah Cinta Monyet, mau umur berapapun mereka yang berpacaran. Anda tak suka? Mudah, jangan lanjutkan membaca.

Cinta. ya, memang indah cinta versi monyet. Jadi, biarkan kuceritakan sedikit tentang cinta versi monyetku itu padamu. Aku mengenal laki-laki itu dalam waktu 10 hari. Ia duduk di semester II bangku perkuliahan ketika itu. Kebetulan ia sebagai tutor kami pada pelatihan pertanian organik di sebuah Universitas Negeri nomor satu di Provinsiku. Ia paling tampan, paling tinggi, paling cool, paling sopan, paling rajin, paling rapi, paling-paling deh (berdasarkan referensi satu tahun lebih lalu). Semua temanku mengaguminya, diam-diam akupun begitu. Tapi, aku tidak pernah bisa mengekspresikan ketertarikanku. Aku malah sebisa mungkin tidak bertatap muka langsung dengannya. Why? Because i was so nervous. Ya, itulah awal bunga-bunga cinta versi monyetku. Kami hanya memiliki percakapan beberapa potong saja selama dalam kurun 10 hari itu. Kekaguman di antara kami hanya tampak dalam diam, diam namun aku merasakannya. Kisah itu terasa semakin indah saat masa pelatihan usai. Aku kembali ke Pesantren dan ia kembali pada kesibukan kampus. Tapi, semua berlanjut di dunia maya dan seluler. Hingga, persetujuan diantara kami pun terjadi. Pacaran. Ah, sebenarnya aku kurang suka mendengar kata itu, apalagi ketika sadar bahwa akupun pernah menjalaninya. Tapi, tak apalah. Aku ingin mengabadikan kisah ini dalam tulisan. Memang indah rasanya memiliki pacar, tapi semua semu, sementara. Sama seperti ceritaku yang hanya bertahan tiga bulan saja. Cerita itu berakhir pada malam Idil Fitri. Menangis? Ya, waktu itu. Menyesal? Ya, menyesal karena aku jadi memiliki catatan pacaran dalam sejarah hidupku. Tapi, aku bersyukur, kita tak pernah bertatap muka apalagi berjabat tangan ketika masa 3 bulan indah itu. Ia hanya meninggalkan bayangan yang kuambil dari kenangan 10 hari itu. Tak ada boneka, buku, terlebih bunga yang kuberikan ataupun ia berikan. Setidaknya begitu. Dan setidaknya lagi, bukan aku yang mengucap cinta pertama kali dan bukan ia yang mengakhiri cerita ini. Memang perih, tapi setidaknya aku tidak menanggung malu.

Hingga kini, percakapan kami di jejaring sosial masih ada tersimpan. Aku tak berniat menghapusnya. Biarlah, sebagai arsip bukti sejarah hidup. Sebagai bahan cerita suatu waktu kelak.
Jadi, cinta itu apa? Berikut cinta menurut Jalaludin Rumi.

"Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta"

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai diri sendiri.” Juga sabda Rasulullah, "Barang siapa ingin mendapatkan manisnya iman, maka hendaklah ia mencintai orang lain karena Allah.” (HR Hakim dari Abu Hurairah)”.

Saya tak sanggup mendefinisikan cinta. Namun, aku berani menyimpulkan bahwa ceritaku bersamanya selama 3 bulan itu bukan cinta. Cinta tidak akan membuatku lupa diri dengan menghabiskan waktu senggangku hanya untuk membayangkannya, cinta tak akan membuatku lalai melaksanakan kewajibanku karena menjawab telepon darinya, cinta tak akan membuatku menjalani hubungan tanpa akad yang tak disukai-Nya. Cinta tak akan membuatku mencinta tanpa dasar cinta kepada-Nya. Itu bukan cinta. Itu hanya racun yang menjelma menjadi madu. Merusak perlahan.

