Sunday, 25 August 2013

Rebloged: A Short Story From Annida Online

Siang menggelegak. Bau tanah kering terbakar menguar, berpeluk aroma aspal terpanggang. Debu melompat-lompat lincah, adu cepat dengan asap yang keluar dari knalpot-knalpot kendaraan di jalanan ibukota. Matahari rasanya hanya sejengkal di atas ubun-ubun. Kau duduk nyaman dalam Harrier hitammu yang full AC, menggengam Blackberry kesayangan. Panasnya udara di luar, kali ini tak mampu menyentuhmu.  Sebuah sms banking masuk. Kau tersenyum senang usai membacanya. Lalu mencatat schedule baru dalam daftar to do-mu. Telah tiba giliranmu melakukan tugasmu, agar dana yang diperbesar itu tampak wajar dalam laporan keuangan proyek. Kau menoleh ke arahku. Senyummu raib seketika. 


“Jangan memandangku seperti itu, please?” kau memasang wajah memelas. 

“Mengapa kau masih melakukannya?” aku bertanya masygul.


“Melakukan apa, sih? Ayolah, sekarang zaman sudah berlari sangat cepat. Kalau toh bukan aku yang melakukannya, pasti ada orang lain yang mengambilnya! Aku hanya melihat sebuah peluang.” 

“Berapa kau naikkan kali ini?”

“Hanya setengah dari kenaikan yang lalu. Orang akan menilai wajar, dong? Kan inflasi? Disetujui semua syukur, dipotong sejumlah tahun lalu juga nggak masalah,” alismu terangkat,

“Ternyata fully agreed. Aku ngga salah dong, kan sesuai prosedur?” kau terbahak,


“Kau tahu jumlahnya? Fantastis! Lebih dari satu tahun gajiku sebagai asisten bapak asisten penasehat menteri anu. Bisa kau bayangkan itu?” Matamu menerawang. Barangkali berencana akan kau apakan saja uang sebanyak itu. Aku menangis. Meraung.  Kau menoleh, menatapku kesal.

“Mengapa kau tak bisa ikut bergembira saja bersamaku?” tanyamu gusar.


“Aku tak bisa. Tak bisa!” Aku menggeleng.

“Ah, siapa bilang! Tak ada yang tak bisa di dunia ini, bro!” kau mencibir.

“Buktinya bosku sudah tak punya kawan sepertimu lagi, sudah ia penjarakan.” 

“Tapi kau tidak melakukannya padaku! Itu artinya kau masih ingin mendengar suaraku,” sepercik harapan muncul, kuusap air mataku.

“Tinggalkan perbuatan itu, please?” bujukku Kau diam sejenak, lalu menggeleng pelan.

“Sudah kepalang tanggung! Apalah artinya aku berhenti sekarang. Berhenti tidak berhenti, tetap saja kalau ketahuan aku akan masuk penjara. Tapi kau tak perlu risau, aku sudah booking seorang pengacara terkenal kalau-kalau aku dapat masalah. Ia terkenal banyak meloloskan kawan-kawanku yang ketahuan lebih dulu.”

Kudapati diriku menciut, semakin mengecil, terhimpit kata-katamu. Sekelilingku tiba-tiba menghitam, membuat batas antara kita. Kau tampak samar, macam bayangan. Inikah penjara seperti kata bosmu itu?

“Hei, tenanglah! Aku kan sudah menyumbangkan sebagian harta itu untuk orang miskin dan yatim piatu! Kau lihat liputannya di televisi dan surat kabar, kan? Lihat, aku tidak serakah! Aku mau berbagi,” kau tertawa.

Aku menatapmu pilu, terluka. Dan kau hanya membuang muka. Ah, kau benar-benar telah berubah! Alumni sebuah perguruan tinggi ternama negeri ini. Aktivis himpunan mahasiswa dan tekun menyerukan pemerintahan yang bersih dalam berbagai unjuk rasa. Ketika ada lowongan menjadi pelayan rakyat, kau pun mendaftar demi idealisme itu, menjadi perintis pejabat yang sepenuhnya memikirkan rakyat.   Kau berubah sejak reuni angkatanmu di almamater. Di sudut aula bergaya modern itu, kau lebih banyak diam mengudap kue-kue yang disediakan panitia. Cerita kawan-kawan satu angkatanmu yang bekerja di berbagai perusahaan multinasional membuatmu berkecil hati. Mereka sudah mapan. Memiliki rumah sendiri. Mobil pribadi. Karir gemilang. Malang melintang ditugaskan ke berbagai negara. Menjadi world class community. Gagah. Berkelas. Gaya hidup masa kini. Mereka semua, lima puluh sembilan dari enam puluh mahasiswa yang terdaftar di angkatanmu. Hanya kau sendiri yang jadi pelayan rakyat. Rumah tipe 21 dengan cicilan KPR 25 tahun. Berkendara sebuah vespa butut tahun 80-an. Tak pernah bisa pergi sekeluarga karena vespa itu tak kuat menanggung beratmu, istri dan tiga anakmu. Kau bahkan kalah dengan kawan-kawan wanitamu yang semuanya menjadi wanita karir dengan posisi menjanjikan.  Sungguh tak adil, desismu kala itu. Padahal kau adalah tiga besar lulusan terbaik. Cum Laude. Dengan idealisme itu kau sungguh merasa bisa menjadi pembaharu dalam jajaran penentu kebijakan publik. Namun, idealisme itu ternyata harus ditebus dengan menjadi paling miskin dalam barisan alumni. Kau sungguh merasa tertipu. Lalu begitulah awalnya, kau memutuskan untuk menyerah pada arus. Aku berteriak mencoba memanggilmu lagi. Ingin kukatakan bahwa sesungguhnya yang kulihat kau sedang menelan api neraka, bukan nikmat makanan pelepas lapar, apalagi minuman penghilang haus. Namun kau acuh, hanya memandangku sekilas, tersenyum sinis, lalu berpaling ke Blackberry-mu lagi. Terpelantinglah aku dalam sebuah penjara yang hitam kelam.

***

Setelah mengantarkan ketiga anakmu ke depan pintu masuk sekolah mereka, kau memarkirkan motor kesayanganmu yang cicilannya masih setahun lagi. Ah ya, suamimu bahkan mengira itu motor milik sopirnya.
 
“Kau harus mengingatkan suamimu!” kataku ketika kau mulai berjalan menuju ruang guru sekolah itu.

“Langkahnya sudah terlalu jauh.” Kau tampak gusar.

“Aku sudah melakukan berbagai cara untuk menariknya kembali, bahkan sejak pertama kali ia melakukannya dalam angka ratusan ribu. Ia tak mendengarku! Kini ratusan itu jadi miliaran. Angka itu lebih cantik daripada aku. Ia akan segera meninggalkan aku dan kawin dengan angka-angka itu,” kau menjawab kesal.

“Kau istrinya! Kalau bukan kau yang mengingatkannya, siapa lagi?” tuntutku.

“Kau benar sekali! Aku hanya istrinya. Bukan pemilik jiwanya!” Kau menggeleng.

“Jangan timpakan ini padaku! Aku sudah cukup pusing memutar otak supaya gajiku sebagai guru honorer cukup untuk menghidupi anak-anakku. Toh, sebentar lagi ia juga akan meninggalkan aku?” Kau berhenti melangkah.

“Kau tahu? Ada banyak wanita lain di sekelilingnya kini. Ia pikir ia sudah bisa membeli dunia,” matamu berkaca-kaca.

“Aku sudah memilih mendengarmu. Menurutimu untuk tidak menggunakan uang yang diberi suamiku karena kau bilang uang itu uang haram. Uang yang jika dimakan anak-anakku, mereka tak akan pernah jadi anak baik. Kau yang bilang begitu, kan?” Aku mengangguk.

“Terima kasih telah mendengarkan aku. Percayalah, kau tak akan pernah menyesal.”

“Kau tahu, itu sangat berat bagiku.” Kau menghela nafas, lalu melanjutkan langkahmu.

***

Berkali-kali aku mengetuk dinding hitam yang menyekatku darimu. Berteriak lantang memanggil namamu. Nama indah pemberian kedua orang tuamu. Nama yang berarti bersih, suci. Sebagaimana keinginan mereka supaya kelak kau menjadi lelaki yang berhati bersih dan suci. Namun kau teramat sibuk dengan duniamu. Tak terluang sedikitpun waktumu meski hanya untuk melirikku.  Kudapati kau tengah termangu di bangku taman belakang rumahmu malam larut itu. Asbak di sampingmu penuh dengan puluhan puntung rokok yang tak terbakar sempurna. Kau gelisah memikirkan sesuatu. Aku berseru memanggilmu, namun kau tak menggubris.  Lalu kudengar suara ketukan itu. Antara terkejut dan senang. Kau mengetuk dinding itu! Kau memanggilku! Aku gembira bukan kepalang. Asal kau tahu, ketukan dan sapamu itu meruntuhkan dinding hitam yang memisahkan kita seketika.

“Hai!” sapamu. 

“Apa kabar?” balasku.

“Kurang begitu baik.” 

“Tidak biasanya.”

“Jangan meledek!” “Ada yang bisa kubantu?” 

“Waktuku tiba juga,” katamu menggantung.  Aku celingukan, tak kulihat siapapun.

“Bukan, bukan malaikat maut maksudku,” kau meralat, tersenyum canggung.

“Ow, kau bisa menyuapnya juga agar menunda mencabut nyawamu? Sungguh luar biasa kau!” aku berdecak. Wajahmu makin kisruh.

“Berhentilah memojokkanku, please? Aku sadar aku salah, tapi mengapa aku enggan berhenti? Ini sungguh jadi candu bagiku,” kau memandang langit hitam.

“Semua sudah aku rencanakan dengan sempurna, tapi rupanya ada rencana di atas rencana yang lebih sempurna.” 

“Memang begitu,” timpalku membenarkan, mulai paham ke mana arah bicaramu.

“Ke mana pengacara sakti yang pernah kau bilang dulu? Bukankah ia selalu berhasil meloloskan kawan-kawanmu?” 

“Ternyata ia tak sesakti itu. Aku tetap terancam masuk penjara, tahunan,” kau memandangku, tak menangkap sindiranku.

“Apa saranmu?”

“Mudah, taubat! Taubat sebenar-benarnya taubat! Kau kembalikan semua yang pernah kau ambil tanpa hak. Semua. Lalu kau berjanji pada dirimu sendiri tidak akan mengulanginya lagi. Mulai dengan hidup baru. Bersih,” saranku bersemangat.

“Aku sudah tak tahu lagi mana yang benar-benar punyaku, mana yang bukan!”

“Kalau begitu kau kembalikan saja semua.”

“Mana boleh begitu!” kau mendelik.

“Bagaimana aku hidup nanti?”

“Bagaimana kau mati nanti?” timpalku cepat. Matamu terkerjap sejenak. Aku sungguh berharap jawabanku itu bisa menghentakkanmu. Menarikmu pulang ke fitrahmu. Kau menerawang langit. Malam ini tak ada satu pun bintang. Barangkali ada, namun sinarnya kalah oleh lampu-lampu penerang yang benderang menyilaukan mata. Serupa aku, suaraku kalah oleh suara lain dalam dirimu. Malam ini aku sungguh berharap kau lebih mendengarku daripada suara apapun di atas bumi ini. 

“Jika semua kukembalikan, lalu apa yang tersisa untukku?” tanyamu lirih.

“Tuhanmu, istrimu, anak-anakmu, dan aku,” jawabku yakin.

“Itu saja?”

“Itu cukup!” Kau menggeleng-geleng.

“Tak masuk akal. Tak masuk akal. Zaman begini? Zaman begini kau bilang itu saja cukup?” Kembali kau bangun sekat hitam yang baru saja kau robohkan. Kugedor-gedor sekat itu sekuat tenaga. Kau acuh. Kuteriakkan namamu berulang kali. Kau hanya melirik sekilas. Kulihat seringai sinis musuh lamaku di sudut bibirmu. Hrrrgh!

***

Kau menangis memegangi jeruji besi yang memisahkanmu dengan suamimu.

“Jangan sedih, Ma. Aku hanya lima tahun di sini. Sesudah itu aku bebas dan kita bisa menikmati kekayaan yang masih aku simpan. Mereka hanya mendendaku sedikit saja. Hartaku masih bisa menghidupi anak cucu kita hingga tujuh turunan.” Suamimu berbisik-bisik, takut terdengar sipir yang berdiri tak jauh. Ia takut sipir itu minta bagian. Bukannya mereda, tangismu justru makin keras. Suamimu jadi bingung. Responmu sungguh tak masuk di akalnya.  Kau mengeluarkan sesuatu dari tasmu.

“Kukembalikan ini padamu,” kau mengulurkan sebuah kartu ATM dan buku tabungan yang dulu pernah diberikan lelaki itu padamu, “Dan aku tidak berminat ikut menikmati harta yang masih kau simpan itu.” Suamimu terbelalak. Matanya bahkan hampir keluar saat melihat jumlah saldo yang tertera di buku tabungan itu, saldo selama sepuluh tahun menabung tanpa berkurang satu rupiah pun. Suamimu tertawa terbahak-bahak. Ia senang bukan kepalang. Hartanya bertambah banyak.