Berbahagialah kalian yang istiqomah tidak pernah sekalipun menjalin ikatan tanpa akad itu. Bagi yang memiliki kisah sama sepertiku, tenanglah. Dia Maha Mencintai, Dia menerima apapun keadaan kita selagi kita memiliki niat untuk berubah. Cinta memang harus dijemput, namun bukan dengan mengikat tanpa akad.
Inilah ceritaku, mana ceritamu?

Tuesday, 14 May 2013

Sepiring Cita dengan Tiga Potong Video Inspiratif dari Dosenku

"Saya ingin kalian semua menjadi pengusaha nantinya, semuanya" Begitu ucapan Pak Henry, dosen mata kuliah Kualitas Air di akhir kelas hari ini. Selasa, 14 Mei 2013 di salah satu Kelas Kampus Pascasjana IPB Baranang Siang.

"Ini adalah kali terakhir saya masuk ke kelas ini, oleh karena itu saya ingin memberikan yang spesial di akhir kelas"

Ya, beliau memutar tiga video untuk kami. Video pertama adalah video lucu yang bercerita tentang seorang Pak Guru yang mengajarkan antonim kepada dua orang muridnya, seluruh dialog using NGAPAK language, guys. Kurasa video ini sudah familiar sekali. Aku sendiri sudah berkali-kali menontonnya dari ponsel adikku. Bahkan, adikku sampai hafal dengan dialog yang membuat sakit perut itu.

"Video tadi sederhana sekali, sekilas hanya seperti kartun komedi. Tapi, ada hal yang bisa kita ambil. kuasailah komunikasi, agar orang lain paham dengan apa yang sebenarnya ingin kita sampaikan"

Video kedua adalah video Pak Mario Teguh yang memberi petuah di sebuah acara TV (saya lupa nama acaranya). Pak Mario tampil berbeda sekali. Yap, karena itu adalah acara komedi. Di belakang Pak Mario berdiri saja, berjejer manis Si Raditya Dika dan komplotan komedian lainnya (eh, Bang Dika masih kurus lho. Maklum arsip awal tahun 2012). kembali ke Pak Mario, kali ini ada gelang hitam melingkar di pergelangan tangannya.

"Wah, fleksibel sekali seorang Pak Mario" Pikirku

Pak Mario tetap menyihir dengan kalimat-kalimatnya, namun spesialnya semua petuahnya disampaikan dengan mengejutkan. Ya, karena semua dibuat super duper nguakak.

Bang Radit dan komplotannya saja tertawa sampai kejang-kejang. Aku sendiri tak mampu mengingat apa yang sudah disampaikan Pak Mario. Bentar ya, aku mikir dulu.

Aha! Ini dia! Suara dan penampilan itu sungguh berpengaruh pada chemistry seseorang. Contoh nih, ada seorang laki-laki tinggi, atletis, cakep, bule, pake jas, eh....ketika ngomong, suaranya kayak cewek India lagi nyanyi. Melengking, bok. Cucok. Kan gak banget ya?

Ini namanya gak seimbang.

Pokoknya super deh, kalau penasaran mangga dicari di youtube. Tapi, maap saya gak bisa ngasi key word ya. Saya lupa atuh. Pokoknya inspiratif sekali, meskipun ada kakak tingkatku yang mengatakan "Hidup itu tidak semudah ucapan Mario Teguh" (sambil mikir  dengan gaya ala Einstein).

Video ketiga adalah video motivatif. Berbahasa Inggris. Intinya menceritakan tentang sikap banyak orang. ketika kecil, kita berani bermimpi.

"Aku ingin jadi pilot!"

"Aku ingin jadi ini, jadi itu!"

"Aku tidak takut pada ketinggian!"

Namun setelah dewasa kita berubah menjadi sosok pengecut dan mudah terpengaruh sehingga ide-ide kreativ yang kita miliki hanya berbuah sia-sia. Why? Because we had no action!

Setelah video ketiga selesai, Pak Henry selanjutnya berbicara seputar dunia kewirausahaan dan mengaitkannya dengan ketiga video yang telah kami tonton.