“Tadinya aku berharap kau bertaubat setelah masuk ke sini, maka aku akan bersabar  menunggumu keluar. Nyatanya tidak. Kau masih keras hati. Maaf, tapi aku tak punya pilihan. Akan aku kirim pengacara untuk mengurus perceraian kita,” kau langsung berdiri dan bergegas pergi, meninggalkan lelaki itu selamanya. Samar sempat kulihat dia yang terpenjara dalam hati suamimu. Dia menggigil hebat, karena kekuatan sucinya telah banyak memudar tergerogoti hawa nafsu lelaki itu. Rasanya ingin kutularkan sedikit kekuatanku yang makin cemerlang ini untuk membantunya menghancurkan dinding hitam yang memenjaranya. Namun aku tahu, hanya suamimu yang bisa membantunya. Atau mungkin doa-doamu yang bersambut.

***

Kau memandangi punggung istrimu lewat jeruji hingga tubuh perempuan itu lenyap di balik pintu keluar. Tanganmu gemetar menggenggam buku tabungan dan kartu ATM bernilai milyaran rupiah. Kau diselimuti heran. Tidak mengerti jalan pikiran perempuan itu.  Cahaya itu telah pergi, gumamku sedih. Padahal sempat aku berharap cahaya terang dari diri seorang perempuan yang menangis di hadapanmu tadi menyinariku, mengirimkan kekuatan suci untuk membantuku meruntuhkan dinding hitam ini. Namun lagi-lagi aku terpaksa menelan kecewa. Harapan itu semakin menipis. Entah sampai kapan aku terpenjara di sini, di hitam kelam hatimu.

Selesai.   

(Notice: I forget the title, but i hope you will be keeping the message in your heart. This story was taken from Annida-Online website.)

Thursday, 22 August 2013

Bagian I : Catatan Khuruj Fi Sabilillah


"Ih, seram sekali orang-orang itu. Pasti mereka adalah para laki-laki yang suka menelantarkan anak istri, terus membuat markas untuk menge-bom tempat-tempat yang menurut mereka penuh maksiat!!!" begitulah kalimat berintonasi jijik yang melintas di kepalaku, ketika jejala pandangku menangkap segerombol laki-laki. Semuanya mengenakan jubah panjang bewarna putih, jenggot lebat sedada, dan sorban yang menutupi kepala mereka. 

Mereka berjalan dari Masjid ke Masjid dan menginap di Masjid.


Berlebihan! Begitu keterbatasan akalku telah menyimpulkan, bahkan terkesan menghujat. Mereka hanya membuat Islam terkesan kolot dan menakutkan. Itulah alasan yang membuat dadaku selalu bergemuruh keresahan saat berjumpa dengan orang-orang 'berlebihan' itu.

Coba lihat! Ustadz-ustadz yang sering nangkring di televisi, mereka juga berdakwah, tapi pakaian dan jenggot mereka tetap enak dipandang. Baju koko mereka aneka model dan warna, peci mereka pun cantik. Apalagi para ustadz kondang itu tampan-tampan. Pokoknya ketika mereka berceramah, mata tak akan rela melengah barang sekedip pun.

Itu adalah aku beberapa waktu yang lalu. Tapi kini, aku bersyukur karena perlahan aku mulai merubah pradugaku yang asal-asalan itu.

Hampir dua bulan aku di kampung halaman. Dan selama itu pula pengetahuanku tentang orang-orang 'berlebihan' itu semakin tumbuh. Dari Bapaklah pengetahuan itu mengucur bagai air hujan. Bapak pun ternyata bagian dari mereka. Bapak menyebut mereka, orang-orang yang khuruj fi sabilillah atau orang-orang yang keluar di jalan Allah.

Memang, Bapakku tidak berjenggot tebal dan berjubah, tapi ia sudah beberapa kali 'keluar' selama tiga hari. Dalam waktu tiga hari itu, mereka mengadakan ta'lim [membaca kitab-kitab ta'lim, seperti: Hayyatu Sahabah, Fadhilah Amal, Fadhilah Sedekah, dll], membicarakan masalah agama, dan memiliki tujuan utama untuk menghidupkan sholat jamaah di Masjid.

Khuruj fi sabilillah ini dibagi menjadi beberapa waktu. Ada yang tiga hari, 40 hari dan empat bulan. Bahkan ada yang satu tahun. Sesuai dengan kemampuan dan niat. Rute-nya pun sesuai kemampuan dan niat, bisa Masjid antar kampung, Masjid antar kota, Masjid antar provinsi, hingga Masjid antar negara.

Bapak bilang, mereka adalah orang-orang yang rela berpayah-payah demi menegakkan kembali syariat,  lillahita'ala. Demi mendapatkan rahmat-Nya. Karena hanya dengan rahmat Allah-lah, seseorang akan meraih Jannah.

Mereka rela bermalu ria dengan mengetuk pintu setiap rumah penduduk, mengajak setiap penghuninya sholat berjamaah di Masjid. Lalu apakah pantas aku membenci orang-orang seperti itu?

Mereka berdakwah dari satu tempat ke tempat lain dengan mengorbankan harta mereka, bukan meminta ongkos dari masyarakat, apalagi menunggu diundang. Apakah masih layak aku membenci mereka?

"Tapi mereka menelantarkan anak istri!"

Siapa bilang? Itu hanya dakwaan orang yang melemahkan Islam. Mereka sudah meninggalkan harta yang cukup untuk anak-istri. Kalaupun tidak, istri mereka adalah wanita saleha. Yang mengikhlaskan sang suami berdakwah di jalan Allah. Mereka ikhlas dalam susah dan nestapa di dunia.

Kita tentu tidak pernah lupa dengan kisah Khadijah istri Rasulullah saw. Apakah dia seorang istri yang bersantai di rumah sedang sang suami berjuang menyampaikan risalah? Apakah dia seorang istri yang merengek ketika di rumahnya tidak ada yang bisa digunakan untuk mengobati lapar? Tidak. Khadijah adalah istri yang selalu tegak di belakang sang Rasul. Ia gagah ketika Rasulullah gundah. Ia sabar ketika Rasulullah gentar. Ia korbankan seluruh hartanya di jalan Allah. Ia hidup dalam susah hingga akhir hayatnya, ia wafat di pengasingan. Begitulah Khadijah, salah satu dari empat wanita sebaik-baik di dunia. Dan aku yakin, istri-istri para laki-laki yang khuruj fi sabilillah, adalah Khadijah-Khadijah yang juga dirindu Jannah.  Mereka menyadari, bahwa dunia tidaklah cukup jika digunakan untuk menikmati kebersamaan. Mereka korbankan kesenangan dunia, demi Jannah. Di sanalah kelak mereka memiliki waktu yang panjang untuk selalu bersama dalam suka cita.

Satu hari yang lalu, ketika aku dan Bapak pulang dari silaturrahim ke rumah teman, kami berpapasan dengan dua laki-laki India. Bapak tahu mereka. Karena seminggu yang lalu, Bapak ikut menyambut kedatangan mereka di pelabuhan Penyalai. Jumlah mereka delapan orang. Semuanya dari India. Kata Bapak, mereka khuruj satu tahun. Sebelum ke pulau ini, mereka berdakwah di Tanjung Balai Karimun. Di sini, mereka menetap sesaat di Masjid Mutmainah yang ada di kecamatan.

Satu hari yang lalu, empat orang di antara mereka berkunjung ke Masjid di desaku. Dan siang itu--dua di antaranya--kembali ke kecamatan. Dua orang itulah yang berpapasan dengan kami. Mereka masing-masing dibonceng oleh jamaah di pulau ini, yang juga sahabat Bapak.

Siang itu hujan tak terlalu lebat, jadi ketika berpapasan, kami tidak berhenti. Hanya saling menyapa. Pada waktu yang singkat itulah, mataku sempat menangkap wajah jamaah India yang tersenyum pada Bapak. Kutebak umurnya masih 30-an. Berjubah dan berjenggot sedada. Aneh, tidak ada lagi rasa takutku seperti dulu. Aku justru menemukan wajah yang damai. Hampir air mataku menetes setelah melihat wajah-wajah itu. Andai wajahku bisa memancarkan kasih sayang dan kesejukan seperti mereka. Ah, aku terlalu banyak berselubung dosa.

Ya Allah, Mungkin, begitulah wajah ahli Surga.


Beberapa hari yang lalu, sepulang dari menghadiri ta'lim para ulama India itu, Bapak bercerita. Ketika bersalaman dengan jamaah, para ulama itu memeluk mereka, seperti saudara yang lama tak bertemu. Bapak berkali-kali bilang, air matanya selalu menetes apabila mengingat keramahan para ulama India itu. Meskipun mereka tak bisa berbahasa Indonesia, rasanya semua jamaah di pulau ini adalah keluarga mereka.

"Subhanallah, nak. Bapak seperti mendapat kiriman angin dari kehidupan zaman Rasulullah. Saling mengasihi. Bapak rasa, begitu juga kasih sayang yang kelak ada di Jannah. Di mana-mana selalu dipenuhi ucapan salam, dan apabila mereka berbicara hanya membicarakan tentang agama" ucap Bapak padaku.



Lalu tadi pagi, Bapak menceritakan pengalamannya malam tadi, ketika sholat berjamaah di Masjid. Yang menjadi imam adalah salah satu ulama India itu. Seorang hafidz 30 juz Alquran.

"Dia membaca doa sambil menangis sesenggukan, pun ketika membaca surah dalam sholat"


Aku tercenung. Merekalah yang pantas menerima Jannah. Kelak mereka akan memasuki Jannah tanpa hisab, mereka terbang melintasi pagar-pagar Jannah yang indah, hingga para malaikat terheran-heran dibuatnya.

Masih banyak yang ingin kutulis, namun karena keterbatasanku, aku mencukupkannya dulu sampai di sini. InsyaAllah jika ada kesempatan, aku kembali melanjutkannya.

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu" (QS. Muhammad:7)

Sabda Rasulullah saw: "Tidak akan beriman seseorang sampai dia memiliki sifat kasih sayang kepada sesamanya" para sahabat r.anhum berkata, "Ya Rasulullah, kami semua telah memiliki rasa kasih sayang." Rasulullah saw. bersabda, "Yang dimaksud mengasihi itu bukan sekedar kasih sayang terhadap sahabat karib saja, tetapi kasih sayang kepada seluruh ummat"

"Orang yang berpegang teguh dengan sunnahku pada zaman yang telah rusak, maka ia akan mendapatkan pahala seratus mati syahid" (HR.Baihaqi dari Ibnu Abbas r.a)

"Dengan cucuran air matamu, karena kedua mata senantiasa menangis takut kepada Allah, tidak akan tersentuh api neraka untuk selamanya" (HR. Al Ashfahani)

(Referensi: Kitab Khuruj Fi Sabilillah, oleh An Nadhr Muhammad Ishaq Shahab)

Wednesday, 21 August 2013

Surat Untuk Asma Al-Beltaji

Putriku tercinta dan guruku yang mulia.. Asma al-Beltaji, aku tidak mengucapkan selamat tinggal padamu, tapi kukatakan bahwa besok kita akan bertemu lagi.

 
Kau telah hidup dengan kepala terangkat tinggi, berjuang melawan tirani dan belenggu serta mencintai kemerdekaan. Kau telah hidup sebagai seseorang yang diam-diam mencari cakrawala baru untuk membangun kembali bangsa ini, memastikan tempatnya di tengah-tengah peradaban.

 

Kau tidak pernah dijajah oleh perkara sia-sia yang menyibukkan para remaja se usiamu. Meskipun pendidikan tidak mampu memenuhi aspirasi dan ketertarikanmu, kau selalu yang terbaik di kelas 

 

Aku tidak punya cukup waktu untuk membersamaimu dalam hidup singkat ini, terutama karena waktuku tidak memungkinkan untuk menikmati kebersamaan denganmu. Terakhir kali kita duduk bersama di Rabaa Al Adawiya kau berkata padaku, "Bahkan ketika Ayah bersama kami, Ayah tetap sibuk" dan kukatakan "Tampaknya bahwa kehidupan ini tidak akan cukup untuk menikmati setiap kebersamaan kita, jadi aku berdoa kepada Tuhan agar kita menikmatinya kelak di surga."

 

Dua malam sebelum kau dibunuh, aku melihatmu dalam mimpiku dengan gaun pengantin putih dan kau terlihat begitu cantik.  Ketika kau berbaring di sampingku aku bertanya, "Apakah ini malam pernikahanmu?" kau menjawab, "Waktunya adalah di sore hari Ayah, bukan malam". Ketika mereka bilang kau dibunuh pada Rabu sore aku mengerti apa yang kau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai martir. Kau memperkuat keyakinanku bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada pada kebathilan.