Pengusaha?

Bagiku, mereka adalah sosok yang berani, tangguh, dan berpikir berbeda. Ya, aku setuju dengan ucapan Pak Henry tentang mereka, para pengusaha itu. Mereka yang berjuang mati-matian di tahun pertama dan kedua hingga kestabilan pada tahun keempat dan kelima. Pada tahun keenamlah mereka panen. Mereka bisa bersedekah lebih banyak, bisa mengajak Ayah-Ibu ke Tanah Suci, bisa menyekolahkan Adik-Adik, bisa memberikan pekerjaan untuk orang lain, bahkan bisa sampai bosan memegang uang. Hihi

Benar guys. Bukankah Nabi Muhammad SAW adalah seorang pengusaha? Beliau adalah pengusaha jujur yang sukses. Bahkan Beliau memberikan mahar pada Khadijah berupa 100 ekor unta yang senilai dengan 1,2 M. Waw....!!!

Wah, jadi pengen membuka usaha. Tapi usaha apa ya? Pabrik mie sagu instan, peternakan puyuh pedaging, kebun sayur, kebun bunga atau perikanan? Waw, waw, semuanya aja deh! (ciri-ciri orang rakus). Hehe Alhamdulillah saya udah punya coret-coretan. Sekarang lagi belajar buat kesono nya. Doain yaa...

Ya, tepuk tangan bergemuruh. Membahana ke langit-langit kelas. Super sekali Pak Henry. You are the inspiring lecturer. So thankful....

(Maap kalau bahasanya rada aneh. Nulisnya sambil merem-melek ngantuk. Soalnya kalau nunggu besok keburu lupa deh. Hihi)

Saturday, 11 May 2013

"Si Pembuat Awan" dari Belanda



Terkadang ketika duduk seorang diri dengan suasana hati yang tepat, imajinasi kita akan terbang ke tempat-tempat yang tidak terjangkau. kita membayangkan sedang menyusuri lorong klasik dengan awan putih yang menggantung di samping kiri dan kanan, atau ingatan kita terlempar ke masa kecil, ketika kepala mendongak ke langit. Kita tersenyum dengan mata berbinar, menunjuk awan, memiripkan awan-awan itu dengan mainan, kelinci ataupun bunga. Ada satu poin yang sama pada kedua deskripsi di atas. Apa itu? Itu adalah awan. Ya, awan selalu disejajarkan dengan hayalan, fantasi, dramatic scene, dan keanggunan.
Gambar 1. Berndnaut Smilde

Syahdan, hampir setiap orang mengagumi atau setidaknya pernah mengagumi awan putih. Namun, semua itu hanya sebatas kekaguman yang sungguh sulit direalisasikan. Kita harus terjun payung atau naik ke puncak gunung untuk menyentuh awan dan berfoto di antara kedramatisannya. Lalu, kenapa tidak berpikir untuk membawanya ke dalam toples atau ruangan? Oh ini sedikit tidak efisien. Bagaimana kalau membuatnya saja? Nah, this is a nice idea. Inilah space yang dilihat Berndnaut Smilde, seniman dari Amsterdam, Belanda. Ia tau betapa banyak orang yang ingin menikmati keindahan awan, ia tau bahwa mengantongi awan dari atas sana untuk di bawa ke bumi akan menguras biaya dan waktu, maka ia mengambil satu peluang, yaitu membuat awan.