 

Aku merasa sangat terluka karena tidak berada di perpisahan terakhirmu dan tidak melihatmu untuk terakhir kalinya, tidak mencium keningmu, dan memilki kehormatan untuk memimpin shalat jenazahmu. Aku bersumpah demi Allah, sayang, aku tidak takut kehilangan nyawaku atau penjara yang tidak adil, tapi aku ingin membawa pesan yang kau telah berkorban nyawa ntuknya, untuk menyelesaikan revolusi, untuk menang dan mencapai tujuannya.

 

Jiwamu telah dimuliakan dengan kepala terangkat tinggi melawan tiran. Peluru tajam telah membelah dadamu. Yang menurutku luar biasa dan penuh dengan kebersihan jiwa. Aku yakin bahwa kau jujur kepada Allah dan Dia telah memilihmu di antara kami, memberimu kehormatan dengan pengorbanan.

 

Akhirnya, putriku tercinta dan guruku yang mulia... aku tidak mengucapkan selamat tinggal, tapi aku mengucapkan sampai jumpa kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan sahabat-sahabatnya di surga, dimana keinginan kita untuk menikmati kebersamaan kita akan  menjadi kenyataan.

 

 

__

NB: Asmaa Mohamed El Beltaji berusia 17 tahun dan adalah antara yang dibunuh pada tragedi berdarah di Medan Rab'ah (14/8/2013). Beliau adalah putri satu-satunya Mohammed El Beltaji, seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin.

 

 

*diterjemahkan oleh @nastarabdullah dari pkspiyungan.org

Rebloged: Siapakah Kau, Perempuan Sempurna?

Ketika akhirnya saya dilamar oleh seorang lelaki, saya luruh dalam kelegaan.Apalagi lelaki itu, kelihatannya ‘relatif’ sempurna. Hapalannya banyak, shalih, pintar. Ia juga seorang aktivis dakwah yang sudah cukup matang.Kurang apa coba?

 Saya merasa sombong! Ketika melihat para lajang kemudian diwisuda sebagai pengantin, saya secara tak sadar membandingkan, lebih keren mana suaminyadengan suami saya.

 Sampai akhirnya air mata saya harus mengucur begitu deras, ketika suatu hari menekuri 3 ayat terakhir surat At-Tahrim. Sebenarnya, sebagian besar ayatdalam surat ini sudah mulai saya hapal sekitar 10 tahun silam, saat saya masih semester awal kuliah. Akan tetapi, banyak hapalan saya menguap, dan harus kembali mengucur bak air hujan ketika saya menjadi satu grup dengan seorang calon hafidzah di kelompok pengajian yang rutin saya ikuti.

 Ini terjemah ayat tersebut:
66:10. Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orangkafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.

 66:11. Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim”,

66: 12. dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.

SEBUAH KONTRADIKSI

 Ada 4 orang yang disebut dalam 3 ayat tersebut. Mereka adalah Istri Nuh, Istri Luth, Istri Firaun dan Maryam. Istri Nuh (IN), dan Istri Luth (IL) adalah symbol perempuan kafir, sedangkan Istri Firaun (IF) dan Maryam (M), adalah symbol perempuan beriman. Saya terkejut, takjub dan ternganga ketika menyadari bahwa ada sebuah kontradiksi yang sangat kuat. Allah memberikan sebuah permisalan nan ironis. Mengapa begitu?

 IN dan IL adalah contoh perempuan yang berada dalam pengawasan lelaki shalih. Suami-suami mereka setaraf Nabi (bandingkan dengan suami saya! Tak ada apa-apanya, bukan?). Akan tetapi mereka berkhianat, sehingga dikatakanlah kepada mereka, waqilad khulannaaro ma’ad daakhiliin…

 Sedangkan antitesa dari mereka, Allah bentangkan kehidupan IF (Asiyah binti Muzahim) dan M. Hebatnya, IF adalah istri seorang thaghut, pembangkang sejati yang berkoar-koar menyebut “ana rabbakumul a’la.” Dan Maryam, ia bahkan tak memiliki suami. Ia rajin beribadah, dan Allah tiba-tiba berkehendak meniupkan ruh dalam rahimnya. Akan tetapi, cahaya iman membuat mereka mampu tetap bertahan di jalan kebenaran. Sehingga Allah memujinya, wa kaanat minal qaanithiin…

 PEREMPUAN SEMPURNA
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:”Sebaik-baik wanita penghuni surga itu adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri Firaun, dan Maryam binti Imran.” (HR. Ahmad 2720, berderajat shahih).

 Empat perempuan itu dipuji sebagai sebaik-baik wanita penghuni surga. Akan tetapi, Rasulullah saw. masih membuat strata lagi dari 4 orang tersebut.

 Terpilihlah dua perempuan yang disebut sebagai perempuan sempurna. Rasul bersabda, “Banyak lelaki yang sempurna, tetapi tiada wanita yang sempurnakecuali Asiyah istri Firaun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya keutamaan Asiyah dibandingkan sekalian wanita adalah sebagaimana keutamaan bubur roti gandum dibandingkan dengan makanan lainnya.” (Shahih al-Bukhari no. 3411).

 Inilah yang membuat saya terkejut! Bahkan perempuan sekelas Fathimah dan Khadijah pun masih ‘kalah’ dibanding Asiyah Istri Fir’aun dan Maryam binti Imran.Apakah gerangan yang membuat Rasul menilai semacam itu?

 Ah, saya bukan seorang mufassir ataupun ahli hadits. Namun, dalam keterbatasan yang saya mengerti, tiba-tiba saya sedikit meraba-raba, bahwa penyebabnya adalah karena keberadaan suami. Khadijah, ia perempuan hebat, namun ia tak sempurna, karena ia diback-up total oleh Rasul terkasih Muhammad saw., seorang lelaki hebat. Fathimah, ia dahsyat, namun ia tak sempurna, karena ada Ali bin Abi Thalib ra, seorang pemuda mukmin yang tangguh.

 Sedangkan Asiyah? Saat ia menanggung deraan hidup yang begitu dahsyat, kepada siapa ia menyandarkan tubuhnya, karena justru yang menyiksanya adalah suaminya sendiri. Siksaan yang membuat ia berdoa, dengan gemetar, “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku darikaum yang lalim.” Siksaan yang membuat nyawanya terbang, ah… tidak mati, namun menuju surga. Mendapatkan rizki dan bersukaria dengan para pendudukakhirat.

 Bagaimana pula dengan Maryam? Ia seorang lajang yang dipilih Allah untuk menjadi ibunda bagi Nabi Isa. Kepada siapa ia mengadu atas tindasan kaumnya yang menuduh ia sebagai pezina?Pantas jika Rasul menyebut mereka: Perempuan sempurna…

 JADI, YANG MENGANTAR ke Surga, Adalah Amalan Kita

 Jadi, bukan karena (sekadar) lelaki shalih yang menjadi pendamping kita.Suami yang baik, memang akan menuntun kita menuju jalan ke surga,mempermudah kita dalam menjalankan perintah agama. Namun, jemari akan teracung pada para perempuan yang dengan kelajangannya (namun bukan sengaja melajang), atau dengan kondisi suaminya yang memprihatinkan (yang juga bukan karena kehendak kita), ternyata tetap bisa beramal dan cemerlang dalam cahaya iman. Kalian adalah Maryam-Maryam dan Asiyah-Asiyah, yang lebih hebat dari Khadijah-Khadijah dan Fathimah-Fathimah.

 Sebaliknya, alangkah hinanya para perempuan yang memiliki suami-suami nan shalih, namun pada kenyataannya, mereka tak lebih dari istri Nabi Nuh danistri Nabi Luth. Yang alih-alih mendukung suami dalam dakwah, namun justru menggelendot manja, “Mas… kok pergi pengajian terus sih, sekali-kali libur dong!” Atau, “Mas, aku pengin beli motor yang bagus, gimana kalau Maskorupsi aja…”

 Benar, bahwa istri hebat ada di samping suami hebat. Namun, lebih hebat lagi adalah istri yang tetap bisa hebat meskipun terpaksa bersuamikan orang tak hebat, atau bahkan tetapi melajang karena berbagai sebab nan syar’i. Dan betapa rendahnya istri yang tak hebat, padahal suaminya orang hebat dan membentangkan baginya berbagai kemudahan untuk menjadi hebat. Hebat sebagai hamba Allah Ta’ala!

 diambil dari Afifah Afra

Saturday, 17 August 2013

A Feeling: Renungannya

Hampir dua bulan sudah ia di kampung halaman, dan setiap hari waktunya lebih banyak tersisa untuk 'merenung'. Kadang ia merenung tentang dirinya sendiri, tak jarang pula tentang orang lain dan alam. Merenung seolah menginduksi jiwanya untuk menata kembali segala yang rumpang selama 18 tahun ia hidup. Ya, akhirnya ia tahu, banyak cela yang ia jumpai pada seseorang atau hal lain, yang sebenarnya adalah celanya sendiri.

Kepekaan. Mungkin inilah yang tak terealisasi dalam sikapnya. Ia dominan tidak mau memikirkan suka maupun luka makhluk di sekitar. Terkadang, ia terlalu khusyuk dengan apa yang membuatnya senang. Di lain sisi, ia juga merasa kerumpangannya itu sudah benar. Mengabaikan hal yang tak mendukung kebahagiaan jiwa, adalah kebenaran mutlak. Mengacuhkan mereka yang tak sejalan, adalah pilihan mutlak. Renungan yang membuat otaknya semakin meleleh panas. Barangkali dua makhluk yang terkurung putih dan hitam dalam dirinya, tengah mendebat, saling menjunjung kebenaran, atau sesuatu yang dibenarkan.

Tujuan. Ini adalah hal yang juga acap kali menemani renungan. Terkadang ketika ia duduk menjelang matahari tenggelam, ketika ia duduk menyendiri pada akar-akar pepohonan, atau juga ketika hujan. Tujuan selalu memiliki beribu penafsiran. Tujuan sekolah, tujuan perjuangan, tujuan perjalanan, hingga tujuan hidup. Tujuan selalu sejajar dengan harapan, dan berkorelasi dengan kebahagiaan. Memang benar, kebahagiaan adalah ketika seseorang menggenggam apa yang membuatnya bahagia. Dan, sialnya tak semua mengetahui hal yang membuatnya bahagia. Itulah yang ia cari dalam renungan.

Spiritual. Renungan tentang nutrisi jiwa ini kerap menyambanginya. Penyesalan, harapan, doa. Semua bergumul menjadi satu, membuat saluran nafasnya terikat, lalu kelenjar air mata pun berkontraksi. Buku-buku milik Bapaknya, televisi dan kesenduan alam terus mengusiknya. Lalu menyimpulkan, ia sudah jauh tertinggal. Menyaksikan para tunaganda, tunadaksa, tunagharita, tunalaras, tunarungu, tunanetra, berhasil merekam seluruh isi kitab Tuhan di kepalanya, ia merasa terpojok. Lalu di mana cela Jannah yang layak ia tempati? Jika raga dan akal tanpa cacat itu tak melakukan apapun. Bahkan sepertiga puluh kitab-Nya tak semua lekat di kepalanya. Dirinya tertinggal, mereka telah melesat jauh...menari bersama bintang-bintang, dekat dengan Tuhan, sedang ia masih terperosok dalam kubangan yang ia buat sendiri.

Bukan hanya para tuna itu, ia pun merenungi keberanian dan keteguhan saudara seiman di Rabiah Al Adawiyah. Tak  terkecuali kepada seorang Asma Beltagy. Wanita belia yang sudah membuktikan bakti tertinggi. Sedang ia, terlalu pengecut. Bahkan pada goresan jarum, ia takut!

Teman. Semakin ia merenung tentangnya, semakin banyak ia jumpai pembuktian.

Nasehat Bakr bin Abdullah Abu Zaid, ketika baliau berkata,” Hati-hatilah dari teman yang jelek …!, karena sesungguhnya tabiat itu suka meniru ! .. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang.

Barangkali ia belum mampu menjalankan nasihat itu. Ia seperti ikan kecil dalam laut badai. Siripnya belum cukup kuat jika harus melawan amukan arus yang menyeretnya. Akhirnya, ia turut hanyut, terkadang terombang-ambing.

Semoga Tuhan memperluas jalannya, dan jalanmu...

Tuesday, 13 August 2013

Cinta Ditolak, Move On Bertindak!

Dikutip dari web Annida online dengan sediikiit...gubahan!
 

Assalaamu'alaykum wr. wb.

Buat sobat yang cintanya pernah ditolak sama si doi, perasaannya kayak apa, hayooo?! Nyesek, pasti. Rasanya mau bunuh diri, walaupun perlu mikir berkali-kali sih. Atau ada juga yang minta dukun buat beraksi. Amit-amit, hiii!