Gambar 2. nimbus cukurkuma hamam
Dalam salah satu video tentang Smilde di youtube, kita bisa melihat seniman tampan itu menyemprotkan air untuk mengatur kelembapan dari hand sprayer ke udara. Ia juga memanipulasi suhu ruang dan pencahayaan seoptimum mungkin. Selanjutnya mesin asap yang menempel di dinding akan menyemburkan kepulan asap tebal. Aha, itu dia! Dalam beberapa saat, terbentuklah awan putih yang menggantung dramatis di tengah ruangan, momen singkat ini yang Smilde manfaatkan untuk mengambil foto-foto dari berbagai angel. Ia juga memberi nama setiap awan yang berhasil dibuat, seperti nimbus d'aspremont, nimbus cukurkuma hamam dan banyak lagi. Karya ini tentu sangat menggebrak dunia seni di seluruh dunia. Tak ayal, Smilde pun kemudian harus menampilkan awan dan pameran foto awan buatannya di banyak negara. Diantaranya di Ronchini Gallery di London , Galleries SFAC di San Francisco dan di Land of Tomorrow di Louisville, Kentucky. Awan buatan seniman kelahiran Groningan, 1978, inipun disebut sebagai "Best inventions of the year 2012" oleh majalah Time.
Gambar 3. Nimbus NP3

Gambar 4. Nimbus D’Aspremont

Awan buatan tersebut memang hanya bisa bertahan beberapa detik. Namun, justru dengan begitu ada rasa yang tercipta bagi setiap orang yang melihatnya. Karena disanalah diajarkan untuk menikmati sesuatu yang singkat dengan sepenuh hati. Di sanalah tercipta seni, keindahan yang dirindukan.
"I'm interested in the ephemeral aspect of the work" Ucap Smilde ketika diwawancarai.

Gambar 5. Nimbus II

Gambar 6. Nimbus green room II, 2013

Awan buatan ini tidak hanya mewujudkan hayalan banyak orang, tidak hanya melambungkan nama Smilde, tidak hanya mewangikan negara Belanda, namun memberikan pelajaran kepada banyak orang. Sesuatu yang tinggi, tidak tersentuh, bukan berarti tidak bisa diwujudkan.Smilde juga mengajarkan kita untuk tidak melupakan hal-hal yang ada disekeliling kita, sesederha apapun itu. 'Using his daily surrounding as spaces as inspiration' begitu kalimat yang tertulis pada sebuah artikel di www.dailymail.co.uk untuk mendeskripsikan sang pionir Berndnaut Smilde. Semoga kita bisa mengambil inspirasi dari karya ini dan segera bisa memiliki karya menakjubkan.

Referensi:
http://www.thisiscolossal.com/2012/12/artist-berndnaut-smilde-brings-the-weather-indoors-with-his-temporary-nimbus-clouds/

http://www.youtube.com/watch?v=1XKXlZgqr_I

http://www.washingtonpost.com/blogs/arts-post/post/artist-berndnaut-smilde-creates-indoor-clouds/2012/03/13/gIQA7yAT9R_blog.html
 

http://www.ronchinigallery.com/archives/artists/berndnaut-smilde

Thursday, 9 May 2013

A Testimony : 9 Summer 10 Autumn Movie

Halo sahabat semua, Rabu 8 Mei kemaren aku berkesempatan menoton film yang banyak diperbincangkan beberapa minggu terakhir. Film yang berjudul sama dengan novel yang kubahas sebelumnya '9 Summer 10 Autumn'. Awalnya aku memilih untuk ikut nobar yang diadakan oleh sebuah lembaga swasta pada hari Minggu, 12 Mei. Karena pada hari itu seluruh pemain dan Mas Iwan Setyawan juga didatangkan ke Cimema XXI Bogor Trade Mall. Tapi, aku tidak bisa menolak saat teman-teman mengajakku pada hari Rabu.