Kenapa ya, cinta ditolak efeknya selalu negatif? Bikin susah move on, bahasa Zimbabwe-nya. Padahal kan ada pepatah bagus yang mengatakan: di balik laki-laki/perempuan yang sukses, ada penolak yang menyesal. Hehe. Intinya sih, ditolak itu mestinya jadi momen  buat bangkit en ngebuktiin kalo kita gak pantes buat ditolak. Ciah...

Nih... Ada sepatah dua patah buat yang ditolak cintanya:

1. Ditolak berarti Allah cinta banget sama kita
Khususon buat sobat yang abis nembak cewek buat dijadiin pacar terus ditolak, catat ini baik-baik, Bahwa Allah masih melindungi kita dari mendekati zina.

Pasti udah tau deh, kalo pacaran itu pintu tol menuju zina. Nah, ketika si doi menolak, alhamdulillah Allah masih sayang sama kita.

Lagian yang pasti-pasti aja. Kalo mau nembak, ya tembak baik-baik. Dateng langsung ke rumahnya en menghadap ortunya. Izin buat nembak anaknya menuju pelaminan. *uhuy!

Kalo belom mampu, yowis berarti Allah lagi menggelar pintu pahala melalui shaum sunnah en megukir prestasi di sekolah. Enak, tah?

2. Ditolak berarti ada bidadari menanti
Kalo yang ini khususon buat yang mau mengajak menikah si dia, eh malah ditolak! *pukpuk. Padahal niatnya baik ya Sob. Menjauhi zina. Tapi ya gitu Sob, kalo Allah belum berkehendak, mau dikata apa?

Daripada merasa diri jelek en berburuk sangka yang macem-macem sama Allah, mending move on segera lah. Terus berbaik sangka sama Allah sambil doa yang banyak. Insya Allah sudah disiapkan bidadari yang lebih baik dari yang kita ingini sebelumnya, suatu hari nanti. Yeah!

3. Ditolak berarti belum pantas
Iya, belum pantas. Allah ingin menyatunya kita en dia di frekuensi yang sama. Di gelombang yang sedang dekat-dekatnya dengan Dia. Beuwh... lebih berkah dah insya Allah yang kayak begini nih.

Emang sih, bisa banget dipaksain biar gak ditolak dengan ngasih perhatian lebih ke si doi dllsb. Tapi Allah Maha Tahu segala, lho! Mending lewat jalur yang alami aja deh, gak usah dipaksain. Biar gak menyesal di kemudian hari.

Jadi... yuk terus perbaiki diri. Biarkan 'tangan-tangan' Allah yang mengatur semua muanya.

Nih ada kisah kerennn tentang seseorang solih yang ditolak cintanya. Cekidot!

Salman Al Farisi sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mu’minah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai pacar. Tetapi sebagai sebuah pilihan untuk menambatkan cinta dan membangun rumah tangga dalam ikatan suci.

Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang telah dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah wal hamdulillaah,” girang Abu Darda’ mendengarnya. Keduanya tersenyum bahagia dan berpelukan. Berangkatlah keduanya ke rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Saw. Saya datang mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya” fasih Abu Darda’ berbicara.

”Adalah kehormatan bagi kami,” ucap tuan rumah, ”menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”

Abu Darda dan Salman menunggu dengan berdebar-debar. Hingga sang ibu muncul kembali setelah berbincang-bincang dengan puterinya.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini,” kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Keterusterangan yang di luar kiraan kedua sahabat tersebut. Mengejutkan bahwa sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya. Bayangkan sebuah perasaan campur aduk dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran. Ya, bagaimanapun Salman memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya.

Yuuukkk... kita simak apa reaksi Salman, sahabat yang mulia ini:

”Allahu Akbar!” seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” (islamedia.web.id)

Kalo kata peribahasa: udah jatuh tertimpa tangga pula! Udahlah ditolak lamarannya, eh si perempuan maunya dengan Abu Darda' yang mengantarkan Salman. Tapi di situ lah hebatnya Salman! Gak malah jadi galau, berbalik kesal sama saudaranya, gak pake dengki pula! Beliau membebaskan dirinya. Move on dari penolakan. Sadar bahwa hakikat cinta itu bukan yang penting memiliki. Tapi merasa senang atas apa-apa yang dicintai orang yang disenang.

So... move on terus pantang galau! ^___^b

Sunday, 11 August 2013

Bagaimanakah Memilih Teman yang Baik? [Nasehat buat Muslimah]

Nasehat Bakr bin Abdullah Abu Zaid, ketika baliau berkata,” Hati-hatilah dari teman yang jelek …!, karena sesungguhnya tabiat itu suka meniru ! .. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang.

Lihatlah, Siapa Temanmu…!

“Apabila engkau berada di tengah-tengah suatu kaum maka pililhlah orang-orang yang baik sebagai sahabat, dan janganlah engkau bersahabat dengan orang-orang jahat sehingga engkau akan binasa bersamanya“

Wanita adalah bagian dari kehidupan manusia, sehingga dia tak akan pernah lepas dari pola interaksi dengan sesama. Terlebih dominasi perasaan yang melekat pada dirinya, membuat dia butuh teman tempat mengadu, tempat bertukar pikiran dan bermusyawarah. Berbagai problem hidup yang dialami menjadikan dia berfikir bahwa, meminta pendapat, saran dan nasehat teman adalah suatu hal yang perlu. Maka teman sangat vital bagi kehidupannya, siapa sih yang tidak butuh teman dalam hidup ini..?.

Namun wanita muslimah adalah wanita yang dipupuk dengan keimanan dan dididik dengan pola interaksi Islami. Maka pandangan Islam dalam memilih teman adalah barometernya, karena dirinya sadar, teman yang baik (salihah) memiliki pengaruh besar dalam menjaga keistiqomahan agamanya. Selain itu teman salihah adalah sebenar-benar teman yang akan membawa mashlahat dan manfaat. Maka dalam pergaulannya dia akan memilih teman yang baik dan salihah, yang benar-benar memberikan kecintaan yang tulus, selalu memberi nasihat, tidak curang dan menunjukan kebaikan. Karena bergaul dengan wanita-wanita salihah dan menjadikannya sebagai teman selalu mendatangkan manfaat dan pahala yang besar, juga akan membuka hati untuk menerima kebenaran. maka kebanyakan teman akan jadi teladan bagi temannya yang lain dalam akhlak dan tingkah laku. Seperti ungkapan “Janganlah kau tanyakan seseorang pada orangnya, tapi tanyakan pada temannya. karena setiap orang mengikuti temannya“.

Bertolak dari sinilah maka wanita muslimah senantiasa dituntut untuk dapat memilih teman, juga lingkungan pergaulan yang tak akan menambah dirinya melainkan ketakwaan dan keluhuran jiwa. Sesungguhnya Rasulullah juga telah menganjurkan untuk memilih teman yang baik (shalihah) dan berhati-hati dari teman yang jelek.

Hal ini telah dimisalkan oleh Rasulullah melalui ungkapannya:

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau membeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harmznya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap“. (Riwayat Bukhari, kitab Buyuu’, Fathul Bari 4/323 dan Muslim kitab Albir 4/2026)

Dari petunjuk agamanya, wanita muslimah akan mengetahui bahwa teman itu ada dua macam. Pertama, teman yang salihah, dia laksana pembawa minyak wangi yang menyebarkan aroma harum dan wewangian. Kedua teman yang jelek laksana peniup api pandai besi, orang yang disisinya akan terkena asap, percikan api atau sesak nafas, karena bau yang tak enak.

Maka alangkah bagusnya nasehat Bakr bin Abdullah Abu Zaid, ketika baliau berkata,” Hati-hatilah dari teman yang jelek …!, karena sesungguhnya tabiat itu suka meniru, dan manusia seperti serombongan burung yang mereka diberi naluri untuk meniru dengan yang lainnya. Maka hati-hatilah bergaul dengan orang yang seperti itu, karena dia akan celaka, hati- hatilah karena usaha preventif lebih mudah dari pada mengobati “.

Maka pandai-pandailah dalam memilih teman, carilah orang yang bisa membantumu untuk mencapai apa yang engkau cari . Dan bisa mendekatkan diri pada Rabbmu, bisa memberikan saran dan petunjuk untuk mencapai tujuan muliamu.

Maka perhatikanlah dengan detail teman-temanmu itu, karena teman ada bermacam-macam

1.ada teman yang bisa memberikan manfaat

2.ada teman yang bisa memberikan kesenangan (kelezatan)

3.dan ada yang bisa memberikan keutamaan.

Adapun dua jenis yang pertama itu rapuh dan mudah terputus karena terputus sebab-sebabnya. Adapun jenis ketiga, maka itulah yang dimaksud persahabatan sejati. Adanya interaksi timbal balik karena kokohnya keutamaan masing-masing keduanya. Namun jenis ini pula yang sulit dicari. (Hilyah Tholabul ‘ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaid halarnan 47-48)

Memang tidak akan pernah lepas dari benak hati wanita muslimah yang benar-benar sadar pada saat memilih teman, bahwa manusia itu seperti barang tambang, ada kualitasnya bagus dan ada yang jelek. Demikian halnya manusia, seperti dijelaskan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam :

” Manusia itu adalah barang tambang seperti emas dan perak, yang paling baik diantara mereka pada zaman jahiliyyah adalah yang paling baik pada zaman Islam jika mereka mengerti. Dan ruh-ruh itu seperti pasukan tentara yang dikerahkan, yang saling kenal akan akrab dan yang tidak dikenal akan dijauhi ” (Riwayat Muslim)

Wanita muslimah yang jujur hanya akan sejalan dengan wanita-wanita salihah, bertakwa dan berakhlak mulia, sehingga tidak dengan setiap orang dan sembarang orang dia berteman, tetapi dia memilih dan melihat siapa temannya. Walaupun memang, jika kita mencari atau memilih teman yang benar-benar bersih sama sekali dari aib, tentu kita tidak akan mendapatkannya. Namun, seandainya kebaikannya itu lebih banyak daripada sifat jeleknya, itu sudah mencukupi.

Maka Syaikh Ahmad bin ‘Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi atau terkenal dengan nama Ibnu Qudamah AlMaqdisi memberikan nasehatnya juga dalam memilih teman: “Ketahuilah, bahwasannya tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang jadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari segi sifat-sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan tersebut itu. Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia, seperti karena harta, kedudukan atau sekedar senang melihat-lihat dan bisa ngobrol saja, tetapi itu bukan tujuan kita.

Ada pula orang yang berteman karena kepentingan Dien (agama), dalam hal inipun ada yang karena ingin mengambil faidah dari ilmu dan amalnya, karena kemuliaannya atau karena mengharap pertolongan dalam berbagai kepentingannya. Tapi, kesimpulan dari semua itu orang yang diharapkan jadi teman hendaklah memenuhi lima kriteria berikut; Dia cerdas (berakal), berakhlak baik, tidak fasiq, bukan ahli bid’ah dan tidak rakus dunia. Mengapa harus demikian ?, karena kecerdasan adalah sebagai modal utama, tak ada kabaikan jika berteman dengan orang dungu, karena terkadang ia ingin menolongmu tapi malah mencelakakanmu. Adapun orang yang berakhlak baik, itu harus. Karena terkadang orang yang cerdaspun kalau sedang marah atau dikuasai emosi, dia akan menuruti hawa nafsunya. Maka tak baik pula berteman dengan orang cerdas tetapi tidak berahlak. Sedangkan orang fasiq, dia tidak punya rasa takut kepada Allah. Dan barang siapa tidak takut pada Allah, maka kamu tidak akan aman dari tipu daya dan kedengkiannya, Dia juga tidak dapat dipercaya. Kalau ahli bid’ah jika kita bergaul dengannya dikhawatirkan kita akan terpengaruh dengan jeleknya kebid’ahannya itu. (Mukhtasor Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah hal 99).

Maka wanita muslimah yang benar-benar sadar dan mendapat pancaran sinar agama, tidak akan merasa terhina akibat bergaul dengan wanita-wanita shalihah meskipun secara lahiriyah, status sosial dan tingkat materinya tidak setingkat. Yang menjadi patokan adalah substansi kepribadiannya dan bukan penampilan dan kekayaan atau lainnya. “Pergaulan anda dengan orang mulia menjadikan anda termasuk golongan mereka, karenanya janganlah engkau mau bersahabat dengan selain mereka“.

Oleh karena itu datang petunjuk Al Qur’an yang menyerukan hal itu :

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya dipagi dan disenja hari dengan mengharap keridhoan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” (Al-Kahfi:28)

Maraji :

Hilyah tolabul ‘ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaed, Mukhtasor Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah, Bid’ah dhowabituha wa atsaruhas Sayyisil Ummah, Dr. Ali Muhammad Nashir AlFaqih, Sahsiyah Mar’ah, Dr M.Ali Al Hasyimi

Dikutip dari Buletin Dakwah Al-Atsari, Cileungsi Edisi X Sha’ban 1419 Dinukil dari Darussalaf.or.id offline, Penulis: Bintu Humron, Judul: Lihatlah, Siapa Temanmu…!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...