Setelah menonton film  yang disutradarai Ifa Isfansyah (sutradara terbaik festival film Indonesia 2011) ini, saya jadi paham alasan film ini menjadi topik pembicaraan yang segar beberapa waktu terakhir. Semua media sosial selalu mendiskusikannya. Ucapan-ucapan apresiasi juga tampak membanjir di twitter Mas Iwan dan Ihsan Tarore. Film yang menggugah dan motivatif. Aku sendiri sangat mengagumi peran Alek Komang sebagai Bapaknya Mas Iwan. Seorang Bapak yang begitu bangga dengan kelahiran anak lanang satu-satunya. Seorang Bapak yang merasakan kerasnya hidup sebagai supir angkot di Kota Batu. Seorang Bapak yang mengungkapkan cintanya dengan caranya sendiri. Mas Iwan yang penakut, senang main di dapur, adalah alasan mengapa Sang Bapak tidak menaruh bangga padanya. Bahkan saat Mas Iwan mendapat ranking 1 di kelas dan diterima di jurusan statistika IPB melalui jalur PMDK, Bapaknya tak bangga. karena Bapaknya hanya menginginkan anak lanangnya menjadi laki-laki pemberani, itu saja. Biarpun begitu, Bapaknya Mas Iwan selalu berusaha memenuhi keinginan Mas Iwan.

Keluarga Mas Iwan dalam Film
Jangan kaget kalau Ihsan Tarore, sebagai Mas Iwan bergaya cucok banget dalam film ini. Gaya berjalan melenggang dan tas yang cewek banget. Ia memang dituntut memerankan sosok Mas Iwan yang menurut anggapan Bapaknya adalah laki-laki penakut dan klemar-klemer. Pemeran Mas Iwan kecil oleh Shafil Hamdi Nawara. aku rasa sudah pas. Anak yang lucu, menggemaskan dan tepat.
Si Bayek: Mas Iwan Kecil Oleh Shafil Hamdi Nawara
Seperti cerita aslinya, Mas Iwan mencapai puncak kesuksesannya di New York, kota yang gemerlap dan penuh dengan kebisingan. Namun jangan harap penonton akan disuguhi New York dengan kebisingannya, yang ada justru sebaliknya, New York terkesan sepi dan lengang. Tepat sekali untuk menggambarkan batin Mas Iwan yang sepi. Dalam film ini, aku sempat meneteskan air mata beberapa kali, yaitu ketika Bapaknya Mas Iwan menjual angkotnya, ketika Mas Iwan mengatakan 'Bapak tidak bisa memilih siapa yang tepat menjadi anak Bapak, sama seperti aku yang tidak bisa memilih siapa yang tepat menjadi Bapakku', dan ketika Mas Iwan dengan bangga mengatakan 'I will going home' di subway kepada seorang laki-laki negro.

Film ini mengingatkan kita akan satu hal bahwa kebahagiaan itu sederhana, kebahagiaan itu adalah ketika kita bisa membaginya dengan keluarga tercinta. Itulah alasan Mas Iwan meninggalkan jabatannya di New York. Ia kangen keluarganya di Kota Apel. Hari-harinya di New York menjelma penuh kesepian dan kebekuan.
Ihsan Tarore sebagai Mas Iwan
What's funny?

Wah, ini greats question. Lucu, tapi cuma buat kita aja. Karena ada beberapa latar yang diambil di Bogor, di depan kosan lebih tepatnya. Warung bakso bantolo, tempat biasa beli mie ayam, bakso atau es, disulap menjadi warung pecel lele. Gang depan kosan juga jadi eksis banget. Kampus Gunung Gede tempat kita biasa kuliah plus kelas yang sering kita pake juga masuk dalam film ini. Jadi, ada sensasi tersendiri gitu. Hehe
Di antara kelebihan film ini, aku memiliki catatan kecil perihal kekurangannya. Aku merasa kehadiran Mas Iwan kecil di New York kurang sempurna. Di novelnya, jelas sekali diceritakan betapa anak kecil berseragam merah putih itu begitu berarti bagi Mas Iwan, menemani kesepian Mas Iwan. Meskipun ia hanyalah ilusi,tapi dalam film kedekatan keduanya tak ada ditampilkan. Justru Ihsan lebih sering berkata dengan kalimat bernada tinggi dengan anak itu.

Biar begitu, you should to watch it, guys! It is a nice movie. It touchs our deep heart. It teach you about family, about hard working, about loneliness. Enjoy this movie with your friends or your families on weekend, then find the point.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...